Costumer service...

Bangkalan, 10 Februari 2015

         Waktu tepat menunjukkan bahwa schedule untuk sekarang adalah belajar TOEFL. Memang dasar kurang ajar betul aku ini. Tak menghargai schedule yang sudah aku buat susah payah. Indah sekali jadwal untuk sekarang ini tapi agaknya terdengar cukup sumpek di telingaku. Oleh karena itu, biarkan aku sedikit bercerita pengalaman kemarin ya book! (buku gado – gado milikku).

        Kemarin tepatnya tanggal delapan februari dua ribu lima belas, aku dan kakak pergi ke salah satu swalayan di Bangkalan karena hendak mengambil sejumlah uang di rekeningku untuk sebuah keperluan. Setelah usai berjibaku dengan mesin ATM dan mengambil lembaran uang, aku beranjak keluar swalayan menuju kakak yang menunggu di parkiran untuk pulang. Tiba - tiba aku tersadar tak memegang kartu ATM-ku. Mungkin terjatuh di dalam swalayan atau tertinggal di mesinnya. Aduhai! Inilah aku shobat! Menderita penyakit ceroboh kronis di tambah agak pelupa. Entah apa karena sudah melihat merahnya uang hingga aku lupa pada perantaranya. Untungnya tak terlalu jauh. Kakak kembali mengantarku kesana.

        Aku seperti itik ayam yang kehilangan induknya. Kucari di luar, di setiap sudut di swalayan, namun Tak dapat ku temukan kartu sakti itu. Kembali ku mengingat setiap langkah sebelum akhirnya aku menyadari kecerobohan ini. Terlintas di ingatanku aku sempat berbalik ke mesin ATM setelah mengambil uang dan melangkah. Seperti ada yang tertinggal saat itu, bisik batinku. Aku berbalik dan tersenyum pada mesin itu layaknya seorang artis dan segera ku sambar benda yang ku anggap terlupakan itu. Selembaran resi. Malah resi? Sungguh menjengkelkan! Berarti kartuku sudah ada di luar mesin, tapi lupa ku ambil.

        Setelah pontang panting kesana kemari akhirnya aku menyerah dan memilih bertanya pada beberapa orang di swalayan sekaligus semua karyawan disana. Namun tak ada yang mengetahuinya. Aku merelakan kartu itu. Tapi tidak untuk isinya. Hehe

        Esok harinya kakak kembali mengantarku ke bank untuk mengurus kartu baru. Sebenarnya aku tak enak hati karena diantar lagi. Aku ingin berangkat sendiri saja. Syukurlah kakak memaksa mengantar J.
Akhirnya, sampailah kami di depan bank. Sepeti biasa kakak hanya mengantar dan menunggu di luar. Ia mengajariku untuk dapat mengurus sesuatu sendiri. Kali ini ia tak menunggu di luar. Ia memilih untuk berkunjung ke kostan temannya karena berpendapat antrian di bank akan memakan waktu yang lama. ‘’ kalo udah nanti sms yaa,’’ itulah pesan terakhirnya. Akupun mengangguk.

        Prosesi pembuatan kartu berjalan amat cepat. Aku orang pertama yang menduduki kursi layanan costumer service pagi ini. Tandas sudah uang lima puluh ribu rupiahku hari itu karena kecerobohanku. Aku mencoba melihat sisi baiknya. Aku memiliki pengalaman baru di bidang problem. Setelah usai, aku segera menghambur keluar dari bank. Ku rogoh tasku, namun tak ada HP satu – satunya milikku disitu. Ternyata aku terburu – buru saat berangkat tadi hingga lupa membawa dan meninggalkannya diatas meja. Akupun pasrah dan menunggu kakak di luar bank tanpa mengirim pesan. Saking lamanya menunggu, agaknya aku hampir menjelma menjadi arang karena terik mentari yang cukup menyengat meski belum terlalu siang.

        Hampir satu jam aku menunggu dan akhirnya kakak datang juga. Aku menceritakan kecerobohan keduaku. Dan ia hanya tersenyum dan berkata, ‘’waah…berarti kamu nunggu lama yaa..’’

        Yah. Begitulah aku. Cerobohnya gak ketulungan. Mudah sekali menimbulkan masalah baru dalam masalah. Masalah yang datang padaku itu rasanya tak etis jika tak mengajak istrinya, mbaksalah. Istrinya tak rela meninggalkan anaknya. Anaknya membawa cucunya. Cucunya tak mau kalah, ia mengundang cicitnya. Benar – benar keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah! Tapi jangan di aminin ya. Kalau tidak, tamatlah saya! Hehehe.

Made on 13rd of March 2015

0 komentar