Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Di keluarga, kami tidak terbiasa merayakan ulang tahun dengan segala pernak-pernik yang biasa kita lihat, atau bahkan sampai mengadakan sebuah pesta. Paling mentok kita hanya mengucapkan selamat dan melantunkan doa-doa terbaik. Begitu saja sudah sangat membahagiakan.

Sedang menurutku, sebenarnya yang paling perlu diapresiasi adalah ibu yang telah melahirkan dan seringkali disusahkan oleh kita sebagai anaknya. Meski beliau tidak merasa dibuat susah. Apalagi tepat di hari lahir kita, beliau tengah bertaruh nyawa.
_______

Dulu saat masih kecil, aku, kakak perempuan dan adikku terbiasa saling membuatkan 'pesta' yang begitu sederhana saat tiba hari ulang tahun kita masing-masing. Kita akan riweuh menghias dinding, membuat kue ultah dari roti-roti kecil, menyiapkan penutup mata sebagai cara untuk memberikan kejutan, yang padahal sudah diketahui sebelumnya. Tak lupa kado-kado mungil yang terbungkus rapi berisi chiki-chiki berharga ratusan perak saja.

Adalah Mbak Aisyah, kakak perempuanku yang saat itu masih SD, mungkin kelas 2 atau 3, aku lupa tepatnya. Yang ku ingat, ia memang selalu punya cara-cara unik bahkan nyeleneh untuk bermain bersama adik-adiknya. Dia mampu membuat permainan yang seru walau hanya bermain di rumah. Permainan yang paling kusuka adalah "Tresure Hunt" yang entah ditirunya darimana. Ia mulai membuat peta dengan selembar kertas dan sebuah pena. Lalu kami begitu antusias mencari harta karun dan menyusuri tiap sudut rumah dengan interuksi dari peta itu.

Bahkan aku ingat, kami pernah begitu senang membuat dan menghias 'pohon natal'. Aku dan Mbak memotong sendiri bagian ranting tanaman di halaman rumah, yang memang kerucut bentuknya. Lalu kita mulai menghias dengan tali-tali ber-glitter sisa hajatan saat kakak pertamaku menikah. Sambil menghias, kita menyanyikan lagu jingle bells bersama-sama. Ampun, deh! Ada apa sih dengan anak-anak ini? 😆

________

Minggu lalu, aku bersyukur sekali menyaksikan adikku, Matus dan keponakanku, Muna mencuci piring dan masak-masak bersama. "Ciee, alhamdulillah, anak kembar kompak," kataku mengomentari mereka yang sibuk membuat kue. Awalnya ku pikir karena ada Rohman dan Anam. Ternyata tiba-tiba  saat kita berkumpul di Mushola, lampu dimatikan dan mereka menyanyikan lagu ulang tahun. Ibu spontan nyeletuk, "Kok malah nyanyi, bukan sholawat". Haha.

Mereka kemudian menyodorkan kue brownis buatan sendiri lengkap dengan tiga buah lilin berjejer rapi. Seketika aku terharu, dan ingin menangis. Namun urung karena direkam, suasana malah jadi mencekam. Hehe *canda. Diminta untuk meniup lilin, akhirnya ku tiup begitu saja---lucunya---tanpa berdoa karena aku bingung. Hehe. Kejutan tambah meriah diiringi teriakan merdu oleh keponakanku, Nuh dan tingkah gemas Daud.

Aku pikir hal-hal seperti ini tidak penting (maksudku hal-hal untuk saling memberikan sedikit perhatian, yang bentuknya tidak mesti berupa sepotong kue). Namun ternyata memang membikin haru. Aku sangat mengapresiasi niat baik mereka, waktu luang yang sudah dihabiskan untuk mempersiapkan, dan doa-doa yang dengan tulus dipanjatkan.

Namun hakikatnya, bagaimana pun cara kita memperingati hari kelahiran, semoga tidak lupa merenungi usia yang kian berkurang. Juga mulai melihat kembali, bahwa ada banyak hal yang perlu satu-satu kita syukuri. Termasuk saat Allah SWT anugerahkan adik-adik dan keponaankan yang baik dan tidak neko-neko, insya Allah.

_________

Setelah terharu, doa-doa dilantunkan, aamiin-aamiin diucapkan. Kita mengobrol ceplas-ceplos:

"Eh, iya. Ultahku kan besok," kataku bingung.

"Kan pake kalender Hijriyah," kata Matus menjelaskan.

"Hahaha, bagooos!!! Tradisi yang ngga islami, bisa ditutupi dengan ini, ya." Kami pun tertawa.

Di nyaris paling akhir obrolan, Matus tiba-tiba nyeletuk: "Jadi udah umur berapa, nih?"

"Kurang ajaaar!," ku jawab sambil melemparinya sebuah bantal.

_________

Anyway, perayaan tidak selalu berarti buruk. Sebab bisa saja menjadi sebuah jalan untuk bersedekah. Hanya saja, semoga kita tidak menjadi hamba-hamba yang melampaui batas dan masih berada pada jalur-jalur yang tepat. Aamiin. "Teruslah belajar, Nak."

Ironinya orang-orang yang seringkali menjadi orang-orang terdekat dan paling cepat membantu kita untuk bangkit lagi adalah orang-orang yang kerapkali mudah kita sakiti. Seperti kedua orang tua dan saudara.

Kalau sudah begini, kita harus memahami kembali apa arti hidup di bumi. Bagaimana cara untuk memperoleh mimpi (baca: surga) tanpa harus menyakiti.

Ini kemudian membawa kita pada ingatan betapa Allah SWT menjadi Dzat Yang Paling Dekat dan selalu ada untuk kita. Saat banyak yang meremehkan, Allah hadirkan kepercayaan. Saat banyak yang menjatuhkan, Allah menguatkan.

Padahal sudah berapa kali kita menyakiti Allah dengan segala perbuatan tercela rasanya tidak terhitung adanya. Meski itu tidak akan mengurangi sedikitpun keagungan-Nya. Karena sejatinya kita yang selalu membutuhkan-Nya.

Subhanallahiwabihamdihi agaknya tidak cukup untuk kita lantunkan 100 kali. Karena sepertinya dosa kita lebih dari jumlah buih di lautan, terlampau banyak sekali.

Kata Napoleon Hill, tubuh bisa mencapai apapun yang dipercayai dan dipikirkan oleh benak. Itulah kenapa banyak 'orang besar' yang mengawali langkahnya dengan mengubah cara berpikir menjadi lebih positif untuk kemudian dimampukan berkonsisten dalam berupaya. Lalu setelah sampai di 'puncak', mereka seolah tak percaya efek dahsyat dari kekuatan berpikir dan berucap.

Memang tak mudah, Nak. Tak mudah membiasakan diri untuk selalu mengatakan yang baik-baik. Apalagi saat ombak di lingkunganmu tak mendukung. Meski kerapkali kuat, kadang hatimu juga tergerus, atau malah mengikuti arus.

Benar, ini bukan soal kawasan elite atau kumuh, kalangan atas atau bawah.  Sebab seringkali kita dapat menemukan hangatnya optimisme dari sosok-sosok 'kecil' di luaran sana. Lalu tercengang kala lontaran-lontaran pesimis justru meletus dari beberapa orang yang katanya berpendidikan. *hanya permisalan.

Maka, seperti apapun kenyataan yang kini sedang kamu jalani. Teruslah mengatakan yang baik-baik pada diri. Hal-hal yang baik berawal dari kebaikan. Baik itu pikiran, perkataan maupun perbuatan yang kamu tanam. Seperti kata Allah SWT, bahwa Ia tergantung prasangka hamba-hambaNya.

Malam itu aku iseng mencari, barangkali ada acara yang bisa ditonton di TV yang nyaris tak pernah ku nyalakan lagi. Saat berhenti di acara berita aku langsung berpindah ke channel lain karena tak ingin pusing yang menderaku kian berpilin. Hingga akhirnya berhenti di sebuah film lama tahun 80-an. Film ini sangat populer dan fenomenal pada masanya. Pun tokoh-tokoh di dalamnya begitu lekat dalam ingatan masyarakat.

Seolah diri yang sudah terbiasa mengkritik dan mungkin setelah ditelaah barangkali bergeser menjadi nyinyir. Aku bertanya dalam hati "Ah, apalagi sih ini. Apa ada manfaatnya? Jangan-jangan hanya penuh dengan adengan yang mengedepankan aspek sensualitas sebagai bumbu." Begitu komentar dari seorang yang bahkan belum berbuat apa-apa untuk negeri, apalagi membuat film atau serial di televisi---spontan. Padahal itu bukan acara yang dibawakan oleh Komeng. *krik.

Aku jadi ingat potongan materi dari salah satu Komedian yang aku lupa namanya. Katanya, seringkali kita mencela sinetron tapi akhirnya ditonton juga. Hingga sinetron usai, sampai itu pula kita akan terus mencerca. Hahaha. Dan agaknya saat itu aku juga terjebak dalam potongan materi itu. Karena ingin lebih dalam mengkritik aku memutuskan untuk menonton hingga segmen awal usai. Tapi rasa penasaran ternyata membuatku menamatkannya. Bagaimana tidak, ternyata aku telah salah sangka. Untuk yang ini, bisa dibilang pesannya begitu menggugah dan related dengan apa yang aku alami. Setidaknya itu pendapatku.

Singkat cerita (versi lengkapnya bisa ditonton sendiri. Sebab sesuatu yang ditonton bolehlah sama, tapi perspektif kadangkala sangat berbeda. Ini hanya sudut pandang asal ala aku saja.) isi film berkisah perihal sebuah desa yang seolah diberikan kutukan dengan makin merajalelanya teluh. Awalnya santet dialami putri kepala desa yang belum lama dilantik. Seperti telah terskenario rapi oleh dukun yang sebenarnya dulu merupakan lawannya saat menjabat sebagai kepala desa. Di lain sisi, seorang gadis desa difitnah sebagai pelakunya, dia pemeran utamanya.

Cerita bergulir, sang gadis diangkat menjadi murid si Dukun, dengan dalih untuk membalaskan dendamnya---atas tindakan warga yang anarkis setelah termakan fitnah---yang sebenarnya adalah dendam dukun itu pada masyarakat desa dan lurah terpilih. Desa itupun kian semwarut seiring makin jauhnya masyarakat dengan amalan-amalan agama. Lihatlah, masjid berbahan kayu saja sudah rapuh dimakan rayap, berdebu dan nyaris ambruk karena tak ditempati apalagi dirawat. Sholat saja tidak, apalagi mengaji.

Sampai akhirnya datang seorang pemuda taat beragama dari kota yang heran dengan keadaan desa itu. Pemuda itu perlahan mengajak warga desa untuk kembali dekat dengan Allah SWT. Mengetahui hal tersebut si dukun tak ingin tinggal diam. Ia menghasutnya untuk kembali ke kota. Sang pemuda menimpali bijak, "Bagaimana aku bisa kembali ke kota. Disinilah aku dilahirkan." begitu kira-kira. Ternyata dia adalah seorang anak laki-laki yang hijrah ke kota dengan pamannya untuk menimba ilmu di sebuah pesantren. Lalu kembali ke desa untuk mencari adiknya, pemeran utama yang diperankan oleh Suzzana. Gadis baik nan jujur, keturunan baik-baik, namun harus sesat karena ilmu hitam dan guru yang salah. Ringkasnya, pemuda inilah yang menjadi perantara untuk memperbaiki kekacauan di desa.

Dari situ aku jadi merinding sendiri mengingat ternyata memang banyak benarnya. Tentang peran pemuda begitu besar sebagai agen perubahan. Kalau di dunia kampus, salah satu peran mahasiswa dalam masyarakat memanglah agen of change. Menimba ilmu hingga ke negeri orang, lalu kembali ke tanah kelahiran untuk memberikan perubahan ke arah yang lebih baik. Walau pada beberapa konteks, berbuat sesuatu juga bisa dari tempat yang jauh.

Seputar peran pemuda inilah yang membuat aku dan ibu kadangkala berbeda pengertian. Normal, karena zaman kita pun tidak sama. Kata ibu, belajar ilmu umum sekedarnya saja. Tapi tidak dengan ilmu agama. Benar-benar harus dikejar, di-upgrade selalu. Salah satunya dengan belajar di pesantren.

Walau begitu, beliau tetap tidak memaksakan kehendak. Contoh kecil, tidak memaksakan anak-anaknya mendapat nilai yang bagus di kelas, juara, atau bisa terlibat dalam ragam kompetisi. Mungkin karena memang tidak begitu sesuai dengan prinsipnya. Sebab sering sekali beliau bilang, "Yang penting sudah bisa adhuwâaghi rebbâ (Rebbâ dalam bahasa Madura adalah tradisi bersedekah makanan disertai dengan doa-doa, yang pahalanya diniatkan bagi orang yang telah meninggal dunia. Wallahua'lam), aku sudah bahagia." Inilah yang menurutku membuat kami tidak ambisius mengejar sesuatu. Meski ambisius memiliki banyak sisi.

Sedang aku berpendapat jika ilmu umum juga sangat penting. Sebab orang-orang amanah yang kelak diberi amanah akan membawa kehidupan yang lebih baik. Jujur, aku memang terkesan lebih mendukung untuk kuliah daripada di pesantren. Namun aku juga tidak menegasikan jika banyak yang dimampukan oleh Allah SWT untuk menjalani keduanya bersamaan. Tetap saja, ibu memiliki pendapat yang berbeda. Fokus (mondok) insya Allah akan mengantarkan pada sesuatu yang jauh lebih baik. Aku lagi-lagi tak begitu setuju walau telah mengetahui jika banyak lulusan pesantren yang dengan izin-Nya menjadi 'orang-orang hebat'.

Setelah menonton film itu, aku jadi berpikir lagi. Sangat betul ilmu umum itu penting, tapi ternyata ilmu agama juga utama. Lingkungan, guru, doa dan seterusnya adalah faktor-faktor penting pembentuk sebuah generasi. Pemahaman yang benar, akan melahirkan para agen perubahan yang arif dan bijaksana. Ngeri saat membayangkan generasi penerus nantinya makin anti ke masjid, misalnya. Tak seperti dalam film, masjid-masjid yang ada di desa-desa akan mentereng dan bagus-bagus, namun sayangnya S-E-P-I. Naudzubillah. Maka boleh jadi, mimpi ibuku yang sesederhana adhuwâaghi rebbâ adalah bentuk untuk tidak memberikan pressure, melainkan menuntut ilmu dengan hati yang lapang. Tapi siapa sangka, barangkali di balik itu ada doa-doa yang beliau panjatkan. Seperti lahirnya agen-agen perubahan sebuah peradaban.

Motor yang kupacu 'otomatis' berhenti saat lampu merah jalan raya menyala. Kulirik halus dan diam-diam seorang adik yang terdiam di trotoar. Membawa kemucing sebagai senjata ampuhnya untuk mengisi hari-hari. Aku tidak tahu banyak, jika mungkin saja aktivitas itu juga satu-satunya cara agar bisa membeli sepiring nasi. Yang aku tahu dia hanya terpaku disitu. Mungkin karena tidak ada mobil mewah yang bisa dilap. Berbeda dengan teman-temannya yang lain, yang terus mengamen dengan alat musik seadanya.

"Ah, betapa masih belia anak-anak itu. Wajah-wajah polos yang harusnya mengisi ruang-ruang kelas untuk berdiskusi, pusing dengan soal-soal, atau melayangkan pertanyaan-pertanyaan menakjubkan," ucapku lirih dalam kalbu. Hmm, lagi-lagi aku juga tidak mengerti. Apakah ini lebih karena ekonomi yang pas-pasan, atau memang sebuah pilihan. Sebab sebenarnya pilihan-pilihan berat memang selalu ada. Sama sepertiku, waktu itu. Mungkin. Sedikit.

Kala itu aku benar-benar tidak berniat untuk kuliah. Betul, mungkin aku lebih beruntung dari mereka yang sudah sejak dini putus sekolah. Namun yang ku maksud adalah aku yang tidak pernah berpikir bahwa pendidikan adalah hak setiap anak manusia, hingga patut diperjuangkan. Selain karena orang-orang di lingkungan desaku belum begitu familiar dengan berkuliah kala itu, aku memang berpikir ulang mengenai kemampuan orang tua untuk membayar.

Hingga guruku menyertai dengan pemahaman bahwa ada beasiswa, salah satunya dari pemerintah. Dan salah satu sarat untuk bisa lolos adalah dengan nilai yang stabil dan senantiasa meningkat per tiap semester. Itulah satu alasan kenapa aku berusaha sedikit demi sedikit memperbaiki pola belajar saat di MA. Karena aku paham, aku bukan sosok jenius dengan nilai yang gemilang.

Ku pelajari bagaimana teman-temanku mendapat peringkat. Bagaimana mereka bisa jadi 'pintar' di kelas. Mungkin aku juga sudah pernah bercerita. Jika bisa jadi aku adalah satu-satunya anak Bapak dan Ibu yang tidak pernah mendapat peringkat 3 besar di kelas di SD. Tapi ortu tak pernah mempermasalahkan. Lagipula, peringkat dan nilai itu adakala tidak penting. Namun kali itu, aku berpikir salah satu indikator untuk melihat progres belajarku adalah lewat tingkatan rangking.

Aku yang tidak terbiasa naik angkutan terlalu jauh sering mengalami mabuk kendaraan membuat sesampainya di kelas tidak fokus mendengarkan dan menyerap pelajaran. Saat guru tak begitu memperhatikan aku tidur-tiduran karena masih lemas. Tak heran kalau di semester pertama aku berada di peringkat ke-20. Karena terngiang syarat beasiswa, aku tertatih memperbaiki cara belajarku. Mulai dari mengisi berlembar soal si LKS meski tak ada yang meminta---yang aku pelajari dari Aisyah, teman sebangku-ku yang begitu rajin. Kita bagai langit dan bumi.

Aku juga belajar untuk jujur dan tidak mencontek dari Azizah, teman yang tempat duduknya pas di depanku. Atau belajar dari yang lain untuk berusaha aktif di kelas, meski lidahku begitu kelu. Saban hari minimal satu pertanyaan ku lempar pada guru-guru. Meskipun tak selalu berhasil karena seringkali merasa pertanyaan-pertanyaanku tak bermutu. Sungguh, yang ini jangan ditiru.

Di semester berikutnya, meski bukan perkara wow bagi orang lain, aku kaget bukan main saat ternyata masuk ke 10 besar. Hehe. Qadarullah. Aku jadi semakin bersemangat 'mempersiapkan' beasiswa mulai dari tahun pertama di sekolah itu. Singkat cerita, alhamdulillah, bisa lolos dan menjadi mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri di Madura.

Aku ingat sekali, di semester-semester awal perkuliahan seorang dosen mengisi sebuah mata kuliah dengan begitu apik. Cara mengajarnya membuat kuliah itu lumayan ditunggu-tunggu. Ku tulis "lumayan" karena tidak dengan tugasnya. Haha. Saat itu beliau menjelaskan rantai kemiskinan. Betapa salah satu cara untuk memutus mata rantai kemiskinan adalah pendidikan. Beliau menjelaskan dengan begitu rinci sebelum sampai pada kesimpulan itu.

Maka pendapat mengenai pendidikan yang tak penting menurutku kurang tepat. Pendidikan hanya melahirkan robot-robot dengan cara berpikir yang sama. Menjadikan manusia-manusia terdidik yang semata haus nilai yang tertera, lalu lupa nilai yang sebenarnya. Bahwa tugas (yang masih wajar sekalipun) di sekolah maupun dunia perkuliahan sama sekali tak ada faedahnya.

Justru dengan pendidikan, pola pikir kita lebih terbuka. Jadi kian paham bahwa belajar tak hanya dari buku, ruang kelas dan tugas-tugas di dalamnya saja. Namun tambahan-tambahan dari luar yang timbul dari keinginan sendiri tak kalah penting. Sistem pendidikan tak membuat rasa keingintahuan kita terbatas. Effort kita saat mengerjakan tugas dan menyelesaikan ragam persoalan saat masih berstatus seorang penimba ilmu adalah bekal mahal menghadapi tantangan baru di medan yang lebih luas.

Jangan berdalih: tingkat pendidikan tak jadi jaminan dapat pekerjaan, hingga tak mau menimba ilmu. Banyak yang berpendidikan tapi pengangguran. Hei! Harusnya pendidikan tidak hadir dengan tujuan yang sesempit itu, bukan. Bahkan katanya, tingkat pendidikan adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan. Maka maknanya agaknya tak terbatas.

Kita tahu bahwa pendidikan formal tak menentukan nasib seseorang. Masih banyak jalan lain untuk meraih 'kesuksesan' yang definisinya pun tak sama. Lebih-lebih lewat pendidikan dalam arti luas. Jadi, doaku untukmu duhai adik-adik di jalanan: "Bersabarlah, semoga Allah berikan padamu kehidupan yang lebih baik. Sebab kesempatan yang lebih baik dihaturkan untuk semua orang. Dan semoga lebih banyak dermawan yang peduli dengan masa depan anak bangsanya. Aamiin."

Aku berharap, mereka tak pernah berhenti berdoa dan berharap. Sama sepertiku dulu. Selalu berharap dan berdoa dibukakan jalan-jalan yang lebih baik. Tidak lagi berpikir orang tua yang akan membayar, tapi berganti "Allah yang akan bayar." Salah satunya lewat beasiswa. Juga bisa lewat beragam cara. Putus sekolah bukan berarti putusnya harapan. Justru akan ada lebih banyak waktu untuk belajar lebih banyak hal yang juga membuka pintu-pintu kesempatan.

Bagaimana kita mendefinisikan awet muda?
Apakah muda hanya terbatas pada penampilan, bagaimana cara kita berjalan, cara kita berbusana, bentuk tubuh yang masih sama atau bahkan keadaan kulit yang belum mengeriput?

Maka sungguh dewasa ini banyak sekali produk-produk dengan dalih segudang manfaat. Ada yang memang benar-benar memberikan perawatan lahiriah, namun banyak pula yang bodong dan aji mumpung.

Lantas, sebatas demikiankah kita mendifinisikan muda?

Atau justru muda sangat terkait dengan jiwa. Tentang kita yang tetap semangat dalam kebaikan meski jatah usia kian berkurang. Kian memiliki hati yang luas. Kian bersikap dengan cara yang bijak.

Maka, jika kata "muda" selalu identik dengan "segar", harusnya awet muda adalah tentang kesegaran ide dan semangat yang selalu terjaga karena senantiasa diperbaharui.

Maka semoga kita tak jadi budak standar- standar yang seolah telah begitu lama mengakar. Atau akhir-akhir ini begitu erat digandrungi. Karena sungguh, kita punya standar kita sendiri. Standar untuk mendefinisikan banyak hal dengan lebih baik.

Seingatku sudah cukup lama tak merasa jengkel dan marah di level yang lumayan seperti ini. Alih-alih nonjok-nonjok tembok layaknya tontonan di televisi, aku hanya mampu berderai air mata saking kesalnya. Lalu ujung-ujungnya, seperti biasa, buruknya: menyalahkan diri sendiri karena tak mampu bersabar.

Hmm, kita memang manusia biasa, yang selain diberi kesabaran, juga diamanahi amarah. Namun di momen itu, dari rasa yang tengah membara kala itu, aku jadi belajar lagi betapa beratnya menahan amarah. Tak berlebihan sabda Rasul, bahwa orang kuat dan tangguh bukanlah mereka yang handal berkelahi. Melainkan yang pandai mengelola amarahnya.

Betul. Aku yang seharusnya berwudhu, berdoa atau paling tidak duduk dulu, malah memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Hingga beberapa menit berlalu akupun berpikir lagi: kalau terjadi kecelakaan, sungguh, aku tidak hanya akan menyusahkan banyak orang. Karena saat ada orang yang meregang nyawa sebab ketidaksabaranku mengatur emosi, pastilah aku hidup dengan rasa bersalah yang bertambah-tambah sebab kebodohan sendiri.

Lalu kalau aku yang harus mati, bukankah sama saja dengan bunuh diri? Haduh, membayangkannya saja sudah begitu ngeri.

Sejam kemudian, masih tak ada yang bisa menjadi tempat pelampiasan. Dan memang harusnya begitu. Untuk apa melampiaskan kemarahan pada orang yang tidak tahu menahu? Alih-alih menyelesaikan masalah, malah membuat pikiran kian runyam.

Namun alhamdulillah, guyuran rasa yang menyebalkan itu akhirnya reda juga. Sesal datang berduyun-duyun melingkupi diri setelahnya. Katanya: Kenapa harus marah? Kamu mau berusaha menjadi hamba yang baik, kan? Meski normal, bukankah kamu juga bisa mengontrolnya?

Walau belum merutuki siapa-siapa (kecuali diri sendiri dan itu juga tak baik), ternyata menyesal juga karena seolah gagal menjadi pribadi yang tak gampang tersulut amarahnya. Apalagi, saat dengan itu, kita mungkin akan dengan mudah menyakiti perasaan orang lain, terlebih orang-orang terdekat kita. Padahal, merekalah sosok yang akan selalu menerima bagaimanapun kebobrokan yang masih lekat dengan kita.

Jadi, barangkali itulah kenapa sesal selalu datang di episode terakhir. Agar kita tahu, betapa besar balasan bagi orang yang mengendalikan diri atas bara yang dilemparlan setan. Duh, semoga dan semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita dari jeratan iblis yang durjana.

Pernahkah kalian merasa kecewa karena ekspektasi yang mungkin perlu terlalu tinggi. Terlalu naif menganggap bahwa semua orang itu bersih. Maksudku, semua orang yang terlihat baik di luar akan selalu baik kepada kita di belakang.

Namun ternyata memang tak selalu benar.
Tidak selamanya orang yang terlihat baik sekali di depan, tidak pernah mengecewakan saat di balik layar.

Ini yang seringkali membuat kita sakit sendiri. Membayangkan betapa tega orang-orang semacam itu. Atau kenapa bisa ada orang-orang seperti itu.

Kita tidak sedang bilang bahwa kita adalah manusia paling suci di dunia. Tapi bukankah menjadi seorang yang berbeda di depan dan belakang harusnya adalah beban yang begitu berat?

Lalu sebenarnya kita perlu menarik benang merah. Daripada terus menyuburkan rasa sakit, jauh lebih baik jika apa-apa yang kita alami adalah sumber pembelajaran hidup paling dahsyat. Sebuah pelajaran untuk bersikap lebih hati-hati kepada setiap orang. Hati-hati pada siapa kita berbagi kisah.

Apalagi, barangkali sengaja atau tidak kita juga seringkali melakukan hal yang sama. Sehingga kita pun perlu hati-hati atas itu. Dengan begitu kita akan kembali tersadar bahwa pada pribadi tiap-tiap manusia terselip banyak warna.

Jangan kaget dan jangan putarkan mata lalu langsung membenci seseorang yang berbuat tidak sesuai dengan harapan kita. Justru ini adalah ajang peringatan untuk tidak terlalu bergantung kepada manusia.

Menjadi baik adalah bukan karena seseorang telah berbuat baik kepada kita. Juga bukan karena kita harus berbaik dan membalas kebaikannya. Karena yang terpenting adalah selalu berusaha mengutamakan-Nya sebagai alasan.

Selain itu, lihat dan ingat kembali kebaikan-kebaikannya. Selalu ada sisi untuk membuat keadaan menjadi lebih baik lagi. Jangan merusak susu sebelanga karena nilai setitik. Hingga berhari-hari lumayan cukup menguras banyak energi untuk memikirkan pertanyaan yang tak beranjak, di situ-situ saja.
Ingat, tak ada jaminan bahwa kita sosok yang tidak lebih hina darinya. Berdamailah dengan itu.

Mulailah memaafkan diri atas setiap kesalahan yang mungkin sama. Atas hari-hari yang terlewati dengan terlampau memikirkan bagaimana sikap orang lain. Bukan malah merenungi untuk kian memperbaiki diri dan menata hati. Jika sudah begitu, racun semacam ini hanyalah penghambat kita untuk maju.

Waktu masih kecil aku ingat sekali sering bermain apa saja dengan teman-teman. Zaman memang cepat sekali beralih. Saat itu kami belum mengenal gadget. Aku dan teman-teman menggadrungi ragam bentuk permainan sepulang sekolah atau madrasah. Seperti anak lain, kami bermain petak umpet, gobak sodor, lompat tali, benteng-bentengan, masak-masakan, atau bahkan "permainan" mencari rongsokan dan saling berlomba untuk menjadi anak yang mengumpulkan paling banyak diantara yang lain.

Biasanya kami akan membuat grup-grup yang terdiri dari dua sampai tiga orang. Selain karena bisa mendapat uang jajan tambahan, bagi kami yang paling menyenangkan adalah karena mampu berkelana kemana-mana. Sebab aku dan teman-teman akan menyusuri rumah demi rumah warga yang dikelilingi sampah-sampah.

Sampah-sampah yang berserakan itu sebelumnya sempat terbawa air hujan yang meluap beberapa hari sebelum. Bahkan kami juga mengecek selokan di sepanjang jalan. Selokan yang tidak berbau karena hanya dilewati air hujan dan akan kering saat tak turun hujan.

Aku dan teman-teman dulu hanya menganggap itu sebatas permainan yang asyik karena tidak ada yang menyuruh kami, apalagi memaksa. Kami beruntung, orang tua masih dimampukan untuk memberi akses pendidikan dasar dan uang saku yang cukup.

Lalu kemana kami menjual hasilnya? Waktu itu banyak sekali orang-orang yang berprofesi mengumpulkan sampah-sampah atau biasa disebut pengepul datang ke setiap rumah di desaku. Pengepul itu nantinya akan memasok sampah terpilah ke pedagang/pengepul besar barang rongsokan.

Sampai akhirnya kebiasaan itu makin kesini kian hilang. Selain pengepul yang sering pulang dengan tangan kosong, kini sampah di selokan dan tempat-tempat lain semakin mudah dijumpai. Dulu, tiap ibu-ibu desa menjadi salah satu pemasok terbesar mereka, hasil dari memilah sampah domestik.

Nah, akhir-akhir ini setelah menyapu, aku juga kerap berpikir, sayang jika sampah yang sebenarnya masih bisa didaur ulang malah dibuang begitu saja. Bahkan seringkali dibakar. Maka aku mencoba mengumpulkan sedikit demi sedikit sampah domestik dari konsumsi sehari-hari di rumah kami. Ada gelas plastik juga, bekas minuman kalau sedang ada tamu. Aku kemudian menyiapkan tempat sampah yang terpisah untuk sampah organik dan anorganik.

Ya, sedikit-sedikit lama-lama benar-benar jadi banyak. Aku berhasil mendapati tiga kotak kayu bekas sayur (seperti di foto) itu hampir penuh. Dua kotak sold out dan sisa satu kotak (slide kedua) jenis sampah botol yang ternyata belum dibutuhkan pasar untuk saat ini. Harga yang dipatok pun berubah-ubah. Dari hasil penjualan, aku mendapatkan Rp.7000,-. Wow! Ini bukan perkara berapa rupiah yang bisa didapat. Tapi ternyata semenyenangkan itu memilah sampah yang tadinya dibuang begitu saja, malah bisa menghasilkan dan bermanfaat.

Sebenarnya awalnya aku berpikir (bukan merasa menjadi sangat kaya raya sampai-sampai tak butuh uang) untuk menghibahkan saja sampah-sampah itu pada pengepul. Ini opsi yang juga bisa kamu pilih untuk memberikan sampah hasil pilahan ke pemulung cuma-cuma. Namun aku berpikir lagi. Takut justru itu yang mungkin akan melukai hati beliau karena tidak menghargai profesi mulianya sebagai pengepul. Jadi lebih baik aku ambil saja uangnya (Hehe, ini ngeles ngga, sih).

Barangkali itulah kenapa ada seorang doktor yang meski telah menapaki tanah Eropa untuk menimba ilmu tetap tidak sungkan untuk memulung. Beliau menjalaninya dengan penuh suka cita. Namun jangan salah paham, beliau sudah memiliki 20 lebih karya berbentuk buku. Bahkan salah satunya ditulis di penjara menggunakan kertas bekas bungkus obat nyamuk sebagai medianya. Beliau menyiratkan pesan bahwa ikut andil untuk menyelamatkan lingkungan bukan merupakan aktivitas rendahan, tapi justru sangat mulia. Betulkah kita sebagai manusia hanya mampu menempati bumi tanpa pernah merawat malah kian merusak? Baginya, itu yang membuat ia semakin memiliki nilai dalam berkehidupan.

Di lain kesempatan, lihatlah. Orang-orang justru berlomba-lomba dalam keburukan. Dengan gampangnya membuang sampah ke sungai hingga bertumpuk-tumpuk. Padahal seingatku, saat masih SD, tak separah ini. Sekarang? Tanpa merasa bersalah, beragam sampah dilayangkan ke kali begitu saja. Popok-popok bayi, aneka sampah plastik dan masih banyak lagi dengan sekejap menggangu sapuan mata, memenuhi tempat yang harusnya terisi air irigasi saja.

Tidak ada lahan khusus TPS (tempat penampungan sementara) dan tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah menjadi salah satu yang membuat mereka dengan mudah melakukan pembuangan sampah ke sungai. Kalau dulu (sampai saat ini pun masih) masyarakat desa (termasuk aku. Hiks) terbiasa membakar sampah, dewasa ini mereka seolah tidak mau ambil pusing dengan membuangnya ke sungai. Walau aku tidak bilang jika membakar adalah cara yang dibenarkan.

Memang, kebiasaan buruk ini tidak mudah dihilangkan begitu saja. Tidak hanya dengan melakukan sosialisasi tentang pengelolaan sampah yang baik dan benar, jadwal rutin gotong royong bersih desa dan menyediakan anggaran khusus untuk pembebasan lahan yang nantinya digunakan sebagai TPS. Tapi rasanya usaha-usaha itu perlu dilakukan, dicoba. Lebih jauh lagi jika desa bisa mempunyai bank sampah sendiri. Masyarakat akan lebih sadar betapa sampah juga bisa bernilai dan secara bersamaan meningkatkan nilai mereka sebagai manusia, seperti prinsip yang dianut sang doktor.

Kita bisa memberi sedikit perubahan, paling tidak dari hal yang paling kecil, dimulai dari lingkungan kita sendiri. Dengan belajar memilah sampah, kita akan memetik berkah. Berkah itu bisa berupa nilai ekonomi pada sampah dan kontribusi kita untuk menyelamatkan lingkungan. Lalu kita lagi-lagi dibikin menelan ludah dengan konsep reuse, reduce dan recycle yang penerapannya tidak mudah. Eh, afirmasi positif: kalau ada kemauan, karena Allah, apapun itu akan mudah.

Bapak dan ibuku tidak bisa baca tulis latin (Tapi sampai tulisan ini di terbitkan, bapak sudah bisa sedikit membaca, belajar secara otodidak), jadi seingatku orang yang pertama kali mengajariku cara membaca dan menulis adalah guruku semasa SD. Aku sangat berterima kasih karena sampai pada hari ini aku bisa dan berusaha menggunakannya sebaik mungkin. Mereka adalah guru-guru SD terbaik sepanjang masa.

Pernah didelegasikan untuk mengikuti perlombaan pada tingkat sekolah dasar tapi mereka tak menghakimi saat tak membawa pulang piagam kejuaraan. Pernah merasa menjadi sangat berbeda dari murid lain, karena mudah menangis saat sering dibully, namun beliau menguatkan, menenangkan dengan sepenuh hati.

Di bangku MTs, kutemui guru-guru yang juga hebat. Dulu aku ingat sekali waktu guru pengajar mapel Bahasa Arab-ku susah payah mengantarkanku ikut lomba. Setelah menyaksikan peserta yang nampak keren-keren, aku menyangsikan diriku dengan performa yang seadanya. Sempat berpikir untuk tidak tampil dan ingin pulang saja. Namun tidak tega melihat beliau yang terus mendukung dan mengulum senyum. Akhirnya aku berjalan mantap menuju panggung. Langkah kakiku terasa begitu ringan. Mungkin karena terbantu ventilasi udara dari sepatu butut yang sudah bolong. Hehehe. Mengenang ini aku jadi tersenyum-senyum sendiri.

Namun ada satu cerita yang membuat aku bersalah hingga kini. Kala itu ada seorang guru, guru mata pelajaran Bahasa Inggris, yang kalau mengajar pasti selalu ditanggapi dengan malas-malasan oleh teman-teman atau mungkin kami. Sepertinya aku juga ikut berkontribusi dengan kejadian itu. Padahal itu adalah pelajaran favoritku. Tapi beliau selalu sabar dan tetap mengajar. Entah karena tidak paham apa yang diajarkan atau memang kami saja yang (pastinya!) kurang menghargai beliau mengingat pemandangan itu konon sudah biasa terjadi. Setidaknya itu yang aku tahu dari cerita-cerita kakak kelas, katanya malah sampai ada satu kelas yang dengan tega pernah mengusir beliau. Padahal siapa yang tahu betapa panjang perjuangan beliau hingga bisa menapaki ruang kelas. Duh, maafkan kami, Tuhan.

Guru-guru yang amat baik juga aku kenal kala menimba ilmu di MA. Mereka yang terbuka dengan pilihan murid-muridnya. Ada yang sudah seperti keluarga. Bahkan tak terbilang yang mampu mendobrak pemikiranku untuk memiliki sudut pandang yang jauh lebih luas dan bermimpi besar. Sungguh, aku sangat beruntung memiliki guru-guru seperti mereka.

Memasuki dunia perkuliahan aku dipenuhi syukur yang makin bertambah kian hari. Dari dulu aku memang selalu berdoa, semoga Allah SWT karuniai guru, teman dan lingkungan yang luar biasa. Itulah kenapa, tiap mengajar, aku selalu belajar bagaimana mereka berlaku. Alih-alih fokus memperhatikan "isi" perkuliahan yang disampaikan dosen, aku malah lebih sering menebak-nebak dan membayangkan seperti apa jalan hidup yang berhasil mereka lewati hingga sampai di tahap ini. Apa buku yang mereka baca, dan lain-lain.

Tempat les menjadi saksi bisu kudapati guru-guru yang tak kalah mengesankan. Salah satu yang membuatku sadar bahwa tiap manusia dianugerahi potensi adalah kalimat dari beliau yang mengomentari tulisan harianku sebagai tugas. "I like your writing (dengan emoticon senyum)," tulisnya. Aku sempat tidak percaya, atau mungkin beliau hanya ingin membesarkan hatiku. Namun, bagi seorang yang terbiasa tidak percaya diri sejak kecil, insecure atau apalah penamaannya, kalimat itu sungguh menyadarkanku untuk berterima kasih pada Sang Pencipta. Kalimat yang empowering.

Dari sekian banyak cerita, lebih banyak yang belum aku sampaikan, namun satu yang menjadi, katakanlah, sesuatu yang mengakar pada diri. Ialah selama menjadi pelajar/mahasiswa, aku tidak mau terlalu dekat dengan sosok seorang guru. Selain aku (pada banyak momen) tidak bisa banyak berbicara melainkan lebih menyukai untuk diam, bagiku mereka terlalu mulia dan hanya cukup mengagumi dari jauh saja. Bahkan aku sering menyamai mereka dengan seorang Kiai yang bagiku perlu disegani.

Berjalan didepan mereka haruslah dengan gesture tubuh yang agak merunduk. Berbicara dengan mereka haruslah dengan pemilihan kata-kata yang tepat (Ah, mungkin juga ini yang menjadi salah satu alasannya. Karena aku merasa tak cukup pandai menjaga sikap). Apalagi aku tidak ingin, selama menjadi pelajar, prestasi yang aku dapatkan adalah karena kedekatan dengan mereka. Padahal itu hanya paradigma saja yang kadang menjelma tuduhan tak berdasar bahwa mereka tak objektif dalam menilai (Halah, lagian PeDe betul. Padahal prestasi cenderung masih nihil. Hehe).

Intinya semoga kita selalu berusaha untuk tidak lupa mengirimkan doa bagi mereka. Guru sedari kecil hingga saat ini. Guru madrasah, guru mengaji, guru sewaktu PKL dan sebagainya. Mereka benar-benar pahlawan tanpa pamrih. Serupa orang tua sendiri, mereka akan tersenyum bangga di detik-detik kita 'berhasil'. Mereka 'menangis' kala kita dirundung nestapa.

Mereka adalah salah satu alasan terbesar kenapa kita tak mau berhenti mengejar mimpi. Karena bagiku, bila melihat orang tua yang sudah bersyukur anaknya bisa baca-tulis (Eh, atau aku saja yang tak paham maknanya secara luas, ya), mungkin aku sudah sangat merasa lebih dari cukup untuk mengamalkan itu semua. Maksudku, untuk mulai mendisiplinkan diri----sebab mungkin aku bahkan pernah memulai namun sering terhenti. Akan tetapi, setelah melihat bagaimana tulusnya para pahlawan tanpa tanda jasa itu membagi ilmu, juga doa-doa yang tidak pernah absen mengalun, aku jadi berpikir lagi,  selain ilmu-ilmu yang kelak harus dipertanggung-jawabkan, ada mereka yang harus kita banggakan.

Meskipun pada akhirnya barangkali impian mereka begitu sederhana. Sesederhana kita menjadi manusia yang baik dan mampu menebar kebaikan. Tertulis begitu sederhana, sedang implementasinya dipenuhi rentetan perjuangan. Ah, sudah dulu ceritanya. Mengenang jasa mereka, rasanya tak berlebihan jika air mata bergulir tiba-tiba. Kalau ditanya perihal kenangan buruk bersama guru, rasanya Alhamdulillah tidak ada atau bahkan lupa. *Ah, sudahi dulu peres-nya, hade. (Hatiku kecilku mengejek).

~

Terima kasih, guru-guruku. Semoga kebahagiaan dan kesehatan senantiasa menyertai kalian. Maafkan kami. Maafkan saya belum berkesempatan membanggakan. Doakan kami. Doakan saya. Selamat hari guru, Pak, Bu.

Aku tersenyum masam, melihat diriku yang barangkali kerap menulis tentang bagaimana berkontribusi, fokus menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, dan atau merajut taqwa dalam setiap perjalanan yang berliku.

Manisnya, itu adalah sebuah doa, yang sungguh tidak bisa diremehkan keberadaanya. Namun pahit rasanya kala hati kerap menuntut adanya aksi. Agar tak terdengar seperti tong kosong yang cempreng berbunyi.

________

Saat aku mungkin sering hanya menuliskan apa-apa yang ingin aku semogakan, maka aku kemudian merasa amat beruntung belajar dari tulisan yang hidup. Yang telah separuh abad tertempa dengan begitu elok.

Memang, "tulisan yang hidup" itu sudah terbiasa meng-handle banyak pekerjaan. Beliau memulai aktivitas dengan bersiap menunaikan tahajud sebelum melakukan aktivitas lain sejak dini hari di usia yang begitu muda. Usai mendirikan sholat malam, ia langsung bergegas menyelesaikan rendaman cucian untuk satu keluarga yang bisa berember-ember besar jumlahnya.

Setelah itu, menpersiapkan sarapan untuk adik-adiknya adalah rutinitas yang tidak pernah ia lewatkan. Jangan bilang jika sosok yang rendah hati itu tak disibukkan dengan tugas sekolah, karena bahkan sering ia menjadi delegasi lomba yang harusnya menyita waktu sebagai masa persiapan.

Apa yang tertanam di pola pikirnya sejak kecil adalah bahwa hidup prihatin dan disiplin adalah ciri-ciri orang sukses di masa depan. Itulah yang membuat semua dilakukannya dengan senang hati. Selain itu, baginya belajar mengerjakan banyak hal sedari kecil akan menguntungkannya sendiri, bukan orang lain.
Mindset yang luar biasa saat mungkin kita kerap menganggap sebuah tempaan sebagai beban, bukan malah berpikir bahwa potensi merupakan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan.

Maka tak heran bila hingga berkuliah, wanita yang terbiasa mendapat juara kelas itu selalu ingin belajar hidup prihatin, disiplin dan berusaha mencari tambahan penghasilan. "Kost-kostan super jelek menjadi saksi bisunya menggurah ilmu", kenangnya saat bercerita sembari meneguk segelas infused water lemon yang masih berembun.
_________

Pengimplementasian yang juga sering aku semogakan lewat tulisan sudah terbiasa dilakukannya sejak masih berstatus sebagai pelajar. Seolah semua ilmu yang dimiliki, berapapun besarnya, tak boleh ia nikmati seorang diri. Sebab saat dibagi, jumlahnya malah tak terbatas dan kian rekat. Seperti mengajari anak-anak yang kurang mampu untuk mengaji, berhitung, menari bahkan belajar bahasa Inggris-pun menjadi makanan sehari-hari. Adalah hal yang menyenangkan mengumpulkan alat tulis tak terpakai untuk menyokong KBM yang dirintisnya seorang diri.

Kini beliau hanya bisa mengucap syukur. Karena sekarang semua ilmu itu benar-benar dibutuhkan. Bagaimana mengatur ini dan itu dan tak pernah menuhankan materi melainkan selalu dan selalu memprioritaskan berbagi. Barangkali---wallahua'lam--- ilmu, tahajud, doa ibu dan faktor lain yang tidak ada dalam model (hehe) itu yang membuat hidupnya berkecukupan. Tentu karena dibarengi dengan rasa syukur yang kian subur.

Maka sungguh, bukan materi yang membuatku iri. Namun sholat malam yang terpatri sejak dini. Rasa yang tak pernah bosan untuk berbakti. Juga jiwa sosial yang tinggi, namun tetap rendah hati menjadi resep yang cukup membuatku menelan ludah. Ah tulisan perihal orang-orang inspiratif selalu membuat hatiku ngilu. Apalagi tulisan yang hidup.

Terlebih saat membaca sirah Rasul yang sejak kecil sudah luar biasa keproduktifannya. Banyak dari kita yang familiar dengan kisah beliau menggembala kambing penduduk Mekkah. Lalu menginjak usia dua belas tahun, pengalaman berbisnis hingga ke luar negeri menambah ketajaman ilmu, pengalaman dan kemandirian sang uswatun hasanah. Tak hanya itu, kemahiraannya menangani urusan-urusan kemiliteran adalah buah dari tempaan semenjak belia. Pun kepiawaiannya dalam berdiplomasi.

Hmm, dengan berbagi kisah ini, pertama aku hanya ingin mengingatkan kembali diriku. Bahwa meski kita bukan keturunan Kiai, bukan anak seorang Ustadz---dan apapun alasan yang akhirnya membuat kita ingin berhenti---kita insya Allah selalu punya kesempatan yang sama untuk bisa menganyam taqwa dan menjadi sosok yang berbakti.

At the end of the day, tiap kita itu unik dan tidak mungkin memiliki garis kehidupan yang sepenuhnya persis dengan orang lain. Jadi barangkali, menjadi bijak jika tak melulu membandingkan jalan hidup kita dengan orang lain. Namun menjelma pribadi yang lebih baik dari diri kita yang sebelumnya mungkin bisa menjadi pilihan yang tepat. Alih-alih diminta untuk membandingkan diri, kita malah ditunjukkan jalan untuk meneladani dan menyerap saripati yang dibagikan secara cuma-cuma oleh orang-orang hebat.

~

Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad!

Akhir minggu kali itu, seperti biasa, masih aku habiskan dengan berada #dirumahsaja. Bedanya, minggu ini keponakanku, Nuh, pulang kampung, hehe. Yaps! Kampung atau desa dimana aku tinggal. Suasana kediaman begitu asri dan sarat kedamaian. Ada hamparan sawah di sepanjang jalan menuju rumah.
_________

Wajah langit yang ku pandang pagi itu terlihat megah dan memukau. Selalu. Besar sekali kuasa-Nya. Aneh rasanya bila masih saja mengerdilkan impian perlahan. Sungguh gila, rutuk nuraniku saat pandanganku mengamati langit lebih lama lagi. Luas. Indah. Tak bisa ditiru. Tanpa tiang. Terlukis begitu nyata.

Maka harusnya nyata pula cara kita memvisualisasikan mimpi itu. Benar-benar aneh kalau masih saja bingung dari mana mendapatkan semangat dan karakter pejuang tak kenal menyerah. Jika hamparan jawabannya selalu mengawasi tiap kita fokus pada kesia-siaan.

Tak seperti biasanya, mau tidak mau aku harus menemukan cara untuk keluar dari kungkungan kesiaan itu dengan menyibukkan diri. Dimulai dengan menyapu halaman dan beberapa bagian pekarangan rumah. Terdengar sepele, dan sepertinya memang sudah kewajiban. Walau hanya membutuhkan time management yang baik, tapi siapa yang menyangka, kadang itu bisa menjadi sangat berat saat ada prioritas lain yang menyesaki pikiran. Padahal sudah paham, jika justru hormon kebahagiaan akan meningkat seiring dengan pergerakan yang kita lakukan. Alias kegiatan yang berfaedah dan dilakukan dengan senang hati sama dengan menurunkan tingkat depresi.

Setelah itu, kembali pandanganku menyapu pekarangan yang sudah lumayan bersih usai disapu. Ditambah pemandangan hijau di sekeliling rumah membuat aku kembali merapalkan syukur dianugerahi kesempatan untuk tinggal di desa. Tempat yang jauh dari hiruk pikuk kemacetan. Tempat menghirup udara yang relatif jauh lebih bersih dengan sepuasnya. Tempat dengan ragam potensi yang menanti untuk dimanfaatkan.

Kalau dulu saat masih kecil, potret kehidupan kota yang seolah menawarkan banyak kenyamanan hidup sering memaksaku untuk berpikir dan ingin memilih: rasanya jauh lebih enak jika aku hidup di kota besar dengan segala fasilitasnya. Sekarang, aku malah sangat sangat sangat merasa kurang mengenali daerahku sendiri, banyak keindahan, misteri, atau apapun penamaannya yang belum tergali.

Walau kadang, katanya, hidup di desa sering membikin terlena dengan kenyamanan yang juga sulit dijelaskan. Sedang di kota, kita akan terus ditempa menjadi sosok yang memiliki daya saing tinggi. Meski dewasa ini sudah lain lagi faktanya. Banyak potret desa yang berhasil, tak jauh dari andil pemuda-pemudanya yang melek pengetahuan, teknologi dan berjiwa sosial tinggi. Mereka dituntut untuk terus berinovasi dan kreatif.

Lalu lihatlah, pagar alami yang terlihat hijau karena dedaunan yang rimbun itu mengelilingi rumah, menenangkan. Seolah menenangkanku yang mencoba berpikir, meski masih menikmati olahan ceker ayam ala Ibu. Ini makanan kesukaan Nuh. Sebagian bumbu dan rempah diambil dari tanaman di pekarangan rumah. Beginilah hidup di desa. Hobi bapak dan kakak sangat membantu kami menikmati rupa hasil bercocok tanaman secara percuma. Sebut saja pisang, rambutan, nangka, mangga, nanas, serai, buah naga, aneka rimpang dan masih banyak lagi. Terasa semakin betah berada di zona nyaman ini. Karena meskipun ada keterbatasan, hidup di desa juga penuh dengan kemudahan-kemudahan.

Jadi, bagiku, dimana pun tinggalnya, tidak ada pemuda yang lebih unggul. Karena toh sejatinya tiap mereka dihadapkan dengan tantangan yang sama: sejauh mana bisa berkontribusi dan memberikan performa terbaik. Namun tetap, semuanya butuh pengalaman, saling berbagi pengalaman yang berasal dari desa maupun kota. Ah, sungguh, aku (masih) hanya berteori. Masih hanya menjadi pemerhati bagi mereka yanhlg sudah bisa berbakti pada negeri.

_________

Kemudian aku dan Nuh bergegas menunaikan tugas selanjutnya: menggiling padi. Tak berbeda, masih dengan ibu-ibu yang sesekali membicarakan nama-nama, bahkan pemerintah dengan dana desanya. Namun ada yang berbeda. Nuh yang sedari tadi sibuk mengamati ruang penggilingan padi. Mendekati tiap sudut dengan hati-hati. Selayaknya orang yang tengah menganalisis sesuatu. Dia kemudian diam sejenak sampai akhirnya mengeluarkan suara: "Nte, itu buat apa?," menunjuk mesin besar tua yang penuh debu.

Aku pun menjelaskan yang aku bisa dan menceritakan sedikit life cycle dari padi sampai akhirnya sampai di tempat penggilingan ini. Lalu tentang beras yang kemudian jadi teman makan ceker kesukaannya. Hampir selalu, sejak dulu, Nuh selalu mendengarkan dengan penuh antusias. Rasa keingintahuannya begitu besar. Apalagi membawa-bawa makanan favoritnya.

Nuh terlihat senang bukan main tiap kali pulang untuk ber-weekend di desa. Sepertiku yang juga sangat bersyukur dan bahagia. Tak berhenti disitu, aku berdoa, agar tak hanya syukur, senang dan bahagia. Tapi juga bangga, bangga yang semoga mengundang energi-energi baik untuk bisa berbuat lebih. Di desa, kota, di negeri terkasih.

Hanya saja, Nuh sedari kecil sudah tumbuh perasaan cintanya pada desa. Tak sepertiku saat kecil, media---salah satunya---membuatku mungkin sempat menderita inferiority complex. Namun sekarang semoga aku sudah lebih mengerti. Bahwa memang kata Imam Syafi'i: "Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang". Tapi tetap pada akhirnya dimanapun kita bermuara (desa/kota/negeri orang sebagai diaspora) impiannya akan selalu sama, mengabdi untuk Indonesia.
~

Selamat Hari Sumpah Pemuda!

"Buat apa sih kamu nulis-nulis kayak gitu?!" Aku tertegun sejenak mendengar pertanyaan dari teman  saat masih MA itu. Sejenak = sepersekian detik = aku tidak habis pikir ternyata gerakku di media sosial diperhatikan juga walau besar kemungkinan tulisan itu hanya lewat di berandanya = aku hendak bilang bahwa: ini hanya rutinitasku yang fun---sebelum tidur, tapi karena dewasa itu manusia pada umumnya materialistik, maka aku jawab saja singkat: "Menulis di blog bisa dapat uang, loh! Hehe." Temanku itu nampak ogah menimpali. Aku membalas cuek tak mau kalah.

Masa bergulir. Ternyata jawaban tak niat itu jadi kenyataan. Padahal tidak ditekuni secara serius dengan ruang tulis menulis yang sebenarnya amat luas. Pun meski belum sebagus kata-kata yang dirangkai penulis-penulis ternama. Tapi Allah selalu menuntun orang-orang yang selalu berusaha memiliki niat yang tulus. Meski belum tajir melintir seperti berbilang penulis fenomenal, setidaknya, belajar dari penulis sejati lain--bahwa sering malah tak ada rupiah sepeser pun untuk karya mereka. Selain passion, ada kebahagian tersendiri saat mampu mengekspresikan rasa lewat aksara.

Jadilah aku sedikit demi sedikit juga belajar mengesampingkan semua pikiran yang buruk. Pun daripada ruwet memikirkan usaha yang nihil, ada baiknya sembari secuil demi secuil mengasah lewat menulis catatan. Catatan remeh, pemahaman masih seadanya, dan dari keamburadulannya barangkali membuat satu oraaaaang saja bisa memetik insight baru.

______

Kejadian bertahun-tahun itu terulang lagi. Kali ini malah "diriku" yang bilang. "Buat apa sih kamu nulis-nulis kayak gitu?" Lihat! Amalmu masih tipis! Miris! Kekuranganmu bukan main jumlahnya. Belum lagi, kala diberi sejumput pujian, kamu agaknya mau terbang. Padahal cuma dari satu-dua orang. Tidakkah kamu malu? Kalau saja mereka tau aib yang Allah tutup itu, pastilah kamu mengemban malu yang bertambah-tambah.

Aku menjawabnya dengan berhenti, mencoret kegiatan itu dari list to do harian. Lagi pula aku merasa tak pernah mengasah keahlian. Gaya tulisan pun masih itu-itu saja. Belum lihai membikin alur yang berbeda. Dalam dunia tulis semacam ini, bahkan aku belum mampu berani bergerak mengeluarkan novel atau buku. Padahal banyak event yang memfasilitasi untuk itu. Toh "diriku" itu benar juga, banyak hal dalam hidupku yang masih tak keruan.

Tapi "diriku yang lain" (WKWK, ampun deh. Caraku menulis dari awal sudah bikin pening, ya. Hehe. Makanya doain, semoga diberi semangat latihan. Semua pasti bisa kalo belajar dan Allah berkehendak. HEHE) malah kian mengompori untuk mencatat apa yang nampak dari hari ke hari. Karena aku bisa membacanya lagi sebagai pengingat, katanya mengingatkan. Terlebih, selalu dan selalu, doa-doa dilantukan agar bisa melampaui apa yang dicatat. Bukankah tak ada salahnya berharap pada Yang Maha Hebat. Allah!

________

Malam itu, di blog, aku mencoba membaca kembali beberapa postingan lampau, yang memang jumlahnya masih beberapa. Kemudian beberapa kali merasa tertampar, iya, tersadar oleh catatan sendiri. Beberapa hikmah kembali menyusup. Bagaimana bisa?

Ternyata ada benarnya kata Cak Nun, bahwa sebenarnya yang mengendalikan kita adalah Allah SWT. Bila tengah berucap kebenaran Allah-lah yang sedang menolong. Maka rasanya amat tidak pantas untuk berbangga diri karena apapun kemampuannya pada akhirnya bukan terlahir murni dari diri kita.

Seperti saat ada yang mampu berbicara cas cis cus memesona dengan tatanan kalimat yang nyaris paripurna. Ada yang mampu menulis buku-buku tebal nan bermakna. Ada yang memiliki kemampuan hafalan dengan teknik dan cara penjabaran yang tak terduga. Ada yang visioner menciptakan benda-benda canggih yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Pantas saja, rasanya bisa amat sulit sekali menulis catatan. Karena selain sedang berlumur noda, memang Allah belum menggerakkan, meski kita terus berusaha mengusahakan. Laa hawlaa wa la quwata illaa billah.

Sekarang aku kian mengerti mengapa selalu ada kalimat: kalau benar semua dari Allah, sedang jika salah, semua memang kekhilafan kita sebagai manusia. Ungkapan yang ternyata amat dalam maknanya.

Namun aku yakin, sebagai manusia yang sejati, se-amburadul apapun itu, se-materialistik apapun, se-alpa apaun, dengan kerap memohon ampun, insya Allah pasti akan selalu ada ketukan yang menyelinap untuk bisa ikut andil dalam kebermanfaatan. Tak peduli apapun bentuknya.Tak peduli berapapun jumlahnya.

_______
#please #bismillah #semoga #nggacumabelajarnulis #ncbn #menuliskarenaAllah #insyaAllah ❤

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Door Duisternis Tot Licht
  • Innamal A'malu Binniyat
  • Soal Ide, Implementasi Pesan dan Kecelakaan
  • Buat Apa Sih?!
  • Kamu Yakin Ngga sih?
  • Obsesi?
  • Rindu Allah
  • Kapan Nikah?
  • Hobi Gue Dengerin Musik. What?!!!
  • Berkaca Diri

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates