Bersyukur, Bahagia dan Bangga Hidup di Desa

Akhir minggu kali itu, seperti biasa, masih aku habiskan dengan berada #dirumahsaja. Bedanya, minggu ini keponakanku, Nuh, pulang kampung, hehe. Yaps! Kampung atau desa dimana aku tinggal. Suasana kediaman begitu asri dan sarat kedamaian. Ada hamparan sawah di sepanjang jalan menuju rumah.
_________

Wajah langit yang ku pandang pagi itu terlihat megah dan memukau. Selalu. Besar sekali kuasa-Nya. Aneh rasanya bila masih saja mengerdilkan impian perlahan. Sungguh gila, rutuk nuraniku saat pandanganku mengamati langit lebih lama lagi. Luas. Indah. Tak bisa ditiru. Tanpa tiang. Terlukis begitu nyata.

Maka harusnya nyata pula cara kita memvisualisasikan mimpi itu. Benar-benar aneh kalau masih saja bingung dari mana mendapatkan semangat dan karakter pejuang tak kenal menyerah. Jika hamparan jawabannya selalu mengawasi tiap kita fokus pada kesia-siaan.

Tak seperti biasanya, mau tidak mau aku harus menemukan cara untuk keluar dari kungkungan kesiaan itu dengan menyibukkan diri. Dimulai dengan menyapu halaman dan beberapa bagian pekarangan rumah. Terdengar sepele, dan sepertinya memang sudah kewajiban. Walau hanya membutuhkan time management yang baik, tapi siapa yang menyangka, kadang itu bisa menjadi sangat berat saat ada prioritas lain yang menyesaki pikiran. Padahal sudah paham, jika justru hormon kebahagiaan akan meningkat seiring dengan pergerakan yang kita lakukan. Alias kegiatan yang berfaedah dan dilakukan dengan senang hati sama dengan menurunkan tingkat depresi.

Setelah itu, kembali pandanganku menyapu pekarangan yang sudah lumayan bersih usai disapu. Ditambah pemandangan hijau di sekeliling rumah membuat aku kembali merapalkan syukur dianugerahi kesempatan untuk tinggal di desa. Tempat yang jauh dari hiruk pikuk kemacetan. Tempat menghirup udara yang relatif jauh lebih bersih dengan sepuasnya. Tempat dengan ragam potensi yang menanti untuk dimanfaatkan.

Kalau dulu saat masih kecil, potret kehidupan kota yang seolah menawarkan banyak kenyamanan hidup sering memaksaku untuk berpikir dan ingin memilih: rasanya jauh lebih enak jika aku hidup di kota besar dengan segala fasilitasnya. Sekarang, aku malah sangat sangat sangat merasa kurang mengenali daerahku sendiri, banyak keindahan, misteri, atau apapun penamaannya yang belum tergali.

Walau kadang, katanya, hidup di desa sering membikin terlena dengan kenyamanan yang juga sulit dijelaskan. Sedang di kota, kita akan terus ditempa menjadi sosok yang memiliki daya saing tinggi. Meski dewasa ini sudah lain lagi faktanya. Banyak potret desa yang berhasil, tak jauh dari andil pemuda-pemudanya yang melek pengetahuan, teknologi dan berjiwa sosial tinggi. Mereka dituntut untuk terus berinovasi dan kreatif.

Lalu lihatlah, pagar alami yang terlihat hijau karena dedaunan yang rimbun itu mengelilingi rumah, menenangkan. Seolah menenangkanku yang mencoba berpikir, meski masih menikmati olahan ceker ayam ala Ibu. Ini makanan kesukaan Nuh. Sebagian bumbu dan rempah diambil dari tanaman di pekarangan rumah. Beginilah hidup di desa. Hobi bapak dan kakak sangat membantu kami menikmati rupa hasil bercocok tanaman secara percuma. Sebut saja pisang, rambutan, nangka, mangga, nanas, serai, buah naga, aneka rimpang dan masih banyak lagi. Terasa semakin betah berada di zona nyaman ini. Karena meskipun ada keterbatasan, hidup di desa juga penuh dengan kemudahan-kemudahan.

Jadi, bagiku, dimana pun tinggalnya, tidak ada pemuda yang lebih unggul. Karena toh sejatinya tiap mereka dihadapkan dengan tantangan yang sama: sejauh mana bisa berkontribusi dan memberikan performa terbaik. Namun tetap, semuanya butuh pengalaman, saling berbagi pengalaman yang berasal dari desa maupun kota. Ah, sungguh, aku (masih) hanya berteori. Masih hanya menjadi pemerhati bagi mereka yanhlg sudah bisa berbakti pada negeri.

_________

Kemudian aku dan Nuh bergegas menunaikan tugas selanjutnya: menggiling padi. Tak berbeda, masih dengan ibu-ibu yang sesekali membicarakan nama-nama, bahkan pemerintah dengan dana desanya. Namun ada yang berbeda. Nuh yang sedari tadi sibuk mengamati ruang penggilingan padi. Mendekati tiap sudut dengan hati-hati. Selayaknya orang yang tengah menganalisis sesuatu. Dia kemudian diam sejenak sampai akhirnya mengeluarkan suara: "Nte, itu buat apa?," menunjuk mesin besar tua yang penuh debu.

Aku pun menjelaskan yang aku bisa dan menceritakan sedikit life cycle dari padi sampai akhirnya sampai di tempat penggilingan ini. Lalu tentang beras yang kemudian jadi teman makan ceker kesukaannya. Hampir selalu, sejak dulu, Nuh selalu mendengarkan dengan penuh antusias. Rasa keingintahuannya begitu besar. Apalagi membawa-bawa makanan favoritnya.

Nuh terlihat senang bukan main tiap kali pulang untuk ber-weekend di desa. Sepertiku yang juga sangat bersyukur dan bahagia. Tak berhenti disitu, aku berdoa, agar tak hanya syukur, senang dan bahagia. Tapi juga bangga, bangga yang semoga mengundang energi-energi baik untuk bisa berbuat lebih. Di desa, kota, di negeri terkasih.

Hanya saja, Nuh sedari kecil sudah tumbuh perasaan cintanya pada desa. Tak sepertiku saat kecil, media---salah satunya---membuatku mungkin sempat menderita inferiority complex. Namun sekarang semoga aku sudah lebih mengerti. Bahwa memang kata Imam Syafi'i: "Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang". Tapi tetap pada akhirnya dimanapun kita bermuara (desa/kota/negeri orang sebagai diaspora) impiannya akan selalu sama, mengabdi untuk Indonesia.
~

Selamat Hari Sumpah Pemuda!

0 komentar