Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Hehehe, untuk orang sepertiku, tidak ada yang namanya multitasking. Adanya switching, atau bahkan bekerja dengan banyak distraksi. 

Sebab switching justru akan mengurangi keahlian untuk fokus, ketajaman berpikir, dan daya ingat seseorang. Ini yang akhirnya membuat stuck, dalam arti luas.

Sering juga penyebabnya karena terlalu banyak yang ingin dilakukan, banyak yang ingin digenggam, akhirnya sering bias antara 'sibuk' dan 'produktif.'

Padahal, ternyata kunci supaya menghindari stuck dan bisa bertumbuh lagi, salah satunya, adalah FOKUS. Fokus disini juga barangkali maknanya tak sesmpit itu.

Yang tak kalah membuat menelan ludah kala menyimak video singkat ini adalah, stuck terjadi karena kita hanya menjadi pengumpul informasi tapi minim aksi.

Tenang, mungkin hanya bias juga. Mana yang 'stuck' dan mana 'jeda' untuk bernapas sejenak. Sebab timing tiap orang beda-beda. Hihihi.
Cinta yang kamu pahami adalah cinta dalam diam, cinta dalam doa, cinta usai menikah, cinta yang tulus. Maka tak ada di kamusmu, bahwa jalan cinta terbaik adalah dengan berpacaran. Namun anehnya, kamu juga bukan orang yang ingin menemui cinta dengan jalan ta'aruf.

Kadang hal-hal semacam itu yang membuatmu berdosa ketika jatuh cinta. Betul. Kamu merasa jadi orang paling bernoda ketika kamu mencintai seseorang. Ini tak seharusnya begini, itu seharusnya tak begitu, ucapmu.

Kamu lupa. Hati itu memang ada pada ragamu. Tapi tetap saja, kamu tidak memiliki sepenuhnya. Memiliki penuh saja tidak, apalagi menentukan akan: mencintai atau tidak. Iya, sejatinya apapun itu hanya milik Allah SWT, kan.

Dengan mengingat itu, kamu tak lagi merasa bersalah. Kamu mulai ingat lagi: Cinta adalah fitrah. Cinta adalah suci. Cinta adalah putih. Cinta adalah kejujuran. Terlebih, meski cinta adalah misteri, setelah menganalisa, kamu tahu jika pada akhirnya selalu mencintai orang karena karakter - karakternya. Sepaket dengan kekurangan yang melekat.

Tapi, kerapkali, cinta membuatmu amnesia. Karena meski hati itu memang bukan punyamu, kamu masih diberikan hak untuk mampu mengendalikannya. Iya, untuk cinta-cinta yang tidak tepat. Cinta-cinta tidak pada masa yang pas. Cinta-cinta bukan pada orang yang seharusnya. Dan lain sebagainya. Yang demikian itu masih sangat mungkin untuk dikendalikan.

Dan cara pengendalian terbaik adalah dengan doa. Keajaiban doa akan membawamu pada keajaiban berlipat. Maka tak ada yang perlu kamu risaukan bagaimana akhirnya.

Cinta memang rumit. Tak hanya buta, cinta pada manusia kerap membuat cinta pada sang pencipta tergeser. Memang ia adalah anugerah. Namun kebiasaan berdzikir dengan nama Allah, yang kemudian kamu ganti dengan namanya bukankah itu salah?

Kadang yang tidak kamu sadari, bahwa ia juga sebuah ujian. Menguji apakah dzikirmu pada Tuhan akan lebih sering ketimbang dengan mengingat nama seseorang. Menguji apakah cinta akan mengendalikanmu atau sebaliknya, kamu yang mengendalikan cinta. 

Beruntung saat sekolah hingga sekarang kamu tidak pernah pacaran, gumammu dalam hati. Karena jangankan berpacaran, mencintai saja bagimu sudah sangat menguras waktu, fokus dan juga energi. Permasalahan hidup sudah sangat kompleks. Bagaimana mungkin kamu mampu menanggung ruwetnya nilai anjlok dengan patah hati yang sakitnya kerap diluar nalar secara bersamaan. Sementara itu kamu paham betul, bahwa tanpa impian, orang miskin akan mati.

Lalu kamu makin mengimani bahwa, meneruskan cinta bukan karena bertujuan untuk menikah adalah pekerjaan paling membuang waktu. Dan dalam hal mencintai dan memerdulikan seseorang, kamu tidak pernah main-main. Rasanya tak pernah ingin setengah-setengah dalam melakukan kebaikan, apapun itu. Pantas saja, cinta yang butuh untuk kamu pertahankan adalah cinta yang memerlukan waktu yang sangat sangat sangat tepat. Tepat dalam ukuran Tuhan.

Maka kini kamu mulai mampu meluaskan pemahamanmu. Selain 'cinta setelah menikah' kian menjadi syarat yang amat kuat, sekarang cinta yang kamu pahami adalah cinta yang membuatmu 'bebas' berkarya. Bebas belajar. Bebas dari kekhawatiran. Bebas dari pikiran buruk. Bebas dari menduakan cinta pada Sang Maha Cinta. Terdengar sangat klise, dan mustahil pemahaman seperti ini mampu menghinggapi pikiran orang yang sedang jatuh cinta. Sebab ia memang suci, tapi kadang dapat membuat penderitanya gelap hati.









Ada yang bilang, tak elok bersyukur karena membandingkan hidup kita dengan orang lain. Ada baiknya bersyukur ya bersyukur saja, tidak perlu karena berasalan melihat hidup orang lain yang lebih berkekurangan, katanya. Apalagi, pada beberapa saluran media yang kadang hanya mengambil manisnya saja. Namun memang, saat kita melihat ke bawah, rasanya hati lebih mudah tersentuh, bersyukur, dan kaki lebih menapak ke tanah. Betul, ada benarnya juga bahwa pada akhirnya kita perlu memiliki poin syukur tanpa pernah menghinakan sisi lain, atau bahkan diri kita sendiri. Aku pun masih sangat belajar, karena kerap mengesampingkan omongan baik untuk diri sendiri hanya demi ‘merendah’ dengan cara yang salah. Padahal barangkali itu akan menjelma sebuah afirmasi yang kemudian hidup dalam alam bawah sadar. Lalu mengakar.

Walau sebetulnya aku tidak ingin memberikan penilaian mutlak tentang itu. Aku hanya ingin berbagi, betapa kemarin malam, sebelum tidur, aku di bayang-bayangi rasa syukur yang tiada berhenti. Sprei tempat ku berisitirahat baru saja dipasang, usai dicuci bersih di pagi hari. Rasanya adem, dan masih wangi. Pagi itu matahari begitu cerah, air juga melimpah. Untuk mendapatkannya, tak perlu menimba atau berjalan menyusuri bukit berkilo-kilo meter untuk mencapai sumbernya. Hanya perlu menekan tombol on, lalu air bersih akan mengucur dengan deras.

Malamnya, hujan turun begitu deras. Aku suka sekali hujan. Hujan yang damai. Tanpa petir dan angin kencang. Hehe. Terlebih jika aku telah berada di rumah, maka rasanya hujan benar-benar berkah yang tiada duanya. Saat hendak terlelap, hujan telah usai. Hawa dan bau tanah usai hujan betul-betul enak dihirup, menenangkan bukan main. Bukan hanya petani yang senang, aku juga sangat menyukai momen semacam itu. Apalagi ditambah mati lampu----dengan catatan sedang tidak ada tugas----aku sangat menyukai perpaduan yang demikian. Hujan dan gelap adalah saat yang nikmat untuk kembali merenungi hidup yang amat singkat. Sebab seolah kembali ke zaman dahulu kala, saat desa belum dialiri listrik. Aku sendiri belum ada di masa itu, namun pernah merasakan bagaimana pemadaman berbulan-bulan hingga perlu menenteng obor saat hendak kemana-mana.

Meski belum pernah berpengalaman menetap di kota-kota besar, namun hujan dan gelap itu membuat pikiranku bak lari dari hiruk pikuk duniawi. Layaknya menyelam ke dasar laut terdalam, ku temui ragam makhluk hidup yang aneh, yang tak pernah ku lihat sebelumnya. Pikiranku lalu sesak dengan hal berbeda namun jauh ‘lebih menyenangkan’ agaknya. Atau kadang sebaliknya, momen serupa mengingatkanku pada hal bernama kematian. Gelap dan dingin, bayanganku terseret pada lubang kuburan yang sempit. Betul, lagi-lagi rasanya tidak baik berburuk sangka dengan ketetapan Allah saat kita diwafatkan kelak, namun seringkali kenyataan membawa kita pada pikiran demikian.

Baiklah, kembali kepada momen sebelum tidur yang membuat aku kembali bersyukur, tak hanya karena sprei, sinar matahari, air bersih dan hujan----hal kecil yang acapkali kita remehkan----namun nikmatnya iman dan taqwa yang masih bisa digenggam hingga sekarang adalah harta yang tidak terukur. Meski barangkali, kian kemari warnanya agaknya kian luntur. Namun paling tidak, kita sangatlah beruntung, hingga kini masih diberikan kesempatan menjadi empunya. Sebab tak semua orang menggenggamnya hingga akhir hayat. Iya, bukan kita yang mampu membolak-balikkan hati manusia, termasuk hati kita sendiri. Hal yang paling sering kita dengar, terdengar biasa, namun mengena saat kita coba memahaminya lebih dalam lagi. Karena pada akhirnya, nikmat iman yang membuat hidup terasa lebih gampang, lalu jiwa menjadi lebih tenang, hingga kita tidak menemukan alasan lain kecuali banyak-banyak bersyukur.

Saat pertama mendengar lagu Manusia Berisik dari Dere ini, aku langsung suka. Cepat-cepat ingatanku terseret pada ungkapan Umar bin Khattab yang kerap berseliweran, "Aku tidak pernah sekalipun menyesali diamku. Tetapi aku berkali-kali menyesali bicaraku. 

Hehehe, betul sekali. Kadang lebih baik diam, daripada membuang energi sia-sia. Berbicara yang sia-sia. Diam betul-betul bisa menjadi emas. Tapi tidak bisa dijual, hehe. Maksudku, ini tentu beda konteks-nya saat kemudian kita juga butuh speak up loh, ya.

Pernah tidak, saat kalian ada perkumpulan atau apapun namanya kemudian berbincang lama, biasanya perbincangan basa-basi, dan saat usai, pulang dan tiba di rumah, kalian lalu berpikir, "Harusnya tadi aku tidak bilang seperti itu, jangan-jangan ucapanku telah menyakiti hati orang." Dan beragam bentuk kalimat lain yang berkerumun dipikiran kalian.

Meski sebetulnya tidak semua akan mengalami itu. Bahkan ada yang bilang, orang mudah lupa, tidak usah khawatir dengan apa yang kita ucapkan. Namun ternyata benar, kadang memang lebih baik diam. Sebab apapun itu ucapan yang kita lontarkan akan dipertanggung jawabkan. 

Aarrgh, masih sangat belajar. Menjadi manusia yang tidak berisik secara negatif. Berusaha mengerem apa-apa yang barangkali tidak ada faedahnya. Beda jika kemudian bercanda, misalnya. Dalam taraf yang pas, dan korelasi yang tepat, bercanda adalah ibadah. Hihi, pakai bahasa apa sih aku ini. Ya ampun 😅

Judulnya bikin geleng-geleng kepala. Supaya seperti headline berita-berita, hehe. Padahal, ya hanya ingin bercerita. Tentang pengalamanku pagi itu. Kala mendapati sepasang suami istri yang dulunya sama-sama sehat. Tampan, gagah dan 'jelita' di usia mudanya.

Kini keduanya sudah menua. Suaminya sakit. Total tidak bisa bekerja. Memang sudah saatnya rehat. Sedang sang istri, meski tak sekuat dulu, masih bisa merawat sang suami dengan penuh cinta. Aku yang kala itu diminta ibu untuk sebuah keperluan ke kediaman beliau dibuat tertegun sejenak.

Aku lalu mulai berpikir. Betapa cepat waktu berlalu, betapa manusia bisa berubah, yang dulu sehat bisa sakit, yang dulu muda sekarang tua. Betapa---kata orang---rasa cinta juga bisa hilang. Tapi tidak dengan kasih sayang dan komitmen, katanya. Maka barangkali itu yang membuat manusia bisa berbuat baik terus, tanpa "tapi."

Berbuat baik pada anak, orang tua, suami, istri, saudara, dan lainnya. Meski aku mengerti, bahwa doanya pasti selalu sama: diberikan kesehatan sepanjang masa. Namun pada akhirnya momen itu membuat aku berpikir lagi. Bahwa, seperti apa orang yang kamu inginkan. Sungguh, kita tidak butuh yang palsu. Sebab di dunia tipu-tipu, selain Tuhan, keluarga adalah tempat untuk bertumpu.

Atau aku balik kalimatnya. Apakah kamu bisa menjadi orang yang tidak palsu? Menjadi sosok yang baik walau waktu terus berlalu. Sebab orang tidak butuh yang palsu. Ini yang kemudian mengingatkanmu juga, bahwa kerap kamu lupa: keluarga yang menerima kamu apa adanya. Maka selain bersyukur, banyak-banyaklah belajar darinya. Hmm.

Hehe, hari kedua belajar. Hebat banget, semangat banget mereka. Masya Allah, tabarakallah. Sampai-sampai hampir selalu datang lebih awal. Haha.

Selalu, terinspirasi itu kadang bukan dari orang dewasa. Tapi dari anak-anak kecil. Super duper masih polos, dengan jiwa-jiwa yang masih bersih.

Nah, mereka belum saya minta menghafal. Yang penting merasa nyaman dulu dengan bahasa asing ini. Supaya berkenalan dulu, seperti tema materinya. Hihi.

Tapi Alhamdulillah, otak manusia memang Allah ciptakan dengan sangat luar biasa. Tanpa menghafal pun manusia sudah bisa cepat sekali menangkap informasi baru, ya.

Tetap semangat. Memang tak harus selalu semangat. Tapi paling tidak usaha. Jangan riweuhkan masalah hasil. Yang penting prosesnya ya, Nak 💕

Ingat sekali dulu saat kecil bapak sering mendengarkan kami lagu-lagu anak. Hehe, aku, adik dan kakak perempuanku. Sering juga beliau menyiapkan microfon lengkap dengan sound-nya. Jadilah kami sering 'konser' kecil-kecilan di rumah. Tak peduli suara cempreng kami memekakkan telinga seisi rumah.

Beruntung sekali, memiliki bapak yang sampai sekarang saat aku sudah tua pun beliau tidak pernah protes anaknya hobi menyanyi, rumah jadi ramai hehe. Dulu sempat berhenti saat awal-awal semester kuliah. Karena berpikir hanya buang-buang waktu. Dan kadang, jika terlalu banyak musik yang didengar, saat sholat jadi tambah tidak khusyuk, ingat ke lagunya hihi.

Tapi entah benar atau tidak, makin kesini aku makin ingat kembali, dulu saat SD, aku tidak menyukai mata pelajaran apapun, kecuali bahasa Indonesia dan seni budaya. Itu pun hanya karena ada praktik menyanyi dan menggambar. Baru kemudian kelas enam sadar suka bahasa Inggris. Bukan, bukan karena merasa gambar dan suaraku bagus. Tapi mungkin karena aku berpikir ini adalah kegiatan tanpa mikir berat. Kegiatan yang bagiku mampu mengisi waktu luang dan mengurangi stress. Ampun, deh. Masih SD sudah kenal dengan stress, ya. Tapi ternyata, kalau dilatih sebetulnya tidak hanya sebatas hiburan. Namun bisa jadi berpenghasilan dari menggambar, dan lain sebagainya.

Aku juga bersyukur punya ibu yang tidak menuntutku harus sama dengan saudaraku yang lain, untuk jago Matematika juga. Ibu benar-benar tidak ambil pusing. Atau lebih tepatnya tidak ambisius. Meskipun aku ingin mengingat lagi, bahwa tak semua ambisius itu negatif. Banyak juga sisi positifnya. Bahkan mungkin sebuah keharusan. Hanya saja, mungkin karena dari kecil aku tak biasa dididik dengan pola seperti itu, maka jadilah aku begini haha.

Dari kecil aku terbiasa melakukan apa-apa karena keinginan sendiri. Ya, mungkin banyak juga yang diarahkan seperti penentuan jurusan studi dan lain-lain. Namun secara garis besar semua betul-betul dibebaskan begitu saja. Tak sepenuhnya bebas, namun tidak diikat, atau didikte. Misal, contoh kecil, ibu tidak pernah menyuruhku beres-beres rumah. Atau memasak. Keahlian bersih-bersih memang mungkin naluriah dimiliki semua orang. Tapi ini yang akhirnya membuat aku berinisiatif sendiri, seperti mempelajarinya sendiri dengan mencontoh.

Memasak juga begitu, karena tidak pernah disuruh membantu, aku hanya belajar dengan melihat. Maka dari itu, aku terbilang telat bisa memasak dari kebanyakan teman sebayaku. Aku baru bisa memasak, meski sederhana, saat SMP. Sebab ibu tidak pernah memaksa. Aku hanya menginginkannya sendiri. Itu hanya dua contoh kecil. Banyak sekali yang akhirnya membuat aku berpikir, ternyata pola didik seperti ini bagus, sebab membuat kita tak perlu disuruh untuk belajar sesuatu. Namun kadang ada sisi negatifnya juga. Ya begitulah, selalu banyak sisi di setiap apapun itu, bukan.

Namun sebetulnya, aku hanya ingin menyampaikan, terutama untuk diriku sendiri, bahwa dengan bisa apapun dan mampu mengerjakan banyak hal, kamu tidak akan merugi. Sungguh, kamu tidak rugi sama sekali. Justru kamu jadi bisa lebih banyak latihan dan belajar. Walau tak se-multitalent Youtuber Liziqi yang bahkan bisa mengerjakan banyak pekerjaan berat lelaki, namun intinya kita tidak akan rugi dengan mencoba dan bisa banyak hal baik. Namun tentu, bahasan ini bukan ke ranah penekanan hustle culture, ya.

Dengan konsep bahwa kita tidak akan merugi, maka kita kemudian tidak akan mengomel, jika misal hanya kita yang diminta mengecat rumah sementara saudara kita yang lain tidak (ini hanya permisalan loh 😂). Sebab kita paham, yang akan lebih pintar dan terlatih disini adalah kita. Bukankah pintar dan cerdas itu definisinya amat luas, bukan melulu jago mapel di kelas. Setidaknya ada delapan jenis kecerdasan anak berdasarkan teori Kecerdasan Majemuk Howard Gardner, antara lain; bahasa, musikal, matematika, antar pribadi, spasial, jasmani, intrapersonal dan naturalis. Untuk tiap penjelasannya bisa di-search sendiri ya, supaya tidak panjang-panjang tulisannya.

Dengan konsep ini juga kita kemudian mampu berusaha melakukan sesuatu karena dan untuk diri kita. Bukan untuk orang lain. Walau memang perlu dilatih. Apalagi saat kadang kita malah dianggap 'cari muka' di sebuah organisasi karena ingin melakukan yang terbaik. Padahal kita hanya ingin belajar, atau bahkan barangkali berkontribusi. Tak apa, kembali ke konsep dan prinsip yang kita bangun. Kita melakukan apapun bukan karena ingin dilihat orang lain, kan.

Kita belajar masak, menyanyi, qira'ah, banyak bahasa asing, membuat software, coding dll bukan karena orang lain. Melainkan karena yang untung kita sendiri. Alhamdulillah kalau kemudian suatu saat bisa bermanfaat untuk banyak orang.

Hal itu juga mengingatkan kita juga, bahwa jangan sampai juga salah kaprah. Mampu mengerjakan ini-itu bukan berarti kita bisa dengan mudah dimanfaatkan orang. Ingat, bermanfaat dan dimanfaatkan itu berbeda, ya. Maka kita juga perlu belajar mengetahui porsinya. Hehe, pandai sekali jika hanya menulis, praktiknya susah bukan bualan. Sebab bisa jadi kita adalah orang yang sungkan untuk menolak. Namun selama kita berusaha memiliki niat yang tulus, jangan khawatir, setelah banyak kerikil, kita akan sampai juga akhirnya di jalan yang mulus.

________

BTW lagu ini ternyata karya anak 2000-an. Suka sekali yang judulnya Berisik, tapi entah kenapa malah nyoba ini hehe. Memang anak jaman now tidak bisa diragukan, ya kreativitasnya. Kata Pak Gita Wirjawan, jadilah divergent. Pasti akan ada buah manis yang kelak bisa dipetik. Lalu bagiku, walau tak mudah----apalagi semakin dewasa ternyata waktu terasa semakin sempit dan berharga-----tetap optimis, setiap orang punya porsinya masing-masing.

Satu lagi, dengan aku bercerita kebaikan tentang orang tua, bukan berarti aku ingin membandingkan dengan mereka yang (maaf) barangkali di luaran sana 'broken home'. Maaf, sekali lagi aku tidak bermaksud seperti itu. Lagi dan lagi, ini hanya soal porsi yang berbeda. Dan tak semua porsi yang kita lihat artinya begitu. Tak semua cerita yang hadir berarti telah diceritakan, hehe.

________

*note: abaikan amatir ini, hehe. Just for fun. Entah kenapa kalau nyanyi ngegas wkwk. Bagian "hmm" susah ternyata. Ternyata pendapat saat SD dulu bahwa menyanyi itu tak mikir, ternyata tak benar ya. Perlu latihan, perenungan, dll untuk kemudian biasa membuat lagu yang bagus dan bermanfaat apalagi menyanyikannya. Hehe, kalau saya mohon maklum, baru dengar lagunya beberapa kali, beda jam terbang juga, beda suara, beda porsi, porsi makan kali ah 😂
Dulu aku benar-benar mempertanyakan, benarkah ada cinta yang tulus?
Sebab biasanya, cinta yang seperti itu tidak mengenal kata "tapi" apalagi akal bulus.
Ia datang dari Yang Maha Suci. Maka ia betul-betul putih. 

Apapun alasannya, harusnya tidak dinodai. Sebab paham, bahwa sumbernya amatlah agung dan barangkali bahan untuk menguji. Betul, anak, istri, suami dan lain sebagainya pada akhirnya hanyalah tipuan dan ujian. Begitu kira-kira kalau kita ingat-ingat kembali.

Dulu aku juga berpikir, bahwa pertanyaan “Sudah makan?” hanyalah bentuk basa-basi.
Bukti kalau tidak ada kreativitas untuk merangkai pertanyaan yang lebih baik dan bervariasi.
Tapi kini aku benar-benar menyadari, bahwa itu adalah pertanyaan paling menyentuh di muka bumi, yang mencakup segala sendi.

Itulah kenapa Ibu tidak pernah bosan melontarkannya padaku, bahkan lebih dari tiga kali sehari.
Ibu paham, barangkali dengan makan, salah satunya, kita bisa memperoleh energi.
Lalu kemudian dapat beraktivitas dengan baik, jangan sampai jatuh sakit.

Dulu aku pun berpikir, bahwa pertanyaan “Lagi ngapain?” adalah pertanyaan paling mainstream.
Bagiku, apa pentingnya tahu urusan orang lain? Kenapa tidak fokus pada kesibukan sendiri saja.
Tapi ternyata itu bukan sekadar pertanyaan penasaran saja, melainkan bentuk kepedulian yang amat tinggi.

Itulah kenapa Ibu tidak pernah absen menanyakan itu hampir saban hari di ponsel, seolah mengintrogasi kakak perempuanku.
Atau bertanya padaku saat aku berada jauh darinya, di Kediri dulu.
Beliau benar-benar ingin tahu apa saja kegiatan anaknya sampai begitu lama tidak memberi kabar, hingga lupa waktu.

Omong - omong tentang kabar, pertanyaan "Bagaimana kabarnya?" juga terbaca super duper aneh bagiku. Maksudku, jawabannya seringkali tidak menjamin kejujuran. Bisa jadi dijawab "Sehat" padahal sedang "Sakit". Jadi bagiku yang sebetulnya tidak suka basa basi, ada baiknya bertanya kabar dengan silaturahmi. Atau jika tidak sempat, doakan saja. Semoga kesehatan selalu menyertai.

Namun ternyata, menanyakan kabar memang bentuk perhatian tak ternilai. Karena penanya mengerti bahwa nikmat sehat adalah kunci yang begitu berharga. Kenikmatan yang sering terlupa, namun tiada duanya.

Begitulah sedikit bahasa cinta yang aku pelajari. Banyak sekali yang tidak bisa aku tuliskan. Seperti, "Sudah kamu capek, biar ibu saja." Dan lain sebagainya. Walau kadang bisa ditujukkan dengan bahasa sebaliknya, aku benar-benar belajar cinta yang begitu tulus dari ibu. Yang tidak mengenal alasan sama sekali. Yang tetap mencintai saat aku busuk atau pun dikala aku wangi.

Ibu tidak pernah pergi. Dia selalu ada. Doanya selalu membersamai. Senyumnya senantiasa menyejukkan sanubari. Tampa pamrih, beliau tak perlu dipaksa untuk menyayangi. Tuhan memang betul-betul hebat, memberikan kita sosok dengan jiwa sepertinya.

Lalu, usai belajar, semoga kelak aku bisa memilki cinta setulus ibu. Tak harus sama, namun setidaknya aku selalu berdoa. Tak harus sama, namun setidaknya aku selalu berusaha. Tak harus sama, namun setidaknya aku selalu percaya pada takdir-Nya.
Saya kemarin dibuat sangat terharu dengan sikap seorang murid yang selepas pembelajaran datang menghampiri saya. Awalnya saya mengira dia ingin pamitan karena jam sekolah sudah usai.

Dia bilang: "Makasih ya, Miss. Sudah sabar dengan teman (sebangku) saya." Sambil melirik temennya yang dengan air muka gembira tengah berbincang-bincang dengan yang lain. 

Dia kemudian melanjutkan, "Dia kan spesial, Miss. Berbeda dengan kita." Mendengar itu saya langsung sedikit kaget. Sebab saya sama sekali tidak menyadari itu. Menyadari bahwa beliau (maaf) berkebutuhan khusus.

Akhirnya saya bilang dengan suara yang saya kecilkan: "So sorry, I don't know about that. Soalnya dia hebat dan menjawab seperti biasa, loh. Makanya saya ngga tahu. Meskipun jawabannya dengan bahasa Indonesia, tapi kan itu artinya dia mengerti. Maaf, ya."

"Iya, Miss. Dia berbeda. Tapi ngga, kok. Miss sudah sabar banget tadi. Makasih, Miss." tambahnya lagi. Tapi sebetulnya yang membuat saya terharu adalah betapa temannya ini 'nganggep' banget sampai bela-belain ke depan dan menyampaikan terima kasih. Lalu bagi saya, beliau tidak berbeda. Beliau sama seperti kita. Bahkan sangat menginspirasi.

Sedangkan untuk saya, mungkin ke depan saya harus belajar lebih peka lagi. Lalu saya jadi merenung: Kita yang sudah Allah anugerahi "segalanya" apa tidak malu jika harus berasalan tidak percaya diri, tidak semangat, masih banyak kekurangan, dll. Hehe *fomaself 😅
Saat ada pilihan untuk tetap egois dan bertahan demi cuan, kamu berhasil dengan sangat sadar dan rela melepas. Selamat, kamu menang!

Bukan. Bukan berarti yang bertahan egois, namun sungguh tulisan ini begitu personal. Tiap-tiap pribadi punya sikap, alasan, dll sendiri. Tidak bisa disamaratakan.

Tak hanya cuan. Posisi aman  dan ragam iming yang disampaikan dengan meluap-meluap tak juga mampu menggoyahkan hatimu. Maaf, saya memang masih miskin harta, tapi bukan itu tujuan utama saya, katamu. Realistis perlu, tapi caranya tak begitu.

Akan banyak suara, dan mustahil semuanya akan "pro" denganmu. Bahkan barangkali sikapmu dianggap berlebihan. Tak apa, mereka tidak salah. Tidak ada dosa bagi orang yang tidak tahu, bukan.

Selain harga diri, yang mahal ternyata memang adalah saat kamu bisa meraih pelajaran dan menghadapi setiap tantangan.

Walaupun kamu bisa belajar dari hal terjelek sekalipun, apa iya kamu akan bertahan di tempat yang sering mem-blurkan definisi nilai diri, pelajaran, dan tantangan itu sendiri.

Maka, Nak. Selamat kamu menang.

Tapi ingat, selama hidup berlanjut kamu akan masih ke pertandingan yang lain. Kamu akan terus dites. Omonganmu, tulisanmu, doamu, semua akan diuji.

Lalu ingat juga, bahwa kau juga banyak menyerap pelajaran dan memperoleh banyak kebaikan dari sana. Selain bertemu orang-orang baik, kamu juga belajar bagaimana melihat uang dari sudut yang berbeda sekarang.

Dulu kamu selalu berpikir, tanpa uang kamu tidak akan bisa sekolah, kuliah, daftar lomba, dan sebagainya.

Namun kini berbeda.

Tempat itu mengajarimu bahwa ternyata "uang tidak berarti apa-apa". Ya, uang sebanyak apapun tidak ada artinya jika tidak dibarengi semangat.

Meskipun berjibun uang yang kita punya, modal atau apapun sebutannya, kalau pada akhirnya kita tidak memiliki daya juang dan semangat untuk "Sekolah, Bekerja, atau bahkan Mendirikan Usaha" maka ya sama saja nihil.

Kamu juga jadi bisa berpikir, uang bisa dicari dan diusahakan, tapi "semangat yang sama" seringkali tidak datang dua kali.

Itulah kenapa ini yang membuatmu berani mengambil resiko kuliah lagi dengan biaya sendiri. Meskipun siapa yang tahu, kesempatan beasiswa on-going bisa dijajal, walau juga super duper memerlukan keseriusan.

Nak, aku hanya ingin berpesan padamu. Jangan lupakan setiap pelajaran. Tak apa jika terkadang lupa. Sebab kamu cuma manusia. Namun sambil ingat kembali. Supaya kamu bisa menjadikannya pijakan yang kokoh untuk melanjutkan perjalanan.

Sekali lagi, selamat kamu menang!

_______

*Note: aku dan 'diriku yang lain' seperti Ibu dan anaknya sendiri wkwk.

Sejak membaca novel Andrea Hirata, aku terbiasa meluapkan emosi dan apapun itu dengan menulisnya. Di samping agar kapasitas folder di pikiranku tidak terlalu penuh dan lebih lega, barangkali akan ada pesan baik yang bisa orang petik. Meski pada akhirnya hanya bercerita saja. Hehe. 
_______

Hari Sabtu, aku biasanya libur mengajar, namun tidak untuk kemarin karena aku diminta untuk meng-handle kelas training. Tidak ada firasat apapun. Aku seperti biasa berangkat dengan hati yang lapang. Pekerjaan ini seperti bukan pekerjaan, karena aku, alhamdulilah, menyukai apa yang aku jalani ini: mengajar dan bahasa Inggris. Bahkan sepatu yang aku pakai sudah dicuci bersih. Itu artinya aku sangat niat mempersiapkan semuanya.

Pada saat kelas sedang break atau istirahat, seorang murid berinisial H menghampiri kami di kelas. Aku paham dia ingin praktik bahasa Inggris. Dan aku sangat senang menemui orang-orang, siapapun itu yang semangat ingin praktik. Sebab aku pun tengah belajar. Dia bukan peserta training, melainkan member kelas umum. Jadi hari ini kelasnya libur. Namun beberapa memang tetap stay di kursusan.

Sembari mengobrol, aku sesekali menulis kosa kata baru di papan, yang bisa muridku itu ingat kembali. Dalam obrolan, ia menceritakan pengalaman-pengalaman pahitnya beberapa waktu terakhir. Salah satunya, saat ia diuji dengan kehilangan dompet berisi uang jutaan, KTP dan "kartu-kartu" penting lainnya. Pada akhir cerita, aku benar-benar tidak tahu harus berkomentar apa, sebab memberi nasihat itu gampang, tapi bagaimana jadinya jika kita ada di posisi tersebut. Namun untuk menutup percakapan, aku harus memberi semacam last statement, hingga akhirnya muridku mengingatkan aku untuk sholat dhuhur. "I don't know what I have to say, tapi sungguh Allah nanti akan ganti dengan yang lebih banyak dan lebih baik, ya. Berkali lipat. Semoga segera berangkat dan berkerja juga ya." Kataku, kurang lebih, kala itu. Dia pun mengamini.
_______

Usai melanjutkan kelas training, sekitar pukul 15.15 WIB aku bergegas pulang. Lagi-lagi, tak ada tanda-tanda apapun. Atau mungkin aku saja yang kurang peka. Aku mengendarai motor sambil sayup-sayup melantunkan sholawat. Bukan karena alim, tapi lebih karena aku paham betul manfaatnya begitu dahsyat, untuk diriku sendiri bukan orang lain. Saat itu, di sekitar Tangkel, Burneh kondisi jalan ramai, aku mengendarai motor dengan pelan. Tak biasanya aku berkendara sepelan itu. Saking pelannya seperti saat menyetir kala hendak berhenti membeli sesuatu. 

Tanpa babibu, dengan sholawat yang masih kulantukan. Aku bertanya dalam hati, "Tasku nyangkut kemana?" Betul, saat pertama kali ditarik, tas yang posisinya ada di depanku aku kira menyangkut ke sesuatu, tapi "Apa?!" pikirku. Sebab sungguh, meski aku tahu di dunia ini tak hanya ditempati orang yang baik, namun aku selalu percaya bahwa semua orang itu baik. Jarang sekali aku bertemu orang jahat. Itulah yang membuat aku mengira, orang jahat sudah punah. Belum lagi, aku dibesarkan untuk berusaha tidak punya pikiran buruk pada orang lain. Jadi aku tidak pernah mengira akan menjadi korban penjambretan. Bahkan, meski sudah banyak cerita dimana-mana, aku kadang tak percaya jika jambret itu memang betulan ada. Hahaha.

Si jambret menarik tasku dua kali. Ditarikan kedua itulah aku akhirnya sadar bahwa aku sedang dihadapkan dengan orang jahat. Aku benar-benar membeku seperti es batu. Gagap seketika. Seolah terhipnotis. Aku tak memiliki gerak refleks memegang tasku saat tarikan pertama bahkan kedua, karena pikiranku benar-benar tidak mampu mencapai itu. Yang ku sadari saat itu adalah, tasku ternyata betul-betul ditarik, diambil dan orang itu ngebut. Sedetik aku melihat tasku seolah melayang di depan mataku. Benar-benar lucu. Slow motion effect seperti di film-film. Kurang aj*r memang!

Sedetik itu pula yang aku pikirkan hanya satu: ngebut mengejar si jambret. Maka betul, itu yang aku lakukan kemudian. Padahal Gusti, kondisi jalan amat sangat ramai. Si jambret saja sampai kelihatan bingung menemukan celah untuk menambah kecepatannya, untuk lebih ngebut lagi. Entah seperti apa diriku kala itu, klakson ku sudah pasti berbunyi bising sekali. Aku tidak membenarkan perilaku ngebut di jalanan, sebab selain membahayakan nyawa kita, itu juga akan mempertaruhkan nyawa orang lain. Namun entah apa yang aku pikirkan kala itu. Aku seolah memiliki nyawa cadangan, tak mau kalah ngebut, mengejar si jambret sial*n itu.

Sampai akhirnya di pertigaan Nyiorondung, si tengik itu (hehehe) buru-buru belok kanan. Usai berhasil menyebrang, aku sempat meminta bantuan pada dua lelaki yang berusia sekitar 35 tahun. Tampilan beliau-beliau bersih dan terlihat terpelajar. Mereka sedang menggenggam handphone-nya masing-masing. Saat itu, aku benar-benar seperti tidak bisa berbahasa Madura, semua dialog dalam cerita ini berbahasa Indonesia. Karena memang itu kenyataanya. Aku lupa berbahasa Madura seketika. "Pak, tas saya dijambret tadi. Jambretnya kabur ke sana". Sambil menunjuk ke jalan yang melewati Ponpes Nurul Amanah itu. Berharap mereka akan membantu. Namun ternyata mereka tidak antuasias sama sekali. Dan aku tidak mau menyalahkan, mungkin sedang sibuk dan menunggu seseorang. Sedetik kemudian aku berpikir dan mengambil keputusan: "Aku tidak mau berharap pada manusia. Aku tidak mau mengandalkan orang lain. Aku akan mengejar jambretnya sendiri. Aku hanya bergantung pada Allah. Satu-satunya dalam hidup yang bisa aku harapkan. Tempat aku bersandar!"

Tanpa berpikir panjang aku tancap gas, meng-klaksoni setiap kendaraan yang menghalangi jalanku. Haduh! Aku tidak paham berapa kecepatan ku kala itu. Yang jelas cepat sekali. Padahal jalan di situ jelek bukan bualan. Lagi-lagi, nyawaku seolah dalam sebuah game. Masih ada cadangan yang tersisa jika aku kehilangan satu. Seolah juga aku memiliki skill bela diri saja untuk rencana B nantinya. Yang jelas sembari tancap gas lagi, aku tidak punya rencana apapun, pikirku hanya begini sambil bersholawat dan membaca bismillahilladzi Laa yadhurru ma'asmihi syai'un fil ardhi wa laa fissama' wahuawas sami'ul alim dengan mantap di dalam hati: "Demi Allah, aku yakin aku akan mendapatkan jambretnya. Ada Allah, ada Allah, ada Allah. Allah bersamaku. Aku akan temukan jambretnya. Titik."

Saat mengebut, ada seorang laki-laki yang barangkali masi berusia 18 tahun menyalip dan bertanya karena mungkin melihat aku yang ngebut, "Kenapa, Mbak? " Katanya. "Tas saya dijambret, Mas. Jambretnya ke sana, pakai baju biru (Sial*n, ngomong levis aja susah banget). Dia pun melesat jauh lebih cepat dariku, motor N-Max yang dikendarainya mungkin berpengaruh juga pada kecepatan. Saking ngebutnya, sampai si jambret terlewati. Tapi bukan salahnya, aku yang tidak memberikan info dengan detil, bagaimana sempat! Aku saja berkendara sambil gemetar saking kaget dan marahnya, bukan karena takut.

Batas Desa Pamorah dari arah utara ku lewati. Si tengik berhenti di jalan dengan (sepertinya) sungai kecil karena banyak timbunan sampah. Keadaan jalan benar-benar sepi. Hanya ada aku dan si jambret. Tapi aku senang bukan kepalang bisa menemukannya. Sebab awalnya, motornya yang melesat tidak dapat ku jangkau lari kemana. Dia terlihat panik dan buru-buru memasukkan tasku kedalam jok motornya, tepat saat dia berhasil menutup jok motor, muka hitam (bukan rasis, tapi memang hitam karena terlihat tidak pernah mandi, hahaha. Asli, seperti orang gila yang ditemui di jalan, kemudian dimandikan, dll kan nantinya berubah jadi bersih. Nah ini persis. Jadi warna kulit asli si pelaku ya sawo matang, bukan hitam. Amboi, bagaimana pula kita berharap ada jambret yang mukanya bersinar sebab sholat malam? Wkwkwk, tapai ongghu malah menganalisis muka si tengik. Maksudku, bukan karena aku marah lantas mengatai fisik, namun hanya mencoba mengingat ciri-cirinya. Baiklah lupakan. Hehe). Saat itu aku berhenti tepat di sampingnya, sungguh bod*h sekali aku. Aku betul-betul bingung harus berbuat apa, aku hanya berteriak, "HEYYY, TAS SAYAAAA!" sambil tangan kananku memegang bagian pegangan di belakang motor. Berharap dengan tangan gemetar dan tenaga yang tersisa tak seberapa itu bisa menahan tenaga kuda modern yang bisa melesat begitu saja. Aduh, orang bod*h macam apa itu! 

Sementara itu, tangan kiriku masih memegang motorku sendiri. Benar saja, aku terpelanting, jatuh dengan motorku karena si tengik melesat tanpa aba-aba, tanpa ummi-ummi. Hihi, *jokes bapak-bapak. Dan dari utara, jarak sekitar lima meter akhirnya ada seorang bapak-bapak berusia 40 tahunan membonceng istrinya. Aku langsung, "Pak, tas saya dijambret, itu jambretnya!" Bapak itu langsung meminta istrinya untuk turun sebentar, kemudian beliau membantuku mengejar si jambret. Sementara itu aku sibuk mencoba menegakkan motorku yang jatuh tadi. Entah kenapa motor itu jadi terasa berat sekali. Aku jadi seperti orang yang lemas sekali, susah betul menegakkannya lagi. Belum lagi, di detik-detik genting itu aku disibukkan dengan rentetan pertanyaan si ibu-ibu, istri si bapak. Aku tidak menyalahkan, karena itu artinya beliau peduli. Namun yang tak kalah membuatku sibuk adalah saat terpelanting, sepatuku copot satu. Dan susah menggunakannya kembali jika hanya menggunakan satu tangan, entah kenapa susah sekali rasanya mengambil sepatu itu dan meletakkannya di jok depan. Aku hanya ingin menghemat waktu. Aku sudah kalah banyak dari si jambret. Waktuku sudah banyak tersita, meski agaknya tak sampai semenit, namun sungguh itu banyak sekali. Maka akhirnya, lagi-lagi aku sampai lupa berbahasa Madura, sambil setengah berteriak agar terdengar aku berkata pada si ibu-ibu, "Bu, saya nitip sepatu ya! " Dan wuuuuusssh, aku tancap gas lagi. Cadangan nyawa masih banyak? Bukan, bukan itu yang aku pikirkan. Memang harta, dokumen, KTP dll juga penting, namun yang utama pikirku kala itu adalah, "Pokoknya aku harus mendapatkan jambretnya. Titik. Harus diadili, supaya tak ada korban lagi."

Yang ku sesali, kenapa aku sangat bodoh. Kenapa aku tidak ku tabrakkan saja motorku ke motor si jambret, supaya kita sama-sama terjatuh sembari menunggu bapak yang membawa istrinya itu mendekat, lalu banyak orang menolong. Kenapa hanya ku pegang motornya seolah aku ini Hercules yang bisa menahan kuatnya tenaga kuda. Bodoh sekali. Sungguh, aku tidak bisa berpikir jernih. Aku juga tidak pernah mendapatkan pelajaran "Trial Hal-hal Penting yang Harus Dilakukan saat Menghadapi Jambret" saat di sekolah. Hehe. Aku bahkan tidak sempat melihat plat nomornya, meski itu juga bisa saja palsu. Aku juga bahkan tak bisa berteriak, "TOLONG, TOLONG, TOLONG!" layaknya acara di televisi dan dunia nyata yang lumrah dilakukan orang kebanyakan saat menghadapi musibah. Aku benar-benar gagap. Aku bukan wanita cerdas dengan refleks yang cerdas. Aku sungguh bingung harus berbuat apa. Aku terbiasa dilingkupi dengan orang-orang baik. Jadi tak pernah terpikirkan langkah apa yang harus aku lakukan jika mengahadapi situasi seperti ini. Namun hal-hal yang ku sesali dan pengandaian-pengandaian itu dilarang dalam agama, maka aku pun harus ber-ishtigfar atasnya. 
_______

Si bapak-bapak mengejar jambret dengan kecepatan yang relatif tidak cepat. Aku tidak menyayangkan itu. Sebab aku akan lebih bersalah lagi jika nyawa orang harus melayang karena membantuku. Aku bahkan tak sempat berterima kasih karena harus buru-buru mendahuluinya mengejar kembali si tengik. Aku kehilangan jejak. Aku lalu bertanya pada pengendara lain, menyebutkan ciri-ciri yang tak banyak. Katanya si tengik belok kiri. "Aduh, pasti mau lari ke Surabaya dan melewati jembatan Shirathal Mustaqim, eh, Suramadu maksudnya," pikirku. Tapi aku tak mau menyerah dan masih melanjutkan pengejaran. Aku tidak peduli jika ibu-ibu tadi pulang terlebih dahulu dan tidak menjaga sepatuku. Aku masih punya sepatu yang lain.

Kondisi jalan saat itu ramai sekali. Karena kehilangan jejak, aku sempat berusaha menyebrang dan berhenti di stand usaha milik kakak-ku dan meminta tolong staff-nya untuk menghubungi kakak, barangkali sedang ada di rumah dan membantuku melakukan pengejaran. Namun jawabannya, "Bapak sedang belanja, Mbak." "Oh, gitu. Ya sudah, ngga papa, makasih ya, Dek." Aku lalu melanjutkan perburuan hingga jalan menuju jembatan Suramadu, sebelumnya di setiap warung, aku dengan polosnya mengecek satu-satu setiap orang yang mengendarai motor Vario Hitam. Menanyai satu-satu tukang parkir di jalanan. Bahkan remaja-remaja yang berusaha menyetop truk-truk besar masih sempat aku tanyai, ternyata mereka mau ikut habsyian, aku kira anak jalanan, anak-anak yang selalu ingin aku wawancarai. Ku tebak mereka semua masih SMP, dan mendapati mereka menyetop kendaraan dengan cara yang "barbar" seperti itu aku masih sempat berkata, "Hati-hati, Dek nyetop-nya. Makasih, ya, saya lanjut dulu" "Iya, Mbak. Iya, sama-sama."

Lanjut ke arah Suramadu, aku benar-benar kehilangan jejak. Seperti aku harus belajar menerima. Aku memutuskan untuk putar balik. Sembari masih melihat kanan-kiri semua pengendara. Ku duga mereka risih dan bertanya-tanya. Hasilnya nihil. Aku kembali ke lokasi setelah batas Desa Pamorah lagi, sambil sesekali berhenti menanyai siapa saja yang sedang nongkrong. Pada situasi sepeti itu, sifat pemaluku tiba-tiba serupa ditelan mentah-mentah oleh bumi. Benar-benar hilang, seperti tas itu. Aku juga kembali ke tempat aku menangkap basah si pelaku memasukkan tasku kedalam jok motornya. Nihil. Aku putar balik, sembari melihat jalanan, barangkali dompet berisi KTP, ATM, STNK dan kawan-kawannya di buang di sekitar sini. Tapi mana mungkin? Si tengik ku duga kuat lari ke arah Suramadu. Dan tasku didalam joknya, mana sempat dia buka saat itu juga. Mana sempat dia baca buku-buku catatan berisi Metode-metode Training yang belum sempat aku ketik ulang itu. Mana sempat dia mengambil pen lalu menulis agenda penjambretan selanjutnya. Mana sempat dia membuka dompetku, lalu melihat betapa banyaknya kartu-kartu penting yang ruwet sekali mengurusnya. Mana sempat dia menyemprot mukanya dengan hand sanitizer dan mengusapnya dengan tissue sebagai ganti tissue basah, supaya mukanya sedikit lebih glowing. Hehe, kalau yang ini memang rasis dan body shaming wkwkwk. *canda ✌

Aku lalu ke Tangkel, Burneh lagi, ke pos polisi, ingin bertanya pada Pak Polisi, baiknya apa yang harus aku lakukan. Pukul 16.54 WIB, pos polisi kosong melompong, namun banyak kendaraan di luar. Aku akhirnya menyerah dan pulang. Saat pulang, pikiranku kemana-mana. Ya, bagiku, aku selalu bisa memikirkan lima hal sekaligus dalam sekali waktu. Bahkan lebih. Jadi bisa dibayangkan bagaimana sesaknya pikiranku jika tidak menulis. Mungkin semua orang juga begitu. Sebab saat tas ku ditarik, dirampas, dijambak, dan melayang aku langsung membayangkan, "Allah, banyak sekali dosaku, sampai aku akhirnya diberi cobaan ini." Benar, cobaan sebagai peringatan. Sedangkan ujian sebagai jalan untuk naik tingkatan. Itu yang sedikit aku pahami, entah benar atau salah. Yang jelas aku sudah berpikir negatif duluan, bahwa ini adalah cobaan atas dosaku, bukan ujian. Allah. 

Karena menyetir sambil banyak berpikir, aku tidak fokus. Sampai-sampai motorku selalu miring dan menepi ke kanan, akhirnya aku tidak bisa langsung masuk kembali ke jalan raya lagi dan melanjutkan perjalanan karena kondisi jalannya jauh lebih ramai lagi plus kendaraan-kendaraan berlalu dengan sangat cepat. Jadi aku akhirnya menepi dan menunggu sebentar, seperti saat hendak menyebrang. Aku lebih hati-hati kali ini, mungkin karena kesadaran ku sudah mulai terkumpul. Sadar bahwa hidupku bukan game dengan nyawa-nyawa cadangan.

Sepersekian detik kemudian, seorang adik laki-laki yang sempat kupanggil "Mas" dengan motor N-Max dan membantu pengejaranku itu ternyata dari tadi mungkin mencariku. Dia menyusulku dari belakang, dia mengembalikan sebelah sepatuku. Untung sudah dicuci ya! Hahaha. Aku yang sebetulnya tidak pernah mau merepotkan orang lain benar-benar takjub dan berkata, "Ya Allah, jadi dari tadi sampean nyari saya berarti, ya. Mau ngembaliin ini, " Kataku menahan tangis sambil mengambil sepatu putih itu. "Makasih, ya Dek". Ku panggil adik karena ternyata masih sangat muda. " Dijambret dimana tadi, Mbak? " "Sekitaran Tangkel, Dek." "Sudah biasa itu sepertinya, Mbak. Saya sudah dua kali mengejarnya. Waktu itu saya mengejarnya saat ada anak SMA yang tasnya juga dijambret. Waktu sedang mengantar adik saya ke pondok. Biasanya kalau nge-jambret sekitar jam setengah enam. Apa aja isinya, Mbak?" "Loh, berarti pean tau ya orangnya, Dek? Isinya semua, Dek." "Ngga tahu orangnya juga, cuman mungkin ini orang yang sama, Mbak. Ya sudah saya pamit dulu, Mbak." "Oh, iya, Dek. Makasih banyak, ya. Sampean dari mana dan siapa namanya? " "Saya S (Inisial) Mbak, dari..... (Menyebutkan satu daerah)." "Makasih, Dek S." Kataku setengah berteriak karena dia langsung berlalu. "Iya!" jawabnya dari kejauhan. 

Aku melanjutkan perjalanan dan berhenti di stand usaha kakak, aku bilang pada staff-nya padahal sebelumnya aku belum pernah mengenalnya, hanya tahu nama, "Dek, sudah hilang tasnya." Dan singkat cerita aku bercerita jika tadi aku dibantu S anak daerah T. Ternyata dia teman staff itu. Aku meminta, jika boleh kontaknya dikirim ke kakakku, nanti akan aku minta juga. Sebab aku masih ingin menggali informasi dan melacak pelaku. Lagi-lagi karena tidak ingin ini terjadi pada orang lain. Ingin pelaku diadili. Jika barang-barangku bisa kembali? Itu hanya bonus. Sebab sejak aku memutuskan untuk putar balik, aku benar-benar mantap mengatakan dalam hati: "SUNGGUH, ALLAH AKAN GANTI DENGAN YANG LEBIH BANYAK DAN LEBIH BERKAH. AKU AKAN JADI ORANG YANG "KAYA" SETELAH INI." Beberapa potongan kalimatnya persis seperti yang aku sampaikan ke muridku saat sharing di hari yang sama, saat praktik bahasa Inggris denganku di waktu breaktime itu. Seminggu yang lalu, teman lamaku yang sudah 6 tahunan tak bertemu berbagi kisah hidupnya yang ternyata banyak diuji, aku kemudian berkata dalam hati: " Ya Allah, dalam kurun waktu itu kamu loh belum pernah diuji, tapi sudah banyak mengeluh." Dan benar saja. Aku kini sedang diuji atau dicoba dengan kalimat-kalimat yang aku lontarkan sendiri. Akankah aku sesabar muridku itu. Akankah aku sesabar temanku itu. Begitulah kira-kira.

Aku bercerita pada staff kakak sambil tiba-tiba menangis. Tangis yang sejak tadi aku tahan. Padahal dia sambil melayani tiga orang pelanggan. Entah kenapa dari dulu aku tidak pernah malu menangis di depan banyak orang. Aneh memang. Namun aku sadar diri, dia sedang bekerja. Aku tak boleh berlama-lama. Maksudku bercerita adalah, selain agar lebih lega juga lebih karena supaya dia menyampaikannya pada kakak, bahwa aku tidak apa-apa. Meski HP-ku sudah ikut hilang. HP terbagus selama hidupku, setidaknya itu bagiku. Wkwkwk. HP yang kalau mau screenshot aja ribet amat, menggunakan usapan telapak tangan. HP yang meski berbagai aplikasi aku download tidak pernah rewel dan lemot. HP tempatku berkarya ala kadarnya. HP yang terbilang masih baru. HP pemberian kakakku. Sebetulnya, aku paling tidak suka diberi, sekalipun dari kakak kandung. Namun kakak memang terlalu baik dan ternyata memang HP itu sangat menunjang proses pembelajaran, dll. Maka aku berdoa, semoga kakakku juga mendapatkan aliran pahalanya. Kini HP dengan segudang file itu sudah sirna. Dan sebagian besar file belum aku back-up. Benar, semua memang HANYA TITIPAN. Tapi pada staff kakak, aku tidak bercerita perihal HP. Aku hanya bercerita kemungkinan pelaku orang terdekat dan sering nongkrong di daerah sini. Lalu aku pamit dan berterima kasih padanya. Wajah staff itu mencerminkan aura kebaikan dan pribadi yang baik. Wajahnya terlihat lelah bekerja dan aku tiba-tiba sangat bersyukur, hidupku Allah mudahkan sejak dulu hingga tak harus bekerja di usia muda sepertinya. Meski jujur, aku sangat salut dengan anak-anak muda seperti itu.

Aku kembali melanjutkan perjalanan pulang. Lagi-lagi sambil melamun. Itulah kenapa, lagi dan lagi motorku menepi tanpa sadar. Aku akhirnya berhenti sejenak dan menangis sejadi-jadinya. Yang paling membuatku menangis adalah karena teringat dosa. Saat itu seolah ditampakkan semua dosa dan aib-aibku. Aku tak mampu mengelak dan hanya bisa menangis tersedu-sedu. Aku berhenti menangis, melanjutkan perjalanan. Namun sebelum itu aku bertemu dengan bapak-bapak yang sudah sangat sepuh, berjualan es degan. Wajahnya adem dan terlihat baik. Dia melihatku. Dia mengira aku juga ingin menyebrang. Saat dia berhasil menyebrang, dan sampai di tengah jalan raya dia berkata dan tersenyum padaku, "Ayo, Mbak kalau mau nyebrang." Aku menjawab dan tersenyum dalam tangis, "Iya, Pak." Lagi-lagi aku bersyukur, hidupku jauh lebih baik dari bapak sepuh itu. Aku kembali menangis memikirkan nya. Meski siapa yang tahu justeru bapak sepuh itu yang lebih bahagia dengan sholat malamnya, dengan dzikirnya, dengan anak-anak sholehnya.

Setelah itu, akhirnya aku benar-benar pulang ke rumah. Sesampainya di jalan rumah aku berpikir akan melacak lokasi HP-ku melalui Gmail. Aku pun menambah kecepatan. Namun di rumah hanya ada Ibu dan Bapak. Aku memutuskan untuk tidak bercerita agar mereka tidak khawatir. Namun akhirnya aku bercerita juga. Kata Ibu, "Kamu akhir-akhir ini sering pulang telat, makanya aku ngga kepikiran pas kamu ngga nyampe-nyampe rumah" Sedang kata Bapak, "Kamu biasanya pas kerja di Telang aku pikirin tiap hari, karena jauh. Nah karena sekarang kerjanya cuma di Bangkalan, deket ngga sebanyak dulu khawatirnya, eh malah kena musibah. Ngga papa yang penting kamu-nya selamat. Cuma kepikiran kok bisa-bisanya masih kamu kejar. Kalau bawa senjata gimana. Bersyukur banget kamu selamat." Tangisku makin pecah saat adik dan suaminya datang. Wkwkwk, sumpah kalau yang ini malu banget menangis di depan adik ipar ku yang baik hati dan tidak sombong, juga rajin gosok gigi dan menabung. Aduh, Lut, itu lawakan lawas, hehe. 

Aku kemudian melacak HP-ku dengan Gmail, dan baru ku ingat Gmail-ku menggunakan verifikasi dua langkah dengan kode yang muncul dan terhubung dengan nomor telepon. Kalaupun bisa login, kondisi data HP meninggoy😅. Itulah kebiasaan burukku (mungkin ya): Jika HP tidak digunakan, atau tidak ada kepentingan, data internet akan ku matikan, sebab bagiku itu adalah distraksi terbesar dalam hidup. Meskipun aku sadar masih banyak akan kekurangan. O ya, adik iparku mempunyai kenalan orang yang dianugerahi indra keenam (mungkin bisa dibilang seperti itu). Katanya, si jambret langsung pulang ke Surabaya. Tapi dia berasal dari Tragah pelosok, namun tidak bisa dikatakan jelasnya, posisinya dimana. Sebab benar-benar tidak menggunakan ilmu hitam untuk menerawang. Hanya berdasarkan anugerah spesial dari Allah itu. Si jambret sepertinya berkomplot, uang yang didapat untuk membeli obat-obatan terlarang. But wallahua'lam. Semoga aku selalu ingat, bahwa dunia itu memang tempatnya ujian. Ya, begitu katanya. Alhamdulillah 'ala kulli hal. 

Baiklah, itu saja dulu sedikit cerita lucu hari ini. Semoga ada pesan yang bisa dipetik, dikupas, dicuci, dirujak, digigit, dikunyah, ditelan, dicerna, hehe. Baaai ~

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Dulu aku selalu berpikir, bahwa sosial media adalah salah satu distraksi terbesar bagiku. Bagi orang yang masih amat sangat belajar untuk memanfaatkan waktu. Kalau kata orang jaman sekarang: produktif. Walau kadang kita juga harus mampu membedakan busy dan productive. Juga membedakan bermalas-malasan dan istirahat atau quality time bersama keluarga. Setelah mampu membedakan, bagian tersulit adalah pengaplikasiannya. Karena merupakan bentuk dari membangun habit. 

Apa jadinya kalau sudah kecanduan scrolling sosial media? Waktu akan cepat berlalu begitu saja. Lalu penyesalan memang selalu hadir di scene terakhir. Disusul ucapan Raditya Dika, yang menampar tiba-tiba: opportunity cost: 5 jam rebahan main hape = 5 jam belajar hal baru. Lalu jangan ditambahi: Lah, kan belajar hal baru bisa dari handphone? Maksud tersiratnya barangkali bukan begitu. Kata remaja jaman now: Ngga gitu konsepnya, Bambang 😅

Bukan hanya kalian, aku pun dulu sangat kecanduan sosial media. Sampai-sampai harus memaksa diri untuk off beberapa bulan, namun akhirnya kembali lagi. Tak hanya itu, aku juga mantan pecandu game saat SMP. Hehe. Pernah ku bercerita, jika dalam sehari aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain ragam game di komputer hasil keringat kakak-ku. Padahal, komputer itu sebetulnya menetap disitu agar adiknya bisa belajar desain, bahasa, dan hal lain yang lebih bermanfaat. Jadilah sampai sekarang aku belum bisa mengetik dengan teknik 10 jari. Hihi.

Kian kemari, aku tidak bilang jika game itu sama sekali tidak ada manfaatnya. Mungkin ini hanya perihal tujuannya. Kalau hanya untuk hiburan, baiknya tidak terlalu berlebihan, penting dibatasi. Jika tujuannya profesionalitas, berarti memang perlu banyak latihan, cakupannya lebih luas lagi. Sebab aku pun tak mau bohong jika game juga mampu mengasah otak yang tumpul. Pada porsi yang pas.

Sama halnya kian kemari, aku juga menyadari jika kita pun pada beberapa hal, bisa memanfaatkan media sosial. Tentu dengan batasan-batasannya juga. Salah satu pemanfaatannya adalah sebagai personal branding. Aku ingat sekali betapa cukup kagetnya saat bertemu dengan kakak kelas sekitar tiga tahun lalu. Dalam obrolan beliau bertanya padaku: Lutfiyah masih aktif nulis, ya? Akupun hanya bisa menjawab ala kadarnya sembari berpikir: ternyata barangkali ini yang dimaksud personal branding. Apa deskripsi diri kita bagi orang lain yang dibentuk dari apa yang kita lakukan (dalam hal ini media sosial).

Memang, salah satu pengertian personal branding adalah bagaimana kita memperkenalkan diri di hadapan publik, intinya kita ingin dikenal sebagai apa. Nah, ini berarti ranahnya bisa masuk ke pencitraan dan sesuatu yang fake, dong? Sabar, tunggu dulu. Personal branding ini, sependek pemahamanku begitu luas ranahnya. Yang paling sering dibahas adalah keterkaitannya dengan bisnis, pemasaran, self development dan lain sebagainya. Namun barangkali yang ingin ku bahas kali ini adalah yang lebih personal, self development atau pengembangan diri.

Untuk itulah, dalam hal personal diri ternyata personal branding tidak = promosi, tidak = pamer, dan tidak = pencitraan. Personal tidak = kontroversi. Personal branding = menghasilkan karya. Personal branding = prestasi. Personal branding = melakukan atas dasar kemampuan dan atau proses mengasah kemampuan tersebut. Itulah kenapa Pandji Pragiwaksono bilang, "Lakukanlah personal branding melalui karya." Sebab bagi Dewa Eka Prayoga, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun personal branding kita. Dan hanya butuh waktu sepersekian detik untuk menjatuhkannnya. Salah satunya, karena ketidak-konsistenan, dan tidak menjadi diri sendiri.

Lantas, lebih spesifik lagi, bagaimana harusnya kita sebagai seorang muslimah membranding personal kita? Setidaknya ada tiga poin penting dari podcast Farah Qoonita: a. Moral/Akhlak: menjadi sosok yang penyayang dan ramah, manajemen waktu dan hidup, mempunyai rasa malu dan menjaga kehormatan. b. Skill/Kemampuan: ilmu pengetahuan dengan al-Qur'an sebagai teknologi tertinggi. Dan yang terakhir: c. Value/Nilai: mempunyai landasan dan alasan yang jelas dan tepat (untuk Allah): kenapa harus memiliki skill ini dan itu. Nah, kata Sherly Annavita, paling tidak ada dua hal dari pentingnya personal branding: a. membangun trust yang terkait dengan konsistensi, dan kedua: b. membuka pintu-pintu kesempatan.

Inilah yang akhirnya membawaku untuk memanfaatkan sosial media (salah satunya) dengan baik. Meski sangat kusadari masih terdapat banyak kekurangan. Walau sesederhana melatih public speaking, menulis juga barangkali berbisnis. Meski, lagi dan lagi, pada akhirnya jangan lupa pada personal branding di dunia nyata juga, bukan hanya di dunia maya. Harusnya, apa-apa yang dibagikan di dunia maya---yang tidak mencerminkan diri kita 100%---itu bisa menjadi refleksi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Aamiin. Lalu, jangan sombong, semua itu, termasuk potensi hanyalah titipan belaka.
Saat masih kecil, cita-citaku banyak sekali. Semua yang umum disebut akan ku sebut, kecuali dokter, bidan dan perawat. Aku tidak berani, hehe. Juga guru. Memang, aku pernah bilang jika ingin menjadi guru bahasa Inggris. Tidak ingat kapan tepatnya aku mengungkapkannya. Apakah saat SD atau SMP, atau lebih tepatnya MTs. Yang jelas, aku tidak pernah sampai 50% menginginkannya. Sedang berbicara demikian mungkin hanya karena aku selalu ingin menjadi seperti kakakku, aku yang suka bahasa Inggris dan kakakku yang seorang guru bahasa Inggris. Iya, beliau selalu menjadi role model utama dalam hidupku, setelah Rasulullah tentunya.

Kenapa aku tidak pernah menyebut profesi guru menjadi cita-cita? Salah satu alasan utama yang masih sangat ku ingat adalah sudah menjadi rahasia umum bahwa penghasilan guru di Indonesia kecil. Hehe, banyak yang bilang, disini guru kurang "dihargai". Walau tak terjadi disemua daerah. Namun hal-hal semacam itu sudah menjadi buah bibir yang sayangnya masih melekat. Lalu aku ternyata dari kecil sudah realistis dengan hal itu. Alasan lain adalah, bagiku, sosok guru itu haruslah sosok yang luar biasa, bukan orang "sembarangan". Sebab ia tak hanya mengajar, namun mendidik, mengayomi, menuntun, menjadi teman dan seterusnya. Dan aku sepertinya tidak bisa.

Bagiku, guru haruslah pribadi yang super pintar, cerdas, berwawasan luas. Apalah aku yang hanya butiran debu. Sedangkan guru juga haruslah arif dan bijaksana, open minded, tidak mudah menghakimi, bisa melihat dari ragam sudut pandang, mampu menghubungkan sesuatu dengan banyak hal, ibadahnya harus top, dan lainnya. Namun dewasa ini ku pahami, ternyata menjadi guru tidak harus sesempurna itu. Maksudku, karakter-karakter itu memang sebuah keharusan, namun ada satu yang benar-benar perlu dimiliki seorang guru (setidaknya ini opiniku) yakni selalu mau belajar. Belajar hal baru. Belajar dari siapapun. Belajar dari apapun. Sebab menjadi guru bukan berarti selalu benar, selalu ingin terlihat benar, tak ingin dikoreksi, tak ingin salah dan terlihat salah.

Justru "salah" adalah pelajaran bahwa ia adalah manusia normal. Manusia yang selalu mau belajar. Manusia yang selalu mau mengoreksi dirinya. Manusia yang selalu mau memperbaiki kesalahannya. Manusia yang mau mendengar aspirasi dan masukan. Sebab guru bukan melulu tentang apa yang diajarkan, namun apa yang dicontohkan. Ia adalah tauladan. Aaaarrrgh, berat sekali bukan! Entah kenapa tugas guru menjadi sangat berat seperti itu. Pun tulisan ini juga terkesan berat dan begitu mencekik. Tulisan yang sejatinya ingin ku buat seminggu lalu, namun selalu ku tunda karena entah akan menjadi apa tulisan ini. Hehe. Setidaknya berat bagiku yang ingin menjadi guru ini. Benar sekali, di masa depan nanti aku ingin sekali (tetap) menjadi seorang guru.

____________


Boleh dibilang pengalaman pertamaku mengajar adalah saat masih berkuliah adalah mengajar anak-anak SD di kursusan gratis yang dibuat oleh kakakku. Awalnya aku mengajar dengan takut-takut, namun ku jalani saja sebab aku pun ingin belajar. Lalu saat berkuliah aku membantu mengajar dengan menjadi asisten praktikum. Lagi-lagi awalnya ku lakukan dengan takut-takut namun dengan keinginan besar untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Di Pare aku diberi kesempatan menjadi tutor dengan sistem yang bagiku sangat mengesankan. Tutor dan anggota (murid) benar-benar serupa berteman, memang ada plus minus, namun itu hanya salah satu contohnya. Sedang saat menjadi asisten dosen, aku seringkali di doakan menjadi dosen oleh beliau. Atau pada akhirnya sama saja: menjadi seorang guru.

Hingga aku kemudian selesai belajar (menjadi asisten dosen beliau selama dua tahun). Selama itu pula aku belum terketuk untuk menentukan ingin menjadi apa aku. Padahal beliau seringkali mendoakanku. Sangat sering. Bahkan selalu. Beliau selalu berpesan, bahwa passion itu bisa dibangun. Maksudnya, aku memang tidak pernah ingin 100% menjadi guru atau dosen, namun keinginan dan minat itu bisa dibangun. Sampai akhirnya aku lalu bergabung di tempat kursus. Inilah awal mula ku temukan puncak cahaya itu. Walau tak bisa ku bilang jalan hidup akan selalu mudah. Namun harus ku akui, bahwa dengan mengajar aku benar-benar menjadi lebih hidup. Aku seperti menemukan apa yang aku cari. Aku menemukan diriku. Aku menemukan impianku. Aku menemukan tujuanku. Aku ingin terus (belajar) menjadi guru. Aku suka (belajar) menjadi guru. Meski pada akhirnya, di kesibukan yang ku jalani sekarang, aku selalu bilang bahwa aku bukanlah seorang guru. Aku hanyalah teman "belajar" yang berkedok tutor. 

Ada banyak hal yang membuatku kemudian memilih, memutuskan dan mendoakan diriku untuk tetap dan akan menjadi "guru" di masa depan (walau aku tidak bisa menyalahi takdir yang sudah digariskan Tuhan kelak. Siapa tahu aku akan menjadi guru sekaligus pengusaha, hehe). Betul, aku jadi belajar banyak hal. Tak hanya mereka, aku juga mendapatkan banyak ilmu baru. Dengan menjadi guru, aku tidak hanya meng-upgrade diri dari segi ilmu, namun juga bagaimana bersikap atau berperilaku: bagaimana menghargai orang lain, toleran terhadap perbedaan, tetap berpegang teguh pada prinsip yang diyakini, belajar memelihara open minded yang tepat dan lebih memiliki keterbukaan terhadap ilmu, yang pada pengaplikasiannya berubah begitu cepat. Aku tidak bilang jika hal-hal semacam itu tidak bisa didapatkan lewat profesi lainnya. Namun melalui profesi "guru" semuanya akan terasa begitu berbeda.

Dulu saat menjadi asisten dosen beliau, aku selalu bertanya dalam hati: kenapa beliau begitu peduli dengan mahasiswanya, seperti anak sendiri. Sampai-sampai tidak nyenyak tidur adalah hal kecil yang menjadi efeknya. Benar-benar mahasiswa menjadi prioritas utama. Meski sesekali mengerti, namun sebetulnya aku tidak pernah totally mengerti sebab aku tidak pernah di posisi beliau. Namun akhir-akhir ini aku jadi mengerti, meski tak sepenuhnya sama, aku juga merasakannya. Aku merasakan, bahwa mereka bukanlah hanya sekedar tanggung jawab, namun juga keluarga yang perlu didukung kesuksesannya.

Walau aku juga perlu belajar berdamai dan mengingat pesan alm. KH. Maimoen Zubair, dawuh beliau: "Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang, Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan pada Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah." Pesan yang amat menggugah dan menggetarkan.



Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Door Duisternis Tot Licht
  • Innamal A'malu Binniyat
  • Soal Ide, Implementasi Pesan dan Kecelakaan
  • Buat Apa Sih?!
  • Kamu Yakin Ngga sih?
  • Obsesi?
  • Rindu Allah
  • Kapan Nikah?
  • Hobi Gue Dengerin Musik. What?!!!
  • Berkaca Diri

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates