Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Judulnya bikin geleng-geleng kepala. Supaya seperti headline berita-berita, hehe. Padahal, ya hanya ingin bercerita. Tentang pengalamanku pagi itu. Kala mendapati sepasang suami istri yang dulunya sama-sama sehat. Tampan, gagah dan 'jelita' di usia mudanya.

Kini keduanya sudah menua. Suaminya sakit. Total tidak bisa bekerja. Memang sudah saatnya rehat. Sedang sang istri, meski tak sekuat dulu, masih bisa merawat sang suami dengan penuh cinta. Aku yang kala itu diminta ibu untuk sebuah keperluan ke kediaman beliau dibuat tertegun sejenak.

Aku lalu mulai berpikir. Betapa cepat waktu berlalu, betapa manusia bisa berubah, yang dulu sehat bisa sakit, yang dulu muda sekarang tua. Betapa---kata orang---rasa cinta juga bisa hilang. Tapi tidak dengan kasih sayang dan komitmen, katanya. Maka barangkali itu yang membuat manusia bisa berbuat baik terus, tanpa "tapi."

Berbuat baik pada anak, orang tua, suami, istri, saudara, dan lainnya. Meski aku mengerti, bahwa doanya pasti selalu sama: diberikan kesehatan sepanjang masa. Namun pada akhirnya momen itu membuat aku berpikir lagi. Bahwa, seperti apa orang yang kamu inginkan. Sungguh, kita tidak butuh yang palsu. Sebab di dunia tipu-tipu, selain Tuhan, keluarga adalah tempat untuk bertumpu.

Atau aku balik kalimatnya. Apakah kamu bisa menjadi orang yang tidak palsu? Menjadi sosok yang baik walau waktu terus berlalu. Sebab orang tidak butuh yang palsu. Ini yang kemudian mengingatkanmu juga, bahwa kerap kamu lupa: keluarga yang menerima kamu apa adanya. Maka selain bersyukur, banyak-banyaklah belajar darinya. Hmm.

Hehe, hari kedua belajar. Hebat banget, semangat banget mereka. Masya Allah, tabarakallah. Sampai-sampai hampir selalu datang lebih awal. Haha.

Selalu, terinspirasi itu kadang bukan dari orang dewasa. Tapi dari anak-anak kecil. Super duper masih polos, dengan jiwa-jiwa yang masih bersih.

Nah, mereka belum saya minta menghafal. Yang penting merasa nyaman dulu dengan bahasa asing ini. Supaya berkenalan dulu, seperti tema materinya. Hihi.

Tapi Alhamdulillah, otak manusia memang Allah ciptakan dengan sangat luar biasa. Tanpa menghafal pun manusia sudah bisa cepat sekali menangkap informasi baru, ya.

Tetap semangat. Memang tak harus selalu semangat. Tapi paling tidak usaha. Jangan riweuhkan masalah hasil. Yang penting prosesnya ya, Nak 💕

Ingat sekali dulu saat kecil bapak sering mendengarkan kami lagu-lagu anak. Hehe, aku, adik dan kakak perempuanku. Sering juga beliau menyiapkan microfon lengkap dengan sound-nya. Jadilah kami sering 'konser' kecil-kecilan di rumah. Tak peduli suara cempreng kami memekakkan telinga seisi rumah.

Beruntung sekali, memiliki bapak yang sampai sekarang saat aku sudah tua pun beliau tidak pernah protes anaknya hobi menyanyi, rumah jadi ramai hehe. Dulu sempat berhenti saat awal-awal semester kuliah. Karena berpikir hanya buang-buang waktu. Dan kadang, jika terlalu banyak musik yang didengar, saat sholat jadi tambah tidak khusyuk, ingat ke lagunya hihi.

Tapi entah benar atau tidak, makin kesini aku makin ingat kembali, dulu saat SD, aku tidak menyukai mata pelajaran apapun, kecuali bahasa Indonesia dan seni budaya. Itu pun hanya karena ada praktik menyanyi dan menggambar. Baru kemudian kelas enam sadar suka bahasa Inggris. Bukan, bukan karena merasa gambar dan suaraku bagus. Tapi mungkin karena aku berpikir ini adalah kegiatan tanpa mikir berat. Kegiatan yang bagiku mampu mengisi waktu luang dan mengurangi stress. Ampun, deh. Masih SD sudah kenal dengan stress, ya. Tapi ternyata, kalau dilatih sebetulnya tidak hanya sebatas hiburan. Namun bisa jadi berpenghasilan dari menggambar, dan lain sebagainya.

Aku juga bersyukur punya ibu yang tidak menuntutku harus sama dengan saudaraku yang lain, untuk jago Matematika juga. Ibu benar-benar tidak ambil pusing. Atau lebih tepatnya tidak ambisius. Meskipun aku ingin mengingat lagi, bahwa tak semua ambisius itu negatif. Banyak juga sisi positifnya. Bahkan mungkin sebuah keharusan. Hanya saja, mungkin karena dari kecil aku tak biasa dididik dengan pola seperti itu, maka jadilah aku begini haha.

Dari kecil aku terbiasa melakukan apa-apa karena keinginan sendiri. Ya, mungkin banyak juga yang diarahkan seperti penentuan jurusan studi dan lain-lain. Namun secara garis besar semua betul-betul dibebaskan begitu saja. Tak sepenuhnya bebas, namun tidak diikat, atau didikte. Misal, contoh kecil, ibu tidak pernah menyuruhku beres-beres rumah. Atau memasak. Keahlian bersih-bersih memang mungkin naluriah dimiliki semua orang. Tapi ini yang akhirnya membuat aku berinisiatif sendiri, seperti mempelajarinya sendiri dengan mencontoh.

Memasak juga begitu, karena tidak pernah disuruh membantu, aku hanya belajar dengan melihat. Maka dari itu, aku terbilang telat bisa memasak dari kebanyakan teman sebayaku. Aku baru bisa memasak, meski sederhana, saat SMP. Sebab ibu tidak pernah memaksa. Aku hanya menginginkannya sendiri. Itu hanya dua contoh kecil. Banyak sekali yang akhirnya membuat aku berpikir, ternyata pola didik seperti ini bagus, sebab membuat kita tak perlu disuruh untuk belajar sesuatu. Namun kadang ada sisi negatifnya juga. Ya begitulah, selalu banyak sisi di setiap apapun itu, bukan.

Namun sebetulnya, aku hanya ingin menyampaikan, terutama untuk diriku sendiri, bahwa dengan bisa apapun dan mampu mengerjakan banyak hal, kamu tidak akan merugi. Sungguh, kamu tidak rugi sama sekali. Justru kamu jadi bisa lebih banyak latihan dan belajar. Walau tak se-multitalent Youtuber Liziqi yang bahkan bisa mengerjakan banyak pekerjaan berat lelaki, namun intinya kita tidak akan rugi dengan mencoba dan bisa banyak hal baik. Namun tentu, bahasan ini bukan ke ranah penekanan hustle culture, ya.

Dengan konsep bahwa kita tidak akan merugi, maka kita kemudian tidak akan mengomel, jika misal hanya kita yang diminta mengecat rumah sementara saudara kita yang lain tidak (ini hanya permisalan loh 😂). Sebab kita paham, yang akan lebih pintar dan terlatih disini adalah kita. Bukankah pintar dan cerdas itu definisinya amat luas, bukan melulu jago mapel di kelas. Setidaknya ada delapan jenis kecerdasan anak berdasarkan teori Kecerdasan Majemuk Howard Gardner, antara lain; bahasa, musikal, matematika, antar pribadi, spasial, jasmani, intrapersonal dan naturalis. Untuk tiap penjelasannya bisa di-search sendiri ya, supaya tidak panjang-panjang tulisannya.

Dengan konsep ini juga kita kemudian mampu berusaha melakukan sesuatu karena dan untuk diri kita. Bukan untuk orang lain. Walau memang perlu dilatih. Apalagi saat kadang kita malah dianggap 'cari muka' di sebuah organisasi karena ingin melakukan yang terbaik. Padahal kita hanya ingin belajar, atau bahkan barangkali berkontribusi. Tak apa, kembali ke konsep dan prinsip yang kita bangun. Kita melakukan apapun bukan karena ingin dilihat orang lain, kan.

Kita belajar masak, menyanyi, qira'ah, banyak bahasa asing, membuat software, coding dll bukan karena orang lain. Melainkan karena yang untung kita sendiri. Alhamdulillah kalau kemudian suatu saat bisa bermanfaat untuk banyak orang.

Hal itu juga mengingatkan kita juga, bahwa jangan sampai juga salah kaprah. Mampu mengerjakan ini-itu bukan berarti kita bisa dengan mudah dimanfaatkan orang. Ingat, bermanfaat dan dimanfaatkan itu berbeda, ya. Maka kita juga perlu belajar mengetahui porsinya. Hehe, pandai sekali jika hanya menulis, praktiknya susah bukan bualan. Sebab bisa jadi kita adalah orang yang sungkan untuk menolak. Namun selama kita berusaha memiliki niat yang tulus, jangan khawatir, setelah banyak kerikil, kita akan sampai juga akhirnya di jalan yang mulus.

________

BTW lagu ini ternyata karya anak 2000-an. Suka sekali yang judulnya Berisik, tapi entah kenapa malah nyoba ini hehe. Memang anak jaman now tidak bisa diragukan, ya kreativitasnya. Kata Pak Gita Wirjawan, jadilah divergent. Pasti akan ada buah manis yang kelak bisa dipetik. Lalu bagiku, walau tak mudah----apalagi semakin dewasa ternyata waktu terasa semakin sempit dan berharga-----tetap optimis, setiap orang punya porsinya masing-masing.

Satu lagi, dengan aku bercerita kebaikan tentang orang tua, bukan berarti aku ingin membandingkan dengan mereka yang (maaf) barangkali di luaran sana 'broken home'. Maaf, sekali lagi aku tidak bermaksud seperti itu. Lagi dan lagi, ini hanya soal porsi yang berbeda. Dan tak semua porsi yang kita lihat artinya begitu. Tak semua cerita yang hadir berarti telah diceritakan, hehe.

________

*note: abaikan amatir ini, hehe. Just for fun. Entah kenapa kalau nyanyi ngegas wkwk. Bagian "hmm" susah ternyata. Ternyata pendapat saat SD dulu bahwa menyanyi itu tak mikir, ternyata tak benar ya. Perlu latihan, perenungan, dll untuk kemudian biasa membuat lagu yang bagus dan bermanfaat apalagi menyanyikannya. Hehe, kalau saya mohon maklum, baru dengar lagunya beberapa kali, beda jam terbang juga, beda suara, beda porsi, porsi makan kali ah 😂
Dulu aku benar-benar mempertanyakan, benarkah ada cinta yang tulus?
Sebab biasanya, cinta yang seperti itu tidak mengenal kata "tapi" apalagi akal bulus.
Ia datang dari Yang Maha Suci. Maka ia betul-betul putih. 

Apapun alasannya, harusnya tidak dinodai. Sebab paham, bahwa sumbernya amatlah agung dan barangkali bahan untuk menguji. Betul, anak, istri, suami dan lain sebagainya pada akhirnya hanyalah tipuan dan ujian. Begitu kira-kira kalau kita ingat-ingat kembali.

Dulu aku juga berpikir, bahwa pertanyaan “Sudah makan?” hanyalah bentuk basa-basi.
Bukti kalau tidak ada kreativitas untuk merangkai pertanyaan yang lebih baik dan bervariasi.
Tapi kini aku benar-benar menyadari, bahwa itu adalah pertanyaan paling menyentuh di muka bumi, yang mencakup segala sendi.

Itulah kenapa Ibu tidak pernah bosan melontarkannya padaku, bahkan lebih dari tiga kali sehari.
Ibu paham, barangkali dengan makan, salah satunya, kita bisa memperoleh energi.
Lalu kemudian dapat beraktivitas dengan baik, jangan sampai jatuh sakit.

Dulu aku pun berpikir, bahwa pertanyaan “Lagi ngapain?” adalah pertanyaan paling mainstream.
Bagiku, apa pentingnya tahu urusan orang lain? Kenapa tidak fokus pada kesibukan sendiri saja.
Tapi ternyata itu bukan sekadar pertanyaan penasaran saja, melainkan bentuk kepedulian yang amat tinggi.

Itulah kenapa Ibu tidak pernah absen menanyakan itu hampir saban hari di ponsel, seolah mengintrogasi kakak perempuanku.
Atau bertanya padaku saat aku berada jauh darinya, di Kediri dulu.
Beliau benar-benar ingin tahu apa saja kegiatan anaknya sampai begitu lama tidak memberi kabar, hingga lupa waktu.

Omong - omong tentang kabar, pertanyaan "Bagaimana kabarnya?" juga terbaca super duper aneh bagiku. Maksudku, jawabannya seringkali tidak menjamin kejujuran. Bisa jadi dijawab "Sehat" padahal sedang "Sakit". Jadi bagiku yang sebetulnya tidak suka basa basi, ada baiknya bertanya kabar dengan silaturahmi. Atau jika tidak sempat, doakan saja. Semoga kesehatan selalu menyertai.

Namun ternyata, menanyakan kabar memang bentuk perhatian tak ternilai. Karena penanya mengerti bahwa nikmat sehat adalah kunci yang begitu berharga. Kenikmatan yang sering terlupa, namun tiada duanya.

Begitulah sedikit bahasa cinta yang aku pelajari. Banyak sekali yang tidak bisa aku tuliskan. Seperti, "Sudah kamu capek, biar ibu saja." Dan lain sebagainya. Walau kadang bisa ditujukkan dengan bahasa sebaliknya, aku benar-benar belajar cinta yang begitu tulus dari ibu. Yang tidak mengenal alasan sama sekali. Yang tetap mencintai saat aku busuk atau pun dikala aku wangi.

Ibu tidak pernah pergi. Dia selalu ada. Doanya selalu membersamai. Senyumnya senantiasa menyejukkan sanubari. Tampa pamrih, beliau tak perlu dipaksa untuk menyayangi. Tuhan memang betul-betul hebat, memberikan kita sosok dengan jiwa sepertinya.

Lalu, usai belajar, semoga kelak aku bisa memilki cinta setulus ibu. Tak harus sama, namun setidaknya aku selalu berdoa. Tak harus sama, namun setidaknya aku selalu berusaha. Tak harus sama, namun setidaknya aku selalu percaya pada takdir-Nya.
Saya kemarin dibuat sangat terharu dengan sikap seorang murid yang selepas pembelajaran datang menghampiri saya. Awalnya saya mengira dia ingin pamitan karena jam sekolah sudah usai.

Dia bilang: "Makasih ya, Miss. Sudah sabar dengan teman (sebangku) saya." Sambil melirik temennya yang dengan air muka gembira tengah berbincang-bincang dengan yang lain. 

Dia kemudian melanjutkan, "Dia kan spesial, Miss. Berbeda dengan kita." Mendengar itu saya langsung sedikit kaget. Sebab saya sama sekali tidak menyadari itu. Menyadari bahwa beliau (maaf) berkebutuhan khusus.

Akhirnya saya bilang dengan suara yang saya kecilkan: "So sorry, I don't know about that. Soalnya dia hebat dan menjawab seperti biasa, loh. Makanya saya ngga tahu. Meskipun jawabannya dengan bahasa Indonesia, tapi kan itu artinya dia mengerti. Maaf, ya."

"Iya, Miss. Dia berbeda. Tapi ngga, kok. Miss sudah sabar banget tadi. Makasih, Miss." tambahnya lagi. Tapi sebetulnya yang membuat saya terharu adalah betapa temannya ini 'nganggep' banget sampai bela-belain ke depan dan menyampaikan terima kasih. Lalu bagi saya, beliau tidak berbeda. Beliau sama seperti kita. Bahkan sangat menginspirasi.

Sedangkan untuk saya, mungkin ke depan saya harus belajar lebih peka lagi. Lalu saya jadi merenung: Kita yang sudah Allah anugerahi "segalanya" apa tidak malu jika harus berasalan tidak percaya diri, tidak semangat, masih banyak kekurangan, dll. Hehe *fomaself 😅
Saat ada pilihan untuk tetap egois dan bertahan demi cuan, kamu berhasil dengan sangat sadar dan rela melepas. Selamat, kamu menang!

Bukan. Bukan berarti yang bertahan egois, namun sungguh tulisan ini begitu personal. Tiap-tiap pribadi punya sikap, alasan, dll sendiri. Tidak bisa disamaratakan.

Tak hanya cuan. Posisi aman  dan ragam iming yang disampaikan dengan meluap-meluap tak juga mampu menggoyahkan hatimu. Maaf, saya memang masih miskin harta, tapi bukan itu tujuan utama saya, katamu. Realistis perlu, tapi caranya tak begitu.

Akan banyak suara, dan mustahil semuanya akan "pro" denganmu. Bahkan barangkali sikapmu dianggap berlebihan. Tak apa, mereka tidak salah. Tidak ada dosa bagi orang yang tidak tahu, bukan.

Selain harga diri, yang mahal ternyata memang adalah saat kamu bisa meraih pelajaran dan menghadapi setiap tantangan.

Walaupun kamu bisa belajar dari hal terjelek sekalipun, apa iya kamu akan bertahan di tempat yang sering mem-blurkan definisi nilai diri, pelajaran, dan tantangan itu sendiri.

Maka, Nak. Selamat kamu menang.

Tapi ingat, selama hidup berlanjut kamu akan masih ke pertandingan yang lain. Kamu akan terus dites. Omonganmu, tulisanmu, doamu, semua akan diuji.

Lalu ingat juga, bahwa kau juga banyak menyerap pelajaran dan memperoleh banyak kebaikan dari sana. Selain bertemu orang-orang baik, kamu juga belajar bagaimana melihat uang dari sudut yang berbeda sekarang.

Dulu kamu selalu berpikir, tanpa uang kamu tidak akan bisa sekolah, kuliah, daftar lomba, dan sebagainya.

Namun kini berbeda.

Tempat itu mengajarimu bahwa ternyata "uang tidak berarti apa-apa". Ya, uang sebanyak apapun tidak ada artinya jika tidak dibarengi semangat.

Meskipun berjibun uang yang kita punya, modal atau apapun sebutannya, kalau pada akhirnya kita tidak memiliki daya juang dan semangat untuk "Sekolah, Bekerja, atau bahkan Mendirikan Usaha" maka ya sama saja nihil.

Kamu juga jadi bisa berpikir, uang bisa dicari dan diusahakan, tapi "semangat yang sama" seringkali tidak datang dua kali.

Itulah kenapa ini yang membuatmu berani mengambil resiko kuliah lagi dengan biaya sendiri. Meskipun siapa yang tahu, kesempatan beasiswa on-going bisa dijajal, walau juga super duper memerlukan keseriusan.

Nak, aku hanya ingin berpesan padamu. Jangan lupakan setiap pelajaran. Tak apa jika terkadang lupa. Sebab kamu cuma manusia. Namun sambil ingat kembali. Supaya kamu bisa menjadikannya pijakan yang kokoh untuk melanjutkan perjalanan.

Sekali lagi, selamat kamu menang!

_______

*Note: aku dan 'diriku yang lain' seperti Ibu dan anaknya sendiri wkwk.

Sejak membaca novel Andrea Hirata, aku terbiasa meluapkan emosi dan apapun itu dengan menulisnya. Di samping agar kapasitas folder di pikiranku tidak terlalu penuh dan lebih lega, barangkali akan ada pesan baik yang bisa orang petik. Meski pada akhirnya hanya bercerita saja. Hehe. 
_______

Hari Sabtu, aku biasanya libur mengajar, namun tidak untuk kemarin karena aku diminta untuk meng-handle kelas training. Tidak ada firasat apapun. Aku seperti biasa berangkat dengan hati yang lapang. Pekerjaan ini seperti bukan pekerjaan, karena aku, alhamdulilah, menyukai apa yang aku jalani ini: mengajar dan bahasa Inggris. Bahkan sepatu yang aku pakai sudah dicuci bersih. Itu artinya aku sangat niat mempersiapkan semuanya.

Pada saat kelas sedang break atau istirahat, seorang murid berinisial H menghampiri kami di kelas. Aku paham dia ingin praktik bahasa Inggris. Dan aku sangat senang menemui orang-orang, siapapun itu yang semangat ingin praktik. Sebab aku pun tengah belajar. Dia bukan peserta training, melainkan member kelas umum. Jadi hari ini kelasnya libur. Namun beberapa memang tetap stay di kursusan.

Sembari mengobrol, aku sesekali menulis kosa kata baru di papan, yang bisa muridku itu ingat kembali. Dalam obrolan, ia menceritakan pengalaman-pengalaman pahitnya beberapa waktu terakhir. Salah satunya, saat ia diuji dengan kehilangan dompet berisi uang jutaan, KTP dan "kartu-kartu" penting lainnya. Pada akhir cerita, aku benar-benar tidak tahu harus berkomentar apa, sebab memberi nasihat itu gampang, tapi bagaimana jadinya jika kita ada di posisi tersebut. Namun untuk menutup percakapan, aku harus memberi semacam last statement, hingga akhirnya muridku mengingatkan aku untuk sholat dhuhur. "I don't know what I have to say, tapi sungguh Allah nanti akan ganti dengan yang lebih banyak dan lebih baik, ya. Berkali lipat. Semoga segera berangkat dan berkerja juga ya." Kataku, kurang lebih, kala itu. Dia pun mengamini.
_______

Usai melanjutkan kelas training, sekitar pukul 15.15 WIB aku bergegas pulang. Lagi-lagi, tak ada tanda-tanda apapun. Atau mungkin aku saja yang kurang peka. Aku mengendarai motor sambil sayup-sayup melantunkan sholawat. Bukan karena alim, tapi lebih karena aku paham betul manfaatnya begitu dahsyat, untuk diriku sendiri bukan orang lain. Saat itu, di sekitar Tangkel, Burneh kondisi jalan ramai, aku mengendarai motor dengan pelan. Tak biasanya aku berkendara sepelan itu. Saking pelannya seperti saat menyetir kala hendak berhenti membeli sesuatu. 

Tanpa babibu, dengan sholawat yang masih kulantukan. Aku bertanya dalam hati, "Tasku nyangkut kemana?" Betul, saat pertama kali ditarik, tas yang posisinya ada di depanku aku kira menyangkut ke sesuatu, tapi "Apa?!" pikirku. Sebab sungguh, meski aku tahu di dunia ini tak hanya ditempati orang yang baik, namun aku selalu percaya bahwa semua orang itu baik. Jarang sekali aku bertemu orang jahat. Itulah yang membuat aku mengira, orang jahat sudah punah. Belum lagi, aku dibesarkan untuk berusaha tidak punya pikiran buruk pada orang lain. Jadi aku tidak pernah mengira akan menjadi korban penjambretan. Bahkan, meski sudah banyak cerita dimana-mana, aku kadang tak percaya jika jambret itu memang betulan ada. Hahaha.

Si jambret menarik tasku dua kali. Ditarikan kedua itulah aku akhirnya sadar bahwa aku sedang dihadapkan dengan orang jahat. Aku benar-benar membeku seperti es batu. Gagap seketika. Seolah terhipnotis. Aku tak memiliki gerak refleks memegang tasku saat tarikan pertama bahkan kedua, karena pikiranku benar-benar tidak mampu mencapai itu. Yang ku sadari saat itu adalah, tasku ternyata betul-betul ditarik, diambil dan orang itu ngebut. Sedetik aku melihat tasku seolah melayang di depan mataku. Benar-benar lucu. Slow motion effect seperti di film-film. Kurang aj*r memang!

Sedetik itu pula yang aku pikirkan hanya satu: ngebut mengejar si jambret. Maka betul, itu yang aku lakukan kemudian. Padahal Gusti, kondisi jalan amat sangat ramai. Si jambret saja sampai kelihatan bingung menemukan celah untuk menambah kecepatannya, untuk lebih ngebut lagi. Entah seperti apa diriku kala itu, klakson ku sudah pasti berbunyi bising sekali. Aku tidak membenarkan perilaku ngebut di jalanan, sebab selain membahayakan nyawa kita, itu juga akan mempertaruhkan nyawa orang lain. Namun entah apa yang aku pikirkan kala itu. Aku seolah memiliki nyawa cadangan, tak mau kalah ngebut, mengejar si jambret sial*n itu.

Sampai akhirnya di pertigaan Nyiorondung, si tengik itu (hehehe) buru-buru belok kanan. Usai berhasil menyebrang, aku sempat meminta bantuan pada dua lelaki yang berusia sekitar 35 tahun. Tampilan beliau-beliau bersih dan terlihat terpelajar. Mereka sedang menggenggam handphone-nya masing-masing. Saat itu, aku benar-benar seperti tidak bisa berbahasa Madura, semua dialog dalam cerita ini berbahasa Indonesia. Karena memang itu kenyataanya. Aku lupa berbahasa Madura seketika. "Pak, tas saya dijambret tadi. Jambretnya kabur ke sana". Sambil menunjuk ke jalan yang melewati Ponpes Nurul Amanah itu. Berharap mereka akan membantu. Namun ternyata mereka tidak antuasias sama sekali. Dan aku tidak mau menyalahkan, mungkin sedang sibuk dan menunggu seseorang. Sedetik kemudian aku berpikir dan mengambil keputusan: "Aku tidak mau berharap pada manusia. Aku tidak mau mengandalkan orang lain. Aku akan mengejar jambretnya sendiri. Aku hanya bergantung pada Allah. Satu-satunya dalam hidup yang bisa aku harapkan. Tempat aku bersandar!"

Tanpa berpikir panjang aku tancap gas, meng-klaksoni setiap kendaraan yang menghalangi jalanku. Haduh! Aku tidak paham berapa kecepatan ku kala itu. Yang jelas cepat sekali. Padahal jalan di situ jelek bukan bualan. Lagi-lagi, nyawaku seolah dalam sebuah game. Masih ada cadangan yang tersisa jika aku kehilangan satu. Seolah juga aku memiliki skill bela diri saja untuk rencana B nantinya. Yang jelas sembari tancap gas lagi, aku tidak punya rencana apapun, pikirku hanya begini sambil bersholawat dan membaca bismillahilladzi Laa yadhurru ma'asmihi syai'un fil ardhi wa laa fissama' wahuawas sami'ul alim dengan mantap di dalam hati: "Demi Allah, aku yakin aku akan mendapatkan jambretnya. Ada Allah, ada Allah, ada Allah. Allah bersamaku. Aku akan temukan jambretnya. Titik."

Saat mengebut, ada seorang laki-laki yang barangkali masi berusia 18 tahun menyalip dan bertanya karena mungkin melihat aku yang ngebut, "Kenapa, Mbak? " Katanya. "Tas saya dijambret, Mas. Jambretnya ke sana, pakai baju biru (Sial*n, ngomong levis aja susah banget). Dia pun melesat jauh lebih cepat dariku, motor N-Max yang dikendarainya mungkin berpengaruh juga pada kecepatan. Saking ngebutnya, sampai si jambret terlewati. Tapi bukan salahnya, aku yang tidak memberikan info dengan detil, bagaimana sempat! Aku saja berkendara sambil gemetar saking kaget dan marahnya, bukan karena takut.

Batas Desa Pamorah dari arah utara ku lewati. Si tengik berhenti di jalan dengan (sepertinya) sungai kecil karena banyak timbunan sampah. Keadaan jalan benar-benar sepi. Hanya ada aku dan si jambret. Tapi aku senang bukan kepalang bisa menemukannya. Sebab awalnya, motornya yang melesat tidak dapat ku jangkau lari kemana. Dia terlihat panik dan buru-buru memasukkan tasku kedalam jok motornya, tepat saat dia berhasil menutup jok motor, muka hitam (bukan rasis, tapi memang hitam karena terlihat tidak pernah mandi, hahaha. Asli, seperti orang gila yang ditemui di jalan, kemudian dimandikan, dll kan nantinya berubah jadi bersih. Nah ini persis. Jadi warna kulit asli si pelaku ya sawo matang, bukan hitam. Amboi, bagaimana pula kita berharap ada jambret yang mukanya bersinar sebab sholat malam? Wkwkwk, tapai ongghu malah menganalisis muka si tengik. Maksudku, bukan karena aku marah lantas mengatai fisik, namun hanya mencoba mengingat ciri-cirinya. Baiklah lupakan. Hehe). Saat itu aku berhenti tepat di sampingnya, sungguh bod*h sekali aku. Aku betul-betul bingung harus berbuat apa, aku hanya berteriak, "HEYYY, TAS SAYAAAA!" sambil tangan kananku memegang bagian pegangan di belakang motor. Berharap dengan tangan gemetar dan tenaga yang tersisa tak seberapa itu bisa menahan tenaga kuda modern yang bisa melesat begitu saja. Aduh, orang bod*h macam apa itu! 

Sementara itu, tangan kiriku masih memegang motorku sendiri. Benar saja, aku terpelanting, jatuh dengan motorku karena si tengik melesat tanpa aba-aba, tanpa ummi-ummi. Hihi, *jokes bapak-bapak. Dan dari utara, jarak sekitar lima meter akhirnya ada seorang bapak-bapak berusia 40 tahunan membonceng istrinya. Aku langsung, "Pak, tas saya dijambret, itu jambretnya!" Bapak itu langsung meminta istrinya untuk turun sebentar, kemudian beliau membantuku mengejar si jambret. Sementara itu aku sibuk mencoba menegakkan motorku yang jatuh tadi. Entah kenapa motor itu jadi terasa berat sekali. Aku jadi seperti orang yang lemas sekali, susah betul menegakkannya lagi. Belum lagi, di detik-detik genting itu aku disibukkan dengan rentetan pertanyaan si ibu-ibu, istri si bapak. Aku tidak menyalahkan, karena itu artinya beliau peduli. Namun yang tak kalah membuatku sibuk adalah saat terpelanting, sepatuku copot satu. Dan susah menggunakannya kembali jika hanya menggunakan satu tangan, entah kenapa susah sekali rasanya mengambil sepatu itu dan meletakkannya di jok depan. Aku hanya ingin menghemat waktu. Aku sudah kalah banyak dari si jambret. Waktuku sudah banyak tersita, meski agaknya tak sampai semenit, namun sungguh itu banyak sekali. Maka akhirnya, lagi-lagi aku sampai lupa berbahasa Madura, sambil setengah berteriak agar terdengar aku berkata pada si ibu-ibu, "Bu, saya nitip sepatu ya! " Dan wuuuuusssh, aku tancap gas lagi. Cadangan nyawa masih banyak? Bukan, bukan itu yang aku pikirkan. Memang harta, dokumen, KTP dll juga penting, namun yang utama pikirku kala itu adalah, "Pokoknya aku harus mendapatkan jambretnya. Titik. Harus diadili, supaya tak ada korban lagi."

Yang ku sesali, kenapa aku sangat bodoh. Kenapa aku tidak ku tabrakkan saja motorku ke motor si jambret, supaya kita sama-sama terjatuh sembari menunggu bapak yang membawa istrinya itu mendekat, lalu banyak orang menolong. Kenapa hanya ku pegang motornya seolah aku ini Hercules yang bisa menahan kuatnya tenaga kuda. Bodoh sekali. Sungguh, aku tidak bisa berpikir jernih. Aku juga tidak pernah mendapatkan pelajaran "Trial Hal-hal Penting yang Harus Dilakukan saat Menghadapi Jambret" saat di sekolah. Hehe. Aku bahkan tidak sempat melihat plat nomornya, meski itu juga bisa saja palsu. Aku juga bahkan tak bisa berteriak, "TOLONG, TOLONG, TOLONG!" layaknya acara di televisi dan dunia nyata yang lumrah dilakukan orang kebanyakan saat menghadapi musibah. Aku benar-benar gagap. Aku bukan wanita cerdas dengan refleks yang cerdas. Aku sungguh bingung harus berbuat apa. Aku terbiasa dilingkupi dengan orang-orang baik. Jadi tak pernah terpikirkan langkah apa yang harus aku lakukan jika mengahadapi situasi seperti ini. Namun hal-hal yang ku sesali dan pengandaian-pengandaian itu dilarang dalam agama, maka aku pun harus ber-ishtigfar atasnya. 
_______

Si bapak-bapak mengejar jambret dengan kecepatan yang relatif tidak cepat. Aku tidak menyayangkan itu. Sebab aku akan lebih bersalah lagi jika nyawa orang harus melayang karena membantuku. Aku bahkan tak sempat berterima kasih karena harus buru-buru mendahuluinya mengejar kembali si tengik. Aku kehilangan jejak. Aku lalu bertanya pada pengendara lain, menyebutkan ciri-ciri yang tak banyak. Katanya si tengik belok kiri. "Aduh, pasti mau lari ke Surabaya dan melewati jembatan Shirathal Mustaqim, eh, Suramadu maksudnya," pikirku. Tapi aku tak mau menyerah dan masih melanjutkan pengejaran. Aku tidak peduli jika ibu-ibu tadi pulang terlebih dahulu dan tidak menjaga sepatuku. Aku masih punya sepatu yang lain.

Kondisi jalan saat itu ramai sekali. Karena kehilangan jejak, aku sempat berusaha menyebrang dan berhenti di stand usaha milik kakak-ku dan meminta tolong staff-nya untuk menghubungi kakak, barangkali sedang ada di rumah dan membantuku melakukan pengejaran. Namun jawabannya, "Bapak sedang belanja, Mbak." "Oh, gitu. Ya sudah, ngga papa, makasih ya, Dek." Aku lalu melanjutkan perburuan hingga jalan menuju jembatan Suramadu, sebelumnya di setiap warung, aku dengan polosnya mengecek satu-satu setiap orang yang mengendarai motor Vario Hitam. Menanyai satu-satu tukang parkir di jalanan. Bahkan remaja-remaja yang berusaha menyetop truk-truk besar masih sempat aku tanyai, ternyata mereka mau ikut habsyian, aku kira anak jalanan, anak-anak yang selalu ingin aku wawancarai. Ku tebak mereka semua masih SMP, dan mendapati mereka menyetop kendaraan dengan cara yang "barbar" seperti itu aku masih sempat berkata, "Hati-hati, Dek nyetop-nya. Makasih, ya, saya lanjut dulu" "Iya, Mbak. Iya, sama-sama."

Lanjut ke arah Suramadu, aku benar-benar kehilangan jejak. Seperti aku harus belajar menerima. Aku memutuskan untuk putar balik. Sembari masih melihat kanan-kiri semua pengendara. Ku duga mereka risih dan bertanya-tanya. Hasilnya nihil. Aku kembali ke lokasi setelah batas Desa Pamorah lagi, sambil sesekali berhenti menanyai siapa saja yang sedang nongkrong. Pada situasi sepeti itu, sifat pemaluku tiba-tiba serupa ditelan mentah-mentah oleh bumi. Benar-benar hilang, seperti tas itu. Aku juga kembali ke tempat aku menangkap basah si pelaku memasukkan tasku kedalam jok motornya. Nihil. Aku putar balik, sembari melihat jalanan, barangkali dompet berisi KTP, ATM, STNK dan kawan-kawannya di buang di sekitar sini. Tapi mana mungkin? Si tengik ku duga kuat lari ke arah Suramadu. Dan tasku didalam joknya, mana sempat dia buka saat itu juga. Mana sempat dia baca buku-buku catatan berisi Metode-metode Training yang belum sempat aku ketik ulang itu. Mana sempat dia mengambil pen lalu menulis agenda penjambretan selanjutnya. Mana sempat dia membuka dompetku, lalu melihat betapa banyaknya kartu-kartu penting yang ruwet sekali mengurusnya. Mana sempat dia menyemprot mukanya dengan hand sanitizer dan mengusapnya dengan tissue sebagai ganti tissue basah, supaya mukanya sedikit lebih glowing. Hehe, kalau yang ini memang rasis dan body shaming wkwkwk. *canda ✌

Aku lalu ke Tangkel, Burneh lagi, ke pos polisi, ingin bertanya pada Pak Polisi, baiknya apa yang harus aku lakukan. Pukul 16.54 WIB, pos polisi kosong melompong, namun banyak kendaraan di luar. Aku akhirnya menyerah dan pulang. Saat pulang, pikiranku kemana-mana. Ya, bagiku, aku selalu bisa memikirkan lima hal sekaligus dalam sekali waktu. Bahkan lebih. Jadi bisa dibayangkan bagaimana sesaknya pikiranku jika tidak menulis. Mungkin semua orang juga begitu. Sebab saat tas ku ditarik, dirampas, dijambak, dan melayang aku langsung membayangkan, "Allah, banyak sekali dosaku, sampai aku akhirnya diberi cobaan ini." Benar, cobaan sebagai peringatan. Sedangkan ujian sebagai jalan untuk naik tingkatan. Itu yang sedikit aku pahami, entah benar atau salah. Yang jelas aku sudah berpikir negatif duluan, bahwa ini adalah cobaan atas dosaku, bukan ujian. Allah. 

Karena menyetir sambil banyak berpikir, aku tidak fokus. Sampai-sampai motorku selalu miring dan menepi ke kanan, akhirnya aku tidak bisa langsung masuk kembali ke jalan raya lagi dan melanjutkan perjalanan karena kondisi jalannya jauh lebih ramai lagi plus kendaraan-kendaraan berlalu dengan sangat cepat. Jadi aku akhirnya menepi dan menunggu sebentar, seperti saat hendak menyebrang. Aku lebih hati-hati kali ini, mungkin karena kesadaran ku sudah mulai terkumpul. Sadar bahwa hidupku bukan game dengan nyawa-nyawa cadangan.

Sepersekian detik kemudian, seorang adik laki-laki yang sempat kupanggil "Mas" dengan motor N-Max dan membantu pengejaranku itu ternyata dari tadi mungkin mencariku. Dia menyusulku dari belakang, dia mengembalikan sebelah sepatuku. Untung sudah dicuci ya! Hahaha. Aku yang sebetulnya tidak pernah mau merepotkan orang lain benar-benar takjub dan berkata, "Ya Allah, jadi dari tadi sampean nyari saya berarti, ya. Mau ngembaliin ini, " Kataku menahan tangis sambil mengambil sepatu putih itu. "Makasih, ya Dek". Ku panggil adik karena ternyata masih sangat muda. " Dijambret dimana tadi, Mbak? " "Sekitaran Tangkel, Dek." "Sudah biasa itu sepertinya, Mbak. Saya sudah dua kali mengejarnya. Waktu itu saya mengejarnya saat ada anak SMA yang tasnya juga dijambret. Waktu sedang mengantar adik saya ke pondok. Biasanya kalau nge-jambret sekitar jam setengah enam. Apa aja isinya, Mbak?" "Loh, berarti pean tau ya orangnya, Dek? Isinya semua, Dek." "Ngga tahu orangnya juga, cuman mungkin ini orang yang sama, Mbak. Ya sudah saya pamit dulu, Mbak." "Oh, iya, Dek. Makasih banyak, ya. Sampean dari mana dan siapa namanya? " "Saya S (Inisial) Mbak, dari..... (Menyebutkan satu daerah)." "Makasih, Dek S." Kataku setengah berteriak karena dia langsung berlalu. "Iya!" jawabnya dari kejauhan. 

Aku melanjutkan perjalanan dan berhenti di stand usaha kakak, aku bilang pada staff-nya padahal sebelumnya aku belum pernah mengenalnya, hanya tahu nama, "Dek, sudah hilang tasnya." Dan singkat cerita aku bercerita jika tadi aku dibantu S anak daerah T. Ternyata dia teman staff itu. Aku meminta, jika boleh kontaknya dikirim ke kakakku, nanti akan aku minta juga. Sebab aku masih ingin menggali informasi dan melacak pelaku. Lagi-lagi karena tidak ingin ini terjadi pada orang lain. Ingin pelaku diadili. Jika barang-barangku bisa kembali? Itu hanya bonus. Sebab sejak aku memutuskan untuk putar balik, aku benar-benar mantap mengatakan dalam hati: "SUNGGUH, ALLAH AKAN GANTI DENGAN YANG LEBIH BANYAK DAN LEBIH BERKAH. AKU AKAN JADI ORANG YANG "KAYA" SETELAH INI." Beberapa potongan kalimatnya persis seperti yang aku sampaikan ke muridku saat sharing di hari yang sama, saat praktik bahasa Inggris denganku di waktu breaktime itu. Seminggu yang lalu, teman lamaku yang sudah 6 tahunan tak bertemu berbagi kisah hidupnya yang ternyata banyak diuji, aku kemudian berkata dalam hati: " Ya Allah, dalam kurun waktu itu kamu loh belum pernah diuji, tapi sudah banyak mengeluh." Dan benar saja. Aku kini sedang diuji atau dicoba dengan kalimat-kalimat yang aku lontarkan sendiri. Akankah aku sesabar muridku itu. Akankah aku sesabar temanku itu. Begitulah kira-kira.

Aku bercerita pada staff kakak sambil tiba-tiba menangis. Tangis yang sejak tadi aku tahan. Padahal dia sambil melayani tiga orang pelanggan. Entah kenapa dari dulu aku tidak pernah malu menangis di depan banyak orang. Aneh memang. Namun aku sadar diri, dia sedang bekerja. Aku tak boleh berlama-lama. Maksudku bercerita adalah, selain agar lebih lega juga lebih karena supaya dia menyampaikannya pada kakak, bahwa aku tidak apa-apa. Meski HP-ku sudah ikut hilang. HP terbagus selama hidupku, setidaknya itu bagiku. Wkwkwk. HP yang kalau mau screenshot aja ribet amat, menggunakan usapan telapak tangan. HP yang meski berbagai aplikasi aku download tidak pernah rewel dan lemot. HP tempatku berkarya ala kadarnya. HP yang terbilang masih baru. HP pemberian kakakku. Sebetulnya, aku paling tidak suka diberi, sekalipun dari kakak kandung. Namun kakak memang terlalu baik dan ternyata memang HP itu sangat menunjang proses pembelajaran, dll. Maka aku berdoa, semoga kakakku juga mendapatkan aliran pahalanya. Kini HP dengan segudang file itu sudah sirna. Dan sebagian besar file belum aku back-up. Benar, semua memang HANYA TITIPAN. Tapi pada staff kakak, aku tidak bercerita perihal HP. Aku hanya bercerita kemungkinan pelaku orang terdekat dan sering nongkrong di daerah sini. Lalu aku pamit dan berterima kasih padanya. Wajah staff itu mencerminkan aura kebaikan dan pribadi yang baik. Wajahnya terlihat lelah bekerja dan aku tiba-tiba sangat bersyukur, hidupku Allah mudahkan sejak dulu hingga tak harus bekerja di usia muda sepertinya. Meski jujur, aku sangat salut dengan anak-anak muda seperti itu.

Aku kembali melanjutkan perjalanan pulang. Lagi-lagi sambil melamun. Itulah kenapa, lagi dan lagi motorku menepi tanpa sadar. Aku akhirnya berhenti sejenak dan menangis sejadi-jadinya. Yang paling membuatku menangis adalah karena teringat dosa. Saat itu seolah ditampakkan semua dosa dan aib-aibku. Aku tak mampu mengelak dan hanya bisa menangis tersedu-sedu. Aku berhenti menangis, melanjutkan perjalanan. Namun sebelum itu aku bertemu dengan bapak-bapak yang sudah sangat sepuh, berjualan es degan. Wajahnya adem dan terlihat baik. Dia melihatku. Dia mengira aku juga ingin menyebrang. Saat dia berhasil menyebrang, dan sampai di tengah jalan raya dia berkata dan tersenyum padaku, "Ayo, Mbak kalau mau nyebrang." Aku menjawab dan tersenyum dalam tangis, "Iya, Pak." Lagi-lagi aku bersyukur, hidupku jauh lebih baik dari bapak sepuh itu. Aku kembali menangis memikirkan nya. Meski siapa yang tahu justeru bapak sepuh itu yang lebih bahagia dengan sholat malamnya, dengan dzikirnya, dengan anak-anak sholehnya.

Setelah itu, akhirnya aku benar-benar pulang ke rumah. Sesampainya di jalan rumah aku berpikir akan melacak lokasi HP-ku melalui Gmail. Aku pun menambah kecepatan. Namun di rumah hanya ada Ibu dan Bapak. Aku memutuskan untuk tidak bercerita agar mereka tidak khawatir. Namun akhirnya aku bercerita juga. Kata Ibu, "Kamu akhir-akhir ini sering pulang telat, makanya aku ngga kepikiran pas kamu ngga nyampe-nyampe rumah" Sedang kata Bapak, "Kamu biasanya pas kerja di Telang aku pikirin tiap hari, karena jauh. Nah karena sekarang kerjanya cuma di Bangkalan, deket ngga sebanyak dulu khawatirnya, eh malah kena musibah. Ngga papa yang penting kamu-nya selamat. Cuma kepikiran kok bisa-bisanya masih kamu kejar. Kalau bawa senjata gimana. Bersyukur banget kamu selamat." Tangisku makin pecah saat adik dan suaminya datang. Wkwkwk, sumpah kalau yang ini malu banget menangis di depan adik ipar ku yang baik hati dan tidak sombong, juga rajin gosok gigi dan menabung. Aduh, Lut, itu lawakan lawas, hehe. 

Aku kemudian melacak HP-ku dengan Gmail, dan baru ku ingat Gmail-ku menggunakan verifikasi dua langkah dengan kode yang muncul dan terhubung dengan nomor telepon. Kalaupun bisa login, kondisi data HP meninggoy😅. Itulah kebiasaan burukku (mungkin ya): Jika HP tidak digunakan, atau tidak ada kepentingan, data internet akan ku matikan, sebab bagiku itu adalah distraksi terbesar dalam hidup. Meskipun aku sadar masih banyak akan kekurangan. O ya, adik iparku mempunyai kenalan orang yang dianugerahi indra keenam (mungkin bisa dibilang seperti itu). Katanya, si jambret langsung pulang ke Surabaya. Tapi dia berasal dari Tragah pelosok, namun tidak bisa dikatakan jelasnya, posisinya dimana. Sebab benar-benar tidak menggunakan ilmu hitam untuk menerawang. Hanya berdasarkan anugerah spesial dari Allah itu. Si jambret sepertinya berkomplot, uang yang didapat untuk membeli obat-obatan terlarang. But wallahua'lam. Semoga aku selalu ingat, bahwa dunia itu memang tempatnya ujian. Ya, begitu katanya. Alhamdulillah 'ala kulli hal. 

Baiklah, itu saja dulu sedikit cerita lucu hari ini. Semoga ada pesan yang bisa dipetik, dikupas, dicuci, dirujak, digigit, dikunyah, ditelan, dicerna, hehe. Baaai ~

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Dulu aku selalu berpikir, bahwa sosial media adalah salah satu distraksi terbesar bagiku. Bagi orang yang masih amat sangat belajar untuk memanfaatkan waktu. Kalau kata orang jaman sekarang: produktif. Walau kadang kita juga harus mampu membedakan busy dan productive. Juga membedakan bermalas-malasan dan istirahat atau quality time bersama keluarga. Setelah mampu membedakan, bagian tersulit adalah pengaplikasiannya. Karena merupakan bentuk dari membangun habit. 

Apa jadinya kalau sudah kecanduan scrolling sosial media? Waktu akan cepat berlalu begitu saja. Lalu penyesalan memang selalu hadir di scene terakhir. Disusul ucapan Raditya Dika, yang menampar tiba-tiba: opportunity cost: 5 jam rebahan main hape = 5 jam belajar hal baru. Lalu jangan ditambahi: Lah, kan belajar hal baru bisa dari handphone? Maksud tersiratnya barangkali bukan begitu. Kata remaja jaman now: Ngga gitu konsepnya, Bambang 😅

Bukan hanya kalian, aku pun dulu sangat kecanduan sosial media. Sampai-sampai harus memaksa diri untuk off beberapa bulan, namun akhirnya kembali lagi. Tak hanya itu, aku juga mantan pecandu game saat SMP. Hehe. Pernah ku bercerita, jika dalam sehari aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain ragam game di komputer hasil keringat kakak-ku. Padahal, komputer itu sebetulnya menetap disitu agar adiknya bisa belajar desain, bahasa, dan hal lain yang lebih bermanfaat. Jadilah sampai sekarang aku belum bisa mengetik dengan teknik 10 jari. Hihi.

Kian kemari, aku tidak bilang jika game itu sama sekali tidak ada manfaatnya. Mungkin ini hanya perihal tujuannya. Kalau hanya untuk hiburan, baiknya tidak terlalu berlebihan, penting dibatasi. Jika tujuannya profesionalitas, berarti memang perlu banyak latihan, cakupannya lebih luas lagi. Sebab aku pun tak mau bohong jika game juga mampu mengasah otak yang tumpul. Pada porsi yang pas.

Sama halnya kian kemari, aku juga menyadari jika kita pun pada beberapa hal, bisa memanfaatkan media sosial. Tentu dengan batasan-batasannya juga. Salah satu pemanfaatannya adalah sebagai personal branding. Aku ingat sekali betapa cukup kagetnya saat bertemu dengan kakak kelas sekitar tiga tahun lalu. Dalam obrolan beliau bertanya padaku: Lutfiyah masih aktif nulis, ya? Akupun hanya bisa menjawab ala kadarnya sembari berpikir: ternyata barangkali ini yang dimaksud personal branding. Apa deskripsi diri kita bagi orang lain yang dibentuk dari apa yang kita lakukan (dalam hal ini media sosial).

Memang, salah satu pengertian personal branding adalah bagaimana kita memperkenalkan diri di hadapan publik, intinya kita ingin dikenal sebagai apa. Nah, ini berarti ranahnya bisa masuk ke pencitraan dan sesuatu yang fake, dong? Sabar, tunggu dulu. Personal branding ini, sependek pemahamanku begitu luas ranahnya. Yang paling sering dibahas adalah keterkaitannya dengan bisnis, pemasaran, self development dan lain sebagainya. Namun barangkali yang ingin ku bahas kali ini adalah yang lebih personal, self development atau pengembangan diri.

Untuk itulah, dalam hal personal diri ternyata personal branding tidak = promosi, tidak = pamer, dan tidak = pencitraan. Personal tidak = kontroversi. Personal branding = menghasilkan karya. Personal branding = prestasi. Personal branding = melakukan atas dasar kemampuan dan atau proses mengasah kemampuan tersebut. Itulah kenapa Pandji Pragiwaksono bilang, "Lakukanlah personal branding melalui karya." Sebab bagi Dewa Eka Prayoga, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun personal branding kita. Dan hanya butuh waktu sepersekian detik untuk menjatuhkannnya. Salah satunya, karena ketidak-konsistenan, dan tidak menjadi diri sendiri.

Lantas, lebih spesifik lagi, bagaimana harusnya kita sebagai seorang muslimah membranding personal kita? Setidaknya ada tiga poin penting dari podcast Farah Qoonita: a. Moral/Akhlak: menjadi sosok yang penyayang dan ramah, manajemen waktu dan hidup, mempunyai rasa malu dan menjaga kehormatan. b. Skill/Kemampuan: ilmu pengetahuan dengan al-Qur'an sebagai teknologi tertinggi. Dan yang terakhir: c. Value/Nilai: mempunyai landasan dan alasan yang jelas dan tepat (untuk Allah): kenapa harus memiliki skill ini dan itu. Nah, kata Sherly Annavita, paling tidak ada dua hal dari pentingnya personal branding: a. membangun trust yang terkait dengan konsistensi, dan kedua: b. membuka pintu-pintu kesempatan.

Inilah yang akhirnya membawaku untuk memanfaatkan sosial media (salah satunya) dengan baik. Meski sangat kusadari masih terdapat banyak kekurangan. Walau sesederhana melatih public speaking, menulis juga barangkali berbisnis. Meski, lagi dan lagi, pada akhirnya jangan lupa pada personal branding di dunia nyata juga, bukan hanya di dunia maya. Harusnya, apa-apa yang dibagikan di dunia maya---yang tidak mencerminkan diri kita 100%---itu bisa menjadi refleksi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Aamiin. Lalu, jangan sombong, semua itu, termasuk potensi hanyalah titipan belaka.
Saat masih kecil, cita-citaku banyak sekali. Semua yang umum disebut akan ku sebut, kecuali dokter, bidan dan perawat. Aku tidak berani, hehe. Juga guru. Memang, aku pernah bilang jika ingin menjadi guru bahasa Inggris. Tidak ingat kapan tepatnya aku mengungkapkannya. Apakah saat SD atau SMP, atau lebih tepatnya MTs. Yang jelas, aku tidak pernah sampai 50% menginginkannya. Sedang berbicara demikian mungkin hanya karena aku selalu ingin menjadi seperti kakakku, aku yang suka bahasa Inggris dan kakakku yang seorang guru bahasa Inggris. Iya, beliau selalu menjadi role model utama dalam hidupku, setelah Rasulullah tentunya.

Kenapa aku tidak pernah menyebut profesi guru menjadi cita-cita? Salah satu alasan utama yang masih sangat ku ingat adalah sudah menjadi rahasia umum bahwa penghasilan guru di Indonesia kecil. Hehe, banyak yang bilang, disini guru kurang "dihargai". Walau tak terjadi disemua daerah. Namun hal-hal semacam itu sudah menjadi buah bibir yang sayangnya masih melekat. Lalu aku ternyata dari kecil sudah realistis dengan hal itu. Alasan lain adalah, bagiku, sosok guru itu haruslah sosok yang luar biasa, bukan orang "sembarangan". Sebab ia tak hanya mengajar, namun mendidik, mengayomi, menuntun, menjadi teman dan seterusnya. Dan aku sepertinya tidak bisa.

Bagiku, guru haruslah pribadi yang super pintar, cerdas, berwawasan luas. Apalah aku yang hanya butiran debu. Sedangkan guru juga haruslah arif dan bijaksana, open minded, tidak mudah menghakimi, bisa melihat dari ragam sudut pandang, mampu menghubungkan sesuatu dengan banyak hal, ibadahnya harus top, dan lainnya. Namun dewasa ini ku pahami, ternyata menjadi guru tidak harus sesempurna itu. Maksudku, karakter-karakter itu memang sebuah keharusan, namun ada satu yang benar-benar perlu dimiliki seorang guru (setidaknya ini opiniku) yakni selalu mau belajar. Belajar hal baru. Belajar dari siapapun. Belajar dari apapun. Sebab menjadi guru bukan berarti selalu benar, selalu ingin terlihat benar, tak ingin dikoreksi, tak ingin salah dan terlihat salah.

Justru "salah" adalah pelajaran bahwa ia adalah manusia normal. Manusia yang selalu mau belajar. Manusia yang selalu mau mengoreksi dirinya. Manusia yang selalu mau memperbaiki kesalahannya. Manusia yang mau mendengar aspirasi dan masukan. Sebab guru bukan melulu tentang apa yang diajarkan, namun apa yang dicontohkan. Ia adalah tauladan. Aaaarrrgh, berat sekali bukan! Entah kenapa tugas guru menjadi sangat berat seperti itu. Pun tulisan ini juga terkesan berat dan begitu mencekik. Tulisan yang sejatinya ingin ku buat seminggu lalu, namun selalu ku tunda karena entah akan menjadi apa tulisan ini. Hehe. Setidaknya berat bagiku yang ingin menjadi guru ini. Benar sekali, di masa depan nanti aku ingin sekali (tetap) menjadi seorang guru.

____________


Boleh dibilang pengalaman pertamaku mengajar adalah saat masih berkuliah adalah mengajar anak-anak SD di kursusan gratis yang dibuat oleh kakakku. Awalnya aku mengajar dengan takut-takut, namun ku jalani saja sebab aku pun ingin belajar. Lalu saat berkuliah aku membantu mengajar dengan menjadi asisten praktikum. Lagi-lagi awalnya ku lakukan dengan takut-takut namun dengan keinginan besar untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Di Pare aku diberi kesempatan menjadi tutor dengan sistem yang bagiku sangat mengesankan. Tutor dan anggota (murid) benar-benar serupa berteman, memang ada plus minus, namun itu hanya salah satu contohnya. Sedang saat menjadi asisten dosen, aku seringkali di doakan menjadi dosen oleh beliau. Atau pada akhirnya sama saja: menjadi seorang guru.

Hingga aku kemudian selesai belajar (menjadi asisten dosen beliau selama dua tahun). Selama itu pula aku belum terketuk untuk menentukan ingin menjadi apa aku. Padahal beliau seringkali mendoakanku. Sangat sering. Bahkan selalu. Beliau selalu berpesan, bahwa passion itu bisa dibangun. Maksudnya, aku memang tidak pernah ingin 100% menjadi guru atau dosen, namun keinginan dan minat itu bisa dibangun. Sampai akhirnya aku lalu bergabung di tempat kursus. Inilah awal mula ku temukan puncak cahaya itu. Walau tak bisa ku bilang jalan hidup akan selalu mudah. Namun harus ku akui, bahwa dengan mengajar aku benar-benar menjadi lebih hidup. Aku seperti menemukan apa yang aku cari. Aku menemukan diriku. Aku menemukan impianku. Aku menemukan tujuanku. Aku ingin terus (belajar) menjadi guru. Aku suka (belajar) menjadi guru. Meski pada akhirnya, di kesibukan yang ku jalani sekarang, aku selalu bilang bahwa aku bukanlah seorang guru. Aku hanyalah teman "belajar" yang berkedok tutor. 

Ada banyak hal yang membuatku kemudian memilih, memutuskan dan mendoakan diriku untuk tetap dan akan menjadi "guru" di masa depan (walau aku tidak bisa menyalahi takdir yang sudah digariskan Tuhan kelak. Siapa tahu aku akan menjadi guru sekaligus pengusaha, hehe). Betul, aku jadi belajar banyak hal. Tak hanya mereka, aku juga mendapatkan banyak ilmu baru. Dengan menjadi guru, aku tidak hanya meng-upgrade diri dari segi ilmu, namun juga bagaimana bersikap atau berperilaku: bagaimana menghargai orang lain, toleran terhadap perbedaan, tetap berpegang teguh pada prinsip yang diyakini, belajar memelihara open minded yang tepat dan lebih memiliki keterbukaan terhadap ilmu, yang pada pengaplikasiannya berubah begitu cepat. Aku tidak bilang jika hal-hal semacam itu tidak bisa didapatkan lewat profesi lainnya. Namun melalui profesi "guru" semuanya akan terasa begitu berbeda.

Dulu saat menjadi asisten dosen beliau, aku selalu bertanya dalam hati: kenapa beliau begitu peduli dengan mahasiswanya, seperti anak sendiri. Sampai-sampai tidak nyenyak tidur adalah hal kecil yang menjadi efeknya. Benar-benar mahasiswa menjadi prioritas utama. Meski sesekali mengerti, namun sebetulnya aku tidak pernah totally mengerti sebab aku tidak pernah di posisi beliau. Namun akhir-akhir ini aku jadi mengerti, meski tak sepenuhnya sama, aku juga merasakannya. Aku merasakan, bahwa mereka bukanlah hanya sekedar tanggung jawab, namun juga keluarga yang perlu didukung kesuksesannya.

Walau aku juga perlu belajar berdamai dan mengingat pesan alm. KH. Maimoen Zubair, dawuh beliau: "Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang, Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan pada Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah." Pesan yang amat menggugah dan menggetarkan.



"Perempuan ngga perlu sekolah tinggi-tinggi, toh ujung-ujungnya....." kalimat serupa sepertinya sudah hatam di telinga kita, ya. Hampir semua orang pernah mendengar atau bahkan barangkali kitalah yang menjadi orang yang melontarkannya. Semoga saja tidak. Bagaimana jika laki-laki? Rasanya pendidikan lebih layak untuk mereka. Tentu bisa kita rasakan perbedaannya. Misal, kala perempuan yang bisa memasak dan mengurus rumah tangga dianggap biasa.

Sedang lelaki yang mau membantu masak dan sesekali mengurus rumah tangga dianggap luar biasa, bahkan aneh. Padahal sebenarnya tidak ada yang membantu dan dibantu, karena yang ada adalah bergerak bersama, kan. Namun kali ini aku tidak fokus untuk bercerita topik "kesetaraan" dan semacamnya dari segi itu. Karena jujur, aku pun belum mengerti. Aku hanya bercerita random saja perihal pendidikan. Bercerita tentang ingatan-ingatan.

Ya, aku ingat sekali, dulu saat aku masih MTs, aku tidak pernah berpikir untuk bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya karena aku tidak tahu dari mana biayanya. Alasan paling besar: Tidak ingin membebani orang tua. Aku pernah bercerita di catatan berjudul Putus Sekolah tentang ini. Tentang aku yang kemudian terinspirasi untuk melanjutkan pendidikan lagi karena kakakku. Betul, dia memiliki peran yang begitu besar untuk mendorong adik-adiknya mengenyam pendidikan. Bukan dari paksaan, melainkan memberi teladan.

Aku juga ingat, ingin sekali masuk salah satu SMA favorit di Bangkalan tapi karena nilainya tipis, akhirnya kakak mengantarku untuk mendaftar di MAN Bangkalan, hanya sampai gerbangnya saja. Yup, sekolah yang tak kalah jauh spesial, bagiku. Aku lalu diminta untuk mendaftar sendiri ke dalam dan aktif bertanya kepada siapapun di ruang pendaftaran. Ku dapati beberapa calon siswa mendaftar didampingi orang tuanya. Beberapa lagi sendiri. Namun mungkin hanya aku yang takutnya minta ampun, sampai berkeringat dingin segala. Bayangkan saja, aku ini dulu sangat pemalu bahkan untuk sekedar menyapa orang. Aku tidak suka basa-basi. Aku tidak suka berbicara jika tidak teramat penting. Aku tidak tahu bagaimana mengawali percakapan. Aku hanya bisa heboh dan konyol dalam circle yang membuatku nyaman saja. Namun karena waktu itu aku terdesak, aku mendobrak ketakukan yang bagi beberapa orang sangat remeh itu.

Nah, setelah aku mengisi formulir dan hampir selesai, seingatku barulah kakak kemudian menyusulku ke dalam. Ternyata pengalaman itu menjadi momen ketika gerbang untuk melawan rasa takut dan malu terbuka lebar. Setelahnya aku jadi sering melatih diri untuk bisa speak up, seperti bertanya di kelas, dll. Mungkin aku tidak berubah dengan cepat begitu saja. Tapi aku bisa bilang, karena bersekolah di MAN Bangkalan, banyak sekali hal positif yang aku dapatkan. Salah satunya mengubah sifat itu. Meski sampai sekarang pun aku masih sangat sangat sangat belajar.

Ingatan yang kembali menjadi bukti betapa kakak memiliki pengaruh yang besar adalah saat menentukan jurusan di MAN. Aku ingin sekali masuk Jurusan Bahasa, namun beliau memberiku dua pilihan: memilih Jurusan IPA atau Agama. Sebetulnya, aku suka Bahasa Inggris, itulah kenapa setelah banyak mendengar jika di Jurusan Ipa kita akan dibebani dengan menghafal ratusan vocab aku langsung tertarik untuk mendaftar, walau aku benci Aritmatika. Dan benar, lagi-lagi aku bersyukur masuk jurusan ini. Apapun itu, semuanya ternyata memang baik untukku.

Saat kuliah pun aku tidak pernah berpikir bisa kuliah, seperti yang pernah aku tulis di catatan berjudul Putus Sekolah itu. Aku pernah bercerita, barangkali usaha, doa dan motivasi dari guru-guru yang akhirnya membawaku lulus di salah satu universitas negeri di Madura. Saat hendak memilih jurusan aku bingung akan mengambil jurusan apa. Kakak memberi saran untuk mengambil jurusan Agribisnis. Padahal aku ingin sekali belajar di Prodi yang berbau Bahasa Inggris. Hehe, salah satu impian masa kecilku adalah menjadi guru bahasa Inggris. Mungkin karena terinspirasi oleh kakak.

Hingga kemudian aku mengulik lebih dalam tentang jurusan Agribisnis dan ternyata aku malah tertarik dan memilih prodi tersebut. Alasannya, mungkin akan aku ceritakan di catatan yang berbeda judul nanti. Dan sungguh aku sama sekali tidak menyesal dengan keputusan itu. Banyak sekali hal yang sulit aku ungkapkan yang ku dapat di sana. Meski at the end of the day aku sangat salut dan kagum ketika banyak sekali anak muda yang sudah mampu menentukan pilihannya sendiri. Sudah pandai mengeksplor, mengukur, minat, bakat, kemampuan diri sejak dini, dan sebagainya.

_________

Kita pasti tahu bahwa definisi impian dan pencapaian dari setiap orang itu berbeda-beda, tidak bisa kita seragamkan. Ada yang bahagia bisa membangunkan rumah yang nyaman dan layak bagi orang tuanya. Ada yang bahagia bisa memberikan kendaraan super mewah bagi pasangannya. Ada yang bahagia bisa memberangkatkan haji dan umroh keluarganya. Ada yang bahagia bisa berprestasi di kelas. Ada yang bahagia bisa berprestasi dalam lingkup sosial. Ada yang bahagia bisa menyantuni beribu anak yatim. Ada yang bahagia bisa dapat menimba ilmu terus dan lain-lain. Bagiku, hal semacam itu sah-sah saja. Sebab bagaimana orang melihat, berada dan bersikap di sebuah sudut tidaklah sama. Yang menjadi aneh adalah ketika kita mulai saling menjelekkan satu sama lain.

Jujur, setelah lulus dari kampus mungkin hampir semua orang mengalami masa krisis, anak muda sering menyebutnya quarter life crisis. Ada banyak sekali pertanyaan yang menuntut untuk dijawab. Ada juga yang kemudian membawa kita kepada pikiran-pikiran yang kurang baik seperti: "Untuk apa aku sekolah tinggi-tinggi, jika ujung-ujungnya aku sama sekali tidak berarti?" Mungkin salah satu yang menjadi penyebab hal ini adalah kurangnya persiapan yang matang ketika dulu. Personally, misalnya aku yang dulu hanya berpikir untuk bisa menimba ilmu, tanpa pernah berpikir kuliah untuk mendapat pekerjaan. Memang tak sepenuhnya salah, namun visioner untuk kontribusi kita di masa depan ternyata memang sangat penting.

Pada masa QLC itu pikiranku jadi melayang ke mana-mana. Ingatan bahwa ternyata semakin kita berilmu dan memiliki gelar, maka beban yang kita pikul akan semakin berat. Bahkan tidak jarang dunia makin terlihat begitu runyam dan menyeramkan. Dunia yang harusnya menjadi tempat untuk mengukir karya dengan lapang malah menjadi sesuatu yang banyak menuntut kita untuk menghasil banyak buah dari rentetan ekspektasi. Karena itu aku sempat berpikir untuk mengubur impianku "sekolah" lagi. Sebab toh menjadi bermanfaat tidak perlu menempuh pendidikan formal dan mempunyai gelar, bukan?

Namun hari demi hari membuat aku semakin yakin bahwa berkah pendidikan tidaklah sesempit itu. Aku ingat betapa salah satu faktor besar yang membuat aku semakin percaya diri adalah bisa mengenyam pendidikan di MAN Bangkalan dan bertemu dengan teman-teman yang punya semangat tinggi. Saat kuliah juga demikian, sejatinya ilmu yang ku dapat bukan hanya berasal dari tugas dan materi di ruang kelas saja. Akan tetapi bagaimana kita bertutur, kita menghargai orang lain, kita berusaha memiliki sifat rendah hati dan lain sebagainya juga secara tidak langsung aku pelajari dari pipa bernama pendidikan. Dari kesempatan baik bertemu dengan ragam orang. Dari kesempatan baik dihadapkan dengan ragam lingkungan.

Aku sebetulnya tidak ingin menggeneralisir, karena ada juga segelintir orang yang berpendidikan namun memiliki karakter (maaf) seperti hewan. Rakus dan tak memiliki moral, sama sekali tak layak jadi teladan. Sedangkan banyak juga yang tak mengenyam pendidikan secara formal tapi memiliki jiwa dan nilai yang tinggi. Berwawasan luas karena tak mau berhenti belajar. Membaca buku adalah cemilan sehari-hari. Baik buku dalam artian sebenarnya, maupun buku dalam arti yang luas.

Mungkin kita juga sudah paham betul kalimat dari Bung Hatta ini: "Siapa yang mendidik satu laki-laki berarti telah mendidik satu manusia. Sedangkan siapa yang mendidik satu perempuan, berarti telah mendidik satu generasi." Agaknya kalimat ini sudah sangat menjelaskan pernyataan pertama bahwa perempuan jika bisa, jika mau, jika boleh, dan jika perlu sangat dianjurkan untuk sekolah tinggi-tinggi karena kalimat ujung-ujungnya tidak sama sekali diperlukan. Sebab tidak ada yang sia-sia dan ujung dari belajar. Belajar adalah seumur hidup. Dan memang tidak selalu secara formal. Namun sering yang dibutuhkan adalah lingkungan yang mendukung, sinergitas dan lainnya. Sering ku lihat dengan mata kepalaku sendiri, beberapa orang menggunakan ilmu dan gelarnya untuk membantu banyak orang dalam kebaikan.

Sekarang makin kesini aku kian sadar bahwa pendidikan itu sangat penting. Betul, pendidikan tidak otomatis membuatmu kaya secara materi. Namun barangkali pendidikan bisa membuat cara berpikir, bersikap dan mengelola hatimu lebih kaya. Bahkan kian dekat dengan Sang Pencipta. Karena harusnya semakin berpendidikan kita makin merenungi betapa kita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan Sang Pencipta. Kita makin menyadari betapa besar Sang Pencipta dari ilmu yang kita pelajari. Bahwa ilmu yang ada di bumi saja begitu luas, apalagi yang tidak terjangkau oleh kita. Jadi untuk apa menyombongkan diri?

Maka apapun definisi impian menurut kita, teruslah bergerak. Jangan berhenti! Sebab gagal itu datang bukan karena kita tidak memperoleh apa yang kita kehendaki. Namun gagal adalah saat kita berhenti mengusahakan dan menyebutnya dalam untaian doa. Pada akhirnya memang bukan kita yang menentukan hasil, jadi tidak perlu mempermasalahkan hasil, yang terpenting prosesnya. Apalagi, saat ingin menyerah, sering aku diingatkan kembali oleh sahabatku bahwa menimba ilmu itu adalah sebuah kewajiban. Maka sering-seringlah menengok kembali ingatan yang membuatmu bersemangat lagi, ya.

Tanpa bermaksud menjelekkan agama apapun aku jadi kian yakin bahwa orang Islam itu memang harus kaya dan pintar. Mungkin salah satu cara untuk menjadi "pintar" adalah melalui pendidikan. Baik secara formal maupun informal. Aku tidak menulis ini adalah satu-satunya cara. Hanya salah satu. Aku jadi ingat kalimat yang disampaikan Gita Wirjawan di salah satu podcast beliau, katanya: "Kalau saya lihat, dalam konteks pemenang nobel pada 630-an dalam bidang Sains. 60% dimenangkan oleh Nasrani atau Kristen, 23%- 24% dimenangkan oleh Yahudi, dan 0,5% oleh Islam. Ini bukan pernyataan spiritual atau religi. Tapi ini sebagai impetus untuk kita bisa menunjukkan keterbukaan terhadap ilmu." Meskipun menurut analisis cetek-ku adalah kalau kita ingat sejarah Islam banyak sekali justru orang muslim yang "pintar-pintar". Jadi tentu mungkin banyak faktor yang akhirnya membuat data itu menjadi seperti itu, ya.

Ingatan-ingatan itulah yang akhirnya membuat keinginanku untuk bisa sekolah lagi hidup kembali. Bahwa ini bukan perkara mengejar gelar tertentu. Bukan perkara mengejar jabatan tertentu. Tapi lebih kepada keinginan untuk terus belajar, salah satunya lewat lembaga formal. Terlebih makin kesini makin sadar, bahwa untuk menjadi manusia yang bermanfaat paling tidak kita harus kaya dan berilmu, sedang beradab adalah harga mati. Dengan menjadi kaya barangkali kita bisa menjadi orang yang dermawan, Aamiin. Kemudian dengan berilmu kita bisa membagikannya kepada siapa saja yang membutuhkan. Dengan lingkungan dan orang-orang yang mendukung kita merealisasikan ide-ide besar yang sering dianggap omong kosong. Again, I didn't say kita hanya mampu mendapat dukungan semacam ini di dunia pendidikan.

Walau sebetulnya aku tidak ingin menuntut siapapun, atau bahkan spesifiknya menuntut untuk memiliki pasangan hidup yang mempunyai rentetan gelar tertentu. Karena aku juga bukan orang yang suka dipaksa. Jadi selama orang tersebut baik, klick, rendah hati dan rajin gosok gigi kurasa tidak ada masalah. Yang menjadi masalah kalau ternyata sudah beristri (hehe, jangan tersinggung ini hanya bercanda, loh ya. Eh, tapi serius juga sih 😂. Lah kok jadi kemana-mana pembahasannya ini). Maksudku, yang menjadi masalah penting adalah ketika kita berhenti belajar menjadi manusia. Juga kalimat tentang, "Perempuan kalo terlalu pinter, nanti cowo-cowo pada minder" yang membuatku geleng-geleng kepala.

Poinnya adalah aku mendukung siapapun untuk mengenyam pendidikan, tanpa menunjuk gender tertentu saja. Walaupun mayoritas barangkali belum bisa mengakses hal tersebut, karena sudah menjadi rahasia umum, pendidikan di negara ini menjadi salah satu hal yang mahal. Meski tidak bisa dipungkiri ada banyak beasiswa dari pemerintah saat ini. Pada akhirnya bagiku setiap orang memiliki hak yang sama untuk sukses. Lagi-lagi sukses menurut versi definisi mereka sendiri-sendiri. Setiap orang---baik itu yang berkesempatan mengenyam sekolah tinggi atau tidak----memiliki kesempatan yang sama untuk merangkai dan mewujudkan impian-impiannya.






Kini, saat mulai menulis sebuah catatan, aku kerap mengingatkan diriku terlebih dulu untuk tidak membawa egoku dalam tulisan itu. Dan aku berusaha. Aku berusaha untuk menulis catatan yang kemudian ditujukan untuk umum dan diriku sendiri, bukan untuk menunjuk pribadi tertentu. Sebab bagiku, terkadang, tidak suka kepada orang lain itu wajar karena kita cuma manusia. Namun ketika ranahnya sudah membenci, maka itu hanya kerap merugikan diri dan menyakiti hati sendiri. Yup! It's just gonna waste our time for doing such a that kind of thing.

Kembali ke catatan...

Beberapa bulan lalu aku dihadapkan dengan banyak sekali titik-titik pertanyaan. Banyak sekali yang belum terjawab, banyak juga yang sudah terjawab, namun tidak sedikit pula yang bahkan ku coba uraikan sendiri. Titik itu membawaku pada beberapa kesimpulan. Salah satu yang sangat aku ingat adalah kita memang boleh berharap kepada Allah SWT bahkan memang justru itu yang betul, tidak boleh berharap selain kepada-Nya. Namun yang ku maksud adalah keinginan untuk melakukan banyak kebaikan tanpa embel-embel apapun seperti sholat sunnah, mengaji, bersedekah, membaca sholawat, membantu tetangga, dan lain-lain bukan karena ingin balasan langsung berupa materi, misalnya.

Memang, Allah SWT menyukai hamba yang rajin meminta. Makin banyak permintaan yang dialamatkan pada-Nya, Allah SWT justru kian senang. Namun salah satu yang aku simpulkan dari perjalanan hidup yang sebenarnya masih seperempat abad ini membuat aku ingin kembali kenal dengan apa-apa yang coba aku lakukan. Ingin sekali rasanya melakukan apa-apa hanya karena ingin dekat kepada Sang Pencipta. Hanya itu. Tak ada yang lain. 

Aku tahu, untuk orang yang, katakanlah, belum punya dan bahkan menghasilkan apa-apa di dunia ini mungkin statement itu akan terdengar bak omong kosong melompong di siang bolong dengan gigi ompong dan muka yang gosong memang, ya. Hehehe. Kecuali jika yang berbicara adalah orang yang memang sudah punya segalanya. Tentu, segalanya dalam versi manusia. Sebab menjadi manusia membuat kita kerap dihadapkan pada realitas yang sering membikin geleng-geleng kepala. Apalagi alasan untuk hanya ingin dibalas "dekat dengan Allah SWT" itu seolah terdengar ahli ibadah sekali, bukan. Padahal masih teramat jauuuuuuuuh.

Bukan. Bukan untuk membatasi orang untuk meminta, untuk berdoa. Ini hanya sedikit opini personal saja. Yang ingin mengubah beberapa haluan sebagai nahkoda. Bahkan bisa jadi memulai dari nol kembali. Beberapa yang lain kemudian mengingatkanku tentang pelajaran saat MA dulu. Bahwa Riya' itu bukan melulu perkara tentang melakukan sesuatu bukan karena Allah SWT, namun juga tentang meninggalkan sesuatu bukan karena Allah SWT pun juga termasuk di dalamnya. Sholat karena ingin dipuji manusia. Tidak sholat karena takut disangka ingin dipuji manusia. Arrrghhh! Hehehe.

Lalu pemahaman itu membawaku ke pintu selanjutnya. Ada dua pintu berhadapan. Satu pintu berisi orang yang kerap merasa taat kepada Allah, melakukan ragam amalan dengan kerajinan tak terperi, namun anehnya dengan mudah menyakiti hati orang lain. Tak mengenal toleransi sama sekali. Yang ku maksud adalah toleransi yang dibenarkan. Amboi, lagakku sudah seperti orang yang tahu segalanya, ya. Segala batasannnya. Sedang di pintu selanjutnya, aku melihat orang yang tidak berusaha ta'at kepada Allah SWT, lalu dengan bangga memamerkan 'kemaksiatannya' dengan dalih "open minded" yang keliru. Lalu mudah meremehkan orang 
yang benar-benar berusaha taat.

Hmm, aku pernah di posisi dua orang itu. Atau aku saja yang terlalu percaya diri. Barangkali aku masih berusaha keluar dari dua pintu itu? Allah... betul, ingat sekali dulu pernah menjadi sosok yang barangkali begitu menyebalkan, setidaknya itu seingatku. Meskipun belum ada yang berani terus terang hingga kini, hehe. Maksudku, dengan begitu bukan berarti menuntut orang untuk berhenti berdakwah. Memang apa hakku? Apalagi jika memang sudah "ahli"nya. Sama sekali bukan itu yang aku maksud. Namun bagiku pribadi, ternyata yang paling butuh didakwahi pertama, kedua dan ketiga kali olehku adalah diriku sendiri. Keempatnya? Entahlah. Ini satu pertanyaan yang ku bilang di awal tadi, belum menemui jawaban.
_______

Bangga dengan ketaatan, bagiku tak benar. Maksudku, kalau bersyukur mungkin masih relevan. Namun bangga? Untuk apa? Bukan kita yang membolak-balikkan hati manusia, kan? Pun bukan kita juga yang memberi daya atas setiap semangat ketaatan yang kita lakukan. Juga, untuk apa bangga dengan keburukan yang kita lakukan? Supaya dianggap teman? Sefrekuensi? Hmm, agaknya Allah SWT sudah dengan baik menutup aib kita rapat-rapat, jadi tidak perlu susah-susah mengumbar hanya untuk mendapatkan atensi atau bahkan lucunya, apresiasi. Paling tidak ini yang acap kali "disemprotkan" nuraniku kepadaku.

Jadi, ternyata, kadang diam memang emas. Diam disertai doa. Berdoa dalam lirih ketika memang kita ingin menghendaki kebaikan untuk orang lain. Hehe, barangkali ini jalan "paling lemah" yang ku pilih. Walau efek doa amatlah dahsyat. Dan... banyak berdoa saat kita masih dalam kubangan keburukan, kemalasan dan segala tetek bengeknya, semoga segera Allah gugah hati dan kesadaran kita. Perbanyak diam, dan tak perlu menyorot keburukan kita, apalagi sampai mempublikasi. Bukan diam di tempat, namun diam tak "bersuara". Sebab aku sangat yakin, sejelek-jeleknya orang, pasti ada keinginan untuk berubah menjadi lebih baik di lubuk hatinya. Insya Allah. Dan sebaik-baiknya orang, tidak akan pernah sesempurna itu. Ah, tentu.
"Mau sampai kapan futur terus?" itu yang diungkapkan oleh lubuk hatinya yang terdalam. Memang normal sebagai manusia, semangat kita dalam beribadah (dan lain-lain) ada di atas dan kadang di bawah. Namun jika justru berlarut-larut dan tidak mau keluar dari perangkap itu, sampai kapanpun kita tidak akan bisa keluar dengan sendirinya. Maka selain berdamai dengan keadaan itu barangkali kita juga perlu berusaha untuk menyibak tabir yang tipis namun dampak yang dibuatnya bisa begitu fatal itu.

Kenapa ku bilang tabir yang tipis? Karena bagiku, sejatinya yang memisahkan antara ruangan semangat dan malas hanyalah sebuah tabir yang tipis. Tipis namun fatal ketika kita sejatinya bisa menyibak takbir itu bahkan merobeknya, kemudian lari ke bagian 'ruangan semangat' namun malah terpaku. Pasti kita pun akan terheran saat kita dimampukan untuk bergerak, kenapa tidak dari dulu saja, ucap kita. Padahal memang seringkali semua ini hanya soal waktu dan keinginanmu. Sedang waktu seringkali tidak mau menunggu maka tidak perlu juga untuk menunggunya, kan.

Itulah kenapa ketika situasi dan kondisi sangat mendukung untuk ber malas-malasan ada momentum tentang nurani yang kembali mengingatkan bahwa kamu hanya perlu bangun sekarang juga dan melakukan hal yang lebih bermanfaat. Bukankah kamu ingat bahwa mimpi besar itu tidak diwujudkan dalam waktu yang kilat? Juga tidak melulu dibuat dengan sesuatu yang besar. Sebab ia dimulai dari hal-hal yang kecil. Iya, yang kamu anggap sepele seperti membersihkan rumah, membantu orang tuamu dan membaca beberapa halaman buku setiap hari itu.

Namun kala futur menghampiri melakukan hal yang sepele kerap jatuh menjadi sebuah kemustahilan. Apalagi impian besar yang rasanya jauh dari hadapanmu. Ia sudah tidak seperti di film layar lebar lagi, yang berada lima senti meter di depan wajahmu. Berlembar-lembar halaman al-qur'an yang awalnya ringan dibaca kini menjadi sangat berat. Belum lagi amalan sunnah yang lain. Rasanya seperti  berton-ton beban menindih tubuhmu seketika. Ceramah dan nasehat yang biasanya mudah kau cerna dan membuatmu seolah sefrekuensi dengan sang pembicara malah makin membuatmu kalut dan menggila. Alih-alih menjadi sumber penyemangat, mereka malah melengos begitu saja, keluar tanpa merasa berdosa dari daun telinga.

Sungguh, kamu tak sendiri. Manusia hanyalah manusia. Tapi kamu juga bisa bertindak dan melakukan sesuatu pada takbir pemisah itu. Apalagi kini kau diberikan keberuntungan yang begitu dahsyat, Nak. Kau dipertemukan dengan bulan yang begitu keramat. Jangankan beri'tikaf di masjid berjam-jam lamanya, membantu ibumu memasak saja balasan hitungannya tak pernah bisa diperkirakan. Maka sungguh, tak ada lagi waktu untuk futur dan menyia-nyiakan.

Memang berdamai dan menerima diri sebagai manusia, lalu menerima tingkatan semangat yang tengah di bawah sebagai sebuah kenormalan juga tidak salah. Yang menjadi salah barangkali adalah kalau kita berlarut-larut di dalamnya. Maka mungkin akan lebih baik jika kita mengingatkan diri kita sendiri. Bahwa, tidak ada waktu untuk terus bergerumul dengan futur dalam waktu yang begitu lama. Semangat untuk kita! Siapapun dan bagaimanapun kita saat ini sungguh Allah SWT selalu membimbing dan membersamai. Tinggal kita saja yang perlu mendengarkan nurani lebih dalam lagi.
Kala itu aku cukup kaget mendengar adikku akan segera dikhitbah. Kemudian hari ini bertunangan. Sebenarnya aku tidak terlalu kaget karena melihat circle-nya saat ini, yang notabene didominasi oleh orang-orang yang ingin segera menggenapkan agama mereka. Which is good. Sementara bagaimana dengan circle-ku? Aku tidak punya circle. Hehe bercanda. Eh, lalu aku tidak bermaksud mendiskreditkan apapun circle-nya, ya.

Aku, waktu itu, juga cukup khawatir bahkan takut. Aku takut dia hanya ikut-ikutan (maaf) beberapa trend kekinian karena dia relatif lebih muda dibandingkan beberapa teman sebayanya. Saat lulus kuliah usianya baru sembilan belas tahun. Dan kita tahu, hari ini banyak sekali konten mengenai nikah muda, meskipun tidak sepenuhnya salah. Walau kalau diingat lagi, pernikahan dini (di desa) adalah sesuatu yang sangat lumrah. Meski tak sepenuhnya benar, inilah tradisi yang memang sudah begitu mengakar.

Sebetulnya, aku tidak meremekan adikku itu. Karena meski dia selalu ingin terlihat receh, pemikirannya sebenarnya dewasa. Namun aku hanya khawatir, bahwa terkadang ia terlalu baik, susah membedakan orang yang fake, modus dan beragam tabiat buruk lainnya. Meski kita juga bukan manusia paling mulia. Atau aku saja yang terlalu mudah bersu'udzon. Itulah kenapa aku sempat sedikit "mengintrogasi" apa yang membuat ia mantap dengan menjajaki langkah ini. Setelah mendengar banyak cerita ternyata memang dia lebih urgent. Apalagi insya Allah semoga ini adalah calon yang tepat. Pun sebaliknya.

Aku dulu pernah bilang pada adikku dan keponakanku yang seumuran dengannya, "Jangan sampai mereka berdua mendahuluiku", meskipun sebenarnya aku hanya bercanda, namun beberapa persen dari komposisi candaan itu adalah serius. Hehe. Aku juga tidak mengerti mengapa aku berkata demikian. Mungkin aku juga terpengaruh dengan standar yang dibikin oleh masyarakat: saat saudara yang lebih muda lebih dulu menikah, maka itu adalah sesuatu yang abnormal. Padahal sama sekali tidak demikian, jika mereka ingat lalu mengimani bahwa jodoh, maut, rezeki dan lain-lain sudah dicatatkan tanggalnya dan tidak mesti berurutan.

Kala itu, mereka pun mengiyakan karena saat itu tidak terbesit untuk "menikah muda" versi kita di benak mereka. Sedang di desa, menikah pada usia 20-an sudah terbilang seperti nenek-nenek, mungkin ya. Hehe. Jadi teringat tulisan yang berseliweran di medsos. "Jika manusia (khususnya perempuan) belum menikah di usia 20-an ke atas, maka disebut "sudah tua, tapi kok belum juga menikah. Sedangkan saat dihadapkan dengan orang yang meninggal pada usia 30-an ke atas, mereka akan berceloteh, "Kasian, ya. Mati muda!".

_______

Menikah seringkali identik dengan "usiamu sudah cukup, kamu sudah tua, sudah saatnya, dan lain-lain". Seolah pernikahan adalah sebuah perlombaan. Siapa yang paling cepat dialah yang menang. Aku tidak sepenuhnya menyalahkan standar tersebut. Tapi kalau dipikir-pikir memang menikah bukan perihal usia, namun murni tentang kesiapan dan garis dari Tuhan. Kesiapan di sini bukan kesiapan yang kita sendiri mengukurnya,  melainkan Allah SWT. Allah lebih tahu hamba mana yang siap dan hamba mana yang harus mengerjakan prioritas lain terlebih dahulu. Lalu ini sejalan dengan takdir yang sudah digariskan-Nya. Bukankah berulang kali sudah kita ketahui bahwa Allah Maha Mengetahui yang Terbaik. Lalu jodoh, keturunan, maut dan lain sebagainya memang benar-benar hanyalah kehendak-Nya. Maka untuk apa orang selalu bertanya seolah-olah kita ini yang paling berkehendak atas hidup kita?

Lalu kalau menikah memang hanya tentang giliran, usia, trend dan hawa nafsu maka percayalah, sejatinya menikah tidak serendah itu. Sebab pernikahan amatlah mulia. Jadi alasan dan tujuannya pun sungguh terjaga. Bukan untuk perkara-perkara yang murahan apalagi hanya sebatas mainan. Betul, jika penilaian pada pernikahan sebetulnya tidak pada hal-hal dangkal. Melainkan, sebuah jalan untuk menuju visi besar dan memerlukan kedalaman dan penyamaan pemahaman. Ah, entah apa yang aku tulis ini. Hihi.

Kadang aku berpikir dan bertanya kenapa aku bisa dibilang berbeda dari beberapa orang kebanyakan? Yang jelas aku bukan satu-satunya orang yang begini. Yang cukup untuk tidak pacaran saat bersekolah, atau tidak pernah mau mulai memikirkan pernikahan di saat yang lain sudah mempersiapkan atau bahkan merangkai keluarganya masing-masing. Barangkali, selain karena kesibukan, bagiku, salah satu hal yang besar dan sangat berpengaruh adalah aku yang merasa cukup. Merasa cukup dengan cinta yang aku dapat dari orang tua dan keluarga. Tapi, aku tidak bilang mereka yang menikah dini dan sebagainya artinya berasal dari keluarga broken home. Bahkan beberapa ku temukan, (selain karena takdir-Nya) mereka yang memilih menikah muda karena memang sudah matang, dewasa, dan siap secara batin dan finansial karena telah ditempa sejak belia. Meski tentu tingkatannya barangkali tidak bisa disamakan dengan kisah sahabat nabi di jaman dulu.

Namun inilah yang aku rasakan, meski tidak bisa disimpulkan juga bahwa aku memiliki keluarga yang extremely happy dan sebuah role model of happy family juga, namun faktor ini yang benar-benar relevan dengan apa yang aku alami. Maka benar, manusia menentukan bahagianya sendiri, jangan mencoba mengintervensi. Belum lagi, jika diri ini ditanya, rasanya masih jauh sekali kata siap. I'm totally not ready for that. Kemudian memang, dari beberapa yang aku ketahui, mereka sebetulnya tidak pernah 100% siap. Nah, berangkali memang "siapapun" sejatinya tidak akan pernah "siap". Namun ketika sudah Allah SWT pertemukan orang dan saat yang tepat, seketika barangkali setiap orang akan begitu yakin. Begitulah, itu hanya opini pribadiku saja, bahwa it's all about Allah's will. Allah yang menggerakkan segalanya. Termasuk mengubah dan menetapkan hati pada setiap manusia. Maka, baiknya fokus berharap pada Allah saja. Fokus juga pada ibadah dan impian yang masih jauh dari target. Semoga dalam perjalanannya, Allah hadiahkan yang terbaik. Ya, semoga selalu dalam bimbingan-Nya, ya.

Ingat sekali, dulu sering sekali menjadi tempat curhat teman-teman (lebih dari lima orang jika tidak salah, hehe). Mereka mengaku "didahului" oleh adiknya. Beberapa mengungkapkan tidak tahan dengan "omongan" orang yang bertubi-tubi. Saat itu aku tidak mampu mengatakan sabar karena aku belum pernah di posisi mereka. Aku juga tidak ingin memberi nasihat saat nyatanya beberapa pribadi hanya butuh ceritanya didengar. Seingatku, ketika itu aku hanya mampu bilang, "setelah ini kamu akan segera mendapatkan yang terbaik, kok. Tenang saja. Dan mungkin untuk saat ini inilah nasehat yang bisa aku sampaikan pada diriku sendiri. Hehe.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Door Duisternis Tot Licht
  • Innamal A'malu Binniyat
  • Soal Ide, Implementasi Pesan dan Kecelakaan
  • Buat Apa Sih?!
  • Kamu Yakin Ngga sih?
  • Obsesi?
  • Rindu Allah
  • Kapan Nikah?
  • Hobi Gue Dengerin Musik. What?!!!
  • Berkaca Diri

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates