Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

It’s complicated, because I had never planned to apply for job before. Probably, it’s because of I just always think that I will study forever. Yeah, I do love studying. I don’t even a smart student but I have no idea the reason why I would like to study for entire my life. I just enjoy it. I was extremely excited when I learnt new knowledge. Science always has huge power to fulfill my life. Learning many new things. Finding so many adventures. Feel the main of life.

As far as I realize that I don’t even plan what I will be in the future. I never force to have a certain position for my dream job. I know I had written down some professions, but in point of fact I don’t want to overtake God’s decision about my destiny. As I can pray is the position will be suitable for me. And it has a lot of definitions. Accordingly I know nothing about my job that I am going to apply for. I said “know” because it’s my perspective till now. I just want to focus to learn many things. It’s not only about things that I will get in formal way, but also by informal.

Apparently thinking idealist doesn’t always make us in the straight term. There will be complex obstacles which lead to hard way and try to face a great opportunities at once. Being an adult, being an independent, being realistic, so forth are such main things that trigger someone to find new ways, like find a job. In the other hand some people will have a lofty purpose in life, by letting their parents to take a rest for a while and they will fulfill their parents’ necessaries. Yup! Just because I think about how to pass the test for the scholarship frequently, it doesn’t mean that I’m not one of those people.

When I was in senior high school, I remember that it was an awesome moment when I can pay several administrations without asking money to my parents. Even though it’s not too much, but I was excited. It makes my self be more meaningful. More over when I could give them more. They never ask me to do that kind of thing. But still, at least I won’t ask them anything during I’m trying to reach my dream, except du’a. Thus, I will face everything that I have to. It’s not easy. Nevertheless I have to go a head. Otherwise I will be stuck and block my own way by having bad mindset. Keep walking. Face the obstacles. Those are what I must do now.

Semenjak duduk di bangku MA, aku kerapkali berpikir idealis. Segalanya bagiku mudah saja. Ini bukan berarti setiap yang kita inginkan bisa diperoleh tanpa perjuangan dan tetes keringat, tapi lebih kepada karena setiap orang memiliki kesempatan yang sama. Kemudian pola pikir yang tepatlah yang akan membuat segala yang berat akan seringkali mudah dijalani. Belum lagi kala itu aku banyak bertemu guru-guru yang acapkali memberi motivasi menggetarkan. Jadilah aku mudah berpikir idealis, dalam hal ini impian. Aku percaya, jika impian bahkan tidak selaras dengan kenyataan; seperti keadaan kita dan lain sebagainya. Ia adalah keajaiban.

Dalam hidup, aku merasa seperti anak kecil karena kadangkala menganggap banyak hal itu mudah dan tidak perlu dipermasalahkan. Take them all easy. Jangan diperumit, karena pasti ada penyelesaian. Itulah kenapa aku seringkali bingung kala melihat orang dewasa yang kian memperumit keadaan. Masalah yang pada mulanya begitu sederhana, malah makin melebar dan kemana-mana. Lalu beberapa bersuara, jika ini karena aku belum benar-benar menapaki jalan hidup orang dewasa. Oleh karenanya aku berpandangan demikian. Entahlah, yang kutahu sejak dulu aku berusaha menghadapi apapun dengan tetap menjaga pikiran selalu dalam keadaan positif. Kata-kata seperti, “Ok, ini gampang, tak apa, ini mudah, iya, kamu bisa,” dan lain sebagainya meski mungkin hanya terlintas di dalam hati. Walau pada akhirnya semua tidak selalu sejalan dengan apa yang kita pikirkan.

Atas pemikiran itulah yang kadang membuat aku mudah membuat target-target kehidupan. Beberapa suara memberi saran agar jangan terlalu berpikir idealis. Sebab hidup itu amatlah rumit. Mendengar itu, aku kemudian terseret kepada ingatan-ingatan masa lalu. Beberapa keinginan yang sudah aku peroleh di masa sekarang, karena mungkin cara berpikir masa lalu yang kemudian dibubuhi keajaiban, kehendak Tuhan. Aku tidak pernah berharap hasil seperti itu sebelumnya, aku hanya melewati prosesnya dan aku bersyukur akan itu. Karena Tuhan memampukan aku.

Memang, ada benarnya. Sebab kadangkala kita juga harus berpikir realistis, pada bagian tertentu. Hanya karena kita berpikir impian harus tidak sejalan dengan kenyataan dan besar, tidak berarti kita hanya tinggal diam dan berharap impian itu terwujud dengan sendirinya karena keajaiban dari Tuhan. Atau karena terlampaui realistis, akhirnya memutuskan untuk terpaksa menguburnya dalam-dalam karena telah lebih dahulu membayangkan betapa banyaknya kesulitan yang akan dihadapi. Sungguh, tidak demikian. Iya, memang pada beberapa kasus, ada orang yang dikaruniai keajaiban tanpa diduga-duga. Namun itu tidak menjadi alasan untuk kita berleha-leha. Tuhan melihat usaha dan doa yang dilakukan manusia, setelahnya, perkara hasil adalah kehendaknya.

Tetaplah memiliki impian yang besar. Berpikir idealis pada banyak momen yang kamu rasa perlu. Namun tetap jangan menutup diri dengan adanya kemungkinan kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi. Kalau boleh dikatakan, berpikir realistis pada beberapa momen tertentu guna menggapai impian itu dan menerjang kesulitannya. Lalu, pada akhirnya apapun hasilnya itulah yang terbaik untuk kita. Yang terpenting adalah selalu mempertahankan pikiran untuk senantiasa berprasangka baik pada Tuhan. Sekian.

*Dari Lufiyah, teruntuk dirinya.

Ngomongin tahun baru dan resolusi tahun lalu yang SEABREK tapi yang kecentang baru beberapa, pasti bikin kepala puyeng. Hmm. Bener. Berasa ga maksimal mulu usaha sama doanya.

Tapi setelah pake salah satu teknik yang banyak dilakuin sama orang-orang "besar" yakni intinya bersyukur----peningnya jadi hilang ga bersisa. Teknik yang aku singkat bersyukur ini ditulis ulang dan dikembangkan oleh seorang praktisi pengembangan diri.

Tulis apa-apa yang sudah anda capai. Rasakan kebahagiannya mengalir. Rasakan energi positifnya. Ingat terus. Lantas bersyukur.

Dan setelah aku tulis. Wih! Aku bahkan baru menyadari, ternyata meski banyak yang belum tercentang, banyak juga yang sudah tercapai. Atau mungkin mendekati, hehe. Yap! Karena meski hanya bantuin beres-beres, kata beliau (penulis) itu adalah pencapaian.

Meski merasa ga ambisius, aku memang cenderung tidak pernah menganggap apa yang aku capai adalah wah, melainkan bonus dari ikhtiar dan cenderung biasa saja. Seperti halnya saat mendapat pujian (padahal ga ada yang muji wkwk), aku lebih menganggap seperti angin lalu, doa-doa (karena memang diri kita yang lebih tahu kalau kita ga sekeren itu), ucapan pelecut semangat atau ujian.
Maka, setelah aku pikir, menjadikan semua hal sama rata dan biasa-biasa saja ternyata ga baik juga buat pikiran. Semacam menutrisi diri buat ga "lebih" bersyukur dan mengapresiasi setiap anugerah alias rejeki.

Bukankah bersyukur tidak melulu menunggu kita memperoleh sebuah nobel? (Kita? Wkwk)

Allah, terima kasih atas segala nikmat-Mu di tahun lalu dan nikmat karena memberikan kesempatan lagi di tahun baru (ini). Disaat nikmat yang Engkau beri sejatinya tak pernah bisa aku tulis dan hitung, disaat itulah kudapati dosaku yang kian tak terhitung.

Bangkalan, 1 Januari 2019

Aku selalu percaya. Setiap apapun bisa dipelajari. Termasuk membuat puisi. Ingin rasanya mengawali oretan ini dengan puisi. Agar lebih indah. Tapi aku belum belajar. Lagi pula sebenarnya aku tidak ingin mengawali, maksudku memberi awalan. Sebab itu artinya aku harus mengakhiri. Dan aku tidak mau!

Tapi memang benarlah ungkapan: setiap ada pertemuan pasti akan ada perpisahan. Maka aku harus menerima segalanya dengan lapang. Apapun yang menjadi garis hidupku sekarang.

Tujuan awal pergi ke Pare untuk mengasah kemampuan berbahasa Inggris. Namun pada faktanya, aku diberikan lebih dari itu. Keluarga, kawan, sahabat, teman, kolega atau apapun sebutannya.

Thus, untuk mengabadikan mereka semua biasanya aku akan membuat oretan semacam ini. Meski sederhana, sedikit dan tidak pernah cukup untuk mengungkapkan banyaknya kata yang menumpuk dalam batok kelapaku, paling tidak ini bisa menjadi sesuatu yang kelak bisa aku baca kembali.

Siapa kita? Abdi negara!

Hehe, well. Selamat membaca. Maaf jika kurang berkenan 😅

___________

Ghani Rahmat Kurniawan

Ghani. To be honest, awal bertemu di ruang interview hari itu aku kira Ghani sudah seusia anak lulus kuliah. Hehe. Tapi ternyata justeru ia yang paling muda diantara kita. Curang!
Saat kutanya nama dan asal, irit sekali bicaranya. Bahkan tidak dibubuhi air muka bermanis-manis ria. Namun aku bukan orang yang percaya 100% jika karakter orang bisa dibaca pada kesan pertama bertemu. Karena yang ada, sifat "gila" nya mulai tercium di kelas Tick Talk. Ceria sekali rupanya.

Ghani. Orang yang awalnya protes karena aku panggil: Adek. Sebab aku dulu terbiasa memanggil yang lebih muda dengan panggilan serupa saat di kampus. Padahal aku memanggil adikku sendiri hanya dengan nama. Hihi. Namun setelah kujelaskan alasannya, ia kemudian sesekali memanggil aku: Mbak. Akupun tergelak.

Ghani biasanya jadi tempat rentetan pertanyaan-pertanyaanku bersarang. Karena meski remeh-temeh, dia akan menjawab dengan sabar dan tidak sedikitpun menghakimi. Selain itu, fast respond. Ini yang akhirnya membuat aku sering bertanya pada anak yang satu itu.

Meski masih terbilang muda. Ghani dianugerahi dengan beragam potensi. Ia juga rendah hati dan baik sekali. Tak hanya itu. Ia juga sosok yang tangguh. Sekelumit karakter ini bisa dibaca saat ia menyampaikan kisahnya di kelas I-Club.

Ghani pernah mengomentari cara berpakaian Kak Santi, aku turut ikut tersudut (konotasi positif) didalamnya. "Nah, gitu dong. Santi jadi terlihat lebih fresh. Casual. Ga kek biasanya. Kek Ibu-ibu. Lut juga tuh. Kapan-kapan pake kaos aja," katanya dengan santai. Sementara itu Bro Rambo menjelaskan materi di kelas 3 GP 1 dengan santai, bukan Santi. *paan sih, garing mulu, Lut.

Ahahaha, saat kita tanya apa ia ingin menjadi seperti Ivan Gunawan. Ia menjawab dengan jawaban yang membuat kami menelan ludah. Haus kali. Iyuuh.
Katanya, Ghani ingin lebih dari designer Indonesia yang terkenal di media itu.
Belakangan aku ketahui bahwa ia hanya bercanda soal itu. Dan aku adalah orang yang mudah percaya pada banyak momen tertentu.

Hmm, semoga Allah kuatkan dan mudahkan kamu untuk mewujudkan cita-cita luhurmu, Ghan. Study abroad, membahagiakan orang terkasih, so forth. Dianugerahi kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Haikhal Febria

Isa. Aku kebingungan saat Bro Ai memanggil nama lengkapnya untuk mengecek kehadiran member kelas. Siapakah gerangan? Pikirku. Haha. Unik. Nama panggilan tak sesuai bacaan nama asli. Sama seperti kakak perempuanku yang dipanggil demikian. Nama lengkapnya Siti Aisyah. Cukup mendekati. Namun apapun itu, aku mengimani jika setiap nama adalah berharga. Karena merupakan doa yang melekat hingga akhir hayat.

Isa. Kesan pertama kenal karena dia terlebih dulu akrab dengan Kak Santi. Bahkan dia sering menjadi peta dan teman kami saat hendak kemana-mana karena sudah lebih dulu memahami kawasan Pare. Aku awalnya agak heran, gregetan. Karena meski aku dan Kak Santi bersusah payah merangkai dan meluncurkan kata berbentuk bahasa Inggris, Isa akan lebih kerap menjawab dengan bahasa Indonesia. Sebenarnya, pada awal mempratikkan ngomong Inggris, lidahku pegal. Aku juga merasa lebih cepat lapar. Mungkin karena berpikir. Karena pada kenyataannya, aku adalah orang yang acapkali lupa makan kala di rumah. Eh, kembali ke Isa.
Iya, begitu. Tapi ternyata, beberapa hari kemudian, ia selalu berbicara English. Aku dibuat terpesona karena dia berbicara secara gramatikal. Pembendaharaan kata yang ia miliki juga aku taksir tidaklah sedikit. Terlihat ia tidak menghadapi kesulitan yang berarti saat berbicara.

Kian mengenal, aku baru mengetahui bahwa Isa juga kandidat YCTs. Info itu kudapat dari Ibu karena rajin membantu. Eh, maksudku dari Kak Santi. Isa juga sudah belajar bahasa di beberapa kursusan di Pare.

Meski kadang bawel. Ia adalah sosok yang baik bukan buatan, memiliki jiwa sosial yang tinggi dan peka. Sering juga ia melihat sesuatu begitu detil. Isa kerap mengkhawatirkan sesuatu yang menurutku sebaiknya diabaikan saja. Tapi perspektif orang tidaklah sama. Jika tidak demikian, maka tidak akan ada ragam warna.

Ia juga terlalu mengkhawatirkan aku yang begini dan begitu. Misal, Isa akan rela mengorder jasa ojek online hanya supaya aku bisa visit camp dengan sepedanya. Padahal berjalan kaki bukan kegiatan yang asing bagiku. Konon, bisa mengasah kecerdasan. Namun bukan berarti bisa mengerjakan ujian tanpa belajar dan malas-malasan. Hehe.

Meski begitu, ia adalah pribadi yang talent mengatur member, camp dan segala tetek bengek didalamnya. Aku hanya diam tak berkomentar. Selalu. Tapi diam-diam aku belajar.

Yup, banyak sekali kebaikan yang tidak bisa aku ungkapkan satu-satu. Biarlah menjadi amal untuk kebahagiannya di dunia akhirat. Terkabul segala impian mulianya.

Good luck, Isa! Semangat ke Jerman-nya. Kamu bisa! Karena kamu Isa! Yeay!!! Hehe.

Rayhan Muhammad Al Fatih

Ray. Karena tidak ada jawaban saat menanyakan kejelasan waktu interview, aku akhirnya men-DM Ray. Aku ingat, ia bertanya apakah aku peserta yang juga lolos ke tahap selanjutnya atau tidak. Istilah itu ia singkat menjadi: pemenang.
Sebelumnya, aku juga men-DM Kak Santi. Karena aku hanya mengetahui dua kontak mereka.

Ray begitu ramah. Ku lihat foto profilnya, kukira dia seusia orang yang baru lulus SMA. Hehe. Setelah bertemu langsung ternyata lebih ramah. Murah sekali senyumnya.
Ia terlihat mudah sekali beradaptasi dan bergaul dengan orang baru. Lihat saja, aku yang baru saja sampai di depan office Mr. Bob langsung dicerca beragam pertanyaan. Ia juga tidak segan bercerita kisah perjalanan untuk kemudian tiba di Pare. Terbaca sekali, jika ia orang yang terbuka dan tidak memilih-milih untuk kenal dengan siapa.
Aku sesekali mengusap dan melihat layar hape. Ku balas beberapa yang urgent sembari menjawab pertanyaan Ray dan Kak Santi yang juga ada disitu----satu-satu. Sebenarnya tidak sopan. Tapi beberapa pesan memang harus fast respond. Beruntung keduanya memang pribadi yang baik hati.

Ray pun adalah sosok dewasa dengan segudang ide segar. Ini yang membuat aku tidak sungkan untuk meminta pendapat atau nasihat padanya. Lihat dan pahami apa yang dibicarakan, bukan siapa yang berbicara. Itu yang masih menjadi salah satu alasan mengapa aku mudah untuk mendengar dan menerima, jika memang itu tentang kebaikan dan kebenaran.

Seorang tutor pernah bertanya padaku, "Ray terlihat jauh lebih dewasa saat tidak menggunakan kacamata, ya?". Aku sendiri tidak pernah memperhatikan penampilan seseorang sedetil itu. Namun karena kala itu ia meminta pendapatku, akhirnya aku benarkan. Hehe.

Ray, Ghani dan Julio adalah orang-orang dengan selera humor yang seringkali ditunggu-tunggu. Eh, siapa Julio?
Baiklah, setelah ini akan aku bagikan pandanganku tentang Julio dengan sedikit lebih rinci.

Hmm, semoga dilancarkan segala urusannya-----Lancar bukan berarti jalannya terasa selalu mudah. Tapi bagaimana tetap istiqomah untuk teguh dan tidak menyerah atas apapun yang menghadang jalan-----hingga tercapai semua impian-impian besarnya; tempat kursus, study abroad, dan sebagainya. Dilimpahi kebahagiaan dunia akhirat.

Ahmad Julio Rumangu

Julio. Awalnya aku mengetahui Julio saat Kak Santi menanyakan keberadaan sebuah camp guna visit Evening class. Julio menjawab dengan ramah dan antusias. Ia tidak segan menunjuk-nunjuk ke arah jalan agar kami lebih mengerti dengan sebatang rokok mengepul yang masih di tangannya. Dilihat dari bagaimana dia nge-treat orang lain, pastilah dia pribadi yang baik.

Aku sendiri kemudian baru mengetahui, jika Julio juga peserta YCTs angkatan pertama saat kami menghadiri panggilan Bro Kris untuk menghandle camp lebih awal. Hehe. Julio terlihat tidak terlalu banyak bicara.

Tapi ternyataaa, ia gemar bertanya. Berkata. Berbicara. Berbincang. Atau apapun. Tidak bosan jika berbincang dengannya karena ia selalu mempunyai bahan dan pertanyaan. Disamping itu ia juga meng''anda"kan setiap orang.

Aku melihat aura kepolosan dan ketulusan dalam diri Julio. Siah. Aku sendiri cuma manusia, yang tidak bisa menjamin kebenaran penilaianku terhadap orang lain. Yang jelas, itu mungkin salah satu yang membawanya kesini di tengah banyaknya tawaran menggiurkan. Sebab banyak orang tulus yang berorientasi pada kebahagiaan, bukan kekayaan.

Meski seringkali memuji orang lain. Sebenarnya Julio juga patut dipuji karena dia juga sosok yang menginspirasi: pantang menyerah. Memang, dampak buruk pujian jika tidak pada orang yang tepat memang amat dahsyat. Bahkan Rasul mengumpakan seperti memenggal kepala saudara yang dipuji. Namun semoga Dia senantiasa menuntun kita agar tidak berlebihan. Niatkan untuk kebaikan, bukan memperburuk keadaan.

Seorang member Passionate Dreamers Camp mengaku bahwa Julio memiliki cara tertawa yang unik dan lucu. Aku sendiri akhirnya baru ngeh saat mereka menyampaikan itu padaku. Dan aku pun setuju.

O ya, walaupun Julio mengaku dia bukanlah seorang pemimpi. Aku percaya, dia memiliki harapan-harapan yang indah di masa depan. Maka semoga semua itu bisa ia dapatkan. Sukses di dunia dan akhirat.

Hermita Santi Simanjuntak

Kak Santi. Sudah kusampaikan di awal. Aku tidak percaya 100% jika kesan pertama saat bertemu seseorang menunjukkan karakternya sepenuhnya. Meski tentu kita harus berhusnudzan. Seperti saat aku bertemu Kak Santi yang sebelumnya sudah aku hubungi lewat WhatsApp. Seperti Ray, dia ramah di dunia maya dan dunia nyata. Aku kira ini hanya kesan pertama. Sebab ada beberapa orang yang silih berganti dalam hidupku biasanya akan demikian. Tapi tidak dengan Kak Santi. Kian lama, aku seolah menemukan sahabat yang telah lama aku impikan. Ya, mulai dari SD hingga sekarang aku memang memiliki banyak sahabat. Dan memang, tidak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan adalah sebuah ilusi. Namun dengan Kak santi, aku menemukan kasus yang berbeda. Dia sempurna. Berlebihan mungkin jika aku berkata begitu. Tapi itulah yang aku rasakan.

Aku tidak tega melihatnya mengidap sakit mata. Aku ingin menggantikan posisinya. Biar. Tak apa. Lalu beberapa hari kemudian doa itu terkabul. Hahaha. Eh, emang saatnya giliranku sih sebenarnya.

Cara berpikir, tutur katanya, jiwanya, dan caranya memandang dunia yang kerap membuatku aku tidak mau berpisah. Ungkapan ringan seolah menjadi nasihat terselubung yang seringkali aku terima. Aku kemudian amat bersyukur. Belajar dengan orang yang tidak terlalu banyak beretorika, melainkan aksi.

Seperti dengan yang lain. Aku punya banyak cerita yang mungkin tidak akan aku lupakan. Salah satunya saat kita seperti orang kerasukan bernyanyi diiringi genjrengan gitar di Warung Mr. Bob. Hehe, asal muasal rumor yang melekatkan stigma bahwa kita tidak mau membaur dan bergaullah yang kemudian membuat kita memberanikan diri unjuk gigi. Beruntung sebelumnya sudah sikat gigi. Aku sendiri benar-benar tidak hafal dengan semua lagunya. Hehe payah sekali. Semua lirik aku dapatkan dari hasil ketikan secara cepat di search engine. Hahaha. Meski bingung. Sebenarnya aku bahagia karena sudah lama tidak menyanyi diiringi gitar. Yang lebih membuatku bahagia, mereka semua amat ramah dan baik walau telah lebih dulu menapaki daratan Mr. Bob English Course. Bro Ikham, Bro Arul, Bro Ai dan Sis Laili.

Mmm, semoga Allah mudahkan segala impian luhurmu, Kak. Dilancarkan pekerjaannya, studinya ke Taipei, bisnis dan lain-lain. Bahagia dunia akhirat.

Eka Francisca Fitri Agustin

Kak Icha. Mandiri. Mungkin kata itu yang menggambarkan dirinya. Dia banyak bercerita tentang pengalamannya hingga sampai di Pare. Yaps! Kak Icha suka bercerita. Seolah tak pernah surut dan habis. Lancar. Hehe. Pun saat ia bercerita dalam bahasa Inggris. Aku ingat sekali saat pertama bertemu di office, Kak Icha menceritakan bagaimana kurang tidurnya ia hingga menyebabkan matanya seperti mata panda. Padahal panda mungkin tidak sependapat dengan istilah bikinan manusia ini. Hehe.

Di camp dulu, Kak Icha jadi pegiat untuk selalu berbicara menggunakan bahasa Inggris bahkan meski sedang tidak di camp. Aku biasanya yang suka tidak mengindahkannya. Hehe, pegel, Cin. Kak Icha bahkan mempunyai aturan untuk tidak menggunakan "How to say....." agar kita mau berpikir keras terlebih dulu. Tak usah ditanya, aku juga yang kerap melanggar. Hahaha.

Seperti Kak Santi, Kak Icha juga tidak pelit memberi motivasi padaku. Dari apa yang pernah ia sampaikan, bisa aku simpulkan bahwa kesempatan bisa dimiliki setiap orang. Siapapun. Jangan pesimis dan mempersempit pemahaman akan kenyataan itu.

Kak Icha itu baik dan strong. Kelelahan usai perjalanan panjang dari Bandung ke Pare tidak membuat ia kemudian memiliki alasan untuk men-skip kelas. Walau masih linglung, ia menghadiri semua kelas perdananya dengan antusias. Bahkan ia berkali-kali mengungkapkan ingin meminjam catatanku----yang tulisannya serupa cakar ayam----karena merasa telag banyak ketinggalan pelajaran.

Semangat ngerjain Thesisnya,  Kak! Semoga dilancarkan segenap rencananya. Mengajar, study abroad, dan lain sebagainya. Sejahtera dunia akhirat.

__________

Dua bulan yang terasa dua minggu. Hehe. Cepat, melesat bak meteor. Berlalu, layaknya awan di langit biru. Terdengar berlebihan. Tapi memang itu yang aku rasakan. Hahaha.
Mungkin karena betapa banyak pelajaran, tantangan, dan kehangatan yang aku peroleh dari waktu ke waktu saat disana. Meski kadang membuat aku terlena. Tapi aku amat menyadari, aku mendapat lebih dari sekedar belajar bahasa Inggris. Kalian, segenap keluarga Mr. Bob, Pak De---Bu De, dan semuanya tanpa terkecuali adalah bagian dalam hidup yang tidak akan aku lupakan. Aku memohon maaf lahir dan batin. Thanks for being such a great part of my life! Break a leg! Never give up!

Best Regards,

Lutfiyah🍃

Banyak banget kejadian yang ingin aku tulis di banyak minggu terakhir ini. Pelajaran yang aku dapat. Mulai dari jangan menilai orang dari cover, aku yang masih pemalu dan ngga PD, perbincangan berbobot yang harusnya jadi ringan buat kita sebagai penerus bangsa, bahasa yang kalo ngga dipraktekin dan dienlarge-in sendiri ngga bakal berkembang, menghargai orang lain, lebih bijak dalam bersikap, berusaha menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya, banyak yang belum dipelajari, banyak orang yang belum dibahagiakan, dan sebagainya.

Mafhum jika semua untaian kalimat itu kemudian hanya mengendap dan menumpuk di batok kepalaku. Karena memang aku tidak berusaha meluangkan waktu barang sebentar untuk menuliskannya seperti biasa. Aku lebih memprioritaskan istirahat sejenak. Lalu memprioritaskan kegiatan lain yang bagiku juga tidak bisa disepelekan. Yaps, setelah menjalani proses KBM selama satu periode yang setara dua pekan di Mr. BOB Kampung Inggris yang merupakan lembaga kursus bahasa Inggris, aku dan empat temanku yang lain diminta untuk menjadi tutor camp. Kami pun sebenarnya sudah memprediksi jika kami bertujuh akan mendapatkan kesempatan untuk menjadi tutor. Namun yang agak membuat kami kaget adalah, kami berlima harus menjadi tutor satu periode lebih awal. Yeaah! Nano-nano rasanya. Namun sebelum menjabarkan bagaimana cerita alias kisah didalamnya. Aku akan menceritakan sekelumit kejadian yang sempat aku ketik sedikit demi sedikit sebelum akhirnya aku dan yang lain sok sibuk (hehe) menjadi tutor camp.

_________

Jangan menilai dari cover

Mungkin hampir semua dari kita sudah ditanami nilai untuk jangan mudah menghakimi orang hanya karena tampilannya. Namun tidak semua mendapatkan tanaman yang sama. Seringkali mereka harus menjemput atau menanamnya sendiri. Tak apa.
Meski dari kecilku bisa dibilang lingkunganku homogen, aku cukup mengerti bagaimana bersikap pada orang-orang yang memiliki perbedaan dengan kita. Selama masih bisa hidup berdampingan kenapa harus rusuh?
Baiklah, jangan sampai sejauh itu bahasannya. Ambil contoh kecil yang juga menjadi salah satu kisah yang menjadi pengingat untuk diriku sendiri. Jadi aku memiliki teman sekelas yang tampilan gaul minta ampun. Namun tak ngobrol maka tak kenal. Inilah yang akhirnya membawa kami ke obrolan yang cukup panjang, kemudian bagaimana ia bersikap kepada orang lain namun tidak juga berlebihan. Ada satu pertanyaan yang kemudian cukup menyambar pola pikir yang memang sebelumnya juga tidak jauh berbeda, yakni: apa hobimu?
"Aku suka mendengarkan lantunan sholawat," katanya. Waah, aku sangat berterima kasih dikenalkan dengan lelaki yang sudah seperti adikku karena mereka seumuran. Pun jika dia kemudian tidak memiliki hobi dan background agama dll yang sama, aku akan tetap bersyukur karena pertemanan bukan hanya karena persamaan. Tapi karena dalam perbedaan akan selalu ada persamaan. Yah, begitulah.

Masih pemalu dan ngga PD

Malu itu sebagian dari iman. Namun bukan malu untuk kemudian menjadi pribadi yang lebih baik, salah satunya dengan berbagi ilmu. Sering, aku merasakan malu untuk maju. Tidak percaya diri dengan kemampuanku dan lain sebagainya yang sebenannya hanyalah alasan klasik yang menghambat kita untuk menjadi manusia bermanfaat. Karena hakikatnya setiap orang dikaruniai kelebihan, lantas kenapa harus tidak PD? Alangkah lebih baiknya jika waktu yang dihabiskan untuk itu justeru digunakan untuk mengasah potensi bukan? Namun kepercayaan diri tidak lalu membawa kita ke akhlak tercela, yakni tinggi hati.
Aku pikir, setelah aku sudah berani begini dan begitu, tingkat rasa malu berada di arena umumnya akan menghilang. Ternyata tidak demikian. Lihat saja, aku deg degan setengah bungkus nasi kala makan bersama di warung Mr. BOB seolah aku tengah mengambil rapot dan menantikan hasilnya. Namun setidaknya, rasa malu di keramaian semacam itu kian berkurang. Entah itu baik atau tidak. Yang pasti setiap manusia perlu yakin dan percaya, bahwa fitrah mereka adalah baik. Mereka memiliki potensi yang besar untuk menjadi orang besar asal tidak melupakan fitrahnya, seperti semangat, sabar, dan lain sebagainya.

Perbincangan Berbobot

Aku sebenarnya tidak telalu mengerti apa yang dimaksud berbobot. Karena mungkin itu terlalu sarkastik. Aku pun adalah orang yang tidak terlalu suka obrolan yang berat. Karena bacaan dan tulisanku saja ringan-ringan saja. Namun sering aku mendapati diriku seolah orang yang amat aneh karena berbincang mengenai hal yang lebih serius atau katakanlah agak dalam. Seperti masa depan, dll. Tentu tidak semua orang yang aku temui begitu. Banyak juga yang sepemahaman. Juga aku tidak mempermasalahkan mereka yang seragam denganku. Karena siapa tahu, orang-orang itu hanya tidak ingin mengungkapkan. Padahal yang mereka pahami jauh lebih mendalam.

Praktik Sendiri

Gimana? Sudah berapa ratus vocab academik yang sudah dihafal dan diamalkan? Pikiranku selalu saja bercabang. Padahal sebenarnya cabangnya bisa dipotong dengan aksi. Hihi.
Kian kemari kian paham, kalau apapun ilmu yang kita dapat jika tidak dipraktikan sendiri maka tidak akan bisa berkembang. Hanya polesan, teori dan apapun namanya kalau kita tidak mau mengulang apa yang sudah kita dapat di kelas maka hasilnya ngga worth it. Ini salah satu cabang pikiran yang kerap menghantui dan masih ku coba sulap menjadi sebuah aksi.

___________

Rasanya campur aduk saat pertama kali diminta menjadi tutor camp. Aku tahu aku tidak sendiri. Tapi bagiku ini akan cukup menantang. Tidak seperti di kelas. Tutor camp artinya kita akan satu bangunan dengan para member dan lebih banyak interaksi. Cukup berat untuk orang yang lebih suka diam sepertiku. Namun bagaimana pun aku harus menghadapinya. Rasa takut itu biasa, karena aku cuma seorang manusia. Beruntunglah aku karena memiliki Allah yang Maha Segala.

Alhamdulillah, selesai belajar bersama teman-teman, ber16 orang. Usai itu, kami melanjutkannya dengan sharing dan hearing. Salah seorang dari mereka kemudian berkata, "Sisssss... jangan banyak diem. Banyak omong dong." Dan guys, aku memang susah bergaul dan ngoceh panjang lebar dengan orang baru, tapi aku akan terus berusaha demi kalian hehe. Meski kadang akan lebih nyaman dengan orang yang menerima kita apa adanya, ngga perlu pura-pura hanya karena ingin diterima. Tapi ngga masalah juga kalau ingin menjadi makhluk sosial yang lebih baik sih. Selama masih dalam porsi dan terus berusaha untuk tulus.

Berusaha tulus tidak mesti kau akan di terima oleh banyak bagian. Kadang masih saja ada orang-orang yang senang berbicara di belakang. Sementara aku adalah orang yang percaya-percaya saja bahwa bagaimana pun tampilan seseorang, mereka pasti dikaruniai hati yang tulus. Meski sudah clear dengan metode muhasabah yang aku buka, bersama pastinya. Setelah itu aku berusaha semampuku. Benarlah, Allah selalu bersama. Jika tidak, mana bisa aku melewati jalan yang amat bersebrangan dengan personality yang ada pada diriku.

Sampai suatu hari, karena terlalu banyak target, aku sampai lupa membuat schedule. Ini yang akhirnya membuat aku lupa bahwa aku harus mengumpulkan hasil kuesioner ke office. Padahal kala itu kelas yang aku ambil cukup menyita waktu. Hingga akhirnya beberapa misscal dari office pun menumpuk di handphone-ku. Akhirnya setelah kelas usai, aku bergegas menuju camp. Aku kemudian mengambil tumpukan kuesioner yang sebelumnya sudah ku minta untuk diisi. Barangkali mereka juga sibuk. Hingga tidak sempat mengisi. Akhirnya dengan berat hati, aku meminta tolong pada beberapa orang yang ada disitu untuk mengisi sisanya. Karena deadline pengumpulan sudah sangat mepet dan rapat akan segera diselenggarakan beberapa menit lagi. Aku kemudian baru menyadari setelah rapat jika beberap orang itu justeru tidak pro dengan ku. Bisa dibilang hanya tersenyum jika didepan. Dan aku paling tidak bisa membohongi nurani seperti itu.  Terseyum manis di depan, tapi memperbincangkan kita di belakang. Namun aku amat menyadari, aku tidak mau menyalahkan orang lain. Aku berusaha menghapus beragam prasangka. Aku harus mengintropeksi diri. Barangkali memang aku yang kurang berikhtiar untuk menjadi "fun" versi beberapa orang itu. Bahkan setelah materi kompleks, santai namun serius, tepat waktu dan lain-lain seolah tiada artinya. Tak menjadi masalah, aku menerima setiap kekurangan dalam diri, kemudian akan aku coba perbaiki. Dan dengan hal aku tidak sedikitpun tidak berhak dan tidak mau membenci.

Human measure the result. Allah measures the effort. Manusia cuma liat hasil. Allah yang ebih paham. Jadi, duhai teman-temanku (pdhl utamanya ke diri sendiri haha), jangan fokus pada result. Tapi effort. Besarnya effort juga tidak bisa diukur oleh orang lain. Jadi suaaantai sajaah. Sersan. Serius tapi santai dalam mengarungi kehidupan, supaya tidak melupakan esensi dan kenikmatan dalam setiap tegukan yang disajikan kehidupan.

Namun banyak sekali dari mereka yang tulus menerimaku apa adanya. Bahkan mendukung setiap perubahan baik yang membuat aku lebih dekat dengan mereka. Ini semakin terlihat saat mereka sedih kala mengetahui aku akan pindah camp. Mereka tak perlu menjelaskan dengan kesedihan dan pemberian itu, karena aku telah merasakannya. Bagaimana mereka berperilaku, nge-treat aku dan lain sebagainya. O iya, selain alasan lain, salah satu alasan yang cukup kuat adalah aku dan Kak Santi yang seperti perangko dengan surat. Nempel. Hehe. Tak masalah, akan aku hadapi apapun itu, insya Allah.

Anyway, teerima kasih banyaaaaak sudah mau menerimaku menjadi bagian hembus napas dari kalian, teman-teman. Aku yang; makan di warung saja malunya setengah mati padahal ngga ada ngeliatin juga, malu saat menghadiri acara ramai apalagi harus duduk di depan, malu begini malu begitu malu begita malu begito. Makasih banyaaaaak sudah banyak memberi pelajaran yang kerap menjadi refleksi bagi kehidupan pribadiku. Apapun background kita, kita adalah sama, keluarga yang saling mensupport untuk meraih nikmatnya ilmu. Love you All.

Aku tidak akan pernah melupaka saat kita nge-game, tutorial hijab, menganalisis makna tulisan dan lain-lain. Aku juga ngga akan lupa ceramah panjang Bu Kost yang sebenarnya bisa diambil poin sehingga lebih efisien dan efektif. Tapi bukankah seseorang seringkali unggul bukan karena dia pembicara yang baik, melainkan pendengar yang baik dan tepat pada saatnya dia harus mendengar san lebih baik diam. Saya ingat betul semua sindiran beliau; Saya selama disini belum pernah denger suara sampean teriak e, Mbak, sampean itu lemah lembut lebih cocok jadi guru TK saja, sampean itu harus mikirin anak orang yang sudah bayar dll. Sampai sebegitunya seolah aku tidak pernah memikirkannya. Hmm, kalau beliau tahu, aku bahkan sudah memikirkannya sebelum didaulat menjadi tutor saat melihat kelas sering sepi karena beberapa alasan yang sepele. Aku jadi ikut memikirkan nasib mereka dan mencoba memikirkan sebuah solusi. Meski aku pun tidak melulu mengungkapkannya. Kalau saja Bu Kost tahu suara melengkingku saat visit camp membangunkan para member cowo agar mau bergabung dan menjadi bermanfaat sorenya. Padahal aku awalnya bingung, bagaimana menghadapi murid dalam satu ruangan yang kesemuanya lelaki. Hmm, semoga Allah menuntun dan membersamai. Aku bisa saja membalas semua ucapan Bu kost, tapi aku memilij diam saja dan mendengarkan. Biarlah. Beberapa tipikal orang kadang hanya perlu didiamkan dan dibalas dengan senyuman.

____________

Kisah di Camp Baru

Mumpung ada ilham, aku memutuskan untuk mengambil buku, alat tulis dan lain-lain pagi menuju siang kala itu. Rasanya sudah seabad tidak membaca novel dan mengulang pelajaran, atau hanya sekedar menulis vocab. Belum genap aku melancarkan kegiatanku, Bu Kost mengetuk pintu. Aku segera menjawab dan membuka pintu saat seorang memberku masih terlelap. Kemudian beliau menyampaikan untuk pindah kamar ke seberang, karena kamar yang kami tempati akan disulap menjadi kostan. Ku urungkan niat untuk mengasah otak dengan ilmu pengetahuan yang saat ini masih amat jarang terjadi. Kemudian aku mulai berkemas, hingga memberku pun terbangun dan mengikuti jejakku.

Bukan hal yang sulit memindahkan semua barangku ke seberang, karena jumlahnya memang tidak seberapa. Namun kami berdua turut memindahkan barang member yang belum tiba di camp.  Sebelumnya aku tinggal di camp Skyforce, disana aku memiliki teman yang lebih aku anggap keluarga. Ada Arista, Calista, Gaby, Syalli, Zahra, Sis Apil (tutor camp terkejte) dan lain-lain. Hehe kalau ingat mereka aku jadi ingat punya banyak kisah dengan mereka. Arista yang menjadi orang pertama yang akhirnya membuat aku membiasakan diri makan di tempat umum (warung), atau Gaby dan kawan lain yang mengajak aku bertandan ke Bromo, namun terpaksa aku tolak. Hehe, ada sih uangnya, tapi budget untuk bertahan hidup. Siapa yang tidak mau menjelajah dengan sahabat-sahabat terbaik? Siapa yang tidak mau meraup pelajaran dari sebuah perjalanan? Namun kadang yang kita mau tidak mesti kita turuti. Terlebih I still can't earn money by my self. Apalagi aku percaya, bahwa setiap orang pasti memiliki kesempatan yang sama. Berbekal doa dan usaha.

Ah, banyak sekali kisah di Camp Skyforce yang tidak aku lupakan. Juga cerita nano nano yang ada di Camp Passionate Dreamers yang satu halaman dengan Wonder Woman. Hmm, sekarang aku tinggal di camp baru yang aku beri nama Butterflies, bergabung dengan Hot Summer, ditutori sahabatku, Sista Isa.
Kepindahan yang awalnya cukup tidak aku inginkan karena meski banyak kejadian rumit di camp lama, aku percaya aku akan bisa melewatinya. Terlebih aku bukan pribadi yang mudah memahami lingkungan baru. Namun beruntung, sepertinya aku pribadi yang selalu siap dengan apapun masalahnya yang menanti di depan.

Lalu, hari pertama aku dan Sista Isa bermalam di camp baru dengan membawa baju ganti dan barang secukupnya untuk kelas besok pagi. Saking tidak terencananya, aku sampai lupa tidak membawa perlengkapan mandi. Kami kemudian memperkenalkan diri, mereka manis-manis, baik-baik sepertinya dan antusiasme. Aku agak terperanjat jika ternyata aku akan memiliki lebih sedikit member alias teman jika hanya menghitung member butterflies. Namun aku salah, mereka ternyata amat sangat saling respect. Baik bukan hanya pada kesan pertama. Bahkan aku dan Sis Isa diperlakukan sama, dua perbedaan nama camp tidak menjadikan sekat diantara kami semua. Mereka amat menyenangkan. Aku juga heran. Hal lain yang awalnya yang juga membuat aku cukup terperanjat adalah saat aku tahu camp ini masih terbilang baru, bagus dan bernuansa putih, warna kesukaanku. Tidak dilengkapi Wi Fi juga salah satu yang cukup menarik perhatian orang yang rantau yang ingin berhemat sepertiku, hahaha. Yang lebih hebat lagi adalah kamarnya banyak. Jadi dalam satu kamar hanya ada dua orang. Neda dengan camp sebelumku, berisi lima orang. Namun ada satu hal yang menguji iman, suasana camp baru ini panasnya minta ampun. Seperti di sauna. Aku sendiri belum pernah ke sauna, itu hanya katanya. Panasnya tidak wajar karena sebuah AC di ruang depan memang belum dinyalakan karena belum ada titah dari manajemen office. Panas yang tidak ketulungan ini sepertinya karena memang rumah tersebut didesain ber-AC, tak ada fentilasi. Yang ada hanya mesin blower bising yang sebenarnya hanya mengalirkan hawa panas tanpa mengurangi. Jadilah kami semua serupa orang yang lari berkilo-kilo meter, keringat mengucur deras, tidur tidak nyenyak. Aku jadi ngeri sendiri membayangkan balasan di yaumul akhir kelak. Terlebih di padang mahsyar yang panasnya seolah tak terdefinisi.

Namun lihatlah hari ini. Beragam kenikmatan mendekat dan menetap pada kami. Tentu karena Sang Illahi. AC sudah dinyalakan, jadi sudah lumayan dan kami amat bersyukur. Para member juga sangat menyenangkan dan antusias untuk belajar dan menaati aturan. Kami bahkan dengan cepat menyatu menjadi keluarga baru. (Salah satu tutor bahkan berpendapat, "Aku suka members mu. Mereka reactive banget sama english. They take it seriously. I love them." Aku kemudian bergumam, "Alhamdulillah. If they did it, it's because of their own selves. May Allah guides them.") Wi Fi juga kabarnya besok akan dipasang. Alhamdulillah bisa berhemat. Semoga bisa digunakan semestinya, tidak hanya handal membuat status di sosmed, hehe. Banyak sekali kenikmatan yang Allah berikan. Padahal kalau aku ingat lagi, aku tidak pernah complain atas apapun pada Allah perihal apa yang aku hadapi di camp sebelumnya. Kamar yang full, kamar mandi yang terbatas, Bu Kost yang hobi ceramah unfaedah (Oops), beberapa member yang aduhai cukup gimana gitu tapi aku tidak pernah benci apalagi dendam, dan lain sebagainya. Aku tidak mengeluh pada Allah, kebetulan (Haha). Namun Allah kini membalas dengan cara yang amat indah. Aku sampai malu sendiri jika tidak betul-betul belajar berada disini.
Yang menjadi buah pikiranku adalah kadang aku takut tidak bisa memberikan yang terbaik untuk para member. Karena mengajar tanpa inovasi, begitu-begitu saja----bagiku amat flat, tidak menyenangkan. Hmm, dengan mengucap bismillah, aku akan berikhtiar.

Kesan di kelas Periode 1

Di periode pertama pikiranku bercabang kemana-mana. Sebab rumor kita akan didaulat jadi tutor, sebab itu pulalah aku jadi tidak fokus pada konten, melainkan cara mengajar para tutor. "Benarkah aku bisa seperti mereka?", pikirku. Di minggu pertama aku hanya fokus pada cara mengajar, sedang isinya hanya sepersekian persen. Karena aku kira kami akan langsung jadi tutor kelas. Padahal tidak demikian, hahaha. Entahlah, semenjak Skripsi menjadi bagian dari hidupku, aku jadi kerap tidak bisa fokus pada satu hal. Bercabang. Begini. Begitu. Bahkan kalau ada orang bertanya hal remeh sekalipun, aku acapkali masih berpikir dulu sebelum akhirnya mampu melempar jawaban. Hmm, Allah. Mudahkan hamba untuk menjernihkan kembali pikiran. Sebab segalanya adalah jihad, bukan beban.

Periode pertama aku menyukai kelas Speak Up 2 karena mengharuskan kita untuk berbicara. Aku suka. Meski sebenarnya aku amat mendambakan kelas TOEFL. Namun kami kan hanya anak beasiswa, jadi cukup bersyukur saja dengan paket yang sudah ada. Tentu usai itu tak lupa melantunkan doa-doa.
Aku juga menyukai kelas Pronun WOW. Tutor yang menghandle kelas juga begitu talent. Sedang Go Go Talk sering membuat aku mengantuk, ada serpihan kecil yang membuat aku bertanya, tapi lekas tertepis dengan pernyataan: Tidak ada salahnya mengulang. Ingat, kita bisa belajar dari banyak hal. Yang terakhir kelas Tik Talk. Disana aku mendapat beberap kosa kata baru. Semoga tidak hilang dan tertiup laksana debu.

Kesan di kelas Periode 2

Aku senang bisa bergabung di kelas Quicky Speak. Menantang. Kelas yang paling aku suka. Kelas yang paling aku tunggu. Tidak ada bedak bayi, cekikikan dan game. Meski kadang tertawa juga amat penting, biar tidak terlampau serius. Nanti cepat kurus. Eh.
Write Up juga kelas yang aku gandrungi. Meski kerap bersalah karena tidak meluangkan waktu untuk melatih menulis dan berbicara topik berfaedah dan berbobot sendiri di Camp karena terlalu banyak excuse.
3 GP 1 harusnya ada di periode pertama, namun aku juga bersyukur, kelas ini bisa jadi jalan untuk mengingat kembali apa yang mungkin dulu sudah dipelajari tapi terlupakan karena tidak pernah diamalkan. Aku juga dijadwalkan mendapatkan kelas I - Club, kelas untuk belajar mengajar. Dari keempat kelas bisa aku simpulkan aku tidak berikhtiar maksimal, selalu. Di Quicky Speak aku ga belajar dan mempersiapkan materi dengan matang melainkan dadakan, di 3 GP 1 aku tidak sempat membaca lagi di Camp (cuma sedikit sih), di Write Up dan I Club juga begitu. Hmm, bismillah semoga setelah ini Allah mudahkan untuk melakukan yang terbaik. Dari sini aku jadi paham, bahwa sesuatu memang harus dipersiapkan, dilatih dan dipelajari lebih dulu. Menanam, kemudian menuainya kelak. Aku sempat berbincang lama dengan Bro Chan dan Sis Umami. Dari keduanya aku jadi ingin belajar lagi, sendiri jika memang belum ada tutor. Berdoa, belajar dan berlatih. Lebih mengarahkan diri untuk bercakap topik berfaedah dan menulis tulisan ilmiah dan akademik, terlebih katanya aku ingin sekali melanjutkan studi bukan. Wallahua'lam.

Kesan di Kelas Periode 3

Periode juga banyak sekali menumbuhkan banyak anak cabang pikiran. Bagaimana bisa mengantuk di kelas favorit yang mendapatkannya pun tidak pernah terduga sebelumnya. Ya, jadi kita bisa memilih paket sendiri di periode ini. Aku dan beberapa dari kami memilihi kelas TOEFL. Sulit dipercaya. Laa hawla wa laa quwata illaa billah.
Hehe, di awal pertemuan entah setan apa yang mendiami pelupuk mataku. Ngantuk minta ampun. Scoring aku lewati dengan menahan kantuk yang amat dalam. Padahal aku adalah tipe orang yang tidak pernah mengantuk separah itu di kelas. Karena aku bukan anak organisasi saat di kampus. Maka akan sangat aneh jika aku mengantuk di kelas. Sebab meski aku lemot, aku sangat menghargai kelas karena itu merupakan anugerah berupa pendidikan yang tidak bisa aku sia-siakan. Dulu waktu kelas 12 SMA aku pernah dua kali didapati tidur pulas di tempat dudukku saat KBM berlangsung. Itu karena aku baru tidur usai sholat Subuh dini hari karena harus menyelasaikan proyek sekolah, menjahit baju seragam sekolah. Beruntung guruku saat itu pengertian. Padahal beliau terkenal tidak ramah pada murid. Tapi aku yakin, hatinya baik bukan main. Maka saat itu perdana aku merasakan bagaimana secara tidak sadar mengantuk dan tertidur saat pelajaran berlangsung. Sungguh memalukan. Hehe.

Sudah seminggu kelas TOEFL berlalu. Sudah berapa lembar buku relevan yang aku baca? Sudah berapa kosa kata akademik yang aku amalkan? Dan beragam pertanyaan lainnya. Besok kami akan menghadapi scoring kedua. Semoga aku tidak mengantuk. Karena ini adalah kelas yang sudah lama aku dambakan. Jika ada kesempatan, aku akan belajar kelas serupa di lembaga lain juga. Atau mungkin belajar sendiri mengingat sedikit banyak aku memperhatikam bagaimana metodenya selama ini. Hmm, entahlah. Que sera sera.

Adapun dari kelas ini aku jadi diingatkan dari oleh tutor-tutor kelas dengan segudang prestasi namun tetap rendah hati. Bahwa jangan lupa untuk menginvestasikan waktu untuk membaca dan menulis yang lebih ilmiah. Lalu ingat, bahwa menguasai TOEFL itu bukan perihal score yang didapat, tapi skill yang melekat.

Don't waste your time, girl!

Tambahan

Banyaaaaak bangeeeeet rasanya perubahan dalam diri sampai hari ini. Hehe. Lebih peka terhadap orang lain. Lebih percaya diri untuk mengungkapkan pendapat ataupun pertanyaan, meski masih lebih suka mendengarkan sebenarnya (kecuali ada yang kurang srek maka saatnya angkat bicara, walau kadang diam saja). Lebih hati-hati dalam bersikap. Lebih berusaha lagi memanaj waktu. So forth.
Yang jelas aku jadi sering berlatih untuk menemukan topik pembiacaran, haha. Misal: satu member tadi malam melangsungkan fashion show. Akhirnya esok harinya saat berpapasan aku akan membahas topik itu, memperpanjang, mengulas dan apapun itu. Memutar otak untuk orang sepertiku, yang awalnya lebih suka diam jika tidak ada yang mengawali pembicaraan dulu. Yah, tidak sesempurna orang yang memang handal berbincang panjang lebar. Namun at least aku berusaha memberikan yang terbaik. Berusaha untuk tidak membuat batinku tertekan dengan kegiatan baru yang harus aku jalani, melainkan bersyukur dan meyakinkan diri bahwa memperluas relasi dan menumbuhkan keeratan silaturahmi adalah salah satu cara untuk memperbaiki kualitas diri.
Yang cukup berubah lagi adalah aku yang sudah mulai bisa menerima kenyataan untuk bisa makan di warung atau tempat umum meski sebenarnya masih malu minta ampun. Entah ini perubahan yang baik atau tidak. Yang terang adalah aku yang awalnya paling tidak bisa makan di depat lelaki asing kini mulai terbiasa, anggap teman dan mereka manusia biasa. Hehe.
Apalagi yang berubah dan kesan menjadi tutor ya? Lupa. Aku pun sudah mengantuk. Baiklah. Aku akhiri dulu. Wassalam~

_____________

Sekian dulu curhatnya, jika ada waktu senggang dan ada yang terlupa, postingan ini akan segera diperbaharui. Thanks!

Ngomong sendiri: Lama ga nulis, tulisannya jadi kacau. Tar aku edit lagi dah.

Today is our last day of the period and I hate to say farewell, because some of members are going to back to their home. I will miss them a lot. For me, I still have about one month and two weeks to finish this program. Hopefully I will be more diligent to memorize a lot of vocabularies and practice it more. Because mastering English is not just because of we would like to pass the examination, but also to master it forever.

I had been studying in Mr. BOB Kampung Inggris for about two weeks which means  one period. I realize, I got progression in my self, especially in English. For instance, I used to hesitate to practice and speak English when I was in my home town. Then, when I decided to come to Mr. BOB Kampung Inggris I got used to speaking English almost everywhere, everytime, etc. Now, I am used to speaking English eventhough it has not been fluent yet. But I remembered  that practice makes perfect. I also believed, as time goes by everything will be better as long as I would like to learn and never give up.

Here, I also met many friends. They're not only my friends, but also my family. I was also grateful for having great tutors like Sista Dita, Rahma, Uci, Apil, and Bro Hadi. They're more than a tutor, they're motivator. They're like my brother and sister who were not be stingy to share their knowledge. It's not only about English, but also the others.

I'm very grateful to be here. Although sometimes I got headache because I felt that I still could not do all of lists in my schedule. It looks like I just wrote that schedule and had not attempt to make it happens. Anyway, it's just about priority. May Du'a will make it easier. And the important thing is don't forget to enjoy life and be happy. The last, thanks to all of you who had chosen me to become a part of you.

Best Regards,
Lutfiyah

Pare, 7th of Nov 18

________________

[Sebenernya ga terlalu yakin ama tenses yang aku pake, silahkan yang mau koreksi di kolom komentar 😄]

Beberapa minggu lalu aku mendapat informasi mengenai beberapa beasiswa dari salah seorang sahabat. Beasiswa belajar bahasa Inggris di Pare, Kediri yang terkenal itu. Sudah lama aku ingin belajar disana, bahkan aku juga bermimpi belajar di negara asal bahasa asing itu. Namun aku tidak pernah membayangkan salah satu dari mimpi itu kemudian menjadi nyata. Karena aku tidak tahu bagaimana caranya. Namun aku tak berhenti bermimpi hanya karena bingung bagaimana caranya. Sebab cara Allah Swt. selalu tidak dapat diduga.

Hingga pada akhirnya aku mempersiapkan persyaratan. Saat hari H hendak mendaftar, ternyata ada kesalahan, info beasiswa di salah satu course tersebut belum diperbaharui. Admin menyatakan jika pihaknya belum membuka beasiswa untuk angkatan selanjutnya. Alhasil aku harus menerima kenyataan yang pahit itu. Sebab aku percaya, akan ada kesempatan lain. Sekali lagi, tak pernah kita duga sebelumnya.

Suatu hari sahabatku mengirimkan link mengenai informasi beasiswa di tempat kursus berbeda. Aku kemudian melihat persyaratan dan menelan ludah kala mengetahui kita diharuskan membuat video dengan durasi 1 menit. Dan aku adalah orang yang tidak terlalu suka diekspose dalam video. Percaya atau tidak, meski aku amat mensyukuri setiap apa yang Allah berikan, aku dulu masih sering berpikir bahwa orang-orang yang tampil dalam sebuah video adalah mereka yang good looking. Maka bagiku, biarlah mereka yang pegang andil. Hehe.
Tapi aku harus berusaha atas mimpiku. Itu sudah konsekuensi. Karena Allah Maha Adil untuk menakar usaha makhluknya. Maka aku menyanggupi syarat itu.

Dalam rutinitas siaran dan mengedit video di studio ATM Radio, aku menyempatkan diri sebentar untuk menulis oretan naskah yang akan aku sampaikan dalam video Challenge 1. Ya, masih ada tantangan selanjutnya. Sebelumnya, saat mencuci piring, menyapu lantai, sampai dalam perjalanan ke radio aku sudah menerka-nerka bagaimana isinya nanti. Aku bahkan memperagakan gerakan yang agaknya cukup heboh, kepribadianku yang lain. Namun nyatanya saat di video malah garing. Haha.
Aku kemudian meluangkan beberapa waktu membaca naskah dan mengulang-ulangnya agar paham dan hafal sembari menunggu editing video untuk radio yang sedang diproses untuk publish. Sedang khusus untuk syarat beasiswa, 41 video rekaman berdurasi 7 detik - 1 menit berhasil bersarang di galeri HP putih itu. Dan satu video pilihan akhirnya aku unggah sepulang dari studio. Bermodal tethering dari kemenakanku, video itu akhirnya terunggah juga. Aku menyelesaikan tantangan pertama. Lantas aku berdoa, sesungguhnya usahaku amatlah tidak seberapa, maka jika aku lolos nantinya, itu bukan karena aku bisa, tapi karena Allah Swt. yang menghendakinya.

_______

Pengumuman peserta yang lolos Challenge 1 tertera di akun resmi Mr. BOB. Yap! Aku mendaftar beasiswa yang dibuka Mr. BOB english course. Mataku kemudian mendapati namaku ada disana, di paling akhir rentetan 10 peserta yang lolos. Allah, alhamdulillah, seperti yang aku tanamkan dalam hati, jika memang lolos, itu semua karena kehendak-Nya. Aku tidak berpuas diri setelah itu. Sebab aku yakin tidak hanya aku, banyak orang akan melakukan hal yang sama: lebih giat lagi berdoa. Semoga jika ini memang jalanku, aku bisa lolos hingga tahap akhir. Eaaak, eh, aamiin dong ya.

Setelah dilakukan interview melalui WhatsApp, beberapa hari kemudian qadarullah aku lolos ke tahap wawancara langsung pada 23 Oktober 2018. Kami berlima akhirnya mempersiapkan diri untuk datang ke Mr. BOB Office guna menyelesaikan tahap terakhir.

Kami tidak diberitahu perihal jam interview, untuk itulah aku khawatir datang terlambat. Berbekal pengetahuan tentang jadwal bus dari Sumenep, aku berangkat jam 03:11 dini hari. Sekitar satu jam kemudian bus yang aku tunggu tidak juga lewat. Akhirnya aku memutuskan untuk naik mini bus hingga ke Tangkel, Burneh. Lagi, sekitar satu jam berlalu belum ada bus yang akan mengantarkanku ke terminal Purabaya. Aku mulai gelisah. Karena setelah mencoba mengalkulasi waktu secara sederhana, aku akan telat tiba di Pare. Pagi. Hanya kata itu yang menjadi patokan. Karena admin tidak membalas pesanku yang bertanya kepastian jam interview.

Ditengah kegelisahan aku bergumam, "Beneeeeeer! Ga ada yang bisa bantu aku. Kecuali Allah Swt. Ga ada yang bisa nolong. Kecuali atas izinnya. Bener. Tiap manusia sendiri. Mati pun sendiri. Meski makhluk sosial, Allahlah yang menggerakkan hati mereka untuk saling tolong menolong. Maka Rabb.. tolong hambamu, jika ini memang baik maka mudahkan. Jika tidak, hamba akan pulang"

Hehehe. Betapa mental tempenya aku. Belum berjuang sudah mau pulang. Beruntung ada keluarga dan Allah yang menguatkan untuk tidak menyerah. Hingga akhirnya sebuah mobil sedan berhenti di depanku. Sang pemilik (mungkin) menjadikan mobil pribadinya sebagai angkot. Aku sendiri belum melihat warna plat nomornya. Apakah Bapak ini bayar pajak atau tidak. Yang jelas, ia mematok tarif sedikit lebih mahal dari bus ekonomi.

Setelah menimbang dan melihat semua penumpang naik dari lokasi yang sama denganku (meski ini juga tidak bisa menjadi patokan aman tidaknya), dua penumpang wanita, dan beberapa pertimbangan yang lain----akhirnya aku memutuskan untuk naik mobil itu. Sembari merapalkan doa, aku teringat pesan Ibuku: "Jangan melihat orang hanya dari luar. Orang yang bersorban bisa jadi adalah tukang tipu. Berhati-hatilah."
Aku yakin, tiada yang lain selain pada Allah untuk menggantungkan segala harapan, salah satunya perlindungan.

Alhamdulillah tiba di terminal Parubaya. Aku lalu menaiki bus Patas yang bisa mengantarkanku ke Pare. Kondisinya masih sepi, jadi aku harus menunggu berpuluh menit sampai akhirnya bus itu berangkat juga. Bersyukur rasanya meski aku belum tahu apakah aku akan tiba tepat waktu. Ah, apa yang aku risaukan? Bukankah semuanya sudah digariskan?

Di dalam bus aku mengontak salah satu teman yang lolos lewat Instagran. Ray rupanya telah tiba kemarin. Ia juga mengungkapkan jika interview akan dilangsungkan pukul 10:00 WIB setelah bertanya langsung pada PJ. Karena sama sepertiku, saat bertanya jam lewat WhatsApp tidak dibalas. Hehe. Aku pun bernapas lega. Insya Allah aku tidak akan terlambat. Mungkin jam 9 sampai di lokasi.

Lanjut cerita, setelah untuk pertama kalinya aku menggunakan jasa Go-Jek aku sampai di kantor Mr. BOB pukul 09:52 WIB. Masya Allah. Beberapa menit kemudian interview berlangsung. Kami berlima dinyatakan lolos. Jika tidak, kami berempat sudah siap pulang kampung. Karena hanya Ghani yang akan tetap kursus tanpa beasiswa, katanya.

Ya, jadi kami berlima. Pertama Kak Icha asal Balik Papan, Kalimantan, dia sedang dalam proses pengerjaan Tesis pada salah satu kampus di Jogja. Kedua, Kak Santi yang berasal dari Sumatera Utara. Dia sarjana Ahli Gizi lulusan salah satu perguruan tinggi di Jogja dan sempat tinggal di Jakarta untuk bekerja. Yang ketiga Ray, anak Serang, Banten yang sedang mengambil cuti kuliah. Sedang Ghani dari Pandegelang, Banten yang masih dalam gap year usai lulus SMA. Lalu aku.
Hmm, mereka berempat, bagiku adalah pribadi yang menyenangkan.

_________

Keluar dari zona nyaman memang tidak enak pada awalnya. Tapi akan manis pada akhirnya. Tentu tidak gampang, apalagi bagiku yang sudah biasa hidup serba gampang. Maksudku hanya tinggal bersekolah tanpa bekerja. Meski aku dan saudara bukan tipe anak yang minta dibelikan ini itu, karena memang kami terlampau mengerti keadaan perekonomian keluarga. Mungkin bagi sebagian orang keputusan untuk kursus ke Pare adalah hal yang biasa saja. Kecil. Tapi bagiku ini adalah langkah yang besar dan cukup berat. Aku harus meninggalkan orang tua dan berbakti dengan cara yang berbeda dengan yang biasanya bisa aku lakukan saat ada di rumah, meski tak seberapa. 

Benar, Allah Maha Mendengar. Satu yang selalu aku ingat meski diriku masih bergelimang kekurangan yakni, andalkan Allah di setiap sendi impian. Jika memang yang terbaik untuk kita, maka Allah wujudkan.

Akhir kalimat, semoga Allah tanamkan keteguhan dalam hati kita untuk senantiasa bertaqwa dan merajut mimpi demi kebermanfaatan, serta memanfaatkan sebaik mungkin kesempatan yang telah diberikan. Aamiin.

Aku selalu berusaha menjaga perasaan orang lain. Bukan lantaran aku paham jika iman seseorang bisa dilihat dari bagaimana ia memperlakukan orang lain. Namun lebih karena sejak kecil secara tersirat maupun tersurat, itu adalah sikap yang diajarkan Ibu padaku. Maka aku amat tidak habis pikir ketika ada beberapa orang yang seenaknya mengeluarkan kata-kata menyakitkan, mengiris hati. Seolah ialah paling benar terhadap apa yang mungkin sedang dinilainya. Seolah apa yang dikeluarkan dari lisannya tak bisa menjadi bumerang baginya. Seolah tidak ada yang tak terlihat sedang mengawasi apapun yang ia lakukan selama ia masih bernyawa.

Aku begitu perasa. Karakter yang bagiku bisa menjadi sebuah kelebihan atau kekurangan dalam diri. Aku seringkali tidak ambil pusinh dengan ucapan seseorang. Namun adakalanya ucapan-ucapan itu melekat, ku ingat. Atau ku cerna, padahal ia bisa menjelma racun yang mematikan. Mematikan semangat untuk maju, untuk lebih baik dan lain sebagainya. Karena ucapan yang membangun dan menjatuhkan sudah barang tentu berbeda. Aku bahkan mengingat tiap-tiap empu mulut yang sudah sedemikian lancarnya mengeluarkan kata saat bahkan tidak ada satupun yang meminta. Jika sedari awal sebelum ucapan-ucapan itu keluar aku telah mengetahuinya lebih dulu. Maka telingaku sepakat denganku: tak sudi mendengarnya.

Namun tenanglah. Meski mengingat, aku tidak pernah menaruh dendam. Lebih tepatnya tidak bisa. Kadang aku sebal sendiri mengapa aku tidak bisa? Atau paling tidak, membalas yang sepadan! Tapi mungkin lagi-lagi Ibuku. Beliau yang mematrikan karakter ini bertahun-tahun padaku. Bahwa menjadi pendendam adalah asing bagi kami. Karena kami tak ingin menjadi asing bagi Tuhan kami.

Ibu: “Kenapa ga sekalian di ratakan saja. Bangun pondasi dari awal. Buat semuanya dari bawah, yang baru.”

Bapak: “Ga usah. Perbaiki saja yang rusak. Kita kan sudah tua. Sudah saatnya memikirkan bekal yang akan kita bawa kelak. Sudah tidak lama lagi kita disini. Maka biarlah anak-anak kita yang nantinya membangun yang baru jika mereka mau.”

Begitu potongan perbincangan menggentarkan kedua orang tuaku pagi itu. Banyak bagian yang akhirnya banyak membuat aku merenung. Betapa aku yang masih belum berbakti apa-apa di usia mereka yang kian senja. Aku yang juga belum memiliki bekal yang cukup, karena sejatinya maut tidak pernah mengenal usia. Dan beragam pikiran lainnya.

Aku sendiri memang tidak berkeinginan di masa depan untuk memiliki rumah yang megah, melainkan rumah yang nyaman. Adapun nyaman bisa datang dari suasana, design dan interior rumah yang tidak mesti mahal. Nuansa rumah berwarna putih dengan interior hijau mungkin akan menjadi pilihan utamaku. Sedang suasana yang nyaman dan mendamaikan hati juga tumbuh dari para penghuni rumah yang dipenuhi dengan cahaya taqwa. Rumah yang selalu bercahaya Karena dibacakan kalamullah setiap hari. Rumah yang penuh dengan keberkahan karena acapkali digunakan untuk menggali ilmu, nilai-nilai kebaikan dan tempat untuk kian menundukkan diri kepada Sang Khalik.

Jadi kamu tidak ingin diamanahkan harta berlimpah?
Jika memang itu yang terbaik, maka siapa yang bisa menolak. Boleh jadi arta yang berlimpah justru akan menjadi salah satu jalan yang memudahkan untuk mewujudkan impian-impian luhur. Seperti membangun sekolah gratis, perpustakaan gratis, dan lain sebagainya ketimbang hanya sebagai pelepas nafsu dan memperkaya diri. Memenuhi laci dengan tumpukan perhiasan warna-warni, memenuhi garasi dengan koleksi mobil pribadi, memenuhi lemari dengan tumpukan baju yang selalu baru dan tidak sempat dikenakan sama sekali, atau barisan tas bermerk agar bisa ditampilkan di TV, dan beragam pola konsumtif yang hanya mementingkan diri sendiri. Naudzubillahimindzalik.

Aku percaya bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Membolak-balikkan Hati. Jadi siapalah aku yang berani-beraninya menjamin bahwa aku akan selalu memiliki prinsip dan jalan hidup yang sama dari waktu ke waktu. Namun aku selalu berdoa, semoga Allah teguhkan pemahamanku, jika dunia hanyalah sementara. Supaya aku tidak akan pernah lalai dan berbelok arah. Juga, dimudahkan untuk menyiapkan amal baik yang suatu saat bisa ditukarkan dengan rumah yang nyaman di akhirat, yang kekal, abadi, hakiki. Aamiin.


Aku kerap mendapat pertanyaan yang bernada sama seperti: “Buat apa sih, Lut kamu seringkali share kata-kata atau cerita yang menginspirasi dan memotivasi? Toh kamu belum bisa meraih apa-apa.” Untuk kalimat terakhir hanya asumsiku. Hehe, tidak untuk ditiru. Aku sendiri sudah mencoba untuk berhenti karena merasa lebih baik fokus pada diriku yang masih sangat dipenuhi kekurangan dalam menjalani kehidupan yang benar. Namun ternyata itu tak bertahan lama. Aku benar-benar tidak bisa berhenti.

Jawabannya sebenarnya sederhana. Beberapa orang akan merasa sangat berapi-api untuk membagikan apa yang telah dia dapat. Baik itu ilmu, harta dan lain sebagainya. Seperti saat mereka usai mendapat khazanah ilmu dari pengalaman menjelajah dunia, menonton film, membaca buku, dan macam-macam. Mungkin aku salah satu diantaranya. Aku belum memiliki banyak harta yang bisa dibagi, untuk itulah barangkali sembari memperbaiki diri sendiri, aku mau membagikan semangat optimisme memperbaiki kualitas diri pada orang lain. Karena yang aku tahu, banyak sekali pelajaran yang bisa aku dapatkan dengan melihat kehidupan orang lain.

Selalu saja. Keinginan yang menggebu dan terlintasnya pikiran: “Duh! Jangan sampai hanya aku yang mengetahui dan merasakan ilmu dan semangat ini. Harus ada banyak orang yang mengetahuinya.” Walau pada akhirnya akan selalu ada langit di atas langit. Bisa jadi orang yang mendapat apa yang kita bagikan justeru lebih handal dan ahli di bidangnya. Namun alasan semacam itu tidak mampu menghentikan niat baik. Toh dunia ini amat luas dan ilmu lebih luas dari pada itu. Maka akan ada banyak hal yang mesti dipelajari, tak terhitung. Itulah mengapa manusia tidak bisa angkuh dengan apa yang sudah dipahaminya, karena mereka terbatas. Terlebih jika kita (setiap manusia) bisa saling melengkapi, saling memberi arti, saling berbagi dan saling menasehati.

Aku yakin, fitrah ini dimiliki banyak orang di muka bumi. Semacam konsep “Wa ta waa shaubil haq” dalam Islam. Meski memang, bagiku menasehati yang paling benar adalah dengan memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Lagi-lagi, itu tidak bisa jadi alasan. Sebab yang perlu dilakukan adalah bukan lantas memilih berhenti dan pandai mencari alasan, melainkan terus bergerak mengaplikasikan. Kemudian terus giat berdoa kepada Tuhan, semoga niat kita selalu tulus dan diluruskan.

Pertanyaan lain juga pernah hinggap di hadapan dari beberapa orang. Mereka bilang: “Untuk apa nyanyi-nyanyi di social media?”. Mungkin jika diterjemahkan dalam konotasi negatif, kegiatan semacam itu yang bagi beberapa orang tidak berfaedah adalah bentuk aktualisasi diri yang negatif. Padahal, bagiku pribadi, itu adalah bentuk untuk meningkatkan percaya diri. Karena jujur, aku masih berusaha meningkatkan kepercayaan diri karena sebenarnya aku tipikal manusia yang amat pemalu. Terkadang tidak semua alasan bisa dibagikan atau bahkan dimengerti oleh semua orang. Tak apa, teruslah memperbaiki kualitas selama itu jalan yang benar dan jangan lupa berdoa pada Yang Maha Mengetahui untuk senatiasa ditunjukkan jalan yang benar untuk belajar.

Sama halnya saat kita mencoba membagikan pesan moral. Boleh jadi kita telah berapi-api saat menyampaikannya. Namun setelah sampai di orang lain, alih-alih mendapat pencerahan, mereka malah merasa kosong tidak memperoleh apa-apa. Ini bisa jadi karena mereka memiliki pandangan yang berbeda, momen yang berbeda dan lain sebagainya. Tak apa, yang terpenting adalah terus memelihara niat yang tulus nan lurus. Kita sama-sama manusia, makhluk mulia. Pun artinya kita memiliki kesempatan yang sama. Yang membedakan adalah mau atau tidaknya kita mengambil kesempatan itu. Kalau bukan kita, lantas siapa lagi yang akan melakukannya?

Aku mengawali semester pertama di bangku kuliah dengan perasaan bersalah karena sempat kucing-kucingan dengan para kandidat panitia dies natalis. Begitulah aku. Aku akan lebih mengikuti apa kata Ibu sejak dulu meski menjadi bagian dari mereka juga merupakan tanggung jawab yang harus aku emban. Namun jika Ibu sudah bilang, “Tak perlu ikut-ikut seperti itu, panitia dan lain sebagainya. Langsung pulang saja setelah kelasmu usai, supaya tidak pulang kemalaman.” Begitu kata beliau. Meski semua itu disampaikan dengan lembut, aku mau tidak mau harus menurutinya, itulah kenapa sejak dulu aku tidak pernah terlibat dalam kegiatan kepanitiaan, juga sering aku merelakan beberapa ekstrakurikuler di sekolah demi mematuhi perkataan Ibu. Siapa yang tidak mengerti, jika hal itu justeru akan memperparah sifatku yang amat pemalu berpendapat, pemalu kemana-mana, pemalu dan pemalu lainnya. Namun aku percaya, Allah Swt tidak akan menyia-nyiakan hamba yang ingin berusaha sami’na wa’atha’na kepada orang tua. Aku bisa saja membantah dengan halus dengan cara memberi penjelasan tentang betapa pentingnya kegiatan penunjang luar kelas semacam itu, akan tetapi itu tidak akan mengubah banyak pemikiran seorang Ibu yang khawatir anak perempuan kemalaman di jalanan yang seringkali lebih liar dari binatang hutan. Maka aku sepatutnya bersyukur, kedua orang tua yang bahkan belum pernah mencicipi bangku sekolah itu rela memberikan kesempatan selapang-lapangnya kepada seorang anak perempuan desa untuk mengenyam ilmu pendidikan di kota saat SMA. Kemudian setelah itu berkuliah, masih di tanah kelahirannya.

Tak apa jika semua itu membuat beberapa calon panitia dies natalis periode kala itu melihatku dengan ekor mata kala bertemu. Toh memang aku yang salah dan lari dari tanggung jawab. Pun aku tidak pernah menjelaskan kepada mereka alasannya sebenarnya. Sering aku mendapat ajakan dari beberapa orang, lengkap dengan kalimat-kalimat yang terdengar begitu menyudutkanku dan terkesan menakut-nakuti. Tapi memang dasar, meski aku amat pemalu, aku ternyata memang bebal dan tidak mudah dipengaruhi orang. Aku juga berpikir jika aku sudah terlambat karena hari dilangsungkannya dies natalis akan segera tiba. Maka pastilah sebagian besar jobdist sie PDD telah diselesaikan, pikirku. Walaupun begitu, aku selalu terusik dengan perasaan bersalah. Ingin aku bergabung menjadi bagian dari panitia itu, tapi jangan-jangan memang teramat terlambat. Padahal jika boleh jujur, pekerjaan berbau PDD bisa sangat menyenangkan bagiku. Meski nyatanya aku tidak tahu persis apa yang akan dikerjaan sie PDD.

Dies natalis sudah berakhir, tapi rasa bersalahku tak kunjung berakhir. Beberapa hari kemudian aku mendapakan ide: minta maaf. Tapi aku takut mereka tidak memaafkan kesalahan yang begitu besar itu. Setelah meminta mendapat Himma, akhirnya aku bertekad untuk meminta maaf dengan cara mengirim pesan, hehe. Bahkan Himma juga mengecek pesan yang sudah aku ketik. Aku mengirim dua pesan yang sama dengan sapaan berbeda ke dua nomor: nomor handphone Nunik sebagai Ketupel Dies Natalis dan Toni sebagai ketua Sie PDD. Tak menunggu lama, keduanya membalas pesanku. Betapa terharunya aku dibuat mereka kala mereka ternyata memaafkanku dan meminta agar melupakan semua yang pernah terjadi. Aku cukup lega, walau sebenarnya tidak teramat lega. Karena aku belum meminta maaf ke banyak orang.

Singkat cerita, segala prasangka buruk dan perasaan bersalah perlahan ditelan kesibukan mengerjakan beragam tugas sebagai mahasiswa. Aku mulai merasa benar-benar bisa mencintai teman seangkatan dan menganggap mereka bak keluarga baru disamping bertebarannya kabar miring mengenai angkatan ini. Tapi aku tak peduli, kami adalah kami. Setiap manusia memiliki kekurangan yang bisa saja nampak atau Allah tutupi. Maka aku menjadi salah satu orang yang amat tidak peduli dengan omongan buruk orang luar angkatan, melainkan menjadikannya sebagai bahan evaluasi diri. Sebab kelompok terbentuk dari tiap-tiap pribadi. Bahkan aku sepertinya selalu menjadi orang yang terakhir mendapatkan berita seputar prodi dan angkatan. Belum lagi dari Toni dan Nunik, aku jadi mempelajari untuk mampu memafkan dan menerima setiap kekurangan dengan lapang. Hmm, sebenarnya aku tidak menginginkan dan mengira pembukaannya akan dimulai dengan cerita sepanjang ini karena pastinnya akan membosankan. Intinya aku telah belajar dari orang-orang hebat dalam angkatan ini. Maka biarkan aku membagi sedikit pandanganku terhadap kalian. Jika kurang berkenan, aku mohon maaf. Sengaja aku tidak membubuhkan kekurangan kalian yang sudah barang tentu dimiliki setiap insan, karena aku lebih sibuk memperhatikan dan  berusaha memperbaiki diriku yang penuh dengan kekurangan. Semoga Allah Swt memudahkan kita semua. Selamat men-skip dan mencari nama anda! Hehe.

Rieke Ayu Safitri. Ayu, begitu ia biasa dipanggil. Ayu seperti parasnya. Bagiku ia tak suka banyak bicara. Dia baik. Yang paling aku ingat darinya adalah jika tidak salah di hari pertama kuliah aku duduk di kursi paling depan bagian kanan, tepat disampingnya. Dia rajin mencatat setiap materi perkuliahan. Kulirik, tulisannya bagus bukan main.

Sofiatul Qoni’ah. Sofi. Tak ku sangka ternyata suaranya seindah wajahnya. Citra ini ku dapat kala berada dalam bis yang sama saat pergi Studi Lapang bersama. Orangnya baik dan sepertinya ceria.

Arini Rohmatika. Arini itu care. Meski tidak sedekat seorang teman dekat, dia tidak akan sungkan untuk menanyakan apakah tugasmu sudah selesai. Bahkan jika perlu, ia juga akan member pesan. Arini terkesan begitu rajin. Saat sekelompok bersamaku ia akan menyelesaikan jobdist sebelum tenggang waktu yang disepakati kelompok usai.

Desy Tri Mega. Desy, menurutku dia mudah bergaul dan pandai mencairkan suasana. Gaya biacara yang seringkali ceplas ceplos berupa candaan lucu membuat banyak orang senang berteman dengannya. Dia juga tidak pelit untuk mengaminkan dan mendukung mimpi orang lain. Aku yakin itu semua akan kembali kepadanya.

Uswatun Hasanah. Uus tinggi. Hehe begitu yang seringkali tanpa sengaja aku jadikan perbedaan kala menyebut dirinya pada yang lain. Dan mungkin itu juga sering dilakukan yang lain. Karena ada tiga Uus itulah akhirnya kami harus pandai-pandai membuat label, hehe *bercanda. Uus anaknya baik. Mungkin itu yang mengantarkan dirinya untuk menamai akun IGnya demikian *promo. Orangnya juga menyenangkan. Kalian akan mengetahuinya sendiri kala benar-benar mengenalnya. Bukankah kehidupan sering begitu? Kau kadangkala tak bisa mengukuhkan karakter seseorang hanya dengan satu tegukan kopi. 

Siti Luthfiyah. Evi, ku kenal saat kami belajar bahasa Inggris dengan Sir Wahid. Sebelumnya aku belum pernah berkenalan, meski kita telah bertahun-tahun berada di sekolah yang sama. Selain Evi yang memang tidak terlalu suka bicara dan heboh sepertiku, kami memang baru amat mengenal saat ternyata mengenyam pendidikan di prodi yang sama. Dia kalem, pintar, cantik dan sederhana.

Intan Kusumawati. Intan, si murah senyum. Atau mungkin murah ketawa. Karena ia tidak pernah segan untuk menimpali omongan atau candaan atau apapun yang relevan dengan tertawa-----dengan ketawa khasnya. Selain cantik, kepribadian yang baik membuat ia mampu memilki banyak teman.

Rizki Okvian Sari. Rizki. Dia tekun untuk mencari tahu apa materi perkuliahan yang belum ia pahami. Selain itu Rizki juga rajin mengerjakan tugas. Tidak sepertiku yang seringkali tunduk pada deadline. Ia juga tak segan membagi ilmu yang ia pahami dengan cara yang baik dan terlihat amat sabar, tidak merendahkan.

ST. Robiatul Adawiyah. Dewi orangnya baik. Dia juga seringkali membuat lelucon lucu, dan itu menghibur. Kala mengerjakan tugas kelompok, kesan pertama yang aku dapatkan adalah (kelompok pertama di kelas aku bersama Dewi dan beberapa anggota lain) ia cenderung lebih percaya dan menonjolkan orang lain, padahal sebenarnya dia juga bisa. Karena setiap orang memiliki kelebihan dalam dirinya.

Elza Septia Ayu Lestari. Seperti Evi, Elza juga berasal dari almamater yang sama denganku dan aku baru mengenalnya di kampus. Kami juga sempat menginap di masjid kampus karena kerja kelompok di masa orientasi memakan waktu hingga dini hari. Elza adalah sosok yang rendah hati dan sederhana.

Eva Rusdiana. Eva. Meski ceplas ceplos, Eva sebenarnya sosok yang baik dan peduli. Ia juga handal dan teliti di mata kuliah yang berbau aritmatika. Pertama mengenal dan mengamati sekilas wajahnya, aku mengira Eva adalah anak yang begitu pendiam. Hehe.

Maulinda Agustin. Linda, orang yang peka sekali. Ia baik bukan buatan. Sering menawarkan tebengan, atau bahkan mengajak. Karena ia amat peka dan mengetahui jika sang pemalu tak akan mengangguk jika hanya ditawarkannya, bukan diajak. Lebih daripada itu, kepribadian yang baik lain yang menetap dalam dirinya membuat banyak orang menyayanginya.

Nurul Jannah. Jeje. Aku bahkan baru mengetahui jika kita juga berasal dari almamater yang sama. Kala itu aku dikagetkannya di gerbang MAN. Ia menyapaku dan bertanya sudah keterima di kampus mana. Aku bingung karena sama sekali tidak mengenal Jeje. Siapa wanita cantik ini, pikirku. Akhirnya aku tersenyum, lantas menyengir dan menjawab jika aku belum diterima di kampus manapun, sementara ia sudah tercatat sebagai mahasiswa baru prodi Agribisnis di UTM. Kami pun saling mendoakan. Aku masih belum tahu identitasnya hingga akhirnya kami saling mengenal di kampus. Yang aku bingungkan, dari mana  ia mengenal aku? Hehe. Jeje anak yang pandai bercerita dan mengolah kata, ia juga mudah bergaul. Maka meski baru mengenal, akan selalu ada pembicaraan yang dapat mencairkan suasana. Beda jika denganku, seseorang justeru kadang merasa tidak dihiraukan karena aku terlalu banyak diam. Hehe.

Ria Mega Asri Tri Nalanda. Ria. Kesan yang aku dapatkan pertama kali saat kami   sekelas di mata kuliah PAI. Ia membawakan presentasi dengan amat baik, selain itu ia juga menjawab dengan tanggap. Tidak memilih-milih dalam berteman adalah salah satu sifat yang bisa aku lihat ada dalam diri seorang Ria. Ceileh bahasanya, haha.

Affan Nailurridho. Affan. Baik hati. Ia juga sering melontarkan candaan menjadi ciri khas tersendiri yang melekat dan memudahkan ia bergaul dengan siapa saja. Affan meski handal berpendapat, tak mau terlalu memperlihatkan kehandalannya. hehe.

Mega Sulfia. Mega, juga satu almamater denganku seperti Elza, Evi dan Jeje. Dan sepertinya satu-satunya yang memiliki persentase lebih saling mengenal denganku. Bukan tanpa sebab, karena saat di MA dulu, ia juga berteman baik dengan sahabat-sahabatku, Badi’, Mince, Caca’ dan lain sebagainya. Mega orang yang baik dan friendly.

Bismi Ade Yulia. Bismi. Citra pertama yang aku dapatkan darinya adalah dia menyukai bahasa Inggris. Kala itu ia mempraktikkannya dengan salah seorang panitia ospek. Kebaikan yang tak pernah bisa aku lupakan adalah saat dia membantuku untuk menyelesaikan satu tugas menulis tangan di praktikum Metode Kuantitatif Bisnis karena saat itu tanganku belum bisa menulis. Aku tidak meminta, tapi ia menawarkan. Akhirnya aku mengiyakan karena merasa ada banyak tugas lain yang menunggu. Beruntungnya bisa ku lakukan dengan mengetik menggunakan satu tangan. Selain itu, Bismi juga ku kenal tak sungkan untuk mengungkapkan pendapatnya di khalayak.

Annisatul Qomariyeh. Anis adalah salah seorang yang akan menyelimutiku kala tertidur selain Ulfa. Ini karena tempat kost mereka seatap. Lagi-lagi aku tidak pernah meminta tapi ia lakukan dengan tulus. Anis menyukai prakarya dan seni berpuisi. Sering ia menyulap karton-karton menjadi bintang yang lucu-lucu. Atau menuliskan bait-bait puisi di dinding BBM-nya.

Hendra Hardiyanto. Hendra terlihat santai saat mengerjakan tugas kelompok meski sebenarnya dia juga rajin. Satu sekelompok saat di ospek fakultas membuat aku bisa menyimpulkan beberapa hal mengenai karakter anak yang satu ini. Ia adalah orang yang santun, religious dan teman yang baik.

Risqi Kurnianti. Eqi. Menjadi partner asprak membuat aku merasa selangkah lebih mengenalnya. Dia menyenangkan. Dia kerapkali memberi kesempatan padaku, orang yang baru belajar. Sedang dia sudah lebih awal. Aku sendiri seringkali menyipulkan sesuatu mengenai tabiat orang kala bertemu pertama kali. Itu acapkali aku jadikan acuan. Namun ternyata tak selamanya benar. Kau akan lebih mengenal seseorang dengan baik seiring dengan berjalannya masa. Dan mengenal Eqi seperti mengenal lainnya. Aku jadi banyak belajar. Iya, dia baik dan pengertian. Dan belakangan aku ketahui dia sangat handal ngebut dan beraksi di jalan raya. Terlatih. Ini ku ketahui saat kami bertiga (Aku, Eqi dan Ana) pergi ke pameran beasiswa di Surabaya. Kala itu aku senang sekali mengetahui sisi lain darinya.

Ana Fifit Rotin: Ana. Aku nyaman belajar sama dia. Sama yang lain juga sih. Tapi dia itu salah satu tipikal orang yang tidk mudah mendiskreditkan orang lain. Sebab  aku yang meski bertanya hal remeh-temeh tetap dia anggap pertanyaanku itu keluar dari mulut seorang profesor. Amat berharga. Itu sedikit yang bisa menggambarkan jika dia humble. Aku tidak bisa menghitung kebaikan yang sudah dia lakukan untukku.

Aimatul Azizah. Iim. Begitu kami memanggil. Dia pribadi yang lucu, ceplas ceplos, baik dan cantik. Tak banyak yang bisa ku jelaskan tentang dirinya seperti sahabat dekat yang mengerti baik karakternya. Namun aku belajar banyak dari Iim. Salah satunya untuk selalu bersabar dan tidak menyerah untuk melakukan sebuah hal. Karena ada banyak orang yang menunggu dan mendoakan pastinya.

Sherly Utami Putri. Sherly ini baik dan sangat setia dalam berkawan. Dia juga memiliki selera seni yang menarik. Apalagi di bidang fotografi. Dia juga handal berpose di depan kamera. Terbaca dari karyanya jika ia adalah orang yang rapih dan detil. Tulisan tangannya juga amat unik dan indah. Terlihat sekali goresan seni di setiap huruf yang tertata.

Yulistian Parameswari. Aku bukan ingin mengatakan anak AGB 14 semuanya baik di mataku. Tapi kenyataanya memang begitu. Selain itu Yulis juga cantik. Hehe, ayolah, Lut. Berapa kali kau menilai orang hanya dengan ukuran fisik? Hehe, percayalah, pada faktanya aku bahkan jarang sekali hampir tidak pernah menilai orang pertamakali dari ukuran fisik, melainkan akhlaknya. Yulis juga kerap tidak ketinggalan membawa air minum sendiri dari kostannya. Ini bukan karena dia tidak memiliki cukup uang untuk membeli air minum. Namun lebih kepada dia memang orang yang 'rajin'.

Noer Aliyatin Rahmawati. Ternyata Nora itu anaknya memang kocak dan ceplas ceplos. Kesan itu ku dapat bahkan sebelum seakrab sekarang. Setelah aku dipindahkan untuk bimbingan dengan dosen pembimbing skripsi Nora (karena dosen pembimbingku menunaikan ibadah haji), kesan itu kian kuat dari dirinya. Selain itu dia juga sangat baik. Meski hanya beberapa minggu, aku merasa kami telah berteman akrab sejak lama. Dia rajin dan bukan tipe deadliner sepertiku. *ups.

Suci Indah Sari. Ah, dia juga tipe orang yang mudah membuatku tertawa dengan ceplas ceplosnya. Menyenangkan! Mampu melupakan beban sejenak. Beberapa minggu lalu setelah lulus kuliah melangsungkan pernikahan. Hehe. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah dan mampu menjadi jalannya dakwah, ya!

Siti Kholifatul Solikah. Selain Suci, Siti rupanya juga sudah jauh terlebih dahulu melepas lajang. Hehe. Padahal seolah baru beberapa hari yang lalu kami tertawa cekikikan. Ini tak lain salah satunya karena Mbak Siti melihat aku beraktraksi dengan seutas tali dan seekor kucing dikostannya yang juga kostan Ulfa. Memang. Dia memang murah senyum dan tidak segan untuk terbahak melihat aksinya. Beruntung saat itu tidak ada KK-ku. Kalau tidak dia pasti akan berkata, "Jangan tertawa terbahak. Apalagi muslimah." Hehe, peace! Bercanda. Lagian mana mungkin ada beliau. Ups. Lalu nyatanya, ucapan beliah banyak benarnya sih.

Lisnawati. Lilis baik sekali. Hehe. Aku beberapa kali diijinkan menginap di kostan-nya yang juga merupakan kostan Irvi. Hihi. Sebelum itu dia memang baik. Ah, aku kehabisan kata dan tak tahu lagi bagaimana mendeskripsikannya lagi. Yang jelas, senang sekali mengenalnya dan semoga dia tidak melupakanku sampai kapanpun. *Idih, maksa ya!

Uswatun Jannah. Uus. Ini Uus yang cantiknya seperti artis. *Tuhkan ngukur fisik mulu, Lut. Wkwk, peace. Tapi sungguh, semua yang bernama Uus di dunia adalah orang yang cantik. Selama ia adalah seorang perempuan tulen. Hehe. Uus juga pribadi yang menyenangkan. Dia kerap menggodaku dengan menjadikan beberapa storyku di sosial media sebagai candaan. Aku pun terhibur dengan itu. Senang sekali bertemu dan mengenal orang yang tidak memilih-milih teman sepertinya.

Lia Agustina. Ucapannya kerap terlontar amat fulgar. Hehe. Tapi aku amat paham jika dia orang yang amat baik. Bukan sekedar baik dalam menjalani hidup, Lia juga orang yang apa adanya. Dia juga dikenal sebagai sosok yang tangguh, pekerja keras, patuh aturan dan rajin. Jika tidak salah ingat, dia bahkan bimbingan skripsi 4 kali dalam seminggu. Ini ungkapan dosen pembimbingnya yang geleng-geleng dengan betapa rajin dan antusiasnya ia dengan tugas akhirnya. Beruntung ia dipertemukan dengan orang yang tepat. Eh, maksudku setiap orang akan bertemu dengan beragam hal yang tepat. Hanya saja penyikapannya memang pasti tidaklah selalu sama.

Ulfa Widia Ningrum. Ulfa: Dia itu kian semester kian tekun. Padahal kita sama-sama makan nasi. Itulah yang bikin nilainya kian menjulang. Meski bukan itu tujuan tunggalnya. Aku belajar buat sabaaaaar banget dari dia. Dia bisa pendiem tapi bisa cerewet masya Allah. Dia juga sering memasak untukku di kost. Hehe. Yap, dia salah satu yang menjadi langganan untuk aku menginap kala ada keperluan mendesak di kampus. Seperti, mengajar, buka puasa bersama, kumpulan dan lain-lain. Kata terima kasih dan doa rasanya tidak cukup untuk membalas kebaikannya.

Annisa Aulia Hidayah. Nicun: Masih dengan orang berkarakter sama seperti pertama aku kenal saat berjalan ke pertelon kampus. Tapi makin kenal, ternyata dia kian hebat. Kalo chat sama dia bisa panjaaaaaaaang. Kalo VN bisa lama syekaleeeh. Hehe. Banyak topic yang menarik diperbincangkan dengannya. Dia juga mudah mendoakan dan mendukung yang terbaik untuk orang lain. Termasuk untuk diriku. Itu adalah salah satu pelajaran berharga yang aku dapatkan darinya. Thank you, Nicun.

Hasyim As Arie

Ghonimatun Nafi’ah

Claudia Wahyu Ekalisa

Yeni Eka Setiyowati

Shelly Afini

Bima Kurnia Wijaya

Muhammad Iqbal

Nur Laili Alfianah

Ovi Qurrotus Tsaniya

Larissafitri Anggraini

ST. Laila Zaini

Maulani Yulindasari

Erick Gunawan S.

Muhammad Afifudin

Aldi Wicaksono

Imamatul Ulya

Mega Maulina Ummie

Toni Irawan

Muhammad Taufiqurohman

Indah Tri Sundari

Hafiluddin. Aura kesabaran, kebaikan, dan beragam karakter baik lainnya terpancar jelas bahkan meski baru mengenalnya. Bang Hafil juga tidak memilih-milih dalam berteman. Selain itu ia juga handal membuat lelucon segar. Maka tidak heran jika ia memiliki teman sebanyak air di lautan. Hehe. Selain hal yang sudah aku sebutkan itu, kesan pertama yang aku dapatkan adalah gaya bicaranya yang bagus saat berbicara dalam bahasa Indonesia, seperti intonasi, dan lain sebagainya. Hmm, sukses terus, Bang!

Ahmad Barisi

Ade Irawati

Mohammad Noor Assiqin

Moh Rizal Prasetyo

Ekomatis Solah

Farrasmahdy Julian

Fahmi Zainur Rois

Irviana Nisvi Khoirun Nisa’. Irvi: Aku ngomong sekalimat. Dia ngomong sekalimat. Aku menulis sebaris. Dia pun gitu. Aku lagi cerewet-cerewetnya. Dia juga cerewet. Dia sedang ingin menjadi orang yang pendiam. Aku juga. Dia tidur di bus. Aku juga tertidur. Dia pendengar yang baik. Aku berusaha juga untuk itu. Aku ngakak. Dia ngakak (meskipun tidak dianjurkan dalam Islam hehe). Pokonya banyak yang klop sama dia. Selain klop, dia juga peka kalau aku lagi butuh apa-apa. Misalnya, pinjeman laptop. Hihi. Suwun, Mat!

Riza Ade Prasetya

Moh Nashiruddin Effendi

Febi Rista Nanda

Farida Hanum

M Nur Huda

Dwi Andika

Akhmad Yusup. Yusup orangnya seringkali kocak. Meski juga kerap menghilang kala saatnya bimbingan KRS. Yap, kita mendapat dosen wali yang sama. Dia juga pribadi yang baik dan terbuka.

Fitria Asariani. Kesan pertama: Fitri itu cantik. Hehe. Pertama kali dia menyapaku kala Ospek jurusan. Dia membantuku berwudhu karena kala itu kami berwudhu menggunakan timba dari tempat penampungan air yang terbilang besar. Tanpa aba-aba dia langsung membantuku. Setelah itu kami tentunya banyak dipertemukan di kelas yang sama karena prodi kami memang hanya membuka dua kelas. Jadi kemungkian besar untuk mengenal semua anak angkatan. Selain itu kami juga sering mendapat tugas kelompok bersama. Tak hanya itu, kita juga qadarullah mendapat dosen pembimbing skripsi yang sama. Fitri adalah orang yang tidak takut menghadapi banyak tantangan baru. Ia tergabung di banyak organisasi kampus. Tentu, dia juga pribadi yang baik. Bukan karena dia membuatku haru dengan memberikanku hadiah boneka lengkap dengan headphone, tapi karena banyak kelapangan hati dan kebaikan yang seringkali aku saksikan darinya.

Fatimatus Zahroh. Fatim: Perhatian sekali, apalagi kalai aku memutuskan untuk menginap di kostnya karena ada keperluan. Semuanya perhatian juga sih, hehe. Tapi dia detiiiiil. Dia juga kerap beres-beres dan rela membiarkan aku pulas dengan buku yang tidak jadi aku baca. Haha. Kalau bahas soal ilmuagama (amat seru) sama dia sering bikin aku ingin baca buku agama banyak-banyak, tapi sering terlupa dan malah tidur nyenyak. Hmm, apapun itu, terima kasih atas segalanya rasanya tak cukup!

Himma Hadzani Zulfa. Himma: Dia sering punya pemahaman beda. Terus sering juga pemahaman kita sama. Dia dan Aku kerap menganggap sesuatu lucu, tapi tidak untuk beberapa orang. Kadang bisa bahas berfaedah (dia, Aku mah apa haha) sesuatu panjang lebar sampai lupa tujuan utama: kudu mengerjakan tugas. Kebiasaan itu kerap terjadi, apalagi kala itu aku sering menginap di pondoknya karena kita menyibukkan diri dalam kegiatan bela diri di kampus. Bukannya menyelesaikan tugas karena baru pulang tengah malam, kami justeru memperpanjang percapakan. Momen yang benar-benar tidak akan aku lupakan. Segala kebaikan dan pesan-pesan yang seringkali tersampaikan dengan cara yang terselubung lewat kata-kata sederhananya. Terima kasih!

Nunik Muhayani. Nunik adalah orang dengan jiwa sosial yang begitu tinggi. Dia tidak segan membantu banyak orang. Tidak tebang pilih. Ini bukan karena aku sering 'nebeng' kala pulang kemalaman. Namun jauh sebelum aku kemudian akrab dan berkenalannya dengannya, aku sudah bisa menebak jika ia pribadi yang begitu. Sebuah kejadian yang membuat ia rela naik turun lift untuk membantu seorang temanku kala itu yang akhirnya membuat ia memberi kesan pertama sedemikian rupa padaku. Dan ternyata memang benar adanya. Nunik juga memiliki jiwa kepemimpinan yang baik, dia tidak mudah menjadi egois meski ini memang sifat manusia. Dia seringkali memikirkan banyak orang ketimbang dirinya terlebih dahulu. Sekali lagi, ini bukan karena ia tergabung di beberapa organisasi. Tapi sebelum itu karakter ini sudah terpupuk. Maka aku sungguh setuju jika kemudian dia dinobatkan sebagai peserta ospek jurusan terbaik saat itu.

Hana Safitri: Hana, Aku pertama dekat itu sama anak ini. Dia care orangnya. Ramah bukan main. Seringkali punya jalan sendiri. Apa adanya tapi kece. Dia juga yang membuat aku mampu mengurangi rasa asing yang awalnya melekat saat pertama kali menapaki dunia perkuliahan. Aku juga tidak akan pernah melupakan banyak kebaikannya.

Mauidhotul Hasanah. Mbak Idho. Baik. Hehe. Aku tergelitik karena betapa tidak kreatifnya aku mendeskripsikan orang secara relatif. Baik memang relatif. Dan memang begitu karakter Mbak Idho dan yang lain di mataku. Jadi aku tidak peduli jika orang lain memiliki penilaian yang berbeda. 
Omong-omong begitu murah hatinya Mbak Idho menghadiahiku sebuah buku perihal tips untuk penulis pemula. Hmm. Semoga Allah membalas kebaikanmu, Mbak!

Warbianto. Warbi tidak mudah menyerah dengan penyakitnya. Iya, dia berjuang melawan penyakitnya yang beberapa kali membuat program kuliahnya terbengkalai. Penyakit itu mudah menyapa ia seperti ia yang juga mudah menyapa orang lain terlebih dahulu kala bertemu. Namun tentu, kita semua berdoa semoga kesembuhannya kini adalah utuh dan penyakitnya tidak akan pernah lagi kambuh. Aamiin.

Mohammad Ali Fikri. Ali Fikri juga sosok yang sering membuat kami tertawa karena tingkahnya yang lucu. Tertawanya seorang teman acap kali berarti bukan untuk menghina melainkan mengapresiasi dan berterimakasih karena telah mau menghibur. 
Anyways, hobi Ali Fikri mungkin salah satunya memancing. Ini kami simpulkan karena kami terlalu sering mendapati memancing di kolam ikan yang ada di area kampus. Katanya, ini hobi yang begitu menyenangkan. Mungkin lebih menjadi pelipur ketimbang seonggok gadget belaka.

Ilham Al Isfahani. Kesan pertama yang kudapat darinya adalah orang yang baik, ramah dan tidak memilih-milih teman hanya karena tingkat IQ, kekayaan dan hal-hal semacamnya. Tentu, dia belum ada waktu untuk bertanya hal semacam itu. Hehe, becanda.
BTW, itu hanyalah kesan di awal. Maksudku setelah itu, bagiku dia adalah orang yang sangaaaaaaaat irit bicara apalagi jika tidak teramat perlu. Aku kadang merasa konyol sendiri kalau sapaanku hanya berujung gigitan jemari. Hehe. Tapi dia baik. Kan sudah ku bilang, semua personil Agb baik. 
Ilham sepertinya gemar membuat puisi dan menggambar. Bukan untuk sesumbar, aku juga menyukai dua kegiatan itu. Namun tak perlu dibandingkan, gambarku masih serupa cakar hewan dan puisiku masih mencerminkan proser belajar sang empu. Tak apa, menyukai kan bukan berarti mendewakan hasil yang lebih dari yang lain. Yang terpenting ketulusan dan tidak pernah bosan untuk belajar dan berlatih. *Aih, jadi ceramah buat diri sendiri.

Edi Amrosi. Meski bicaranya irit, Edi orang baik. Bukan cuma itu. Kenampakannya di kelas juga irit. Mungkin karena jarang sekelas. Tapi kita sedosen wali. Dan dia sering juga dicari. 
Aku percaya, setiap orang punya kesibukan yang berbeda dan itu pilihan. Sebagai teman, kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk teman kita. Apalagi sesama muslim. Hehe.

Selket. Nama yang begitu unik. Ia mudah dikenal bukan cuma karena nama itu. Tapi juga karena orangnya yang lucu dan kerap terlibat di berbagai organisasi kampus. Selket juga begitu baik. Ia tidak segan membantuku saat ban motorku pecah. Dengan izin Allah dia amat sangat membantu kala itu. Aku benar-benar tak mampu berkata dan harus berterimakasih macam apa. Karena saat itu aku harus segera mengahadapi tes Toefl. Bersyukur sekali hidupku dipenuhi dengan orang-orang baik.

Eka Via Masluhah. Cantik bukan buatan. Hehe. Aku kira dia bukan anak angkatanku karena tidak pernah ada di Ospek fakultas maupun jurusan. Ternyata memang seangkatan. Benar. Dia layak jadi artis hehe. Bukan hanya karena parasnya. Namun juga lantaran dirinya dan mimiknya yang begitu ekspresif itu. Belum lagi ia juga agaknya jago beracting. Jangan ditanya betapa sering humor Eka membuat kami tertawa serempak.

Nada Nur SBP. Nada memberi kesan pertama padaku bahwa ia adalah wanita cerdas dengan semangat rasa ingin tahu yang amat tinggi. Ini karena ia kerap duduk di bangku terdepan dan acap bertanya, juga menjawab dosen kala kegiatan perkuliahan di kelas tengah berlangsung. Dan sebenarnya memang begitu, meski ia kerap mengungkapkan bahwa ia tidak demikian. Nada juga sepertinya begitu menyukai dunia fashion dan model. Ia seringkali mengikuti perlombaan fashion di kampus. Ia berbakat dan cocok. Atas hobi dan kegemarannya tampil dikhalayak umum, aku kira Nada bukan orang yang pemalu kala harus berhadapan dengan kaum pria. Ternyata ia mengaku justeru masih sangat malu. Hmm, begitulah memang fitrahnya seorang wanita. Kegiatan di dunia tidak lantas mengikis fitrah tersebut. Belakangan ku ketahui jika itu adalah bentuk dari keimanan.

Achmad Naufen. Nopen jago membuat desain dan mengedit foto. Iya, dia juga memintai dunia fotografi. Tak salah jika kemudian ia dan temannya membuka jasa fotografer. Ia juga salah satu pribadi yang terlihat apa adanya. Seolah tidak mau menjaga image. Nampak begitu santai menjalani kehidupan dan menikmati tiap detiknya. Beberapa orang kadang hanya memutuskan untuk tidak mempermasalahkan hidup. Itulah mengapa dalam hidup, banyak orang orang terlihat begitu lapang.

Uswatun Hasanah. Selain baik, Uus juga ku ketahui handal di mata kuliah berhitung. Berbeda denganku yang masih dengan momok memusingkan kala harus dihadapkan dengan mata kuliah sejenis. Padahal hakikatnya segala hal dapat dipelajari dan ditekuni sebab segalanya berawal dari pola pikir kita sendiri. Tidak hanya di bidang ini, karena Uus terlihat begitu antusias hampir di semua mata kuliah saat kelas berlangsung.

Fiqri Romadiansyah. Fiqri terkenal speak up. Mungkin selain itu membuatnya terlihat kritis, itu juga akan membuatnya terlihat ngeyel dengan pendapatnya. Atau mungkin aktualisasi diri. Namun padahal orangnya baik dan menyenangkan. Lagipula, tidak semua aktualisasi diri itu berkonotasi negatif.

Ali Wafa. Ali dari awal ku kenal sebagai sosok yang ramah, karena walau tak akrab ia hobi menyapa saat di jalan. Meski itu artinya, orang yang irit menyapa tidak berarti menjadi orang yang tidak ramah juga. Ali, begitu ia biasa dipanggil adalah sosok yang juga piawai memetik gitar.

Sebenarnya menceritakan mereka tidak akan cukup dua penggal buku. Banyak sekali yang ingin disampaikan.  Sebab kita sudah seperti keluarga yang saling mendoakan. Well, semua temen dari jaman bahulak  sampai sekarang yang tidak disebut sebenarnya juga Aku anggep sama. Dan sebenarnya lagi, tidak baik memuji seseorang didepan mereka. Tapi Aku yakin, insyaAllah mereka menganggap pujian ini ujian untuk tetep istiqomah dan humble. Lalu semua yang kusebut mengenai mereka adalah sisi kebaikan. Sebab aku lebih suka melakukan muhasbah ketimbang mencari kesalahan, kelemahan dan kekurangan orang lain. Kita hanya butuh untuk senantiasa saling mendoakan. Eh iya, sampai lupa. Aku meminta maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang salah dengan tulisan ini. Maklumlah, ini hanya opini berdasarkan kacamata pribadi. Hanya sebagai hiburan dan kenangan. He. OK, baaaaai!


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Tomato
  • Yang Ga Diminta Aja Allah Kasih, Apalagi yang Iya
  • Air Zam - zam
  • Oretan Akhir Periode
  • Not Fair
  • Door Duisternis Tot Licht
  • Obsesi?
  • DAY 7 - Bersih-bersih dan Silaturahim
  • Kapan Nikah?
  • Rindu Rasulullah

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates