Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Ingin sekali menulis catatan yang menggetarkan jiwa  tapi rasanya hatiku belakangan ini kian dikotori, jadi bagaimana pantas menjadi perantara untuk menggetarkan kalbu banyak orang. Ingin pula menulis catatan yang bercakrawala, tapi akhir-akhir ini aku jarang membaca. Akibatnya wawasanku masih sesempit pakaian kekecilan. Jadilah aku kini, meski biasanya juga demikian, menuliskan catatan harian yang bisa jadi tidak begitu penting. Namun, akhirnya ditulis juga, dengan harapan ada secuil kebaikan, dan semoga bisa menjadi penghapus bagian hati yang tidak glowing ini, kusam oleh amal buruk. Hmm, semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita.

_______

Sering dikira ingin jadi ini - itu lantaran kerap merapalkan doa untuk bisa memiliki kesempatan bersekolah lagi membuat senyum tak kuasa ditahan lagi. Padahal, kalau diuraikan kembali, dingat, dipikir, dan berdialog dengan diri sendiri sebenarnya tidak pernah menargetkan untuk memiliki 'posisi' atau jabatan apapun. Kadang memang acapkali terbawa oleh masa-masa kecil, dan perjalanan mengarungi hidup hingga kini---entah berkeinginan menjadi jurnalis, guru bahasa Inggris, menteri pertanian, agripreneur, fotografer, designer, traveler, chef atau apapun itu. Lantaran mungkin akan lebih mudah membantu banyak orang, dengan beragam cara di masing-masing peran.

Aneh mungkin, kian menua justru kian tidak mengerti ingin jadi apa. Seolah tak memiliki tujuan hidup. Mungkin lebih tepatnya tuntutan hidup. Namun sungguh, ini hanya opini pribadi. Sebab aku juga masih sangat mendukung perihal memiliki cita besar di masa depan. Karena katanya itu salah satu yang memacu diri kita untuk menjadi lebih baik lagi. Lagi pula, faktanya tidak mesti seperti yang kita lihat. Misalnya saja, kerap ku dengar orang-orang yang sebetulnya tidak mendamba apa-apa, katakanlah jabatan (di dunia) tapi malah diamanahi tanggung jawab yang besar. Serupa ada invisible hand.

Ya, ternyata memang nyata, tentu dan aku mengimani itu. Bahwa seberapa rinci rencana kita, pasti ada yang Maha Baik, yang mampu merevisi perencanaan kita menjadi yang terbaik. Maha Mengetahui perkara yang tidak kita ketahui akan ketetapan-ketetapan yang paling baik bagi kita. Dari cerita-cerita itu aku jadi makin belajar bahwa (lagi-lagi) tidak bisa kita mendikte hasil akhir, meski wajar merencanakan, mendoakan dan mengusahakan hidup seperti apa yang kita idamkan di masa mendatang.

Sampai sekarang pun, aku masih memiliki impian yang besar. Hanya saja definisi 'besar' tak sesempit dulu, tidak juga seperti pakaian tadi. Yang jelas, semoga selalu berpegang pada satu kata: bermanfaat. Lalu muaranya selalu satu: meraih ridlo-Nya. Ah, gampang sekali menuliskannya. Semoga menjadi doa untuk kita semua. Agar tidak melupa akan tujuan eksistensi kita di dunia. Karena hakikatnya, menjadi bermanfaat tak melulu dari hal besar. Kadang untuk memulai yang kecil saja sulitnya minta ampun. Maka aku salut dengan mereka yang tak banyak babibu tapi bergerak, baik secara diam-diam maupun terang-terangan.

Aku jadi belajar untuk tidak menyamaratakan: bahwa tiap orang yang memilih bersekolah hanyalah karena sekadar gelar dan gengsi. Supaya kemudian tidak kaget saat menemui seseorang yang berpendidikan dan memilih menjadi ibu rumah tangga sebab memiliki makna dan pemahaman tersendiri tentang pencapaian hidup. Bahkan jika mengerti, itulah karir terbaik seorang wanita di mata Allah.
Selain kaget, dewasa ini kisah seseorang yang memiliki 'gelar' dan memilih berwirausaha malah jadi viral di kalangan warga net. Seolah berpendidikan tinggi tak boleh menjadi seorang pengusaha. Eh, mungkin hanya anggapanku saja. Karena statement itu bisa juga membawa pesan baik lain.

________

Menimba ilmu, seperti aktivitas lainnya (bekerja, dan lain-lain) bisa menjadi ajang untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Memohon agar Allah pertemukan dengan orang-orang yang bertujuan sama. Memang tidak melulu melalui jalur formal untuk menggapainya. Namun siapa yang bisa menjamin kadar keimanan dan ketaqwaan seseorang. Pun bagaimana jalan untuk memperolehnya, bukan. Kita masih sama-sama berusaha. Meng-upgrade niat, agar paling tidak, bisa lebih baru dan lebih baik.

Selain itu, sebaiknya buanglah anggapan jika yang memilih untuk sembari meniti karir, hanyalah sebab mereka terlampau ambisius terhadap materi. Boleh jadi ada banyak hal sebagai prioritas, karena hidup bukan tentang diri sendiri. Kita seringkali tidak bisa menyimpulkan apa yang kita lihat. Siapa sangka kalau ternyata kita belum mendapat gambar yang utuh, lalu dengan mudahnya mendistraksi dan menyampaikan pemikiran sebelum melihat kebenaran. Belum lagi, jawaban dari barisan pertanyaan kita tidak bisa diketahui sekali waktu, atau bahkan menjadi misteri sampai kapanpun selayaknya takaran-takaran pahala. Maka (nasihat untuk diriku) jangalah mudah memberi gelar pada orang lain seolah kitalah Tuhan.

Bukan. Bukan sayang jika gerombolan pandemi #corona ----yang mungkin saja sedang menertawakan kita saat ini----dibuang. Tapi yang ku maksud adalah pelajaran yang terkandung di dalam setiap kejadian yang makhluk bumi alami akhir-akhir ini. Rasanya amat sayang kalau dibiarkan menguap begitu saja tanpa diabadikan lewat catatan. Belum lagi pesan itu disampaikan bukan oleh iklan layanan masyarakat. Karena meski itu yang ditunggu-tunggu lantaran muak dengan tontonan yang ada, ini adalah hal yang berbeda. Salah satu influencer di dunia nyata yang belum lama ini hadir di list sumber inspirasi harianku-lah yang menyampaikannya.

Aku tadi bilang: menertawakan. Lihat saja, beragam rencana yang sudah disusun sedemikian rupa kini harus diatur ulang dengan sistem yang tak lagi sama. Benda yang tidak terlihat oleh mata telanjang itu benar-benar mengajarkan kita, ungkap beliau, bahwa kita seringkali merasa menjadi seorang penentu masa depan, lanjutnya. Seolah kita sudah pasti tahu apa makanan yang besok bisa kita nikmati karena telah memenuhi isi kulkas saban hari.

Kita seperti begitu yakin akan mampu menatap hari esok. Menggenggam pencapaian demi pencapaian, mendapat beasiswa luar negeri, mencetak murid-murid mumpuni, memiliki segudang prestasi, memberi nafkah anak-istri, melambungkan pergerakan ekonomi, merasa menjadi sosok yang paling kuat di bumi. Sombong. Sungguh terlampau sombong tanpa pernah melibatkan Allah SWT di setiap lini.

Maka benar, ikhtiar memang sebuah keharusan, tapi hasil pada akhirnya selalu Allah-lah yang menentukan. Sama seperti saat ini, ikhtiar sangat perlu dilakukan demi jalan yang terbaik untuk semua. Semoga. Hanya saja yang sangat disayangkan adalah upaya-upaya kebaikan yang justru dinodai dengan oknum-oknum yang kian memperkeruh suana. Semoga lekas terbuka hatinya.

Saat jawaban seringkali menjadi misteri. Kita hendaknya tak saling tunjuk jari. Karena bisa jadi setiap kita juga berkontribusi di tengah 'kekalutan' ini. Dengan menyadari itu, kita kemudian tidak akan mudah menuduh malah rajin mengintropeksi diri. Mengistighfari kesombongan yang mungkin memang sudah sangat melampaui besarnya biji sawi, bahkan Fuji. Setelah itu, semoga menjadi kian peduli dan bersinergi. Bahwa kita tak hidup sendiri dan hidup bukan untuk diri sendiri.

Selagi lagi, itu semua bukan kataku (Memang ada penambahan tanpa mengubah maksud). Bukan juga oleh iklan layanan masyarakat di sekotak layar televisi. Itu ujar seorang influencer di dunia nyata yang nyata juga amalannya. Yang saat itu hanya mampu membuatku berkaca-kaca. Tanpa tahu harus berkontribusi apa selain doa, memperbaiki pola hidup dan #dirumahsaja jika memang tidak ada yang teramat penting. 
______

Ah, kalimat terakhir lalu membawaku pada cuplikan-cuplikan sulitnya menghadapi hidup yang dialami segenap manusia di berbagai daerah, kota, bahkan negara. Entah karena kemiskinan, konflik antar negara, diskriminasi, krisis kemanusian dan lain-lain. Betapa kadang aku hanya lebih banyak terdiam untuk mereka. Menikmati anugerah tidur nyenyak dan makan dengan lahap. Hmm, semoga kita bisa meringankan kesedihan dari lingkup yang paling dekat, seperti keluarga, dan seterusnya. 
______

Salam hangat untuk kawan-kawan semua. Semoga diberkahi kesehatan dengan produktivitas yang berkualitas selalu. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua yang telah berjasa di tengah situasi tak terduga. Semoga badai sangat cepat berlalu. Dan kita diberikan kemudahan untuk menyerap tiap hikmahnya.

#ncbn #nggacumabelajarnulis #pesan #lawancorona #dirumahaja #belajarnulis #writingiscaring

Bukan sepenuhnya karena usai mengalami dua kali kecelakaan sepeda motor, aku akhirnya enggan belajar naik sepeda motor. Padahal adikku sudah mahir mengendarai benda 'ajaib' pada masanya tersebut. Hingga akhirnya saat menjelang lulus dari MA, aku memberanikan diri untuk belajar sendiri. Bertahap, sampai pada hari ini alhamdulillah bisa menyebrang pulau sendiri. Perkara yang mudah, biasa dan bukan sebuah prestasi bagi banyak orang. Terkecuali bagi anak yang kala itu atau bahkan mungkin sampai sekarang, masih gelagapan memacu motor ala pembalap handal. Hehe.

Dari perjalanan kesana-kemari (Aih, seperti sudah berkelana kemana-mana saja), maksudku perjalanan 'formalitas' itu, aku akhirnya jadi belajar satu hal. Tentang mengarungi hidup yang mungkin bisa aku analogikan layaknya mengarungi perjalanan dengan motor (ini disesuaikan dengan kendaraan yang digunakan masing-masing pribadi) ini.

Betapa tidak, orang yang sampai duluan bukan perkara mereka yang start-nya lebih awal atau jarak tujuan yang relatif lebih dekat. Karena tiap orang punya tujuan dan kepentingan yang tidak senada. Ada yang lambat, karena harus membantu orang yang tengah mengalami kecelakaan. Ada yang mempercepat laju karena sudah banyak yang menunggu bantuan. Dan lain sebagainya. (Serupa hidup dengan maut, jodoh, dan lain-lain yang sudah digariskan dan tiba dengan timing dan cara yang beragam).

Di bagian lain, menyetir kendaraan mungkin agaknya seperti menyetir kehidupan. Meleng sedikit, kita bisa tertinggal, didahului, atau bahkan yang paling parah kecelakaaan.  Maka seringkali, fokus yang kita alokasikan tidaklah main-main. Apalagi fokus kita untuk menyiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal kelak, tak terbayang berapa lelah-lillah yang perlu dialokasikan.

Ada mereka yang menikmati perjalanan dengan begitu menghayati setiap masanya. Pelan-pelan berkendara sembari hati-hati memandangi sekitar. Entah melihat peluang lain, atau memang hanya sekadar memaknai dan menyelami setiap detik anugerah yang diberikan.

Hingga maut tiba, hidup di dunia akan terus berjalan. Bukankah baik dari segi keimanan, harta, ilmu, fisik, usia dan apapun itu akan terus dinamis. Tak selamanya kita berada di tempat yang sama. Selama itu pula semoga kita istiqomah untuk tidak bosan meminta.

Karena itulah kita mungkin pernah berada di kondisi amat senang, antusias, ketagihan mengaji berlama-lama dan benci sekali pada syair-syair duniawi, tapi juga pernah di posisi malas membaca kalam ilahi dan malah lihai memencet playlist musik yang hakikatnya tak pernah bisa mewarnai sunyi. Pernah dengan mudah menyerap ilmu karena hati senantiasa direfresh dengan amal kebaikan, tapi juga pernah dalam posisi otak seakan tumpul, susah menyerap pelajaran.

Itulah kenapa dilarang untuk merasa lebih suci dan dianjurkan untuk senantiasa berdoa agar selalu dipatrikan keimanan pada hati. Atau terus bermimpi besar, karena harta, ilmu dan kebaikan pada diri dan untuk orang lain mampu diusahakan. Pun jangan pernah berputus asa jika diri menjadi amat terhina karena dosa yang menggunung. Sepanjang kita berusaha meremidinya, sungguh, Allah Maha Pengampun.
______

BTW, apa hanya karena aku yang culun saja hingga merasa speed kendaraan mereka yang mengemudi di kota ini (Surabaya) bikin ngos-ngosan. Tapi mau tidak mau seringkali wajib diikuti. Sama seperti kehidupan yang kadang mau tidak mau juga demikian. Padahal ini sudah sekitar lebih dari sepuluh kali kesini. Relatif tak banyak. Jadi mungkin cukup normal kalau pada perjalanan kedua, hampir satu jam lebih aku berkutat di jalan dan tempat yang sama sebab handphone sedang lobat dan aku benar-benar seperti kehilangan petunjuk, meski berulang kali bertanya ke penduduk sekitar. Benar-benar sama seperti kehidupan, kita butuh pedoman sebagai petunjuk agar tidak kelimpungan menjalani hidup yang benar.

Berbicara tentang benar, sebagai orang tua, anak, suami, istri, kakak, adik paman, bibi, dan seterusnya kadang kita tidak menyadari bagaimana seharusnya 'menyetir' dengan benar. Bahwa hanya karena kita lebih tua dan sebaliknya, lebih berpengalaman, (merasa) lebih berilmu dan lebih-lebih lainnya kita kerap tidak mau mendengar mereka yang lebih kanak. Walau yang disampaikan adalah kebenaran dan meski sebenarnya mereka hanya perlu didengar, bukan karena merasa pintar.

Hanya karena gender dan posisi dalam keluarga, kita akan menganggap seharusnya mereka hanya diam dan menurut, tanpa harus ikut andil menentukan pilihannya sendiri. Seolah kerbau yang dicucuk hidungnya. Tak bisa berjalan ke tempat selain yang diminta sang empu.

Kita juga akan lebih mudah mendikte dan menasehati orang lain, tanpa pernah mengoreksi cara kita atau bahkan tindak tanduk kita sendiri. Saat mereka menyampaikan pendapat, kita malah menyangka sedang didebat. Tak berhak memberikan opsi. Sudah sepantasnya mereka bungkam dan tak pernah bersuara. Sepertinya kita yang paling sempurna, dan satu-satunya yang perlu didengarkan. Tidak hanya itu, perkataan kitalah yang paling benar dan patut dituruti. Sungguh, huruf-hurufnya tak perlu direvisi barang sebiji.

Itu cuma satu sampel di satu lini kehidupan, bahwa kadang kita tidak berada di jalan yang benar melainkan terus merasa benar. Yang bisa terjadi di kantor, sekolah, dimana-mana. Duhai Rabbi, ampuni kami, bimbing kami agar lebih bijak mengemudi. Supaya tidak beranggapan jika apa-apa yang kami kendarai adalah milik pribadi, padahal hakikatnya Engkau yang memiliki.

_______

Pada akhirnya, ada banyak orang yang tak patah arang. Semua dilalui sebagai tempaan untuk beribu balasan kebaikan yang menunggu di depan. Jangan merasa final menganalisis, barangkali banyak kebaikan yang disaksikan dalam kacamata buruk. Maka daripada terus meributkan perilaku orang lain, lebih baik memperbaiki diri untuk senantiasa menjaga nyala semangat menggapai impian. Karena dengan kemampuan (yang bahkan rapuh mendapati perlakuan menyakitkan dari manusia) agaknya impian hanya disematkan bersama kata mustahil. Namun dengan daya dan kekuatan dari Allah tidak akan ada yang muskil.

Mimpi. Bukan hanya soal pribadi. Banyak yang ingin diuraikan agar mereka mengerti. Meski pada akhirnya akan terdengar klise karena membawa-bawa 'negeri'. Tak ada salahnya dengan mengkritisi. Asal jangan salah fokus, karena mungkin saja tidak ada yang lebih memahami jutaan sisi.

Pernahkah dianggap terlalu idealis? Sampai disangka sangat anti dengan pemahaman realistis. Bahwa ujar mereka, menjadi manusia tak akan semudah itu. Walau begitu seseorang akan selalu percaya: bahwa tak akan sesulit itu juga.

Bukan berarti mati rasa. Tapi, bukankah memperkeruh suasana memang bukanlah caranya. Maka selama hidup, impian harus menjadi harga mati. Ikhtiar untuk mendapatkannya memang tidak bisa ditawar lagi. Tapi yang terpenting bagi beberapa orang adalah doa dan harapan. Lalu pada siapa mereka menggantungnya.

__________

Tidak sama dengan idealnya harapan harusnya tidak lantas membuat seseorang berhenti berharap dan melangitkan impian. Meski definisinya akan terus bermetamorfosa dan barangkali kian mengandung beragam makna serta tujuan. Mungkin bagi beberapa orang akan terdengar konservatif. Tapi pintu bagi jalan yang tak disangka-sangka juga akan terus aktif.

Terbaca seperti bualan. Namun kenyataannya memang sudah banyak yang membuktikan. Sampai-sampai ada yang bilang. Kreativitas tidak pernah keluar dari keadaan yang serba nyaman. Maka dengan bertubi-tubi terpaan ketidakmungkinan. Akan selalu ada alasan untuk merapalkan doa dan harapan.

___________

Lihatlah. Siapa yang menyangka seseorang itu bisa berkesempatan memotret ini. Karena sungguh, dari kecil dan agaknya memang bawaan lahir, dia lebih suka berada di tempat hangat yang acapkali didefinisikan sebagai surga: rumah. Meski sebenarnya, keinginan untuk mengarungi belahan-belahan dunia kerapkali mendera.

Yang lebih tidak disangka lagi, kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat dia mengagumi sosok-sosok menginspirasi, salah satunya beliau. Bermimpi kelak bisa berkesempatan untuk banyak berdiskusi. Tak dinyana, dan dia pun juga tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi.

Beliau merasa dia yang membantu. Alih-alih mengamini ungkapan itu, ia malah merasa ialah yang telah banyak terbantu. Diskusi-diskusi yang mungkin bagi beberapa orang terdengar biasa, menjadi asupan-asupan hebat bagi dirinya. Kembali diingatkan betapa penting untuk terus me-refresh diri dengan menjaga kemurnian jiwa. Supaya lebih mudah membuka hati lagi mata.

Memang benar. Ada kalanya, pada banyak adegan kehidupan, kita perlu untuk benar-benar tidak mendengarkan orang lain. Semua ucapan dan tindakan yang mengarah pada kemorosotan kita. Sungguh, bukan ditujukan sebagai saran untuk kebaikan bagi pribadi kita yang sedang mencoba bertumbuh.

Orang lain. Iya, siapa pun itu. Orang yang kita kenal, atau bahkan orang dekat sekalipun. Apalagi orang yang belum pernah kita kenal dan mengenal kita. Tak perlu heran jika kemudian dengan mudah melontarkan hate speech. Karena kalau tujuannya ingin menjatuhkan--baik secara langsung maupun tidak--maka saat ngin bangkitpun mereka akan  mengira kita berlebihan. Saat kita terpuruk, bukannya memberi asupan semangat mereka malah mengutuk. Saat kita cerah, mereka justru gerah.

Mungkin pernah, orang-orang yang bahkan kita kagumi, orang-orang dekat, dan sebagainya justru meretakkan apa-apa yang sudah kita rintis dan bangun dengan susah payah. Entah itu berupa keyakinan, semangat, karya dan kawan-kawannya.

Bisa saja menurut mereka, itu hanya celetukan tak bermakna. Sedang bagi kita amat mendalam maksudnya. Bergentayangan di langit-langit kamar, berani-beraninya mengurangi jatah istirahat dari segala kepenatan. Karena itulah, jangan habiskan waktu dengan pikiran-pikiran tak mendesak. Jangan habiskan energi dengan hal-hal tak berarti. Jangan biarkan penat bertambah, lebih-lebih tak terhitung ibadah.

Padahal kita tidak pernah merasa bermasalah dengan hidup orang lain. Mereka senang, kita ikut bersuka cita. Bahkan meski tak pernah mengenal, selama yang dilakukan adalah kebaikan. Mereka terjatuh, kita ikut mendoakan meski hanya gemericik kecil di dalam hati. Mereka terlibat kabar miring, kita merasa tak perlu ikut campur memperkeruh, karena tak tahu betul.

Bisa jadi, opini yang sebenarnya kita ungkap dalam konteks yang sifatnya umum, disangka menyudutkan pribadi mereka. Dinilai ikut andil mengomentari entah itu cara bersikap, berpenampilan, dan lain sebagainya. Padahal sama sekali tidak demikian. Betul. Saat kita menulis A dalam cara pikir kita, orang atau mereka serta siapapun akan memiliki hasil tafsir mereka sendiri. Bisa terbaca B, C, dan seterusnya.

Tolong. Selama hidup, kita sama-sama belajar. Salah satunya untuk memahami bagaimana berpikir terbuka. Tidak hanya melihat satu hal dari satu sudut, yakni ego sendiri. Sebab seseorang yang kita ludahi itu butuh solusi, bukan malah dituduh lalu diracuni.

Kalau tebing yang dibangun sudah kokoh, kita akan tahan dengan mayoritas terpaan. Benar juga, ya. Sebelum bertanya siapa saja mereka. Baiknya kita tanya pada diri sendiri dulu. Jangan-jangan yang pertama kali menyusun narasi berbisa, menyumbangkan pikiran-pikiran buruk, busuknya keraguan dan bingkai pesimisme yang lambat laun mengakar adalah diri kita sendiri.

______

Lagi dan lagi, aku diceramahi diriku "yang lain". Kali ini dia bilang, "Ikutilah kata hatimu. Jangan dengarkan mereka. Fokuslah pada hatimu yang mungkin sedang sekarat. Pedulilah dengan kesehatannya, keberlangsungan hidupnya. Jangan biarkan dia mati, hingga kelak tak ada yang bisa kau dengar lagi."

Ah, jadi ingat penggalan tulisan dalam novel Jalan Cinta Para Pejuang karya Ustadz Salim. A. Fillah, "Setiap kemaksiatan yang kita lakukan menjadi noktah dosa yang menghitamkan hati. Awalnya nurani akan selalu mengirimkan tanda bahwa ia tersakiti. Tapi ketika hawa diperturutkan, dan maksiat terus dilakukan, diulang dan diulang, noktah-noktah dosa telah menjadi jeruji, membelenggu nurani hingga suaranya makin lirih. Padahal satu noktah dosa selalu mengundang teman-temannya. Hingga suatu ketika, hati mati rasa. "Hukuman terberat atas suatu dosa", kata Ibnul Jauzi dalam Shaidul Khathir, "Adalah perasaan tidak berdosa." Ya. Karena merasa tak berdosa adalah kain kafan yang membungkus hati ketika ia mati."

_______

Biar aku tulis disclaimer-nya: Perihal "dijatuhkan" tak melulu tentang seseorang yang sudah "berhasil" menurut definisi kebanyakan manusia. Sebab banyak yang dalam kondisi sedang tidak baik-baik saja, namun kian diinjak-injak. Walau penting untuk selalu diingat, bahwa Allah SWT akan selalu membersamai kita, kala yang lain memandang dengan ekor mata.

"Aku cinta diriku," ini kalimat yang bukan saja ku pelajari untuk  diucapkan, melainkan juga diamalkan. Memang betul, selama hidup, manusia akan terus belajar apa saja. Termasuk untuk kian belajar mencintai berawal dari memahami dan mencintai diri mereka. Ini adalah bukti usaha pengembangan diri. Karena mungkin saja kita memiliki impian yang besar---memberdayakan masyarakat---namun sebelum itu haruslah dimulai dengan memberdayakan diri terlebih dulu. Yang bisa sejenak kita pelajari dari catatan populer mengenai seseorang yang ingin mengubah dunia, namun pada akhirnya ia menyadari bahwa ialah yang harus berbenah diri sebagai langkah pertama misi akbarnya.

Bagiku, berbenah diri tidak melulu tentang menjadi pribadi lebih baik dan memanen hasil yang lebih baik dari sebelumnya. Sebab dengan berdamai dengan diri sendiri pun adalah bentuk membenahi diri. Menerima apapun yang sudah dilalui karena selain kita bukan penentu hasil, kita juga cuma manusia yang bisa salah, lelah, gagal, kecewa, menangis dan sisi lain lainnya dalam menapaki hidup.  Sisi-sisi itu tidak lantas diartikan dengan kekurangan, bahkan mungkin memang tidak sama sekali diartikan demikian. Itu normal dan manusiawi. Setelah itu, lebih manusiawi lagi kalau kemudian memaafkan diri dan menjadikan kesalahan di masa lalu sebagai kekuatan di masa depan. Ah, klise sekali, bukan?

Klise juga tapi benar adalah pernyataan bahwa  langkah merawat tubuh dari luar dan dalam akan mencerminkan bahwa kita mencintai diri kita. Tidak mesti diperlihatkan dengan berbelanja segunung barang branded, make up mahal dan makanan yang sulit dijangkau, atau menghadiri seminar tokoh populer demi mendapatkan sengatan semangat. Dengan hal-hal kecil seperti menjaga pola makan, mengaji, membersihkan kamar, membaca buku, mengucapkan kalimat positif, tidak menyia-nyiakan waktu, beramal dan kegiatan berarti lain (meski kadang juga tidak mudah diterapkan) juga membuat kita merasa menjadi manusia yang lebih berarti dan kian mencintai diri sendiri.

Bentuk mencintai diri sendiri juga bisa dilakukan dengan penerimaan kenyataan bahwa kita cuma manusia: yang bisa mengerjakan 'banyak' hal dalam 24 jam, tapi tidak 'semua' hal. Lagi-lagi narasi: cuma manusia---bukan malah meringankan kita untuk berbuat kesalahan, tidak produktif, tidak punya visi dan seterusnya. Melainkan justru dalam konteks ini menyajikan bagaimana kita bisa belajar menjadi manusia (Seperti kalimat awal bahwa kita akan terus belajar----manusia tempatnya lupa membuat mereka sekaligus (kerap) lupa menjadi manusia. Sampai-sampai lupa memanusiakan manusia). Jadi sebenarnya tidak perlu stres berlebih jika tidak semua list dalam schedule bisa tercentang, selama masih ada prioritas.

Sama halnya saat berbicara mengenai tahun baru dengan resolusi tahun lalu yang jumlahnya tidak sedikit tapi baru beberapa tercentang. Duh, rasanya kepala auto pusing. Aku mengira, itu adalah bentuk koreksi pada doa dan usaha yang kurang maksimal, padahal aku saja barangkali yang kurang bersyukur. Sampai akhirnya aku menemui satu 'ritual' yang banyak dilakukan oleh orang-orang 'besar' yang aku singkat menjadi: bersyukur. Belakangan aku tahu jika teknik ini banyak ditulis ulang dan dikembangkan oleh praktisi-praktisi pengembangan diri.

Langkahnya dengan menulis apa-apa yang sudah kita capai (sebelum tidur). Rasakan energi positif dan kebahagiannya mengalir. Ingat semua daya yang sudah diberikan Allah SWT untuk bisa menyelesaikan kegiatan-kegiatan itu. Lantas bersyukur. Karena meski hanya membantu membersihkan rumah (misalnya), membantu orang tua dan hal lain yang dianggap remeh, itu adalah sebuah pencapaian yang patut disyukuri.

Menyadari dan menerima bahwa tiap manusia memang akan selalu berbeda dalam banyak hal juga bentuk mencintai diri. Entah dari segi fisik, kekayaaan, jalan hidup atau apapun itu. Termasuk keunikan yang mampu menjadi kekuatan di tiap pribadi. Lalu percaya, jika tiap insan pasti dianugerahi potensi. Dengan begitu, tidak perlu membandingkan kehidupan yang kita jalani dengan orang lain, karena jalan yang kita pilih akan selalu berbeda. Pun saat pilihannya sama, hasilnya tidaklah sama. Jadi berbeda pilihan tidak selalu berarti salah. Kita akan menulis versi cerita kita sendiri.

Orang bilang, kita juga perlu jujur dalam memilih apa yang kita sukai. Karena kita berhak menentukan apa yang ingin kita jalani. Meski ada kalanya, kita tidak melulu memahami diri dengan do what we love tapi juga love what we do. Selain itu mungkin kita kerap merasa menjadi pribadi yang egois karena berani say no to not to do something karena ada hal prioritas yang juga harus dilakukan. Merasa egois karena tidak mau membantu orang lain dan hanya memikirkan diri sendiri. Namun ternyata, pada beberapa momen kita memang perlu mengutamakan diri guna menuntaskan kewajiban kita terlebih dahulu.

Intiya, mencintai diri sendiri dengan memperbanyak amal kebaikan dan menjauhkan diri dari kemudharatan. Memahami bahwa kita hanyalah seorang manusia. Kita hanya seorang hamba. Menjadi diri sendiri kapan pun dan dimanapun karena bagaimanapun kadarnya pasti akan dipertanggung jawabkan di hari nanti. Tidak melulu sibuk memperindah tampilan, namun memupuk isi senantiasa didahulukan. Juga hidup yang bukan hanya tentang diri sendiri tapi tentang manfaat yang bisa diberi. Memang berat diamalkan. Semoga Allah SWT ringankan.

"Duhai Allah, terima kasih atas seluruh nikmat di hari lalu dan nikmat karena memberikan kesempatan hingga hari ini dan barangkali esok hari. Di saat nikmat yang Engkau beri sejatinya tak pernah bisa aku tulis dan hitung, di saat itulah kudapati dosaku yang kian menggunung."

فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (١٣).

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan." (QS: Ar-Rahman: 13).

#backtoquran #selflove #selfnote #selfempoverment 💙

Kurang lebih dua kali dalam seminggu kaki ini Allah izinkan untuk menapaki RSUD di kotaku dalam kurun waktu hampir dua bulan. Aku amat bersyukur, saat pertama kali melihat dan mengamati tempat ini aku merasa banyak menyerap pelajaran. Karena nuraniku seolah bercerita panjang lebar dengan latar baru yang hadir menyesaki pikiran.

Lalu hari ini. Aku seolah berhenti sejenak. Sepersekian menit bahkan lebih, untuk merenungi apa yang sudah aku pelajari sejauh ini. Aku kemudian menyapukan pandangan ke sekitar. Ku lihat seperti biasa ramai orang duduk dalam antrean. Tapi nyatanya hatiku sepi, sepi dari pelajaran.

Berusaha lebih, akupun meletakkan HP pintar di tas bagian paling dalam. Berharap tidak ada hal yang akan mengalihkan. Namun tetap saja sama. Kosong. Hanya debu di depan daun pintu beterbangan karena terkena angin yang cukup kencang. Keringat dingin serupa kian membawaku sendirian, ke dalam keheningan.

Lalu lalang petugas dan pasien. Keluh kesah yang terselip dalam perbincangan panjang mereka tak juga memberi titik terang. Gelap. Sukar kudapati hikmah di sepanjang perkataan. Yang ada, kembali sendiri, seperti meratapi pribadi yang bagiku makin berubah ke arah yang hakikatnya tidak pernah ada satupun orang menginginkannya.

Aku kemudian menyeret ingatanku pada memori lama saat pertama kali sampai di sini. Harapan-harapan untuk sembuh dari orang-orang. Berbagai lini petugas dengan beragam karakter juga kian memperluas wawasan. Ada yang ramah bukan kepalang. Sabar dan tulus melayani tanpa membaca pangkat jabatan. Ada juga yang menyebalkan---siapa tahu---mungkin sedang memanggul berton-ton beban.

Kerap kali aku dibikin malu saat bertemu dengan orang-orang yang lebih tangguh menjalani hidup. Salah satu dari mereka ialah seorang nenek yang menopangkan tangan kirinya ke tongkat, berjalan seorang diri kesana kemari mengurusi rentetan tahapan untuk bisa mendapatkan pengobatan di rumah sakit. Setelah membagikan kisahnya, ternyata beliau mengidap penyakit jantung. Tak ku jumpai keluhan, yang kulihat hanyalah ketabahan dan segenap perjuangan.

Di beberapa sudut, beberapa petugas kebersihan menjalani kewajibannya dengan takzim. Hmm.

Lanjutan 👇

Belum dipindah, soon. Dari @l_utfiyah (Instagram)

Pagi itu aku pergi ke pasar lagi bersama ibu untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Ibu tidak sekuasa dulu berjalan kaki dengan jarak yang relatif jauh, bahkan meski hanya dari parkiran motor ke pintu utama pasar. Namun kali ini, kemuliaan hatinya mendorong ia mau tidak mau harus ke pasar untuk kepentingan orang lain tanpa mau diwakili. Jadilah aku ikut bersamanya. Sembari terbiasa menikmati suasana pasar yang sarat pesan, aku berjalan dibelakangnya, lebih tak kuasa sebenarnya melihat beliau berjalan tertatih dan perlahan. 

Hmm, waktu seolah melesat bak pacuan kuda. Bahkan lebih cepat, tidak terasa sebab sering membikin terlena. Lihat saja, ibu di usianya kini sudah tidak mampu berjalan lama-lama. Padahal rasanya seperti baru beberapa tahun lalu beliau mengerjakan apa saja, mengerahkan segenap tenaga, bahkan rela mengorbankan jiwanya sekalipun.

Benar, label beliau sejak dulu memang hanya seorang Ibu Rumah Tangga. Tapi sebenarnya yang beliau lakukan jauh daripada itu. Eits, aku mengatakan 'hanya' bukan karena merendahkan profesi mulia tersebut. Karena ibu memang tidak merangkapkan dirinya sebagai seorang guru, polwan, dokter, atau apapun secara formal. Tapi sekali lagi, bagiku beliau lebih daripada itu. Dan aku mengimani, setiap anak juga memiliki kesan mendalam terhadap orang tua mereka, apalagi seorang ibu.

Ibuku berasal dari keluarga yang sederhana. Merana. Mungkin kata itulah yang mendeskripsikan hampir dari sepanjang hidupnya saat kecil. Sejak kecil ibu sudah di tinggal pergi ibunya untuk melanjutkan hidup secara mandiri di dunia saat berusia sepuluh tahun. Saat itu seperti kebanyakan anak manusia, ia sangat memerlukan kasih sayang seorang ibu, tapi pena takdir menggoreskan warna tinta yang berbeda. Tapi baginya, beruntung selama sepuluh tahun ia dianugerahi kedua orang tua yang lengkap. Sampai akhirnya, Ayah yang menopang hidupnya menyusul mendiang sang istri.

Perih hati ibuku, menerima kenyataan yang menyedikan. Namun sewajarnya saja, sebab itulah hakikat kehidupan, yakni kematian. Ibu bukan wanita kecil yang lemah. Ia tetap melanjutkan hidup meski sulit menyalakan kembali api semangat yang sempat sirna. Berkat-Nya, ibu meneruskan jalan hidup yang kini semakin bertambah pelik, tinggal bersama nenek dan bibinya. Meski ia masih belia, ia tak mau diam memandangi kedua orang tua angkatnya itu bekerja.

Setiap hari ia memeras keringat, membantu mengerjakan hampir semua pekerjaan rumah: mencuci baju, memasak, menimba air, menyapu, bahkan menggiling padi dengan beban yang begitu berat. Belum lagi jaraknya yang jauh dan ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Semua ia kerjakan demi meringankan beban nenek dan bibinya yang berdagang di pasar dan tidak pernah menuntut apapun pada mereka. Semangatnya seakan tak pernah surut, semua pekerjaan yang berat meski dengan tubuhnya yang kecil, dianggap ringan saja baginya. Kehidupan telah menempanya menjadi sosok yang memiliki mental, semangat dan optimisme menjalani hidup dengan baik.

Ibu tumbuh menjadi sosok gadis yang cantik, kulit cerah bersih, dan senyumnya manis. (Kata orang, cantik itu relatif. Jadi apa salahnya aku memuji ibuku sendiri dengan pendapatku, hehe). Namun sayangnya ia tak pernah mengenyam pendidikan formal lantaran eratnya rantai kemiskinan. Bibi dan neneknya juga tak terlalu mafhum dengan masa depan dan pentingnya pendidikan untuk seorang yang bergender perempuan. Sebab itu ibu hanya cukup dimasukkan ke pesantren untuk belajar mengaji dalam kurun waktu yang relatif singkat.

Masa bergulir. Ibu menikah dengan bapak dan memiliki delapan orang anak. Kesabaran yang ia tanam sejak kecil justru kian tumbuh subur. Tak perlu kujelaskan betapa sabarnya ibu mengaruhi lautan hidup. Biar Allah yang catat, itu sudah lebih dari cukup. Dengan melihat jalan hidupnya, bahkan mungkin sejak lahir hingga kini telah merefleksikan betapa beliau adalah wanita yang kuat dan penyabar. *musik sedih, please! hehe.

Berbeda dengan hidupku. Selain mendapati nikmat pendidikan, kehidupan nyaman, dan nikmat yang tak terhitung jumlahnya, aku memiliki kedua orang tua yang dianugerahi umur panjang hingga sekarang. Sungguh itu nikmat tak terbilang. Terlebih, kedua sosok itu bukan hanya memberikan sokongan besar di setiap fase hidupku, namun juga penuh dengan ketidakterhinggaan mozaik kisah dan kasih yang tidak penah bisa dinegasikan keindahannya.

Ternyata benar, kalau melihat bagaimana cara orang tua mengarungi hidup, pastilah membuat kita merenung dan merasa malu. Lantas bergumam dengan lirih, "Duh, betapa hebatnya mereka." Bagaimana tidak, kita mungkin serupa bocah ingusan dalam bertindak. Cepat mengeluh, cengeng, lekas menyerah dan mudah menggerutu. Bahkan bisa jadi ada bocah ingusan yang bersikap lebih dewasa daripada itu. Lalu bagaimana saat dihadapkan pada kerasnya kehidupan, sedang kita masih terus membiarkan diri bersikap dan bersifat kekanak-kanakan?

Tak apa, sebelum semuanya terlambat. Kita masih punya waktu untuk meneladani karakter orang-orang hebat. Orang-orang di sekitar kita, khususnya kedua orang tua. Atau tidak mesti orang sekitar, jika memang tidak mendukung untuk itu. Masih banyak role model dengan karya menggelegar, menggetarkan kalbu. Di tempat nun jauh sekalipun yang dengan kecanggihan teknologi, kisah dan eksistensinya bisa dengan mudah kita ketahui. Pun bisa kita pahami meski mereka telah lama pergi. Karena telah diabadikan lewat tulisan ribuan tahun silam. Jangan jauh-jauh ke sosok yang sulit dicerna pelafalan namanya, karena kita memiliki uswatun hasanah yang rekam jejaknya bukan saja mendunia. Dialah Muhammad SAW. Manusia penerang bak rembulan kala malam.

__________

Semoga memang belum terlambat. Semoga Ibu kembali sehat dan Bapak sehat selalu. Semoga kita lekas bergerak. Meneladani sosok-sosok inspiratif sehingga mampu membahagiakan kedua orang tua, terlebih keluarga dan banyak orang---kata doa klise yang sebenarnya pengamalannya amat berat: berguna bagi bangsa dan agama. Semoga tidak pernah lelah untuk senantiasa melantunkan doa, agar tidak hanya bersama di dunia dalam iman dan ketaqwaan, melainkan berkumpul juga di akhirat dengan rahmat dalam keabadian. Aamiin.



وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman : 14)


#backtoquran #kisahibu #kasih ibu #love 

Memang hakikat tidak ada alasan untuk tidak bersyukur, kerapkali membuat diri selalu saja mencari celah untuk mengeluh. Begitulah karakter kompleks yang seringkali membersamai makhluk bernama manusia. Yang pada pengimplementasiannya, keluhan ini keluar dalam berupa-rupa bentuk.

Bentuknya terlihat dari seorang guru yang geram bukan main melihat beberapa murid yang tidak menunjukkan kemajuan yang bermakna. Malah kian mengekalkan perasaan yang terluka karena tingkah polanya.

Juga dari orang tua yang kesal karena telah mati-matian menutrisi anak dengan ilmu agama dan eloknya akhlak. Tapi kenapa hasilnya amat jauh dari ekspektasi. Padahal ia dan suami adalah orang yang alim, sejak kecil menjaga diri dari perbuatan yang dianggap sepele hingga yang paling dimurkai.

Seorang anak manusia yang nyaris berputus asa sebab berusaha siang dan malam membuka satu pintu rezeki, diselingi ibadah wajib dan tambahan sunnah tiada henti. Namun hasilnya masih selalu sama, penolakan dari berbagai macam perusahan, hampir tak terhitung jumlahnya.

Kecewanya seorang pemburu ilmu yang entah sudah berapa kali menjalani rentetan ikhtiar untuk berkesempatan meraih aliran pengetahuan lewat beasiswa. Realitasnya, memang belum saatnya ia menikmati buah manis, melainkan menelan pil pahit. Yang sejatinya menyehatkan, mendewasakan langkah kedepan.

Pejuang tugas akhir yang tertekan dengan revisi tanpa ujung. Sedangkan rasanya, perasan kerja keras sudah disampaikan hingga ujung. Tapi yang sedang diperoleh seolah tidak berujung, terus menggelisahkan dan kian membikin bingung.

Pelajar yang gagap definisi 'sukses' karena sudah menempa diri dan terus berusaha menjaga nilai yang tertera dan diri yang taqwa, namun malah gagal lolos perguruan tinggi yang diidam-idamkan di sepanjang usia.

Ada hamba-hamba lain, percaya diri telah menamatkan kiat-kiat memperoleh jodoh, keturunan, kemapanan, prestasi, dan aneka pencapaian lain---pada satu waktu harus kembali menekuri keberuntungan yang sepertinya tidak pernah berpihak pada mereka.

Dan lain-lain.

Ternyata, kalau dipikir lagi dan lagi, atau mungkin sudah cukup sekali berpikir, bahwa tujuan dari semua kepayahan yang dilakukan tiap insan adalah untuk Allah Azza Wa Jalla, untuk beribadah. Mereka membacanya berulang kali per hari dalam sholat. Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati, lillaahi rabbil 'alamin. Lantas kenapa merasa tidak terima dengan hasilnya. Toh, Allah tidak akan melihat hasil, tapi menimbang usahanya. Sekecil apapun kebaikan dan perjuangannya, meski hanya sekecil biji zarrah, meski hanya sebutir pasir sepanjang diniatkan karena Allah.

Aku jadi ingat salah satu nasihat dari Alm. KH. Maimoen Zubair lewat sosial media yang sarat makna. Dawuh beliau, "Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan pada Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah."

Kisah keshalihan Nabi Nuh yang justru punya anak durhaka bernama Kan'an. Dan cerita mengenai Rasul yang bersedih karena pamannya wafat dalam keadaan kafir, meski Rasul senantiasa mendoakan beliau memperoleh hidayah juga kian membuka mata kita. Tentang betapa kita hanya mampu berusaha, berdoa dan tidak berputus asa hingga akhir hayat. Karena memang Allah Maha Mengetahui yang terbaik dan Allah yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu.

Jadi, kalau hidup dan mati untuk Allah dan untuk beribadah kepada-Nya, harusnya tidak perlu berlama-lama pening menerima takdir yang acapkali pahit dirasa. Yang terpenting, tidak berhenti berusaha dan pantang patah arang----mengatur rencana, strategi dan jalan baru untuk memperoleh kebaikan-kebaikan di dunia dengan cara dan jalan paling tepat bagi Allah. Agar kelak semoga timbangannya bisa berisi bakal meraup rahmat dan kebahagiaan yang abadi di akhirat. Kholidina fiha abada. Kekal didalamnya dan abadi. Bukankah pada akhirnya ini impian terbesar manusia dalam hidup?

Tidak ada yang bisa menghentikan manusia untuk terus memperoleh kebaikan dari-Nya dalam kapasitasnya masing-masing. Bahkan tidak juga diri sendiri. Siapa lagi jika enggan memulai dari diri sendiri yang menguatkan. Yang tiada pernah berhenti memohon daya dan kekuatan untuk senantiasa bertaqwa dan dibimbing hingga mencapai kemenangan yang sejati.

____________

Kalau aku biasanya tidak menyalahkan orang lain apalagi Sang Pencipta atas semua yang aku hadapi silih berganti. Aku malah acapkali cenderung berdefinisi menyalahkan diri sendiri, tentang apakah aku yang kurang berdoa dan berusaha maksimal untuk terus menjadi pribadi yang berperilaku baik di setiap kesempatan, mengamalkan ilmu dari cara yang paling sederhana misalnya, dan terus belajar. Memang, intropeksi itu penting. Namun satu yang mungkin sering luput dari pemahamanku adalah, jika hal tersebut mengarah kepada berlebihan apalagi menyalahkan, maka dikhawatirkan termasuk dalam berandai-berandai yang dilarang dalam agama berupa penyesalan atau protes terhadap takdir. Naudzubillah.

Maka nuraniku (layaknya orang tua yang dengan cara apapun kerap menjaga anaknya) seperti memekik padahal pelan berbisik, "Nak, dalam melangkah, jangan lupakan berupa-rupa nikmat yang hadir dalam kehidupan. Nikmat kesehatan, nikmat pendidikan, nikmat kelapangan, nikmat keluarga yang membahagiakan dan nikmat lain yang seringkali tak pernah diperhitungkan. Jangan juga terlupa untuk memohonkan doa. Supaya kenikmatan-kenikmatan itu bisa berguna melalui petunjuk-Nya yang memesona. Dan, senantiasa hidup untuk Allah dan beribadah kepada-Nya. Sebab jikalau sudah memahami untuk siapa dan untuk apa kamu hidup, akan lebih mudah memiliki jiwa yang lapang sampai usia tertutup. Alih-alih terus merisaukan hasil, setelah jungkir balik melewati terpaan kerikil hingga yang paling muskil, kamu malah selalu menyerahkan keputusan pada Allah Yang Maha Adil. Karena sungguh, Dia yang pegang andil dan memahami tiap resikonya sampai teramat detil.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٦٢) 

“Katakanlah : Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An'am: 162)

Eyang Habibie. Seseorang yang menginspirasi dengan segudang prestasi (makna 'prestasi' disini lapang sekali). Sosok ini tepat tiga hari lalu pergi dari bumi menuju tempat yang abadi. Meski begitu, sejatinya karya-karyanya menjadi saksi. Dan kebaikan-kebaikan yang beliau tularkan masih bisa kita nikmati dimana-mana. Di dunia nyata, bahkan---karena zaman melesat begitu cepat perubahannya---kita bisa mendapatinya di dunia maya.

Itulah yang membuat aku, alih-alih melihat pemberitaan kepergian salah satu panutan bangsa itu, aku malah menyaksikan yang lain, konten-konten menginspirasi yang telah lebih dulu dipublikasi. Karena meski aku adalah salah satu pemuda yang amat biasa dan mengagumi tanpa pernah bertatap muka, entah mengapa aku tidak bisa menyaksikan pemberitaan itu lama-lama, sedih dan perih, meski hakikatnya setiap kita akan mengalaminya juga. Dan duka ini aku yakin banyak dirasakan oleh banyak anak bangsa. Seperti saat tokoh-tokoh alim lain tengah berpulang ke kepangkuan Yang Maha Kuasa.

Omong-omong tentang pencapaian beliau, sebenarnya itu semua tidak lepas dari jerih payah panjang yang akhirnya berbuah manis. Konsistensi usaha dan doa-doa yang mengalir membersamai keimanan dan ketaqwaan membawa Eyang Habibie ke perjalanan-perjalanan dan pelajaran yang menakjubkan. Kisah-kisahnya juga menggetarkan. Salah satunya seperti kala mengharumkan negeri di kancah internasional.

Bagiku, momen perjuangan menimba ilmu dan berbesar hati meninggalkan kewemahan di Jerman untuk berkontribusi di Bumi Pertiwi juga tidak kalah mencengangkan. Menggambarkan, betapa tujuan untuk menghilangkan kebodohan bukan lantaran ingin memperkaya diri, melainkan untuk ikut membangun 'rumah' sendiri---walau aku tidak bilang, tinggal di luar negeri artinya tidak bisa berkontribusi secara nyata. Karena nyatanya, banyak diaspora yang ikut andil mendorong kemajuan bangsa.

Maka petuah yang keluar dari lisannya bukanlah bualan semata, karena beliau pernah di masa-masa sulit dan masa-masa perjuangan itu. Saat beliau diminta untuk memberikan pesan pada para penerus bangsa pada satu momen, ungkapnya: mereka harus unggul pada bidangnya masing-masing dan bisa bekerja sama dalam tim, alias memiliki kemampuan teamwork yang baik. Sebagai sebuah team, mereka harus unggul dalam segala bidang memperjuangkan kepentingan bersama, adanya transparansi dan berbudaya.

Saat ditanyai tentang apa yang membuat Eyang Habibie marah dengan cucunya, beliau menjawab: Di waktu mereka menggunakan teknologi (dalam hal ini gadget) hanya untuk game (mungkin dalam porsi yang berlebihan, sampai lupa waktu dan banyak menyebabkan kemudharatan, jadi aku kemudian menyimpulkan bahwa kata 'game' hanyalah istilah, karena apapun itu jika berlebihan, membutakan dan melalaikan kewajiban yang sebenarnya harus kita kerjakan sebagai hamba, maka sama saja konteksnya). Tambahnya, anak muda (yang lebih familiar disebut sebagai Kids Zaman Now) harus mengerti, jika hidup adalah kerja keras bukan gambling atau perjudian.

Masih berhubungan dengan pesannya untuk menjadi 'unggul', beliau menyarankan anak muda untuk menyibukkan diri membaca buku dengan tema-tema yang disukai dan ditekuni (dalam bidang itu).
Sehingga goal-nya adalah, menimba ilmu tidak untuk menjadi lulus, melainkan untuk mencari tahu jawaban atas ketidaktahuan yang pada akhirnya bisa diaplikasikan untuk kebermanfaatan. Pada bagian ini aku seolah diminta untuk menancapkan lagi apa-apa yang ingin aku tekuni, aku suka dan apa tujuan akhirnya. Begitulah, banyak sekali cara memaknai hidup versi beliau bertebaran, aku mencoba menyampaikan kembali (beberapa) yang paling berkesan.

Aku juga jadi diingatkan lagi tentang gumaman nuraniku beberapa hari yang lalu: "Setiap sentuhan di layar HP pintarmu ini akan dipertanggung jawabkan. Maka gunakanlah untuk perkara yang berfaedah saja. Supaya jerih payah atas benda ini bisa membuahkan amal kebaikan yang mengalir dan dicatat juga. Sepatu, baju, dan beragam hal yang ada pada dirimu juga gunakanlah untuk kebaikan. Agar buah yang kelak dipetik bisa sepadan dengan pengorbanan-pengorbanan yang telah dilakukan. Belum lagi jika berbicara perihal badan yang juga merupakan titipan. Pada masanya, tiap organ akan dimintai kejelasan, oleh yang Maha Memiliki Kehidupan.

Entah sudah berapa kali aku diperingatkan tentang hal ini. Juga entah sudah berapa catatan yang menyinggung perihal ini. Seperti aku yang entah sudah berapa kali diberikan nikmat untuk menikmati buah jeruk keprok yang rasanya nikmat. Manis, diselipi asam-asam segar seolah menggambarkan manisnya buah tidak terlepas dari asamnya jerih payah  yang menyegarkan. Membuat hidup terasa lebih bervariasi. Seperti apa yang dijalani dan dicurahkan Eyang Habibie.

Terima kasih, Eyang. Kisahmu akan dikenang. Semoga tenang. Di sisi terindah oleh Yang Maha Penyayang. Tak kalah penting, doa untuk kita yang tengah berjuang. Supaya Allah berkenan menjadikan kita semua sebagai 'pemenang'.

Mengingat setiap perjuangan dan perjalanan panjang kadang menjadi salah satu cara sederhana supaya semangat lebih tersengat. Lalu, menuliskannya membuat manusia dengan tipikal mudah lupa bisa membacanya kembali kapan saja, baik berupa dokumen pribadi maupun yang bersifat massa. Nilai tambah lainnya, mereka akan lebih bersyukur. Karena telah diberikan kekuatan untuk melampaui tiap perjalanan terjal, berliku bahkan curam dengan langkah-langkah yang kerap rapuh dimakan pemikiran buruk, bermetamorfosa menjadi racun mematikan, meciutkan kepercayaan diri.

Kawan, lihatlah kita sudah sampai pada langkah ini. Kata orang bijak, jangan berhenti jika bukan untuk beristirahat sejenak. Teruslah berjalan menapaki kehidupan yang kian nampak bentuk sesungguhnya. Kian hilang kabut yang menutupinya. Yang membuat ia seringkali menjelma fatamorgana. Teruslah merapalkan doa, semoja senantiasa berada pada jalur terbaik dan alur yang tepat. Bukan demi mengedepankan gengsi atau ambisi pribadi. Melainkan karena tujuan paling suci: untuk beribadah kepada Sang Illahi. Sebab tiap kepayahan di dunia tiadalah berguna, sampai selalu beorientasi pada keabadian, diniatkan untuk-Nya.

___________

Aku kemudian mengingat, betapa banyak orang yang mendapati perjalanan yang lebih tidak mulus, tapi melangkah terus. Meski cobaan itu relatif. Tergantung pribadi, situasi dan kondisi. Jadi tak bisa dibandingkan-dibandingkan. Sama seperti 'keberhasilan'. Hasil dan definisi dari kata itu seringkali tidaklah sama. Ucap satu kalimat kutipan yang bertebaran, bunga tidak selalu mekar bersamaan, melainkan bergantian. Aku sendiri belum mencari tahu, siapa yang menulis itu.

Namun perjalanan menyeramkan dari testimoni banyak orang jangan kemudian menjadi alibi untuk berhenti. Justru itu mampu melecut semangat lebih jauh lagi. Betapa banyak kesulitan yang bergelimang kemudahan hingga bisa hidup sampai hari ini. Inna ma'al usri yusro. Maka, semangat jangan sampai padam. Redup boleh. Tapi jangan melama. Karena kita cuma manusia biasa. La hawla wala quwwata illa billah. Kita hanya mampu berharap dan mengemis APAPUN pada-Nya.

Itulah kenapa, dalam perjalanan menggapai sesuatu, meski aku kerap berbicara pada hati kecil: bagaimana bisa aku menggapainya jika aku bukanlah orang yang teramat rajin belajar-cerdas-pintar dan sebagainya, aku sungguh paham kemampuan diri karena masih kurang tekun menempanya dengan konsistensi, aku juga belum menjadi orang - orang yang berusaha di atas rata-rata mayoritas manusia---hati kecilku menimpali: tenanglah, Allah punya segalanya. Teruslah berdoa agar diberikan daya untuk terus berupaya keras dan mengalirkan doa deras-deras. Niscaya Allah mudahkan. Itu sudah janji-Nya, tak terbantahkan.  Ud'uni astajib lakum.

Karena katanya, hidup (dalam beribadah) bukan perkara se-simple sekolah, kuliah, menikah, memiliki anak lalu mati (Meski menghadapi itu sebenarnya juga tidak simple, ya hehehe). Tiap manusia dianugerahi potensi, yang akan dipertanggung jawabankan pada hari yang sudah ditentukan. Saat dimana sekecil apapun berbuatan diperhitungkan oleh kecanggihan alat yang bahkan tidak pernah bisa kita bayangkan.

Jadi,

Untuk kamu dengan segala impian yang (katanya) mustahil dan seringkali bikin mengigil.

Untuk kamu yang merasa tidak ada satupun yang mendukung dan menjadi orang paling tidak beruntung.

Untuk kamu yang diremehkan hingga jatuh berkali-kali karena prosesnya memang tidak seperti menjentikkan jemari.

Untuk kamu dengan berlapis tekanan keadaan yang mungkin jauh dari perkiraaan orang-orang.

Untuk kamu yang mengarungi jalur penuh cacian dan lara lantaran berbeda dari kebanyakan manusia.

Untuk kamu yang sedang merintis menjadi versi terbaik dirimu meski harus kerapkali meringis.

Jangan bersedih. Jangan takut. Sungguh, di dunia ini kamu tidak sendiri. Ada mereka yang juga tengah berlari menyulam mimpi-mimpi. Ada juga yang tulus  mendoakan di malam-malam sepi.

Tapi, yang terpenting ada Allah, tuhan pemilik alam semesta, yang 'kan menggengam setiap asa. Dia Yang Maha Segala, setia membantumu kala terjatuh untuk kembali berdiri, bahkan berlari. Mengejar kembali mimpi. Dengan niat lurus dan kemuliaan tak terperi.

  اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَـقِيْمَ (٦)
"Tunjukilah kami jalan yang lurus." (QS. Al-Fatihah: 6)

Sebagai manusia, mungkin kita pernah berada di titik rasa puas. Baik sebagai hamba. Maupun sebagai anak dari pasangan seorang manusia.

Kita merasa puas, karena barangkali kita telah banyak membanjiri kedua orang terkasih dengan hujan materi. Bahkan telah berulangkali memberangkatkan mereka ke tanah suci. Sampai kita kemudian terlupa dan tidak sadar diri. Bahwa apapun yang kita berikan tidak akan mampu melampaui pengobanan mereka.

Kita juga merasa puas. Karena merasa telah banyak memperkaya hari dengan setumpuk amalan yang bagi kita lebih dari hitungan jemari. Padahal siapa yang menjamin, mereka justru terkikis dengan kemaksiatan-kemaksiatan lain yang lalai kita identifikasi.

Seorang ustadz pernah menyampaikan hal ini dalam dakwahnya. Bahwa bisa jadi kita telah berhijrah. Lahir dan batin. Hijrah dari dosa-dosa lama yang berpilin-pilin. Tapi setan tak akan tinggal diam. Mereka akan terus ambil bagian. Menjerumuskan kita ke dalam dosa yang bahkan jauh lebih berat dari menzinai ibu sendiri. Benar saja. Kita hijrah lahir batin, tapi lidah masih sering mencaci dan menhujat lalu mengafirkan sesama muslim. Iya, kita dengan mudah menodai kehormatan orang mukmin. Apakah itu yang dimaksud lahir batin?

Kita juga merasa puas karena telah berhijrah. Tapi masih dengan mudah menyakiti hati orang tua. Ungkapnya, atas hal ini Rasul bersabda, tidak ada kebaikan yang Allah segerakan didunia kecuali kebaikan kepada orang tua. Dan tidak ada kejahatan yang Allah segerakan pula di dunia sebelum kelak kejahatan itu di balas di akhirat, kecuali kejahatan kita kepada orang tua. Tambah beliau, jangan pernah berbicara kasar hanya karena ingin melakukan kebaikan. Karena kebaikan selalu disampaikan dengan cara yang baik. Apalagi kepada kedua orang tua.

Dari dua contoh ini kita akan lebih menyadari. Ternyata, merasa puas menjadikan kita pribadi yang amnesia dengan kata intropeksi. Juga membuat kita seolah tidak mau berbagi surga yang begitu luas. Padahal tetap saja terasa sepi jika ditinggali seorang diri.

Bagiku, pada banyak momen, dunia itu seringkali unik atau bahkan membingungkan. Ada banyak hal yang membuatku bingung dan bertanya-tanya. Salah satunya seperti sekarang ini. Kala aku tengah menikmati kepingan dari bagian pernik kecil dunia bernama Media Sosial. Disitu ada beberapa lapisan tujuan yang membuat adanya beragam 'makanan' yang bisa ditelan penggunanya, seperti ilmu, karya-karya mulai dari yang asal hingga yang paling niat nan bermutu, teman, dagangan atau sekedar bahan hiburan bahkan propaganda yang sengaja diselubungkan agar mudah merajelela.

Pertanyaanku satu, jika kemudian terlalu banyak hal yang tidak termasuk dalam prioritas tetapi mampu memenuhi sebagian besar dari isi kepala maka: apa pentingnya? Iya, terlalu banyak informasi agaknya menjadi salah satu bentuk berlebih-lebihan atau mungkin bisa sarat akan kesia-sian yang seiring berjalannya masa tidak menyehatkan jiwa dan pikiran. Hal-hal itu kadang-kadang bukan menjadi jalan untuk menghapus beban, melainkan hanya semu. Justeru semakin memberatkan saat kian diulang-ulang.

Inilah yang mendorongku untuk off line untuk beberapa waktu pada beberapa kesempatan yang aku punya. Itu bukan berarti aku tidak ingin terus relevan dengan zaman. Hanya saja, ingin mendapati suasana hati yang lebih tentram dan nyaman. Apalagi tanpa harus dipublikasikan. Memang, semua bisa menjadi pelajaran, apalagi perihal kebaikan. Barangkali bisa menjadi bahan untuk terus saling mengingatkan. Namun kadang, perasaan takut koyaknya iman dan taqwa yang dirasa begitu tipis dengan beragam penyakit hati di era kekinian juga acapkali membuat langkah tertahan dan kalbu meringis.

Sampai harus seperti itukah? Padahal, kan, tidak semua orang mengikuti banyak sosok-sosok populer dalam media sosialnya, apalagi jika mereka adalah role model penggugah semangat dan inspiratif. Juga, tidak semua orang juga tidak memiliki visi yang jelas untuk itu. Ada banyak pihak yang kemudian telah merancang matang-matang agar banyak umpan yang bisa tertarik dan masuk dalam 'kandang'. Sehingga, bagi orang kebanyakan, muskil untuk terlalu banyak terpapar ilusi lalu lupa untuk bergerak memperkaya kapasitas diri, bukan hanya sibuk dengan hidup 'sosok' lain. Sedang bentuk visi terancang tetap tidak lepas dari target pasar dalam memasarkan produk-produknya. Tidak, tidak, masih banyak yang menyodorkan kebaikan. Lagipula, bukankah semua tergantung pada sang empu diri apakah mau menyerap lebih mendalam banyak pelajaran agar lebih memaknai kehidupan?

Sungguh. Bukan begitu maksudku. Hanya saja, penting untuk berbicara dengan diri sendiri agar kian memahami kebutuhan diri. Jangan sampai media sosial membuat jati diri yang sudah dan sedang terbentuk dari kecil, kepalang terkikis karena telalu menyibukkan hidup dengan hidup dan pencapaian orang lain. Melupakan kenyataan bahwa tiap manusia memiliki hidup dan kesempatan yang sama untuk lebih memaknai hidupnya. Karena meski banyak yang bisa diambil, aku dan media sosial adalah dua hal yang berbeda. Aku perlu lebih mengerti diriku ketimbang lebih memahami seluk beluk yang tersebar di media sosial, yang kadang kala tidak membuat pribadiku menjadi lebih baik lagi.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Tomato
  • Yang Ga Diminta Aja Allah Kasih, Apalagi yang Iya
  • Air Zam - zam
  • Oretan Akhir Periode
  • Not Fair
  • Door Duisternis Tot Licht
  • Obsesi?
  • DAY 7 - Bersih-bersih dan Silaturahim
  • Kapan Nikah?
  • Rindu Rasulullah

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates