Allah, aku mendapat kabar kalau kerabat mendapat undian berangkat umroh gratis dari KH. Fakhri. Katanya barokah sholawat dan doa ortu salah satu alasannya. Hmm, benar-benar dari jalan yang tidak disangka-sangka.
Allah, tidak ada yang tidak mungkin. Kalau Allah sudah berkehendak, maka jadilah!
Pertanyaannya benarkah kita ini yakin?
Kamu yakin ngga sih?
Ayo, tanyakan pada hatimu, Nak!
---
Sungguh, aku bukannya tidak yakin. Aku hanya ingin mencapai posisi dimana aku bisa bersholawat dan berdoa tidak hanya dengan lisan, tapi juga kalbu. Pun berdoa (sholat, berdzikir, dll).
Sebab orang bisa bilang, "Saya yakin Allah Maha Tahu. Jadi tanpa jaminan apapun saya terima, tidak apa-apa" di lisan. Tapi hati tidak demikian. Kadang orang itu masih takut, secara tidak langsung masih percaya dengan kekuatan lain. Di hati sebenarnya tertera "Allah, Maha Tahu. Tapi saya takut dia berbuat yang macam-macam, ingkar janji, dll."
Seperti itu.
Wallahua'lam. Siapa yang tahu isi hati seseorang.
Dan keajaiban Allah terjadi karena ada keyakinan yang tidak hanya dilantunkan lewat lisan, tapi mengalun di hati. Jadi, kalau misalnya doa belum terkabul, itu bisa jadi karena yang terbaik, juga bisa jadi kita kurang yakin dengan kekuatan dan cara Allah yang sama sekali bentuk dan jalannya tidak perlu dipikir dengan logika. Barangkali juga karena tingkat keimanan belum sampai pada tingkat dimana kita pantas menyaksikan kekuasaan Allah yang terjadi di diri kita sendiri.
Ah, sungguh. Manusia pendosa seperti aku saja bisa melihat kekuasaan Allah yang tersebar di mana-mana, di muka bumi. Langit tanpa tiang, padang pasir yang gersang, tetumbuhan yang subur, dua air laut yang tidak bercampur, bayi-bayi yang baru lahir, rezeki setiap makhluk yang terjamin dan terus mengalir, maut yang datang tanpa permisi, siang dan malam runtun berganti dll. Maka benar kata temanku, "Kenapa kita masih ragu dan belum yakin? Padahal kita sudah punya Tuhan Yang Maha Segalanya."
----
Allah, aku bukannya tidak yakin. Aku hanya ingin berada di posisi dimana aku tidak hanya beribadah dengan lisan, tapi juga kalbu.
0 komentar