Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Beberapa minggu lalu aku mendapat informasi mengenai beberapa beasiswa dari salah seorang sahabat. Beasiswa belajar bahasa Inggris di Pare, Kediri yang terkenal itu. Sudah lama aku ingin belajar disana, bahkan aku juga bermimpi belajar di negara asal bahasa asing itu. Namun aku tidak pernah membayangkan salah satu dari mimpi itu kemudian menjadi nyata. Karena aku tidak tahu bagaimana caranya. Namun aku tak berhenti bermimpi hanya karena bingung bagaimana caranya. Sebab cara Allah Swt. selalu tidak dapat diduga.

Hingga pada akhirnya aku mempersiapkan persyaratan. Saat hari H hendak mendaftar, ternyata ada kesalahan, info beasiswa di salah satu course tersebut belum diperbaharui. Admin menyatakan jika pihaknya belum membuka beasiswa untuk angkatan selanjutnya. Alhasil aku harus menerima kenyataan yang pahit itu. Sebab aku percaya, akan ada kesempatan lain. Sekali lagi, tak pernah kita duga sebelumnya.

Suatu hari sahabatku mengirimkan link mengenai informasi beasiswa di tempat kursus berbeda. Aku kemudian melihat persyaratan dan menelan ludah kala mengetahui kita diharuskan membuat video dengan durasi 1 menit. Dan aku adalah orang yang tidak terlalu suka diekspose dalam video. Percaya atau tidak, meski aku amat mensyukuri setiap apa yang Allah berikan, aku dulu masih sering berpikir bahwa orang-orang yang tampil dalam sebuah video adalah mereka yang good looking. Maka bagiku, biarlah mereka yang pegang andil. Hehe.
Tapi aku harus berusaha atas mimpiku. Itu sudah konsekuensi. Karena Allah Maha Adil untuk menakar usaha makhluknya. Maka aku menyanggupi syarat itu.

Dalam rutinitas siaran dan mengedit video di studio ATM Radio, aku menyempatkan diri sebentar untuk menulis oretan naskah yang akan aku sampaikan dalam video Challenge 1. Ya, masih ada tantangan selanjutnya. Sebelumnya, saat mencuci piring, menyapu lantai, sampai dalam perjalanan ke radio aku sudah menerka-nerka bagaimana isinya nanti. Aku bahkan memperagakan gerakan yang agaknya cukup heboh, kepribadianku yang lain. Namun nyatanya saat di video malah garing. Haha.
Aku kemudian meluangkan beberapa waktu membaca naskah dan mengulang-ulangnya agar paham dan hafal sembari menunggu editing video untuk radio yang sedang diproses untuk publish. Sedang khusus untuk syarat beasiswa, 41 video rekaman berdurasi 7 detik - 1 menit berhasil bersarang di galeri HP putih itu. Dan satu video pilihan akhirnya aku unggah sepulang dari studio. Bermodal tethering dari kemenakanku, video itu akhirnya terunggah juga. Aku menyelesaikan tantangan pertama. Lantas aku berdoa, sesungguhnya usahaku amatlah tidak seberapa, maka jika aku lolos nantinya, itu bukan karena aku bisa, tapi karena Allah Swt. yang menghendakinya.

_______

Pengumuman peserta yang lolos Challenge 1 tertera di akun resmi Mr. BOB. Yap! Aku mendaftar beasiswa yang dibuka Mr. BOB english course. Mataku kemudian mendapati namaku ada disana, di paling akhir rentetan 10 peserta yang lolos. Allah, alhamdulillah, seperti yang aku tanamkan dalam hati, jika memang lolos, itu semua karena kehendak-Nya. Aku tidak berpuas diri setelah itu. Sebab aku yakin tidak hanya aku, banyak orang akan melakukan hal yang sama: lebih giat lagi berdoa. Semoga jika ini memang jalanku, aku bisa lolos hingga tahap akhir. Eaaak, eh, aamiin dong ya.

Setelah dilakukan interview melalui WhatsApp, beberapa hari kemudian qadarullah aku lolos ke tahap wawancara langsung pada 23 Oktober 2018. Kami berlima akhirnya mempersiapkan diri untuk datang ke Mr. BOB Office guna menyelesaikan tahap terakhir.

Kami tidak diberitahu perihal jam interview, untuk itulah aku khawatir datang terlambat. Berbekal pengetahuan tentang jadwal bus dari Sumenep, aku berangkat jam 03:11 dini hari. Sekitar satu jam kemudian bus yang aku tunggu tidak juga lewat. Akhirnya aku memutuskan untuk naik mini bus hingga ke Tangkel, Burneh. Lagi, sekitar satu jam berlalu belum ada bus yang akan mengantarkanku ke terminal Purabaya. Aku mulai gelisah. Karena setelah mencoba mengalkulasi waktu secara sederhana, aku akan telat tiba di Pare. Pagi. Hanya kata itu yang menjadi patokan. Karena admin tidak membalas pesanku yang bertanya kepastian jam interview.

Ditengah kegelisahan aku bergumam, "Beneeeeeer! Ga ada yang bisa bantu aku. Kecuali Allah Swt. Ga ada yang bisa nolong. Kecuali atas izinnya. Bener. Tiap manusia sendiri. Mati pun sendiri. Meski makhluk sosial, Allahlah yang menggerakkan hati mereka untuk saling tolong menolong. Maka Rabb.. tolong hambamu, jika ini memang baik maka mudahkan. Jika tidak, hamba akan pulang"

Hehehe. Betapa mental tempenya aku. Belum berjuang sudah mau pulang. Beruntung ada keluarga dan Allah yang menguatkan untuk tidak menyerah. Hingga akhirnya sebuah mobil sedan berhenti di depanku. Sang pemilik (mungkin) menjadikan mobil pribadinya sebagai angkot. Aku sendiri belum melihat warna plat nomornya. Apakah Bapak ini bayar pajak atau tidak. Yang jelas, ia mematok tarif sedikit lebih mahal dari bus ekonomi.

Setelah menimbang dan melihat semua penumpang naik dari lokasi yang sama denganku (meski ini juga tidak bisa menjadi patokan aman tidaknya), dua penumpang wanita, dan beberapa pertimbangan yang lain----akhirnya aku memutuskan untuk naik mobil itu. Sembari merapalkan doa, aku teringat pesan Ibuku: "Jangan melihat orang hanya dari luar. Orang yang bersorban bisa jadi adalah tukang tipu. Berhati-hatilah."
Aku yakin, tiada yang lain selain pada Allah untuk menggantungkan segala harapan, salah satunya perlindungan.

Alhamdulillah tiba di terminal Parubaya. Aku lalu menaiki bus Patas yang bisa mengantarkanku ke Pare. Kondisinya masih sepi, jadi aku harus menunggu berpuluh menit sampai akhirnya bus itu berangkat juga. Bersyukur rasanya meski aku belum tahu apakah aku akan tiba tepat waktu. Ah, apa yang aku risaukan? Bukankah semuanya sudah digariskan?

Di dalam bus aku mengontak salah satu teman yang lolos lewat Instagran. Ray rupanya telah tiba kemarin. Ia juga mengungkapkan jika interview akan dilangsungkan pukul 10:00 WIB setelah bertanya langsung pada PJ. Karena sama sepertiku, saat bertanya jam lewat WhatsApp tidak dibalas. Hehe. Aku pun bernapas lega. Insya Allah aku tidak akan terlambat. Mungkin jam 9 sampai di lokasi.

Lanjut cerita, setelah untuk pertama kalinya aku menggunakan jasa Go-Jek aku sampai di kantor Mr. BOB pukul 09:52 WIB. Masya Allah. Beberapa menit kemudian interview berlangsung. Kami berlima dinyatakan lolos. Jika tidak, kami berempat sudah siap pulang kampung. Karena hanya Ghani yang akan tetap kursus tanpa beasiswa, katanya.

Ya, jadi kami berlima. Pertama Kak Icha asal Balik Papan, Kalimantan, dia sedang dalam proses pengerjaan Tesis pada salah satu kampus di Jogja. Kedua, Kak Santi yang berasal dari Sumatera Utara. Dia sarjana Ahli Gizi lulusan salah satu perguruan tinggi di Jogja dan sempat tinggal di Jakarta untuk bekerja. Yang ketiga Ray, anak Serang, Banten yang sedang mengambil cuti kuliah. Sedang Ghani dari Pandegelang, Banten yang masih dalam gap year usai lulus SMA. Lalu aku.
Hmm, mereka berempat, bagiku adalah pribadi yang menyenangkan.

_________

Keluar dari zona nyaman memang tidak enak pada awalnya. Tapi akan manis pada akhirnya. Tentu tidak gampang, apalagi bagiku yang sudah biasa hidup serba gampang. Maksudku hanya tinggal bersekolah tanpa bekerja. Meski aku dan saudara bukan tipe anak yang minta dibelikan ini itu, karena memang kami terlampau mengerti keadaan perekonomian keluarga. Mungkin bagi sebagian orang keputusan untuk kursus ke Pare adalah hal yang biasa saja. Kecil. Tapi bagiku ini adalah langkah yang besar dan cukup berat. Aku harus meninggalkan orang tua dan berbakti dengan cara yang berbeda dengan yang biasanya bisa aku lakukan saat ada di rumah, meski tak seberapa. 

Benar, Allah Maha Mendengar. Satu yang selalu aku ingat meski diriku masih bergelimang kekurangan yakni, andalkan Allah di setiap sendi impian. Jika memang yang terbaik untuk kita, maka Allah wujudkan.

Akhir kalimat, semoga Allah tanamkan keteguhan dalam hati kita untuk senantiasa bertaqwa dan merajut mimpi demi kebermanfaatan, serta memanfaatkan sebaik mungkin kesempatan yang telah diberikan. Aamiin.

Aku selalu berusaha menjaga perasaan orang lain. Bukan lantaran aku paham jika iman seseorang bisa dilihat dari bagaimana ia memperlakukan orang lain. Namun lebih karena sejak kecil secara tersirat maupun tersurat, itu adalah sikap yang diajarkan Ibu padaku. Maka aku amat tidak habis pikir ketika ada beberapa orang yang seenaknya mengeluarkan kata-kata menyakitkan, mengiris hati. Seolah ialah paling benar terhadap apa yang mungkin sedang dinilainya. Seolah apa yang dikeluarkan dari lisannya tak bisa menjadi bumerang baginya. Seolah tidak ada yang tak terlihat sedang mengawasi apapun yang ia lakukan selama ia masih bernyawa.

Aku begitu perasa. Karakter yang bagiku bisa menjadi sebuah kelebihan atau kekurangan dalam diri. Aku seringkali tidak ambil pusinh dengan ucapan seseorang. Namun adakalanya ucapan-ucapan itu melekat, ku ingat. Atau ku cerna, padahal ia bisa menjelma racun yang mematikan. Mematikan semangat untuk maju, untuk lebih baik dan lain sebagainya. Karena ucapan yang membangun dan menjatuhkan sudah barang tentu berbeda. Aku bahkan mengingat tiap-tiap empu mulut yang sudah sedemikian lancarnya mengeluarkan kata saat bahkan tidak ada satupun yang meminta. Jika sedari awal sebelum ucapan-ucapan itu keluar aku telah mengetahuinya lebih dulu. Maka telingaku sepakat denganku: tak sudi mendengarnya.

Namun tenanglah. Meski mengingat, aku tidak pernah menaruh dendam. Lebih tepatnya tidak bisa. Kadang aku sebal sendiri mengapa aku tidak bisa? Atau paling tidak, membalas yang sepadan! Tapi mungkin lagi-lagi Ibuku. Beliau yang mematrikan karakter ini bertahun-tahun padaku. Bahwa menjadi pendendam adalah asing bagi kami. Karena kami tak ingin menjadi asing bagi Tuhan kami.

Ibu: “Kenapa ga sekalian di ratakan saja. Bangun pondasi dari awal. Buat semuanya dari bawah, yang baru.”

Bapak: “Ga usah. Perbaiki saja yang rusak. Kita kan sudah tua. Sudah saatnya memikirkan bekal yang akan kita bawa kelak. Sudah tidak lama lagi kita disini. Maka biarlah anak-anak kita yang nantinya membangun yang baru jika mereka mau.”

Begitu potongan perbincangan menggentarkan kedua orang tuaku pagi itu. Banyak bagian yang akhirnya banyak membuat aku merenung. Betapa aku yang masih belum berbakti apa-apa di usia mereka yang kian senja. Aku yang juga belum memiliki bekal yang cukup, karena sejatinya maut tidak pernah mengenal usia. Dan beragam pikiran lainnya.

Aku sendiri memang tidak berkeinginan di masa depan untuk memiliki rumah yang megah, melainkan rumah yang nyaman. Adapun nyaman bisa datang dari suasana, design dan interior rumah yang tidak mesti mahal. Nuansa rumah berwarna putih dengan interior hijau mungkin akan menjadi pilihan utamaku. Sedang suasana yang nyaman dan mendamaikan hati juga tumbuh dari para penghuni rumah yang dipenuhi dengan cahaya taqwa. Rumah yang selalu bercahaya Karena dibacakan kalamullah setiap hari. Rumah yang penuh dengan keberkahan karena acapkali digunakan untuk menggali ilmu, nilai-nilai kebaikan dan tempat untuk kian menundukkan diri kepada Sang Khalik.

Jadi kamu tidak ingin diamanahkan harta berlimpah?
Jika memang itu yang terbaik, maka siapa yang bisa menolak. Boleh jadi arta yang berlimpah justru akan menjadi salah satu jalan yang memudahkan untuk mewujudkan impian-impian luhur. Seperti membangun sekolah gratis, perpustakaan gratis, dan lain sebagainya ketimbang hanya sebagai pelepas nafsu dan memperkaya diri. Memenuhi laci dengan tumpukan perhiasan warna-warni, memenuhi garasi dengan koleksi mobil pribadi, memenuhi lemari dengan tumpukan baju yang selalu baru dan tidak sempat dikenakan sama sekali, atau barisan tas bermerk agar bisa ditampilkan di TV, dan beragam pola konsumtif yang hanya mementingkan diri sendiri. Naudzubillahimindzalik.

Aku percaya bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Membolak-balikkan Hati. Jadi siapalah aku yang berani-beraninya menjamin bahwa aku akan selalu memiliki prinsip dan jalan hidup yang sama dari waktu ke waktu. Namun aku selalu berdoa, semoga Allah teguhkan pemahamanku, jika dunia hanyalah sementara. Supaya aku tidak akan pernah lalai dan berbelok arah. Juga, dimudahkan untuk menyiapkan amal baik yang suatu saat bisa ditukarkan dengan rumah yang nyaman di akhirat, yang kekal, abadi, hakiki. Aamiin.


Aku kerap mendapat pertanyaan yang bernada sama seperti: “Buat apa sih, Lut kamu seringkali share kata-kata atau cerita yang menginspirasi dan memotivasi? Toh kamu belum bisa meraih apa-apa.” Untuk kalimat terakhir hanya asumsiku. Hehe, tidak untuk ditiru. Aku sendiri sudah mencoba untuk berhenti karena merasa lebih baik fokus pada diriku yang masih sangat dipenuhi kekurangan dalam menjalani kehidupan yang benar. Namun ternyata itu tak bertahan lama. Aku benar-benar tidak bisa berhenti.

Jawabannya sebenarnya sederhana. Beberapa orang akan merasa sangat berapi-api untuk membagikan apa yang telah dia dapat. Baik itu ilmu, harta dan lain sebagainya. Seperti saat mereka usai mendapat khazanah ilmu dari pengalaman menjelajah dunia, menonton film, membaca buku, dan macam-macam. Mungkin aku salah satu diantaranya. Aku belum memiliki banyak harta yang bisa dibagi, untuk itulah barangkali sembari memperbaiki diri sendiri, aku mau membagikan semangat optimisme memperbaiki kualitas diri pada orang lain. Karena yang aku tahu, banyak sekali pelajaran yang bisa aku dapatkan dengan melihat kehidupan orang lain.

Selalu saja. Keinginan yang menggebu dan terlintasnya pikiran: “Duh! Jangan sampai hanya aku yang mengetahui dan merasakan ilmu dan semangat ini. Harus ada banyak orang yang mengetahuinya.” Walau pada akhirnya akan selalu ada langit di atas langit. Bisa jadi orang yang mendapat apa yang kita bagikan justeru lebih handal dan ahli di bidangnya. Namun alasan semacam itu tidak mampu menghentikan niat baik. Toh dunia ini amat luas dan ilmu lebih luas dari pada itu. Maka akan ada banyak hal yang mesti dipelajari, tak terhitung. Itulah mengapa manusia tidak bisa angkuh dengan apa yang sudah dipahaminya, karena mereka terbatas. Terlebih jika kita (setiap manusia) bisa saling melengkapi, saling memberi arti, saling berbagi dan saling menasehati.

Aku yakin, fitrah ini dimiliki banyak orang di muka bumi. Semacam konsep “Wa ta waa shaubil haq” dalam Islam. Meski memang, bagiku menasehati yang paling benar adalah dengan memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Lagi-lagi, itu tidak bisa jadi alasan. Sebab yang perlu dilakukan adalah bukan lantas memilih berhenti dan pandai mencari alasan, melainkan terus bergerak mengaplikasikan. Kemudian terus giat berdoa kepada Tuhan, semoga niat kita selalu tulus dan diluruskan.

Pertanyaan lain juga pernah hinggap di hadapan dari beberapa orang. Mereka bilang: “Untuk apa nyanyi-nyanyi di social media?”. Mungkin jika diterjemahkan dalam konotasi negatif, kegiatan semacam itu yang bagi beberapa orang tidak berfaedah adalah bentuk aktualisasi diri yang negatif. Padahal, bagiku pribadi, itu adalah bentuk untuk meningkatkan percaya diri. Karena jujur, aku masih berusaha meningkatkan kepercayaan diri karena sebenarnya aku tipikal manusia yang amat pemalu. Terkadang tidak semua alasan bisa dibagikan atau bahkan dimengerti oleh semua orang. Tak apa, teruslah memperbaiki kualitas selama itu jalan yang benar dan jangan lupa berdoa pada Yang Maha Mengetahui untuk senatiasa ditunjukkan jalan yang benar untuk belajar.

Sama halnya saat kita mencoba membagikan pesan moral. Boleh jadi kita telah berapi-api saat menyampaikannya. Namun setelah sampai di orang lain, alih-alih mendapat pencerahan, mereka malah merasa kosong tidak memperoleh apa-apa. Ini bisa jadi karena mereka memiliki pandangan yang berbeda, momen yang berbeda dan lain sebagainya. Tak apa, yang terpenting adalah terus memelihara niat yang tulus nan lurus. Kita sama-sama manusia, makhluk mulia. Pun artinya kita memiliki kesempatan yang sama. Yang membedakan adalah mau atau tidaknya kita mengambil kesempatan itu. Kalau bukan kita, lantas siapa lagi yang akan melakukannya?

Aku mengawali semester pertama di bangku kuliah dengan perasaan bersalah karena sempat kucing-kucingan dengan para kandidat panitia dies natalis. Begitulah aku. Aku akan lebih mengikuti apa kata Ibu sejak dulu meski menjadi bagian dari mereka juga merupakan tanggung jawab yang harus aku emban. Namun jika Ibu sudah bilang, “Tak perlu ikut-ikut seperti itu, panitia dan lain sebagainya. Langsung pulang saja setelah kelasmu usai, supaya tidak pulang kemalaman.” Begitu kata beliau. Meski semua itu disampaikan dengan lembut, aku mau tidak mau harus menurutinya, itulah kenapa sejak dulu aku tidak pernah terlibat dalam kegiatan kepanitiaan, juga sering aku merelakan beberapa ekstrakurikuler di sekolah demi mematuhi perkataan Ibu. Siapa yang tidak mengerti, jika hal itu justeru akan memperparah sifatku yang amat pemalu berpendapat, pemalu kemana-mana, pemalu dan pemalu lainnya. Namun aku percaya, Allah Swt tidak akan menyia-nyiakan hamba yang ingin berusaha sami’na wa’atha’na kepada orang tua. Aku bisa saja membantah dengan halus dengan cara memberi penjelasan tentang betapa pentingnya kegiatan penunjang luar kelas semacam itu, akan tetapi itu tidak akan mengubah banyak pemikiran seorang Ibu yang khawatir anak perempuan kemalaman di jalanan yang seringkali lebih liar dari binatang hutan. Maka aku sepatutnya bersyukur, kedua orang tua yang bahkan belum pernah mencicipi bangku sekolah itu rela memberikan kesempatan selapang-lapangnya kepada seorang anak perempuan desa untuk mengenyam ilmu pendidikan di kota saat SMA. Kemudian setelah itu berkuliah, masih di tanah kelahirannya.

Tak apa jika semua itu membuat beberapa calon panitia dies natalis periode kala itu melihatku dengan ekor mata kala bertemu. Toh memang aku yang salah dan lari dari tanggung jawab. Pun aku tidak pernah menjelaskan kepada mereka alasannya sebenarnya. Sering aku mendapat ajakan dari beberapa orang, lengkap dengan kalimat-kalimat yang terdengar begitu menyudutkanku dan terkesan menakut-nakuti. Tapi memang dasar, meski aku amat pemalu, aku ternyata memang bebal dan tidak mudah dipengaruhi orang. Aku juga berpikir jika aku sudah terlambat karena hari dilangsungkannya dies natalis akan segera tiba. Maka pastilah sebagian besar jobdist sie PDD telah diselesaikan, pikirku. Walaupun begitu, aku selalu terusik dengan perasaan bersalah. Ingin aku bergabung menjadi bagian dari panitia itu, tapi jangan-jangan memang teramat terlambat. Padahal jika boleh jujur, pekerjaan berbau PDD bisa sangat menyenangkan bagiku. Meski nyatanya aku tidak tahu persis apa yang akan dikerjaan sie PDD.

Dies natalis sudah berakhir, tapi rasa bersalahku tak kunjung berakhir. Beberapa hari kemudian aku mendapakan ide: minta maaf. Tapi aku takut mereka tidak memaafkan kesalahan yang begitu besar itu. Setelah meminta mendapat Himma, akhirnya aku bertekad untuk meminta maaf dengan cara mengirim pesan, hehe. Bahkan Himma juga mengecek pesan yang sudah aku ketik. Aku mengirim dua pesan yang sama dengan sapaan berbeda ke dua nomor: nomor handphone Nunik sebagai Ketupel Dies Natalis dan Toni sebagai ketua Sie PDD. Tak menunggu lama, keduanya membalas pesanku. Betapa terharunya aku dibuat mereka kala mereka ternyata memaafkanku dan meminta agar melupakan semua yang pernah terjadi. Aku cukup lega, walau sebenarnya tidak teramat lega. Karena aku belum meminta maaf ke banyak orang.

Singkat cerita, segala prasangka buruk dan perasaan bersalah perlahan ditelan kesibukan mengerjakan beragam tugas sebagai mahasiswa. Aku mulai merasa benar-benar bisa mencintai teman seangkatan dan menganggap mereka bak keluarga baru disamping bertebarannya kabar miring mengenai angkatan ini. Tapi aku tak peduli, kami adalah kami. Setiap manusia memiliki kekurangan yang bisa saja nampak atau Allah tutupi. Maka aku menjadi salah satu orang yang amat tidak peduli dengan omongan buruk orang luar angkatan, melainkan menjadikannya sebagai bahan evaluasi diri. Sebab kelompok terbentuk dari tiap-tiap pribadi. Bahkan aku sepertinya selalu menjadi orang yang terakhir mendapatkan berita seputar prodi dan angkatan. Belum lagi dari Toni dan Nunik, aku jadi mempelajari untuk mampu memafkan dan menerima setiap kekurangan dengan lapang. Hmm, sebenarnya aku tidak menginginkan dan mengira pembukaannya akan dimulai dengan cerita sepanjang ini karena pastinnya akan membosankan. Intinya aku telah belajar dari orang-orang hebat dalam angkatan ini. Maka biarkan aku membagi sedikit pandanganku terhadap kalian. Jika kurang berkenan, aku mohon maaf. Sengaja aku tidak membubuhkan kekurangan kalian yang sudah barang tentu dimiliki setiap insan, karena aku lebih sibuk memperhatikan dan  berusaha memperbaiki diriku yang penuh dengan kekurangan. Semoga Allah Swt memudahkan kita semua. Selamat men-skip dan mencari nama anda! Hehe.

Rieke Ayu Safitri. Ayu, begitu ia biasa dipanggil. Ayu seperti parasnya. Bagiku ia tak suka banyak bicara. Dia baik. Yang paling aku ingat darinya adalah jika tidak salah di hari pertama kuliah aku duduk di kursi paling depan bagian kanan, tepat disampingnya. Dia rajin mencatat setiap materi perkuliahan. Kulirik, tulisannya bagus bukan main.

Sofiatul Qoni’ah. Sofi. Tak ku sangka ternyata suaranya seindah wajahnya. Citra ini ku dapat kala berada dalam bis yang sama saat pergi Studi Lapang bersama. Orangnya baik dan sepertinya ceria.

Arini Rohmatika. Arini itu care. Meski tidak sedekat seorang teman dekat, dia tidak akan sungkan untuk menanyakan apakah tugasmu sudah selesai. Bahkan jika perlu, ia juga akan member pesan. Arini terkesan begitu rajin. Saat sekelompok bersamaku ia akan menyelesaikan jobdist sebelum tenggang waktu yang disepakati kelompok usai.

Desy Tri Mega. Desy, menurutku dia mudah bergaul dan pandai mencairkan suasana. Gaya biacara yang seringkali ceplas ceplos berupa candaan lucu membuat banyak orang senang berteman dengannya. Dia juga tidak pelit untuk mengaminkan dan mendukung mimpi orang lain. Aku yakin itu semua akan kembali kepadanya.

Uswatun Hasanah. Uus tinggi. Hehe begitu yang seringkali tanpa sengaja aku jadikan perbedaan kala menyebut dirinya pada yang lain. Dan mungkin itu juga sering dilakukan yang lain. Karena ada tiga Uus itulah akhirnya kami harus pandai-pandai membuat label, hehe *bercanda. Uus anaknya baik. Mungkin itu yang mengantarkan dirinya untuk menamai akun IGnya demikian *promo. Orangnya juga menyenangkan. Kalian akan mengetahuinya sendiri kala benar-benar mengenalnya. Bukankah kehidupan sering begitu? Kau kadangkala tak bisa mengukuhkan karakter seseorang hanya dengan satu tegukan kopi. 

Siti Luthfiyah. Evi, ku kenal saat kami belajar bahasa Inggris dengan Sir Wahid. Sebelumnya aku belum pernah berkenalan, meski kita telah bertahun-tahun berada di sekolah yang sama. Selain Evi yang memang tidak terlalu suka bicara dan heboh sepertiku, kami memang baru amat mengenal saat ternyata mengenyam pendidikan di prodi yang sama. Dia kalem, pintar, cantik dan sederhana.

Intan Kusumawati. Intan, si murah senyum. Atau mungkin murah ketawa. Karena ia tidak pernah segan untuk menimpali omongan atau candaan atau apapun yang relevan dengan tertawa-----dengan ketawa khasnya. Selain cantik, kepribadian yang baik membuat ia mampu memilki banyak teman.

Rizki Okvian Sari. Rizki. Dia tekun untuk mencari tahu apa materi perkuliahan yang belum ia pahami. Selain itu Rizki juga rajin mengerjakan tugas. Tidak sepertiku yang seringkali tunduk pada deadline. Ia juga tak segan membagi ilmu yang ia pahami dengan cara yang baik dan terlihat amat sabar, tidak merendahkan.

ST. Robiatul Adawiyah. Dewi orangnya baik. Dia juga seringkali membuat lelucon lucu, dan itu menghibur. Kala mengerjakan tugas kelompok, kesan pertama yang aku dapatkan adalah (kelompok pertama di kelas aku bersama Dewi dan beberapa anggota lain) ia cenderung lebih percaya dan menonjolkan orang lain, padahal sebenarnya dia juga bisa. Karena setiap orang memiliki kelebihan dalam dirinya.

Elza Septia Ayu Lestari. Seperti Evi, Elza juga berasal dari almamater yang sama denganku dan aku baru mengenalnya di kampus. Kami juga sempat menginap di masjid kampus karena kerja kelompok di masa orientasi memakan waktu hingga dini hari. Elza adalah sosok yang rendah hati dan sederhana.

Eva Rusdiana. Eva. Meski ceplas ceplos, Eva sebenarnya sosok yang baik dan peduli. Ia juga handal dan teliti di mata kuliah yang berbau aritmatika. Pertama mengenal dan mengamati sekilas wajahnya, aku mengira Eva adalah anak yang begitu pendiam. Hehe.

Maulinda Agustin. Linda, orang yang peka sekali. Ia baik bukan buatan. Sering menawarkan tebengan, atau bahkan mengajak. Karena ia amat peka dan mengetahui jika sang pemalu tak akan mengangguk jika hanya ditawarkannya, bukan diajak. Lebih daripada itu, kepribadian yang baik lain yang menetap dalam dirinya membuat banyak orang menyayanginya.

Nurul Jannah. Jeje. Aku bahkan baru mengetahui jika kita juga berasal dari almamater yang sama. Kala itu aku dikagetkannya di gerbang MAN. Ia menyapaku dan bertanya sudah keterima di kampus mana. Aku bingung karena sama sekali tidak mengenal Jeje. Siapa wanita cantik ini, pikirku. Akhirnya aku tersenyum, lantas menyengir dan menjawab jika aku belum diterima di kampus manapun, sementara ia sudah tercatat sebagai mahasiswa baru prodi Agribisnis di UTM. Kami pun saling mendoakan. Aku masih belum tahu identitasnya hingga akhirnya kami saling mengenal di kampus. Yang aku bingungkan, dari mana  ia mengenal aku? Hehe. Jeje anak yang pandai bercerita dan mengolah kata, ia juga mudah bergaul. Maka meski baru mengenal, akan selalu ada pembicaraan yang dapat mencairkan suasana. Beda jika denganku, seseorang justeru kadang merasa tidak dihiraukan karena aku terlalu banyak diam. Hehe.

Ria Mega Asri Tri Nalanda. Ria. Kesan yang aku dapatkan pertama kali saat kami   sekelas di mata kuliah PAI. Ia membawakan presentasi dengan amat baik, selain itu ia juga menjawab dengan tanggap. Tidak memilih-milih dalam berteman adalah salah satu sifat yang bisa aku lihat ada dalam diri seorang Ria. Ceileh bahasanya, haha.

Affan Nailurridho. Affan. Baik hati. Ia juga sering melontarkan candaan menjadi ciri khas tersendiri yang melekat dan memudahkan ia bergaul dengan siapa saja. Affan meski handal berpendapat, tak mau terlalu memperlihatkan kehandalannya. hehe.

Mega Sulfia. Mega, juga satu almamater denganku seperti Elza, Evi dan Jeje. Dan sepertinya satu-satunya yang memiliki persentase lebih saling mengenal denganku. Bukan tanpa sebab, karena saat di MA dulu, ia juga berteman baik dengan sahabat-sahabatku, Badi’, Mince, Caca’ dan lain sebagainya. Mega orang yang baik dan friendly.

Bismi Ade Yulia. Bismi. Citra pertama yang aku dapatkan darinya adalah dia menyukai bahasa Inggris. Kala itu ia mempraktikkannya dengan salah seorang panitia ospek. Kebaikan yang tak pernah bisa aku lupakan adalah saat dia membantuku untuk menyelesaikan satu tugas menulis tangan di praktikum Metode Kuantitatif Bisnis karena saat itu tanganku belum bisa menulis. Aku tidak meminta, tapi ia menawarkan. Akhirnya aku mengiyakan karena merasa ada banyak tugas lain yang menunggu. Beruntungnya bisa ku lakukan dengan mengetik menggunakan satu tangan. Selain itu, Bismi juga ku kenal tak sungkan untuk mengungkapkan pendapatnya di khalayak.

Annisatul Qomariyeh. Anis adalah salah seorang yang akan menyelimutiku kala tertidur selain Ulfa. Ini karena tempat kost mereka seatap. Lagi-lagi aku tidak pernah meminta tapi ia lakukan dengan tulus. Anis menyukai prakarya dan seni berpuisi. Sering ia menyulap karton-karton menjadi bintang yang lucu-lucu. Atau menuliskan bait-bait puisi di dinding BBM-nya.

Hendra Hardiyanto. Hendra terlihat santai saat mengerjakan tugas kelompok meski sebenarnya dia juga rajin. Satu sekelompok saat di ospek fakultas membuat aku bisa menyimpulkan beberapa hal mengenai karakter anak yang satu ini. Ia adalah orang yang santun, religious dan teman yang baik.

Risqi Kurnianti. Eqi. Menjadi partner asprak membuat aku merasa selangkah lebih mengenalnya. Dia menyenangkan. Dia kerapkali memberi kesempatan padaku, orang yang baru belajar. Sedang dia sudah lebih awal. Aku sendiri seringkali menyipulkan sesuatu mengenai tabiat orang kala bertemu pertama kali. Itu acapkali aku jadikan acuan. Namun ternyata tak selamanya benar. Kau akan lebih mengenal seseorang dengan baik seiring dengan berjalannya masa. Dan mengenal Eqi seperti mengenal lainnya. Aku jadi banyak belajar. Iya, dia baik dan pengertian. Dan belakangan aku ketahui dia sangat handal ngebut dan beraksi di jalan raya. Terlatih. Ini ku ketahui saat kami bertiga (Aku, Eqi dan Ana) pergi ke pameran beasiswa di Surabaya. Kala itu aku senang sekali mengetahui sisi lain darinya.

Ana Fifit Rotin: Ana. Aku nyaman belajar sama dia. Sama yang lain juga sih. Tapi dia itu salah satu tipikal orang yang tidk mudah mendiskreditkan orang lain. Sebab  aku yang meski bertanya hal remeh-temeh tetap dia anggap pertanyaanku itu keluar dari mulut seorang profesor. Amat berharga. Itu sedikit yang bisa menggambarkan jika dia humble. Aku tidak bisa menghitung kebaikan yang sudah dia lakukan untukku.

Aimatul Azizah. Iim. Begitu kami memanggil. Dia pribadi yang lucu, ceplas ceplos, baik dan cantik. Tak banyak yang bisa ku jelaskan tentang dirinya seperti sahabat dekat yang mengerti baik karakternya. Namun aku belajar banyak dari Iim. Salah satunya untuk selalu bersabar dan tidak menyerah untuk melakukan sebuah hal. Karena ada banyak orang yang menunggu dan mendoakan pastinya.

Sherly Utami Putri. Sherly ini baik dan sangat setia dalam berkawan. Dia juga memiliki selera seni yang menarik. Apalagi di bidang fotografi. Dia juga handal berpose di depan kamera. Terbaca dari karyanya jika ia adalah orang yang rapih dan detil. Tulisan tangannya juga amat unik dan indah. Terlihat sekali goresan seni di setiap huruf yang tertata.

Yulistian Parameswari. Aku bukan ingin mengatakan anak AGB 14 semuanya baik di mataku. Tapi kenyataanya memang begitu. Selain itu Yulis juga cantik. Hehe, ayolah, Lut. Berapa kali kau menilai orang hanya dengan ukuran fisik? Hehe, percayalah, pada faktanya aku bahkan jarang sekali hampir tidak pernah menilai orang pertamakali dari ukuran fisik, melainkan akhlaknya. Yulis juga kerap tidak ketinggalan membawa air minum sendiri dari kostannya. Ini bukan karena dia tidak memiliki cukup uang untuk membeli air minum. Namun lebih kepada dia memang orang yang 'rajin'.

Noer Aliyatin Rahmawati. Ternyata Nora itu anaknya memang kocak dan ceplas ceplos. Kesan itu ku dapat bahkan sebelum seakrab sekarang. Setelah aku dipindahkan untuk bimbingan dengan dosen pembimbing skripsi Nora (karena dosen pembimbingku menunaikan ibadah haji), kesan itu kian kuat dari dirinya. Selain itu dia juga sangat baik. Meski hanya beberapa minggu, aku merasa kami telah berteman akrab sejak lama. Dia rajin dan bukan tipe deadliner sepertiku. *ups.

Suci Indah Sari. Ah, dia juga tipe orang yang mudah membuatku tertawa dengan ceplas ceplosnya. Menyenangkan! Mampu melupakan beban sejenak. Beberapa minggu lalu setelah lulus kuliah melangsungkan pernikahan. Hehe. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah dan mampu menjadi jalannya dakwah, ya!

Siti Kholifatul Solikah. Selain Suci, Siti rupanya juga sudah jauh terlebih dahulu melepas lajang. Hehe. Padahal seolah baru beberapa hari yang lalu kami tertawa cekikikan. Ini tak lain salah satunya karena Mbak Siti melihat aku beraktraksi dengan seutas tali dan seekor kucing dikostannya yang juga kostan Ulfa. Memang. Dia memang murah senyum dan tidak segan untuk terbahak melihat aksinya. Beruntung saat itu tidak ada KK-ku. Kalau tidak dia pasti akan berkata, "Jangan tertawa terbahak. Apalagi muslimah." Hehe, peace! Bercanda. Lagian mana mungkin ada beliau. Ups. Lalu nyatanya, ucapan beliah banyak benarnya sih.

Lisnawati. Lilis baik sekali. Hehe. Aku beberapa kali diijinkan menginap di kostan-nya yang juga merupakan kostan Irvi. Hihi. Sebelum itu dia memang baik. Ah, aku kehabisan kata dan tak tahu lagi bagaimana mendeskripsikannya lagi. Yang jelas, senang sekali mengenalnya dan semoga dia tidak melupakanku sampai kapanpun. *Idih, maksa ya!

Uswatun Jannah. Uus. Ini Uus yang cantiknya seperti artis. *Tuhkan ngukur fisik mulu, Lut. Wkwk, peace. Tapi sungguh, semua yang bernama Uus di dunia adalah orang yang cantik. Selama ia adalah seorang perempuan tulen. Hehe. Uus juga pribadi yang menyenangkan. Dia kerap menggodaku dengan menjadikan beberapa storyku di sosial media sebagai candaan. Aku pun terhibur dengan itu. Senang sekali bertemu dan mengenal orang yang tidak memilih-milih teman sepertinya.

Lia Agustina. Ucapannya kerap terlontar amat fulgar. Hehe. Tapi aku amat paham jika dia orang yang amat baik. Bukan sekedar baik dalam menjalani hidup, Lia juga orang yang apa adanya. Dia juga dikenal sebagai sosok yang tangguh, pekerja keras, patuh aturan dan rajin. Jika tidak salah ingat, dia bahkan bimbingan skripsi 4 kali dalam seminggu. Ini ungkapan dosen pembimbingnya yang geleng-geleng dengan betapa rajin dan antusiasnya ia dengan tugas akhirnya. Beruntung ia dipertemukan dengan orang yang tepat. Eh, maksudku setiap orang akan bertemu dengan beragam hal yang tepat. Hanya saja penyikapannya memang pasti tidaklah selalu sama.

Ulfa Widia Ningrum. Ulfa: Dia itu kian semester kian tekun. Padahal kita sama-sama makan nasi. Itulah yang bikin nilainya kian menjulang. Meski bukan itu tujuan tunggalnya. Aku belajar buat sabaaaaar banget dari dia. Dia bisa pendiem tapi bisa cerewet masya Allah. Dia juga sering memasak untukku di kost. Hehe. Yap, dia salah satu yang menjadi langganan untuk aku menginap kala ada keperluan mendesak di kampus. Seperti, mengajar, buka puasa bersama, kumpulan dan lain-lain. Kata terima kasih dan doa rasanya tidak cukup untuk membalas kebaikannya.

Annisa Aulia Hidayah. Nicun: Masih dengan orang berkarakter sama seperti pertama aku kenal saat berjalan ke pertelon kampus. Tapi makin kenal, ternyata dia kian hebat. Kalo chat sama dia bisa panjaaaaaaaang. Kalo VN bisa lama syekaleeeh. Hehe. Banyak topic yang menarik diperbincangkan dengannya. Dia juga mudah mendoakan dan mendukung yang terbaik untuk orang lain. Termasuk untuk diriku. Itu adalah salah satu pelajaran berharga yang aku dapatkan darinya. Thank you, Nicun.

Hasyim As Arie

Ghonimatun Nafi’ah

Claudia Wahyu Ekalisa

Yeni Eka Setiyowati

Shelly Afini

Bima Kurnia Wijaya

Muhammad Iqbal

Nur Laili Alfianah

Ovi Qurrotus Tsaniya

Larissafitri Anggraini

ST. Laila Zaini

Maulani Yulindasari

Erick Gunawan S.

Muhammad Afifudin

Aldi Wicaksono

Imamatul Ulya

Mega Maulina Ummie

Toni Irawan

Muhammad Taufiqurohman

Indah Tri Sundari

Hafiluddin. Aura kesabaran, kebaikan, dan beragam karakter baik lainnya terpancar jelas bahkan meski baru mengenalnya. Bang Hafil juga tidak memilih-milih dalam berteman. Selain itu ia juga handal membuat lelucon segar. Maka tidak heran jika ia memiliki teman sebanyak air di lautan. Hehe. Selain hal yang sudah aku sebutkan itu, kesan pertama yang aku dapatkan adalah gaya bicaranya yang bagus saat berbicara dalam bahasa Indonesia, seperti intonasi, dan lain sebagainya. Hmm, sukses terus, Bang!

Ahmad Barisi

Ade Irawati

Mohammad Noor Assiqin

Moh Rizal Prasetyo

Ekomatis Solah

Farrasmahdy Julian

Fahmi Zainur Rois

Irviana Nisvi Khoirun Nisa’. Irvi: Aku ngomong sekalimat. Dia ngomong sekalimat. Aku menulis sebaris. Dia pun gitu. Aku lagi cerewet-cerewetnya. Dia juga cerewet. Dia sedang ingin menjadi orang yang pendiam. Aku juga. Dia tidur di bus. Aku juga tertidur. Dia pendengar yang baik. Aku berusaha juga untuk itu. Aku ngakak. Dia ngakak (meskipun tidak dianjurkan dalam Islam hehe). Pokonya banyak yang klop sama dia. Selain klop, dia juga peka kalau aku lagi butuh apa-apa. Misalnya, pinjeman laptop. Hihi. Suwun, Mat!

Riza Ade Prasetya

Moh Nashiruddin Effendi

Febi Rista Nanda

Farida Hanum

M Nur Huda

Dwi Andika

Akhmad Yusup. Yusup orangnya seringkali kocak. Meski juga kerap menghilang kala saatnya bimbingan KRS. Yap, kita mendapat dosen wali yang sama. Dia juga pribadi yang baik dan terbuka.

Fitria Asariani. Kesan pertama: Fitri itu cantik. Hehe. Pertama kali dia menyapaku kala Ospek jurusan. Dia membantuku berwudhu karena kala itu kami berwudhu menggunakan timba dari tempat penampungan air yang terbilang besar. Tanpa aba-aba dia langsung membantuku. Setelah itu kami tentunya banyak dipertemukan di kelas yang sama karena prodi kami memang hanya membuka dua kelas. Jadi kemungkian besar untuk mengenal semua anak angkatan. Selain itu kami juga sering mendapat tugas kelompok bersama. Tak hanya itu, kita juga qadarullah mendapat dosen pembimbing skripsi yang sama. Fitri adalah orang yang tidak takut menghadapi banyak tantangan baru. Ia tergabung di banyak organisasi kampus. Tentu, dia juga pribadi yang baik. Bukan karena dia membuatku haru dengan memberikanku hadiah boneka lengkap dengan headphone, tapi karena banyak kelapangan hati dan kebaikan yang seringkali aku saksikan darinya.

Fatimatus Zahroh. Fatim: Perhatian sekali, apalagi kalai aku memutuskan untuk menginap di kostnya karena ada keperluan. Semuanya perhatian juga sih, hehe. Tapi dia detiiiiil. Dia juga kerap beres-beres dan rela membiarkan aku pulas dengan buku yang tidak jadi aku baca. Haha. Kalau bahas soal ilmuagama (amat seru) sama dia sering bikin aku ingin baca buku agama banyak-banyak, tapi sering terlupa dan malah tidur nyenyak. Hmm, apapun itu, terima kasih atas segalanya rasanya tak cukup!

Himma Hadzani Zulfa. Himma: Dia sering punya pemahaman beda. Terus sering juga pemahaman kita sama. Dia dan Aku kerap menganggap sesuatu lucu, tapi tidak untuk beberapa orang. Kadang bisa bahas berfaedah (dia, Aku mah apa haha) sesuatu panjang lebar sampai lupa tujuan utama: kudu mengerjakan tugas. Kebiasaan itu kerap terjadi, apalagi kala itu aku sering menginap di pondoknya karena kita menyibukkan diri dalam kegiatan bela diri di kampus. Bukannya menyelesaikan tugas karena baru pulang tengah malam, kami justeru memperpanjang percapakan. Momen yang benar-benar tidak akan aku lupakan. Segala kebaikan dan pesan-pesan yang seringkali tersampaikan dengan cara yang terselubung lewat kata-kata sederhananya. Terima kasih!

Nunik Muhayani. Nunik adalah orang dengan jiwa sosial yang begitu tinggi. Dia tidak segan membantu banyak orang. Tidak tebang pilih. Ini bukan karena aku sering 'nebeng' kala pulang kemalaman. Namun jauh sebelum aku kemudian akrab dan berkenalannya dengannya, aku sudah bisa menebak jika ia pribadi yang begitu. Sebuah kejadian yang membuat ia rela naik turun lift untuk membantu seorang temanku kala itu yang akhirnya membuat ia memberi kesan pertama sedemikian rupa padaku. Dan ternyata memang benar adanya. Nunik juga memiliki jiwa kepemimpinan yang baik, dia tidak mudah menjadi egois meski ini memang sifat manusia. Dia seringkali memikirkan banyak orang ketimbang dirinya terlebih dahulu. Sekali lagi, ini bukan karena ia tergabung di beberapa organisasi. Tapi sebelum itu karakter ini sudah terpupuk. Maka aku sungguh setuju jika kemudian dia dinobatkan sebagai peserta ospek jurusan terbaik saat itu.

Hana Safitri: Hana, Aku pertama dekat itu sama anak ini. Dia care orangnya. Ramah bukan main. Seringkali punya jalan sendiri. Apa adanya tapi kece. Dia juga yang membuat aku mampu mengurangi rasa asing yang awalnya melekat saat pertama kali menapaki dunia perkuliahan. Aku juga tidak akan pernah melupakan banyak kebaikannya.

Mauidhotul Hasanah. Mbak Idho. Baik. Hehe. Aku tergelitik karena betapa tidak kreatifnya aku mendeskripsikan orang secara relatif. Baik memang relatif. Dan memang begitu karakter Mbak Idho dan yang lain di mataku. Jadi aku tidak peduli jika orang lain memiliki penilaian yang berbeda. 
Omong-omong begitu murah hatinya Mbak Idho menghadiahiku sebuah buku perihal tips untuk penulis pemula. Hmm. Semoga Allah membalas kebaikanmu, Mbak!

Warbianto. Warbi tidak mudah menyerah dengan penyakitnya. Iya, dia berjuang melawan penyakitnya yang beberapa kali membuat program kuliahnya terbengkalai. Penyakit itu mudah menyapa ia seperti ia yang juga mudah menyapa orang lain terlebih dahulu kala bertemu. Namun tentu, kita semua berdoa semoga kesembuhannya kini adalah utuh dan penyakitnya tidak akan pernah lagi kambuh. Aamiin.

Mohammad Ali Fikri. Ali Fikri juga sosok yang sering membuat kami tertawa karena tingkahnya yang lucu. Tertawanya seorang teman acap kali berarti bukan untuk menghina melainkan mengapresiasi dan berterimakasih karena telah mau menghibur. 
Anyways, hobi Ali Fikri mungkin salah satunya memancing. Ini kami simpulkan karena kami terlalu sering mendapati memancing di kolam ikan yang ada di area kampus. Katanya, ini hobi yang begitu menyenangkan. Mungkin lebih menjadi pelipur ketimbang seonggok gadget belaka.

Ilham Al Isfahani. Kesan pertama yang kudapat darinya adalah orang yang baik, ramah dan tidak memilih-milih teman hanya karena tingkat IQ, kekayaan dan hal-hal semacamnya. Tentu, dia belum ada waktu untuk bertanya hal semacam itu. Hehe, becanda.
BTW, itu hanyalah kesan di awal. Maksudku setelah itu, bagiku dia adalah orang yang sangaaaaaaaat irit bicara apalagi jika tidak teramat perlu. Aku kadang merasa konyol sendiri kalau sapaanku hanya berujung gigitan jemari. Hehe. Tapi dia baik. Kan sudah ku bilang, semua personil Agb baik. 
Ilham sepertinya gemar membuat puisi dan menggambar. Bukan untuk sesumbar, aku juga menyukai dua kegiatan itu. Namun tak perlu dibandingkan, gambarku masih serupa cakar hewan dan puisiku masih mencerminkan proser belajar sang empu. Tak apa, menyukai kan bukan berarti mendewakan hasil yang lebih dari yang lain. Yang terpenting ketulusan dan tidak pernah bosan untuk belajar dan berlatih. *Aih, jadi ceramah buat diri sendiri.

Edi Amrosi. Meski bicaranya irit, Edi orang baik. Bukan cuma itu. Kenampakannya di kelas juga irit. Mungkin karena jarang sekelas. Tapi kita sedosen wali. Dan dia sering juga dicari. 
Aku percaya, setiap orang punya kesibukan yang berbeda dan itu pilihan. Sebagai teman, kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk teman kita. Apalagi sesama muslim. Hehe.

Selket. Nama yang begitu unik. Ia mudah dikenal bukan cuma karena nama itu. Tapi juga karena orangnya yang lucu dan kerap terlibat di berbagai organisasi kampus. Selket juga begitu baik. Ia tidak segan membantuku saat ban motorku pecah. Dengan izin Allah dia amat sangat membantu kala itu. Aku benar-benar tak mampu berkata dan harus berterimakasih macam apa. Karena saat itu aku harus segera mengahadapi tes Toefl. Bersyukur sekali hidupku dipenuhi dengan orang-orang baik.

Eka Via Masluhah. Cantik bukan buatan. Hehe. Aku kira dia bukan anak angkatanku karena tidak pernah ada di Ospek fakultas maupun jurusan. Ternyata memang seangkatan. Benar. Dia layak jadi artis hehe. Bukan hanya karena parasnya. Namun juga lantaran dirinya dan mimiknya yang begitu ekspresif itu. Belum lagi ia juga agaknya jago beracting. Jangan ditanya betapa sering humor Eka membuat kami tertawa serempak.

Nada Nur SBP. Nada memberi kesan pertama padaku bahwa ia adalah wanita cerdas dengan semangat rasa ingin tahu yang amat tinggi. Ini karena ia kerap duduk di bangku terdepan dan acap bertanya, juga menjawab dosen kala kegiatan perkuliahan di kelas tengah berlangsung. Dan sebenarnya memang begitu, meski ia kerap mengungkapkan bahwa ia tidak demikian. Nada juga sepertinya begitu menyukai dunia fashion dan model. Ia seringkali mengikuti perlombaan fashion di kampus. Ia berbakat dan cocok. Atas hobi dan kegemarannya tampil dikhalayak umum, aku kira Nada bukan orang yang pemalu kala harus berhadapan dengan kaum pria. Ternyata ia mengaku justeru masih sangat malu. Hmm, begitulah memang fitrahnya seorang wanita. Kegiatan di dunia tidak lantas mengikis fitrah tersebut. Belakangan ku ketahui jika itu adalah bentuk dari keimanan.

Achmad Naufen. Nopen jago membuat desain dan mengedit foto. Iya, dia juga memintai dunia fotografi. Tak salah jika kemudian ia dan temannya membuka jasa fotografer. Ia juga salah satu pribadi yang terlihat apa adanya. Seolah tidak mau menjaga image. Nampak begitu santai menjalani kehidupan dan menikmati tiap detiknya. Beberapa orang kadang hanya memutuskan untuk tidak mempermasalahkan hidup. Itulah mengapa dalam hidup, banyak orang orang terlihat begitu lapang.

Uswatun Hasanah. Selain baik, Uus juga ku ketahui handal di mata kuliah berhitung. Berbeda denganku yang masih dengan momok memusingkan kala harus dihadapkan dengan mata kuliah sejenis. Padahal hakikatnya segala hal dapat dipelajari dan ditekuni sebab segalanya berawal dari pola pikir kita sendiri. Tidak hanya di bidang ini, karena Uus terlihat begitu antusias hampir di semua mata kuliah saat kelas berlangsung.

Fiqri Romadiansyah. Fiqri terkenal speak up. Mungkin selain itu membuatnya terlihat kritis, itu juga akan membuatnya terlihat ngeyel dengan pendapatnya. Atau mungkin aktualisasi diri. Namun padahal orangnya baik dan menyenangkan. Lagipula, tidak semua aktualisasi diri itu berkonotasi negatif.

Ali Wafa. Ali dari awal ku kenal sebagai sosok yang ramah, karena walau tak akrab ia hobi menyapa saat di jalan. Meski itu artinya, orang yang irit menyapa tidak berarti menjadi orang yang tidak ramah juga. Ali, begitu ia biasa dipanggil adalah sosok yang juga piawai memetik gitar.

Sebenarnya menceritakan mereka tidak akan cukup dua penggal buku. Banyak sekali yang ingin disampaikan.  Sebab kita sudah seperti keluarga yang saling mendoakan. Well, semua temen dari jaman bahulak  sampai sekarang yang tidak disebut sebenarnya juga Aku anggep sama. Dan sebenarnya lagi, tidak baik memuji seseorang didepan mereka. Tapi Aku yakin, insyaAllah mereka menganggap pujian ini ujian untuk tetep istiqomah dan humble. Lalu semua yang kusebut mengenai mereka adalah sisi kebaikan. Sebab aku lebih suka melakukan muhasbah ketimbang mencari kesalahan, kelemahan dan kekurangan orang lain. Kita hanya butuh untuk senantiasa saling mendoakan. Eh iya, sampai lupa. Aku meminta maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang salah dengan tulisan ini. Maklumlah, ini hanya opini berdasarkan kacamata pribadi. Hanya sebagai hiburan dan kenangan. He. OK, baaaaai!


Lakukan yang terbaik! Itu yang seringkali banyak orang dengungkan dengan bahasa asing yang lantas berbunyi: Do the best! Mendengar kalimat itu, banyak pula yang akhirnya tergerak untuk melakukan yang terbaik.

Dalam hidup, aku selalu merasa tidak melakukan yang terbaik. Sebab bagiku, aku barangkali selalu mengerjakan sesuatu dengan tanggung atau mungkin setengah-setengah. Bukan karena perkara hati yang terpaksa untuk kemudian melakukannya dengan setengah hati. Tapi lebih kepada effort yang dilakukan tanggung, tak maksimal. Setidaknya itulah yang selalu aku rasakan.

Kata Andrea Hirata, dalam salah satu novelnya---satu dari beberapa kriteria orang cerdas adalah tidak pernah merasa "wah" dengan hasilnya. Sebab ia akan cenderung memperbaiki lagi dan lagi karena selalu merasa ada yang kurang. Saat mengerjakan tugas misalnya. Jika yang lain hanya cukup berpendapat dalam selembar halaman, ia malah ingin menambah, merombak dan menambah lagi. Bahkan saat telah dikumpulkannya tugas itu, ia belum merasa lega dengan hasilnya. Kira-kira seperti itu apa yang disampaikan penulis novel best seller itu. Itupun jika aku tidak salah memahami. Hehe.

Kala membaca bagian tersebut dalam novel itu, aku cukup kaget. Persis seperti diriku saat mengerjakan tugas. Namun bukannya merasa aku mendapat karakter cerdas versi Bang Andis, aku malah mengintrospeksi diri yang masih bergelimang kekurangan. Seperti mengerjakan tugas mepet deadline, dan lain sebagainya.

Malam ini aku merenung. (Aku tidak tahu, mengapa merenung menjadikan kegiatan yang amat aku gandrungi. Apa karena introvert? Hmm, sudahlah... Bukankah agama memang mengingatkan kita untuk senantiasa berpikir). Aku melihat diriku yang kini telah menunggu diwisuda. Hari yang bahkan belum aku siapkan pernak perniknya sesiap kawanku yang lain. Karena bagiku, lulus sudah sangat aku syukuri. Tanpa harus riweuh ini itu. Tapi tak apa, prosesi wisuda kan bisa menjadi bentuk syukuran bersama juga.

Kembali ke renungan. Ya, aku merenungi diriku yang saat ini masih memiliki beberapa kesibukan. Satu diantaranya ku lakukan di kampus, sebelum akhirnya aku benar-bemar hengkang. Yang mengusik sekaligus aku sesalkan adalah aku yang belum melakukan yang terbaik dan maksimal untuk kesibukan yang satu itu hingga sekarang. Pikirku, betapa aku telah menyia-nyiakan kesempatan yang telah Allah berikan.

Aku tahu, aku masih memiliki waktu untuk merubah perilakuku, memberikan yang terbaik yang aku bisa. Meski dalam hidup, aku tidak pernah melakukan yang terbaik, menurutku. Namun semoga Allah mudahkan. Iyyaa kana'budu wa iyya kanasta'in ~

Karena lumayan lama ga naik bus alias angkutan umum, jadi tadi sore gue pen banget munt*h di dalam bus. Akhirnya gue turun sebelum nyampe daripada gue munt*h ke orang di depan gue. Hehe. Bodo amat kalaupun akhirnya gue harus ngangkot lagi dan bayar lagi selama gue ga mendzolimi orang. Hihi. Jadilah gue turun dulu demi memulihkan sistem metabolisme dalam tubuh gue yang sempat kacau. Sebab yang gue pahami, orang yang mengalami mabuk perjalanan itu tengah ada di masa terjadinya ketidakselarasan sistem di dalam tubuh. Kacau lah pokoknya, wkwk. Kemudian akhirnya gue jalan kaki beberapa lama biar rada seger dan ngangkot lagi. Setelah gue pikir, apa karena sebelum naik bus gue minum susu? Jadinya mual. Hmm..hmm..

Biasanya kalau ada di momen mabuk perjalanan bakal ada pikiran dalam benak gue: GUE GA MAU KEMANA-MANA, APALAGI NAIK KENDARAAN YANG BIKIN MUAL. Pemikiran itu timbul mulai gue orok, sebab sejak itu gue sudah jadi pemabuk, eh maksud gue suka mabuk di perjalanan. Itu sih kata Ibu. Tapi anehnya gue sering di bawa kemana-mana sama beliau. Dan anehnya lagi setelah gue sehat dan bugar kembali, gue semangat lagi buat mewujudkan salah satu mimpi gue: Keliling dunia. Apapun rintangannya. Hade.

- - -

Jadi gue dulu pas didaftarin sekolah di kota yang mengharuskan gue ngangkot,  gue ngerasa pergi sekolah itu kiamat buat gue karena parno banget sama bau-bau kendaran dan jalan yang bikin mual. Akhirnya di semester pertama gue yang emang dari sononya ga jago di kelas tambah dodol karena gue cuma bisa tidur-tidur di tempat duduk dalam posisi duduk. Lemes banget dan ga mau makan apapun kalau pas mual pastinya. Itu. Gue sih.
Kala itu boro-boro mikirin masuk sepuluh besar di kelas unggulan itu, gue bahkan lebih mikirin kapan gue bisa nyampe rumah lagi lantas memulihkan keterombang-ambingan sistem dalam tubuh gue gegara mabuk perjalanan. Tapi apapun itu sudah konsekuensi. Gue berusaha buat menjalaninya.

Alhamdulillah di semester kedua gue mulai bisa beradaptasi sama angkot, wkwk. Gue juga sudah bisa mulai belajar agak normal di kelas. Gue bahkan secara ajaib bisa ada di peringkat delapan. Yah, masih keren yang pertama sih. Tapi bagi gue-------orang yang awalnya lebih banyak tidur-tiduran di kelas karena lemas (bukan tidur beneran)-----itu sudah lumayan mengejutkan beberapa orang, terutama teman dekat gue. Hehehe.

Intinya, yang pen gue sampein dari curhat kali ini adalah jalani aja. Jangan sampe berenti atas rintangan yang menghadang setiap mimpi. Sebab pasti bisa iita lewati. (Enak banget nulisnya, padahal gue belum bisa raih apa-apa ya, hehehe. Tapi keknya teori itu emang ada benernya: bahwa apapun rintangannya, pasti bisa kita hadapi selama yakin dan beriktiar. Gue pun sekarang juga masih mencoba buat ngebuktiinya sekarang sih. He). Btw ini ga konsisten amat. Kadang pake bahasa baku, ada yang ngga. Haefh. Maapkeun.

Setelah gue pikir-pikir ternyata gue emang sering banget malu untuk hal yang sebenernya ga perlu dimaluin. Hehe. Gue malu muntah (maaf) di depan orang banyak, di angkutan umum dll. Padahal ya ngapain gue malu? Toh itu memang diri gue. Gue pun masih belajar beradaptasi dengan kendaraan macam apapun. Well, selama gue ga muntah (maaf lagi) ke orang ngapain gue musti malu? Gue kan ga nyuri (naudzubillah).

Maksud gue, bukan cuma di hal yang satu itu. Tapi banyak banget hal yang bikin gue akhirnya takut melangkah, gue takut begini begunu begana karena malu untuk yang hal-hal yang ga perlu. Padahal malu yang dimaksud sebagian dari iman itu bukan itu.

Intinya, jadilah dirimu sendiri, Tong. Ngapain malu menjadi diri sendiri? Ngapain juga malu untuk banyak hal yang sebenarnya justeru bikin kamu tambah maju. *nunjuk diri sendiri.

[Btw cerita mengenai personil Agb 14 masih dapet setengah. Ga selese selese karena emang ga gue kerjain. Hehe. Oke, oke. Semoga segera gue kerjain dan kelar. Meski cuma deskripsi dan remeh bagi bbrp orang, tapi bagi gue itu perlu sebagai kenang-kenangan buat diri gue sendiri. Gue tulis sendiri. Gue baca sendiri. Hehe. Kelak.]

Memiliki dua adik yang sudah remaja seringkali membuat aku merasa khawatir. Bahkan kadangkala aku berpikir, jika rasa khawatirku lebih besar dari rasa khawatir seorang orang tua kepada anaknya. Bagaimana tidak, kegiatan sekolah kerapkali membuat ia pulang sore. Atau UKM di kampus yang acapkali mengharuskan ia pulang larut malam. Aku bahkan tidak pernah mengkhawatirkan diriku sendiri seperti ini. Maka aku paham, mengapa Ibu dan Bapak sering belum bisa menelan nasi kala kakiku masih belum menapaki tanah di rumah kami. Lihatlah, diriku saja merasa memiliki rasa khawatir yang lebih besar pada adik-adikku daripada orang tua mereka sendiri. Ya, pikiran tidak mengenakan kalbu mudah saja berekelebat. Takut ada orang 'nakal' dan lain sebagainya.

Hmm, namun aku percaya jika shalawat telah mencakup segalanya. Lalu benarlah, Dia adalah sebaik-baik pelindung.

Aku biasanya lebih mengutamakan kualitas pelayanan kala bertransaksi jasa/barang. Tapi kali ini pikirku beda. Ini for business. Jadi aku rela menunggu agak lama demi bisa menekan harga. Lama karena pelayanan yang kurang dimanaj dengan baik. Padahal sebenarnya ia bisa multitasking, tapi memilih untuk menyelesaikan satu-satu. Aku berharap suatu saat tersedia kotak kritik dan saran. Hehe.

Di tengah perjalanan pulang aku bertanya dalam hati, kenapa bagian belakang motor seolah bergoyang? Tak ku dengar lagu dangdut melainkan riuh rendah beragam kendaraan. Aku pun berhenti sejenak. Ku dapati ban belakang kempes sekempes kempesnya. Hmm, alhamdulillah dapat ujian. Barangkali.

Bukan menuntun, aku malah mengendarainya perlahan. Ucap seorang Ibu paruh baya, ada tempat Tambal Ban yang tak jauh dari situ. Aku akhirnya mengendara dengan begitu hati-hati. Tak seperti sebelumnya, yang katanya ugal-ugalan. Padahal bagiku juga hati-hati.

Toleh kanan-toleh kiri. Tak kunjung kutemukan ban bekas yang ditulis dengan cat putih. Hmm, bismillah. Semoga tak jauh dari sini, rapalku. Hingga akhirnya mataku berbinar menyaksikan benda itu, ban yang ku maksud seolah melayang didepan. Namun sayang, ada bacaan: Tutup, di pintu depan.

Aku masih terus berharap dan melanjutkan perjalanan. Kemudian berdoa, semoga langkahku untuk tidak menuntun kuda mesin itu tidak memperburuk keadaan. Lalu beberapa belas meter jalan beraspal kulewati, aku sumringah. Tempat tambal ban yang lumayan besar masih terbuka lebar. Aku berhenti. Tukang tambal ban yang mendadak jadi superhero di penghujung Magrib itu menpersilahkan aku untuk duduk dengan bahasa Madura halus. Sebelumnya ia bertanya ada apa dengan bannya. Aku menjawab bahwa aku tidak mengetahuinya kemudian menambahkan sebuah pendapat jika barangkali bannya bocor dan perlu ditambal, dengan bahasa Madura halus pula, meski masih amburadul.

Beda dengan tukang tambal yang kutemui beberapa bulan lalu, ia justeru sangat ramah. Tanpa babibu ia langsung mencongkel ban dan melakukan operasi. Persis saat itu, pikiranku terseret ke tukang tambal ban yang kutemui dulu: jutek. Mungkin karena sedang ada masalah, tapi aku tentu tak mau mencari tahu. Yang jelas ia membalas keluhanku sebagai pelanggan dengan sinis. Ah, apa cuma perasaanku? Tapi ternyata temanku sependapat denganku. Hmm, memang, setiap manusia seringkali memiki karakter yang tak sama.

Baiklah, kembali ke tukang tambal ramah yang juga lebih mirip malaikat penolong ini. Ia ku sebut demikian karena sikap welcomenya yang juga tidak berlebihan. Jadi, pernahkah kalian pergi ke sebuah toko lalu lama sekali diacuhkan buka malah ditanyakan perihal keperluan. Ya begitu maksudku. Salah satunya.

Aku baru ingat, sebotol air mineral ukuran 600 ml yang kubeli siang tadi masih utuh. Segera ku rogoh tas dan kuhabiskan setengahnya. Sungguh nikmat yang tiada tara.

Alhamdulillah, selesai juga. Setelah selesai membayar dan mengucapkan banyak terimakasih (lebih dari satu), aku akhirnya melanjutkan perjalanan.

Beberapa belas menit kemudian aku tiba di jalan desa menuju rumah. Masih sama. Tiang lampu seolah hanya menjadi pajangan di kanan kiri. Jalannya? Lebih parah dari medan untuk track-track-an. Hmm, entahlah. Kemana saja dana desa sekian milyar yang sudah digelontorkan? Apakah pemimpin era kini memiliki pemahaman yang berbeda mengenai pelayanan?

Aku baru saja duduk dan meletakkan helm. Beberapa saat setelah itu adzan isyak berkumandang. Antara adzan dan iqomah adalah saat yang mustajab. Doa kulantunkan. Salah satunya perihal pelayanan.

Bangkalan, 28 Agustus 2018

Kalau aku bilang, aku ini bukan layaknya orang yang mau pergi ke kampus, melainkan ke pengajian, hehe. Karena penampilan yang menipu (wkwk) inilah yang membuat orang sering salah kaprah.
Seperti saat pergi ke pasar, seorang penjual sandal akan bertanya padaku dengan air muka kesungguhan: "Anak pondok ya? Mondok dimana, Nak?" 

Atau saat aku tengah menikmati perjalanan di dalam Bis, seseorang tiba-tiba bertanya senada, " Mondok dimana, Mbak?" 

Kala mencetak skripsi, aku bertanya pada pegawai apakah kertasnya bisa aku ganti. Tidak cukup menjawab dengan "iya", dia malah menimpaliku pertanyaan balik, "Dari Fakultas Keislaman ya, Mbak?"

Waktu masih kecil, aku memang berparadigma jika mahasiswa itu harus necis tampilannya. Adapun penampilan demikian aku definisikan dengan mereka menggunakan celana jeans, coat dan lain-lain. Pokoknya terlihat kece dan modis.
Tapi ternyata tidak selalu begitu waktu mamah tahu sendiri (iklan biskuit, hehe). Kita bebas memilih ingin tampil seperti apa. Bebas. Asal masih bisa ditoleransi. Jangan sampai kita mengenakan baju dengan kain beratus lapis yang bisa menyita banyak tempat di dalam ruangan. Atau baju berbahan kardus dan berbentuk kotak hingga amat susah untuk berjalan. Atau baju tipiiiiiiiis sampai membuat yang melihat saja merasa kedingingan. Hehe, baiklah, kita akhiri imajinasi ini.

Don't judge the book from its cover. Siapa yang menjamin jika yang memakai rok sudah tidak malas mengaji (dalam arti luas). Siapa yang tahu, jika yang begini begitu justeru masih dalam masa pencarian. Tetapi tidak masalah. Setiap orang memiliki jalan hijrahnya sendiri (karena seringkali nyaman itu kita yang merasakan, bukan orang lain. Lagipula kita tidak akan pernah mengetahui kedalaman isi hati, pikiran dan pemahaman seseorang). Pun pemahaman yang berbeda mengenai hijrah itu sendiri. Yang terpenting, kita tidak pernah  bosan untuk selalu meminta pemahaman yang benar dari yang Maha Benar.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Door Duisternis Tot Licht
  • Innamal A'malu Binniyat
  • Soal Ide, Implementasi Pesan dan Kecelakaan
  • Buat Apa Sih?!
  • Kamu Yakin Ngga sih?
  • Obsesi?
  • Rindu Allah
  • Kapan Nikah?
  • Hobi Gue Dengerin Musik. What?!!!
  • Berkaca Diri

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates