Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Bagiku, Kartini masa kini pertama adalah seorang Ibu. Ia sejatinya adalah sosok Kartini bahkan sebelum aku lahir, di masa kini hingga mendatang. Bahkan kalau boleh sesumbar, Kartini tidak akan mampu menyamai perjuangan Ibu. Tapi Kartini juga seorang Ibu. Yang luar biasa dan mulia. Bagaimana tidak, Ibu bukan hanya seorang yang multitasking di mata kanakku kala itu. Tapi ia juga teladan. Sebab Ibu tidak melulu memenuhi perut kami dengan makanan, tapi juga hati kami dengan akhlakul karimah. Ibu tidak hanya menyiapkan pakaian-pakaian layak, tapi juga bekal kebahagiaan hakiki yang banyak.
Perjuangannya tidak akan mampu terbayarkan. Meski ia tidak pernah menuntut balasan. Segala perngorbanan yang tak terhitung, mengalir deras membuat hidupku lebih beruntung. Ibu tidak hanya menjadikan rumah yang nyaman untuk pulang, tapi pundak yang kuat kala ujian datang. Kokohnya piramida ketulusan, kadang aku runtuhkan seketika dengan satu kalimat menyakitkan. Terlepas dari semua dosaku, aku senantiasa melantunkan doa. Agar Kartini yang tak pernah lekang oleh masa itu dianugerahi keberkahan usia. Menuai cinta kasih dariku hingga menua. Berkumpul kembali di alam akhirat, yang tiada pernah fana.

Sosok kedua adalah wanita yang sholehah. Wanita sholehah adalah sosok yang mampu mendamaikan hati. Ia tidak hanya mampu menjaga pandangan, pandai menjaga diri, santun, taat, wawasannya luas, inovatif dan beragam akhlak terpuji lainnya. Karena label 'sholehah' yang menetap dalam jiwa---tidak perlu ia perlihatkan karena toh ia tak pernah ingin dilihat---itu tidak pernah membatasinya untuk berkontribusi pada keluarga, negara dan agama. Sebab sosok yang ia teladani bisa jadi seperti Nusaibah binti Ka'ab yang terkenal tangkas dalam perang. Atau wanita lihai berpolitik dengan arif nan bijaksana seperti Zainab binti Ali bin Abi Thalib. Atau ceria dan kuat hafalannya bak Aisyah RA. Atau lemah lembut, keibuan dan rela berkorban seperti Khadijah RA. Karena menjadi sholehah tidak pernah membatasi wanita untuk berkarya dan bermanfaat dengan tetap menjunjung tinggi ketaqwaan.

Berbicara tentang sosok kartini masa kini yang bermanfaat dan telah berkontribusi nyata lainnya membuat saya mengingat beberapa nama selain tokoh Islam diatas, seperti Dwi Handayani Syah Putri dan Kartika Jahja yang baru-baru ini masuk di daftar 100 wanita berpengaruh di dunia---dirilis sebuah media ternama, BBC.  Kartini yang mengharumkan nama Indonesia bernama Alexandra Asmasoebrata dengan kemampuan balapnya. Rini Sugianto sebagai animator di Film The Hobbit 3, Iron Man 3 dan lain-lain, Irma Hardjakusumah, Sinta Nuriyah Wahid, Anggun Cipta Sasmi, Christine Hakim, Sri Mulyani Indrawati, Siti Walidah, Butet Manurung,  Asma Nadia, Tririsma Harini, liliana Nasir, Susi Susanti, Sarah Tri Monita, dan masih banyak lagi.


Iya, kita sebelumnya tidak pernah minta kedua tangan. Tapi Allah kasih. Meski tidak semua orang. Sebab Allah selalu punya alasan. Pun aku. Aku tidak pernah mengira Allah luluhkan hati Bapak dan mengijinkanku berkendara sendiri menyentuh aspal jalan raya. Sebab biasanya, ke warnet saja harus diantar, meski aku telah memasuki semester enam di bangku perkuliahan. Aku tidak pernah meminta Allah meluluhkan hati Bapak. Aku menerimanya. Karena bagiku, menimba ilmu dengan gratis adalah salah satu anugerah terbesar dalam hidup. Dan itu sudah lebih dari cukup. Tapi memang, Allah itu Maha Baik. Kalau kita selalu meyakininya, maka keajaiban akan kerap muncul tanpa permisi. Membuat malu karena acapkali tak sesuai dengan kualitas diri. Oleh karenaya, selalu berbaik sangka padaNya. Sulit, kala kita tengah berada dalam posisi yg sulit. Tp percayalah. Dia yang akan menguatkan dan memberi daya agar segalanya menjadi mudah. Yang ga diminta aja Allah kasih, apalagi yang iya.

Tidak sembarang orang bisa ku ajak bercerita panjang lebar. Hanya orang-orang yang ku percaya. Namun pada masanya jika aku hanya diam dan tak ingin membagikan apapun, itu bukan berarti aku tidak mempercayaimu. Tapi kadang, jika ceritanya teramat menyedihkan aku hanya menceritakannya pada Yang Maha Sempurna. Karena Dia bisa menampung apapun. Sedang kamu tak perlu menyediakan ruang lagi. Doamu sudah lebih dari cukup dan tidak terganti. Kadang, cerita itu aku beri lelucon dimana-mana. Agar kamu tidak terpaku pada kesedihan dan bisa mengambil pelajaran. Karena sebenarnya aku hanya butuh kamu dengar, tanpa kamu harus berkomentar. Sungguh, tak apa. Tetapi memang, dengan-Nya aku bisa bercerita tanpa sepotong leluconpun. Aku bahkan bukan hanya mendapat komentar, tapi ribuan solusi pintar. Tentu aku tidak bisa membandingkanmu. Secuil saja tak bisa, karena kita manusia. Namun kau perlu ingat, tak ingin bercerita bukan berarti aku tidak percaya padamu. *senyum.

Sebelum berangkat ke kampus, aku mencium tangan Ibu dan memeluknya. Sering begitu. Tapi hari ini pelukanku lebih erat. Karena hari ini spesial. Hari dimana wanita luar biasa itu melahirkanku, berada di ambang nyawa. Saat ku sentuh kulit tangannya, amat terasa beliau telah menua. Aku sedih, karena belum bisa memberi apa-apa. Meski ia tak pernah meminta apa-apa kecuali kesehatan dan kelancaran setiap urusan dalam kehidupanku.

Ibu pernah berceloteh, jika hari Kamis adalah alasan kenapa aku menjadi anak kecil yang cengeng dan mudah menangis. Bagaimana tidak, aku memang berbeda dari saudaraku yang lain. Aku kerap dan bahkan selalu menangis kala berada di kendaraan umum saat tengah bepergian. Anehnya, ibu seakan tidak pernah absen untuk membawaku bersamanya. Karena toh kalaupun ditinggal, aku juga akan menangis. Jadi lebih sering dibawa, meski amat merepotkan. Alasan kenapa aku acap kali menangis menurut ibu adalah karena merasa tidak nyaman berada dalam angkot. Panas, pengap, bau bahan bakar yang menyengat, bau keringat, bau gorengan hangat, bercampur lebur menjadi sebuah bracikan yang handal membikin pusing dan mual. Tapi ibu tak pernah kapok, ia lebih tidak tega meninggalkanku. Ya, dulu ibu kerap bepergian, memastikan tantenya di Surabaya baik-baik saja.

Selain perbedaan itu, ada perbedaan yang juga seringkali membuat pertanyaan-pertanyaan memantul dan meloncat liar dalam benakku. Mungkin sudah pernah aku sampaikan di entri sebelumnya, jika hanya akulah yang tidak pernah menduduki peringkat tiga besar di sekolah dasar. Tapi ibu tidak pernah mempermasalahkannya. Baginya, mampu membaca dan menulis sudah merupakan anugerah yang begitu besar. Tak perlu juara ini itu dan punya segudang ilmu jika sedikit saja sudah dengan ikhlas mampu kita bagikan pada banyak orang. Dan belakangan aku tambahkan kalimat itu dengan: namun memperkaya pengalaman dengan merebut juara dan menempa diri demi meraih segudang ilmu juga tidak ada salahnya. Bermanfaat dengan ilmu yang lebih banyak dan lebih banyak orang juga akan lebih baik.

Begitula ibu. Qonaah. Meski namanya bukan qonaah. Tapi memang, beliau tidak pernah memaksakan kehendak. Menerima apapun yang ada, sepenuh hati. Seperti menerimaku sebagai anaknya yang bergelimangan kekurangan. Aku yang rajin menangis ketimbang rajin menabung saat maish kecil. Aku yang mudah membantah ketimbang mudah membantu. Dan sebagainya. Beliau terima dengan lapang dada. Dan kini, sentuhan kasih sayang, kesabaran, cinta dan ketulusannya dean suami---anak kecil itu telah benar-benar tumbuh dewasa dan menua. Usianya sudah kepala dua. Tapi kelakuan masih perlu dibenahi dimana-dimana.

Di usia itu, banyak pemuda telah menelurkan karya-karya menakjubkan. Juga pencapaian-pencapaian yang tidak hanya membanggakan kedua orang tua tapi bangsa. Namun lihatlah, anak yang diberi nama Lutfiyah itu justeru benar-benar belum bisa diandalkan. Bahkan meski hanya untuk membeli sepotong baju untuk sang ibu, wanita hebat yang melahirkannya ke dunia. Walau nyatanya, tak pernah sekalipun ia mengharapkan balasan dari setiap cinta kasih yang ia beri. Karakter inilah yang pada akhirnya secara tidak langsung tertanam pada sang anak. Bahwa member bukan berarti menantikan sebuah balasan.

Aku tidak tahu harus bersyukur semacam apa pada Allah Swt. yang telah menganugerahiku seorang ibu. Sebab beliau memanglah amat perhatian. Di usia yang seharusnya sudah bisa berpisah, merantau, mandiri dan menggantikan kedua orang tua sebagai tulang punggung keluarga ini, aku malah masih makan dari hasil jerih payah mereka. Sering sekali beliau mengingat makan dan ini itu. Semua orang pasti pernah merasakannya. Entah itu orang tua, nenek, kakek, paman dan lain-lain. Mengingat itu, aku tak henti-hentinya berucap,”Aduhai, maka nikmat apa yang akan aku dustakan?”

Sudah sepatutnya seorang ibu punya perasaan takut dan khawatir, ini yang selalu mengundang pembicaran semacam di bawah ini berlangsung.
“Kalau pulang dari kampus jangan terlalu malam. Ibu khawatir ada orang jahat.”
“Ibu tidak usah risau. Allah adalah sebaik-baik pelindung.”
“Iya, tapi ibu takut kamu kenapa-kenapa.”
“Ibu, percayalah. Sehelai daun yang jatuh bahkan tak luput dari kehendak Allah.”
Begitu potongan perbincangannya. Padahal sebenarnya aku ingin bilang,”Ibu, maafkan aku yang selalu membuatmu khawatir dan sedih ketimbang mengukir senyuman dan kebahagiaan.”


Pagi ini, sudah menunjukkan pukul tujuh pagi lewat beberapa detik. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Sampai menit itu aku tidak mendapat ucapan selamat dari siapapun. Meski sebenarnya aku tidak pernah benar-benar mengharapkannya. Karena aku percaya, kita semua selau saling mendoakan. Bagiku, mendoakan setiap muslim yang secara telak telah menjadi saudara seiman adalah sepanjang usia dan menjadi rahasia. Tidak perlu pada momen tertentu, tapi setiap hari dan tidak pernah absen. Lagi pula, sebenarnya yang patut dihadiahi ucapan selamat adalah ibuku, yang telah berjuang melahirkan dan berusaha membesarkanku dengan akhlakul karimah. Apalagi mengharap hadiah dan kue dengan lilin menancap dan ditiup seolah layaknya prosesi agama lain? Sungguh aku tidak pernah berharap itu melainkan doa. Namun pada akhirnya, ketika kemudian banyak yang mendoakan dan memberi selamat, aku akan sangat terharu seperti pagi ini. Ah, ternyata masih cengeng alias suka menangis. Adapun aku terharu, juga lantaran mengingat betapa banyak dosaku pada ibu dan betapa secuilpun aku belum memberinya kebahagiaan yang berorientasi dunia dan akhirat. Dan saat dengan keahliannya Ipar membuatkan kue ultah yang amat lucu, aku juga pastinya akan terharu. Meski sekali lagi, aku tidak mengaharap dihadiahi, melainkan doa yang tidak pernah redup dari hari ke hari.

Saya: Mbak, bisa ceritain sedikit gimana bahagianya bisa ngewujudin mimpi pergi ke luar negeri?

Someone: Ke LN sih biasa aja. Hahaha. Malah kadang ngebosenin. Rumah sendiri is better daripada hotel manapun. Tapi enaknya ketemu orang-orang barunya sih, dan networking.

Saya: Bener banget, Mbak. Sebenernya, Indonesia dan rumah sendiri emang ga ada duanya. Tapi ingin saja memperkaya pengetahuan dan pengalaman lewat perjalanan dan penjelajahan. Barangkali, inshaaAllah menjadi jalan untuk menambah ketaqwaan. Hehehe.

---

Jawaban pada percakapan di atas sebenarnya tidak selalu demikian, bergantung pada pribadi, pengalaman dan persepsi orang yang kita tanya. Akan sangat beragam jawaban yang kita jumpai nantinya. Namun percayalah, bagaimanapun jawabannya kita akan selalu bisa memetik pelajaran.
Dari jawaban itu kita jadi diingatkan kembali, bahwa memang Indonesia (Kampung halaman kita) akan selalu ada di hati dan menjadi tempat bermuara setelah pengembaraan yang panjang. Sebab sepandai-pandai kita berbahasa asing, tetaplah kita ini orang Indonesia. Se-lancar-lancar saya berbahasa Inggris, (Kelak, mungkin. Wallahua'lam. Hehe) tetaplah saya ini orang Madura.
Memang, saat di rumah sesekali pertanyaan yang sama muncul samar-samar dalam pikiran, "Mau ke mana lagi? Ini kan sudah enak."
Tapi justeru itu yang membuat diri bisa jadi tidak berkembang. Stuck. Atau bahkan menurun. Karena ada di zona nyaman.
Oleh sebab itu, perlu pindah, perlu menjelajah, agar bermanfaat. Meski menjadi orang yang bermanfaat tidak mesti harus pindah. Meski di Indonesia juga banyak universitas ternama yang tidak diragukan lagi. Meski Indonesia sangat kaya raya (katanya). Ya! Kaya akan sumber daya. Tapi tetap, kita perlu hijrah. Untuk beberapa masa. Mengais ilmu yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Setelah itu kembali ke satu muara: Indonesia. Karena kita tetap Indonesia.

Saya sempat bertanya pada seseorang yang seringkali mendapatkan pencapaian hidup yang luar biasa tentang apa kiat untuk sukses. Salah satu menurutnya adalah membuat rencana hidup, schedule, atau target seminggu, sebulan, enam bulan, setahun, lima tahun dan sepuluh tahun ke depan. Saya mencoba melakukan kiat yang satu itu. Hasilnya, banyak target terbengkalai, schedul berantakan, rencana tidak terealisasikan dsbgnya. Tapi saya mafhum karena saya memang sangat sangat sangat masih kurang berusaha dan berdoa. Saya juga kadang tidak melengkapi impian saya dengan target di tahun kapan  saya akan mencapainya. Menulis memang tidak semudah melakukannya. Pun menulis rencana hidup. Saya ingat apa yang disampaikan Muhammad Nuh (Mantan Mentri Pendidikan), bahwa hidup adalah perencanaan. Saya juga ingat apa yang disampaikan Dewi Nur Aisyah (Awardee LPDP yang prestasinya segudang), bahwa dengan menulis impian, kita telah menyelesaikan separuh ikhtiar. Allahu akbar!

Aku melihat dua sosok manusia dengan karakter yang berbeda. Seseorang yang mempermudah urusan orang lain. Barangkali ia paham bahwa seorang lain---yang ia mudahkan---itu telah memiliki schedule yang saat ditunda beberapa saat atau satu hari saja, maka akan berdampak pada jadwal lain, berantakan. Harus mendesain ulang schedulenya. Bahkan ia tak segan menyemangati dan memberi deadline. Di saat yang sama, aku melihat seseorang yang entah kenapa tidak peduli apakah seorang lain memiliki schedule, deadline atau target dalam hidupnya. Ah, barangkali aku salah lihat saja. Melihat kan bukan hanya dengan mata fisik, tapi juga mata hati. Setiap yang tampak tidak selalu berarti demikian, apalagi hanya berlandaskan persepsi pikiran. Selalu percaya, bahwa Dia yang menggenggam hati setiap manusia. Hmm, lagipula jangan-jangan aku yang perlu memperbaiki diriku, hatiku, cara pandangku.

Kalau melihat bagaimana cara orang tua mengarungi hidup, pastilah membuat kita merenung dan merasa malu. "Duh, betapa hebatnya mereka." Bagaimana tidak. Kita ini seringkali bertindak serupa bocah ingusan. Mudah mengeluh, cengeng, lekas menyerah dll. Bahkan bisa jadi ada bocah ingusan yang jauh lebih dewasa ketimbang kita. Bagaimana saat kita dihadapkan pada kehidupan sebenarnya sedang kita masih terus membiarkan diri bersikap dan bersifat kekanak-kanakan? Tak apa, sebelum semuanya terlambat, kita masih punya waktu. Untuk meneladani karakter-karakter hebat orang-orang yang ada di sekitar kita, khususnya orang tua.
Atau tidak mesti orang sekitar, jika memang tidak mendukung untuk itu. Masih banyak role model hebat di luar sana, di tempat nun jauh sekalipun yang dengan kecanggihan teknologi bisa dengan mudah kita ketahui keberadaan dan kisahnya. Pun bisa kita ketahui meski mereka telah lama tiada, karena telah diabadikan lewat tulisan ribuan tahun silam.

H: Lut, menurutmu aku masih centil, ga?

G: Centil gimana maksudmu?

H: Ya, kalo ama cowo itu gimana? Apa masih suka cerewet, dll?

G: Hehe, akhir-akhir ini kan kita jarang bareng. Jadi aku ga tau gimana-gimananya kamu. Lagian aku ga merhatiin.

H: Menurut sepenglihatanmu aja gimana?

G: Wah, keknya kamu nanya sama orang yang salah deh. Hehe. Aku aja ngenilai diriku blangsak. Gimana mau merhatiin orang coba.

H: Ayo, Lut. Gimana aku yang sekarang menurutmu?

G: Mmm, Iya. Udah amat jauh lebih baik. *siaah, ngenilai orang tapi dirinya? Hehe.

H: *senyum. Iyakah, beneran? Eh, emang kalo kamu gimana. Kok masih nganu ga bener. Gmn caramu bergaul ama cowo?

G: Hehe, lah ya itu. Kek yang uda aku bilang tadi. Masih geje. Iya sih, malu kalo ama temen-temen cowo yang ga akrab. Tapi kalo ama mereka-mereka yang udah aku anggep akrab dari SMP, SMA, temen les, dll---kadang aku bisa bergaul dg rada ngawur. Meskipun ya, hanya sebatas cekakak-cekikikan pas ngumpul, pake VN kalo lagi males ngetik, heboh kalo ketemu, dll---tapi pas aku pikir lagi, hadu, aku bener-bener masih buta agama.

H: Loh emangnya kenapa kalo pake VN, Lut?

G: Hehe, ya ga papa. Ga ada masalah. Cuma aku kadang mikir. Meskipun sedeket apapun temen, mereka kan tetep bukan mahrom.

H: Loh iya ta? Ga boleh?

G: Eh, gimana ya ngejelasinnya. Gini loh, aku aja masih pake VN, tapi itu cuma pemikiranku yang kadang kerap muncul. Selama kita tahu batasannya, mungkin ga papa. Semua kembali kepada orangnya. Ada yang benar-benar wara' ada yang ngga. Kembali ke tingkatan Iman. Lagipula aturannya kan sudah ada, yang penting kita ga bicara dg nada yang lemah lembut dan bermanis-manis ria. *ngeles mulu kek bajaj.

H: Jadi sebenernya gimana cara kita bersikap dan bergaul sama mereka, Lut?

G: OMG. (*macam mana pula menjawab pertanyaan semacam itu, sbb aku sendiri geje dalam pengamalan.) Hehe, sebenernya yang paling tahu gimana kita harusnya bersikap adalah diri kita, hati kita. Konon, caranya adalah dengan cara banyak belajar dan merenung, serta berdoa agar diberi kemudahan untuk mengamalkan dan memperbaiki kualitas diri sbg hamba. Kita tidak akan pernah tahu, apakah iman kita akan bertambah atau berkurang sebelum kita sendiri yang berusaha meraih dan menjaganya. Jangan pula membenci perbedaan (orang yang sepenglihatan kita salah). Sebab barangkali sekarang ia ahli maksiat, tapi kita tidak tahu bbrp waktu kemudian.

H: Mmm... Makasih, ya.

G: Semoga Allah mengampuni setiap kesalahan, dan menjadikan kita manusia yang haus untuk selalu belajar dan memperbaiki diri.😥

Keterangan:
H: Hinisial
G: Gue

Kadang, kalo kita ngaminin doa orang lain itu sebenernya kita biasa aja. Karna ngerasa itu bukan doa kita. Iya, ngaminin. Tapi sebatas ngaminin. Tapi coba ngaminin dengan amin yang bener-bener ngaminin plus ngerasa di posisi mereka, kepengin banget doanya terkabul. Ngerasa kalo doa yang mereka panjatin itu juga kita panjatin *udah kek poon aja. Pun doa mereka itu pro dengan pendapat kita. Pasti deh, aminnya bakal ga sebatas amin biasa. Tapi amin yang bener-bener ngaminin. Sebab sebenernya, doa yang kita aminin bakal balik ke kita. Oleh karena itu, kuy ngaminin doa orang lain dengan amin yang banget banget banget dari hati. Biar aminnya bisa mengaminkan amin yang pengin diaminin sama pengamen, eh pengamin Hehe *gueje cah. Inti ya saya lagi belajar bagaimanan mengaminkan doa orang lain dengan amin yang bener-bener amin, bukan asal ketik.

"Phârajhâh atèh." Walau bagaimanapun, guru adalah guru. Dosen juga guru. Meskipun kamu telah menentukan tanggal sekian, tetap saja, Allah yang Maha Tahu. Ikuti alur guru. Barangkali mendapat berkah karena beliau telah lama berpuasa. Ingat pesan ibumu, bahwa sesungguhnya pencari ilmu itu orang yang tengah berpuasa. Menahan dan menjauhkan diri dari segala bentuk kemaksiatan, bukan melulu berpuasa dalam arti sebenarnya. Mereka menempa diri dan menggali ilmu bertahun-tahun.

Lalu bagaimana meraih keberkahan hidup jika pikiranmu selalu picik? Bersihkan hatimu! Kencangkan sabuk pengaman! Hidup usai wisuda nanti masih amat panjang. Ah, semoga kau selalu ingat hadits tentang: perbanyaklah amal sholih seakan-akan kau mati besok dan bekerjalah seakan-akan kau hidup seribu tahun lagi.

---

Duhai Allah, berikanlah umur yang berkah dan panjang kepada orang tua kami,  keluarga kami, dan saudara seiman kami. Lapangkanlah hidup kami dengan iman dan islam yang senantiasa menetap dalam jiwa kami. Letakkanlah dunia di telapak tangan kami, bukan di hati kami. Berikan kami kesabaran agar mampu menyiapkan bekal untuk akhirat kami, tempat yang hakiki. Anugerahilah kami keberkahan hidup.

Dr. Ibrahim Elfiky. Beliau pemilik perusahaan berskala internasional dan meraih 23 gelar diploma dari beberapa lembaga papan atas di bidang MSDM, marketing, manajemen, dll. Seorang yang juga Dirut di sebuah hotel bintang lima ini dijuluki sebagai pembicara terbaik dan berhasil melatih lebih dari 700.000 orang melalui seminar dan kegiatan lain yang di gelar di seluruh dunia dengan tiga bahasa, yakni, Inggris, Prancis dan Arab. Salah satu karyanya adalah sebuah buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, berjudul: Terapi Berpikir Positif. Dari buku tersebut, beliau mengajak pembaca untuk senantiasa berprasangka baik pada Allah dan selalu berpikir positif. Sebab Allah memberi sesuai dengan apa yang kita prasangkakan dan yakini. Kekuatan berpikir positif membuat seseorang mampu mengarungi segala bentuk rintangan yang ada dalam kehidupan dan mewujudkan seluruh impian baik yang mungkin bagi sebagian orang hanyalah sebuah kemustahilan. Beliau juga seolah terus mengingatkan pembaca bahwa ada Dzat yang mencintai kita melebihi apapun dan siapapun, yakni Allah SWT. Dengan membaca buku ini, saya juga melihat sosok Dr. Ibrahim yang dekat dengan Allah. Untuk itu saya jadi sedikit memahami, bahwa Allah akan memudahkan jalan menuju kesuksesan jika kita terus berikhtiar dan hanya berharap dan mendekat kepadaNya. Memahami penyampaian ilmu yang dilakukan dengan arif nan bijak, seketika membuat saya terhenyak dan kian penasaran dengan Rasul kita, Muhammad SAW. Rindu dengan manusia pilihan, yang sudah tidak perlu dijabarkan keahliannya. Allahumma sholli 'ala sayyidina muhammad!

---

Saya, Lutfiyah. Belum memiliki perusahaan, hotel bintang lima, juga gelar. Belum menjadi pembicara handal karena berbicara saat presentasi kelas saja masih belepotan, meski dalam bahasa Indonesia. Dengan segala hal yang belum saya miliki itu, kerap timbul untuk tidak update status di sosial media manapun kecuali ia bermanfaat. Bahkan, berhenti surfing di media sosial. Menurut saya, atas ijin Allah dan kemauan keras saya, saya amat berhasil menerapkannya pada IG, FB, BBM dan twitter (setiap orang mempunyai pilihan; sosmed untuk hiburan, jualan, dll). Tapi keingingan untuk selalu menasehati diri dan banyak orang kerap timbul. Akhirnya, saya aktif di WA dengan fitur barunya yang bisa mengupdate status. Meski kerap kali banyak postingan tidak jelas dan tidak penting yang saya bagikan, saya kerap berusaha membubuhkan pesan dan semangat di dalamnya. Itu (insyaAllah) didasari atas kecintaan saya karena Allah pada mereka, para pembaca status. Karena saya menyadari dan percaya jika orang sholih dan mushlih itu berbeda. Bagi saya, saya bukan keduanya. Karena memang, semua yang saya lakukan masih dengan keadaan diri yang bergelimangan kekurangan. Semoga Allah mengampuni setiap kekhilafan. Dan menjadikan kita hamba yang saling nasihat menasihati dalam kebaikan. Aamiin.🍃

Menangis bukan berarti kita lemah atau rapuh. Justru dengan menangis kadang kala berarti bahwa kita telah menyuarakan kekuatan. Sebab tangisan bisa menjadi simbol kekuatan.

Menangis acapkali merupakan bentuk refleksi karena tidak sanggup meluapkan kemarahan, juga hati yang ingin memberontak kebatilan, atau ketidakpercayaan terhadap kenyataan pahit. Misalnya, seseorang yang begitu baik dimata kita justru berkhianat. Dan lain sebagainya.

Tak apa, menangislah. Setelah itu jadilah lebih kuat. Lalu dengan kekuatan itu kau akan lebih tegar mengarungi hidup. Sebab menangis adalah respon yang alamiah. Usainya, bersegeralah bangkit!

---

Hanya karena saya menulis catatan ini, bukan berarti saya sedang, sudah atau akan menangis. Ingat, satu-satunya makhluk yang boleh disu'udzoni ialah setan. Sedang saya adalah manusia tulen. Hehe.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Innamal A'malu Binniyat
  • Soal Ide, Implementasi Pesan dan Kecelakaan
  • Buat Apa Sih?!
  • Kamu Yakin Ngga sih?
  • Door Duisternis Tot Licht
  • Obsesi?
  • Rindu Allah
  • Kapan Nikah?
  • Hobi Gue Dengerin Musik. What?!!!
  • Berkaca Diri

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates