Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

[ Jangan sampe kalo nikah nanti, nikahnya sama manusia hape. Kan bakal ga nyambung tuh. Kita ngomong apa yang didengerin apa. Dan pagi ini aku bener-bener paham, kalo ngomong sama manusia hape bisa amat menyakitkan. ]

"Nam, turunin motor, Nam. Anterin," pintaku pada Anam yang tengah fokus pada layar hape smart itu. Aku pada saat itu masih sibuk mengenakan kaos kaki. Aku pikir dengan meminta tolong, aku akan lebih menghemat waktuku. Mengingat kelas di mulai pukul setengah enam. Tapi yang ku dapati adalah jawaban yang sama, yakni "hah?," dari tiga pertanyaan yang juga sama karena memang sampai harus aku ulang dengan jarak durasi waktu sepersekian detik.

Akhirnya, aku ingat apa yang disampaikan Bapak pekan lalu:
"Orang tua itu ga butuh dunia. Saya, meskipun orang bodoh sekalipun, lebih memilih akhlak ketimbang harta berlimpah ruah. Kita lebih perlu disumbang tingkah laku yang baik daripada disumbang materi, tapi akhlak dinomorsekiankan," begitu kira-kira menurut beliau.

Aku pun memutuskan untuk berjalan kaki karena aku merasa tidak butuh materi (dalam hal ini jasa antar menggunakan motor). Aku hanya butuh didengarkan kala itu. Keputusan ini justeru membuat Anam yang tadinya sibuk bermain hape kini bangun. Tapi aku sudah berjalan cukup jauh, aku tidak mau diantar oleh siapapun. Termasuk Muna yabg sedari tadi juga enggan kala aku berbincang pada Anam. Sekali lagi aku tidak perlu diantar, aku bisa berjalan kaki. Aku hanya butuh didengar. Itu saja.

Akhirnya mereka, juga Ibu seperti menyesali apa yang aku lakukan. Aku pun demikian. Karena meski tujuanku untuk memberi pelajaran, tapi aku lupa untuk menjaga perasaan Ibu. Pastilah Ibu menyesali kejadian pagi itu. Maaf, Bu. Aku hanya ingin mereka mengerti, bahwa hidup ini bukan hanya tentang 'aku', tapi tentang 'keluarga' dan banyak orang.

---

Omong-omong tentang Anam yang jadi manusia hape, sebenernya aku jadi inget kalo ternyata aku juga sering jadi manusia hape. Parahnya lagi aku melakukannya pada Ibu!
Kemarin sore Ibu bertanya padaku yang memang tidak sedang memegang hape, tapi pikiran masih fokus pada apa yang ada di dalam hape, laporan. Begini pertanyaannya, "Sudah Ashar, Lut?"
“Belum,” jawabku.
“Sudah jam segini kok kamu bilang belum ashar. Kenapa kamu jadi telmi ya akhir-akhir ini,” Ibu heran.
“Eh, iya bu, hehe."

Aku akhirnya langsung kaget dengan sikapku dan meminta maaf pada Ibu, tertawa kemudian mengenang betapa memang akhir-akhir ini aku seringkali telmi. “Kenapa hape tidak lantas menjadikan aku makin smart, ya?” Tanyaku dalam hati. “Ah, penggunaan yang tidak semestinya inilah yang menjadi akar masalahnya.”

Aku seringkali berpikir jika aku tidak ingin memiliki pasangan hidup yang terlalu sering update status di media sosial, apalagi hanya sekedar sepiring makanan. Tapi setelah ku pikir lagi, aku adalah orang yang masih dan aktif membagikan status, termasuk makanan. Padahal orang-orang di sekitar kita, keluarga, sahabat, pasangan hidup dan lain sebagainya  bisa jadi adalah cerminan diri kita sendiri. Maka mulailah dengan mengevaluasi dan memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu.

“Anam, ternyata Tantemu ini juga manusia hape. Ayo bareng-bareng memperbaiki diri. Supaya kita tidak menjadi budak teknologi.”

[ Yuk, sebelum sibuk lagi sama hape, tugas, kerjaan, dll. Sudah ngga ngasih senyum dan bilang sayang ama anggota keluarga, nelfon ortu, dll? Sebab kita seringkali punya senyum buat orang lain, tapi tidak untuk keluarga sendiri. Dan bilang sayang tidak selalu berarti lewat ucapan. ]

Sepatu yang lebih kuanggap sebagai sendal kemarin kehujanan dan lupa aku cuci. Sementara sepatu yang juga lebih kuanggap sebagai sendal minggu lalu kehujanan dan juga lupa aku cuci. Haha, serius. Akhirnya pagi ini aku meminjam sepatu milik Muna, kemenakan yang lebih ku anggap adik sendiri.

Anyway, pagi ini petugas telat mengembalikan kunci laboratorium. Akhirnya aku kelimpungan mencari kunci. Naik-turun lantai tiga sampai  tiga kali. Mondar-mandir melebihi setrika.

Beberapa saat kemudian Dek Irul datang. Dia akhirnya membantuku untuk mencari kunci, atau lebih tepatnya mencari petugas yang membawa kunci.

Dia juga bingung. Sebab kelasnya harus menggunakan komputer di laboratorium. Nah, kalau aku sendiri berniat untuk belajar di luar ruangan sebagai plan B, karena kali ini tidak memerlukan layar proyektor dll.

Jam di layar handphone-ku telah menunjukkan pukul 07:30 WIB. Saat itu pula ada yang mengembalikan kunci. Padahal sebenarnya kelas dimulai jam 07:00 WIB. Ibarat kata nih ya, 30 menit itu bisa digunakan untuk mencuci piring, baju dll. Hehe.

Ternyata usut punya usut, petugas memang datang telat bukan sebab lupa mengembalikan kunci. Omong-omong pegel juga karena aku memakai sepatu pinjeman berhak tinggi. Meski amat tinggi, aku amat berharap bisa memenuhi haknya, eh. 

Pada saat mencari kunci kesana kemari, saya menemukam sebuah kursi. Lantas ia berkata, "Rugi, kan? Dampak telat memang dahsyat. Yang telat satu, yang rugi banyak orang. Padahal dari rumah sudah berangkat lebih dari sekedar tepat. Nah, gimana rasanya? Itu yang dirasakan dosenmu. Lihat, mereka juga telah datang tepat waktu. Dan berhak atas itu, memulai kelas dan pelajaran tepat waktu."

Pada akhirnya, kita juga harus pandai memaklumi. Sebab tidak ada yang menjamin jika suatu saat justeru kita yang berada di posisi demikian. Manusia hanyalah manusia yang kadang kala urusannya susah untuk ditebak. Hanya saja jangan lupa dan malas untuk senantiasa menegakkan kedisiplinan.

Saya membagikan status bertuliskan potongan kutipan dari novel Andrea Hirata yang berjudul Ayah, "Bolehlah kita miskin, bodoh, jelek, tapi janganlah pernah kita berhenti sekolah."

Bisa diperhatikan, kalau orang yang paham, mestilah memahami jika makna dari kutipan tersebut sama sekali tidak bermaksud untuk mendikotomikan sekolah dan sholat. Tapi nyatanya apa yang terjadi. Seseorang malah berkomentar begini, "Bukan sekolah, tapi sholat sebelum di sholati."

Kemudian aku membalas dengan emoji berupa lima buah jempol. Karena saat itu tengah sibuk mencari materi untuk Skripsi. Namun kemudian justru dibalas lagi, "Memangnya hidup cuma butuh sekolah? Sholat yang terpenting. Aneh banget kamu, kamu sekolah aja yang dipikirin," begitu katanya kira-kira.

Lantas, entah kenapa, seolah teringat hadits tentang wajib sombong pada orang yang menyombongkan dirinya, aku pun membalas pesan itu dengan: "Sholat mah wajib. Lalu memangnya kenapa kalau aku pikir sekolah lebih penting daripada sholat?" lagipula, Allah Maha Mengetahui isi hatinya hambanya, apa yang menurut hambanya menjadi prioritas. Ketimbang hanya mampu berucap lewat lisan. Padahal sepatah pun aku tidak menulis, jika sholat dinomorduakan dari sekolah.

Begitu sedikit cuplikan percakapan via WhatsApp dengan seseorang yang tidak perlu kita sebut namanya. Kemudian aku mempermisalkannya dengan perbincangan yang lebih pendek:
"Jadi kamu pikir makan lebih penting daripada sholat!"

"Lantas kalau saya pikir makan lebih penting daripada sholat, anda mau apa?," aku menjawab dengan permisalan demikian.

----

Memangnya anda pikir yang butuh makan cuma perut?
Aduhai, tidakkah kita ingat otak dan hati kita juga perlu nutrisi, berupa ilmu?
Apa anda mengira kita cukup mengerjakan sholat dan ibadah lain tanpa ilmu?
Bisa anda bayangkan hal itu?
Ada seorang ahli ibadah yang tuna-ilmu?
Akan seperti apakah sholatnya?
Lagipula, lupakah kita bahwa sekolah memiliki artian yang amat luas, tidak hanya sebatas mengenyam pendidikan secara formal?

Hati-hati jika ingin berpendapat. Jangan tinggal comot al-Qur'an dan al-Hadits sana sini. Bahkan foto instagram pun bertebaran dengan caption serupa, bukan? Paham kulit luar, tapi sudah secara membabi buta berkoar-koar. Ini penyakit yang bisa menimpa siapa saja. Perlu diwaspadai. Kala kita sudah mengetahui banyak hal hanya dengan membaca satu buku. Kala kita sudah merasa amat bijak dan bertindak kala mendengar satu buah isu. Merasa paling benar. Berbicara panjang lebar. Tak gentar. Menggelegar bak halilintar.

----

Kata ahli ilmu, al-Qur'an memang pedoman, tapi kalau yang menafsirkan seperti kita-kita---orang yang acap kali tidak membawa otak dan hati untuk mengkaji melainkan egoisme---ini, maka apa jadinya. Jangan sampai menafsirkan, karena bahkan kita seringkali hanya mengartikan secara lurus. Tapi seolah paham makna kalimat yang tafsirannya bisa tertulis dalam halaman beratus-ratus.

"Eh, maaf, anda Lutfiyah?"

"Iya, benar."

"Anda dipanggil Mbak Skripsi, tuh."

"Oh, hehe. Iya. Bentar."

"Kamu kenapa sih? Kok baper? Biasanya kan kamu cuma senyum kalo ada yang nyinyir. Katamu, baik kebaikan atau keburukan seseorang adalah jalanmu untuk memperoleh pelajaran?"

"Hehe, Maklum, karena dari SMP bergaulnya dengan teman-teman yang pandai menjaga omongan. Jadi kurang variatif gitu temannya, hehe, baik semua. Akibatnya kalau sudah dinyinyirin, langsung ingin bersuara. Salah satunya lewat tulisan ini. Karena setelah didiamkan, yang bersangkutan justru kekeuh. Maka ini sedikit apa yang ingin saya ungkapkan. Ah, lagak saya sudah seperti orang berilmu saja. Padahal masih haus akan ilmu, sedikit sekali yang saya pahami. Tapi saya bersyukur, karena dinyinyiri saya jadi punya bahan tulisan. Saya juga jadi termotivasi untuk belajar lagi."

Setelah saya baca lagi riwayat percakapannya, saya jadi tertawa sendiri, jangan-jangan saya hanya mudah terpancing. Jangan-jangan iman saya sedang lobat, buktinya mudah terprovokasi. Sebab beberapa orang tidak butuh penjelasan, mereka hanya ingin mempermasalahkan dan sama sekali tidak menginginkan jawaban jadi wajib diabaikan. Itulah kenapa banyak kumpulan nitizen yang tiap waktu kerjanya hanya mengomentari orang, mencaci, membully, bersumpah serapah, dsb di sosial media. Mereka merasa aman karena menggunakan fake account, meski telah mencoreng nama agama, karena tidak sedikit juga yang mengcover akun dengan nuansa Islami. Seperti foto profil, status dll. Nah, kalau yang itu perlu ditindaklanjuti, tidak bisa didiamkan.

----

Lagi pula ini pemikiran kita, hidup kita, jalan kita. Kenapa orang lain yang jadi sibuk. Innallaha a'lamu malaa ta'lamun. My life and yours are so simple. It is me and you who make it complicated. No matter, Allah will always be with us. Everything will be get easier.


Seorang teman les bilang padaku, "Weih, pantesan adeknya jago bahasa Inggris, kakaknya aja begitu." katanya. Kemudian aku hanya tersenyum. Padahal kalau saja dia tahu bahwa aku bahkan hampir tidak pernah belajar bahasa Inggris dengan kakakku itu. Pernah suatu ketika aku bertanya, "Kak, artinya ... (menyebutkan satu kosa kata dalam bahasa Inggris yang aku lupa apa) apa?"
Ia kemudian menjawab dengan kalimat yang sebenarnya bukan jawaban melainkan perintah, eh maksudku mungkin petuah, itu pun setelah aku pikir-pikir ulang, karena sebelumnya aku mengira jika itu bukan ketiganya. Bukan jawaban, petuah ataupun perintah, tapi pelit. Begini ujarnya, "Coba buka kamus."
Bisa dibayangkan, ekspresi bete wajahku kala itu. Sejak saat itu aku tidak pernah bertanya arti vocab. Ataupun belajar padanya. Tapi tetap, kadangkala jika sedang good mood, aku meminta dibenarkan kala bercakap-cakap, dalam bahasa Arab. Hehe.

Tidak hanya itu. Dulu, saat aku memilih untuk mendaftar sekolah di SMA 1, dia justru mengantarkanku ke depan gerbang MAN Bangkalan. Lalu menyuruhku untuk masuk dan mendaftar sendiri. Alamaaaak! Macam mana pula? Bagaimana tidak, aku kala itu sangat pemalu lu lu lu, hehe, biar dapet penekanan malunya, eih teorinya siapa? Aku dong😄. Akhirnya terpaksa aku mendaftar sendiri takut-takut. Sejak saat itu aku jadi belajar  untuk benar-benar mandiri kemana-mana.

Juga pernah suatu saat, waktu kakak masih mengajar di Primagama aku bilang padanya, "Kak, di Primagama ada lomba, aku pengin ikut. Daftarin ya,"
Sebenarnya kalimat, "daftarin ya" belum aku ungkapkan. Masih rencana. Tapi ternyata sudah ditanggapi kakak dengan, "Oh, ya udah besok datang kesana. Daftar. Jangan bilang adik kakak, nanti dikasih gratis." *Jendaaar. Eh, memang waktu itu hujan dan ada petir, ya? Eh, ngga deh. Biar alay aja, hehe.

Pun baru-baru ini saat aku bilang jika aku ingin belajar Toefl padanya. Beliau malah bilang, "Nanti kakak kasih bukunya." Aku sendiri tidak tahu 'nanti'nya itu kapan. Sebab yang aku tahu, bahwa dari semua perilakunya, aku belajar bahwa jangan bergantung pada orang lain, meskipun itu keluarga sendiri. Setiap apapun haruslah diperoleh dari keringat sendiri, bergantung pada kemampuan diri sendiri dan yang terpenting adalah bergantung pada Allah Azza wa Jalla.

Note: Kadang dari luar kita terlihat jago ya. Padahal nilai Toefl masih jauh dari target. Lantas apa masalahnya? "Males belajar dan berdoa!" pekik Sang Toefl.

Gue awalnya mikir, gimana mungkin Allah ngemudahin dan ngasih rahmat sama gue, Si Pendosa yang jauh dari kriteria orang-orang shalih(a). Gue bukan orang alim, bukan (belum mungkin ya) penghafal al-Qur'an, bukan anak yang amat berbakti dll---yang menurut gue bakal lebih mudah diijabah maunya apa. Lalu gimana bisa Allah kasih rahmat ke gue? Gimana mungkin gue bisa dapetin impian gue tanpa rahmat-Nya.

Tapi akhirnya gue mikir lagi. Bahwa rahmat Allah bisa menyertai siapa saja yang Dia ridloi. Selama kita mau berdoa dan senantiasa berharap pada-Nya. Semoga kita senantiasa dianugerahi kalbu yang tulus.

Sebab kalo mintanya ke sesama manusia bisa jadi kita dianggep ngeganggu dan nyebelin. Tapi kalo mintanya sama Allah, justru Allah seneng bukan main.

Begini kata Ust. Yusuf Mansur yang mengena di hati gue, "Allah mah super tahan dengerin kita minta. Kitanya aja. Tahan ngga?."

Hidup itu seperti mengerjakan soal Matematika. Kalau kita sudah pernah ditempa dengan mengerjakan soal yang sulit, maka kita akan merasa lebih ringan saat mengerjakan soal yang gampang. Pun saat mengendarai motor.
Kalau sudah biasa dibuat ribet dengan mengendarai motor ukuran besar, maka rasanya ringan kala mengendarai motor dengan ukuran yang jauh lebih kecil.

Ingin secepatnya mendapat keringanan setelah berlama-lama ditempa dan bersusah payah? Hmm, tentu urusan kesuksesan, tentu tidak adanya yang namanya instan. Aku berani berkata demikian setelah menoleh kembali ke belakang. Ke sedikit perjuangan-perjuanganku di masa lalu. Mungkin bagi beberapa orang, cerita yang akan aku sampaikan akan terdengar biasa saja. Namun bagiku, tetap saja ini bisa jadi perjuangan yang akan selalu dikenang. Sebab apapun kesulitan dan perjuangan yang aku lalui waktu itu adalah sebuah latian untuk menuju hidup yang lebih baik dan penuh dengan tantangan yang lebih tinggi.

Aku percaya, Allah selalu memberikan tantangan karena kita akan mampu melewatinya untuk kemudian menghadapi tantangan selanjutnya, hingga kita bisa sampai di puncak kesuksesan nan hakiki. Tantangan demi tantangan itu dapat aku rasakan dari cerita sederhana beberapa tahun silam. Dulu, rasanya begitu berat harus sampai di sekolah pada jam lima pagi tepat untuk mengikuti praktik olahraga mengingat jarak rumah dengan sekolah yang bisa dikatakan lumayan jauh. Belum lagi pada jam sekian tidak ada angkutan  mobil carry yang biasa aku naiki melainkan sebuah mini bus yang karena bukan sejalur akhirnya hanya mampu mengantarkan sampai polres, bukan sekolah. Alhasil aku harus berangkat lebih pagi agar bisa berjalan selama sepuluh sampai lima belas menit dari polres ke sekolahku, MAN Model Bangkalan. Jika sedang beruntung, akan nada angkot yang melintas hingga aku tidak perlu berjalan. Namun sering kali aku berpikir, akan lebih baik jika aku berangkat lebih pagi dan berjalan kaki. Sebab selain bisa jalan sehat, aku juga akan menghemat beberapa peser rupiah. Sehingga alokasi dana yang tadinya aku canangkan untuk membayar ongkos angkot, dapat aku alihkan untuk membeli sebungkus sarapan setelah kelas usai. *hehehe, bahasanya wuih over.

Kala itu, begitu berat bagiku, karena sekolahku dulu (MTs Nurul Amanah) hanya ditempuh kurang dari lima belas menit. Di sana juga tidak pernah menerapkan aturan untuk berada di sekolah pada jam lima tepat. Jadilah aku benar-benar ditempa saat dulu bersekolah di MAN Model Bangkalan. Salah satunya untuk bisa mengatur waktu dengan baik agar tidak sampai terlambat di sekolah. Karena toleransi keterlambatan hanya lima menit. Aku akhirnya bangun sebelum adzan Subuh berkumandang. Tak jaranag aku sholat di masjid dekat polres, karena kerap berangkat sebelum adzan Subuh berkumandang. Aku juga acap kali mendapat mini bus yang ternyata masih bongkar muatan komoditas pertanian di pasar baru. Kalau sudah begitu, biasanya aku akan lebih rajin merapalkan doa agar tidak terlambat. Pembelajaran untuk hidup disiplin seperti itu sangat aku rasakan manfaatnya setelah aku lulus.

Setelah aku lulus dan melanjutkan studi di Universitas Trunojoyo Madura, aku pikir tidak akan ada lagi prosesi berangkat sekolah, eh maksudku berangkat kuliah di pagi buta. Ternyata, saat ospek fakultas aku harus tiba di kampus pukul setengah enam pagi. Sedang jarak rumah ke kampus adalah dua kali lipat dari jarak rumah ke sekolah aliyah dulu. Kali ini, bagaimana pun keadaannya aku selalu naik mini bus, meski pada akhirnya di-oper ke mobil carry saat sampai di polres. Karena ongkos mini bus jauh lebih murah dari ongkos mobil carry ke kampus. Aku juga perlu mengalokasikasikan waktu untuk perjalanan dari pertelon ke kampus, karena tidak ada angkutan umum menuju kesana kecuali becak. Lagi-lagi aku berpikir, jika ada baiknya berjalan saja sedang uang untuk naik becak disimpan atau dibelikan sarapan, sehingga uang yang awalnya untuk membeli sarapan bisa aku simpan. *hehehe. Biasanya aku mengalokasikan satu setengah jam perjalanan. Sepuluh menit untuk menyetop, lima puluh menit untuk perjalanan bus, tiga puluh menit untuk perjalanan dari pertelon ke kampus dan tiga puluh menit untuk cadangan karena kadang aku menghasikan waktu untuk menyetop bus selama lebih dari tiga puluh menit. Sering juga aku menghabiskan waktu tiga jam untuk menunggu bus pulang. Tapi semua itu insyaAllah bisa aku lewati, sebab sejak di MAN, semua pernah aku jalani. Termasuk berjalan kaki dengan jarak yang lumayan di bawah terik mentari.

Saat aku duduk di bangku MA, aku mendapatkan beasiswa belajar bahasa Inggris selama dua tahun. Kala itu aku mendapatkan kelas C3 di hari Selasa dan Jumat. Disanalah aku ditempa untuk berjalan kaki di bawa sengat matahari yang mampu menggelapkan warna kulit. Pelajaran ini, maksudku pelajaran berjalan kaki---bukan bahasa Inggris (Tapi lesnya juga berguna, kok)---ini sangat berguna saat aku pada akhirnya belajar di kampus. Maka aku bersyukur telah ditempa terlebih dahulu sampai kini bisa merasakan tantangan yang lebih tinggi hingga aku bisa melewati kuliah pengganti yang acapkali diganti di pagi hari atau malam hari.

Begitulah kehidupan, kita akan menaiki anak tangga yang lebih tinggi dari waktu ke waktu. Dengan begitu tantangan yang kita dapatkan juga akan lebih tinggi. tapi jangat takut, karena itu sudah konsekuensi, sebab kita punya mimpi. Jangan takut, kita punya Allah yang akan menggenggam mimpi kita dengan senang hati.

Mbah-mbah malem-malem gini lewat depan rumah. Bawa senter. Jalan kaki. Mau nganter barang dagangan. Gue tahu rumah itu Mbah ga deket dari sini. Gila, keren. Uda dua kali di waktu yang hampir sama gue liat Mbah itu lewat. Kapan-kapan pengen gitu wawancara. MasyaAllah, keren banget😭. Malu, malu, malu kalo cuma bisa ngeluh.

Gue tahu, dagang rempah kecil-kecilan kek gitu hasilnya ga seberapa. Receh. Bagi mereka bisa berkah tuh. Perjuangan banget menurut gue. Ngejalaninnya kudu bener-bener sepenuh hati. Malu gue.

----

Loe kira orang-orang yang tersenyum di atas pencapaiannya itu ga ngelewatin hari-hari pahit, hah? Loe kira loe bakal mendapat lebih kalo loe ga mau ngelakuin lebih, hah? Yang pasti, tetaplah berdiri. Meski ga selalu berlari. Berdiri, bangun, impian bukan hanya bunga tidur. Ia terjadi bukan berarti oleh semangat yang ga pernah luntur.

Boleh luntur buat beberapa menit, abis itu warnain lagi sama yang lebih awet. Loe harusnya malu banget. Mereka yang lebih keren dan bisa berjuang di hidup yang ga semudah yang loe bayangin. Nah, jadi jangan gampang ngeluh deh loe. Iya sih, cuma dalem hati. Tapi justru itu yang ntar lebih ngerusak pola pikir loe. So, mulai sekarang loe harus yakin kalo hidup adalah perjuangan. Bukankan loe pengen banget berbuat buat orang banyak salah satunya kek ke Mbah-Mbah itu?

Allah, aku mendapat kabar kalau kerabat mendapat undian berangkat umroh gratis dari KH. Fakhri. Katanya barokah sholawat dan doa ortu salah satu alasannya. Hmm, benar-benar dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Allah, tidak ada yang tidak mungkin. Kalau Allah sudah berkehendak, maka jadilah!

Pertanyaannya benarkah kita ini yakin?
Kamu yakin ngga sih?
Ayo, tanyakan pada hatimu, Nak!

---

Sungguh, aku bukannya tidak yakin. Aku hanya ingin mencapai posisi dimana aku bisa bersholawat dan berdoa tidak hanya dengan lisan, tapi juga kalbu. Pun berdoa (sholat, berdzikir, dll).

Sebab orang bisa bilang, "Saya yakin Allah Maha Tahu. Jadi tanpa jaminan apapun saya terima, tidak apa-apa" di lisan. Tapi hati tidak demikian. Kadang orang itu masih takut, secara tidak langsung masih percaya dengan kekuatan lain. Di hati sebenarnya tertera "Allah, Maha Tahu. Tapi saya takut dia berbuat yang macam-macam, ingkar janji, dll."

Seperti itu.

Wallahua'lam. Siapa yang tahu isi hati seseorang.

Dan keajaiban Allah terjadi karena ada keyakinan yang tidak hanya dilantunkan lewat lisan, tapi mengalun di hati. Jadi, kalau misalnya doa belum terkabul, itu bisa jadi karena yang terbaik, juga bisa jadi kita kurang yakin dengan kekuatan dan cara Allah yang sama sekali bentuk dan jalannya tidak perlu dipikir dengan logika. Barangkali juga karena tingkat keimanan belum sampai pada tingkat dimana kita pantas menyaksikan kekuasaan Allah yang terjadi di diri kita sendiri.

Ah, sungguh. Manusia pendosa seperti aku saja bisa melihat kekuasaan Allah yang tersebar di mana-mana, di muka bumi. Langit tanpa tiang, padang pasir yang gersang, tetumbuhan yang subur, dua air laut yang tidak bercampur, bayi-bayi yang baru lahir, rezeki setiap makhluk yang terjamin dan terus mengalir, maut yang datang tanpa permisi, siang dan malam runtun berganti dll. Maka benar kata temanku, "Kenapa kita masih ragu dan belum yakin? Padahal kita sudah punya Tuhan Yang Maha Segalanya."

----

Allah, aku bukannya tidak yakin. Aku hanya ingin berada di posisi dimana aku tidak hanya beribadah dengan lisan, tapi juga kalbu.

Siang ini aku dibikin menganga mendengar cerita dari adik laki-lakiku. Bagaimana tidak, aku tidak percaya mendengar kenyataan yang ada pada cerita. Berkali-kali aku bertanya. Apakah itu kejadian nyata. Atau hanya karangannya saja.

----

"Mbak, Tadi temenku nemuin hape yang jatuh dari kantong pemiliknya. Orangnya naik motor. Lalu sadar kalo hapenya jatuh dan ingin mengambil hapenya kembali. Tapi sama temenku langsung dibawa lari. Hapenya bagus!"

"Hah? Lah, kenapa ga dikembaliin. Kan sudah tahu siapa pemilikinya. Kalopun belum tahu tetap saja itu bukan haknya. Perlu diumumkan untuk waktu yang sangat lama hingga ditemulan pemiliknya." aku menjelaskan, benar-benar tidak habis pikir.

"Itu dia. Temanku sudah tahu tapi pengen aja ke hapenya. Padahal dia juga sudah memiliki hape. Dan hapenya juga tidak kalah bagus."

"Allah... Dek, yang namanya bukan hak kita ya jangan diambil. Apapun itu akan berpengaruh pada tubuh dan perilaku kita sehari-hari. Tidakkah temanmu itu merasa bersalah?"

"Dia biasa aja. Langsung bawa kabur hape terus dipake. Pas ada yang nelfon ga dia angkat. Takut yang punya katanya," jelas adikku yang masih sibuk bermain Mobile Legend.

"Nih ya, Mbak kasih tahu. Apapun, kalo yang namanya nemu, meskipun cuma satu rupiah, itu bukan hak kita. Jadi harus dikembalikan pada yang punya. Dalam Islam juga ada ketentuan berapa lama kita harus ngumumin barang yang hilang itu biar kembali ke tangan pemilik. Coba, gimana mau berkah dan mudah memahami pelajaran di sekolah kalo mengambil hak orang lain sudah dianggap lumrah?"

Tidak mengomentari apa yang aku sampaikan ia malah bercerita kembali, "Terus ada temenku lagi, Mbak. Dia nemu sekotak besar rokok di gardu. Udah tahu siapa pemiliknya tapi malah dia jual. Laku Rp. 150.000,- katanya."

"Allah," aku menggeleng-geleng.

"Kamu jangan sampai seperti itu, Dek. Inget, kalo bukan hak kita, meski sebesar biji sawi tetaplah berat timbangan dosanya buat kita."

Ia sibuk dengan gamenya. Aku bertanya-tanya sendiri. Bagaimana bisa moral anak millenial yang kerap mengaku kids jaman now jadi seperti ini? Perilaku yang dulu amat ditentang, sekarang justru mudah dilakukan.

Salah satu penyebab butanya mata hati adalah karena mungkin otak yang terlalu sering ditempa dengan gadget. Handphone memiliki peran yang begitu besar. Bagaimana tidak? Dengan adanya jaringan internet, mereka bisa melihat apa saja. Yang mubah hingga yang haram. Tak sedikit yang secara tidak langsung tercuci otaknya, tergiring pemikirannya, dan yang lebih parah tidak peduli lingkungan di sekitarnya.

Tontonan sinetron juga ikut andil. Sinetron yang kebanyakan menampilkan adegan konsumtif membuat para anak millenial ikut terpengaruh. Memiliki sebuah handphone belum cukup jika tidak bisa memiliki dua. Membeli sebuah baju tidak bisa dikatakan anak hits. Menaiki motor butut bagi mereka adalah hal yang harus dijauhkan dari sosok anak millenial. Jauh dari kerja keras, yang penting hidup enak. Jauh dari belajar dengan keras, yang penting di sekolah punya pacar. Dan lain sebagainya.

Ah, apa mungkin aku yang terlalu berprasangka buruk pada moral anak millenial kekinian? Entahlah. Setidaknya semoga kita termasuk orang-orang yang tidak mau turut diam, minimal memperingati diri sendiri dan lingkungan keluarga. Bahwa hidup tidak melulu bermain gadget dengan cara yang negatif dan menonton sinetron cinta monyet. Hidup harus berpengan teguh pada al-Qur'an dan as-Sunnah. Juga teladan para nabi dan sahabat-sahabatnya. Tentang Nabi Musa as yang dalam perjalanannya berdakwah tetap menahan lapar meski menjumpai banyak pohon kurma tak bertuan. Tentang Imam Syafi'i yang sampai takut hafal jika membuka buku karena kemampuan mengahafalnya yang sangat dahsyat sebab ketaqwaan yang selalu ia pelihara. Dan masih banyak kisah lain yang seharusnya mampu menjadi contoh agar moral anak millenial biasa terarah ke jalan kebaikan.

Aku menatap adikku yang masih sibuk bermain game sembari menghela napas. Semoga Allah menuntun kami untuk tidak menghabiskan masa dengan perilaku yang sia-sia. Aamiin.

Waktu itu saya ketahuan Kakak saat tengah melihat ceramah Ustad X di Youtube. Lalu beliau bilang. "Itu orang Wahabi," dengan nada yang mungkin kurang lebih berarti: "Ngapain?"

Akhirnya saya menjawabnya sambil cengengesan, "Hehe iya," dengan nada yang maksudku berarti: "Aku hanya suka isi dan caranya berceramah, bukan paham alirannya.

Hanya sebegitu, percakapannya.

Jangan heran kalo kadang kita nemuin orang yang ngerasa kena banget sama kalimat atau bacaan yang menurut beberapa orang biasa aja karena uda biasa ditemuin. Di bungkus kacang, di poster, di beranda IG, dll.

Ingat, bukan seberapa sering seseorang mendapat pelajaran, namun seberapa sering seseorang mengamalkan apa yang ia ketahui meski hanya seayat. Apalagi itu bisa jadi mereka lebih mudah tersentuh hatinya ketimbang kita. Halus. Lembut. Peka.

Perasaan seperti itu konon cuma bisa dirasain oleh orang-orang yang sering nginget Tuhannya dengan cara berdzikir, membaca al-Qur'an dan sholat. Selain itu mereka juga sering ngeliat ke bawah. Melihat orang-orang kurang beruntung. Orang yang mengemis di jalan, orang yang kelaparan, orang yang bekerja keras tapi hasil pas-pasan, dan lain sebagainya.

Hati mereka yang awalnya kasar akan beruabah perlahan menjadi kian lembut, halus dan peka. Lembut dan halus karena sering menghabiskan waktu untuk mengingat Sang Kholik. Karena hanya dengan mengingat-Nya-lah hati akan menjadi tenang. Kemudian menjadi orang yang peka terhadap lingkungan sekitar dan orang yang membutuhkan uluran tangan, karena kerapkali menghujani jiwa dengan bersyukur saat melihat mereka yang secara tidak langsung mengingatkan bahwa kita jauh lebih beruntung. Sehingga kita akan senantiasa diberi panggilan untuk membantu.

Jadi, pastikan bukan cuma orang-orang itu yang bisa ngerasain nikmatnya memiliki perasaan itu, kita juga kudu usaha untuk ngeraih posisi itu, punya hati yang halus, lembut dan peka. Awalnya memanglah tidak gampang, karena biasanya kita hanya berdzikir dengan lisan, tanpa mengikutsertakan hati. Namun bismillah, percayalah, Allah yang akan menuntun kita pada akhirnya. Agar kita mampu istiqomah berdzikir pada-Nya tidak hanya dengan lisan, tapi juga hati dan perbuatan. Aamiin.

Pagi itu, seperti biasa Irvi yang memegang kendali motor, nyetir. Kalau aku yang membawa, maka aku yang menyetir. Maka hari ini Irvi yang membawa motor, jadi dia yang menyetir. Ku percayakan padanya, seperti iya yang percaya padaku, meski cara menyetirku masih sembrono, asal-asalan atau bahkan ngebut.

---

Motor melaju melewati jalan beraspal dengan hiruk pikuk kendaraan lain, juga hamparan sawah nan hijau di sisi kanan dan kiri jalan. Hmm, ku pejamkan mataku sejenak. Indah nian menikmati udara segar dengan percuma, kemudian setelah ku buka mata, kudapati hamparan hijau mencuci mata, mendamaikan pikiran, menyentuh perasaan.

Ternyata, baru kali ini aku benar-benar mencoba untuk menikmati perjalanan sembari merenung. Biasanya aku hanya boncengan biasa, fokus ke depan, mengawasi jika ada apa-apa. Tapi saat ini berbeda, ku nikmati alurnya, ku sapu seluruh pandangan yang tertangkap mata. Para pedagang kaki lima mulai menata barang dagangannya, kios-kios mulai terbuka, petani berjalan di pematang sawah hendak ke tujuan, hilir mudik manusia segala rupa berkendara dengan tujuan dan kesibukan masing-masing.

Betapa bersyukur diri ini dengan nikmat yang kian hari kian sulit untuk dihitung. Anugerah kesehatan tak ternilai meski silih berganti melakukan kesalahan. Permohonan ampun yang kerap lupa terlantun, namun dibalas dengan kita yang senantiasa dituntun. Keluh kesah yang hanya dicurahkan pada-Nya membuat Ia dengan mudah menghadirkan masa depan cerah.

---

Seperti halnya hidup. Yang merupakan sebuah perjalanan. Maka, nikmatilah hidupmu. Nikmati jalannya. Nikmati rintangannya. Nikmati alurnya. Jangan terlalu fokus ke tujuan, hingga lupa samping kiri dan kanan, lingkungan sekitar. Nikmati setiap kepahitan yang yang dihadapi. Sebab itulah yang mampu membuatmu dapat menikmati manis hasilnya kelak, lantas berbagi. Nikmatilah, jika bukan sekarang kapan lagi berpayah-payah? Karena yang saat ini kita tangisi, kelak akan membuat kita senyum-senyum sendiri. Bertanya dalam hati, mengapa dulu bisa sesedih itu?

Begitulah, dari tempat duduk boncengan motor yang dikendalikan Irvi aku jadi belajar untuk lebih menikmati hidup. Meski jujur, aku lebih takut jika dibonceng daripada membonceng atau menyetir sendiri. Ketakutan itu yang sebelumnya membuat aku hanya fokus ke depan, mengawasi. Padahal telah ku sampaikan jika aku telah percaya pada Irvi.

Berbeda saat menyetir sendiri, aku atau mungkin setiap orang akan merasa lebih berani. Berani melaju. Berani melewati rintangnya sendiri. Berani menatap risiko (sendiri) di masa depan. Berani ngebut. Dan keberanian lain yang acap kali tidak timbul saat kita hanya menjadi seseorang yang dibonceng.

Dari situlah aku belajar, jika maju sendiri terkadang membuat kita lebih berani dan percaya diri. Menjadi orang yang mandiri. Maka benar, jika membuka lapangan pekerjaan lebih indah dari pada menjadi pekerja. Karena kita yang akan memegang kendali, menyalurkan kreativitas tanpa batas. Kitalah yang menentukan, akan maju untuk hal yang demikian atau cukup diam dalam lamunan. Yang pasti, jika belum, nikmatilah hidupmu mulai hari ini. Jangan terus kau tangisi, agar tetesan airnya tidak menenggelamkan keindahan alur dan nikmat yang tak terukur. Enjoy your life ~

Belajar masak, belajar ngaji, belajar bikin esai, belajar ngegambar, belajar ilmu agama, belajar motret, belajar bahasa asing, belajar nulis, belajar jahit, belajar ngedit, belajar bikin kue, belajar nyanyi, belajar sholawatan, belajar bikin prakarya, belajar manah, belajar naik kuda, belajar ngomong, belajar nge-make up-in dan lain-lain. Dan semua itu tertunda karena skripsi, eh maksudku, karena banyak alasan. Huu!

Lihatlah, banyak temanmu yang bisa mengerjankannya sambil belajar jualan, sambil belajar jahit, sambil belajar bahasa, dll.

Ayolah, sederhanakan pikiranmu, skripsi tak jauh berbeda dengan tugas kelas biasa. Ia tidak akan pernah mengganggu mimpimu yang lain, Nak. Justru ia adalah langkah awal berbagi untuk negara. Yang perlu dibenahi adalah dirimu, pola pikirmu. Sebab selama masih hidup, setiap manusia masih dalam proses belajar. Gotta learn ~

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Tomato
  • Yang Ga Diminta Aja Allah Kasih, Apalagi yang Iya
  • Air Zam - zam
  • Oretan Akhir Periode
  • Not Fair
  • Door Duisternis Tot Licht
  • Obsesi?
  • DAY 7 - Bersih-bersih dan Silaturahim
  • Kapan Nikah?
  • Rindu Rasulullah

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates