Bangkalan, 16 februari 2015
Pagi ini aku dikagetkan dengan pesan
singkat Fitri---teman sekelasku yang kebetulan satu dosen wali---yang berbunyi, “Kita udah janjian sama dosen walinya jam
Sembilan, ini tinggal kamu. Kamu dimana?” lucunya, ia mengirim pesan
singkat itu tepat pada pukul 09:17 pagi. Saat menerima pesan itu aku
kebingungan, karena jika aku berangkat artinya aku akan sampai di kampus paling
lama satu setengah jam lagi. Apa ibu akan menungguku selama itu? Pemikiran anak
SD berkelebat dalam benakku. Aku pada saat itu juga baru tahu bahwa konsultasi
dengan dosen wali harus bersama – sama dan memutuskan janji dengan dosen
walinya terlebih dahulu. Sebenarnya aku telah bertanya pada Fitri perihal
konsultasi itu, tapi memang dasar karena kemahatololanku aku jadi lupa bertanya
masalah yang tidak aku tahu itu. Salahku memang.
Beberapa jam kemudian Fitri membalas
pesanku dengan mengirimi kontak wali dosen kami. Lebih lucu lagi, aku baru
memiliki kontak beliau saat itu. Segera ku sambar ponsel bututku dan memencet
tut demi tutnya secepat mungkin. Ku kirim pesan yang panjang lebar, sangat ku
perhatikan kesopanan kata demi kata yang terangkai yang intinya minta maaf atas
kemahacerobohan dan bertanya apa masih bisa konsultasi besok pagi. Waktu saat
sms itu terkirim menunjukan angka 10:40 dan akhirnya dibalas 31 menit kemudian. ‘’Mbak sekarang masih bisa. Saya ada di
ruang sekjur tapi kalau terlalu siang saya pulang.’’
Akhirnya aku lansung
berangkat mempersiapkan diri untuk berangkat. Aku adalah perempuan tulen tapi
seperti biasa selalu saja aku meluapkan suasana hati saat itu seperti orang
yang kebakaran jenggot. Ibu melihatku dengan gemas dan member khotbah meski
bukan hari jumat. Jujur, aku memang tak menampilkan kehebohan masalahku yang
genting dengan lontaran kata-kata. Lebih sering ku pendam seperti mengaggap
segalanya enteng, tapi air muka dan gerak gerikku tak dapat berdusta pada orang
sekitar apalgi ibu.
Setelah lontang lantung kesana
kemari mempersiapkan diri aku berpamitan dengan ibu yang agaknya masih belum
selesai dengan isi khotbahnya. ‘’cepatlah
berangkat..nanti telat..dari tadi mondar mandir aja.’’ Kakak yang berada di
halaman sembari menyelesaikan pembuatan kandang kelincinya menyarankanku untuk
membawa motor. Aku memang belum pernah seumur hidupku ke sekolah apalagi ke
kampus membawa motor dengan menyetir sendiri. selain karna trauma yang agak
kronis juga karena kekhawatiran bapak yang mengalahkan ibu. Jangankan ke kampus
yang lumayan jauh itu, menyentuhkan ban sepeda motor ke jalan raya saja sudah
tak di beri izin. Alhasil aku hanya bisa menikmati menjadi pejalan kaki yang
memang nikmat. Aku menggeleng dengan air muka kebingungan diikuti saran ibu
untuk berangkat saja dan menitipkan sepeda motor itu di rumah Bu Siti di muka
jalan raya. Aku mulai kebingungan lagi namun lekas mengambil helm. Ibu terlihat
tak yakin. Apalagi aku sangat tak yakin. Sebaliknya kakak tersenyum dan
meyakinkanku. Mengatakan bahwa semua akan mudah saja.
Sampailah aku di muka jalan raya,
hatiku berkecamuk. Menitipkan sepeda motor atau melanjutkan perjalanan. Tiba –
tiba ku ingat kalimat yang kakak torehkan di pikiranku. ‘’Kalo belum coba mana bisa, kalo ga di paksakan ya tidak akan penah
berani dan bisa.” Ah, itulah kakaku chairuddin. Ia tak pernah meremehkan
adik – adiknya, malah selalu menguatkan. Ku sentuhkan sepeda motor bapak ke
jalan raya, ku coba hapus trauma yang ku pendam sekian lama sembari teringat
pada bapak yang sedang tertidur pulas karena semalam lembur bekerja. Hatiku
berdebar. Aku layaknya balita yang baru bisa berjalan. Namun tak se-berdebar
saat melewati jalan rumah yang sudah biasa ku lewati setiap hari. Ku nikmati
jalurnya tanpa berani mendahului pengendara lain. Tak terasa sudah sampai di
pos polisi pertama, tangkel. Kali ini hatiku kembali berdebar khawatir ditilang
karena tak memiliki SIM. Namun aku dapat melewatinya. Saat melewati bong mereng burneh aku didahului mahluk
raksasa layaknya paus, ulu hatiku ngilu. Bengkokkan jalan raya kembali berhasil
ku lewati di jalan ring road,
kabupaten bangkalan. Kembali sesosok makhluk besar seperti ibu paus mendahuluiku.
Wuthh! Tertulis di punggungnya dengan jelas ‘’Bus Pariwisata.” Aku tak
bergeming. Agaknya mental tempeku mulai ber-metamorfosa.
Alhamdulillah. Aku sampai di depan faperta. Lama
perjalananku lima puluh tiga menit. Benar – benar perjalanan ke kampus yang
agak muskil bagiku, terlebih tak setetespun keringat mengucur. Aku memarkirkan
sepeda motor di depan gedung sekjur dan bergegas menuju ruangan Ibu Aminah
Happy Moninthofa A, Sp., Msi. Tak lebih dari satu menit aku sampai. Disana ibu
memberi petuah – petuah yang singkat saja, hanya memerlukan waktu tak kurang
dari tiga menit namun sangat bermakna. Aku segera pulang, namun sebelumnya aku
bertandan ke masjid terlebih dahulu untuk menunaikan kewajiban kemudian ke
perpustakaan. Sudah hampir dua bulan libur kuliah. Otakku rasanya berkarat
karena juga ku liburkan. Aku memutuskan meminjam beberapa rujukan disana meski
sesampainya di rumah hanya menjadi penambah sesaknya buku di mejaku. Setelah
itu aku langsung pulang. Perjalanan pulang sangat berbeda dengan ketika aku
berangkat. Aku seolah mahir saja berada di jalan raya. Aku juga sering
mendahului kendaraan lain. Ngebut.
Namun sayangnya, speedomotornya
rusak. Alhasil aku sampai lebih cepat di rumah. Empat puluh Sembilan menit.
Aku terkesan karena dapat mengalahkan traumaku. Terlihat bapak menghela napas
karena melihatku kembali dengan selamat. Ibu yang agaknya mengeluarkan semua
beban pikirankanya seketika itu dan tersenyum lalu menanyakan perjalananku. Bapak
sama sekali tak marah. Namun esok harinya beliau menggantikan ibu untuk
berkhotbah meski hari itu belum jumat. Sambil mengendarai motor demi
mengantarku ke muka jalan raya. ‘’Lebih
baik naik angkot saja kalau tidak terburu – buru, naik becak dari pertigaan
kampus kalau capek. Bapak sangat khawatir.’’ Aku terdian sejenak dan
mengiyakan. Dalam hatiku aku memang senang sekali dengan efisiensi bersepeda ke
kampus namun bukankah pilihanku untuk tidak ngekost
agar merasakan sensasi perjalanan yang berbeda? Keringat bercucuran, kaki yang
melepuh, kulit yang gosong, ciut karna dinginnya hujan, pedagang yang menuju
pasar, buruh tani yang tengah berjibaku di sawah, dsb. Jadi kesimpulannya, aku tak apa kok pak. J
Made
on March 5, 2015
0 komentar