Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Aku tersenyum masam, melihat diriku yang barangkali kerap menulis tentang bagaimana berkontribusi, fokus menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, dan atau merajut taqwa dalam setiap perjalanan yang berliku.

Manisnya, itu adalah sebuah doa, yang sungguh tidak bisa diremehkan keberadaanya. Namun pahit rasanya kala hati kerap menuntut adanya aksi. Agar tak terdengar seperti tong kosong yang cempreng berbunyi.

________

Saat aku mungkin sering hanya menuliskan apa-apa yang ingin aku semogakan, maka aku kemudian merasa amat beruntung belajar dari tulisan yang hidup. Yang telah separuh abad tertempa dengan begitu elok.

Memang, "tulisan yang hidup" itu sudah terbiasa meng-handle banyak pekerjaan. Beliau memulai aktivitas dengan bersiap menunaikan tahajud sebelum melakukan aktivitas lain sejak dini hari di usia yang begitu muda. Usai mendirikan sholat malam, ia langsung bergegas menyelesaikan rendaman cucian untuk satu keluarga yang bisa berember-ember besar jumlahnya.

Setelah itu, menpersiapkan sarapan untuk adik-adiknya adalah rutinitas yang tidak pernah ia lewatkan. Jangan bilang jika sosok yang rendah hati itu tak disibukkan dengan tugas sekolah, karena bahkan sering ia menjadi delegasi lomba yang harusnya menyita waktu sebagai masa persiapan.

Apa yang tertanam di pola pikirnya sejak kecil adalah bahwa hidup prihatin dan disiplin adalah ciri-ciri orang sukses di masa depan. Itulah yang membuat semua dilakukannya dengan senang hati. Selain itu, baginya belajar mengerjakan banyak hal sedari kecil akan menguntungkannya sendiri, bukan orang lain.
Mindset yang luar biasa saat mungkin kita kerap menganggap sebuah tempaan sebagai beban, bukan malah berpikir bahwa potensi merupakan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan.

Maka tak heran bila hingga berkuliah, wanita yang terbiasa mendapat juara kelas itu selalu ingin belajar hidup prihatin, disiplin dan berusaha mencari tambahan penghasilan. "Kost-kostan super jelek menjadi saksi bisunya menggurah ilmu", kenangnya saat bercerita sembari meneguk segelas infused water lemon yang masih berembun.
_________

Pengimplementasian yang juga sering aku semogakan lewat tulisan sudah terbiasa dilakukannya sejak masih berstatus sebagai pelajar. Seolah semua ilmu yang dimiliki, berapapun besarnya, tak boleh ia nikmati seorang diri. Sebab saat dibagi, jumlahnya malah tak terbatas dan kian rekat. Seperti mengajari anak-anak yang kurang mampu untuk mengaji, berhitung, menari bahkan belajar bahasa Inggris-pun menjadi makanan sehari-hari. Adalah hal yang menyenangkan mengumpulkan alat tulis tak terpakai untuk menyokong KBM yang dirintisnya seorang diri.

Kini beliau hanya bisa mengucap syukur. Karena sekarang semua ilmu itu benar-benar dibutuhkan. Bagaimana mengatur ini dan itu dan tak pernah menuhankan materi melainkan selalu dan selalu memprioritaskan berbagi. Barangkali---wallahua'lam--- ilmu, tahajud, doa ibu dan faktor lain yang tidak ada dalam model (hehe) itu yang membuat hidupnya berkecukupan. Tentu karena dibarengi dengan rasa syukur yang kian subur.

Maka sungguh, bukan materi yang membuatku iri. Namun sholat malam yang terpatri sejak dini. Rasa yang tak pernah bosan untuk berbakti. Juga jiwa sosial yang tinggi, namun tetap rendah hati menjadi resep yang cukup membuatku menelan ludah. Ah tulisan perihal orang-orang inspiratif selalu membuat hatiku ngilu. Apalagi tulisan yang hidup.

Terlebih saat membaca sirah Rasul yang sejak kecil sudah luar biasa keproduktifannya. Banyak dari kita yang familiar dengan kisah beliau menggembala kambing penduduk Mekkah. Lalu menginjak usia dua belas tahun, pengalaman berbisnis hingga ke luar negeri menambah ketajaman ilmu, pengalaman dan kemandirian sang uswatun hasanah. Tak hanya itu, kemahiraannya menangani urusan-urusan kemiliteran adalah buah dari tempaan semenjak belia. Pun kepiawaiannya dalam berdiplomasi.

Hmm, dengan berbagi kisah ini, pertama aku hanya ingin mengingatkan kembali diriku. Bahwa meski kita bukan keturunan Kiai, bukan anak seorang Ustadz---dan apapun alasan yang akhirnya membuat kita ingin berhenti---kita insya Allah selalu punya kesempatan yang sama untuk bisa menganyam taqwa dan menjadi sosok yang berbakti.

At the end of the day, tiap kita itu unik dan tidak mungkin memiliki garis kehidupan yang sepenuhnya persis dengan orang lain. Jadi barangkali, menjadi bijak jika tak melulu membandingkan jalan hidup kita dengan orang lain. Namun menjelma pribadi yang lebih baik dari diri kita yang sebelumnya mungkin bisa menjadi pilihan yang tepat. Alih-alih diminta untuk membandingkan diri, kita malah ditunjukkan jalan untuk meneladani dan menyerap saripati yang dibagikan secara cuma-cuma oleh orang-orang hebat.

~

Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad!

Akhir minggu kali itu, seperti biasa, masih aku habiskan dengan berada #dirumahsaja. Bedanya, minggu ini keponakanku, Nuh, pulang kampung, hehe. Yaps! Kampung atau desa dimana aku tinggal. Suasana kediaman begitu asri dan sarat kedamaian. Ada hamparan sawah di sepanjang jalan menuju rumah.
_________

Wajah langit yang ku pandang pagi itu terlihat megah dan memukau. Selalu. Besar sekali kuasa-Nya. Aneh rasanya bila masih saja mengerdilkan impian perlahan. Sungguh gila, rutuk nuraniku saat pandanganku mengamati langit lebih lama lagi. Luas. Indah. Tak bisa ditiru. Tanpa tiang. Terlukis begitu nyata.

Maka harusnya nyata pula cara kita memvisualisasikan mimpi itu. Benar-benar aneh kalau masih saja bingung dari mana mendapatkan semangat dan karakter pejuang tak kenal menyerah. Jika hamparan jawabannya selalu mengawasi tiap kita fokus pada kesia-siaan.

Tak seperti biasanya, mau tidak mau aku harus menemukan cara untuk keluar dari kungkungan kesiaan itu dengan menyibukkan diri. Dimulai dengan menyapu halaman dan beberapa bagian pekarangan rumah. Terdengar sepele, dan sepertinya memang sudah kewajiban. Walau hanya membutuhkan time management yang baik, tapi siapa yang menyangka, kadang itu bisa menjadi sangat berat saat ada prioritas lain yang menyesaki pikiran. Padahal sudah paham, jika justru hormon kebahagiaan akan meningkat seiring dengan pergerakan yang kita lakukan. Alias kegiatan yang berfaedah dan dilakukan dengan senang hati sama dengan menurunkan tingkat depresi.

Setelah itu, kembali pandanganku menyapu pekarangan yang sudah lumayan bersih usai disapu. Ditambah pemandangan hijau di sekeliling rumah membuat aku kembali merapalkan syukur dianugerahi kesempatan untuk tinggal di desa. Tempat yang jauh dari hiruk pikuk kemacetan. Tempat menghirup udara yang relatif jauh lebih bersih dengan sepuasnya. Tempat dengan ragam potensi yang menanti untuk dimanfaatkan.

Kalau dulu saat masih kecil, potret kehidupan kota yang seolah menawarkan banyak kenyamanan hidup sering memaksaku untuk berpikir dan ingin memilih: rasanya jauh lebih enak jika aku hidup di kota besar dengan segala fasilitasnya. Sekarang, aku malah sangat sangat sangat merasa kurang mengenali daerahku sendiri, banyak keindahan, misteri, atau apapun penamaannya yang belum tergali.

Walau kadang, katanya, hidup di desa sering membikin terlena dengan kenyamanan yang juga sulit dijelaskan. Sedang di kota, kita akan terus ditempa menjadi sosok yang memiliki daya saing tinggi. Meski dewasa ini sudah lain lagi faktanya. Banyak potret desa yang berhasil, tak jauh dari andil pemuda-pemudanya yang melek pengetahuan, teknologi dan berjiwa sosial tinggi. Mereka dituntut untuk terus berinovasi dan kreatif.

Lalu lihatlah, pagar alami yang terlihat hijau karena dedaunan yang rimbun itu mengelilingi rumah, menenangkan. Seolah menenangkanku yang mencoba berpikir, meski masih menikmati olahan ceker ayam ala Ibu. Ini makanan kesukaan Nuh. Sebagian bumbu dan rempah diambil dari tanaman di pekarangan rumah. Beginilah hidup di desa. Hobi bapak dan kakak sangat membantu kami menikmati rupa hasil bercocok tanaman secara percuma. Sebut saja pisang, rambutan, nangka, mangga, nanas, serai, buah naga, aneka rimpang dan masih banyak lagi. Terasa semakin betah berada di zona nyaman ini. Karena meskipun ada keterbatasan, hidup di desa juga penuh dengan kemudahan-kemudahan.

Jadi, bagiku, dimana pun tinggalnya, tidak ada pemuda yang lebih unggul. Karena toh sejatinya tiap mereka dihadapkan dengan tantangan yang sama: sejauh mana bisa berkontribusi dan memberikan performa terbaik. Namun tetap, semuanya butuh pengalaman, saling berbagi pengalaman yang berasal dari desa maupun kota. Ah, sungguh, aku (masih) hanya berteori. Masih hanya menjadi pemerhati bagi mereka yanhlg sudah bisa berbakti pada negeri.

_________

Kemudian aku dan Nuh bergegas menunaikan tugas selanjutnya: menggiling padi. Tak berbeda, masih dengan ibu-ibu yang sesekali membicarakan nama-nama, bahkan pemerintah dengan dana desanya. Namun ada yang berbeda. Nuh yang sedari tadi sibuk mengamati ruang penggilingan padi. Mendekati tiap sudut dengan hati-hati. Selayaknya orang yang tengah menganalisis sesuatu. Dia kemudian diam sejenak sampai akhirnya mengeluarkan suara: "Nte, itu buat apa?," menunjuk mesin besar tua yang penuh debu.

Aku pun menjelaskan yang aku bisa dan menceritakan sedikit life cycle dari padi sampai akhirnya sampai di tempat penggilingan ini. Lalu tentang beras yang kemudian jadi teman makan ceker kesukaannya. Hampir selalu, sejak dulu, Nuh selalu mendengarkan dengan penuh antusias. Rasa keingintahuannya begitu besar. Apalagi membawa-bawa makanan favoritnya.

Nuh terlihat senang bukan main tiap kali pulang untuk ber-weekend di desa. Sepertiku yang juga sangat bersyukur dan bahagia. Tak berhenti disitu, aku berdoa, agar tak hanya syukur, senang dan bahagia. Tapi juga bangga, bangga yang semoga mengundang energi-energi baik untuk bisa berbuat lebih. Di desa, kota, di negeri terkasih.

Hanya saja, Nuh sedari kecil sudah tumbuh perasaan cintanya pada desa. Tak sepertiku saat kecil, media---salah satunya---membuatku mungkin sempat menderita inferiority complex. Namun sekarang semoga aku sudah lebih mengerti. Bahwa memang kata Imam Syafi'i: "Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang". Tapi tetap pada akhirnya dimanapun kita bermuara (desa/kota/negeri orang sebagai diaspora) impiannya akan selalu sama, mengabdi untuk Indonesia.
~

Selamat Hari Sumpah Pemuda!

"Buat apa sih kamu nulis-nulis kayak gitu?!" Aku tertegun sejenak mendengar pertanyaan dari teman  saat masih MA itu. Sejenak = sepersekian detik = aku tidak habis pikir ternyata gerakku di media sosial diperhatikan juga walau besar kemungkinan tulisan itu hanya lewat di berandanya = aku hendak bilang bahwa: ini hanya rutinitasku yang fun---sebelum tidur, tapi karena dewasa itu manusia pada umumnya materialistik, maka aku jawab saja singkat: "Menulis di blog bisa dapat uang, loh! Hehe." Temanku itu nampak ogah menimpali. Aku membalas cuek tak mau kalah.

Masa bergulir. Ternyata jawaban tak niat itu jadi kenyataan. Padahal tidak ditekuni secara serius dengan ruang tulis menulis yang sebenarnya amat luas. Pun meski belum sebagus kata-kata yang dirangkai penulis-penulis ternama. Tapi Allah selalu menuntun orang-orang yang selalu berusaha memiliki niat yang tulus. Meski belum tajir melintir seperti berbilang penulis fenomenal, setidaknya, belajar dari penulis sejati lain--bahwa sering malah tak ada rupiah sepeser pun untuk karya mereka. Selain passion, ada kebahagian tersendiri saat mampu mengekspresikan rasa lewat aksara.

Jadilah aku sedikit demi sedikit juga belajar mengesampingkan semua pikiran yang buruk. Pun daripada ruwet memikirkan usaha yang nihil, ada baiknya sembari secuil demi secuil mengasah lewat menulis catatan. Catatan remeh, pemahaman masih seadanya, dan dari keamburadulannya barangkali membuat satu oraaaaang saja bisa memetik insight baru.

______

Kejadian bertahun-tahun itu terulang lagi. Kali ini malah "diriku" yang bilang. "Buat apa sih kamu nulis-nulis kayak gitu?" Lihat! Amalmu masih tipis! Miris! Kekuranganmu bukan main jumlahnya. Belum lagi, kala diberi sejumput pujian, kamu agaknya mau terbang. Padahal cuma dari satu-dua orang. Tidakkah kamu malu? Kalau saja mereka tau aib yang Allah tutup itu, pastilah kamu mengemban malu yang bertambah-tambah.

Aku menjawabnya dengan berhenti, mencoret kegiatan itu dari list to do harian. Lagi pula aku merasa tak pernah mengasah keahlian. Gaya tulisan pun masih itu-itu saja. Belum lihai membikin alur yang berbeda. Dalam dunia tulis semacam ini, bahkan aku belum mampu berani bergerak mengeluarkan novel atau buku. Padahal banyak event yang memfasilitasi untuk itu. Toh "diriku" itu benar juga, banyak hal dalam hidupku yang masih tak keruan.

Tapi "diriku yang lain" (WKWK, ampun deh. Caraku menulis dari awal sudah bikin pening, ya. Hehe. Makanya doain, semoga diberi semangat latihan. Semua pasti bisa kalo belajar dan Allah berkehendak. HEHE) malah kian mengompori untuk mencatat apa yang nampak dari hari ke hari. Karena aku bisa membacanya lagi sebagai pengingat, katanya mengingatkan. Terlebih, selalu dan selalu, doa-doa dilantukan agar bisa melampaui apa yang dicatat. Bukankah tak ada salahnya berharap pada Yang Maha Hebat. Allah!

________

Malam itu, di blog, aku mencoba membaca kembali beberapa postingan lampau, yang memang jumlahnya masih beberapa. Kemudian beberapa kali merasa tertampar, iya, tersadar oleh catatan sendiri. Beberapa hikmah kembali menyusup. Bagaimana bisa?

Ternyata ada benarnya kata Cak Nun, bahwa sebenarnya yang mengendalikan kita adalah Allah SWT. Bila tengah berucap kebenaran Allah-lah yang sedang menolong. Maka rasanya amat tidak pantas untuk berbangga diri karena apapun kemampuannya pada akhirnya bukan terlahir murni dari diri kita.

Seperti saat ada yang mampu berbicara cas cis cus memesona dengan tatanan kalimat yang nyaris paripurna. Ada yang mampu menulis buku-buku tebal nan bermakna. Ada yang memiliki kemampuan hafalan dengan teknik dan cara penjabaran yang tak terduga. Ada yang visioner menciptakan benda-benda canggih yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Pantas saja, rasanya bisa amat sulit sekali menulis catatan. Karena selain sedang berlumur noda, memang Allah belum menggerakkan, meski kita terus berusaha mengusahakan. Laa hawlaa wa la quwata illaa billah.

Sekarang aku kian mengerti mengapa selalu ada kalimat: kalau benar semua dari Allah, sedang jika salah, semua memang kekhilafan kita sebagai manusia. Ungkapan yang ternyata amat dalam maknanya.

Namun aku yakin, sebagai manusia yang sejati, se-amburadul apapun itu, se-materialistik apapun, se-alpa apaun, dengan kerap memohon ampun, insya Allah pasti akan selalu ada ketukan yang menyelinap untuk bisa ikut andil dalam kebermanfaatan. Tak peduli apapun bentuknya.Tak peduli berapapun jumlahnya.

_______
#please #bismillah #semoga #nggacumabelajarnulis #ncbn #menuliskarenaAllah #insyaAllah ❤

Siapa yang tidak berlinang air mata? Atau memang aku saja yang terlampau melankolis. Menganggap adegan real seperti ini jauh berbeda dengan FTV dan bumbu-bumbunya. Lebih menggugah, tentu saja.

______

Di pagi hari, sang istri bercerita, beliau masih menjalankan aktivitas seperti biasa, banyak yang bisa dilakukan. Bahkan pekerjaan yang cukup keras di usia sepuhnya. Dan memang sering aku menjumpai orang-orang semacam itu. Adalah hal lumrah, berlomba-lomba dalam ibadah.

Namun bukan itu cuplikan yang ku maksud. Melainkan malam ini, wanita yang menemani sepanjang umurnya itu mulai memapah suaminya menuju sebuah becak dibantu Ibuku dan Pak Tukang Becak. Seolah tak ada lagi tulang yang bisa membuatnya berdiri tegak. Aku menolong memegang becak agar tak berjalan kemana-mana. Kesetiaan dan kepingan haru memenuhi becak itu. Yang sekarang mulai menjauh, menuju klinik terdekat di desa.

______

Sebenarnya, bukan tidak ada yang bisa dimintai tolong lagi, hingga tak ada orang lain. Hanya saja, beliau tak mau banyak orang tahu. Jadilah saat aku dan Ibu datang, kita sedikit membantu agar paling tidak mereka lebih merasa berbesar hati atas ujian yang menimpa hari ini. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini.

Memang penting untuk mengingat kematian. Pun tak kalah perlu untuk memohon kesembuhan. Kemungkinan itu selalu ada, bahkan terbuka lebar. Sebab tak bisa kita lupa, Allah Maha Berkendak, dan Maha Besar. Seperti mengubah apapun dalam sekejap. Yang awalnya sehat jadi sakit, taat jadi ingkar,  berharta jadi papa, sedang baik-baik saja malah diuji seketika. Hidup betul-betul dipenuhi rahasia.

Karena walau mungkin tak seberapa dengan kisah itu, aku juga pernah di posisi yang sama. Menjalani aktivitas seperti biasa di pagi hari, tas yang penuh dengan tugas tidak juga menjadi alasan untuk berhentinya episode kecelakaan yang mengubah hidupku dalam sekejap. Meski aku menganggap itu adalah kecelakaan yang konyol, tapi aku sangat mengimani bahwa tak ada sepercikpun yang terlewat, alirannya sudah digariskan.

______

Setelahnya aku harus mengerjakan apa-apa dengan satu tangan. Karena sebelahnya lagi mengalami patah tulang. Aku ingat sekali, di pagi pertama waktu pandanganku menyapu sebelah tangan itu, aku benar-benar cukup sulit untuk percaya, seperti mimpi. Lalu aku mulai berpikir telah menyusahkan banyak orang, seperti untuk mengambil makanan, dan lain-lain. Sedih sekali rasanya, aku juga tidak bisa membantu pekerjaan rumah saat itu. Merasa tak berguna, meski tetap berusaha melakukan semuanya sendiri, terkecuali mengikat rambut.

Tapi, kalau mau dipikir ulang, sungguh Allah SWT memahamj yang terbaik. Allah paham bagaimana memberi pelajaran. Betul. Banyak sekali dosa yang menghiasi hari, namun satu yang sangat ku ingat hingga kini. Jawaban yang sedihnya baru aku dapat berbulan-bulan kemudian. Bisa jadi itu adalah peringatan untuknya.

______

Jadi, pagi hari sebelum berangkat kuliah, aku sempat mendumal sebal---meski barangkali tak ada manusia yang mendengar saking kecil volumenya---begini, "Aduh, kenapa ngerjain semuanya mesti nunggu aku?" Padahal kenyataannya tidak begitu juga, aku tidak mengerjakan segalanya. Namun sebagai manusia biasa yang banyak khilafnya, terkadang rasa penat dan pikiran yang sedang absurd membuat kata-kata yang keluar dari mulut bisa sekenanya, seringkali menyakitkan, melampaui batas, lalu sialnya menjadi doa yang terdengar jernih hingga ke lapis langit paling akhir.

Membuatku kian terbangun. Menyadari jika ternyata tidak menyenangkan berbaring saja seperti itu. Sebab yang paling melegakan bagi seorang manusia adalah berkontribusi. Entah dalam ranah keluarga maupun di lingkup yang jauh besar. Dengan begitu, hembusan napas kita akan lebih berarti. Seperti kata nuraniku setahun silam: Bukankah lebih berat menjadi seorang pemalas daripada seorang yang rajin dan berani menghadapi rentetan hidup yang keras. Kalau kata orang hebat, di dunia memang untuk berlelah-lelah. Sedang menurut penelitian, banyak beraktivitas membuat hormon bahagia meningkat.

Maka kesal karena ragamnya kebiasaan tiap orang tidak akan berlarut-larut bahkan mungkin tak hadir lagi. Sebab mengerti bahwa dengan merapikan perabotan yang berantakan, membagi ilmu, mengayomi masayarakat dan lain lain di setiap aspek, justru membikin kehadiran kita akan jauh lebih bermakna.

Sedang kita kerap mudah jumawa meski ingat bahwa semua daya dan upaya hanyalah titipan dari-Nya.
_______

NB: Bukan berarti, siapapun yang tengah berjuang dengan sakit sampai hari ini juga sedang diperingati seperti yang aku alami. Siapalah aku yang berani-beraninya mengukur dan menghakimi. Karena sungguh, Allah SWT Maha Adil, semua bernilai ibadah jika hanya dilakukan untuk-Nya. Termasuk untuk senantiasa bersabar dalam setiap kondisi. Berat, semoga Allah selalu memperkuat.

"Hidupnya begitu sempurna," gumam kita usai mengamati postingan beberapa orang di beranda Instagram. Hanya karena apa-apa yang dibagikan disepersekian masa, kita genap menyimpulkan segalanya.

Padahal siapa yang bisa menjamin, di baliknya, seorang yang tampak paripurna itu sedang sembab matanya, usai tergugu meratapi nasib yang pilu.

Tak berhenti di situ, setelah puas berdamai dengan merelakan air matanya berhambur, ia kemudian menguatkan diri dengan memperbanyak syukur.

Meski pelik hari ini masih saja memenuhi pikirannya, ia bersikeras mengalihkan dengan mengeja kebahagian-kebahagian yang tak terukur nilainya. Seperti melihat anak-anak yang sholih dan sholiha, si kecil hari ini sudah hatam Iqro'nya. Juga suami yang senantiasa berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Adalah karunia tak terkata.

Persona lain juga terlihat sempurna hidupnya karena tak terhitung sudah berapa kali menjuarai ragam kompetisi. Tapi siapa yang tahu, kalau justru ia lahir dari keluarga broken home. Sekuat tenaga menutup kisah pahit dengan senyum tak berujung. Selalu merapal, bahwa ia masih amat beruntung.

Sedang disana terbaring selama bertahun-tahun di ruangan dingin, nyaman tapi mencekam. Seolah tak ada harapan lagi untuk melanjutkan hidup. Tapi itu kata orang, bukan katanya. Sebab dia terus saja optimis, memaknai tiap detiknya, walau tak nampak sedikitpun kemajuan.

Maka mungkin memang kita yang lupa untuk bertanya dan mengukur sejauh mana pribadi ini sudah melangkah. Jangan-jangan sudah hilang arah.

Tanya. Mungkin memang hati kita yang 'sudah' mati. Dan cuma hidup saat berkelimpahan materi.

Tanya. Mungkin ilmu justru lebih menjauhkan diri dari kearifan. Kian memberikan standar rumit baru pada bentuk-bentuk kebahagiaan.

Tak bahagia kalau belum capai pangkat tinggi. Belum sukses kalau belum punya mobil-mobil gres. Tidak sejahtera jika tanah berhektar-hektar belum atas namanya. Baru gembira setelah berjejer rapi berjibun piala. Merasa dianggap kala jumlah follower bikin gagap.

Tak salah, namun juga tak sepenuhnya benar. Sebab harusnya, kian dekat dengan esensi ilmu, makin memperjelas, bukan malah mengaburkan pandangan.

Kadang aku berpikir, hidup itu kan begitu sederhana. Maksudku perjuangannya memang tak sesederhana itu, tapi hidupnya adalah perkara yang simpel.

Tak perlu rumah megah, kerjaan mentereng dan lain lain. Karena bahkan menjadi seorang petani, dengan sepetak lahan/kebun dan rutinitas harian, namun membahagiakan karena selalu disertai hati yang lapang juga bentuk anugerah hidup yang 'sempurna' bagiku---sungguh, bagi banyak orang akan terdengar naif berkata demikian jika diartikannya adalah aku sedang say no untuk berjuang memperoleh kesejahteraan hidup, keluar dari kungkungan kebodohan dkk yang bonusnya seringkali berupa limpahan materi.

Tapi ternyata anggapanku ini tak sepenuhnya benar. Karena sudah sunnatullah. Setiap yang beriman pasti diuji. Entah sebagai pengingat, atau pendorong ke tempat yang lebih tinggi. Permasalahan akan selalu ada di setiap lini, pada ragam profesi, usia, kasta, gender, dan tingkat pendidikan. Ada yang diuji finansialnya, keluarganya, pekerjaannya, dan seterusnya.

Terbayang kalau hidup tanpa tantangan, pasti akan terasa garing dan tak ada ladang untuk beribadah. Lagipula hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tentram. Segala penat makin menjauhi pikiran. Pun kala mengingat-Nya lewat ragam ciptaan, seperti langit yang megah, senja yang indah, tanaman yang tumbuh dengan subur dan bunga-bunga yang merekah. Apalagi dengan rasa syukur yang membikin nikmat bertambah-tambah.

Di usia menjelang seperempat abad, atau jauh lebih dini daripada itu kita mungkin akan terbiasa mendapati introgasi sejenis: "Kapan nikah?", "Kamu kapan?", Kapan nyusul?", dan tambahkan sendiri. Ragam kalimat seperti itu umumnya bertandan ke telinga kala sedang menghadiri kondangan, atau sialnya balasan usai memposting foto akad teman, bahkan saat tak ada api ataupun hujan. Apalagi bagi mereka yang bernapas di desa, lontaran demikian bisa amat menyesaki pikiran, penyimpanan yang mubazir. Baiknya langsung tekan shift+delete saja. Permanently. Sayangnya, tidak bisa mengelak mayoritas Indonesian society juga lekat dengan budaya semacam itu.

Tak banyak yang terbiasa dengan itu. Berjejal yang kemudian 'baper' dan sakit hati. Sementara pribadi yang mengusutkan perbincangan, santai saja seperti tengah meneguk susu hangat yang dihidangkan. Sedang aku termasuk orang yang awalnya selalu menganggap itu pertanyaan biasa, basa-basi, sekenanya, atau kalau mau lebih mendalam mungkin doa. Karena itulah jawaban yang kerap aku lemparkan beberapa tahun terakhir adalah "Doakan saja". Berbeda dengan pada saat masih usia 20 ke bawah, eh ke awal, aku selalu lancar menjawab---Ah, masih lama. Jawaban serius, meski terdengar sekenanya.

Tiga tahun kemudian, seorang dosen berbagi kisah, yang kalau disarikan isinya adalah kiat-kiat memilih pasangan dan ilmu-ilmu parenting. Aku kemudian berceloteh, "Benar juga ya, Bu," ucapku merasa tercerahkan. Beliau menimpali, "Ibu tahu, kamu bahkan tak pernah memikirkan hal semacam itu, kan." Aku tersenyum, sedikit nyengir sebelah, agak pahit, tanda mengiyakan. Dosenku tertawa. Dibanding dengan yang lain, cuma bertanya, beliau malah langsung menyusupi ilmu-ilmunya. Betapa paham betul beliau, memikirkan saja hampir tak pernah, apalagi sampai menuliskan target untuk itu. Hehe, daripada memikirkan kapan menikah, aku lebih suka belajar bagaimana membesarkan anak nanti, itupun sebenarnya jika diamanahkan. Aneh memang.

Namun aku bersyukur, hampir selalu merasa biasa dengan perbincangan pasaran dari society itu merupakan buah karena tidak menjadikan menikah sebagai such a main purpose in life. Seolah cinta dari seseorang atau pasangan hidup adalah segalanya. Iya, penting, tapi bukan akhir tujuan hidup juga. Case tiap orang tidak sama. Ada yang ingin terlebih dulu meraih taqwa dengan fokus berprestasi. Ada yang dengan memperbanyak bakti. Ada pula yang menyibukkan diri dulu dengan berkontrbusi pada negeri. We know, it's all about our choice and His will.

_______

Aku tadi menulis "hampir" bukan "selalu" lagi. Karena ternyata ucapan semacam itu bikin muntab dan menyakitkan juga jika keluar dari lisan orang-orang tertentu. Seperti orang dekat, orang yang mungkin sering berselisih paham dengan kita---padahal bagiku, bukan berdebat, atau mendebat, hanya saling memberi ruang untuk bertukar pendapat. Jadi pada akhirnya everthing is OK. Don't take it personal---Tapi entah kenapa, nasihat mengenai pernikahan seolah menjadi serangan yang sangat menyakitkan. Kalimat, "sudah waktunya kamu menikah," menghujam begitu keras, seperti paksaan. Setelahnya, pemikiran-pemikiran yang dianggap modern keluar, berlarian menghampiriku satu-satu. Serupa anak-anak kecil yang meluapkan isi hatinya pada sang bunda. Yang satu berkata, "Memangnya menikah itu dilandasi paksaan!", Lainnya berebut angkat bicara, tak mau kalah: "Memangnya menikah hanya karena dikejar usia", si bontot mengadu: "Menikah bukan perlombaan, kan", "Alasan menikah tak sedangkal menghindarkan zina, dong", "dan seterusnya. Bergerombol, berteriak-teriak liar dalam batok kepala. Berdemo, ingin aspirasinya tersampaikan. Sementara sang empu hanya terdiam.

Pikirannya terseret ke potret dirinya dulu yang paling anti bercerita perihal nikah, masih sangat jauh pikirnya, sampai akhirnya diusia 20-an, beberapa referensi membawanya pada pemahaman: manusia tidak boleh mendikte Tuhan. Termasuk dengan menancapkan kalimat: Aku tidak mau menikah sebelum ini dan itu, meskipun tidak sepenuhnya salah. Menjadi salah jika kita merasa kitalah yang menentukan, tanpa pernah kembali pada satu titik, bahwa sudah ada yang menggariskan.

Jangan hanya karena kesombongan, nasihat menjelma menjadi nyinyiran. Jangan hanya karena merasa pemikiran yang katanya sudah modern, (padahal tidak juga, karena ide-ide semacam menikah bukan karena dipaksa dan lain-lain sebenarnya sudah termaktub sejak dulu. Islam yang sejati lebih dari pada itu dalam menunaikan hak-hak pemeluknya) membuat kita menutup diri dari masukan, hingga tak paham hakikat open minded yang digaungkan orang-orang.

Well, pada akhirnya siapalah aku yang berhak menyalahkan mereka yang memilih menikah muda untuk menghindari zina, ilmuku masih amat cetek, siapa yang menduga itu adalah bentuk ketaqwaan yang berat timbangannya, lagi pula alasan mereka tak hanya berkutat di situ, ada banyak ulasan luas lain! Aku tidak bilang aku tidak setuju bahwa lewat menikah justru kita berbakti dengan membahagiakan ortu. Aku tidak bilang jika dengan menikah kita berhenti mengukir prestasi dan menikah membatasi kita memperoleh impian-impian yang hakiki. Aku tidak bilang, aku bersih dari tidak pernah mengudarakan "Kamu kapan?" sebab seingatku pernah sesekali bahasan itu menguap juga sebagai guyonan, yang sepertinya harus dihentikan. Karena di banyak momen, sudah benar-benar tidak lucu lagi. Tapi tidak dengan doa, semoga selalu mengudara, untuk siapa saja. Pun aku tidak ingin bilang dengan menulis catatan ini aku akan menikah setelahnya. Ayolah, yang benar saja. But, wallahua'lam. *meskipun cuma "but" yang penting ada campuran bahasa Inggris-nya, biar modern, eh. ✌

Rasanya sudah setahun draft catatan ini bercokol tanpa pernah ditindak lanjuti. Berat sekali menggerakan jemari untuk menyentuh huruf virtual pada sekotak benda yang ditenteng kesana kemari. Sedang pikiran begitu penuh, ingin sekali berbagi. Namun perasaan itu seakan baru menetap kemarin. Haru melihat orang-orang sepuh yang masih berjuang untuk menyambung kehidupan, selalu. Berjualan dengan ragam barang yang ala kadarnya, untungnya pun tak seberapa.

Hmm, aku tak pernah sepeka ini. Maksudku seseorang bisa memilih ingin melihat satu topik dari sudut yang mana. Dan aku belum pernah mencoba melirik topik ini: pekerjaan. Sampai akhirnya aku belajar untuk melihat dari sudut pandang yang lain. Sama seperti saat berburu beasiswa dan merasakan (baru sedikit) rentetan perjuangannya, kala itu aku juga seolah merasakan bagaimana susahnya memperoleh penghidupan. Boleh jadi memang tak seberat mereka yang menjadi tumpuan keluarga. Tapi paling tidak aku bisa menuliskan beberapa hal yang baru kupelajari itu.

Begini. Menjelang kelulusan, seorang dosen bertanya padaku, "Kalo Lutfiyah, setelah lulus mau kerja atau punya perusahaan sendiri?", refleks aku menjawab, "Kerja dulu baru buka usaha sendiri, Bu." Namun kenyataannya belum pernah terpikir bagiku untuk melamar apalagi bekerja setelah kuliah. Maksudku di masa setelahnya aku masih ingin mengeksplor diri. Tapi aku juga tidak bilang, dengan bekerja artinya tidak bisa bertumbuh. Biar ku perjelas. Yang ku maksud, pekerjaan tetap, atau rutinitas yang 'terasa' bekerja (Eh, susah dijelaskan istilahnya). Mungkin karena selama ini yang ada di otakku hanyalah tentang sekolaaah saja. Entah ini menjadi kabar baik atau buruk, karena bagiku semua pilihan, pemikiran, dan lainnya memiliki argumen dan sisi-sisi yang berbeda.

Bukan. Ini bukan berarti karena aku tidak pernah berpikir untuk mandiri secara finansial sedari muda. Tentu penting jika bisa atau berusaha demikian. Karena aku pun berasal dari keluarga dengan perekonomian yang sederhana---pantang meminta pada orang tua selain kebutuhan sekolah, keadaan menjelma pengertian nyata, bahwa untuk mendapatkan sesuatu haruslah dengan usaha dan doa sendiri. Terlebih impian kita tak terbatas disitu. Siapa yang bisa mengelak jika ada macam kebermanfaatan terbuka setelahnya. Akan tetapi, dalam hal ini hanya soal rangkaian prinsip yang kadang membikin bingung sendiri.

Hingga pada akhirnya kebingungan itu membawaku kepada pusaran yang sama dengan apa yang telah lama diceritakan dan dipersiapkan orang-orang: melamar pekerjaan. Cerita tentang betapa kian peliknya persoalan yang satu ini. Cerita tentang pengangguran di sana sini. Cerita tentang potensi yang berhenti digali. Cerita-cerita demikian, kala itu membentang lebih terang.

Jadilah, lagi, aku merasakan (meski baru sedikit) betapa sulitnya mendapat pekerjaan, atau mungkin lebih tepatnya memperoleh pekerjaan yang tepat dan sesuai. Sebab kalau berkaca pada diri dengan banyaknya syarat, mungkin, mendapatkannya juga akan lebih perlu perjuangan. Betul, seperti; apakah seragam kerjanya cocok, apakah pekerjaan itu tidak membuat stuck melainkan berkembang, atau apakah bisa berkontribusi banyak, apakah, apakah, apakah, begitu saja terus. Hehe.

Saat "apakah" itu masih meloncat-loncat liar dalam batok kepala, di bagian kehidupan lain justru terus bergulir ragam perjuangan. Kakek yang entah sudah berkepala berapa itu terlihat sangat sepuh. Cara bicara beliau juga sepertinya sudah tidak sesempurna dulu. Tapi semangat juangnya lebih dari pemuda-pemudi yang menulis lembaran kehidupan mereka dengan berpetualang. Mendaki gunung bersama kawan sefrekuensi, berswafoto di spot langka, menjelajah. Bedanya kakek itu berulang kali menghitung lembaran rupiah yang ia dapat dalam setengah hari ini. Belum sampai dua lembar, tapi energinya masih berbinar. Rasa syukurnya tetap meletup-letup.

Kita ke potret kisah yang lain. Anak Adam yang terlihat kerepotan dengan bawaan yang banyak. Siapa sangka, ia masih berstatus sebagai mahasiswi namun terpaksa rehat sejenak dari perkuliahan. Dana menjadi salah satu yang menghambatnya. Aku ralat: menjadi salah satu tantangan dalam hidupnya, karena saban hari alasan itu tidak lantas menjadi penghambat untuk mengumpulkan rezeki lewat berjualan nasi bungkus, kue-kue dan makanan lezat lain bikinannya sendiri, aneka dagangan yang membuatnya terlihat repot tadi.

Pada kepingan mozaik lain, tampak pasangan muda tak kalah menularkan energi yang baik. Kita patut bersyukur karena memiliki akses dan pemahaman untuk memanfaatkan teknologi. Karena meski itu yang belum dimiliki, mereka tetap melakukan pekerjaannya dengan penuh harap dan hamdalah yang lebih penuh. Auranya memenuhi dagangan yang dijejer rapi, usai sebelumnya diamankan karena hujan mendera siang ini.

Walau tak seberapa, aku jadi teringat saat keterbatasan justru membuatku semakin giat belajar. Keringat yang membasahi tubuh setelah berjalan hingga ruang kelas, justru menjadi pemantik semangat untuk lebih fokus menyimak kuliah yang disampaikan dosen. Saat tak memiliki laptop, aku malah berinisiatif untuk menulis dulu konsep tugas akhir di kertas-kertas bekas sebelum akhirnya mengetiknya di ruang Warnet dengan kepulan asap rokok yang menyebalkan.

Keterbatasan harusnya juga mampu membuat kita berlama lama dalam berdoa. Lalu selipkan juga agar tak berhenti bersua dengan-Nya saat tak butuh, meski hakikatnya kita selalu membutuhkan Dia. Seperti yang juga aku rasakan. Saat tak ada lagi jalan kaki, sabar yang diuji kala menunggu angkutan yang tak pasti, melainkan motor yang tinggal dipacu, dan sederet hal lain yang agaknya menyeret kita ke zona nyaman.

Padahal berjibun orang 'sukses' yang lahir dari keterbatasan. Aku memaknai keterbatasan tidak melulu pada anggaran, walau maraknya begitu. Aku mengartikannya lebih luas. Sebab sering yang lahir dari keluarga berada (dari orang tua) tapi mau bekerja sangat keras dan mandiri. Hei, zona nyaman juga bisa jadi sebuah keterbatasan yang---jika tidak dikelola, melahirkan akses untuk bisa berbuat lebih---akan menghanyutkan.

Di tingkat yang lebih tinggi, persepsi keterbatasan berkenaan dengan terbatasnya amal kita untuk mendapat sisi terbaik. Pemahaman itu yang membuat kita terus berusaha memperbaiki diri. Salah satu yang bisa dilakukan ialah memaknai hidup lewat perjuangan seperti yang dilakukan orang-orang tadi, siapapun, atau bisa jadi sosok-sosok di sekitar kita.

Namun sering kita malah menimpali perjuangan orang-orang hebat itu dengan komentar-komentar tak perlu bahkan menjijikkan. Seperti, "Ya ampun, kok ngga gengsi, sih. Kan, anak orang kaya," atau "Sarjana tapi gitu-gitu aja tuh kerjaannya," "Kok mau, ya. Ngga gampang loh." dan ungkapan sejenis.

Sering pula aku berusaha mencerna kalimat-kalimat yang patutnya tak pernah diterima itu. Meski bukan pribadi yang dikomentari, aku, terjadi begitu saja, berpikir atas apa jawabannya. "Lah, kenapa harus gengsi, ya.Toh asal halal dan diniatkan untuk-Nya semua bernilai ibadah. Lagi pula pekerjaan ini-itu, label kaya-miskin itu, kan, cuma standarisasi buatan manusia. Bahwa yang kaya cenderung lebih terhormat dan perlu diberi tempat duduk khusus. Sedang yang melarat bahkan tak pernah diakui sebagai kerabat. Secara tidak sadar kita kerapkali terdoktrin bahwa orang yang bisa survive dan terpandang adalah mereka yang bekerja di kantor, berkemeja, bayaran terjamin. Padahal tiap orang sah-sahnya saja berusaha dalam bentuk apapun untuk bertahan hidup. Tak perlu ada paradigma yang menyudutkan. Justru butuh saling menguatkan. Sungguh, bukan kita yang menurunkan hujan dan menumbuhkan biji-bijian. Lantas kenapa seperti pihak yang mempertimbangkan nasib banyak orang" gumamku dalam hati.

Kabarnya, orang berkacamata identik dengan seseorang dianugerahi kepintaran yang lebih, yang salah satunya terformat melalui pendidikan. Sepotong bukti hening kalau sang empu mau berlama-lama dengan buku, menyelami ragam ilmu.

Kali ini asumsi mereka kurang tepat. Bapak bahkan tidak pernah mencicipi bangku formal. Benda bergagang itu hanya membantunya menyelesaikan misi: beribadah lewat mencari nafkah.

Tak sepenuhnya salah, karena meski tak pernah bersekolah beliau memang sosok yang pintar, cerdas nan tangguh. Seperti banyak orang, bapak memiliki banyak keahlian. Bagaimana tidak, tempaan kehidupan yang keras sejak kecil membuatnya terbentuk sedemikian tajam.

Sebenarnya bapak bisa dibilang datang dari keluarga yang cukup bila diusahakan untuk mengakses pendidikan, namun beliau harus menerima diskriminasi. Bahasa yang terlalu kasar, sebab bapakku tak beranggapan semacam itu. Ia menerima dengan lapang, sebagai secuil bakti dari panjangnya pengorbanan orang tuanya. Lagipula pemahaman perihal pentingnya "pendidikan" tidak melulu sama pada sisi tertentu, pada generasi yang berbeda.

Jadi tak masalah saat saudaranya yang lain belajar mengeja aksara, belajar menggerakan pena, bapak justru bercucuran keringat, kepanasan, kelelahan, sedari pagi menggerakkan cangkulnya dengan giat. Lelah yang terasa nikmat menjadi bentuk khidmat. Walau tak dusta jika dari pengakuannya beliau juga sempat berkeinginan seperti yang lain.
__ __ __

Berbeda dengan jalan hidup yang dilalui ibuku,  penanggung hidup yang bagiku tak terhitung kebaikannya itu memiliki orang tua yang lengkap hingga menikah dengan ibu dan dikaruniai keturunan.

Syukur alhamdulillah, bapak tidak membeda-bedakan anak-anaknya. Kami semua boleh bersekolah. Tak harus pergi ke sawah. Meski sekarang, aku ingin bilang, ternyata keduanya penting: sawah mengajarkan kehidupan dengan uraian yang amat luas. Sedang sekolah, kerapkali membuat pandangan kita jadi amat terbatas.

Mungkin hanya perasaanku saja. Waktu kecil pernah aku merasa terintimidasi saat momen-momen keluarga besar berkumpul. Kala itu, seperti yang sudah-sudah, obrolan mengarah pada pertanyaan rangking kelas yang diperoleh saudara-saudaraku. Bapak dan kerabatku menanyakan mereka satu-persatu. Tak pelak, aku merasa kaku di balik tiang sendirian karena tak ditanya. Tak berharap juga disebut nama sebab seperti biasa belum pernah diurutan tiga besar di kelas. Rasanya aku menjadi satu-satunya anak Bapak-Ibu yang bodoh dan melas.

Aku tahu, mereka tak berniat demikian. Aku saja yang kemudian selalu berpikir setelahnya jika peringkat kelas adalah instrumen paling valid dan reliabel untuk menilai kecerdasan dan kepintaran seseorang. Meski pemahaman kelam itu acapkali dicerahkan oleh ibu, ia tetap saja memenuhi sebuah folder yang membersamai file-file lain dalam otakku sampai aku duduk di bangku pertama MA. Ternyata aku yang salah mengerti. Padahal bapak selalu berusaha mengerti kami. Tak masalah mengenyam pendidikan tinggi-tinggi, selama akhlak senantiasa dipatri.

Bapak memang tak banyak bicara. Namun perhatian pada semua anaknya selalu sama, seakan mereka tak pernah beranjak dewasa. Perkara mengingatkan makan sesekali diluapkan, atau susah dimintai izin waktu aku pertama kali memutuskan berkendara ke jalan raya, meski ibu telah berabad lalu mengetuk palu. Sekali bicara bisa panjang, dan tak berlebihan kalau seolah ada yang tengah mengiris bawang tak kasat mata. Pantas sering ditunjuk menjadi penengah kala beberapa orang terlibat masalah, retorika dan pesan-pesan yang disampaikan sungguh menawan.

Tetap saja, bapak lebih memesona saat pandai sekali mengucap terima kasih kepada Tuhannya. Sekalipun terhadap hal yang beberapa orang anggap remeh temeh. Apalagi pada hadiah terbesar berupa kesehatan yang masih bisa dinikmati hingga sekarang.

Serupa dengan jodohnya, bapak hampir tidak pernah menyuruh anaknya ini-itu. Sebisa mungkin pekerjaan dilakukan sendiri. Betul, ada plus minus-nya. Hanya karena catatannya selalu harum, bukan berarti selama ini mereka tidak dilengkapi kekurangan, kan. Mustahil rasanya manusia terlepas dari itu.

Alur kehidupan yang sebenarnya tak pernah seideal tuntutan sinetron. Kacamata kitalah yang dituntut untuk melihat lebih dekat keelokannya, bukan semata-mata berfokus pada cela. Tak perlu kepintaran yang berlebih. Kita hanya butuh sepotong bukti berwujud hati yang senantiasa diasah, supaya syukur berkelanjutan lantaran diberkahi rupa-rupa anugerah. Lalu mengalirlah doa yang selalu sama, tak ingin hanya berkumpul di tempat yang fana. Melainkan bermuara pada ''tayangan" yang sifatnya abadi.

Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati, ucap Andrea Hirata. Hidup tanpa visi: mungkin salah satu alasan yang membuat banyak dari kita sukar mempertahankan nyala semangat hingga akhir. Memang, wajar jika sebagai manusia, kadang sinarnya meredup, tapi tentu jangan sampai mati. Sebab kita akan selalu mencoba mengingat-ingat kembali, apa yang dahulu kita tancapkan sebagai visi.

Ah, mudah bukan. Memang. Menulisnya memang terlampau mudah. Tak seperti pengamalannya. Susah bukan main, kalau sandaran semangatnya hanyalah diri kita yang rapuh bagai rempeyek. Maka yang terjadi, peka sedikit saja rasanya sudah ingin mewek. Hmm. Namun beda jika semangat itu disandarkan pada Yang Maha Kuat, Al - Qawiyy. Lalu terus menerus diminta dari Yang Maha Membangkitkan, Al - Baa'its.

___

Tetap di rumah jika tidak ada keperluan genting sebenarnya memang sudah menjadi makanan sehari-hari bahkan sebelum himbauan pemerintah sejak pandemi membersamai. Malas keluar akut mungkin salah satu alasannya. Padahal petualangan seringkali didapat dari perjalanan-perjalanan menakjubkan, tapi yang benar-benar penting, bukan kesia-siaan. Hehe. Maka saat kini himbauan itu berlaku, aku tidak sebegitu riweuh. Hanya saja, sekarang kondisinya sudah berbeda, ada kewajiban penting yang harus dijalani. Di luar yang satu itu, mendekam di rumah memang tidak perlu diperintah lagi.

Adapun kala itu Senin. Kaki rasanya berat sekali beranjak keluar kamar, apalagi rumah. Berat. Payah. Di usia sepuh ini masih kelimpungan mencari ikigai sendiri. Masih sibuk mempertanyakan. Masih ini dan itu. Padahal Allah selalu punya jawabannya. Jadi tanyakan saja pada-Nya, bukan pada rumput yang bergoyang apalagi pada search engine yang tak punya perasaan. Eh, kembali ke hari Senin. Aku akhirnya memang harus melewati masa itu. Kerikil kecil yang muncul karena mungkin hidupku yang terlalu 'nyaman'. Kecil tapi mampu menutup cela untuk meneropong visi yang dari dulu sudah berusaha dibangun satu demi satu, layaknya lego-lego kecil.

____

Motor yang kupacu melewati pasar---tetap saja ramai di masa seperti ini. Maklum, meski sudah dicap sebagai zona merah, masyarakat masih pergi mencari nafkah. Selain lembaga pendidikan yang mendaringkan KBM, dan membuat usaha-usaha di sekitarnya tutup---semua relatif tak berubah. Yang paling terlihat adalah hampir semua orang mengenakan masker dan tersedianya 'wastafel' cuci tangan di beberapa spot. Sesekali pandanganku menyapu bagian luar pasar yang terletak persis disamping jalan raya. Ku dapati orang-orang dengan ragam dagangan, penuh semangat, penuh harap, penuh perjuangan. Menjajakan dagangan, rela berpanas-panasan, bahkan meski nyawa yang menjadi ancaman. Aku mulai merasa kecil, melihat para pedagang kecil namun Allah mampukan memiliki semangat yang besar.

Beberapa menit kemudian motorku, eh motor Bapak ding, melesat menyisiri jalanan kota. Ada yang sibuk mencabuti rumput sebagai tugas mulia sekaligus ibadah untuk memperoleh suapan nasi. Ada yang sejak lama ku dapati berpeluh-peluh membawa gerobak sorong berisi kursi-kursi dari bambu. Ada yang melewati hidup yang lebih berat: sopir-sopir angkot dan tukang becak yang sepi penumpang. Penjual nasi bungkus, dan pedagang kecil lainnya yang menguap saking terlalu lama berdiam. Lebih berat artinya, insya Allah, disediakan pahala yang lebih berlipat.

Kalau melihat di media massa, banyak guru honorer yang beralih profesi dadakan menjadi penjahit, kuli bangunan, buruh tani dan lain-lain. Sungguh, tanpa merendahkan profesinya, aku hanya ingin kembali mengingatkan diriku, betapa mereka benar-benar berjuang, menerima apapun bentuk jalan yang mereka hadapi di depan.

Di masa yang berat ini, ada juga mereka yang diPHK sepihak, para ABK Indonesia yang tak punya pilihan dan mereka yang ditimpa musibah seperti kebakaran. Bahkan kalau mau lebih luas lagi di belahan negara lain hari-hari yang mereka lalui jauh lebih berat. Karena saban hari harus menghadapi krisis kemanusiaan, krisis pangan, konflik antar negara, dan gap sosial yang sebenarnya juga terdapat di negara kita.

Jadi merasa aneh jika harus menjadi budak oleh diri kita sendiri. Duh, semoga selalu dibimbing untuk memanfaatkan tiap waktu dan kesempatan dengan sebaik mungkin. Sebab kita semua punya visi yang sama, yang tak hanya berakhir bila kita hanya tinggal sebuah nama.

Kata Buya Hamka, "Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah." Tak heran jika beliau berpesan demikian, karena Allah SWT telah memampukannya untuk menelurkan beragam karya.

Satu pesan menarik dalam sebuah konten dakwah visual yang temanku bagikan beberapa hari yang lalu berjudul: Menu di Bulan Ramadhan. Adapun salah satunya: Talas. Yang merupakan akronim dari Tak Ada Kata Malas. Aku pun terbangun, benar-benar related dengan apa yang aku alami Senin itu.

Tak mau buang waktu. Aku juga ingin berusaha sepeti yang lain. Mengerjakan apapun dengan luapan semangat. Apalagi di bulan penuh nikmat dan pahala yang berlipat-lipat. Terlebih, orang tua sudah berbuat sangat banyak, rugi rasanya jika tidak bermanfaat. Paling tidak dimulai dari lingkungan terdekat.

Semangat, besok Senin lagi! Hihi.

Kucing-kucing itu mendekat. Aku masih saja keheranan. Mereka terlihat begitu akrab. Seperti hewan lain yang menjadi piaran di rumah-rumah. Tapi ini bukan rumah, ini tempat umum, dan mereka kini mampu membuatku berhenti sejenak untuk memperhatikan. Sekepal hikmah yang begitu saja menyusup, rasanya tak bisa dinegasikan begitu saja.

Ternyata, selain membekali diri untuk makan siang, seorang wanita parubaya yang ku kenal ramah itu juga membawa sekotak makanan kucing tiap pergi ke kantor. Selesai dari ruang kerjanya untuk pulang, beliau sudah siap dengan kucing-kucing yang berhamburan di luar. Lapar. Ia pun langsung memanggil mereka. Seperti memanggil anak-anak kecil untuk dihadiahi permen satu-satu.

Seringkali pemandangan yang tak sengaja kulihat ini tak menunggu jam pulang. Sebab saat mendengar kucing mengeong kelaparan, beliau langsung sigap dan mencari sumber suara. Seperti biasa, para kucing patuh, bahkan sangat antuasias. Lahap menyantap limpahan rezeki yang terhidang untuk mereka. Berperantara seorang yang peka dengan sekitarnya, dengan hal kecil yang seringkali luput dari perhatian.

___

"Yang bisa kita pegang adalah kebaikan kita sendiri."
"Melakukan kebaikan tidak perlu menunggu hal besar. Kita bahkan bisa melakukannya dari hal-hal kecil yang tidak dihiraukan oleh orang lain."

Begitu kira-kira ungkapan seorang wanita parubaya lain. Ternyata bukan omong kosong. Sebab sering aku dapati beliau dimampukan melakukan kebaikan yang juga kerap luput dari perhatian orang. Seperti meletakkan sabun secara cuma-cuma di beberapa kamar mandi. Me-laundry mukena-mukena hingga semua orang bisa melaksanakan ibadah dengan lebih nyaman dan mungkin lebih khusyuk. Merelakan beberapa koleksi tanaman pribadinya untuk memberikan kesejukan di ruang dan beberapa sudut kantor. Dan sebagainya. Dilakukan tanpa berharap imbalan atau pujian dari manusia. Kebahagiaan yang menenangkan sudah lebih dari cukup.

___

Kebaikan memang banyak sekali bentuknya. Tidak melulu berupa barang. Keramahan juga barangkali setara dengan senyum yang bernilai ibadah. Ramah kepada siapapun tanpa tebang pilih. Pak Satpam itu contohnya. Tak heran bila ini kemudian berbalas hal yang sama dari banyak orang. Walau kadang tak selalu begitu. Karena tanpa ujian, katanya hidup akan terasa datar.

___

Sekelumit kisah tentang kebaikan-kebaikan tadi acapkali membuat aku merenung. Lantas aku kemudian bertanya pada diri: Apa amal kebaikan yang sudah aku lakukan, yang mungkin luput dari penglihatan orang-orang karena anggapan 'remeh'? Atau bahkan apa amal kebaikan yang sudah aku lakukan secara sembunyi-sembunyi? Jangan-jangan semua sudah terpublikasikan. Lalu nilainya sudah tergerus dengan kemurnian jiwa yang kerap terombang ambing tak keruan. *Naudzubillah.

Betul. Aku kadang amat malu. Ingin memberikan dampak kebermanfaatan yang besar, tapi lupa akan kebaikan-kebaikan kecil yang bisa dicicil. Lupa bahwa banyak kebaikan yang bisa dimulai dari lingkungan sekitar. Lingkungan rumah, kampus, kantor, sekolah dan lain-lain.

Padahal benar juga yang beliau sampaikan. "Yang bisa kita pegang adalah kebaikan kita sendiri." Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai. Kita tentu tidak bisa mengandalkan kebaikan orang lain, melainkan fokus kepada sejauh mana kita telah berbuat baik.

Serupa hasil yang takkan menghianati proses, amal juga tidak akan menghianati tuannya. Ia menjelma sebuah akse, yang jadi sebab kita merasakan ridho dan surga-Nya. Maka di tengah pandemi. Semoga dimudahkan untuk menabur kebaikan, sembari belajar menata hati. Dengan harap kemuliaan, bisa menjadi pribadi yang lebih berarti dan manusiawi. Apalagi sedang berlangsung bulan suci, yang kehadirannya selalu dinanti-nanti.

Meski belum seberdaya mereka yang mampu menggerakan jutaan orang untuk bederma. Setidaknya kita bisa menghaturkan doa serta langkah-langkah kecil namun bermakna. Menggerakkan diri untuk membeli kebutuhan pangan di pedagang kecil, menghemat penggunaan energi, #dirumahaja bila tidak teramat perlu, dan lain sebagainya. Aku yakin teman-teman jauh lebih paham akan hal ini. Aku yang masih berusaha mengisi kealpaan. Sampai menyebutkan saja belum diberi cukup kemampuan. Mari saling mendoakan!

"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri." (QS. Al-Isra': 7)

Ingin sekali menulis catatan yang menggetarkan jiwa  tapi rasanya hatiku belakangan ini kian dikotori, jadi bagaimana pantas menjadi perantara untuk menggetarkan kalbu banyak orang. Ingin pula menulis catatan yang bercakrawala, tapi akhir-akhir ini aku jarang membaca. Akibatnya wawasanku masih sesempit pakaian kekecilan. Jadilah aku kini, meski biasanya juga demikian, menuliskan catatan harian yang bisa jadi tidak begitu penting. Namun, akhirnya ditulis juga, dengan harapan ada secuil kebaikan, dan semoga bisa menjadi penghapus bagian hati yang tidak glowing ini, kusam oleh amal buruk. Hmm, semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita.

_______

Sering dikira ingin jadi ini - itu lantaran kerap merapalkan doa untuk bisa memiliki kesempatan bersekolah lagi membuat senyum tak kuasa ditahan lagi. Padahal, kalau diuraikan kembali, dingat, dipikir, dan berdialog dengan diri sendiri sebenarnya tidak pernah menargetkan untuk memiliki 'posisi' atau jabatan apapun. Kadang memang acapkali terbawa oleh masa-masa kecil, dan perjalanan mengarungi hidup hingga kini---entah berkeinginan menjadi jurnalis, guru bahasa Inggris, menteri pertanian, agripreneur, fotografer, designer, traveler, chef atau apapun itu. Lantaran mungkin akan lebih mudah membantu banyak orang, dengan beragam cara di masing-masing peran.

Aneh mungkin, kian menua justru kian tidak mengerti ingin jadi apa. Seolah tak memiliki tujuan hidup. Mungkin lebih tepatnya tuntutan hidup. Namun sungguh, ini hanya opini pribadi. Sebab aku juga masih sangat mendukung perihal memiliki cita besar di masa depan. Karena katanya itu salah satu yang memacu diri kita untuk menjadi lebih baik lagi. Lagi pula, faktanya tidak mesti seperti yang kita lihat. Misalnya saja, kerap ku dengar orang-orang yang sebetulnya tidak mendamba apa-apa, katakanlah jabatan (di dunia) tapi malah diamanahi tanggung jawab yang besar. Serupa ada invisible hand.

Ya, ternyata memang nyata, tentu dan aku mengimani itu. Bahwa seberapa rinci rencana kita, pasti ada yang Maha Baik, yang mampu merevisi perencanaan kita menjadi yang terbaik. Maha Mengetahui perkara yang tidak kita ketahui akan ketetapan-ketetapan yang paling baik bagi kita. Dari cerita-cerita itu aku jadi makin belajar bahwa (lagi-lagi) tidak bisa kita mendikte hasil akhir, meski wajar merencanakan, mendoakan dan mengusahakan hidup seperti apa yang kita idamkan di masa mendatang.

Sampai sekarang pun, aku masih memiliki impian yang besar. Hanya saja definisi 'besar' tak sesempit dulu, tidak juga seperti pakaian tadi. Yang jelas, semoga selalu berpegang pada satu kata: bermanfaat. Lalu muaranya selalu satu: meraih ridlo-Nya. Ah, gampang sekali menuliskannya. Semoga menjadi doa untuk kita semua. Agar tidak melupa akan tujuan eksistensi kita di dunia. Karena hakikatnya, menjadi bermanfaat tak melulu dari hal besar. Kadang untuk memulai yang kecil saja sulitnya minta ampun. Maka aku salut dengan mereka yang tak banyak babibu tapi bergerak, baik secara diam-diam maupun terang-terangan.

Aku jadi belajar untuk tidak menyamaratakan: bahwa tiap orang yang memilih bersekolah hanyalah karena sekadar gelar dan gengsi. Supaya kemudian tidak kaget saat menemui seseorang yang berpendidikan dan memilih menjadi ibu rumah tangga sebab memiliki makna dan pemahaman tersendiri tentang pencapaian hidup. Bahkan jika mengerti, itulah karir terbaik seorang wanita di mata Allah.
Selain kaget, dewasa ini kisah seseorang yang memiliki 'gelar' dan memilih berwirausaha malah jadi viral di kalangan warga net. Seolah berpendidikan tinggi tak boleh menjadi seorang pengusaha. Eh, mungkin hanya anggapanku saja. Karena statement itu bisa juga membawa pesan baik lain.

________

Menimba ilmu, seperti aktivitas lainnya (bekerja, dan lain-lain) bisa menjadi ajang untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Memohon agar Allah pertemukan dengan orang-orang yang bertujuan sama. Memang tidak melulu melalui jalur formal untuk menggapainya. Namun siapa yang bisa menjamin kadar keimanan dan ketaqwaan seseorang. Pun bagaimana jalan untuk memperolehnya, bukan. Kita masih sama-sama berusaha. Meng-upgrade niat, agar paling tidak, bisa lebih baru dan lebih baik.

Selain itu, sebaiknya buanglah anggapan jika yang memilih untuk sembari meniti karir, hanyalah sebab mereka terlampau ambisius terhadap materi. Boleh jadi ada banyak hal sebagai prioritas, karena hidup bukan tentang diri sendiri. Kita seringkali tidak bisa menyimpulkan apa yang kita lihat. Siapa sangka kalau ternyata kita belum mendapat gambar yang utuh, lalu dengan mudahnya mendistraksi dan menyampaikan pemikiran sebelum melihat kebenaran. Belum lagi, jawaban dari barisan pertanyaan kita tidak bisa diketahui sekali waktu, atau bahkan menjadi misteri sampai kapanpun selayaknya takaran-takaran pahala. Maka (nasihat untuk diriku) jangalah mudah memberi gelar pada orang lain seolah kitalah Tuhan.

Bukan. Bukan sayang jika gerombolan pandemi #corona ----yang mungkin saja sedang menertawakan kita saat ini----dibuang. Tapi yang ku maksud adalah pelajaran yang terkandung di dalam setiap kejadian yang makhluk bumi alami akhir-akhir ini. Rasanya amat sayang kalau dibiarkan menguap begitu saja tanpa diabadikan lewat catatan. Belum lagi pesan itu disampaikan bukan oleh iklan layanan masyarakat. Karena meski itu yang ditunggu-tunggu lantaran muak dengan tontonan yang ada, ini adalah hal yang berbeda. Salah satu influencer di dunia nyata yang belum lama ini hadir di list sumber inspirasi harianku-lah yang menyampaikannya.

Aku tadi bilang: menertawakan. Lihat saja, beragam rencana yang sudah disusun sedemikian rupa kini harus diatur ulang dengan sistem yang tak lagi sama. Benda yang tidak terlihat oleh mata telanjang itu benar-benar mengajarkan kita, ungkap beliau, bahwa kita seringkali merasa menjadi seorang penentu masa depan, lanjutnya. Seolah kita sudah pasti tahu apa makanan yang besok bisa kita nikmati karena telah memenuhi isi kulkas saban hari.

Kita seperti begitu yakin akan mampu menatap hari esok. Menggenggam pencapaian demi pencapaian, mendapat beasiswa luar negeri, mencetak murid-murid mumpuni, memiliki segudang prestasi, memberi nafkah anak-istri, melambungkan pergerakan ekonomi, merasa menjadi sosok yang paling kuat di bumi. Sombong. Sungguh terlampau sombong tanpa pernah melibatkan Allah SWT di setiap lini.

Maka benar, ikhtiar memang sebuah keharusan, tapi hasil pada akhirnya selalu Allah-lah yang menentukan. Sama seperti saat ini, ikhtiar sangat perlu dilakukan demi jalan yang terbaik untuk semua. Semoga. Hanya saja yang sangat disayangkan adalah upaya-upaya kebaikan yang justru dinodai dengan oknum-oknum yang kian memperkeruh suana. Semoga lekas terbuka hatinya.

Saat jawaban seringkali menjadi misteri. Kita hendaknya tak saling tunjuk jari. Karena bisa jadi setiap kita juga berkontribusi di tengah 'kekalutan' ini. Dengan menyadari itu, kita kemudian tidak akan mudah menuduh malah rajin mengintropeksi diri. Mengistighfari kesombongan yang mungkin memang sudah sangat melampaui besarnya biji sawi, bahkan Fuji. Setelah itu, semoga menjadi kian peduli dan bersinergi. Bahwa kita tak hidup sendiri dan hidup bukan untuk diri sendiri.

Selagi lagi, itu semua bukan kataku (Memang ada penambahan tanpa mengubah maksud). Bukan juga oleh iklan layanan masyarakat di sekotak layar televisi. Itu ujar seorang influencer di dunia nyata yang nyata juga amalannya. Yang saat itu hanya mampu membuatku berkaca-kaca. Tanpa tahu harus berkontribusi apa selain doa, memperbaiki pola hidup dan #dirumahsaja jika memang tidak ada yang teramat penting. 
______

Ah, kalimat terakhir lalu membawaku pada cuplikan-cuplikan sulitnya menghadapi hidup yang dialami segenap manusia di berbagai daerah, kota, bahkan negara. Entah karena kemiskinan, konflik antar negara, diskriminasi, krisis kemanusian dan lain-lain. Betapa kadang aku hanya lebih banyak terdiam untuk mereka. Menikmati anugerah tidur nyenyak dan makan dengan lahap. Hmm, semoga kita bisa meringankan kesedihan dari lingkup yang paling dekat, seperti keluarga, dan seterusnya. 
______

Salam hangat untuk kawan-kawan semua. Semoga diberkahi kesehatan dengan produktivitas yang berkualitas selalu. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua yang telah berjasa di tengah situasi tak terduga. Semoga badai sangat cepat berlalu. Dan kita diberikan kemudahan untuk menyerap tiap hikmahnya.

#ncbn #nggacumabelajarnulis #pesan #lawancorona #dirumahaja #belajarnulis #writingiscaring

Bukan sepenuhnya karena usai mengalami dua kali kecelakaan sepeda motor, aku akhirnya enggan belajar naik sepeda motor. Padahal adikku sudah mahir mengendarai benda 'ajaib' pada masanya tersebut. Hingga akhirnya saat menjelang lulus dari MA, aku memberanikan diri untuk belajar sendiri. Bertahap, sampai pada hari ini alhamdulillah bisa menyebrang pulau sendiri. Perkara yang mudah, biasa dan bukan sebuah prestasi bagi banyak orang. Terkecuali bagi anak yang kala itu atau bahkan mungkin sampai sekarang, masih gelagapan memacu motor ala pembalap handal. Hehe.

Dari perjalanan kesana-kemari (Aih, seperti sudah berkelana kemana-mana saja), maksudku perjalanan 'formalitas' itu, aku akhirnya jadi belajar satu hal. Tentang mengarungi hidup yang mungkin bisa aku analogikan layaknya mengarungi perjalanan dengan motor (ini disesuaikan dengan kendaraan yang digunakan masing-masing pribadi) ini.

Betapa tidak, orang yang sampai duluan bukan perkara mereka yang start-nya lebih awal atau jarak tujuan yang relatif lebih dekat. Karena tiap orang punya tujuan dan kepentingan yang tidak senada. Ada yang lambat, karena harus membantu orang yang tengah mengalami kecelakaan. Ada yang mempercepat laju karena sudah banyak yang menunggu bantuan. Dan lain sebagainya. (Serupa hidup dengan maut, jodoh, dan lain-lain yang sudah digariskan dan tiba dengan timing dan cara yang beragam).

Di bagian lain, menyetir kendaraan mungkin agaknya seperti menyetir kehidupan. Meleng sedikit, kita bisa tertinggal, didahului, atau bahkan yang paling parah kecelakaaan.  Maka seringkali, fokus yang kita alokasikan tidaklah main-main. Apalagi fokus kita untuk menyiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal kelak, tak terbayang berapa lelah-lillah yang perlu dialokasikan.

Ada mereka yang menikmati perjalanan dengan begitu menghayati setiap masanya. Pelan-pelan berkendara sembari hati-hati memandangi sekitar. Entah melihat peluang lain, atau memang hanya sekadar memaknai dan menyelami setiap detik anugerah yang diberikan.

Hingga maut tiba, hidup di dunia akan terus berjalan. Bukankah baik dari segi keimanan, harta, ilmu, fisik, usia dan apapun itu akan terus dinamis. Tak selamanya kita berada di tempat yang sama. Selama itu pula semoga kita istiqomah untuk tidak bosan meminta.

Karena itulah kita mungkin pernah berada di kondisi amat senang, antusias, ketagihan mengaji berlama-lama dan benci sekali pada syair-syair duniawi, tapi juga pernah di posisi malas membaca kalam ilahi dan malah lihai memencet playlist musik yang hakikatnya tak pernah bisa mewarnai sunyi. Pernah dengan mudah menyerap ilmu karena hati senantiasa direfresh dengan amal kebaikan, tapi juga pernah dalam posisi otak seakan tumpul, susah menyerap pelajaran.

Itulah kenapa dilarang untuk merasa lebih suci dan dianjurkan untuk senantiasa berdoa agar selalu dipatrikan keimanan pada hati. Atau terus bermimpi besar, karena harta, ilmu dan kebaikan pada diri dan untuk orang lain mampu diusahakan. Pun jangan pernah berputus asa jika diri menjadi amat terhina karena dosa yang menggunung. Sepanjang kita berusaha meremidinya, sungguh, Allah Maha Pengampun.
______

BTW, apa hanya karena aku yang culun saja hingga merasa speed kendaraan mereka yang mengemudi di kota ini (Surabaya) bikin ngos-ngosan. Tapi mau tidak mau seringkali wajib diikuti. Sama seperti kehidupan yang kadang mau tidak mau juga demikian. Padahal ini sudah sekitar lebih dari sepuluh kali kesini. Relatif tak banyak. Jadi mungkin cukup normal kalau pada perjalanan kedua, hampir satu jam lebih aku berkutat di jalan dan tempat yang sama sebab handphone sedang lobat dan aku benar-benar seperti kehilangan petunjuk, meski berulang kali bertanya ke penduduk sekitar. Benar-benar sama seperti kehidupan, kita butuh pedoman sebagai petunjuk agar tidak kelimpungan menjalani hidup yang benar.

Berbicara tentang benar, sebagai orang tua, anak, suami, istri, kakak, adik paman, bibi, dan seterusnya kadang kita tidak menyadari bagaimana seharusnya 'menyetir' dengan benar. Bahwa hanya karena kita lebih tua dan sebaliknya, lebih berpengalaman, (merasa) lebih berilmu dan lebih-lebih lainnya kita kerap tidak mau mendengar mereka yang lebih kanak. Walau yang disampaikan adalah kebenaran dan meski sebenarnya mereka hanya perlu didengar, bukan karena merasa pintar.

Hanya karena gender dan posisi dalam keluarga, kita akan menganggap seharusnya mereka hanya diam dan menurut, tanpa harus ikut andil menentukan pilihannya sendiri. Seolah kerbau yang dicucuk hidungnya. Tak bisa berjalan ke tempat selain yang diminta sang empu.

Kita juga akan lebih mudah mendikte dan menasehati orang lain, tanpa pernah mengoreksi cara kita atau bahkan tindak tanduk kita sendiri. Saat mereka menyampaikan pendapat, kita malah menyangka sedang didebat. Tak berhak memberikan opsi. Sudah sepantasnya mereka bungkam dan tak pernah bersuara. Sepertinya kita yang paling sempurna, dan satu-satunya yang perlu didengarkan. Tidak hanya itu, perkataan kitalah yang paling benar dan patut dituruti. Sungguh, huruf-hurufnya tak perlu direvisi barang sebiji.

Itu cuma satu sampel di satu lini kehidupan, bahwa kadang kita tidak berada di jalan yang benar melainkan terus merasa benar. Yang bisa terjadi di kantor, sekolah, dimana-mana. Duhai Rabbi, ampuni kami, bimbing kami agar lebih bijak mengemudi. Supaya tidak beranggapan jika apa-apa yang kami kendarai adalah milik pribadi, padahal hakikatnya Engkau yang memiliki.

_______

Pada akhirnya, ada banyak orang yang tak patah arang. Semua dilalui sebagai tempaan untuk beribu balasan kebaikan yang menunggu di depan. Jangan merasa final menganalisis, barangkali banyak kebaikan yang disaksikan dalam kacamata buruk. Maka daripada terus meributkan perilaku orang lain, lebih baik memperbaiki diri untuk senantiasa menjaga nyala semangat menggapai impian. Karena dengan kemampuan (yang bahkan rapuh mendapati perlakuan menyakitkan dari manusia) agaknya impian hanya disematkan bersama kata mustahil. Namun dengan daya dan kekuatan dari Allah tidak akan ada yang muskil.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Door Duisternis Tot Licht
  • Innamal A'malu Binniyat
  • Soal Ide, Implementasi Pesan dan Kecelakaan
  • Buat Apa Sih?!
  • Kamu Yakin Ngga sih?
  • Obsesi?
  • Rindu Allah
  • Kapan Nikah?
  • Hobi Gue Dengerin Musik. What?!!!
  • Berkaca Diri

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates