Sepenggal Kisah Bapak

Kabarnya, orang berkacamata identik dengan seseorang dianugerahi kepintaran yang lebih, yang salah satunya terformat melalui pendidikan. Sepotong bukti hening kalau sang empu mau berlama-lama dengan buku, menyelami ragam ilmu.

Kali ini asumsi mereka kurang tepat. Bapak bahkan tidak pernah mencicipi bangku formal. Benda bergagang itu hanya membantunya menyelesaikan misi: beribadah lewat mencari nafkah.

Tak sepenuhnya salah, karena meski tak pernah bersekolah beliau memang sosok yang pintar, cerdas nan tangguh. Seperti banyak orang, bapak memiliki banyak keahlian. Bagaimana tidak, tempaan kehidupan yang keras sejak kecil membuatnya terbentuk sedemikian tajam.

Sebenarnya bapak bisa dibilang datang dari keluarga yang cukup bila diusahakan untuk mengakses pendidikan, namun beliau harus menerima diskriminasi. Bahasa yang terlalu kasar, sebab bapakku tak beranggapan semacam itu. Ia menerima dengan lapang, sebagai secuil bakti dari panjangnya pengorbanan orang tuanya. Lagipula pemahaman perihal pentingnya "pendidikan" tidak melulu sama pada sisi tertentu, pada generasi yang berbeda.

Jadi tak masalah saat saudaranya yang lain belajar mengeja aksara, belajar menggerakan pena, bapak justru bercucuran keringat, kepanasan, kelelahan, sedari pagi menggerakkan cangkulnya dengan giat. Lelah yang terasa nikmat menjadi bentuk khidmat. Walau tak dusta jika dari pengakuannya beliau juga sempat berkeinginan seperti yang lain.
__ __ __

Berbeda dengan jalan hidup yang dilalui ibuku,  penanggung hidup yang bagiku tak terhitung kebaikannya itu memiliki orang tua yang lengkap hingga menikah dengan ibu dan dikaruniai keturunan.

Syukur alhamdulillah, bapak tidak membeda-bedakan anak-anaknya. Kami semua boleh bersekolah. Tak harus pergi ke sawah. Meski sekarang, aku ingin bilang, ternyata keduanya penting: sawah mengajarkan kehidupan dengan uraian yang amat luas. Sedang sekolah, kerapkali membuat pandangan kita jadi amat terbatas.

Mungkin hanya perasaanku saja. Waktu kecil pernah aku merasa terintimidasi saat momen-momen keluarga besar berkumpul. Kala itu, seperti yang sudah-sudah, obrolan mengarah pada pertanyaan rangking kelas yang diperoleh saudara-saudaraku. Bapak dan kerabatku menanyakan mereka satu-persatu. Tak pelak, aku merasa kaku di balik tiang sendirian karena tak ditanya. Tak berharap juga disebut nama sebab seperti biasa belum pernah diurutan tiga besar di kelas. Rasanya aku menjadi satu-satunya anak Bapak-Ibu yang bodoh dan melas.

Aku tahu, mereka tak berniat demikian. Aku saja yang kemudian selalu berpikir setelahnya jika peringkat kelas adalah instrumen paling valid dan reliabel untuk menilai kecerdasan dan kepintaran seseorang. Meski pemahaman kelam itu acapkali dicerahkan oleh ibu, ia tetap saja memenuhi sebuah folder yang membersamai file-file lain dalam otakku sampai aku duduk di bangku pertama MA. Ternyata aku yang salah mengerti. Padahal bapak selalu berusaha mengerti kami. Tak masalah mengenyam pendidikan tinggi-tinggi, selama akhlak senantiasa dipatri.

Bapak memang tak banyak bicara. Namun perhatian pada semua anaknya selalu sama, seakan mereka tak pernah beranjak dewasa. Perkara mengingatkan makan sesekali diluapkan, atau susah dimintai izin waktu aku pertama kali memutuskan berkendara ke jalan raya, meski ibu telah berabad lalu mengetuk palu. Sekali bicara bisa panjang, dan tak berlebihan kalau seolah ada yang tengah mengiris bawang tak kasat mata. Pantas sering ditunjuk menjadi penengah kala beberapa orang terlibat masalah, retorika dan pesan-pesan yang disampaikan sungguh menawan.

Tetap saja, bapak lebih memesona saat pandai sekali mengucap terima kasih kepada Tuhannya. Sekalipun terhadap hal yang beberapa orang anggap remeh temeh. Apalagi pada hadiah terbesar berupa kesehatan yang masih bisa dinikmati hingga sekarang.

Serupa dengan jodohnya, bapak hampir tidak pernah menyuruh anaknya ini-itu. Sebisa mungkin pekerjaan dilakukan sendiri. Betul, ada plus minus-nya. Hanya karena catatannya selalu harum, bukan berarti selama ini mereka tidak dilengkapi kekurangan, kan. Mustahil rasanya manusia terlepas dari itu.

Alur kehidupan yang sebenarnya tak pernah seideal tuntutan sinetron. Kacamata kitalah yang dituntut untuk melihat lebih dekat keelokannya, bukan semata-mata berfokus pada cela. Tak perlu kepintaran yang berlebih. Kita hanya butuh sepotong bukti berwujud hati yang senantiasa diasah, supaya syukur berkelanjutan lantaran diberkahi rupa-rupa anugerah. Lalu mengalirlah doa yang selalu sama, tak ingin hanya berkumpul di tempat yang fana. Melainkan bermuara pada ''tayangan" yang sifatnya abadi.

0 komentar