Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Saat menjejakkan kaki di tanah SDN Langsar 2 itu, hatiku memunculkan berbagai perasaan yang campur aduk. Entah itu nostalgia saat masih belajar di SD beberapa tahun silam. Atau karena banyaknya kenangan yang mengiris hari maupun mengesankan, menyenangkan. Belum lagi melihat wajah-wajah guru SD khas kebapakan ataupun keibuan. Keikhlasan yang terpancar lewat jari-jemari yang tak henti menggoreskan kapur di permukaan papan berwarna hitam pudar. Duh, disini masih menggunakan kapur? Apapun itu, mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang dengan rela membagi ilmunya. Mereka adalah asa. Oleh karenanya, menjadi seperti mereka bukanlah hal gampang dan patut diremehkan. Sebab mereka tidak hanya bertugas untuk mengajar, tapi juga mendidik.

Pandanganku juga menyapu para wajah siswa-siswa yang polos. Di sini adalah salah satu tempat yang menentukan karakter mereka, bobot mereka nantinya. Tempat dimana mereka harusnya tidak dibatasi untuk berkreasi. Karena mereka melakukan semuanya dengan keinginan dan kemampuan berbeda yang dimiliki setiap manusia. Bukan lantas diseragamkan. Inilah susah-susah gampangnya seni mendidik sebagai seorang guru. Apalagi, ini sekolah dasar, dan mereka adalah penerus bangsa.

---

Aku yang hari ini berkata, "Sudah ga pa-pa, Dek." pada seorang anak kelas 5 yang masih menulis terbata sedang temannya sudah selesai dari tadi. Seorang temannya merasa bosan menunggu, mereka harus membaca bersama. "Duh, ini nih lama banget, Mbak. Dia belum pandai menulis." "Loh, ga boleh bilang gitu. Suatu saat siapa tahu adik ini (aku menyebutkan nama) lebih handal dari kita semua. Kita tidak akan pernah tahu, bukan?" ucapku.

Begitulah, menjadi seorang guru bisa jadi perkara yang amat sulit atau bisa menjadi mudah. Guru perlu memahami karakter dari murid-muridnya. Guru perlu memahami bahwa setiap murid itu memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Guru perlu memahami jika setiap murid itu sama, sama-sama spesial. Guru perlu mengebelakangkan kepentingan dan egoisme pribadi. Guru itu amat luar biasa. Jika ia adalah sebenar-benarnya guru. Terlepas dari ungkapan "Tidak ada manusia yang sempurna".

---

Katanya, akan lebih baik jika potensi diri dikenali sejak dini. Lalu aku jadi teringat aku dulu. Aku tidak mengetahui apa bakatku. Kecenderungan menyukai pelajaran bahasa Indonesia, menggambar, dan bernyanyi belum mampu menyadarkan apa potensi dalam diri. Aku selalu saja berpikir aku tidak memiliki hal yang spesial. Hingga akhirnya saat kelas enam, seorang guru memberi semacam kuis menghafal dan menjawab vocabulary. Bagi yang bisa menjawab, mereka akan mendapatkan beragam hadiah berupa coklat, jelly dan mie instan. Haha. Serius.

Dan secara ajaib, aku mendapatkan ketiganya: coklat, jelly dan mie instan. Itu artinya aku menjawab beberapa kali. Tapi saat itu aku belum menyadari jika aku ternyata juga menyukai bahasa Inggris. Saat di SMP, aku relatif lebih sulit menghafal bahasa Arab ketimbang bahasa Inggris. Saat di MI, aku sampai harus 'kabur' jika diminta hafalan. Beruntunglah, sekali lagi secara ajaib, di MAN aku malah mudah (alhamdulillah) menghafal bahasa Arab.

Sebenarnya tidak ada yang terjadi secara ajaib. Allah telah menggariskan sebuah potensi dan bakat di setiap diri manusia. Hanya saja kadangkala potensi itu tidak digali dengan baik. Malah tertimbun pesimisme, rasa takut, dan lain-lain yang bisa jadi berasal dari lingkungan dalam artian luas.

Disitulah, guru begitu penting perannya. Sebagai pelita yang mampu memahami kegelapan yang ada di setiap kepala murid-muridnya. Entah itu kegelapan yang disebabkan oleh kebodohan, ketakutan, kebingungan dan lain sebagainya.

---

Omong-omong ditengah hiruk pikuk sifat materialisme, menjadi seorang guru sama sekali tidak linier dengan itu. Seorang guru dipenuhi oleh keikhlasan dalam hatinya. Mereka hanya ingin berjasa meski rupiah tak seberapa. Ah, bukankah mereka tidak akan pernah menyinggung perihal rupiah. Mereka hanya ingin berpayah-payah. Tapi kemana kemuliaan untuk mereka? Lantas seperti apa bentuknya? Apa hanya berupa lemabaran uang yang tiada habisnya?

---

Mereka, guru-guru tulus yang amat berjasa. Maka muliakanlah mereka.

Sumenep, 2017

Sekitar pukul 08:00 WIB hingga selesai, kami berpartisipasi dalam kegiatan kerja bhakti membersihkan lapangan voli milik PBV Krisna. Kemudian kami berbincang-bincang dengan tiga tokoh petani muda. Aku dan beberapa teman mengobrol santai dengan seorang sarjana lulusan Sastra Inggris yang kini mengelola petak-petak lahan dengan menanaminya cabai merah besar, cabai rawit, daun bawang, singkong dan sebagainya. Ini merupakan langkah yang amat berani dan patut diacungi dua jempol mengingat Langsar sangat kekurangan air. Juga langkahnya sebagai sarjana yang tidak gengsi untuk berkontribusi dalam dunia pertanian.

Telah banyak aku ketahui di luar sana petani yang sukses mengelola pertanian. Mereka kebanyakan tidak berbasic atau berasal dari program studi Agribisnis, Agroekoteknologi dan sebagainya. Beberapa pengakuan yang pernah aku ketahui adalah karena mereka ingin berkontribusi. Membangun negeri. Tak ayal, kegagalan demi kegagalan adalah hal biasa yang mereka hadapi. Kini mereka memiliki berhektar-hektar tambak, lahan pertanian, dan lain-lain. Semua karena perjuangan, keyakinan dan doa yang tidak pernah pupus.

Aku jadi bergidik sendiri memikirkan apa yang bisa aku lakukan setelah lulus menjadi sarjana nanti. Atau mungkin sebelum! Semakin aku bertanya apa saja pada beliau, aku malah semakin bergidik membayangkan kelak. Tapi tidak. Ku harap Allah akan senantiasa menuntun dan menumbuhkan rasa optimis, pantang menyerah, tekun, ulet dan semangat.
Seperti lulusan Sastra Inggris itu, beliau begitu ulet. Bersama teman-temannya ia menggarap lahan itu sendiri. Tuturnya, saat nanti memiliki banyak pekerja, ia tidak akan sampai dibodoh-bodohi.

Iya, impian beliau adalah memberdayakan masyarakat sekitar. Dengan adanya lahan pekerjaan baru, diharapkan pengangguran semakin berkurang. Beliau hanya ingin berbuat sesuatu untuk masyarakat sekitar. Oleh karenanya, tantangan akan kesulitan air berhasil diatasi dengan melakukan pengeboran. Awalnya mereka bimbang air tidak akan muncul karena berdasarkan pengalaman masyarakat yang telah mengebor dengan kedalaman tertentu tapi air tidak muncul-muncul. Sedang biaya telah banyak yang dikeluarkan.

Akhirnya, memberanikan diri pengeboran pun dilakukan. Dan syukur alhamdulillah kini mereka tidak kebingungan lagi untuk mengairi tanaman-tanaman itu.

---

Siang ini kaum adam mengunjungi tempat mebel untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan untuk membuat plang desa. Itu adalah salah satu proker utama kami. Selain itu mereka juga mencari barang-barang sisa mebel tidak terpakai yang nantinya bisa dibuat beragam prakarya.

---

Sore menjelang malam, kami bergegas ke masjid yang tak jauh dari posko. Seperti biasa, kami membimbing anak-anak kecil yang begitu menggemaskan untuk membaca al-Qur'an. Dan bagiku, ini adalah pengalaman yang menyenangkan. Mendamaikan. Tidak hanya karena membaca al-Qur'an. Tapi juga lebih karena anak-anak yang begitu hangat, riang dan ngalem. Mereka menghafal nama kami satu-satu. Kendati aku hanya hafal beberapa nama saja. Mereka juga begitu cerewet bercerita apa saja. Sampai-sampai aku bingung hendak berkomentar apa. Karena kadangkala aku yang cerewet ini bisa sangat pendiam. Ga percaya? Ya, sudah. Hehe.
Adapun bagian yang cukup menyebalkan adalah saat mereka mencubit kedua pipiku. Hmm, apa ini karma karena aku kerap mencubit pipi Nuh, ya?

Sumenep, 207

Belajar dari KKN, kuliah, masyarakat, tugas-tugas survei, dan Ustazah keren yang ku ceritakan di entri sebelumnya, satu hal yang sebenarnya amat penting: "Belajar Islam dengan lebih sungguh-sungguh." Inilah yang akhirnya membuat aku memberanikan diri untuk belajar mengaji ke Ustazah yang biasa dipanggil Bunda itu. Bayangkan saja, mungkin sudah enam tahun aku tidak belajar mengaji pada seorang guru di dunia nyata. Semenjak lulus SMP alias MTs, aku hanya belajar membaca al-Qur'an secara otodidak dan belajar daru guru maya melalui mp3, ialah Syeikh Misyaari Rasyid, seorang ulama besar.

Aku telah mengajak beberapa teman, tapi mereka enggan. Katanya takut, karena beliau memang terlihat begitu galak pada murid-muridnya. Padahal aku tahu, hatinya begitu lembut. Teriakan dahsyatnya hanya untuk mendidik mereka. Aku sendiri adalah pribadi yang tidak suka disinggung apalagi dibentak, tapi dengn mendengarkan bacaan tajwid beliau beberapa hari yang lalu, membuat aku ingin berguru. Maka akhirnya usai kami membantu beliau mengajari adik-adik mengaji, aku mendekati beliau untuk belajar juga. Bim salabim, air muka beliau seketika berubah begitu manis, setelah berkenalan asal, aku mengungkapkan jika tajwidku payah, lalu beliau bilang itu tidak masalah. Akhirnya aku mulai belajar. Dan.. Alhamdulillah, banyak yang salah. Sekali lagi, bayangkan, sudah enam tahun aku tidak belajar mengaji pada seorang guru di dunia nyata. Lalu aku bertanya apa saja perihal tajwid pada beliau, seseorang yang begitu ramah. Tidak jauh dari kami, seorang wanita cantik sepantar denganku tersenyum. Ia adalah putri Ustazah itu. Hmm, dalam hati aku bergumam, aku telah lama mendambakan seorang guru seperti beliau.

Aku sebenarnya tidak kaget jika bacaanku banyak yang salah, meski beliau bilang "Ngga, kok. Kamu sudah pintar." Ah, aku benar-benar tidak mempan dengan pujian, aku hanya ingin belajar. Barangkali belajar al-Qur'an membuat aku mengamalkan sedikit dari apa yang disebut "Belajar Islam dengan lebih sungguh-sungguh."

Jujur, aku sangat malu karena sebagai orang yang hidup di desa harusnya aku mampu membaca al-Qur'an dengan baik dan benar. Lebih-lebih memahami maknanya. Dan yang terpenting mengamalkan isinya. Tapi aku tidak ingin larut dalam rasa malu. Aku akan terus berdoa, semoga Allah senantiasa mempertemukan aku dengan guru-guru terbaik. Aamiin Allahumma 'Amin.

Terkadang aku menangis sendiri, jika pemahamanku mengenai agama amatlah minim. Aku sempat menyalahkan diri sendiri, kenapa aku dulu tidak mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Tapi sebetulnya tidak demikian. Ilmu bisa kita dapat dari berbagai buku. Guru yang paling sabar. Meski memang, akan selalu berbeda orang yang pernah mengikrarkan diri dan hatinya sebagai seorang santri. Tapi apa guna menangis, jika buku-buku telah menunggu kebodohan perihal agama untuk ditepis. Wallahua'lam.

Sumenep, 2017

Selain saya bersyukur saya belajar di Agribisnis. Saya juga bersyukur karena telah menjalani PKL di P4S Persada Nusantara Lumajang dimana kami benar-benar ditempa. Adapun 'benar-benar' mungkin hanya dalam standar saya, seseorang yang begitu manja. Salah satu hal yang membuat saya bersyukur bisa belajar Agribisnis karena setelah saya melihat beberapa program kerja yang mereka (teman-teman KKN dari kelompok lain) usung berbau pertanian. Pertanian dalam arti luas. Inilah yang akhirnya membuat sedikit ilmu yang saya dapat inshaa Allah bisa bermanfaat. 

Saya hanya ingin mengungkapkan rasa syukur. Rasa syukur yang biasanya hanya saya keluarkan lewat senyuman kala berhenti di sebuah pertanyaan---saat berbincang dengan seorang lelaki parubaya di dalam bus. Begini pertanyaannya: "Loh, kok ngambil Pertanian? Kenapa ga ambil Teknik, Dek. Anak saya ngambil Teknik." Tapi sungguh, saya tidak akan mendikotomikan ilmu pertanian dan ilmu lain. Semua ilmu pada akhirnya akan sama-sama bermanfaat dan diperlukan. Setitik ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan sungguh amat bermakna bila masanya tiba. Contoh kecil seperti pada kegiatan KKN kali ini.
Negara kita adalah negara agraris dan maritim. Oleh karenanya, diperlukan orang-orang yang kompeten dibidang tersebut.

Saya memang tidak seperti teman-teman (sejurusan) saya yang sudah mengamalkan ilmu Agribisnis dengan baik sejak dini. Mereka berjualan, menanam, melakukan pengolahan, melakukan promosi, dsbgnya. Tapi hari ini, saya lagi-lagi bersyukur, karena diminta untuk mewawancarai seorang tokoh masyarakat yang dikenal melakukan pertanian terintegrasi dengan amat baik sore ini. Tak kurang dari puluhan tanaman katanya. Ini karena kebanyakan anggota dari kelompok saya berlatar belakang ekonomi dan komunikasi. Padahal saya sebenarnya tidak terlalu paham mengenai bercocok tanam. Tapi ya bagaimana lagi, saya tidak akan menunggu keajaiban dikirimkan seorang teman berjurusan Agroekoteknologi, kan? Hadapi saja. Bukankah kemarin telah belajar dibuat kikuk di hadapan puluhan hijabers? Sensasinya lebih dari sekadar mengunjungi poktan, hehe.
Karena kegiatan yang ada di Desa Langsar ini cukup padat, semua anggota pasti akan mendapat giliran untuk menjadi delegasi. Ah, sungguh, saya masih saja gamang. Benarkah bisa ber-Kuliah Kerja Nyata? Juga dalam masyarakat sesungguhnya nanti. Khususnya desa saya sendiri. Hmm, bismillah!

"Nyata..nyata..nyata..nyata.." Suara cempreng Spongebob menggema di telinga saya.

Sumenep, 2017

Bu Kades dan keluarganya begitu hangat. Kelak saat meninggalkan mereka, perasaanku seperti ditumpuki berkilo-kilo beban, berat. Mereka amat tulus, tanpa pamrih membantu kami. Memberi apa yang bisa diberi dan kami butuhkan. Kadangkala Ibu dari Bu Kades mengantar makanan ke posko kami, yang tak jauh dari rumah beliau.

Pagi ini, kami para wanita membantu memasak di dapur Bu Kades untuk kemudian nantinya dinikmatin bersama. Para lelaki membantu Bapak-bapak kerja bakti, mengecat dan sebagainya di balai desa.

Magrib ini, kami ikut belajar mengaji di masjid yang tak jauh dari posko. Sistem mendidik yang dilakukan Ustazah ini begitu memesonaku. Seperti halnya tempat belajar lain, sebelum mengaji mereka akan membaca doa terlebih dahulu, kemudian membaca asmaul husna. Uniknya, anak kecil berusia lima tahun pun hafal dengan cepat. Aku saja menghafal asmaul husna dan artinya saat duduk di Madrasah Aliyah. Lalu ada semacam sesi muhasabah. Ini juga bagian favoritku. Mereka akan ditanyai pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari lisan ustazah tersebut.

Pertanyaannya antara lain:
Siapa yang sholatnya masih bolong?
Kenapa?
Siapa yang orang tuanya masih bolong sholatnya?
Siapa yang masih berani melawan pada orang tua?
Siapa yang masih terbiasa bilang "Ah" apalagi membentak?

Pertanyaan itu bertahap. Dengan berani mereka akan mengacungkan tangan, seusia TK hingga SMP sekalipun. Mereka dengan berani mengakui kesalahan. Memnceritakan setiap detail alasan yang kemudian dibalas sang ustazah dengan nasihat yang begitu keramat. Sejak amat dini, mereka telah dididik untuk berani mengakui kesalahan, berani berbicara di depan umum dan berani berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Anak-anak kecil yant imut-imut itu bercerita dengan lucu. Dengan wajah polos yang membuat siapa saja yang berpikir akan terenyuh. Berpikir dan merenungi setiap dosa yang dilakukan diri sendiri. Satu lagi yang membikin aku takjub, saat di pertanyaan, "Siapa yang orang tuanya masih bolong sholatnya?" yang mengangkat tangan justru dua kali lipat lebih banyak. Tak pelak membuat ustazah itu keheranan. Kemudian secara spontan, seorang anak kecil yang imut dan lucu berkata: "Saya sudah meminta orang tua saya untuk melaksanakan sholat, Bunda (panggilan untuk Ustazah). Tapi tetap saja tidak mau." Kemudian meluncurlah nasihat yang begitu bijak. Nasihat apapun, yang menurutku disampaikan dengan baik dan tepat. Pemahaman dan didikan yang mengesankan. Teringat dulu waktu aku masih kecil, aku hanya belajar mengaji tanpa mengetahui maknanya, untuk apa, bagaimana, dana lain-lain.

Yang membuat aku lebih kagum lagi anak seusia PAUD sudah berani adzan dan iqamah. Mereka semua terlihat begitu menggemaskan, lucu dan imut. Yang laki-laki mengenakan baju koko lengkap dengan celananya. Yang perempuan mengenakan mukena warna warni yang menyegarkan mata. Duh, setiap momen ingin rasanya aku abadikan dengan kamera. Sayangnya, cukup tidak mungkin jika aku akhirnya harus membawa hape ke masjid. Akhirnya aku hanya bisa memandangi dan mereka tingkah imut nan polos mereka. Mereka adalah cikal bakal bangsa ini. Adalah penerus agama yang di nanti-nanti. Secara tiba-tiba timbul keinginan untuk menjadi seorang guru ngaji, agar aku bisa memberikan pemahaman yang sama atau mungkin lebih baik dan luas. Khususnya di desaku sendiri.

---

Aku menceritakan kisah indah di atas pada keluargaku. Tentang aku yang iri karena Langsar masih melestarikan budayanya, memiliki banyak kegiatan dan perkumpulan, mempunyai guru ngaji seperti beliau, dan sebagainya. Terang saja, desa sekelas Langsar yang langka air mampu memiiki banyak kesibukan demi melestarikan kebudayaannya dan lain-lain. Mungkin ini salah satu alasan kenapa Sumenep dan Pamekasan selalu lebih dielu-elukan daripadan Sampang dan Bangkalan. Hmm.

Komentar seorang saudara membuat hatiku seketika ngilu: "Ane sudah bikin kegiatan. Ente aja yang ngilang dan lebih memilih pergi ke Surabaya." ujarnya.

Kalau sudah begini, aku lebih suka bercerita pada hamparan padi ketimbang pada langit yang terlampau tinggi. Sebab aku akan selalu terlihat salah karena akan selalu lebih rendah. Sedang dengan padi, aku akan selalu merasa kurang menjadi orang yang baik bersama-sama.

Di hari keenam ini, aku berpikir bahwa belajar dari KKN, kuliah, masyarakat, tugas-tugas survei, dan Ustazah keren tadi, satu hal yang sebenarnya amat penting: "Belajar Islam dengan lebih sungguh-sungguh."

Sumenep, 2017

Alhamdulillah, semua pada suka bukuku. Bukuku? Eh tapi kok kita jadi baca novel berjemaah. Sedang kemarin ga mandi berjemaah *ups. BTW novel yang aku baca kali ini sarat akan dakwah di sepanjang aliran kalimat. Terselubung oleh metafora, jadi tidak terkesan menggurui. Ini novel best seller karya Sibel Serasan yang berjudul Fatimah Az Zahra. Setelah membaca bersama, kami akhirnya ketiduran secara berjamaah. Haefh.

---

Kami mengawali hari ini dengan melakukan percobaan produk lagi setelah sebelumnya melakukan percobaan sebelum masa KKN. Kali ini kami mencoba membuat nugget berbahan baku daging singkong dengan tambahan daun singkong dan rolade berbahan baku tahu juga dengan tambahan daun singkong. Syukurlah, kegiatan ini berjalan dengan lancar. Sekitar seminggu ke depan, sosialisasi akan dilakukan di Langsar tentunya. Sebelumnya kami ingin melakukan pengolahan buah Srikaya sebagai salah satu program kerja utama kami. Mengingat buah Srikaya yang paling unggul adalah dari Langsar ini, se-Indonesia, katanya. Namun karena belum musim buah tersebut akhirnya kami mengolah komoditas lain yang juga potensial karena merupakan komoditas yang mudah ditemui. Begitulah, hidup tidak hanya dipenuhi dengan rencana A, tapi harus ada rencana B dan lain-lain.

Kemudian siang hari aku, Afifa dan Ana didelegasikan oleh Koordinator Desa untuk menghadiri acara sholawatan rutin oleh Ibu-Ibu yang terlihat bak hijabers. Mereka menamai perkumpulan mereka Sholawatan Al-Barokah.
Mereka berhasil membuat kami bertiga kikuk. Afifa dan Ana benar-benar takut diminta membaca sholawat menggunakan microfon.

Setelah sesi membaca sholawat, tiba-tiba kami diminta untuk memberikan sambutan. Hah! Kita mengira hanya untuk memenuhi undangan seperti masyarakat biasa. Duduk manis, sholawatan dan mengikuti rangkaian acara. Dan akhirnya aku dijadikan tumbal oleh Ana dan Afifa. Benar-benar duo A yang amat tega. Aku mulai mengarang kata di kepala. Mengungkapkan apa saja yang kami sebut sebagai program kerja. Permohonan maaf karena hanya perwakilan yang memenuhi undangan. Dan lain-lain.

Sepulangnya dari sana usai berfoto bersama, kami cekikikan dan ngakak (jangan ditiru, muslimah kok ngakak, hihi.) mengenang ke-kikuk-an kami. Aku juga. Aku mengutuki mereka bercanda karena telah menjadikanku tumbal. Lalu mereka ngeles dengan santainya:

"Mending kamu, Lut. Aku ga bisa ngomong. Kamu tadi bagus."

"Dari mananya? Orang muter-muter gitu. Hufft." timpalku.

---

Malam harinya kami menyibukkan diri dengan mengadakan bimbing belajar bersama anak-anak SD dan SMP sekitar langsar. Kemudian beberapa menggarap buku desa sebagai salah satu tugas yang perlu dipenuhi. Akan tetapi alasan yang terpenting adalah sebagai semacam pemberian untuk Langsar. Naskah nantinya juga akan dipublikasikan lewat weblog. Aku membantu mengetik sedikit, hehe.

---

Perkumpulan Sholawatan Al-Barokah di anggotai oleh 40 orang dan didirikan pada tahun 2001. Ibu-ibu anggota tidak hanya berasal dari Langsar, tapi banyak dari desa lain seperti Kebundadap Barat yang akhirnya bergabung. Arisan adalah kesibukan lain yang dilakukan komunitas ini. Di dalamnya terdapat aturan-aturan yang ditegakkan demi keberlangsungan komunitas. Seluk beluk mengenai Sholawatan Al-Barokah bisa anda baca di langsar.blogdesa.net  *soon, hehe😅

Sumenep, 2017

Aku tidak masalah jika mereka menganggapku berbeda karena tidak ikut serta bermain uno, karena memilih sendirian ke kamar mandi, karena diam saat semua terlalu banyak bicara, karena aku tidak mau menggunjing seseorang, karena aku bersikap independen dan berusaha ramah pada setiap orang, karena aku sering kali tidak suka keramaian, kadang kala lebih sering menyendiri, dsb. Aku tidak masalah karena dianggap berbeda, seperti oleh kakak perempuanku hanya karena tidak mau ribut perihal baju lebaran, tidak mau sibuk memikirkan riasan, tidak mau membalas keburukan, dsb. Aku sungguh tidak peduli mereka melihatku seperti apa. Karena hakikatnya, akulah yang lebih tau seperti apa aku. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Pun aku akan menghargai setiap sikap mereka. Namun tenanglah, aku tidak akan pernah menuntut hal yang sama.

Sumenep, 2017

Jadi ceritanya pagi ini usai sarapan gue ngangkatin aer (aslinya sih air, tapi biar sok akrab gitu, hehe) dari tandon ke tempat nyuci baju. Soalnya nunggu aer dateng itu lama banget. Iya, di Langsar ini susah banget aer bersih. Butuh dilakukan pengeboran sedalam 90-100 meter dengn biaya mencapa 30-40 juta rupiah. Akhirnya, masyarakat Desa Langsar memenuhi kebutuhan aer sehari-hari dengan membeli dan menyimpannya di tandon berukuran besar. Menurut perbicangan yang gue lakuin dengan seorang warga, hanya tiga kepala keluarga yang memiliki sumur bor sendiri. Awalnya mereka ragu, Langsar memiliki sumber aer yang bisa dibor. Karena berdasarkan pengalaman, ada seorang warga yang telah melakukan pengeboran dengan kedalaman sekian tapi aer belum memancar juga. Namun pada akhirnya seorang warga berhasil dan diteladani warga lain.

Ini BTW kalo gue tiap ari ngangkat aer kek gini, inshaa Allah pulang KKN gue bakalan berotot yak. Hehe. Ga pa-pa lah, namanya juga KKN. Masak mau yang enak-enak. Eh, pengen gitu ya KKN di Papua, kulit menghitam karena panas (meskipun emang), belajar bahasanya, makan papeda dengan kuah ikan dan sambel khasnya (makanan mulu piliran loe --"). Hihi, semoga disini ga cuma pindah makan sama tidur. Kalo demikian gue mau pulang aja. Makan dan tidur di rumah, hehe. Eh iya, pas awal gue disini lucu aja dengerin aksen bahasa Madura orang sini, mirip dikit ama bahasa Papua. Sebenernya ga kaget juga sih karena di kampus gue sering denger Uus, Bismi, Mega, dan Hendra kalo ngomong. Tapi bagi gue lucu aja dengernya.

---

Dengan begini, gue jadi belajar buat lebih ngehargain. Soalnya biasanya suka boros make aer kalo di rumah, suka males mandi *ups, dan perilaku buruk lainnya. Disini gue bener-bener dilatih untuk pandai bersyukur. Salam save water!

Sumenep, 2017

Sekarang aku mulai mengerti, mengapa beberapa guruku di SLTA dan beberapa teman sering bilang bahwa aku adalah orang yang amat pendiam. Lihatlah, disini begitu berisik. Semua seperti memekik. Mengatur tata ruang kadang bias, lebih banyak menggunakan mulut apa tangan. Dan aku mulutku hanya bisa diam.
Apapun itu, kurang lebih sebulan ke depan mereka akan menjadi keluargaku, yang bersama-sama hendak mengabdi untuk negeri. Maka aku akan menerima setiap perbedaan yang mutlak dimiliki setiap orang.

Beberapa minggu sebelum hari keberangkatan KKN aku gamang. Benarkah bisa memberikan yang terbaik. Benarkah bisa berkuliah kerja nyata?

Hanya bisa berdoa, semoga Allah senantiasa memudahkan langkah-langkah ringkih kami dalam meraih mimpi-mimpi. Juga mampu berusaha sepenuh jiwa dan semampunya. Agar tidak ada sesal kelak. Membikin hati tiba-tiba sesak.

Omong-omong, selain memilki program kerja (proker) kelompok, aku juga merencanakan untuk membuat proker pribadi. Proker pribadi utamaku ialah mampu berbicara dalam Bahasa Jawa. Ah, padahal itu adalah proker sejak menjalankan PKL (Praktik Kerja Lapang) dulu.

---

Tadi pagi, semua peserta KKN yang berjumlah seribu lebih itu memenuhi area taman kampus depan Rektorat untuk melaksanakan upacara keberangkatan. Upacara yang menggetarkan. Pihak kampus melepas kami, orang-orang yang telah ditempa beberapa waktu untuk kemudian benar-benar melakukan semacam program uji coba mengabdi secara riil kepada masyarakat. Duhai, kami ---yang katanya---adalah agent of change. Semoga betul-betul tidak hanya pandai foto selfie dan bermain game. Mau jadi apa negara ini kalau kita saja seperti ini? Siapa lagi kalau bukan kita?

Anyway, sering kali aku terpana dengan beragam talenta. Mereka memberikan kontribusi dengan kepiawaiannya masing-masing. Lantas aku bertanya, "Apa yang telah aku berikan pada negeri ini?". Sementara, ku temukan limpahan talenta di setiap sudut kota. Aku tertunduk, merenungi diri yang masih belum lihai apa-apa. "Mampukah aku seperti mereka?". Pertanyaan bertubi-tubi yang sebenarnya kadang menyakiti diri sendiri. Lalu kesimpulan mengagumkan kudapat. Bahwa setiap orang berhak memiliki cita tak terbatas. Yang membatasi hanyalah kita sendiri. Apakah kita memandang cita hanya sebatas IPK. Atau sebatas bangku kelas, sekotak kamar, jalan buntu, dan sebagainya. Karena makin besar ikhtiar (usaha dan doa) kita, makin besar pula kemudahan untuk menghilangkan batas-batas yang menghalangi langkah kita untuk menjadi harapan bangsa. Wallahua'lam~

Sumenep, 2017

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Seperti aku yang hari ini masih tidak enak badan. Padahal esok adalah hari keberangkatan KKN (Kuliah Kerja Nyata). Sebenarnya sudah seminggu terakhir kesehatanku menurun. Bahkan seminggu yang lalu aku sudah pergi ke dokter. Lebih tepatnya ke bidan setempat. Seperti biasa, amandel, demam, flu dan low blood pressure. Aku bersyukur, itu cara Allah mengurangi dosaku atau mungkin menegur kesalahanku. Seperti biasa juga, aku tetap keras kepala melakukan rutinitas seperti biasa. Pikirku, banyak mahasiswa yang lebih tangguh. Apalagi aku dengan sakit yang tak seberapa ini.

Aku ingat betul. Dulu saat masih SD, aku kerap keras kepala masuk sekolah meski kurang enak badan. Akhirnya Ibu mengomeliku. Tapi tetap saja aku berangkat. Hingga saat beberapa jam belajar dikelas, aku benar-benar sakit hingga harus dibawa ke UKS (Unit Kesehatan Sekolah) untuk kemudian diantar ke rumah. Selama belajar di sekolah dasar, tak kurang dari tiga kali kejadian itu terulang.

Akhirnya, pagi ini berhasil (maaf) memuntahkan segelas susu yang tadi pagi aku minum dengan sepenuh hati sebagai pengisi perut agar tidak diomeli Ibu. Dan lihatlah sekarang, ia pergi dengan paksa. Aku melihatnya penuh iba. Ini untuk pertama kalinya terjadi, saat telah bertahun-tahun aku menaiki bus mini menuju kampus. Pertama kalinya.

"Kenapa masih masuk?, tugasmu sudah selesai, kan? Tinggal dikumpulkan besok."

"Iya sih punyaku sudah, tapi punya anggota kelompokku yang lain belum. Kita perlu kerja kelompok lagi."

"Ya, tapi kan kalo sakit seperti ini jangan dipaksakan."

"Hehe, ga pa-pa kok."

---

Hari ini adalah akhir dari rentetan tugas yang menumpuk dan meminta untuk dilunasi. Esok, aku akan menghadapi tugas baru. Tentu saja akan lebih berat, indah atau mungkin mengesankan.

Sungguh, aku memang kerap kali merasa gugup menatap masa depan karena melihat ikhtiarku. Tapi benar, aku sama sekali tidak takut menghadapi tantangan, masalah, dan semacamnya. Sejak kecil aku sudah terlalu banyak dan sering merasa takut. Inilah saat dimana aku akan berusaha untuk berani menghadapi apapun. Aku tidak takut.

"I am not afraid to face the world because Allah is always be with me."

Sumenep, 2017

Semenjak kuliah, kebiasaan nonton film jadi ga biasa lagi. Hehe. Jangankan nonton film. Pas semester enam aja, hampir ga pernah nonton TV. Jadi ketinggalan berita deh. Memang sih, di hape ada. Tapi di TV itu menurut gue beda, dari berbagai sisi. Eh, tapi selama semester enam ini bisa nyempetin nonton tiga film, ialah Moana, The Boss Baby dan Beauty and The Beast. Hehe, cuma tiga. Pas esempe, sehari bisa satu film. Entah film action dan sebagainya. Walaupun kalo ditanya judulnya pasti ga inget. Yang lebih diinget---biasanya---alur ceritanya.
Apa ya, yang bikin kebiasaan yang satu ini jadi hampir ngilang? Padahal di rumah cuma bengong, makan, tidur. Kemudian bengong, makan, tidur. (hehe, semoga tidak separah ini kenyataannya). Iya, padahal juga, dengan teknologi terkini amat mungkin buat nonton film berjam-jam. Belum lagi promo kuota di mana-mana yang makin berlomba-lomba. Ini, jatah kuota buat nonton drakor aja ga kepake. Ga paham juga, apa drakor yang recommended buat ditonton~

Balik lagi ke ketiga film yang gue tonton selama semester enam. The boss baby, film yang menurut gue lucu aja. Ide keren yang bisa ditampilin dengan film sarat makna. Lalu Moana, film yang sepertinya 'gue' banget. Hehe. Dan Beauty and The Beast, adalah film yang bikin leleh. Ada bagian yang menurut gue touching, menyentuh. Film dengan bubuhan orang-orang yang pandai bernyanyi, Emma Watson yang aktingnya tak ada yang sangsi, dsbgnya menjadi perpaduan yang pas sekali. Meski, selalu, dalam film kadangkala ada bumbu yang sebenarnya tidak perlu. Itu film apa Coto Makasar?
Eh, baru inget, ternyata juga sempet liat film Cahaya Cinta Pesantren dan Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea di TV. Hehe, maaf, suka lupa. Manusia kan begitu~

Sesuatu, kalo tidak berlebihan insyaAllah ada manfaatnya. Yang perlu digarisbawahi, setiap orang selalu punya wadah untuk berkarya, berbagi dan meraup inspirasi. Nonton film, menurut gue bisa bikin wawasan lebih luas atau bahkan termotivasi. Gue juga kadang mikir, "Kok bisa ya punya ide seperti itu?, Kapan bisa kesitu?, Ini bikinnya gimana?, lokasinya dimana?, designernya siapa?, dubber?" dll.
Yang terpenting adalah kita selalu mampu untuk berpikir, mana yang baik dan bermanfaat untuk diri kita, bukan untuk orang lain. Sayangnya, kadang meski kita paham, kita kerap pura-pura lupa. Bahwa ini hanya sebatas kesenangan. Ini tidak membuat diri kita berkembang. Tak ada faedah, karena bidang kita sama sekali tidak sejalan dengan kebiasaan ini. Terlalu berlebihan dosisnya, sementara usia tak lagi muda. Dan lain-lain. Kita kerap pura-pura lupa. Gue juga~

Baiklah, kalo kalian punya film baru, gue minta! 😂

Aku seperti Laras yang mengagumi Shinta. Laras adalah salah satu tokoh dalam novel yang berjudul Aurora di Langit Alengka karya Agus Andoko. Dia begitu mengagumi Shinta. Sama sepertiku. Aku mengagumi seorang wanita yang ku anggap sebagai seorang Shinta. Dia wanita yang amat aku cinta sayangi. Dia juga yang meminjamkan novel itu padaku. Dan puluhan novel lain.

Dia adalah sosok yang begitu sederhana. Dia bak Kartini yang tidak pernah terlampau bangga hanya karena keturunan orang terpandang. Dia, dalam catatan pendek ini harusnya ku panggil dengan kata "beliau" tapi dia pasti akan menolak. Eh, ini kan perihal Shinta. Kenapa bawa-bawa Ibu Kartini? Hihihi.

Dia itu orangnya moderat dan toleran, namun berusaha untuk tidak meninggalkan ajaran-ajaran fitrah dalam Islam. Salah satunya, bisa dilihat dari banyak dan beragamnya teman yang dia rangkul. Juga dari tutur kata yang dia alirkan lewat jari jemari maupun lisan.

Dia ibarat kata telah melalui banyak pahit manis kehidupan dengan amat tangguh. Ketangguhan yang diajarkan oleh Sang Ibu.

Meski telah mencicipi berupa makanan mahal di restoran, dia tak sungkan jika hanya makan dengan ikan asin. Sesekali berceloteh riang, "Aku suka kepalanya!". Entah, benar adanya atau itu adalah caranya menghargai kehidupan.

Dia juga kritis. Dia pendiam. Namun sekali bicara seseorang justru akan terdiam. Pernah seorang teman kampusnya yang memang tidak akrab nyinyir berkata, "Kamu tuh ya. Ke kampus pakai rok mulu. Memangnya ga malu? Ndeso banget". Dengan kalimat semacam itu dia hanya mampu terdiam bersabar. Hingga akhirnya kalimat serupa di waktu yang berbeda untuk kesekian kalinya membuat dia angkat bicara: "Memangnya kenapa kalau aku pakai rok? Aku ini dari pesantren. Kalau bisa aku akan mengenakan sarung kesini". Sontak jawaban ini membuat wanita itu tersipu begitu malu.

Baru-baru ini saat buah hatinya menjalani opname di sebuah RS dia mengeluarkan karakternya. Kala itu dia hendak keluar. Namun Satpam melarang dan berkata dengan galak: "Mau kemana, Buk? Kalau mau keluar jangan masuk ke dalam lagi ya!" kira-kira begitu kalimatnya. Akhirnya, Shintaku itu menjawab: "Saya hanya ingin membeli sesuatu. Saya tidak akan membawa rombongan tamu. Kalau saya tidak diijinkan masuk lagi, memangnya sampean yang mau menyusui anak saya?". Tak pelak jawaban ini membuat Satpam itu skakmat dan membukakan pintu.

Wawasannya juga luas. Kala berkumpul dengan keluarga dan bercerita, dia menyimak dan sesekali ikut tertawa. Kadangkala dia menimpali cerita dengan kisah-kisah menarik yang dia punya. Entah ia kutip dari berbagai artikel, buku atau pengalaman. Dia selalu punya bahan untuk dibagikan dengan cara yang elegan. Dengan cara yang rendah hati.
Dan sifat rendah hati seringkali hanya bisa dilihat oleh orang lain, bukan diri sendiri.

Omong-omong tentang keluarganya yang terpandang, tidak pernah ia ungkit-ungkit. Barang hanya sekelumit. Biarlah hidupnya mengalir apa adanya. Dia hanyalah seorang hamba. Begitulah yang bisa aku simpulkan dari sorot matanya. Juga gerak geriknya.

Aku saja, kadangkala masih manja. Ya, iyalah, memangnya kamu sempurna?. Saat bersih-bersih aku seringkali milih-milih. Merasa jijik, dan sebagainya. Tapi siapa sangka. Dia dengan segala yang dia punya bahkan lebih telaten dari orang kebanyakan. Merawat siapapun tanpa tebang pilih. Apakah itu kandung atau tidak. Dia melakukan dengan sepenuh hati. Tanpa ingin dibilang itu ini.

Dalam perkataannya, dia selalu bilang tidak bisa. Namun justru itu membuatnya makin terlihat bahwa dia bisa segalanya. 'Segala' untuk ukuran seorang manusia.

Dia juga amat dermawan. Memberi tanpa berharap seuntai balasan.

Jangan tanya apakah dia pandai memasak. Karena meski ia lulusan Ekonomi, masakannya selalu enak.

---

Saat mengalami pembuangan ke Hutan Dandaka, (Hehe, tak tahu adat betul aku, ya? Rumah orang dikatain hutan) dia menjalani dengan penuh suka cita. Jadi, siapakah laki-laki beruntung itu? Siapakah sang Rama?

Rama. Dalam penglihatanku, kebaikannya yang jumlahnya jutaan itu selalu tertutupi dengan perilaku yang kadang menyebalkan. Ya, bagiku dia kerap menyebalkan. Tapi kalau mau ditelaah lagi, dia juga mendekati kriteria laki-laki sempurna. 'Sempurna' untuk ukuran manusia biasa (bukan Rasul, Nabi, dll). Bukankah sudah ku bilang dia juga melakukan berjuta kebaikan.

Kalau mau di gali dan di pahami, Rama memiliki banyak kesamaan dengan Shinta. Rama adalah orang yang berkalilipat lebih kritis. Dia juga sederhana karena memang (Rama yang ini) tumbuh dari kelurga yang sederhana. Dia juga telah merasakan banyaknya getir kehidupan.

Rama juga memiliki banyak teman dan dia juga dermawan. Meski lelaki, dia pandai memasak. Dia memiliki wawasan dari pengalamannya yang luas. Rama tidak mudah jijik dan seorang pekerja keras.

---

Aku sadar, dia (Shinta yang ini) hanyalah manusia biasa. Yang tidak akan pernah luput dari salah dan dosa. Tapi tetap saja. Aku seperti Laras yang mengagumi Shinta.

Bangkalan, 2 Juli 2017 - 01:05 WIB

Menjadi orang tua bukan hanya tentang kemampuan untuk mencukupi sandang, pangan dan papan anak-anaknya. Tapi bagaimana membuat sang anak selalu bermimpi untuk meraih ketaqwaan. Karena kebahagiaan sejati bagi seorang hamba adalah saat dekat dengan Tuhannya.

Mungkin kita pernah melihat, kedua orang tua yang mampu mencukupi permintaan anaknya saat menginginkan baju. Karena mampu, orang tua tersebut tanpa babibu akan membelikan apa yang diingankan sang anak. Pun saat anak dengan mudah memperoleh mainan dan barang lain yang mereka minta. Kita akan melihat, bahwa orang tua seperti itu telah mendidik anak dengan amat benar karena membahagiakannya. Namun siapa sangka, mereka ternyata mengajarkan kemudahan pada sang anak. Mereka mudah mendapat apa yang mereka mau. Tanpa ada usaha lebih. Atau mungkin, orang tua telah mengajarkan pada sang anak untuk bisa membeli apa saja meskipun barang yang dibeli bukan barang 'kebutuhan'. Melainkan barang 'keinginan' semata.

Kita mungkin juga pernah menemui orang tua yang mampu memenuhi perut anak-anak mereka dengan makanan, tanpa memperhatikan halal tidaknya uang yang pakai untuk membeli. Padahal, orang tua perlu begitu waspada dan hati-hati terhadap apa yang masuk kedalam perut anak-anak mereka, yang nantinya akan menjadi daging dan mengalir menjadi darah. Ini yang juga akan menentukan kesalehan dan ketaqwaan seorang anak. Maka jangan heran jika anak kita nakal. Muhasabah diri. Barangkali ada yang salah dengan nafkah yang didapat selama ini.

Pernahkah kita mendengar sebuah kalimat yang kurang lebih berbunyi, "Sebuah keluarga yang bahagia tidak hanya identik dengan rumah yang kokoh, anak-anak yang lucu, istri idaman dan lain-lain. Karena hakikatnya, keluarga adalah tempat dan jalan untuk bersama-sama membangun rumah di surga." Itulah mengapa, keluarga tidak melulu tentang memaksakan kehendak untuk memiliki rumah mewah nan megah. Atau memiliki istri dan keturunan yang sehat. Melainkan akan selalu ada ujian, agar nantinya bisa menggapai Jannah bersama-sama. Meski memang, sebagai hamba yang biasa-biasa saja, akan menjadi berat untuk menjalani sebuah ujian. Untuk itu, marilah belajar menjadi hamba yang lebih dari biasanya. Hanya lebih, bukan luar biasa.

---

Menjadi orang tua adalah tentang bagaimana seseorang mampu memberikan pendidikan karakter dengan mengimplementasikan karakter. Karena seorang anak lebih suka mengikuti daripada digurui.

Aneh jika orang tua memerintahkan sang anak untuk bertaqwa tapi orang tua malah enggan. Walau kadang dalam beberapa kasus justru anak yang menyadarkan orang tua.

Juga banyak kita temukan, orang tua yang terlalu sibuk mencari sandang, pangan dan papan untuk anak-anaknya hingga lupa untuk memberikan asupan karakter pada anak-anaknya. Mereka lupa justru itulah hal yang begitu krusial. Kenyataan seperti ini tentunya membuat kita amat prihatin.

---

Dulu saat Ibu ingin membantu Bapak dengan berjualan di pasar, Bapak melarangnya. Kata Bapak, biarlah beliau yang sibuk mencari nafkah. Agar Ibu bisa dengan optimal mengaduh anak-anak dengan baik, kasih sayang dan berbudi luhur. Dari awal Bapak memang tidak pernah mengizinkan, hingga sekarang. Karena demikianlah alasannya.

Meski begitu, juga ada orang tua yang sibuk mencari nafkah, namun tetap mampu mendidik dan memberikan kasih sayang untuk anak-anak mereka. Maka, hebatlah seseorang yang mampu menjadi sebenar-benarnya orang tua.

Aku sendiri sama sekali belum siap untuk menjadi orang tua yang mumpuni. Karena, bukan perkara yang main-main untuk bisa menjadi orang tua. Ya, memanglah tidak mudah, tapi semoga selalu dimudahkan oleh-Nya.

Yang perlu diingat, menjadi orang tua bukanlah sebuah lomba lari. Melainkan garis yang telah ditakdirkan oleh Illahi.

Terus berdoa agar senantiasa diberikan kemudahan untuk menempa diri dengan ilmu. Agar kelak mampu menjadi orang tua yang bermutu.

InsyaaAllah.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Door Duisternis Tot Licht
  • Innamal A'malu Binniyat
  • Soal Ide, Implementasi Pesan dan Kecelakaan
  • Buat Apa Sih?!
  • Kamu Yakin Ngga sih?
  • Obsesi?
  • Rindu Allah
  • Kapan Nikah?
  • Hobi Gue Dengerin Musik. What?!!!
  • Berkaca Diri

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates