Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Tentu semua setuju bahwa setiap hari adalah Hari Ibu. Selamanya adalah Hari Ibu. Namun mungkin peringatan Hari Ibu ini menjadi salah satu momen untuk mengingat kembali setiap kesalahan yang pernah kita lakukan kepada ibu kita. Untuk kemudian mulai mencari cara bagaimana memperbaikinya, bagaimana mengantinya dengan ragam kebaikan. Apapun itu, aku yakin akan selalu ada cara.

Well, tiap kita punya definisi Ibu masing-masing. Ada yang menjadikan ayah sebagai Ibu, nenek sebagai ibu, bibi sebagai ibu dan seterusnya. Meski sejatinya, saat seorang ibu sudah tak membersamai, mereka tak pernah terganti. Betul, yang ada dalam benakku juga demikian. Ibuku, bagiku tak akan pernah bisa digantikan. Bahkan jika aku dilahirkan kembali dan ditanya, aku tetap ingin lahir dari ibuku, terlepas dari kekurangan yang dimilikinya. Sebab beliau punya kelebihan tak terhingga, dan kekurangannya hanyalah seperciknya saja.

Aku mungkin salah satu yang beruntung, memiliki ibu seperti beliau. Aku tidak bercerita ini untuk membanding-bandingkan. Karena aku yakin, setiap ibu spesial. Sedang ibuku spesial karena dari kecil selalu mengutamakan anak-anaknya. Dalam banyak hal. Aku ingat sekali saat aku duduk di bangku pertama sekolah dasar kemudian sakit cacar berbulan-bulan, di-bully beberapa teman dan 'ditodong' untuk berhenti sekolah saja---Ibu nampak tidak ambil pusing dengan keputusanku untuk berhenti sekolah. Dia tidak mengutamakan ego dan gengsinya. Dengan santai, beliau bilang aku bisa sekolah lagi tahun depan. Saat itu aku berusia enam tahun. Seolah mengambil gap year, aku lalu kembali bersekolah di tahun berikutnya, di usia ketujuh.

Pagi itu begitu dingin. Ibu membangunkanku untuk mandi dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. Di hari pertama itu, ibu memandikan, menyiapkan perlengkapan, memakaikan baju dan menyiapkan sarapan. Tak akan pernah aku lupa saat Ibu memakaikanku kaos dalam saat gigiku masih bergemeletak kedinginan. Hebatnya, Ibu tak memaksaku sama sekali. Saat itu murni keinginanku sendiri untuk sekolah lagi. Tentu dengan dukungan beliau juga.

Ada banyak sekali momen yang begitu berkesan dan tidak bisa ku lupa. Namun momen lain yang mungkin akan aku sebut juga adalah saat hari libur sekolah aku diminta ibu untuk menjaga adikku karena beliau membantu bapak di sawah. Aku ingat sekali, waktu itu adikku menangis kencang dan tidak mau berhenti meski telah berusaha ku tenangkan. Saat ku gendong ternyata tangisnya malah semakin keras. Sampai aku rasanya putus asa dan tidak tahu lagi harus berbuat apa. Di rumah hanya tinggal kami berdua, aku dan adikku, Matus. Jika asumsinya aku berusia 8 tahun, maka adikku 4 tahun. Lalu tiba-tiba ibu datang, meski masih kelelahan ibu langsung menggendong adikku. Dia akhirnya senyap. Benar-benar seperti malaikat penolong yang tiba-tiba datang di detik keputusasaan. Dan benar, dalam kehidupan sebenarnya beliau memang selalu menjadi malaikatku.

Dari kisah itu, aku jadi teringat: ibu katanya memang hanya seorang ibu rumah tangga namun beliau sangat luar biasa karena hampir mampu mengerjakan semua hal. Seperti bekerja di sawah, mengambil pakan ternak, mencari kayu bakar, menjual ternak  dan beberapa hasil kebun di pasar dan lain sebagainya. Bahkan aku ingat sekali kalau ibu sudah bekerja di sawah, beliau akan sedikit sekali istirahat dan banyak bekerja. Ya, beliau adalah sosok pekerja keras.

Hal lain yang membuat aku sangat bersyukur adalah saat ibu tidak pernah mempermasalahkan nilaiku di kelas dan hingga aku dewasapun tidak pernah menuntutku untuk menjadi ini dan itu, begini dan begitu. Aku tidak bilang bahwa seorang ibu yang mengarahkan anaknya adalah ibu yang buruk, atau penuntut. Karena sejatinya tiap ibu memiliki cara yang berbeda untuk mendidik anak-anak mereka. Kita tidak bisa menghakimi satu sama lain. Kelebihan ibu yang satu ini juga kerap kali membuat aku dan ibu berbeda pendapat tentang konsep untuk bermimpi besar. Jika aku ingin sekali bermimpi besar maka ibu bilang, jangan terlalu bermimpi besar. Namun pada akhirnya, kita seringkali sefrekuensi.

Selain perbedaan prestasiku di kelas yang begitu signifikan dengan saudaraku yang lain, aku barangkali juga memiliki karakter yang juga berbeda. Aku bahkan kerap dilabeli anak yang cengeng. Karena kerap menangis saat dibawa kemana-mana. Terutama saat naik kendaraan umum. Tapi ibu hampir selalu membawaku bepergian, dia tidak pernah menghakimi aku yang acapkali berbeda dari anak-anaknya yang lain.

Berbicara tentang karakter, saat kuliah aku pernah bercerita tentang beberapa orang yang kerap mem-body shaming dan lain-lain. Namun selalu, dari kecil ibu selalu bilang untuk tidak diambil hati. Tidak usah dibalas. Tidak usah dihiraukan. Jangan berhenti untuk belajar menjadi orang baik hanya karena perlakuan orang lain.

Hmm, aku menulis ini untuk ibuku tapi beliau tidak bisa membaca. Tapi aku percaya beliau bisa merasakannya. Semoga hari ibu kali ini menjadi perenungan yang begitu dalam untuk kita semua. Bahwa kesempatan untuk mendapati kedua orang tua yang utuh hingga kini adalah kebahagiaan yang tidak boleh terlewatkan. Maka yang boleh diberikan pada mereka hanyalah melulu tentang kebahagiaan. Aamiin.



Aku bukan orang yang suka menyaksikan berita. Paling tidak, itu yang bisa aku simpulkan semakin ke sini. Itu salah satu yang membuat aku kurang update. Bagiku hidup sudah cukup rumit dan dengan menonton berita negatif rasanya akan semakin menambah penyakit. Sebab seringkali aku malah ikut pusing. Meskipun sebetulnya seringkali kita memang butuh perspektif baru, dari kebebobrokan manusia bumi sekalipun atau bahkan kejadian yang tengah happening, walau kadang beberapa tak menyajikan bingkai dan isi yang sesuai harapan.

Arrgh! Dalam minggu ini, seolah tak terhitung berapa kali aku, kita mendapati berita yang terkait dengan kekerasan seksual. Sedih! Miris! Hati berkali-kali ikut teriris! Padahal, memang dari kecil, kala mendengar kata 'pemerkosaan' saja rasanya diri ini sangat marah, bahkan saking jijiknya ingin muntah. Kalau bisa muntah di wajah pelaku. Maaf jika terlalu kasar. Siapa yang terima dan tidak mengecaman perbuatan semacam itu, kan? Jangankan kejadian fatal seperti itu. Kejadian yang dianggap remeh oleh beberapa orang saja bisa membuatku sangat muntab.

Ingat sekali waktu masih kecil aku seringkali menemani kakak perempuanku dan teman-temannya hadir dalam pengajian atau gambus yang memeriahkan sebuah pernikahan. Biasanya acara itu diadakan di malam hari. Lalu setahuku, seolah lumrah sepulang dari sana kita para perempuan akan dihadapkan oleh para lelaki sepantaran tak dikenal yang kemudian mengikuti dari belakang, seolah mengantar kita pulang, menggoda bahkan memaksa meminta nomor seluler. Aku ingat sekali waktu itu aku sok jadi jagoan melindungi kakak perempuanku untuk tidak didekati dan memperingatkan keras lelaki yang mengganggunya agar tidak berani macam-macam, akhirnya mereka pulang. Padahal aku masih SD, jika tidak salah. Itulah kenapa sejak kakak perempuanku di pesantren aku tidak lagi suka hadir di acara semacam itu.

Sama halnya saat aku tidak suka lagi menyaksikan berita. Karena seringkali beberapa media hanya mementingkan keuntungan komersil buka semata-mata untuk mengungkap kebenaran. Tidak heran jika sering kita temui berita kekerasan seksual dengan thumbnail dan judul berita yang sangat menyakitkan. Karena justru terbaca menyudutkan korban, mempersulit korban bahkan menganggap bahwa korban kekerasan seksual tidaklah berharga.

Maka jangan salah jika kemudian kita kerap mudah menyalahkan korban kekerasan seksual daripada ikut mendukung mereka memperoleh keadilan (baca: victim blaming). Media menjadi salah satu yang andil untuk itu. Seperti saat kita malah menyalahkan korban karena pakaian yang dikenakannya, menyalahkan perempuan yang bekerja hingga larut malam, pulang dini hari sebab mengerjakan tugas kampus dan lain sebagainya. Sebab bagiku bagaimanapun perempuan, selama masih dalam koridor yang normal, tidak ada satu manusia pun yang boleh berkata bahwa kekerasan seksual diperbolehkan.

Memakai pakaian yang sopan, tidak keluyuran di malam hari, tetap berada di rumah jika tidak ada keperluan mendesak memang menjadi salah satu langkah pencegahan. Namun perspektif berbeda orang lain dalam menentukan cara berpakaian bukan lantas menjadi alasan kita untuk mudah menghina orang lain, kan? Apalagi menjadikan itu senjata untuk memborbardir korban sekaligus secara tidak langsung membela pelaku. Belum lagi, data menunjukkan banyak kekerasan seksual terjadi di kediaman korban sendiri. Ya Tuhan!

Kedua, seringkali kekerasan seksual dianggap sesuatu yang lumrah, atau sering disebut rape culture, karena dinilai bahwa setiap manusia khususnya laki-laki memiliki hawa nafsu. Sehingga harusnya si perempuan yang pandai menjaga diri. Ujung-ujungnya korban yang selalu salah. Padahal kita semua tahu bahwa nafsu diciptakan untuk dikelola bukan dengan mudah dilampiaskan layaknya binatang. Dan alasan-alasan lain.

Hal lain yang membuat kekerasan seksual makin tersebar dan tumbuh subur adalah karena kita secara tidak sadar menormalisasi bibit-bibitnya. Ini karena kurangnya pemahaman. Iya, kekerasan seksual bukan hanya tentang pemerkosaan. Setidaknya ada lima belas perilaku kekerasan seksual, seperti pemerkosaan, intimidasi seksual termasuk ancaman atau percobaan perkosaan, pelecehan seksual, eksploitasi seksual, perdagangan perempuan, prostitusi paksa, perbudakan seksual, pemaksaan perkawinan, pemaksaan kehamilan, pemaksaan aborsi, pemaksaan kontrasepsi, penghukuman bernuansa seks, praktik tradisi bernuansa seks, dan kontrol seksual. Contoh yang sering kita anggap kecil adalah bersiul dengan maksud menggoda orang lain (baca: cat calling) termasuk ke dalam pelecehan seksual. Sebab pelecehan seksual bisa berupa verbal dan non verbal (fisik).

Berdasarkan data dari Komnas Perempuan juga (2020) pelaku sangat beragam, bisa orang tak dikenal, orang yang masih ada hubungan keluarga, majikan dan kasus terbanyak dan sangat meroket jauh sekali dibanding yang lainnya adalah pelaku yang berstatus sebagai pacar.  Lagi dan lagi ini berdasarkan data, bukan lantas menjadi bahan (secara pribadi) untuk menyudutkan orang yang menghalalkan pacaran.

Faktor lain yang juga merupakan rahasia umum adalah hukum yang berlaku. Ah tak perlu diperjelas, rasanya yang satu ini sudah paling jelas. Aku hanya ingin bilang, bahwa kekerasaan seksual juga tidak mengenal latar belakang pendidikan, agama atau gender. Laki-laki juga bisa menjadi korbannya. Maka akhirnya tulisan ini sejatinya tidak untuk mendiskreditkan latar belakang, agama atau gender apapun. It's all about personalnya. Melainkan ini adalah bentuk ketidak-habis-pikiran dengan keadaan yang terjadi akhir akhir ini. Atau bahkan sejak dulu yang bahkan tak pernah diungkap sekaligus. Semoga kita semua Allah SWT lindungi. Dan mereka yang kejam dan tidak bermoral itu benar-benar diadili.


Mungkin aku adalah salah satu orang yang kalau ditanya "Apa titik terendahmu?" akan sangat bingung menjawabnya karena merasa, sorry to say, tidak pernah melalui titik terendah. Karena bagiku, ujian dan cobaan yang ada dalam hidupku selama ini masih bisa kulalui. Tentu atas kehendak-Nya juga. Tapi, yang ku maksud mereka semua bukanlah hal yang begitu berat dilalui. Sebab, personally hal yang berat dan membuat mungkin sebagian dari kita berada di titik terendah adalah saat kita kehilangan orang-orang yang kita cintai, seperti keluarga. Meskipun kematian adalah sebuah keniscayaan. Namun aku hanya manusia biasa, pasti akan berat untuk menghadapi itu semua. Tapi percayalah, Allah SWT selalu ada.

Betul, aku merasa benar-benar cukup dengan semuanya dalam hidupku. Aku merasa tidak pernah kekurangan meskipun katakanlah, aku belum bisa menjamah hal-hal mewah. Bagaimana tidak? Adakah yang kurang setelah kita dikaruniai iman, kemudahan untuk berusaha mencapai taqwa,tak ada masalah kesehatan, mempunyai makanan yang cukup dan dianugerahi keluarga yang harmonis? Apalagi seingatku, sebenarnya aku juga bukan orang yang memiliki banyak keinginan. Contoh kecil, kala itu aku cukup dengan HP butut ketika teman-temanku yang lain sudah menggunakan HP canggih. Aku tidak pernah benar-benar tergiur untuk kemudian mempunyai kekayaan yang orang lain miliki, dan apapun itu. Sekalipun dulu aku pernah di-bully karena fisik aku tidak merasa mendambakan atau bahkan iri melihat fisik yang sudah masuk dalam standarisasi kesempurnaan oleh masyarakat kita. Kecuali jika itu tentang ilmu dan pendidikan. Meski aku bukanlah siswa yang cemerlang. Mungkin karena aku pernah mengklaim bahwa aku sudah merasa cukup dan bahagia dengan mendapatkan akses pendidikan. Bahkan aku kerap berteori pada diriku, jika dengan pendidikan dan keluarga yang hangat aku sudah tidak memerlukan apa-apa lagi. Ilmu yang diperoleh dari baik itu pendidikan formal dan pendidikan yang berasal dari keluarga akan membuat kita kian dekat dengan sang pencipta. Juga menjadikan kita pribadi dengan pola pikir yang lebih baik dan karakter yang lebih apik. But, Wallahu a'lam.

Namun beberapa hari yang lalu aku melewati hari-hari yang cukup berat. Bahkan mungkin bisa diuraikan bahwa aku mengalami stres atau mungkin depresi. Meskipun bukan pada tingkatan yang tinggi. Karena dari beberapa bacaan, seseorang dinyatakan depresi jika sudah dua minggu merasa sedih, putus asa atau tidak berharga. Atau mungkin aku saja yang terlalu membesar-besarkan masalah atau terlalu sensitif pada saat itu. Tapi bagi orang yang masih amat belajar ini, beberapa orang memang setuju, jika masalah keluarga kerapkali menjadi sesuatu yang cukup berat dan pelik. Kala itu, dampaknya, aku merasa menjadi manusia yang paling tidak ada gunanya. Aku benar-benar merasa tidak berguna sama sekali. Aku merasa tidak bisa, belum pernah dan tidak akan melakukan apa-apa.

Aku yakin, hampir semua orang mengalami stres yang berujung depresi meskipun pada tingkat dan masalah yang berbeda-beda. Yang menjadi fokus ialah bagaimana feedback terhadap masalah yang sedang kita hadapi, yang juga kerapkali berbeda-beda. Pada saat itu aku merasa sangat rapuh, tak seperti biasanya, sampai-sampai jatuh sakit lahir dan batin selama tiga hari. Jadi sebetulnya belum ke taraf depresi. Namun tetap saja menguras energi. Kemudian berkat keinginan sendiri (mungkin) dan rahmat Allah SWT, akhirnya aku mampu melewati itu semua. Mungkin ini akan terbaca begitu mandramatisir. Tapi aku sangat sangat sangat bersyukur bisa melewati itu dan insya Allah bisa belajar dari itu semua. Kemudian kembali kepada pikiran-pikiran yang baik dan berhusnudzon kepada Allah dan semua orang yang terlibat.

Sebab bagiku yang paling berat dalam hidup adalah saat kita mudah sekali memelihara pikiran yang buruk kepada orang lain bahkan kepada diri kita sendiri. Sehingga nikmat dari Allah Ta'ala hari ini berupa pikiran yang lebih positif kepada diri sendiri dan orang lain adalah nikmat yang tidak terkira untukku, dan hal semacam itu tidak dapat dimanipulasi. Maka sejatinya ini yang ingin aku sampaikan kepada diriku dan (barangkali) pembaca. Seberapapun besarnya masalahmu, jangan lupakan Allah dan teruslah memohon ampunan serta kemudahan untuk melewati setiap ujian agar menjadi pribadi yang lebih matang. Mmm, aku ingat sekali, satu potongan tulisan dalam buku La Tahzan yang kira-kira begini: "Bahwa hidup bukan tentang menyesali hari kemarin yang telah terjadi atau mengkhawatirkan hari esok yang belum tentu terjadi. Ini adalah tentang hari ini. Tentang bagaimana kamu mengisi dengan hal-hal terbaik hari ini. Bukankah kamu tidak pernah tahu sampai kapan usiamu di bumi." Maka tidak perlu menunggu untuk mengubah pikiran baik. Itulah kenapa, aku ingin sekali mengisi kesempatan usia yang Allah beri dengan sebaik mungkin. Jika memungkinkan, kamu bisa memulainya hari ini juga, saat ini. Jika tidak, setidaknya mulai hari ini kamu sudah berpikir positif jika kamu akan menjadi pribadi yang berpikir posfitif. Hehe. Bukan, bukan untuk toxic positivity dan menolak emosi negatif. Itulah kenapa aku memberikan dua kemungkinan. Lalu Tuhan memiliki banyak sekali kemungkinan. Ya, at the end of the day, it's all about bersyukur. Lagi-lagi bukan untuk membandingkan poin syukur yang kita miliki dengan orang lain. Sebab tiap-tiap manusia mempunyai jalan dan proses yang tak selalu sama.

            Setiap orang yang lahir ke dunia ini memang tidak pernah bisa memilih untuk lahir dari siapa. Apakah orang tua yang melahirkan dan membesarkannya nanti kaya atau tidak. Mungkin jika bisa memilih, ada orang kaya yang ingin menjadi sederhana agar ketika dia sukses, tidak ada yang menghujatnya karena dianggap tidak perlu berusaha-pun hasilnya akan demikian, sebab telah memiliki privilege sejak lahir. Padahal hakikatnya setiap orang memiliki privilege mereka masing-masing. Tinggal bagaimana kita mendefinisikan kata itu sendiri. Sama halnya dengan orang yang tidak mampu. Jika boleh memilih, mungkin mereka ingin sekali lahir dari keluarga dengan profesi yang settle bahkan kaya raya. Maka bagiku, yang bisa kita lakukan adalah bersyukur atas apapun yang kita dapatkan.

 Bersyukur jika memang kita terlahir dari keluarga yang berada, pun dari keluarga yang biasa-biasa saja. Tentu bukan berarti tidak boleh mempunyai impian untuk memiliki perekonomian yang lebih baik di masa depan. Sebab barangkali dengan begitu, kita lebih mudah berbuat banyak kebaikan, seperti meng-upgrade kapasitas diri ataupun berbagi kepada banyak orang. Betul petuah yang pernah disampaikan guruku: “Orang kaya yang hebat adalah mereka yang rendah hati dan mau berbagi. Sedang orang miskin yang inspiratif adalah mereka yang bangga dengan background hidupnya dan mau bekerja keras.”  Mendengar itu aku merinding sendiri, mengingat banyak orang yang lahir dari keluarga mentereng, namun tetap mau mandiri dan tidak mau bergantung. Pun kaum papa yang berhasil membangun finansialnya dari nol dan tak malu membagikan kisah masa lalu.

Ukuran finansial yang mapan dari seseorang seringkali dikaitkan dan dilihat dari tampilan mereka. Dari apakah outfit yang mereka gunakan sudah disertai dengan sepatu dan tas-tas dengan merk ternama dan harga yang menjulang, serta kulit yang glowing, dan lain sebagainya. Padahal kita tahu, pada faktanya tidak selalu begitu. Well, memiliki penampilan yang baik---bukan untuk membuat terkesan orang lain dan mengagugkan diri---memang tidak dilarang. Agama juga sangat menganjurkan untuk memelihara kebersihan dan keindahan. Namun beda lagi jika sudah mengarah pada hal-hal yang berlebihan. Itulah mengapa, miris ketika saat ini beberapa orang berlomba-lomba untuk terlihat mapan dan mengesankan dengan menampilkan outfit yang harus senantiasa in, wajah glowing bahkan kemewahan dimiliki. Betul, betul, tidak semua orang memiliki niat pamer dan niat buruk lainnya---barangkali, sebagai pengamat, jangan-jangan kitalah yang paling perlu untuk menjaga hati---itulah kenapa aku tulis ‘beberapa orang’ saja. Yang kemudian kerap secara tidak langsung dicontoh oleh orang lain, terus berulang hingga lebih banyak lagi orang yang melihat kemudian mengadopsi.

Kenapa bisa seperti itu? Yup, panjang ceritanya.  Media juga salah satu yang dinilai sangat berperan mempromosikan hal tersebut. Ketampanan dan kecantikan kerap hanya dinilai dari tampilan: warna kulit, bentuk tubuh, outfit dan lainnya. Akhirnya konten-konten terkait yang berasal dari masyarakat pun mulai bertebaran. “Hei! Tidak masalah. Ini adalah hal positif dan bukti pemanfaatan pipa-pipa modern untuk mengasah kreativitas, menebarkan motivasi dan atau sekadar hiburan saja. Jangan terlalu serius.” Sepakat. Namun menjadi perlu berhati-hati ketika kemudian ini adalah ajang untuk berlomba-lomba terlihat baik hanya dari tampilan saja, kemudian mudah men-judge orang lain hanya karena mereka tidak sama dengan pemahaman standar kecantikan dan ketampanan yang kita miliki, yang ujung-ujungnya di buat oleh beberapa perusahaan dan media itu sendiri.

            Personally, aku tidak bisa bilang trend itu hanya “baik” atau “buruk” saja. Ada banyak sisi yang perlu diamati. Jika trend tersebut justru lebih meningkatkan kreativitas kita dalam memadu-padan-kan outfit maka sah-sah saja. Tinggal mengasahnya ke arah yang lebih baik dan luas lagi. Siapa tahu kelak bisa menjadi designer hebat di masa depan. Kemudian trend make up dan skin care yang kian menjamur, menjadikan kita konsumen yang kian cerdas dalam memilih make up yang friendly untuk kesehatan, finansial, dan lain hal. Dari situ kita jadi lebih berhati-hati memilih skin care dan tidak gampang termakan iklan dan hasil instan. Siapa tahu, karena keingintahuan yang begitu besar, kelak bisa memiliki perusahaan kecantikan kita sendiri, yang campaign-nya lebih membumi dan masuk akal. Tidak hanya menjadi budak perusahaan dan mengkotak-kotakkan definisi kecantikan. Sebab cantik itu beragam, tidak hanya dilabeli pada mereka yang berkulit putih ataupun cerah. Sehingga kulit yang harusnya didambakan ialah kulit yang bersih dan sehat. 

Membuat konten-konten inspiratif, menyukseskan pagelaran, teater, film dan festival budaya lewat make up juga bisa menjadi alternatif lain untuk dijadikan sebuah list dalam impian. Jadi, sisi baik yang bisa diambil adalah, mungkin trend ini tidak hanya meningkatkan kreativitas namun juga membangun karakter para pemuda yang lebih inovatif, mandiri, matang dan mempunyai pemikiran yang jauh lebih berkembang. Lebih jauh lagi bisa membanggakan dan membawa nama baik Indonesia untuk mampu bersaing di kancah internasional.

Sedang sisi buruknya terjadi jika kita hanya melihat tiga hal itu dari sudut yang begitu sempit. Mempunyai kulit cerah, outfit modis, dan make up keren hanya untuk dibanggakan kepada orang lain. Tentu seperti yang sudah kutulis, tidak semua yang pandai memadu-padankan outfit, make up dan sukses memilih skin care tidak memiliki faedah sama sekali. Lalu kemudian menuntut mereka harus mengambil ‘sisi baik’ dari tulisan ini dan menjadi ‘orang besar’, bukan sekadar orang yang biasa-biasa saja saat ini maupun di masa depan nanti. Sungguh tidak demikian. Live your life: menjahit baju untuk outfit sendiri, make up sendiri saat wisuda dan lebih memahami keberagaman definisi kecantikan dan ketampanan juga sudah merupakan kemajuan atau bahkan prestasi yang luar biasa. Sehingga setelah ini orang yang insecure hanya karena tidak memakai barang branded dan tidak berwajah ‘glowing’ dalam artian sempit akan jauh lebih berkurang. Setidaknya, itu bagiku dan harapanku. Juga reminder untuk diriku sendiri.

 

 

Aku tahu, perjuangan untuk mendapatkan beasiswa memang tidaklah mudah. Banyak rentetan persiapan yang harus dijalani. Tantangan demi tantangan harus dengan tangguh dilewati. Mulai dari sertifikat bahasa dengan biaya yang cukup menegarkan kantong. Serentetan syarat administrasi lainnya yang juga menunggu. Bahkan niat yang tulus dan optimisme yang harus senantiasa terjaga keberadaannya. Jika tidak begitu, pupus sudah harapan untuk menjadi pribadi yang lebih berkualitas. Meski sebetulnya, ini bukan satu-satunya cara.

Omong-omong, aku memang kadang merasa aneh dengan diriku. Sebab aku sangat ingin berkelana, menjadi traveller, atau back packer, namun nyatanya keluar rumah saja malas-nya minta ampun. Masa liburan lebih suka ku habiskan dengan mendekam di rumah. Jadilah tempat terjauh yang pernah ku lalui dengan motor hanyalah kampus. Namun, sebab keinginan-ku begitu tinggi untuk mendapatkan beasiswa pascasarjana, aku rela menyusuri Surabaya bermodal smartphone dengan internet yang menyala. Berkali-kali bolak balik sendiri, mengikuti tes bahasa hingga mencari tempat tes bebas narkoba termurah di sana.

Anak Madura rumahan ini pernah nyasar selama satu jam karena baterai handphone yang low-bat. Bak kehilangan kompas, ia benar-benar kehilangan arah meski sudah beberapa kali bertanya pada orang-orang di pinggir jalan raya. Lucunya, ia sampai seperti masuk ke daerah antah berantah. Beruntung terdapat sebuah warung kecil dengan pemilik yang hangat. Jadilah ia mengisi daya hand phone-nya sekitar sepuluh menit, lalu melanjutkan kembali perjalanannya.

Dulu, aku mengira hal-hal seperti itu bukan bagian dari sebuah perjuangan. Aku pikir, itu adalah sebuah keharusan dan memang sebuah kewajiban yang harus dilalui. Jadi tidak perlu diapresiasi. Namun kini aku kian belajar. Belajar untuk menghargai sekecil  apapun usaha yang sudah kita lakukan. Karena dengan begitu, itu juga berarti kita bersyukur sudah diberikan daya dan kekuatan oleh Tuhan hingga bisa melewati semuanya.

Sampai hari ini, terhitung baru tiga kali aku telah melamar beasiswa. Kesemuanya belum digariskan untuk ku genggam. Beda, dengan cerita-cerita orang ‘sukses’ di luar sana, atau thumbnail iklan berbayar di beragam platform sosial media yang berbunyi “Gagal Sepuluh Beasiswa, Pemuda Desa Ini Kini Diterima di Lima Universitas Ternama di Inggris”. Hehehe. Betul. Aku memang belum apa-apa dibanding mereka semua. Barangkali perjuanganku masih seujung kuku mereka. Pola belajarku juga masih berupa: belajar saat ada tes atau ujian, bukan karena keingintahuan. Namun, kadang hidup memang bukan untuk dibanding-bandingkan. Sepatu yang sama persis, tidak menjamin sama juga perasaan yang dialami pemakainya. Hasil jahitan yang tak seberapa, bukan berarti tak lebih berproses dari yang sudah bertumpuk karyanya. Maka, mungkin kali ini akhirnya aku bisa sedikit bercerita kisahku. Semoga ada manfaatnya meski hanya seujung kuku.

_______

 

Singkat cerita (yang padahal juga tidak singkat ini, hehe), usai lulus kuliah pada 2018 aku yang tidak visioner dalam hal pekerjaan, memilih untuk memikirkan bagaimana caranya bisa memperoleh beasiswa pascasarjana dengan bahasa Inggris yang pas-pasan. Hingga akhirnya aku dan sahabatku mencoba untuk mendaftar sebuah beasiswa belajar di Pare, namun ternyata sudah ditutup. Setelah itu, aku kembali mendapat informasi dari sahabatku itu jika ada beasiswa lain yang masih dibuka. Kami pun mendaftar dan qadarullah aku lolos. Sedang sahabatku, she deserved better. Usai lolos dari beasiswa itu, aku kemudian mempersiapkan tes bahasa (TOEFL ITP) sebagai salah satu syarat beasiswa. Juga syarat-syarat lain seperti esai dan lain sebagainya. Hingga pada 2019, setelah perjalanan yang cukup panjang, aku akhirnya dimudahkan untuk mendaftar beasiswa LPDP jalur Afirmasi – Alumni Bidikmisi. Bagi alumni bidikmisi, jatah jalur ini maksimal hanya dua tahun sejak lulus.

Sekitar enam bulan proses seleksi beasiswa tersebut kala itu. Bagi orang yang tidak begitu pintar sepertiku, lolos hingga tahap wawancara adalah sebuah pencapaian yang lumayan. Sebab aku harus menghadapi tes akademik dan kebangsaan sebelum akhirnya bisa berjuang ke tahap wawancara tersebut. Takdir berkata lain, malam itu aku tidak tahu harus berkata apa saat membaca kalimat: MOHON MAAF ANDA TIDAK LULUS SELEKSI SUBSTANSI. Yang jelas aku baru menangis beberapa jam kemudian. Karena sebenarnya selain memang Allah SWT yang memutuskan semuanya, aku memang seringkali sudah bisa mengukur diriku sendiri kala berkompetisi. Aku ingat sekali, dalam persiapan wawancara, bukannya yakin menjadi agen perubahan, aku malah seperti dibayang-bayangi pertanyaan: layakkah kamu memegang amanah itu? Dilanjutkan, “ jangan-jangan kamu memang tidak layak. Ini adalah amanah yang begitu besar.” Betul, ragu pada diri sendiri membuat aku akhirnya tidak melakukan persiapan dengan matang. Sebab aku percaya, kekuatan pikiran memang begitu dahsyat efeknya.

Tak mau berlarut-larut, aku bersiap-siap untuk mengikuti LPDP lagi di tahun berikutnya. Namun karena pandemi, LPDP tahun 2020 ditiadakan. Kala itu aku tidak kecewa. Sebab jangankan berpikir untuk kuliah lagi, diberi hidup saja sudah merupakan anugerah tak terkata. Apalagi, pandemi menjadi momen untuk merenungi kembali baik itu tujuan hidup secara umum, maupun tujuan kuliah lagi secara khusus. Pandemi adalah momen perjuangan bagi hampir semua orang. Beruntung, kala yang lain harus berjuang sebab di-PHK, aku justru mendapat berkah dengan membantu guruku. Pekerjaan tidak terikat yang dulu memang pernah aku ucap agar aku bisa sembari melamar beberapa beasiswa tanpa mendzolimi perusahaan swasta. Hingga akhirnya aku melamar beasiswa Turkiye Buslari masih pada 2020. Meski tak memerlukan sertifikat bahasa asing, perjuangan lain datang dari berkas dan esai berbahasa asing, serta isian form yang tidak sedikit jumlahnya. Meski berat meninggalkan orang tua, kala itu aku optimis lolos, bahkan masa menunggu pengumuman tahap satu yang begitu lama aku habiskan dengan sesekali belajar bahasa Turki sebagai bahasa pengantar belajarku nanti. Namun lagi-lagi aku harus menghadapi kegagalan yang juga disertai banyak pelajaran.

Jumat, 24 September 2021, aku membaca tulisan: SELAMAT ANDA LULUS SELEKSI ADMINISTRASI. Allah SWT, padahal H-2 pengumuman aku membaca esai-ku dan mendapati masih banyak memerlukan perbaikan. Namun akhirnya aku sangat bersyukur bisa sampai di tahap itu. Diberikan kelancaran yang sangat luar biasa hingga bisa lolos di tahap pertama seleksi LPDP 2021 Jalur Reguler (Jalur seleksinya relatif lebih ketat dari Afirmasi) meski tak seuforia dulu. Maksudku, bukan karena tidak bersyukur secara menyeluruh tapi kegagalan demi kegagalan membuatku berpikir bahwa apapun yang sudah menjadi rezeki kita tidak akan pernah meleset barang sejengkal.

Selasa, 19 Oktober 2021, pengumuman hasil seleksi substansi sudah bisa dilihat. Kali ini, terpampang lagi kalimat dengan huruf-huruf besar itu: MOHON MAAF ANDA TIDAK LULUS SELEKSI SUBSTANSI. Aku tak bisa berkomentar apa-apa. Aku bahkan tidak menangis, sebab air mataku sudah kering usai tes akademik dan kebangsaan pada 13 Oktober lalu. Bagaimana tidak, aku sudah yakin tidak lolos passing grade, meski passing grade tiap jalur masih menjadi misteri. Selain karena tingkat kesulitan soal yang lumayan lebih tinggi, aku juga dihadapkan dengan aplikasi yang error berkali-kali. Bahkan aku kehilangan sekitar 30 menit waktu ujian pada bagian yang krusial, yakni part kuantitatif---karena aplikasi ujian yang kurang bersahabat. Semua sudah takdir dari-Nya. Namun mungkin kesalahan yang menjadi pelajaran bagiku adalah tidak men-setting alat ujian jauh-jauh hari. Walaupun sebetulnya aku memang sudah melakukannya, walau hanya 3 hari sebelum hari H, sebab panduan tes dikirim H-5. Namun aku tidak menyalahkan semua itu. Aku sangat yakin, rezeki tidak akan lari kemana. Hanya saja, yang membuatku bersedih kala itu adalah bayangan orang-orang yang sudah membantuku. Bayangan orang-orang yang sudah mendoakanku. Bayangan orang-orang yang sudah mendukungku. Tapi bantuan, doa dan dukungan mereka semua tidak akan pernah sia-sia. Sama halnya seperti perjuangan yang sudah aku lakukan, meski hanya sebesar biji zarrah. Insya Allah.

Mungkin pesanku untuk adik-adik yang juga sedang atau ingin memperjuangkan beasiswa, insya Allah lillahita’ala, jangan ragukan dirimu. Sebab siapapun boleh memperoleh akses pendidikan dan berhak serta bertanggung jawab untuk berkontribusi pada negeri ini tanpa memandang warna kulit, suku maupun ras. Juga, jangan patah semangat untuk mempersiapkan dengan sangat matang. Bagiku, keyakinan berasal dari doa yang deras dan usaha  yang keras. Iya, dua pesan tadi juga dihaturkan pada diriku saat ini dan nanti terlebih dahulu. Lalu yang pasti, jangan berkecil hati dengan apapun hasilnya. Allah SWT Maha Mengetahui.

Anyways, dulu, jika ada orang yang tahu (kecuali keluarga dan sahabat-sahabat terdekat) bahwa aku tengah melamar beasiswa atau berproses, aku malu karena khawatir akan sombong dan dikira sosok yang pintar. Akhirnya, saat beberapa mulai mengetahuinya, aku jarang menimpali mereka dengan serius, padahal itu bisa menjadi momen untuk minta didoakan hasil yang terbaik. Karena kadang dengan banyak orang yang tahu bisa menjadi jalan untuk memperoleh doa sehingga harapannya akan ada lebih banyak doa, dari siapapun itu. Sama seperti menceritakan kegagalan. Selain sebuah healing kata Ibu Teti, ini adalah cara lain untuk menuai doa-doa terbaik. Iya, berbagi kisah ini adalah saran dari beliau. Terima kasih banyak nggih, Bu.

Salam sungkem dan terima kasih yang sangat mendalam juga saya sampaikan kepada guru-guru saya yang lain. Ibu dan bapak dosen saya di kampus yang telah banyak membantu, mendukung dan mendoakan saya. Bapak Dekan, Bapak Andrie, Ibu Teti dan Ibu Ratna yang sudah berulang kali memberikan surat rekomendasi dan me-review esai saya di sela-sela jadwal beliau-beliau yang sangat padat. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan limpahan kebahagian kepada beliau semua beserta keluarga. Juga pada kita sekalian. Aamin allahumma amin.

 

 

Orang tuaku terbilang bukan merupakan sosok yang ambisius. Mungkin ini yang kemudian mempengaruhi pola asuh dan akhirnya menjadi salah satu faktor besar yang mempengaruhi karakter dari anak-anaknya. Barangkali, karena hal itu pula banyak dari anaknya tidak pernah berpikir untuk bersaing dan selalu menjadi yang terbaik di antara teman-temannya yang lain, baik itu di sekolah maupun dalam dunia kompetisi yang lebih luas. Sedang bagiku pribadi, jika bahkan ada tekad ingin menjadi lebih baik, itu bukan karena ingin menyaingi orang lain, melainkan ingin menjadi versi yang lebih baik dari diri kita yang sebelumnya. Ada plus minus dari setiap kejadian, prinsip dan apapun itu.
Karena bagi mereka, bukankah nilai manusia tidak terlihat dari situ. Pendek kata, ketika kita ingin berteman dengan orang lain, bukan karena prestasi (dalam tanda kutip) yang ada pada diri mereka yang menjadi alasan, tapi lebih pada karakter-karakter yang menetap. Namun tengoklah di masa kini, tak bisa dipungkiri dengan semakin digandrunginya sosial media kadangkala orang berbondong-bondong untuk semakin produktif, semakin berprestasi, semakin menggaungkan hustle culture. Seiring kerap dijadikannya sosial media sebagai tempat untuk membagikan sisi yang baik-baik saja dari sang empu. Hmm, aku pun begitu.

Selalu ada sisi baik dan sisi buruknya. Sisi buruknya adalah sering kemudian orang melihat value dari seseorang hanya dari segi harta, profesi, posisi, paras, prestasinya di kelas, piagam yang dikumpulkan, keterampilan-ketrampilan yang dimiliki, bahasa-bahasa asing yang dikuasai, pengalaman yang dikantongi, ilmu-ilmu yang tinggi dan lain-lain. Sehingga orang-orang yang kemudian tidak bisa atau belum dianugerahi kesempatan, kebisaan atau kemampuan itu merasa tidak bernilai dibandingkan yang lainnya. Padahal sama sekali tidak demikian.

Sungguh. Aku tidak bilang, menjadi ambisius itu adalah sebuah hal yang buruk karena ambisius tidak selamanya negatif. Justru Indonesia membutuhkan orang-orang yang berpikiran maju dan ingin selalu membuat perubahan yang lebih baik ke depan. Namun yang menjadi fokusku adalah bahwa seringkali kita merasa tidak memiliki apa-apa sehingga cenderung tidak bersyukur---tidak mau mengembangkan potensi dan keunikan---yang sebenarnya dimiliki oleh setiap insan yang bernyawa.

Ini yang juga pernah aku alami. Yang pada akhirnya setelah banyak direnungkan, malah mengundang pernyataan: Untuk apa buang-buang masa hanya untuk memikirkan itu-itu saja. Toh, saat kita tidak menghargai diri kita atau bahkan merendahkan diri kita, itu artinya kita sedang merendahkan ciptaan-Nya. Dan ciptaan yang pertama kali harus menjadi fokus kita adalah diri kita sendiri.

Omong-omong aku tidak pernah berpikir sebelumnya jika orang-orang yang terlihat lebih sempurna dari orang lain (setidaknya saat didefinisikan dari rincian-rincian di atas) juga pernah mengalami hal tersebut. Benar, salah satunya adikku. Aku tidak bilang dia adalah satu-satunya (let say) orang "sempurna" yang memiliki sifat yang demikian dimana dia merasa tidak lebih bernilai dari orang-orang lain. Karena bagiku, setiap orang punya atau pernah di fase ini. Fase quater life crisis dengan isu yang baru-baru ini sedang gencar diperbincangkan di kalangan anak muda, yakni insecurity.

Bagaimana tidak, adikku, anak ketujuh di keluarga kami adalah orang yang bagiku sangat "berprestasi" dan sebenarnya jarang aku puji. Pun ketika ku puji, sebetulnya (insya Allah) beliau adalah orang yang sama sekali tidak terpengaruh dengan itu. Apa sih arti dari pujian? Bukankah sebetulnya pujian adalah jelmaan pecutan yang lebih dahsyat dari cacian untuk kita, yang sebenarnya menjadi motivasi agar lebih bisa mengembangkan potensi yang di titipkan dan kelak akan dipertanggung jawabkan.

Kembali ke adikku. Beliau adalah seseorang yang berprestasi sejak kecil, jika ingin digeneralisir (terlebih dahulu) bahwa prestasi adalah pencapaian-pencapaian yang berkutat di ranking, piala, bahkan inovasi. Maka sejak kecil dia sudah Allah SWT mampukan untuk bisa membaca latin dengan lancar sebelum memasuki pendidikan formal (SD). Adikku belajar otodidak karena menonton serial anak di sebuah acara televisi. Kemudian saat SD, ia sering memperoleh juara kelas bahkan sering  didelegasikan ikut berbagai perlombaan. Dia juga sosok yang Allah SWT anugerahi talenta yang banyak. Pintar di beragam bidang, baik itu eksak, sosial bahkan seni. Itulah kenapa lomba-lomba yang diikutinya pun bervariasi. Mulai dari olimpiade mapel, pidato, lomba nyanyi dan lain sebagainya.

___________

Orang tua kami adalah orang yang sederhana. Mereka adalah seorang petani yang tidak pernah bermimpi anaknya bisa sekolah tinggi. Maka prestasi-presentasi semacam itu seolah seperti angin lewat saja. Seperti dianggap sesaat keberadaannya sehingga kerap cepat-cepat dilupakan, namun betul-betul disyukuri. Kemudian, usai lulus dari sekolah dasar adikku berhasil lolos program akselerasi untuk tingkat SMP. Hingga sempat urung dari program itu karena ia tidak ingin membebani orang tua dengan biaya dan berniat masuk di program reguler saja. Namun ternyata sudah garis dari-Nya. Ia Allah mudahkan lolos program akselerasi tingkat SMP dan SMA kala itu.

Aku tidak bilang adikku adalah satu-satunya orang yang pintar namun beliau adalah salah satu orang yang berjuang untuk pendidikannya. Ia berjuang sendiri untuk bisa kuliah. Aku ingat sekali, dia benar-benar nekat merantau ke Surabaya dengan ongkos pas-pasan dan bahkan masih berproses mendaftar di sebuah universitas tanpa pernah berpikir dari mana akan mendapatkan uang pendaftaran dan keperluan akomodasi. Akhirnya dia dipertemukan dengan orang-orang baik yang memberi pinjaman tanpa bunga sepeserpun. Memang, sebelumnya orang tua sudah menyampaikan jika hanya bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai tingkat SMA saja. Aku pribadi tidak menjamin aku bisa seberani itu. Sebab saat ingin kuliah, aku langsung berkesempatan mendapatkan beasiswa. Saat kuliah Ia sempat bekerja untuk menyokong kebutuhan hidupnya hingga akhirnya beliau Allah mampukan untuk lulus 3,5 tahun dengan predikat cumlaude.

Namun lagi, orang tua kami tidak pernah silau dengan hal-hal yang demikian, yang kata sebagian orang adalah pencapaian yang krusial. Namun aku tahu, mereka juga bangga dan bersyukur. Bagi mereka, pencapaian terbesar adalah melihat anak-anaknya bisa memiliki akhlak yang baik. Sebab at the end of the day, apapun yang melekat pada kita, baik itu skill, ketampanan, dan lain-lain sesungguhnya bukan karena diri kita, bukan karena kehebatan kita. Tapi lebih karena daya dan kekuatan yang Allah berikan sampai akhirnya kita bisa bergerak menempa diri dan mengembangkan tiap potensi. 

Intinya, yang aku ingin tekankan: jangan merendahkan diri kita dan jangan juga terlalu membanggakan diri kita. Sebab seringkali kita merasa diri kita ini tidak bernilai atau lebih inferior dari orang lain, bahkan banyak orang. Lalu saat saking bangganya, merasa lebih hebat dari orang lain dan merendahkan orang lain. Juga, ingat, ingat dan ingat bahwa setiap kita unik dan berharga. Jangan sama ratakan warna kulit, keahlian dan apapun itu satu sama lain. Aduhai, aku pun masih belajar untuk lebih menghargai diri sendiri. Kemudian selalu dan selalu mengingat kembali bahwa prestasi terbesar adalah selalu (berusaha dan belajar) menjadi orang BAIK.





Aku itu orang yang, bagiku, mudah mengapresiasi orang lain. Juga mudah belajar dari siapapun itu, baik dari latar belakang usia, pendidikan dan lain sebagainya yang berbeda. Bahkan dari hewan dan tumbuhan sekalipun. Apalagi saat ku temukan seseorang yang dianugerahi ragam prestasi dan datang dari keluarga yang kurang beruntung dan tidak memiliki banyak akses. Tapi masih terus bekerja keras untuk mendapatkan hal-hal yang tidak mudah diraih oleh rata-rata orang. Nilainya nyaris 100, bernilai sempurna jika menjadi sosok yang dekat dengan Tuhan-nya. Lalu secara 'alamiah' menginspirasi banyak orang untuk mendekat pada-Nya juga.

Namun ketika ternyata seseorang yang dikagumi (banyak orang) itu memiliki etika yang buruk, seperti sombong, angkuh dan tidak mau melihat orang lain bertumbuh, bahkan merasa tersaingi dan takut orang lain akan lebih dari dirinya, bagiku, di mataku dia kembali bernilai nol. Ini hanya ungkapan personal.

Sebab pada akhirnya kita tidak bisa menjadi hakim, karena Allah-lah yang maha membolak-balikkan hati manusia. Setiap manusia punya kecenderungan untuk bersifat dan bersikap sombong, dan yang bersikap sombong juga punya kesempatan untuk berubah dan menjadi pribadi yang jauh di rendah hati.

Sungguh, kita tidak akan pernah tahu hari esok. Bukan, bukan berarti kitalah yang paling suci dari sombong. Tapi yang harus kita pelajari adalah berusaha dan berdoa semoga Allah tetapkan hati kita pada etika yang baik, pada kebaikan, hingga wafat.
Benar. Allah SWT memberikan apa yang kamu butuhkan. Bukan apa yang kamu inginkan. Bahkan seringkali Dia memberikan apa yang tidak pernah kamu langitkan. Juga memberikan semua yang kamu mau di waktu yang tepat dan dari cara yang tak pernah kamu sangka. Sungguh, Dia Maha Mengetahui.
Setiap lembar kehidupan adalah lembar pelajaran yang begitu berarti. Hari ini aku jadi belajar kembali. Ternyata, salah satu sosok hebat adalah mereka yang senang melihat orang lain bertumbuh. Bahkan meski orang-orang itu akan jauh lebih 'hebat' dari dirinya.

Tak mudah memiliki jiwa yang besar seperti itu. Jiwa yang kokoh, tak mudah runtuh. Ada yang dianugerahi kebersihan hati sejak dini. Ada pula yang malah dihantui rasa iri dan dengki. Secara tidak sadar sedang merasa tersaingi saat yang lain bergegas memperbaiki diri.

Tak mengapa. Jika tidak disengaja, barangkali itu adalah perasaan yang manusiawi. Si manusia dengan banyak sisi. Kita hanya perlu selalu dan selalu belajar menata hati. Lalu berusaha memahami bahwa SEGALANYA berasal dari Sang Pemilik Hati. Kecuali hal-hal yang tidak Dia senangi.

_________

Aku seringkali dibuat kagum, oleh mereka yang tanpa tebang pilih mendukung. Sosok-sosok hebat yang seringkali ada di balik layar orang-orang yang katanya hebat. Mereka bisa menjelma teman, keluarga, sahabat, guru, atau bahkan orang yang tak pernah sekalipun mengenalnya.

Sebentar, kenapa aku menyematkan "katanya"? Karena justru barangkali orang-orang itu tak betul-betul hebat kala sudah beranggapan dialah yang paling mumpuni. Jadi tak pernah mau belajar memperbaiki hati lagi. Sebab telah merasa menjadi the one and only. Maksudku, barangkali, tiap kita pernah di posisi orang yang "sok" hebat ini. Setidaknya saat kita sedang sendiri dan tengah merenungi detik demi detik, hari demi hari, tahun demi tahun yang terlewati.

Itulah kenapa aku menulis catatan ini. Agar bisa selalu dibaca oleh diriku selama hidup di bumi. Kemudian menjadi peringatan keras agar selama itu, menjaga jiwa agar tetap waras. Sejatinya, tiap -tiap yang melekat adalah titipan. Bukan karena dirimu. Bukan karena kemampuanmu. Apalagi karena kehebatanmu. Kamu memang punya andil untuk berdoa dan berusaha. Tapi bukan kamu yang mampu menjadikan itu semua.

Maka, jika memang ingin menjadi manusia yang bermanfaat, lakukan step-nya sesuai keinginan yang selama ini kamu catat. Bukankah aneh jika kotor hatimu saat melihat orang lain beraksi dalam kebermanfaatan. Padahal cita-cita luhur membutuhkan kalbu yang 'bersih' dan lapang.

"Hmm, alhamdulillah, laa hawla wa laa quwata illaa billah. Selama hidup rasanya tak pernah iri melihat pencapaian orang lain," katamu. "Justru mereka membuatku terpacu untuk kemudian berlomba-lomba dalam kebaikan," lanjutmu. Eh, itu kan katamu. Ingat, setiap manusia tidak perlu luput dari kesalahan. Semoga Allah SWT senantiasa menetapkan hati kita pada kebaikan. Aamiin allahumma amin.

When I was little and asked what I wanted to be, I answered, that I wanted to be a useful human being. Although I wasn't sure what it means. I just often hear  a lot of people say that, over and over again.

After entering high school, I still didn't change that dream: I wanted to be a useful human being. It souds the same answer. But how I defined the sentence was more complex.

Entering the university, then became a graduate student after four years, who actually have the higher responsibilities, made that desire even more passionate.

But life won't just flat. Yes, we are all facing this moment together. The impact of this pandemic does not only affect our physical health, but also our mental health or even financial. Indeed, that's not the one and only factor. Each of us has our own ups and downs.

For me, "never stop raising our prayers and hopes". God has everything. he has endless spirit, unlimited power and strength, beautiful ways and whatever we dream of. With Him, we will always find a way. We will always find a way. No matter what, where, when, who, why and how.

Pada Desember 2020, aku memutuskan menghapus semua followers dan following-ku di akun ini (Instagram) dan hanya menyisakan lima puluh akun olshop. Entah apa maksudnya. I mean, maksud dari menyisakan akun-akun online shop itu. Sebab aku paham betul mengapa aku kemudian menghapus kebanyakannya.

Sampai hari ini, bagiku, setiap yang bernyawa masih terus berprogres. Ada pasang surut. Ada tanya-jawab. Berdialog dengan diri sendiri. Ini yang juga kerap aku lakukan. Salah satunya seperti, apakah benar aku mengabadikan catatan, momen, dan apapun itu karena Allah? Atau hanya karena egoku sendiri? Aktualisasi yang positif atau justru negatif?

Tentu pertanyaannya tak sesederhana dan sesedikit itu. Banyak sekali dialog yang akhirnya: Baiklah, cobalah mulai dari awal. Cobalah membuat album, diary, atau apapun itu tanpa pernah berharap like, comment, dan tetek bengeknya. Cobalah lagi belajar memurnikan niat, berawal dari hal yang---mungkin bagi banyak orang---begitu sepele ini.

______

Hari ini, aku sungguh tidak menyesali apa yang aku lakukan. Karena cara kecil itu mungkin bisa jadi salah satu jalan yang lapang (lagi dan lagi) agar aku tidak terlalu candu dengan gadget ataupun sosial media di dalamnya. Namun yang perlu aku garis bawahi adalah, networking itu penting, men-follow akun-akun kompeten juga bisa jadi sumber inspirasi. Tidak mungkin rasanya harus mengingat tiap alamat kala ingin menambah insight. Dan akupun telah menimbang itu sebelumnya. Belum lagi, teman-teman lama, teman-teman jauh yang dulu hanya terhubung lewat sosial media, kini cukup menetap dalam doa saja.

Begitu pula dalam kehidupan nyata. Tidak apa-apa jika harus membatasi circle. Tidak harus dipaksakan bila tak cocok. Jika memang tidak bisa membuatmu bertumbuh, kenapa harus tinggal? Maksudku, kitapun harus pandai menggali lagi makna 'bertumbuh'. Jangan malah makin 'berego'. WHAT ARE YOU TALKING ABOUT.

Ini sungguh bukan analogi yang kemudian menyimpulkan bahwa aku tak memiliki pertemanan yang baik dan mendukung di sosial media, maka hapus saja. Bukan. Justru banyak sekali yang (saling) mendukung. Aku hanya ingin belajar lepas dari: bergerak hanya karena sesuatu yang fana. Argh! Sungguh, teramat jauh keinginan itu dengan kondisi diri yang masih alpa. Hei, meski dengan merangkak, aku sungguh tak mengapa.

Jika 'kata' adalah kekuatan, harusnya perkataan memang diarahkan pada kebaikan. Pada perkataan, tindakan, tulisan yang baik-baik juga. Lagi-lagi, itu yang akan menjadi sebuah afirmasi positif, doa yang menjelma kenyataan.

Sungguh, aku kehabisan gagasan tentang kenapa kata-kata  pesimisme senantiasa dilontarkan, dan ditujukan untuk menggambarkan negara yang katanya mereka cinta. Ringan diluapkan begitu saja. Karena 'kata' dianggap sesuatu yang tak begitu bermakna dan memiliki dampak yang luar biasa.

Bukan. Ini bukan tentang satir, sarkas atau semacamnya. Ini perihal kebiasaan buruk yang dengan sengaja terus dipelihara agar negara ini tak jadi melangkah dan menjadi negara yang hebat.

Benar saja, Indonesia, katanya penuh dengan orang-orang yang maunya instan, sesak dengan manusia yang malas berpikir apalagi saat diminta membuka wawasan lewat bacaan. Warga +62 katanya.

Aku pribadi, tak suka negara yang dibela mati-matian oleh para pejuang diludahi sendiri oleh bangsanya. Meski 'hanya' lewat kata-kata. Meski 'cuma' lewat sosial media.

Jangan menyamaratakan segala hal. Apalagi memandang negara Indonesia baik itu masyarakatnya selalu negatif dari segala sudut. Karena pembentuk kepribadiannya adalah diri kita sendiri.

Momen Ramadan memang selalu luar biasa. Dari kecil, Ramadan senantiasa menjadi bulan yang paling dirindukan. Dikenal dengan bulan segudang keutamaan, tidak heran jika ada ungkapan bahwa rugilah orang yang tidak menjadi salah satu yang berlomba, meraih, atau paling tidak mendekatinya.

Pada akhirnya, memang semua terjadi atas kehendak-Nya. Paksaan diawal juga menjadi salah satu cara. Namun, bila kemaksiatan juga mengiringi. Maka beratnya langkah kaki yang tengah menuju pada kebaikan juga tidak bisa dipungkiri.

Itulah kenapa, bagiku, barangkali salah satu cara dahsyat untuk meraih keutamaan di dalamnya adalah terus bermuhasabah. Lagi dan lagi mengingatkan diri untuk menyucikan hati. Meski rasanya amat mustahil. Karena mungkin akan lebih mudah menyuburkan perilaku tak terpuji. Naudzubillah.

Walau begitu, sungguh, jujurlah, jangan mengelak, jika kemaksiatan-kemasiatan itu adalah gumpalan berat nan paling menyiksa. Perasaan bersalah pada orang lain karena menaruh su'udzan, misalnya. Beratnya rasa bersalah pada diri sendiri karena tak berusaha menata hati. Belum lagi, yang paling berat ialah perasaan bersalah dan malu pada Yang Telah Memberi Kehidupan dan Limpahan Rezeki.

Duhai, Ramadan. Jika diibaratkan 'sosok mulia' yang tiada hentinya menuntun pada kebaikan, maka pelukanmu tak hentinya kami tunggu-tunggu. Memeluk jiwa-jiwa yang renta di usia belia ini. Pada sepertiga malam. Pada lembaran ayat-ayat suci al-Qur'an. Pada balutan dzikir-dzikir panjang.

Eh, tunggu dulu. Tak hanya soal itu, dan jangan pura-pura lugu. Pelukan Ramadan juga sangat erat di tiap kita mencoba untuk tak menaruh kebencian pada orang-orang yang tidak sesuai ekspektasi, tak berburuk sangka, tak membicarakan kejelekan mereka sebab paham: bisa jadi kita lebih hina. Pelukan itu juga makin hangat seiring kian hangatnya sikap kita pada orang tua. Seiring usaha kita tak menyematkan iri-dengki pada siapa saja. Seiring uluran tangan kita untuk kaum duafa. Ah, berat bukan main sebab kita juga bisa memilih untuk melakukan kebalikannya.

Hingga kala Ramadan di tahun ini telah berpulang, barulah kita menyadari telah menjadi orang yang merugi karena tak mampu mengendalikan nafsu sendiri. Merugi karena terlalu berharap terhadap sikap dan perilaku orang lain daripada fokus memperbaiki diri. Merugi pada hal-hal yang hanya menguras energi, apalagi pahala. Benar-benar merugi.

Jangan bersedih, sebelum ia benar-benar pergi: kita selalu memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelukannya. Bagian yang tak kalah menggetarkan adalah saat memeluk. Sebab ia akan berulangkali berbisik: "Hati yang bersih adalah cahaya. Lupakan masa lalu dan fokuslah menjaga kebersihannya. Agar terang jalan-jalan yang kamu lalui. Memang tak gampang. Itulah kenapa penting banyak berdoa dengan jiwa yang lapang."

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Door Duisternis Tot Licht
  • Innamal A'malu Binniyat
  • Soal Ide, Implementasi Pesan dan Kecelakaan
  • Buat Apa Sih?!
  • Kamu Yakin Ngga sih?
  • Obsesi?
  • Rindu Allah
  • Kapan Nikah?
  • Hobi Gue Dengerin Musik. What?!!!
  • Berkaca Diri

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates