Obsesi?

Bangkalan, 23 Februari 2015 
         
            Iya.. saya paham betul. Saat anda renggut HP cina tulen yang satu – satunya saya punya dan memainkannya seraya berkata ‘’ayo…selfie pake ini…bla..bla…bla….,’’ bayi juga tau kalau itu muskil. Apalagi sebelum itu anda sempat mengumbar harga HP pintar yang baru sahabat anda beli sekaligus harga HP berry anda meski saya sama sekali tak menanyakannya. Sama sekali bukan karna saya iri tapi memang saya sama sekali (untuk ketiga kalinya) tidak takjub dengan angka – angka itu. Sudah biasa. Meski HP saya

hanyalah HP butut tanpa tombol QWERTY. Tapi tahukah anda? Bagi saya itu HP keramat. Penasaran kenapa? Biarlah hanya saya dan Allah yang tahu. Oleh karena itu, saya tak berniat untuk menggantinya. Selain tak punya uang (hehe). Meminta pada orang tua? Meminta uang saku dan pulsa saja saya sungkan. Mungkin jika orang tua berasal dari kalangan beradapun saya masih sungkan. Lebih baik membelinya sendiri jika benar – benar menginginkannya. Mengenai gaptek dengan HP pintar yang kini begitu booming saya tak ambil pusing. Bahkan saya lebih tahu dari sekedar nge-PING!!!, nge-PARPEL!!!,dkk *aduhai..sombongnya* atau memang hanya itulah yang saya tahu (hehe).

(kembali ke anda)

           Hanya tersenyum. Itulah yang bisa lakukan demi mengapresiasi tingkah anda sembari mencoba mencerna apa maksud dari kelakuan anda. Meskipun sebenarnya lebih enak mencerna makanan apalagi masakan ibu. Setelah saya perhatikan panjang pendek, tinggi rendahnya intonasi, kecepatan,dan massa kata – kata yang keluar dari mulut anda*aissh..ngawur*, tak sebersitpun air muka anda menunjukkan bahwa itu sebuah humor yang coba anda bangun, kecuali tawa kecil yang terlihat sangat tidak natural. Tengik sekali. Seketika pikiran saya terseret pada ingatan lalu, saat anda melakukan hal yang sama. Menyinggung bagaimana cara berjilbab, berpakaian, bahkan skirt yang anda bilang seperti bendera yang berkibar. Lebay sekali tutur anda. Maaf! Bukan apa - apa! Tapi itu sama sekali tak mempan untuk apa yang disebut sebagai pembunuhan karakter saya. Saya sudah sering mengenal orang yang bersikap lebih dari itu. Menatap saya dengan tatapan yang kurang lebih menurut saya bermakna: Dasar orang udik! Meskipun tak dapat dipungkiri saya memang udik (hehe), dan lain sebagainya.

           Saya sempat bertanya pada ibu mengapa ada orang yang mudah sekali berbuat seperti itu. Ibu, tempat curhat terbaik setelah Allah dan sebelum buku gado – gado alias diary book saya. Selalu saja jawaban ibu membuat saya kikuk: ‘’sudahlah… tak boleh berpikiran begitu, nanti jatuhnya suudzan” ibu menjawabnya dengan lembut dan air muka yang tersirat seakan mengetahui watak anaknya yang sedari dulu terobsesi bisa membaca pikiran orang berbekal penglihatan yang mengamati gerak gerik dan air muka seseorang. Hehehe. Semoga Allah swt mengampuni saya, anda, dan kita semua. Aamiin.

Made on Feb 23, 2015 

0 komentar