Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Sudah dua hari aku terbaring. Sudah lama memang aku ga sakit. Sudah lama pula niat untuk bekerja di hari libur tumbuh dalam benakku. Aku telah membuat beberapa options di liburan kali ini. Antara lain: Les, organisasi, melanjutkan novel, belajar materi semester tiga, atau bekerja.
Untuk saat ini option pertama rasanya tidak bisa direalisasikan mengingat harus menggali kocek. Masalahnya, kocekku sama sekali tak bisa digali. Meminta pada orang tua? Ah, aku terlalu sungkan dan tak mau menyusahkan mereka. Aku akan belajar sendiri saja dulu.
Pilihan kedua yaitu organisasi. Menjadi panitia untuk diklat mahasiswa baru. Kedengaran begitu menyenangkan. Namun untuk saat ini akan sangat sulit bagiku. Rapat yang katanya rata-rata dilakukan di malam hari. Sementara aku pulang ke rumah yang perjalanannya mmakan waktu sat jam setengah paling lama. Belum lagi aku tak ingin menyusahkan teman – teman yang banyak menawarkan kos mereka untukku menginap. Aku sangat ingin berorganisasi semacam itu. Aku ingin sekali mengeruk banyaka ilmu dan pengalaman. Semoga bisa di semester lima nanti.
Melanjutkan novel yang ku buat sendiri. Meski secara asal-asalan, aku berdoa semoga novel itu benar-benar bisa rampung dan diterbitkan. Hehe, hayalanku ada-ada saja. Pilihan ketiga ini belum dapat ku wujudkan karena mood yang kurang memadai. Beda lagi kalau pilihannya membaca novel. Akan ku terima tanpa ampun.

Belajar. Adalah hal yang begitu mulia. Aku kesampingkan dulu deh. Hehe. Aku beralih pada pilihan terakhir. Dengan awalan yang sama. Bekerja. Em.. bagus juga pikirku. Aku ingin punya pengalaman bekerja. Meskipun bukan untuk pertama kalinya. Ya, aku pernah bekerja sebagai pramusaji selama tiga hari di sebuah rumah makan. Hanya selama itu aku dibutuhkan, karna rumah makan yang ramai pada event itu. Aku juga pernah menjahit seragam sekolah di sekolah dan di kediaman guruku selama kurang lebih setahun. Aku namai bekerja karena memang aku dibayar untuk itu. Namun aku ingin  punya pengalaman yang lain.
Setelah sebulan liburan kuhabiskan dirumah. Berpuasa di bulan ramadhan. Sebulannya lagi aku bertekad untuk bekerja. Bekerja di daerahku jika dihitung dengan ongkosnya akan terasa kurang pas. Maka ku putuskan untuk hijrah ke luar kota bersama kakak perempuanku yang sudah berpengalaman. Dia bekerja paruh waktu untuk membiayai hidupnya di Surabaya. Sementara biaya semesteran, kakak laki-lakiku yang punya andil.
Melihat kondisiku yang masih begitu lemas karena demam yang menyerang sebagai efek amandel yang ku derita, ibu tak mengijinkan tekadku itu. Aku bersikeras membujuk beliau bahwa anaknya akan baik baik saja.
Akhirnya dalam keadaan yang memulih aku bersama kakak perempuanku berangkat ke luar kota. Kota pahlawan. Surabaya.
***
Bangkalan, 22nd July, 2015
            Sore menghantarkan kami berangkat ke Surabaya demi mewujudkan keinginan. Aku ingin memdapat pengalaman di bidang ini. Bus melaju cukup kencang. Sekencang degup jantungku. Aku senang sambil merapalkan doa supaya semuanya akan lancer-lancar saja.
Surabaya, 23rd July, 2015
            Pagi pertama di Surabaya. Aku hanya bisa berdoa. Semoga mimpi menjadi nyata. Nanti aku dan mbakku akan melamar kerja di sebuah mall. Semoga besok bisa langsung bekerja.. Semoga ini menjadi salah satu anak tangga yang menghantarkanku ke puncak mimpiku: Belajar ke negeri orang! Aamiin. Sungguh, Allah Maha Mendengar dan Maha Pengabul.
            Hem… Hangatnya sinar mentari menerpa wajahku dengan lembut. Waktu dhuha pun segera disambut.

Surabaya, 24th July, 2015

            Suaraku serak setelah tadi malam batuk. Batuk pertamakalinya di tahun ini. Namun yang taka kalah penting dan genting adalah aku masih belum dapat pekerjaan. Kita sudah berkeliling mall seharian. Tiga surat lamaran sudah disebar, namun belum ada kabar.

Surabaya, 25th July, 2015

            Masih menunggu jawaban, apa ada yang mau menerimaku atau tidak. Yang jelas hari ini sudah berkeliling mall lagi dan menebar lamaran. Oh tuhan! Aku bingung. Beginikah susahnya mencari kerja? Hanya kepada-Mulah hamba memohon pertolongan.

Surabaya, 26th July, 2015

            Allah memang Maha Pengabul. Setelah dipanggil dan wawancara hari ini aku langsung bekerja. Karena sangat butuh karyawan akhirnya aku diterima meski hanya sebulan. Aku bekerja sebagai satu-satunya SPG di salah satu stant baju bayi dan balita di Mall tersebut. Hari pertama bekerja, satu kesimpulannku: Menimba ilmu lebih menyenagkan dari apapun! Semoga Allah berkenan mengabulkan mimpi-mimpiku. Aamiin.
Surabaya, 29th July, 2015
            Aku harus kuat!
Surabaya, 13rd Agust, 2015
            Banyak pengalaman kern selam disini. Mulai dari peraturan toilet yang aneh, wudhu’ harus ke janitor yang menyebalkan, disemprot petugas cleaning service yang super sok, petugas management yang jutek, dan masih banyak lagi. Tapi yang paling keren ya hari ini. Rolling doornya macet. Bikin ke greget! Alhasil harus ke management, ke petugas yang terkenal garang itu. Tapi aku tidak takut.
            Akhirnya petugas yang menangani masalah seperti ini datang juga. Petugasnya begitu baik. Seorang lelaki paruh baya yang kebapakan. Beliau bersedia menjawab pertanyaanku yang bertele-tele. Aku memang tak mau kejadian ini terulang lagi. Lagi-lagi bukan karna aku takut!
Surabaya, 22nd Agust, 2015
            Ketiduran selama beberapa menit ternyata tidak membuat sistem pengendalian emosiku bergeser. Aku ingat punya tugas baru hari ini.
Dengan ekspresi yg masih menahan kantuk kutanggapi orang berseragam itu dg biasa meski nada bicaranya seakan ngajak ribut. Bersungut2.
Setelah menerima tanggapanku, wajah beliau kembali netral lg saat awalnya sempat seperti kepiting rebus. Bahkan agaknya beliau berusaha menutupi rasa malunya dg info yg diulang2 walaupun aku telah mengakhiri pembicaran dg kata terima kasih.
"Maaf, anda orang aneh (aneh karna kelebihan porsi emosi grin emotikon ) kesekian yg sy hadapi disini. sekarang, menghadapi macanpun rasanya aku siap," aku berandai.
"Hei..hei sombong betul kau ini. bukankah itu karna Allah yg menuntunmu?" nuraniku menasehati.
"Hehe.. kamu benar. Dia sllu bersama hamba2Nya. Dia bahkan lebih dekat dr urat nadi kita sendiri." malu2 ku jawab dalam hati.
***
"Hasilnya nanti jam 3 ya," suara pak satpan yg lembut spt kapas memecah lamunanku.
"Terima kasih." tanggapanku masih biasa.

Surabaya, 23rd Agust, 2015
            Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin..

Terimakasih yaa Allah atas daya dan kekuatan yang engkau beri hingga hamba bisa bertahan hari ini. Ini adalah hari terakhirku bekerja. Sebenarnya tanggal dua lima. Namun karena jatah libur diambil di akhir sesuai perintah bos, akhirnnya hari inilah hari terakhir aku bekerja. Yippiey! Alhamdulillah..

Sumber Gambar: http://online.hillbrook.qld.edu.au/course/view.php?id=124



Headphone yang melekat bergerak patuh mengikuti anggukan kepala seakan terbius senandung yang sebagian besar dari barat. Suara merdu Justin bieber, Justin Timberlake hingga Jus Buahpun memenuhi dua daun headphone yang berwarna hitam. Puluhan lagu berhasil dihafal meski tak mengetahui makna lagu-lagu itu sepenuhnya.
Peristiwa memprihatikan itu seringkali dilakukannya sepulang sekolah atau saat ada waktu senggang. Tak pernah lepas seharipun aktvitas itu ia lewatkan. Selalu dilakukan dengan teratur layaknya upacara bendera.
Agaknya, aktivitas itu dijadikan sebagai obat lelah karena aktivitas sekolah dan rumah. Tugas sekolah yang menumpuk, pelajaran yang membosankan, dan sederet kegiatan lainnya yang dianggap sebagai beban pikiran. Astagfirullahal’adzim.
Baginya kegiatan yang membuat waktu terbuang sia-sia itu dapat menghapus segala lelah yang bersarang dalam jiwa raganya. Pun nasehat saudara–yang dulunya penggemar Linkin Park– itu tak ia gubris. Lagu-lagu yang baginya mengalun begitu indah benar-benar menjadi obat mujarab.
Namun kesenangan itu fana. Pusing tak dapat dihindari setelah aktivitas itu dilakukan. Akhirnya ia menyadari bahwa kegiatan itu juga terasa membosankan dan menambah beban. Iapun mencari-cari sebenarnya apa yang akan membuat hatinya tentram.
Hingga suatu hari, hatinya tersentuh saat membaca sebuah puisi di weblog tentang Al-Qur’an. Semua huruf yang terangkai menjadi kalimat-kalimat yang indah ternyata lebih membius dari senandung barat itu.
Puisi itu secara terang-terangan telah menyindirnya. Seorang muslim, namun kegiatan sehari-hari begitu jauh dari nilai-nilai keislaman. Mengerjakan sholat dan puasa hanya sebagai penggugur kewajiban. Padahal banyak sekali kegiatan  bermanfaat yang seharusnya dilakukan.
Contoh kecil yang berhubungan dengan oretan ini adalah pada kenyataannya kita lebih sering memutar lagu di handphone, di mobil, dsb. Bukankah lebih indah jika kita memutar ayat-ayat alqur’an? Syukur-syukur kalau kita sampai menghafalnya. Kita bisa men-download mp3-nya secara gratis loh. Hihi.
Sungguh, tak ada yang lebih indah dari lantunan Kalamullah. Indahnya meresap ke dalam daging, tulang, hingga sumsum (ini majas apa apa ya? Kok aneh? Ah, tau ah!). Nyaman di telinga, menyegarkan raga, lagi menentramkan jiwa. Suwer! :D




****
Al…most. Almost it’s never enough…
*Ups hehehe, HP-ku kena pencet. :/ Loh? kok!
Iya.. iya.. -_- kebiasaan buruk itu belum punah betul. Masih berproses. Ayo, bagi yang memiliki kebiasaan yang sama. Barangkali juga sama-sama mau berproses. Menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Fastabiqul khairat! ^_^
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
Seperti halnya buku Mukasyafatul Qulub karya Imam Al Ghazali, buku Ihya’ Ulumuddin dengan pengarang yang sama secara kebetualan saya temukan di rak buku saat hendak bersih-bersih. Untungnya, sudah merupakan buku ringkasan dari kitab asli yang tebalnya minta ampun (katanya) dan yang terpenting sudah diterjemahkan. Hehe.
Dalam buku tersebut ada satu bab yang mengulas tentang bagimana pandangan islam tentang mendengarkan musik. Berikut ulasannya:
Para ulama ada yang mengharamkan dan ada pula yang membolehkannya. Dasar dibolehkannya terdapat dalam QS. Faathir: 1. Para ulama menafsirkannya dengan suara yang baik.  Baca sendiri ya..
Nabi Saw bersabda mengenai Abi Musa Al-Asy’ari, “Ia telah diberi seruling keluarga Dawud. “Dalam hadits,”Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan ia mempunyai suara yang indah.”
Adalah mustahil dikatakan bahwa hukumnya mubah berdasarkan Kitab Allah Ta’ala dan pembacanya, karena mendengarkan suara burung Adalib adalah mubah. Apabilah mendengarkan suara yang indah itu diperbolehkan, maka suara yang berirama juga tidak diharamkan. Betapa tidak, sedangkan suara-suara nyanyian mempunyai semacam irama bersajak serasi. Ini tidak berbeda dengan keluarnya suara merdu dari tenggorokan manusia, burung, atau lainnya.
Dapatlah diqiyaskan dengan suara burung, suara yang lain yang keluar dari gendang. Tidaklah dikecualikan dari sejenisnya, kecuali yang diharamkan oleh nash, seperti alat musik watar dan seruling yang biasa digunakan untuk mengiringi minum minuman keras.
Dalam buku ini terdapat riwayat riwayat yang menunjukkan secara pasti atas kebolehan mendengarkan lagu dan suara wanita bila tidak menghawatikan fitnah (dalam arti luas). Ringkasnya, mendengarkan lagu itu dapat menggerakkan isi hati. Jika ada kerinduan yang mubah dalam hatinya, lalu engkau menggerakkannya, maka hukumnya boleh. Bilamana haram, lalu engkau menggerakkannya, maka perbuatan itu tidak boleh. Ini mengenai pendengaran orang yang lalai.
Lalu bagaimana dengan lagu-lagu religi yang menggerakkan hati kita untuk lebih mendekatkan diri dan mencintai Allah Swt?
Yang menambah cinta kepada Allah Ta’ala dan kerinduan kepada-Nya, jika tidak dianggap termasuk hal-hal yang fardhu, maka setidaknya termasuk hal-hal yang mubah. Doa Rasulullah Saw., “Ya Allah, Karuniailah aku kecintaan kepada-Mu dan kecintaan keapa sesuatu yang mendekatkan aku kepada mencintai-Mu.’’
Dan ini penutup ringkasan yang  bagi saya mendebarkan..
Ketahuilah sekarang bahwa pendengaran suara yang merdu itu menggerakkan batin. Diantara orang-orang ada yang kuat imannya dan sempurna keadaannya sehingga tidak memerlukan penggerak dari luar.
Em.. jadi akan ada derajat keimanan tersendiri. Terlepas dari dibolehkannya mendengarkan musik, tentunya kita harus mengetahui batasan-batasan yang sudah ditentukan dalam islam. Seperti tidak berlebihan dan membuat kita meluakan yang fardhu, lagu yang bagus maknanya, penyanyi tidak mengumbar aurat (kalo dengerinnya pake liat video klip kali yak), dan lain sebagainya. Perbuatan sia-sia juga bisa dicontohkan dengan hal lain seperti bermain game, dll. Kali ini kita hanya membahas tentang ‘’Hobi Gue Dengerin Musik.’’ Karena sampaikanlah walau satu ayat. Seperti hadits yang seringkali kita dengar. Semoga kian hari kita semua bisa menjadi orang yang lebih baik dan lebih baik lagi. Aamiin~
Note:
Semoga catatan ketiga ini bisa bermafaat. Perlu diingat, ulasan serupa tidak hanya terdapat dalam satu buku melainkan banyak! Selamat berburu buku-buku akurat! Jangan seperti saya yang rasa malasnya sering kumat! :)

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Salam hangat untuk semua shobat disana (kayak ada yang baca aja, hehe). Meski agak terlambat tetap aku harus membuat entri ini. Lumayan buat nambah entri. Semoga bisa menjembatani silaturahmi antara saya dan shobat semua. Bisa membuat shobat lebih mengenal pemilik blog ini. Karena pepatah yang begitu terkenal mengatakan: tak kenal maka tak sayang. Selamat membaca! Need critic and suggestion! ^_^

Zahra. Zahra sebenarnya adalah sosok yang aku kagumi dalam film Children Of Heaven asal Iran tentang dua kakak beradik yang memiliki masalah sepatu. Meski Zahra hanyalah seorang adik dari Ali tapi aku sangat menyukai sifatnya dalam film itu, kala aku masih kecil.  Itulah alasan mengapa aku menyematkan Zahra sebagai nama penaku. Mereka adalah anak-anak yang tidak suka merepotkan kedua orang tuanya, dan yakin bahwa di setiap masalah pasti akan menemukan jalan keluarnya.Aku juga sering menyematkan nama Zahra di beberapa akun sosial media-ku. Aku berharap bisa menjadi sosok Zahra yang kuat menjalani hidup. Zahra sendiri berasal dari Bahasa Arab yang artinya bunga.

Demi Allah yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya. Aku hanyalah seorang hamba. Hamba Allah yang penuh khilaf dan dosa. Terus berusaha mencari keridhaan-Nya. Demi kebahagiaan dunia dan kebahagiaan yang hakiki di akhirat. Meski tak dapat dipungkiri datangnya godaan yang seringkali berkelebat. Semoga Allah membimbingku, menjauhkanku dari yang namanya maksiat. Aamiin~

Aku hanyalah manusia. Tak sempurna. Sering khilaf dan penuh dosa. Menapaki kaki dengan meraba. Tak ada yang istimewa. Bagiku satu hal yang membuatku berbeda dengan saudaraku. Yakni, tak pernah mendapat peringkat satu. Mungkin bagi sebagian orang itu sederhana. Tapi keadaan itu cukup membuatku merana. Hingga aku merasa berdosa pada kedua orang tua. Meski Ibu tak pernah menuntut. Untuk bisa membaca dan menulis saja baginya sudah cukup. Begitu pula Ayah, namun dapat ku baca raut kekecewaan Ayah yang tak mengenakkan kalbu.

Tetap saja, walaupun aku sudah merasa bersalah aku tak belajar dengan keras demi keinginan itu. Mungkin karena aku masih kecil, jadi rasa itu meluap bersama gelak tawa saat bercanda bersama teman – teman. Hingga akhirnya aku duduk di bangku menengah atas, aku berusaha mewujudkan keinginan itu. Demi Ayah dan Ibu. Sebuah pemahaman dalam pembelajaran bagiku adalah kerja keras dan perjuangan. Meski tak bisa di bilang secuil usaha yang kulakukan itu adalah kerja keras dan perjuangan. Menghantarkanku ke posisi kedua di kelas. Aku belum bisa mewujudkannya!

Memang benar pendapat Ibu bahwa nilai bukanlah segalanya. Jangan menuhankan nilai! Begitu mungkin maksud beliau. Namun bagiku selain untuk kedua orang tua, justru nilai itulah bukti pada tuhan! Bahwa hamba-Nya menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Meski yang terpenting adalah implementasinya, pengamalannya.

Aku tak memilki keistimewaan. Hobiku hanya menonton TV. Tak suka menulis, apalagi membaca.  Entah apa kemampuanku. Saat kecil aku seringkali menggambar di waktu luangku. Ya, agaknya aku menyukai seni. Meski gambarku layaknya cakar ayam tapi aku senang menjalani hobi itu hingga kini. Bedanya, kini aku menggambar di aplikasi elektronik, mengedit foto, dll. Aku bilang aku tak punya keistimewaan. Ah, bukannya setiap orang pasti memiliki kesitimewaan. Kelebihan di balik kekurangan. Hmm.. hanya saja mereka menemukannya dalam waktu yang berbeda. Seberapa pandai mereka menggalinya, katanya. Hobi menonton TV-pun kini telah sirna. Acaranya benar-benar semakin tak layak tonton. Aku harus merelakan hobi yang satu itu. Terlebih aku disibukkan dengan tugas kampus. Bukan berarti semenjak kuliah aku tak menonton TV. Bukan. Sesekali aku hanya menonton beberapa menit acara yang masih aku suka. Seperti ILK, Stand Up Comedy, Metro TV News, dan Khazanah.

Kini aku masih semester dua di Universitas Trunojoyo Madura. Namun aku masih belum menemukan potensi yang utama dalam diri. Jujur, aku memang punya banyak hobi sejak lama. Aku suka memasak, menggambar, menyanyi meski cempreng, dan hobi yang paling aku suka sejak kecil adalah bersepeda menikmati panorama alam. Sepertinya hal ini beralasan. Golongan darahku B. Aku pernah baca tentang kecenderungan sifat golongan darah B. Salah satunya bahwa mereka memilki banyak hobi sehingga cenderung tidak dapat memaksimalkannya.

Seperti halnya hobi, aku juga bingung menentukan cita – cita. Dulu. Sekarang pun masih. Bagaimana tidak, kadang aku memutuskan ingin menjadi dokter, guru bahasa inggris, chef, arsitek, penyanyi, pengusaha, reporter, ahli gizi, bahkan pengamat politik. Selalu berubah – ubah. Tapi aku tak ambil pusing. Tugasku sekarang hanyalah belajar, belajar dan belajar. Wiih.. sampai di ulang – ulang kata belajarnya. Walau begitu sulit bagi orang sepertiku tapi semoga menjadi doa. Cita – cita yang baru saja aku rangkai adalah menjadi seorang penulis. Ah, semut saja sampai tertawa mendengarnya. Padahal belum aku lontarkan ide yang satu itu. Rupanya jenis semut peramal.

Bagaimana bisa orang yang tidak suka membaca dan menulis bisa menjadi seorang penulis. Ya, itulah aku dengan sejuta ide konyol. Baiklah akan aku ceritakan kenapa ide itu muncul. Dari dulu, dulu sekali sejak aku masih duduk di bangku SLTP, MTs lebih tepatnya. Aku diam – diam memiliki keinginan untuk bisa membuat puisi. Keinginan itu terkubur hingga aku lulus SLTA, alias MA. Bangor begini aku juga disibukkan dengan tugas hingga lupa dengan keinginan lain. Lalu adikku sering menceritakan teman -  temannya yang pandai membuat karya sastra. Aku terpana. Kutanyakan bagaimana bisa. Tentu saja mereka banyak membaca, jauh berbeda denganku. Temannya merekomendasikan sebuah novel pada adikku sebagai pemula. Adikku memberitahukannya padaku. Ingin segera aku membeli novel itu, namun uangku jauh dari cukup.

Keesokan harinya aku iseng mencari e-book novel itu di internet. Dan walaaa.. ternyata ada. Bahkan bukan cuma satu novel, tapi tujuh novel sekaligus dengan penulis yang sama. Aku senang tak alang kepalang. Segera ku unduh semuanya dengan bersemangat. Namun pesan di akhir weblog itu membuatku akan kecewa. Begini bunyinya: ‘’Saya sarankan anda beli saja novelnya, karena ebook ini bikin mata panas.’’ Aku tak menghiraukannya setelah itu. Singkat cerita aku membaca novel – novel itu. Karena keterbatasan waktu aku hanya bisa mebaca empat novel saja. Novel itu sangat cocok denganku, orang yang tak pernah membaca novel.

Dahsyat betul efek novel itu. Tiba – tiba saja di kepalaku muncul kosa kata yang kemudian terangkai menjadi kalimat, lalu paragraf. Meski belum bagus aku coba saja mengarang cerita. Malah dengan nekatnya aku bertekad membuat novel. Membuat novel! Indah bukan buatan kalimat itu. Kebetulan saat itu hampir dua bulan kampus libur. Setelah menamatkan empat novel itu aku mulai mencoba mengarang novel. Meski urak – urakan aku membuat novel dengan tanganku sendiri. kalimatnyapun masih begitu sederhana. Tapi tekadku sudah bulat kala itu. Tak kurang dari empat puluh halaman oretan yang berhasil ku buat. Menahan panasnya sinar monitor yang menguji mata. Kakak dan kakak iparku menyarankan untuk aku mengirimkannya ke redaksi. Tapi akau belum yakin. Aku masih harus meng-edit-nya lagi. Namun sekali lagi karena keterbatasan waktu, aku selalu menunda untuk merealisasikannya. Ternyata artikel itu ada benarnya juga!

Selain kakak, kakak ipar, dan kakak perempuanku yang mendukung supaya aku  mengembangkan bakat itu (kayak ada aja bakatnya, hehe), teman kampusku juga mendukung. Mereka menawarkan diri menjadi editor. Alasan mereka berpendapat begitu karena katanya mereka membaca status di socmed-ku. Aku hanya menjawab dengan apa adanya ‘’Haduu.. aku tak punya bakat, tak punya latar belakang sastra, tak suka membaca, bagaimana bisa menulis…hehe.’’ Mereka terus saja mendukungku. Aku sangat bersyukur  dikelilingi orang – orang seperti mereka.

Lebih dari itu aku masih memiliki banyak tugas. Salah satunya menjadi mahasiswi seutuhnya. Sampai saat ini belum bisa. Bagiku, mahasiswi utuh itu yang bagus ketaqwaannya, kebaktiannya pada kedua orang tua, kasih sayangnya pada saudara, selalu penasaran menggali ilmu, dan bisa mengamalkannya. Dan yang paling penting adalah ikhlas mengerjakannya karena Allah swt. Aduhai indah tak terperikan seorang mahasiswi yang utuh itu! Secuilpun rasanya aku belum termasuk. Namun aku akan terus berusaha untuk itu.

Shobat, aku hanyalah sosok manusia yang gugup menatap masa depan. Masa depan di dunia apalagi di akhirat. Tapi aku tak boleh mendahului takdir, karena hasil tak ‘kan menghianati proses! Bismillah..





Bangkalan, 19 Januari 2015               

‘’Don’t find love, let love find you. That’s why it’s called falling in love, because you don’t force yourself to fall. You just fall…’’

~Anonymous~
****
        Cinta itu apa sih! Di umurku yang setahun lagi insyaallah sudah kepala dua ini aku masih belum mengerti apa itu cinta. Cinta? Cinta itu fitrah. Perasaan suci yang di anugerahkan sang Illahi di setiap kalbu manusia. Cinta merupakan ibarat kecondonganhati terhadap sesuatu yang amat terasa keindahannya.Kalau condongnya hati terlalu kuat, artinya sudah sampai pada tingkat rindu, rasa itu mampu membawa seseorang menjadi budak bagi yang dicintai, bahkan membelanjakan semuanya demi yang dicintai. (Mukasyafatul Qulub -  Imam Al-Ghozali)

        Lalu cinta apa yang aku bingungkan? Cinta pada Allah maksudnya? Bukan! Kalau cinta pada Allah aku sedikit tahu. Intinya, dengan mengerjakan perihntah-Nya dan menjahui larangan-Nya dengan hati yang ikhlas karena-Nya. Maka itu yang disebut mencintai Allah. Namun, cinta yang ku tanyakan disini adalah bagaimana rasa cinta yang sebenarnya pada sesosok manusia atau lawan jenis. Seperti apakah cinta yang tulus dan sejati?

      Tentunya rasa cinta tidak akan timbul jika seseorang tidak terlebih dahulu jatuh cinta. Pertanyaan lain mncul, jatuh cinta seperti apa yang murni dari hati nurani?

         Demi Allah, Tuhan yang nafasku berada dalam genggaman-Nya. Aku benar – benar merasa kebingungan dengan pertanyaan yang ku buat sendiri dalam pikiranku. Jangan tanya kenapa pertanyaan – pertanyaan itu muncul. Karena aku sendiri tak dapat menjelaskannya.


         Kini kita bahas mengenai jatuh cinta terlebih dahulu. Bagaimana bisa disebut jatuh cinta yang sebenarnya dan bukan sekedar aplikasi murahan dari hawa nafsu. Apa jatuh cinta itu seperti yang sering teman – teman ceritakan padaku. Bermula saat mereka bertemu, saling memandang, kemudian tersenyum, saling bertukar nomor handphone, dan lama kelamaan temanku itu JATUH CINTA. Begitu pula sang pria pada temanku. Merekapun saling mencintai katanya. Atau cerita temanku yang lain yang hampir sama. Awalnya ia mengagumi seseorang karena ketampanannya, bersikeras mendapat nomor handphone-nya, kemudian saling berkomunikasi, dan akhirnya saling mencintai. Atau cerita – cerita lainnya yang jujur, masih belum dapat menjawab pertanyaanku.


         Dari cerita itu dapat ku simpulkan bahwa bagi mereka jatuh cinta itu dari mata yang memandang, kemudian hati yang merasakan. Seperti ungkapan yang berbunyi: cinta itu dari mata turun ke hati. Dengan kata lain mereka mencintai karena melihat FISIK terlebih dahulu. Ya, salah satunya bisa dibilang seperti itu. Menurut anggapanku---orang yang lemah ilmu pengetahuannya ini---jatuh cinta karena melihat fisik terlebih dahulu itu tidak murni dari hati nurani.

         Dulu aku pernah membaca status teman socmed-ku yang isinya begini: nafsu mengatakan perempuan cantik atas dasar rupanya, akal mengatakan perempuan itu cantik atas dasar ilmu atau kepintarannya, dan hati mengatakan perempuan itu cantik atas dasar akhlaknya. Status yang ditulis tanpa sumber itu membuatku merenung dan menyimpulkan satu hal. Yakni, bahwa cinta yang datangnya tulus dan murni dari hati itu karena kita melihat akhlak atau ketaqwaan seseorang. Ya, mungkin itu salah satunya pikirku. Lalu yang lain? Tak lain karena cinta yang Allah berikan dengan cara – cara-Nya sendiri. cara – cara yang tak pernah kita ketahui yang kemudian membuat rasa cinta tumbuh dalam hati manusia.

         Lalu harus bagaimanakah seorang hamba yang baik membawa cintanya? Mungkin bila ia sudah siap dalam segala sisi, si pria akan mengkhitbah dan mereka akan segera menikah, membangun mahligai rumah tangga sesuai syariat-Nya. Namun bagaimana jika terjadi pada anak remaja yang belum siap dalam segala sisi untuk ber-ta’aruf apalagi menikah. Bagaimana mereka meluapkan rasa cinta masing – masing? Apa dengan berpacaran yang memang sudah lumrah terjadi!!! Toh, pacaran ada juga yang membolehkan bila dengan cara yang islami. Islami seperti apa yang anda maksud? Jika jelas – jelas termaktud dalam kitabNya bahwa memandang saja tak boleh. Apalagi berdua – duaan dan bersentuhan. Naudzubillahi min dzalik…

         Baik, jika kita berpacaran islami dengan cara tidak pernah memandang, berdua – duaan, apalagi bersentuhan. Kita hanya berkomunikasi lewat handphone untuk saling memberitahukan kabar atau saling menceritakan kerinduan. Lalu bagaimana dengan apa yang dimaksud dengan zina hati? Kebetulan aku pernah membaca sedikit tentang hal itu baru – baru ini. Ah, rupanya aku benar – benar penasaran dengan konsep cinta hingga terlampau sejauh ini. Hehe..

         Merealisasikan cinta dengan berpacaran agaknya memang bukan jalan yang benar shobat. Shobat bisa membacanya di Al-Qur’an tentang larangan mendekati zina. Zina sangat menyeramkan hingga mendekati saja tak boleh. Berpacaran adalah salah satu jalan untuk mendekati zina. Itu menurut sedikit pemahamanku. Namun jika shobat ingin berpacaran secara islami, dapat mengatasi meski sekedar zina hati, dengan cara yang sedikitpun tak menentang ajaran illahi. Monggo… aku tidak mempunyai wewenang untuk melarang. Bahkan aku akan bertanya bagaimana caranya. Maklum, pengetahuan agamaku masih begitu dangkal.

         Merealisasikan cinta dengan berpacaran. Pacaran yang lazimnya kita ketahui saat ini. Saling bertemu, berpegangan, dan lain sebagainya jelas – jelas sudah dilarang. Mereka bilang itulah cara mereka mengungkapkan rasa cinta yang tulus dari hati. Suci dan murni. Allah melarangnya, dan Allah mengetahui apa yang terbaik untuk hamba – hamba-Nya. Ada rangkaian kalimat dalam salah satu novel karya Taufiqqurrahman al azizy yang agaknya berhubungan dengan anggapan bahwa dengan berpegangan, dan sebagainya mereka telah meluapkan cinta suci mereka. Dalam novel ini di jelaskan bahwasannya cinta yang suci adalah cinta yang tidak merusak kesucian dari cinta itu sendiri dengan melakukan hal – hal yang dilarang-Nya. Mereka yang mencintai dengan tulus dan sejati justru akan menjaga kesucian cinta mereka. Mereka yang yang mencintai dengan tulus dan sejati tidak akan mengajak yang di cinta melakukan kemaksiatan.

         Kembali ke pertanyaan awal. Bagaimana kita sebagai remaja harus membawa cinta yang sudah terlanjur tumbuh, yang menurut kita merupakan cinta yang tulus dari hati. Saya dipaksa membaca beberapa oretan untuk menjawab hal itu. Ada satu jawaban yang kembali membuant saya merenung. Yakni ‘’cinta dalam diam’’. Ya, saat kita mencintai hendaknya kita mencintainya dalam diam. Kita hanya mengutarakannya pada cinta sejati kita, Allah swt. Karena sekali lagi, Allah mengetahui apa yang terbaik untuk hamba – hamba-Nya. Aku jadi teringat kembali kalimat dalam novel karya Taufiqqurrahman al azizy “Diam adalah bahasa cinta yang paling dalam, paling halus, dan paling lembut’’.

         Jadi, dapat kita pahami sebagai remaja bahwasannya kita dapat membawa cinta yang sudah kita yakini tulus dan sejati adanya---karena Allah---dengan dua pilihan. Pertama, anda membuat komitmen (pacaran) dan doi dengan tidak menyalahi sedikitpun aturan Allah hingga membangun rumah tangga. Meski menurutku itu sangatlah tidak mudah. Sampai saat ini aku belum tahu pasangan yang bisa seperti itu. Yang aku tahu adalah tak ada pacaran dalam islam alias dilarang keras lantaran disebut sebagai gerbang menuju kemaksiatan. Wallahu a’lam. Manusia tempatnya khilaf dan dosa. Semoga Allah swt selalu menunjukkan jalan yang benar bagi kita semua, Aamiin~. 


         Kedua, mencinta dalam diam hingga Allah mempertemukan kalian dalam keadaan yang terbaik dimata kalian dan Allah. Jika memang cinta dalam diam kita tidak menjadi jodoh kita, berarti Allah akan memberikan jodoh yang lebih baik untuk kita. Insyaallah, orang baik akan mendapatkan jodoh yang baik pula. Mencintainya dalam diam karna Allah. Karena kita sama – sama mencintai Allah, cinta sejati kita, cinta yang paling suci, cinta diatas segalanya.


         Pasti ulasan di atas masih belum bisa menjawab pertanyaan shobat sekaligus yang juga merupakan pertanyaanku ya. Mohon maklum, itulah pemahamanku yang masih begitu sedikit. Kalau boleh jujur, kebingungan akan konsep cinta seorang manusia kepada manusia lain (lawan jenis) masih ada dalam pikiranku. Menandakan bahwa aku masih harus membaca banyak literatur yang akurat. Walaupun rasa malas seringkali kumat!


’’If you ask me about love, and what I know about it my answer would be. It’s everything about Allah. The pure love to our souls. The creator of you and me…’’

~ Maher Zain-Always be there ~
Made on 25th of April 2015






Bangkalan, 3 Januari 2015

         Siapa sangka di balik cara bicaranya yang ramai seperti kaleng rombeng (hehe*kidding), senyum manis yang selalu mengembang, semangat sekuat karang, tak pernah sedikitpun menggambarkan kesedihan. Ternyata di sorot matanya tersimpan sebuah beban yang begitu besar hingga tak tertangguhkan. Agaknya gelimang harta tak sedikitpun mengikis beban itu. Ia laksana tikus yang kelaparan dalam lumbung padi. Ibarat itik buruk rupa yang ditinggal pergi. Seperti satu – satunya bunga di hamparan taman yang tak terairi. Tidak adakah lagi tempat untuknya berkeluh kesah hingga kini, saat ini juga ia tumpahkan tampungan kepedihan itu di depan aku dan ibu. Air mata mengalir diiringi suara perih yang menyentuh kalbu. Tentu masalahnya bukan sekedar matematika. Tak tanggung – tanggung, aku umpamakan seperti buah simalakama. Ya, ia berada
dalam situasi yang rumit.


         Sungguh, melihat dan mendengarnya semakin membuatku mensyukuri hidup. Aku yang selalu mengeluh meski hanya pada diri sendiri saat mendapatkan masalah. Aku yang seringkali tak mensyukuri hidupku yang begitu indah. Selalu mengharap bunga mawar yang merah merekah. Dan lupa bahwa aku seperti ini karena rahmah. Tak menyadari bahwa rahmah Allah-lah yang menjadikan hidupku cerah!


         Berbeda dengan ibu yang dapat mengeluarkan sepatah dua patah kata untuk menguatkannya meski matanya berkaca – kaca, aku hanya tertunduk tak dapat berkata – kata. Semoga Allah memberikan jalan yang terbaik bagimu wahai muslimah. Sesungguhnya Dialah sebaik -  baik tempat mengadu. Tempat yang tepat untuk berkeluh kesah. Karena Allah akan selalu bersama hamba – hamba-Nya baik suka maupun duka.

         Shobat, seperti yang telah ku paparkan di atas bahwa Allah adalah sebaik – baik tempat mengadu. Saya sendiri pernah bahkan sering mendapatkan masalah dalam hidup. Tentu, setiap orang pasti pernah mempunyai masalah. Namun sebenarnya, semua itu tergantung bagaimana kita menyikapinya. Karena Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamban-Nya. Ya benar, hal itu sudah termaktub dalam lauhul mahfuz.

         Kadang kita beranggapan bahwa Allah memberikan cobaan di luar batas kemampuan kita. Tapi bagiku itu semua karena anggapan dan cara kita menyikapi cobaan atau masalah kita. Seringkali kita menyelesai masalah dengan menimbulkan masalah baru. Itulah yang membuat masalah seakan begitu berat kita hadapi. Padahal mungkin jika kita mau lebih bijak dan bersabar lagi, kita akan menemukan jalan yang terbaik bagi masalah kita.

         Saat kita telah meminta petunjuk pada Yang Maha Mengetahui, maka insyaallah kita akan mendapatkan cara yang terbaik untuk menghadapi masalah di hidup ini. Ingat bahwa tidak semua yang baik bagi manusia itu baik bagi Allah. Namun ketika itu sudah bagi di mata Allah, maka itulah yang terbaik bagi kita sebagai hambaNya.


Made on 23rd of April 2015

Sumber Gambar: http://iluvallah.tumblr.com/ 
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Innamal A'malu Binniyat
  • Soal Ide, Implementasi Pesan dan Kecelakaan
  • Buat Apa Sih?!
  • Kamu Yakin Ngga sih?
  • Door Duisternis Tot Licht
  • Obsesi?
  • Rindu Allah
  • Kapan Nikah?
  • Hobi Gue Dengerin Musik. What?!!!
  • Berkaca Diri

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates