Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Eyang Habibie. Seseorang yang menginspirasi dengan segudang prestasi (makna 'prestasi' disini lapang sekali). Sosok ini tepat tiga hari lalu pergi dari bumi menuju tempat yang abadi. Meski begitu, sejatinya karya-karyanya menjadi saksi. Dan kebaikan-kebaikan yang beliau tularkan masih bisa kita nikmati dimana-mana. Di dunia nyata, bahkan---karena zaman melesat begitu cepat perubahannya---kita bisa mendapatinya di dunia maya.

Itulah yang membuat aku, alih-alih melihat pemberitaan kepergian salah satu panutan bangsa itu, aku malah menyaksikan yang lain, konten-konten menginspirasi yang telah lebih dulu dipublikasi. Karena meski aku adalah salah satu pemuda yang amat biasa dan mengagumi tanpa pernah bertatap muka, entah mengapa aku tidak bisa menyaksikan pemberitaan itu lama-lama, sedih dan perih, meski hakikatnya setiap kita akan mengalaminya juga. Dan duka ini aku yakin banyak dirasakan oleh banyak anak bangsa. Seperti saat tokoh-tokoh alim lain tengah berpulang ke kepangkuan Yang Maha Kuasa.

Omong-omong tentang pencapaian beliau, sebenarnya itu semua tidak lepas dari jerih payah panjang yang akhirnya berbuah manis. Konsistensi usaha dan doa-doa yang mengalir membersamai keimanan dan ketaqwaan membawa Eyang Habibie ke perjalanan-perjalanan dan pelajaran yang menakjubkan. Kisah-kisahnya juga menggetarkan. Salah satunya seperti kala mengharumkan negeri di kancah internasional.

Bagiku, momen perjuangan menimba ilmu dan berbesar hati meninggalkan kewemahan di Jerman untuk berkontribusi di Bumi Pertiwi juga tidak kalah mencengangkan. Menggambarkan, betapa tujuan untuk menghilangkan kebodohan bukan lantaran ingin memperkaya diri, melainkan untuk ikut membangun 'rumah' sendiri---walau aku tidak bilang, tinggal di luar negeri artinya tidak bisa berkontribusi secara nyata. Karena nyatanya, banyak diaspora yang ikut andil mendorong kemajuan bangsa.

Maka petuah yang keluar dari lisannya bukanlah bualan semata, karena beliau pernah di masa-masa sulit dan masa-masa perjuangan itu. Saat beliau diminta untuk memberikan pesan pada para penerus bangsa pada satu momen, ungkapnya: mereka harus unggul pada bidangnya masing-masing dan bisa bekerja sama dalam tim, alias memiliki kemampuan teamwork yang baik. Sebagai sebuah team, mereka harus unggul dalam segala bidang memperjuangkan kepentingan bersama, adanya transparansi dan berbudaya.

Saat ditanyai tentang apa yang membuat Eyang Habibie marah dengan cucunya, beliau menjawab: Di waktu mereka menggunakan teknologi (dalam hal ini gadget) hanya untuk game (mungkin dalam porsi yang berlebihan, sampai lupa waktu dan banyak menyebabkan kemudharatan, jadi aku kemudian menyimpulkan bahwa kata 'game' hanyalah istilah, karena apapun itu jika berlebihan, membutakan dan melalaikan kewajiban yang sebenarnya harus kita kerjakan sebagai hamba, maka sama saja konteksnya). Tambahnya, anak muda (yang lebih familiar disebut sebagai Kids Zaman Now) harus mengerti, jika hidup adalah kerja keras bukan gambling atau perjudian.

Masih berhubungan dengan pesannya untuk menjadi 'unggul', beliau menyarankan anak muda untuk menyibukkan diri membaca buku dengan tema-tema yang disukai dan ditekuni (dalam bidang itu).
Sehingga goal-nya adalah, menimba ilmu tidak untuk menjadi lulus, melainkan untuk mencari tahu jawaban atas ketidaktahuan yang pada akhirnya bisa diaplikasikan untuk kebermanfaatan. Pada bagian ini aku seolah diminta untuk menancapkan lagi apa-apa yang ingin aku tekuni, aku suka dan apa tujuan akhirnya. Begitulah, banyak sekali cara memaknai hidup versi beliau bertebaran, aku mencoba menyampaikan kembali (beberapa) yang paling berkesan.

Aku juga jadi diingatkan lagi tentang gumaman nuraniku beberapa hari yang lalu: "Setiap sentuhan di layar HP pintarmu ini akan dipertanggung jawabkan. Maka gunakanlah untuk perkara yang berfaedah saja. Supaya jerih payah atas benda ini bisa membuahkan amal kebaikan yang mengalir dan dicatat juga. Sepatu, baju, dan beragam hal yang ada pada dirimu juga gunakanlah untuk kebaikan. Agar buah yang kelak dipetik bisa sepadan dengan pengorbanan-pengorbanan yang telah dilakukan. Belum lagi jika berbicara perihal badan yang juga merupakan titipan. Pada masanya, tiap organ akan dimintai kejelasan, oleh yang Maha Memiliki Kehidupan.

Entah sudah berapa kali aku diperingatkan tentang hal ini. Juga entah sudah berapa catatan yang menyinggung perihal ini. Seperti aku yang entah sudah berapa kali diberikan nikmat untuk menikmati buah jeruk keprok yang rasanya nikmat. Manis, diselipi asam-asam segar seolah menggambarkan manisnya buah tidak terlepas dari asamnya jerih payah  yang menyegarkan. Membuat hidup terasa lebih bervariasi. Seperti apa yang dijalani dan dicurahkan Eyang Habibie.

Terima kasih, Eyang. Kisahmu akan dikenang. Semoga tenang. Di sisi terindah oleh Yang Maha Penyayang. Tak kalah penting, doa untuk kita yang tengah berjuang. Supaya Allah berkenan menjadikan kita semua sebagai 'pemenang'.

Mengingat setiap perjuangan dan perjalanan panjang kadang menjadi salah satu cara sederhana supaya semangat lebih tersengat. Lalu, menuliskannya membuat manusia dengan tipikal mudah lupa bisa membacanya kembali kapan saja, baik berupa dokumen pribadi maupun yang bersifat massa. Nilai tambah lainnya, mereka akan lebih bersyukur. Karena telah diberikan kekuatan untuk melampaui tiap perjalanan terjal, berliku bahkan curam dengan langkah-langkah yang kerap rapuh dimakan pemikiran buruk, bermetamorfosa menjadi racun mematikan, meciutkan kepercayaan diri.

Kawan, lihatlah kita sudah sampai pada langkah ini. Kata orang bijak, jangan berhenti jika bukan untuk beristirahat sejenak. Teruslah berjalan menapaki kehidupan yang kian nampak bentuk sesungguhnya. Kian hilang kabut yang menutupinya. Yang membuat ia seringkali menjelma fatamorgana. Teruslah merapalkan doa, semoja senantiasa berada pada jalur terbaik dan alur yang tepat. Bukan demi mengedepankan gengsi atau ambisi pribadi. Melainkan karena tujuan paling suci: untuk beribadah kepada Sang Illahi. Sebab tiap kepayahan di dunia tiadalah berguna, sampai selalu beorientasi pada keabadian, diniatkan untuk-Nya.

___________

Aku kemudian mengingat, betapa banyak orang yang mendapati perjalanan yang lebih tidak mulus, tapi melangkah terus. Meski cobaan itu relatif. Tergantung pribadi, situasi dan kondisi. Jadi tak bisa dibandingkan-dibandingkan. Sama seperti 'keberhasilan'. Hasil dan definisi dari kata itu seringkali tidaklah sama. Ucap satu kalimat kutipan yang bertebaran, bunga tidak selalu mekar bersamaan, melainkan bergantian. Aku sendiri belum mencari tahu, siapa yang menulis itu.

Namun perjalanan menyeramkan dari testimoni banyak orang jangan kemudian menjadi alibi untuk berhenti. Justru itu mampu melecut semangat lebih jauh lagi. Betapa banyak kesulitan yang bergelimang kemudahan hingga bisa hidup sampai hari ini. Inna ma'al usri yusro. Maka, semangat jangan sampai padam. Redup boleh. Tapi jangan melama. Karena kita cuma manusia biasa. La hawla wala quwwata illa billah. Kita hanya mampu berharap dan mengemis APAPUN pada-Nya.

Itulah kenapa, dalam perjalanan menggapai sesuatu, meski aku kerap berbicara pada hati kecil: bagaimana bisa aku menggapainya jika aku bukanlah orang yang teramat rajin belajar-cerdas-pintar dan sebagainya, aku sungguh paham kemampuan diri karena masih kurang tekun menempanya dengan konsistensi, aku juga belum menjadi orang - orang yang berusaha di atas rata-rata mayoritas manusia---hati kecilku menimpali: tenanglah, Allah punya segalanya. Teruslah berdoa agar diberikan daya untuk terus berupaya keras dan mengalirkan doa deras-deras. Niscaya Allah mudahkan. Itu sudah janji-Nya, tak terbantahkan.  Ud'uni astajib lakum.

Karena katanya, hidup (dalam beribadah) bukan perkara se-simple sekolah, kuliah, menikah, memiliki anak lalu mati (Meski menghadapi itu sebenarnya juga tidak simple, ya hehehe). Tiap manusia dianugerahi potensi, yang akan dipertanggung jawabankan pada hari yang sudah ditentukan. Saat dimana sekecil apapun berbuatan diperhitungkan oleh kecanggihan alat yang bahkan tidak pernah bisa kita bayangkan.

Jadi,

Untuk kamu dengan segala impian yang (katanya) mustahil dan seringkali bikin mengigil.

Untuk kamu yang merasa tidak ada satupun yang mendukung dan menjadi orang paling tidak beruntung.

Untuk kamu yang diremehkan hingga jatuh berkali-kali karena prosesnya memang tidak seperti menjentikkan jemari.

Untuk kamu dengan berlapis tekanan keadaan yang mungkin jauh dari perkiraaan orang-orang.

Untuk kamu yang mengarungi jalur penuh cacian dan lara lantaran berbeda dari kebanyakan manusia.

Untuk kamu yang sedang merintis menjadi versi terbaik dirimu meski harus kerapkali meringis.

Jangan bersedih. Jangan takut. Sungguh, di dunia ini kamu tidak sendiri. Ada mereka yang juga tengah berlari menyulam mimpi-mimpi. Ada juga yang tulus  mendoakan di malam-malam sepi.

Tapi, yang terpenting ada Allah, tuhan pemilik alam semesta, yang 'kan menggengam setiap asa. Dia Yang Maha Segala, setia membantumu kala terjatuh untuk kembali berdiri, bahkan berlari. Mengejar kembali mimpi. Dengan niat lurus dan kemuliaan tak terperi.

  اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَـقِيْمَ (٦)
"Tunjukilah kami jalan yang lurus." (QS. Al-Fatihah: 6)

Sebagai manusia, mungkin kita pernah berada di titik rasa puas. Baik sebagai hamba. Maupun sebagai anak dari pasangan seorang manusia.

Kita merasa puas, karena barangkali kita telah banyak membanjiri kedua orang terkasih dengan hujan materi. Bahkan telah berulangkali memberangkatkan mereka ke tanah suci. Sampai kita kemudian terlupa dan tidak sadar diri. Bahwa apapun yang kita berikan tidak akan mampu melampaui pengobanan mereka.

Kita juga merasa puas. Karena merasa telah banyak memperkaya hari dengan setumpuk amalan yang bagi kita lebih dari hitungan jemari. Padahal siapa yang menjamin, mereka justru terkikis dengan kemaksiatan-kemaksiatan lain yang lalai kita identifikasi.

Seorang ustadz pernah menyampaikan hal ini dalam dakwahnya. Bahwa bisa jadi kita telah berhijrah. Lahir dan batin. Hijrah dari dosa-dosa lama yang berpilin-pilin. Tapi setan tak akan tinggal diam. Mereka akan terus ambil bagian. Menjerumuskan kita ke dalam dosa yang bahkan jauh lebih berat dari menzinai ibu sendiri. Benar saja. Kita hijrah lahir batin, tapi lidah masih sering mencaci dan menhujat lalu mengafirkan sesama muslim. Iya, kita dengan mudah menodai kehormatan orang mukmin. Apakah itu yang dimaksud lahir batin?

Kita juga merasa puas karena telah berhijrah. Tapi masih dengan mudah menyakiti hati orang tua. Ungkapnya, atas hal ini Rasul bersabda, tidak ada kebaikan yang Allah segerakan didunia kecuali kebaikan kepada orang tua. Dan tidak ada kejahatan yang Allah segerakan pula di dunia sebelum kelak kejahatan itu di balas di akhirat, kecuali kejahatan kita kepada orang tua. Tambah beliau, jangan pernah berbicara kasar hanya karena ingin melakukan kebaikan. Karena kebaikan selalu disampaikan dengan cara yang baik. Apalagi kepada kedua orang tua.

Dari dua contoh ini kita akan lebih menyadari. Ternyata, merasa puas menjadikan kita pribadi yang amnesia dengan kata intropeksi. Juga membuat kita seolah tidak mau berbagi surga yang begitu luas. Padahal tetap saja terasa sepi jika ditinggali seorang diri.

Bagiku, pada banyak momen, dunia itu seringkali unik atau bahkan membingungkan. Ada banyak hal yang membuatku bingung dan bertanya-tanya. Salah satunya seperti sekarang ini. Kala aku tengah menikmati kepingan dari bagian pernik kecil dunia bernama Media Sosial. Disitu ada beberapa lapisan tujuan yang membuat adanya beragam 'makanan' yang bisa ditelan penggunanya, seperti ilmu, karya-karya mulai dari yang asal hingga yang paling niat nan bermutu, teman, dagangan atau sekedar bahan hiburan bahkan propaganda yang sengaja diselubungkan agar mudah merajelela.

Pertanyaanku satu, jika kemudian terlalu banyak hal yang tidak termasuk dalam prioritas tetapi mampu memenuhi sebagian besar dari isi kepala maka: apa pentingnya? Iya, terlalu banyak informasi agaknya menjadi salah satu bentuk berlebih-lebihan atau mungkin bisa sarat akan kesia-sian yang seiring berjalannya masa tidak menyehatkan jiwa dan pikiran. Hal-hal itu kadang-kadang bukan menjadi jalan untuk menghapus beban, melainkan hanya semu. Justeru semakin memberatkan saat kian diulang-ulang.

Inilah yang mendorongku untuk off line untuk beberapa waktu pada beberapa kesempatan yang aku punya. Itu bukan berarti aku tidak ingin terus relevan dengan zaman. Hanya saja, ingin mendapati suasana hati yang lebih tentram dan nyaman. Apalagi tanpa harus dipublikasikan. Memang, semua bisa menjadi pelajaran, apalagi perihal kebaikan. Barangkali bisa menjadi bahan untuk terus saling mengingatkan. Namun kadang, perasaan takut koyaknya iman dan taqwa yang dirasa begitu tipis dengan beragam penyakit hati di era kekinian juga acapkali membuat langkah tertahan dan kalbu meringis.

Sampai harus seperti itukah? Padahal, kan, tidak semua orang mengikuti banyak sosok-sosok populer dalam media sosialnya, apalagi jika mereka adalah role model penggugah semangat dan inspiratif. Juga, tidak semua orang juga tidak memiliki visi yang jelas untuk itu. Ada banyak pihak yang kemudian telah merancang matang-matang agar banyak umpan yang bisa tertarik dan masuk dalam 'kandang'. Sehingga, bagi orang kebanyakan, muskil untuk terlalu banyak terpapar ilusi lalu lupa untuk bergerak memperkaya kapasitas diri, bukan hanya sibuk dengan hidup 'sosok' lain. Sedang bentuk visi terancang tetap tidak lepas dari target pasar dalam memasarkan produk-produknya. Tidak, tidak, masih banyak yang menyodorkan kebaikan. Lagipula, bukankah semua tergantung pada sang empu diri apakah mau menyerap lebih mendalam banyak pelajaran agar lebih memaknai kehidupan?

Sungguh. Bukan begitu maksudku. Hanya saja, penting untuk berbicara dengan diri sendiri agar kian memahami kebutuhan diri. Jangan sampai media sosial membuat jati diri yang sudah dan sedang terbentuk dari kecil, kepalang terkikis karena telalu menyibukkan hidup dengan hidup dan pencapaian orang lain. Melupakan kenyataan bahwa tiap manusia memiliki hidup dan kesempatan yang sama untuk lebih memaknai hidupnya. Karena meski banyak yang bisa diambil, aku dan media sosial adalah dua hal yang berbeda. Aku perlu lebih mengerti diriku ketimbang lebih memahami seluk beluk yang tersebar di media sosial, yang kadang kala tidak membuat pribadiku menjadi lebih baik lagi.

Seseorang berdoa pada Tuhannya. Ia meminta banyak hal yang ia butuhkan, bahkan tak sungkan ia memohon semua yang ia inginkan. Karena ia percaya, Tuhan selalu baik. Dia senang pada hamba-hamba yang rajin meminta. Lalu bersyukur. Maka Dia tambah nikmatnya.

Bersyukur, salah satu artinya mampu menerima pemberian dengan sebaik-baiknya. Menerima keberhasilan suatu urusan (pemberian), lalu kemudian menyelesaikan urusan 'baik' lain. Mencoba berusaha memperoleh nikmat lain yang sudah Tuhan siapkan. Karena Dia tidak pernah ingkar janji, Dia akan menambahnya selama hamba-hamba itu bersyukur.

Bersyukur juga bisa ditampakkan dengan menggunakan pemberian dengan cara terbaik. Seseorang yang memperoleh keberhasilan urusan (misal posisi), tidak akan menyia-nyiakan itu demi keburukan yang pada akhirnya hanya membinasakan.

Dalam konteks sederhana tapi amat berharga, Tuhan memberi nikmat waktu senggang dan kesehatan, yang seharusnya tidak disia-siakan untuk kegiatan yang sia-sia. Maka, bagaimana Dia mau menambah?
Padahal dengan kebaikan-kebaikan Tuhan, kita bisa lebih memaknai hidup dengan semestinya.

Beruntung, Tuhan selalu baik. Meski kita kerap begitu, Dia akan selalu memberi yang terbaik dan tidak sekalipun menyia-nyiakan kita. Kecuali memang kita sendiri yang menjadikannya begitu.

Kompleksnya kehidupan tentu membuat kita tidak terlepas dari dihadapkan dengan beragam kejadian. Dengan begitu, lautan informasi juga tidak bisa dibendung lagi alirannya dalam otak.Tak jarang ini yang kemudian menstimulus kita untuk banyak berkomentar akan hidup kita, bahkan tidak dapat dipungkiri, ada orang-orang yang lebih condong untuk sibuk dengan mengomentari hidup orang lain. Cara-cara yang ditampilkan macam-macam; baik secara halus, atau blak blak-an. Dan mendikotomikan dua cara itu demi mendefinisikan ketulusan seseorang tidak melulu menghadirkan hasil yang saklek. Sebab seringkali kita dapati komentar yang hanya ditujukan untuk menjatuhkan yang dianggap lawan, bukan memberi saran untuk menyadarkan, guna perubahan. Celakanya lagi kalau kita sampai terjerumus ke lembah niat yang sama sekali tidak dibenarkan. Kenapa celaka? Karena menumbuhkan kebencian, merasa paling benar, dan selalu merasa bebas dari segala bentuk kesalahan adalah beberapa penggalan alasan yang bisa membuat celaka membersamai kini atau kelak, baik bagi yang berkomentar maupun yang dikomentari. Fatal nian.

Di lain segi, acapkali bentuk blak-blakan lantas membawa kita pada pemahaman bahwa barangkali memang benar, seseorang tengah ingin membangunkan untuk perubahan yang lebik baik. Ini terjadi di berbagai lini kehidupan. Bisa berupa ucapan, tulisan, atau bentuk lain yang kian kekinian dan lebih mudah dan cepat diserap secara masif. Yang demikian itu akan afdol rasanya jika disandingkan dengan tindakan. Pada akhirnya semua akan menjadi bakal catatan yang dikenang. Menjadi sesuatu yang mungkin bisa terus kita ingat, baca, telaah, pelajari dan nikmati dari zaman ke zaman. Tidak bisa dipungkiri, apabila kita mau berpikir, dari sana akan ada banyak pelajaran yang bisa dikuliti. Harapannya bisa menggerakkan hati dan raga untuk meng-upgrade kualitas diri.

Sama halnya seperti kehidupan, manusia juga begitu kompleks. Hal tersebut salah satunya bisa diamati dengan aneka karakter yang menetap pada tiap-tiap mereka. Tidak ada yang menjamin karakter-karakter itu akan tetap menempel, tidak merubah atau menghilang. Karena mereka bisa berubah ke arah yang lebih baik, atau menghilang dan berganti dengan yang buruk, misalnya. Salah satu bagian yang merubah karakter adalah berubahnya prinsip yang biasanya dibawa oleh pemahaman baru. Ini bukan berarti tidak konsisten dengan prinsip yang dipilih di masa lalu. Karena bagaimana mungkin menyangkal untuk mencipta perubahan dengan adanya pemahaman yang lebih baik?

Dengan begitu, penting untuk banyak berkaca diri. Selain dari orang-orang berilmu nan tawaddu', kisah tokoh-tokoh 'besar' dalam sejarah, dan lain sebagainya-----tidak ada salahnya juga membuka kembali catatan dimasa lalu, apa-apa yang kita perbuat sebelumnya yang mungkin saja menjadi sejarah pribadi yang menguatkan untuk menapaki jalan kehidupan yang masih berlanjut. Dari situ tidak luput ibrah untuk bahan evaluasi diri jika kita mau mengamatinya satu demi satu. Kita kemudian bisa menyimpulkan, apakah kita menjadi orang berkarakter dengan jalan hidup yang jauh lebih baik, stuck atau justru merosot.

Bahasa-bahasa kasar yang mungkin pernah kita lontarkan dengan lisan atau jemari tangan bisa menjadi sebuah pelajaran ke depan. Kritik-kritik menukik juga bisa menjelma materi untuk banyak berkaca diri, kemudian mempertanyakan apa kontribusi yang sudah diberikan. Dan berbagai tindakan lain. Karena ini perihal semua aspek kehidupan. Membersamai dengan statement itu, tidak berarti menjadi haram berpikir kritis, lalu mengkritik dan memberi saran. Sebab sudah ditegaskan oleh-Nya bahwa orang-orang yang beruntung adalah mereka yang saling nasihat menasihati dalam kebaikan dengan cara-cara yang tepat dan baik pula. Memperbanyak berkaca diri tidak lalu menghentikan kita untuk tidak berusaha menjadi salah seorang dalam golongan tersebut. Justru dengan begitu, kita akan jauh berpikiran lebih luas dan terbuka.
Seperti yang sudah disampaikan, tidak ada jaminan kita akan wafat dengan karakter yang melekat kini kecuali atas kehendak Allah Swt. Untuk itu, selagi berkesempatan, berkaca diri penting dilakukan supaya terus memelihara niat, menjaga ketulusan dan menetapkan diri di paham berorientasi kebaikan.

---------

Catatan: Tergerak menulis ini setelah mendapati banyak sekali kelakuan, baik itu ucapan, tulisan atau tindakan di masa lalu yang barangkali sarat akan kenarsisan, kesombongan atau niat yang berbelok liar tak karuan. Permohonan maaf untuk siapapun yang merasa pernah tersakiti dan mendapat dampak dari berlapisnya kekhilafan. Semoga diampuni dan bisa menjadi insan yang lebih baik (dibukakan tabir pemahaman dari banyak sisi, dikaruniakan ilmu manfaat yang mumpuni dan dijadikan insan berarti. Tapi yang paling utama dan didambakan setiap pribadi adalah diridloi Illahi Rabbi).


Dulu kita adalah pribadi yang peduli. Sekarang kenapa begini?

Dulu kita adalah pribadi yang amat tangguh. Sekarang kenapa begini?

Dulu kita adalah pribadi yang penuh semangat. Sekarang kenapa begini?

Dulu kita adalah pribadi yang terus berpikir positif. Sekarang kenapa begini?

Dan seterusnya.

Mungkin pertanyaan demikian pernah hinggap di dalam pikiran hampir semua dari kita. Saat kemudian karakter-karakter baik dalam diri seringkali terasa kian surut. Seolah kita kian jauh dari nilai-nilai kebaikan. Yang dulunya kita adalah orang yang begitu rajin. Sekarang terasa sekali jika kita pemalas dan lebih sering bermalas-malasan. Kenapa bisa begitu?

Sejatinya dalam hati manusia sudah tertanam sifat baik sejak ia diciptakan. Sehingga kebaikan-kebaikan yang tercermin dari karakter mereka adalah fitrah. Itu sudah pemberian dari Yang Maha Kuasa dan tidak bisa diingkari. Dalam banyak kesempatan kita sering mendengar istilah nurani. Kita pada hakikatnya tidak akan pernah bisa membohongi hati nurani kita. Kecuali jika kita selalu berusaha mengabaikannya, hingga akhirnya kita terbiasa untuk tidak mendengarkannya barang sedetikpun.

Sama halnya dengan karakter baik yang sebenarnya sudah menjadi jati diri setiap manusia. Oleh karenanya, jangan sampai melupakan jati diri. Bukankah pasang surut itu benar adanya. Hanya saja selalu ingatkan diri, bahwa menjadi pribadi yang baik dengan kapasitas dan kualitas yang diperhitungkan adalah hak setiap orang. Jemput lagi, kejar lagi jika memang jati diri itu mulai menjauh. Karena kita hanya tinggal mendekat dan meminta pada Yang Maha Memiliki segala.

Sekalipun dulu kita belum sempat menjalankan karakter baik itu di masa lalu, tetaplah meminta agar mudah mengaplikasikannya di masa sekarang dan masa yang akan datang. Tidak ada yang mustahil jika Tuhan berkehendak. Karena selama napas masih berhembus, sebagai manusia kita semua memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi lebih baik, lagi dan lagi.

It’s complicated, because I had never planned to apply for job before. Probably, it’s because of I just always think that I will study forever. Yeah, I do love studying. I don’t even a smart student but I have no idea the reason why I would like to study for entire my life. I just enjoy it. I was extremely excited when I learnt new knowledge. Science always has huge power to fulfill my life. Learning many new things. Finding so many adventures. Feel the main of life.

As far as I realize that I don’t even plan what I will be in the future. I never force to have a certain position for my dream job. I know I had written down some professions, but in point of fact I don’t want to overtake God’s decision about my destiny. As I can pray is the position will be suitable for me. And it has a lot of definitions. Accordingly I know nothing about my job that I am going to apply for. I said “know” because it’s my perspective till now. I just want to focus to learn many things. It’s not only about things that I will get in formal way, but also by informal.

Apparently thinking idealist doesn’t always make us in the straight term. There will be complex obstacles which lead to hard way and try to face a great opportunities at once. Being an adult, being an independent, being realistic, so forth are such main things that trigger someone to find new ways, like find a job. In the other hand some people will have a lofty purpose in life, by letting their parents to take a rest for a while and they will fulfill their parents’ necessaries. Yup! Just because I think about how to pass the test for the scholarship frequently, it doesn’t mean that I’m not one of those people.

When I was in senior high school, I remember that it was an awesome moment when I can pay several administrations without asking money to my parents. Even though it’s not too much, but I was excited. It makes my self be more meaningful. More over when I could give them more. They never ask me to do that kind of thing. But still, at least I won’t ask them anything during I’m trying to reach my dream, except du’a. Thus, I will face everything that I have to. It’s not easy. Nevertheless I have to go a head. Otherwise I will be stuck and block my own way by having bad mindset. Keep walking. Face the obstacles. Those are what I must do now.

Semenjak duduk di bangku MA, aku kerapkali berpikir idealis. Segalanya bagiku mudah saja. Ini bukan berarti setiap yang kita inginkan bisa diperoleh tanpa perjuangan dan tetes keringat, tapi lebih kepada karena setiap orang memiliki kesempatan yang sama. Kemudian pola pikir yang tepatlah yang akan membuat segala yang berat akan seringkali mudah dijalani. Belum lagi kala itu aku banyak bertemu guru-guru yang acapkali memberi motivasi menggetarkan. Jadilah aku mudah berpikir idealis, dalam hal ini impian. Aku percaya, jika impian bahkan tidak selaras dengan kenyataan; seperti keadaan kita dan lain sebagainya. Ia adalah keajaiban.

Dalam hidup, aku merasa seperti anak kecil karena kadangkala menganggap banyak hal itu mudah dan tidak perlu dipermasalahkan. Take them all easy. Jangan diperumit, karena pasti ada penyelesaian. Itulah kenapa aku seringkali bingung kala melihat orang dewasa yang kian memperumit keadaan. Masalah yang pada mulanya begitu sederhana, malah makin melebar dan kemana-mana. Lalu beberapa bersuara, jika ini karena aku belum benar-benar menapaki jalan hidup orang dewasa. Oleh karenanya aku berpandangan demikian. Entahlah, yang kutahu sejak dulu aku berusaha menghadapi apapun dengan tetap menjaga pikiran selalu dalam keadaan positif. Kata-kata seperti, “Ok, ini gampang, tak apa, ini mudah, iya, kamu bisa,” dan lain sebagainya meski mungkin hanya terlintas di dalam hati. Walau pada akhirnya semua tidak selalu sejalan dengan apa yang kita pikirkan.

Atas pemikiran itulah yang kadang membuat aku mudah membuat target-target kehidupan. Beberapa suara memberi saran agar jangan terlalu berpikir idealis. Sebab hidup itu amatlah rumit. Mendengar itu, aku kemudian terseret kepada ingatan-ingatan masa lalu. Beberapa keinginan yang sudah aku peroleh di masa sekarang, karena mungkin cara berpikir masa lalu yang kemudian dibubuhi keajaiban, kehendak Tuhan. Aku tidak pernah berharap hasil seperti itu sebelumnya, aku hanya melewati prosesnya dan aku bersyukur akan itu. Karena Tuhan memampukan aku.

Memang, ada benarnya. Sebab kadangkala kita juga harus berpikir realistis, pada bagian tertentu. Hanya karena kita berpikir impian harus tidak sejalan dengan kenyataan dan besar, tidak berarti kita hanya tinggal diam dan berharap impian itu terwujud dengan sendirinya karena keajaiban dari Tuhan. Atau karena terlampaui realistis, akhirnya memutuskan untuk terpaksa menguburnya dalam-dalam karena telah lebih dahulu membayangkan betapa banyaknya kesulitan yang akan dihadapi. Sungguh, tidak demikian. Iya, memang pada beberapa kasus, ada orang yang dikaruniai keajaiban tanpa diduga-duga. Namun itu tidak menjadi alasan untuk kita berleha-leha. Tuhan melihat usaha dan doa yang dilakukan manusia, setelahnya, perkara hasil adalah kehendaknya.

Tetaplah memiliki impian yang besar. Berpikir idealis pada banyak momen yang kamu rasa perlu. Namun tetap jangan menutup diri dengan adanya kemungkinan kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi. Kalau boleh dikatakan, berpikir realistis pada beberapa momen tertentu guna menggapai impian itu dan menerjang kesulitannya. Lalu, pada akhirnya apapun hasilnya itulah yang terbaik untuk kita. Yang terpenting adalah selalu mempertahankan pikiran untuk senantiasa berprasangka baik pada Tuhan. Sekian.

*Dari Lufiyah, teruntuk dirinya.

Ngomongin tahun baru dan resolusi tahun lalu yang SEABREK tapi yang kecentang baru beberapa, pasti bikin kepala puyeng. Hmm. Bener. Berasa ga maksimal mulu usaha sama doanya.

Tapi setelah pake salah satu teknik yang banyak dilakuin sama orang-orang "besar" yakni intinya bersyukur----peningnya jadi hilang ga bersisa. Teknik yang aku singkat bersyukur ini ditulis ulang dan dikembangkan oleh seorang praktisi pengembangan diri.

Tulis apa-apa yang sudah anda capai. Rasakan kebahagiannya mengalir. Rasakan energi positifnya. Ingat terus. Lantas bersyukur.

Dan setelah aku tulis. Wih! Aku bahkan baru menyadari, ternyata meski banyak yang belum tercentang, banyak juga yang sudah tercapai. Atau mungkin mendekati, hehe. Yap! Karena meski hanya bantuin beres-beres, kata beliau (penulis) itu adalah pencapaian.

Meski merasa ga ambisius, aku memang cenderung tidak pernah menganggap apa yang aku capai adalah wah, melainkan bonus dari ikhtiar dan cenderung biasa saja. Seperti halnya saat mendapat pujian (padahal ga ada yang muji wkwk), aku lebih menganggap seperti angin lalu, doa-doa (karena memang diri kita yang lebih tahu kalau kita ga sekeren itu), ucapan pelecut semangat atau ujian.
Maka, setelah aku pikir, menjadikan semua hal sama rata dan biasa-biasa saja ternyata ga baik juga buat pikiran. Semacam menutrisi diri buat ga "lebih" bersyukur dan mengapresiasi setiap anugerah alias rejeki.

Bukankah bersyukur tidak melulu menunggu kita memperoleh sebuah nobel? (Kita? Wkwk)

Allah, terima kasih atas segala nikmat-Mu di tahun lalu dan nikmat karena memberikan kesempatan lagi di tahun baru (ini). Disaat nikmat yang Engkau beri sejatinya tak pernah bisa aku tulis dan hitung, disaat itulah kudapati dosaku yang kian tak terhitung.

Bangkalan, 1 Januari 2019

Aku selalu percaya. Setiap apapun bisa dipelajari. Termasuk membuat puisi. Ingin rasanya mengawali oretan ini dengan puisi. Agar lebih indah. Tapi aku belum belajar. Lagi pula sebenarnya aku tidak ingin mengawali, maksudku memberi awalan. Sebab itu artinya aku harus mengakhiri. Dan aku tidak mau!

Tapi memang benarlah ungkapan: setiap ada pertemuan pasti akan ada perpisahan. Maka aku harus menerima segalanya dengan lapang. Apapun yang menjadi garis hidupku sekarang.

Tujuan awal pergi ke Pare untuk mengasah kemampuan berbahasa Inggris. Namun pada faktanya, aku diberikan lebih dari itu. Keluarga, kawan, sahabat, teman, kolega atau apapun sebutannya.

Thus, untuk mengabadikan mereka semua biasanya aku akan membuat oretan semacam ini. Meski sederhana, sedikit dan tidak pernah cukup untuk mengungkapkan banyaknya kata yang menumpuk dalam batok kelapaku, paling tidak ini bisa menjadi sesuatu yang kelak bisa aku baca kembali.

Siapa kita? Abdi negara!

Hehe, well. Selamat membaca. Maaf jika kurang berkenan 😅

___________

Ghani Rahmat Kurniawan

Ghani. To be honest, awal bertemu di ruang interview hari itu aku kira Ghani sudah seusia anak lulus kuliah. Hehe. Tapi ternyata justeru ia yang paling muda diantara kita. Curang!
Saat kutanya nama dan asal, irit sekali bicaranya. Bahkan tidak dibubuhi air muka bermanis-manis ria. Namun aku bukan orang yang percaya 100% jika karakter orang bisa dibaca pada kesan pertama bertemu. Karena yang ada, sifat "gila" nya mulai tercium di kelas Tick Talk. Ceria sekali rupanya.

Ghani. Orang yang awalnya protes karena aku panggil: Adek. Sebab aku dulu terbiasa memanggil yang lebih muda dengan panggilan serupa saat di kampus. Padahal aku memanggil adikku sendiri hanya dengan nama. Hihi. Namun setelah kujelaskan alasannya, ia kemudian sesekali memanggil aku: Mbak. Akupun tergelak.

Ghani biasanya jadi tempat rentetan pertanyaan-pertanyaanku bersarang. Karena meski remeh-temeh, dia akan menjawab dengan sabar dan tidak sedikitpun menghakimi. Selain itu, fast respond. Ini yang akhirnya membuat aku sering bertanya pada anak yang satu itu.

Meski masih terbilang muda. Ghani dianugerahi dengan beragam potensi. Ia juga rendah hati dan baik sekali. Tak hanya itu. Ia juga sosok yang tangguh. Sekelumit karakter ini bisa dibaca saat ia menyampaikan kisahnya di kelas I-Club.

Ghani pernah mengomentari cara berpakaian Kak Santi, aku turut ikut tersudut (konotasi positif) didalamnya. "Nah, gitu dong. Santi jadi terlihat lebih fresh. Casual. Ga kek biasanya. Kek Ibu-ibu. Lut juga tuh. Kapan-kapan pake kaos aja," katanya dengan santai. Sementara itu Bro Rambo menjelaskan materi di kelas 3 GP 1 dengan santai, bukan Santi. *paan sih, garing mulu, Lut.

Ahahaha, saat kita tanya apa ia ingin menjadi seperti Ivan Gunawan. Ia menjawab dengan jawaban yang membuat kami menelan ludah. Haus kali. Iyuuh.
Katanya, Ghani ingin lebih dari designer Indonesia yang terkenal di media itu.
Belakangan aku ketahui bahwa ia hanya bercanda soal itu. Dan aku adalah orang yang mudah percaya pada banyak momen tertentu.

Hmm, semoga Allah kuatkan dan mudahkan kamu untuk mewujudkan cita-cita luhurmu, Ghan. Study abroad, membahagiakan orang terkasih, so forth. Dianugerahi kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Haikhal Febria

Isa. Aku kebingungan saat Bro Ai memanggil nama lengkapnya untuk mengecek kehadiran member kelas. Siapakah gerangan? Pikirku. Haha. Unik. Nama panggilan tak sesuai bacaan nama asli. Sama seperti kakak perempuanku yang dipanggil demikian. Nama lengkapnya Siti Aisyah. Cukup mendekati. Namun apapun itu, aku mengimani jika setiap nama adalah berharga. Karena merupakan doa yang melekat hingga akhir hayat.

Isa. Kesan pertama kenal karena dia terlebih dulu akrab dengan Kak Santi. Bahkan dia sering menjadi peta dan teman kami saat hendak kemana-mana karena sudah lebih dulu memahami kawasan Pare. Aku awalnya agak heran, gregetan. Karena meski aku dan Kak Santi bersusah payah merangkai dan meluncurkan kata berbentuk bahasa Inggris, Isa akan lebih kerap menjawab dengan bahasa Indonesia. Sebenarnya, pada awal mempratikkan ngomong Inggris, lidahku pegal. Aku juga merasa lebih cepat lapar. Mungkin karena berpikir. Karena pada kenyataannya, aku adalah orang yang acapkali lupa makan kala di rumah. Eh, kembali ke Isa.
Iya, begitu. Tapi ternyata, beberapa hari kemudian, ia selalu berbicara English. Aku dibuat terpesona karena dia berbicara secara gramatikal. Pembendaharaan kata yang ia miliki juga aku taksir tidaklah sedikit. Terlihat ia tidak menghadapi kesulitan yang berarti saat berbicara.

Kian mengenal, aku baru mengetahui bahwa Isa juga kandidat YCTs. Info itu kudapat dari Ibu karena rajin membantu. Eh, maksudku dari Kak Santi. Isa juga sudah belajar bahasa di beberapa kursusan di Pare.

Meski kadang bawel. Ia adalah sosok yang baik bukan buatan, memiliki jiwa sosial yang tinggi dan peka. Sering juga ia melihat sesuatu begitu detil. Isa kerap mengkhawatirkan sesuatu yang menurutku sebaiknya diabaikan saja. Tapi perspektif orang tidaklah sama. Jika tidak demikian, maka tidak akan ada ragam warna.

Ia juga terlalu mengkhawatirkan aku yang begini dan begitu. Misal, Isa akan rela mengorder jasa ojek online hanya supaya aku bisa visit camp dengan sepedanya. Padahal berjalan kaki bukan kegiatan yang asing bagiku. Konon, bisa mengasah kecerdasan. Namun bukan berarti bisa mengerjakan ujian tanpa belajar dan malas-malasan. Hehe.

Meski begitu, ia adalah pribadi yang talent mengatur member, camp dan segala tetek bengek didalamnya. Aku hanya diam tak berkomentar. Selalu. Tapi diam-diam aku belajar.

Yup, banyak sekali kebaikan yang tidak bisa aku ungkapkan satu-satu. Biarlah menjadi amal untuk kebahagiannya di dunia akhirat. Terkabul segala impian mulianya.

Good luck, Isa! Semangat ke Jerman-nya. Kamu bisa! Karena kamu Isa! Yeay!!! Hehe.

Rayhan Muhammad Al Fatih

Ray. Karena tidak ada jawaban saat menanyakan kejelasan waktu interview, aku akhirnya men-DM Ray. Aku ingat, ia bertanya apakah aku peserta yang juga lolos ke tahap selanjutnya atau tidak. Istilah itu ia singkat menjadi: pemenang.
Sebelumnya, aku juga men-DM Kak Santi. Karena aku hanya mengetahui dua kontak mereka.

Ray begitu ramah. Ku lihat foto profilnya, kukira dia seusia orang yang baru lulus SMA. Hehe. Setelah bertemu langsung ternyata lebih ramah. Murah sekali senyumnya.
Ia terlihat mudah sekali beradaptasi dan bergaul dengan orang baru. Lihat saja, aku yang baru saja sampai di depan office Mr. Bob langsung dicerca beragam pertanyaan. Ia juga tidak segan bercerita kisah perjalanan untuk kemudian tiba di Pare. Terbaca sekali, jika ia orang yang terbuka dan tidak memilih-milih untuk kenal dengan siapa.
Aku sesekali mengusap dan melihat layar hape. Ku balas beberapa yang urgent sembari menjawab pertanyaan Ray dan Kak Santi yang juga ada disitu----satu-satu. Sebenarnya tidak sopan. Tapi beberapa pesan memang harus fast respond. Beruntung keduanya memang pribadi yang baik hati.

Ray pun adalah sosok dewasa dengan segudang ide segar. Ini yang membuat aku tidak sungkan untuk meminta pendapat atau nasihat padanya. Lihat dan pahami apa yang dibicarakan, bukan siapa yang berbicara. Itu yang masih menjadi salah satu alasan mengapa aku mudah untuk mendengar dan menerima, jika memang itu tentang kebaikan dan kebenaran.

Seorang tutor pernah bertanya padaku, "Ray terlihat jauh lebih dewasa saat tidak menggunakan kacamata, ya?". Aku sendiri tidak pernah memperhatikan penampilan seseorang sedetil itu. Namun karena kala itu ia meminta pendapatku, akhirnya aku benarkan. Hehe.

Ray, Ghani dan Julio adalah orang-orang dengan selera humor yang seringkali ditunggu-tunggu. Eh, siapa Julio?
Baiklah, setelah ini akan aku bagikan pandanganku tentang Julio dengan sedikit lebih rinci.

Hmm, semoga dilancarkan segala urusannya-----Lancar bukan berarti jalannya terasa selalu mudah. Tapi bagaimana tetap istiqomah untuk teguh dan tidak menyerah atas apapun yang menghadang jalan-----hingga tercapai semua impian-impian besarnya; tempat kursus, study abroad, dan sebagainya. Dilimpahi kebahagiaan dunia akhirat.

Ahmad Julio Rumangu

Julio. Awalnya aku mengetahui Julio saat Kak Santi menanyakan keberadaan sebuah camp guna visit Evening class. Julio menjawab dengan ramah dan antusias. Ia tidak segan menunjuk-nunjuk ke arah jalan agar kami lebih mengerti dengan sebatang rokok mengepul yang masih di tangannya. Dilihat dari bagaimana dia nge-treat orang lain, pastilah dia pribadi yang baik.

Aku sendiri kemudian baru mengetahui, jika Julio juga peserta YCTs angkatan pertama saat kami menghadiri panggilan Bro Kris untuk menghandle camp lebih awal. Hehe. Julio terlihat tidak terlalu banyak bicara.

Tapi ternyataaa, ia gemar bertanya. Berkata. Berbicara. Berbincang. Atau apapun. Tidak bosan jika berbincang dengannya karena ia selalu mempunyai bahan dan pertanyaan. Disamping itu ia juga meng''anda"kan setiap orang.

Aku melihat aura kepolosan dan ketulusan dalam diri Julio. Siah. Aku sendiri cuma manusia, yang tidak bisa menjamin kebenaran penilaianku terhadap orang lain. Yang jelas, itu mungkin salah satu yang membawanya kesini di tengah banyaknya tawaran menggiurkan. Sebab banyak orang tulus yang berorientasi pada kebahagiaan, bukan kekayaan.

Meski seringkali memuji orang lain. Sebenarnya Julio juga patut dipuji karena dia juga sosok yang menginspirasi: pantang menyerah. Memang, dampak buruk pujian jika tidak pada orang yang tepat memang amat dahsyat. Bahkan Rasul mengumpakan seperti memenggal kepala saudara yang dipuji. Namun semoga Dia senantiasa menuntun kita agar tidak berlebihan. Niatkan untuk kebaikan, bukan memperburuk keadaan.

Seorang member Passionate Dreamers Camp mengaku bahwa Julio memiliki cara tertawa yang unik dan lucu. Aku sendiri akhirnya baru ngeh saat mereka menyampaikan itu padaku. Dan aku pun setuju.

O ya, walaupun Julio mengaku dia bukanlah seorang pemimpi. Aku percaya, dia memiliki harapan-harapan yang indah di masa depan. Maka semoga semua itu bisa ia dapatkan. Sukses di dunia dan akhirat.

Hermita Santi Simanjuntak

Kak Santi. Sudah kusampaikan di awal. Aku tidak percaya 100% jika kesan pertama saat bertemu seseorang menunjukkan karakternya sepenuhnya. Meski tentu kita harus berhusnudzan. Seperti saat aku bertemu Kak Santi yang sebelumnya sudah aku hubungi lewat WhatsApp. Seperti Ray, dia ramah di dunia maya dan dunia nyata. Aku kira ini hanya kesan pertama. Sebab ada beberapa orang yang silih berganti dalam hidupku biasanya akan demikian. Tapi tidak dengan Kak Santi. Kian lama, aku seolah menemukan sahabat yang telah lama aku impikan. Ya, mulai dari SD hingga sekarang aku memang memiliki banyak sahabat. Dan memang, tidak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan adalah sebuah ilusi. Namun dengan Kak santi, aku menemukan kasus yang berbeda. Dia sempurna. Berlebihan mungkin jika aku berkata begitu. Tapi itulah yang aku rasakan.

Aku tidak tega melihatnya mengidap sakit mata. Aku ingin menggantikan posisinya. Biar. Tak apa. Lalu beberapa hari kemudian doa itu terkabul. Hahaha. Eh, emang saatnya giliranku sih sebenarnya.

Cara berpikir, tutur katanya, jiwanya, dan caranya memandang dunia yang kerap membuatku aku tidak mau berpisah. Ungkapan ringan seolah menjadi nasihat terselubung yang seringkali aku terima. Aku kemudian amat bersyukur. Belajar dengan orang yang tidak terlalu banyak beretorika, melainkan aksi.

Seperti dengan yang lain. Aku punya banyak cerita yang mungkin tidak akan aku lupakan. Salah satunya saat kita seperti orang kerasukan bernyanyi diiringi genjrengan gitar di Warung Mr. Bob. Hehe, asal muasal rumor yang melekatkan stigma bahwa kita tidak mau membaur dan bergaullah yang kemudian membuat kita memberanikan diri unjuk gigi. Beruntung sebelumnya sudah sikat gigi. Aku sendiri benar-benar tidak hafal dengan semua lagunya. Hehe payah sekali. Semua lirik aku dapatkan dari hasil ketikan secara cepat di search engine. Hahaha. Meski bingung. Sebenarnya aku bahagia karena sudah lama tidak menyanyi diiringi gitar. Yang lebih membuatku bahagia, mereka semua amat ramah dan baik walau telah lebih dulu menapaki daratan Mr. Bob English Course. Bro Ikham, Bro Arul, Bro Ai dan Sis Laili.

Mmm, semoga Allah mudahkan segala impian luhurmu, Kak. Dilancarkan pekerjaannya, studinya ke Taipei, bisnis dan lain-lain. Bahagia dunia akhirat.

Eka Francisca Fitri Agustin

Kak Icha. Mandiri. Mungkin kata itu yang menggambarkan dirinya. Dia banyak bercerita tentang pengalamannya hingga sampai di Pare. Yaps! Kak Icha suka bercerita. Seolah tak pernah surut dan habis. Lancar. Hehe. Pun saat ia bercerita dalam bahasa Inggris. Aku ingat sekali saat pertama bertemu di office, Kak Icha menceritakan bagaimana kurang tidurnya ia hingga menyebabkan matanya seperti mata panda. Padahal panda mungkin tidak sependapat dengan istilah bikinan manusia ini. Hehe.

Di camp dulu, Kak Icha jadi pegiat untuk selalu berbicara menggunakan bahasa Inggris bahkan meski sedang tidak di camp. Aku biasanya yang suka tidak mengindahkannya. Hehe, pegel, Cin. Kak Icha bahkan mempunyai aturan untuk tidak menggunakan "How to say....." agar kita mau berpikir keras terlebih dulu. Tak usah ditanya, aku juga yang kerap melanggar. Hahaha.

Seperti Kak Santi, Kak Icha juga tidak pelit memberi motivasi padaku. Dari apa yang pernah ia sampaikan, bisa aku simpulkan bahwa kesempatan bisa dimiliki setiap orang. Siapapun. Jangan pesimis dan mempersempit pemahaman akan kenyataan itu.

Kak Icha itu baik dan strong. Kelelahan usai perjalanan panjang dari Bandung ke Pare tidak membuat ia kemudian memiliki alasan untuk men-skip kelas. Walau masih linglung, ia menghadiri semua kelas perdananya dengan antusias. Bahkan ia berkali-kali mengungkapkan ingin meminjam catatanku----yang tulisannya serupa cakar ayam----karena merasa telag banyak ketinggalan pelajaran.

Semangat ngerjain Thesisnya,  Kak! Semoga dilancarkan segenap rencananya. Mengajar, study abroad, dan lain sebagainya. Sejahtera dunia akhirat.

__________

Dua bulan yang terasa dua minggu. Hehe. Cepat, melesat bak meteor. Berlalu, layaknya awan di langit biru. Terdengar berlebihan. Tapi memang itu yang aku rasakan. Hahaha.
Mungkin karena betapa banyak pelajaran, tantangan, dan kehangatan yang aku peroleh dari waktu ke waktu saat disana. Meski kadang membuat aku terlena. Tapi aku amat menyadari, aku mendapat lebih dari sekedar belajar bahasa Inggris. Kalian, segenap keluarga Mr. Bob, Pak De---Bu De, dan semuanya tanpa terkecuali adalah bagian dalam hidup yang tidak akan aku lupakan. Aku memohon maaf lahir dan batin. Thanks for being such a great part of my life! Break a leg! Never give up!

Best Regards,

Lutfiyah🍃

Banyak banget kejadian yang ingin aku tulis di banyak minggu terakhir ini. Pelajaran yang aku dapat. Mulai dari jangan menilai orang dari cover, aku yang masih pemalu dan ngga PD, perbincangan berbobot yang harusnya jadi ringan buat kita sebagai penerus bangsa, bahasa yang kalo ngga dipraktekin dan dienlarge-in sendiri ngga bakal berkembang, menghargai orang lain, lebih bijak dalam bersikap, berusaha menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya, banyak yang belum dipelajari, banyak orang yang belum dibahagiakan, dan sebagainya.

Mafhum jika semua untaian kalimat itu kemudian hanya mengendap dan menumpuk di batok kepalaku. Karena memang aku tidak berusaha meluangkan waktu barang sebentar untuk menuliskannya seperti biasa. Aku lebih memprioritaskan istirahat sejenak. Lalu memprioritaskan kegiatan lain yang bagiku juga tidak bisa disepelekan. Yaps, setelah menjalani proses KBM selama satu periode yang setara dua pekan di Mr. BOB Kampung Inggris yang merupakan lembaga kursus bahasa Inggris, aku dan empat temanku yang lain diminta untuk menjadi tutor camp. Kami pun sebenarnya sudah memprediksi jika kami bertujuh akan mendapatkan kesempatan untuk menjadi tutor. Namun yang agak membuat kami kaget adalah, kami berlima harus menjadi tutor satu periode lebih awal. Yeaah! Nano-nano rasanya. Namun sebelum menjabarkan bagaimana cerita alias kisah didalamnya. Aku akan menceritakan sekelumit kejadian yang sempat aku ketik sedikit demi sedikit sebelum akhirnya aku dan yang lain sok sibuk (hehe) menjadi tutor camp.

_________

Jangan menilai dari cover

Mungkin hampir semua dari kita sudah ditanami nilai untuk jangan mudah menghakimi orang hanya karena tampilannya. Namun tidak semua mendapatkan tanaman yang sama. Seringkali mereka harus menjemput atau menanamnya sendiri. Tak apa.
Meski dari kecilku bisa dibilang lingkunganku homogen, aku cukup mengerti bagaimana bersikap pada orang-orang yang memiliki perbedaan dengan kita. Selama masih bisa hidup berdampingan kenapa harus rusuh?
Baiklah, jangan sampai sejauh itu bahasannya. Ambil contoh kecil yang juga menjadi salah satu kisah yang menjadi pengingat untuk diriku sendiri. Jadi aku memiliki teman sekelas yang tampilan gaul minta ampun. Namun tak ngobrol maka tak kenal. Inilah yang akhirnya membawa kami ke obrolan yang cukup panjang, kemudian bagaimana ia bersikap kepada orang lain namun tidak juga berlebihan. Ada satu pertanyaan yang kemudian cukup menyambar pola pikir yang memang sebelumnya juga tidak jauh berbeda, yakni: apa hobimu?
"Aku suka mendengarkan lantunan sholawat," katanya. Waah, aku sangat berterima kasih dikenalkan dengan lelaki yang sudah seperti adikku karena mereka seumuran. Pun jika dia kemudian tidak memiliki hobi dan background agama dll yang sama, aku akan tetap bersyukur karena pertemanan bukan hanya karena persamaan. Tapi karena dalam perbedaan akan selalu ada persamaan. Yah, begitulah.

Masih pemalu dan ngga PD

Malu itu sebagian dari iman. Namun bukan malu untuk kemudian menjadi pribadi yang lebih baik, salah satunya dengan berbagi ilmu. Sering, aku merasakan malu untuk maju. Tidak percaya diri dengan kemampuanku dan lain sebagainya yang sebenannya hanyalah alasan klasik yang menghambat kita untuk menjadi manusia bermanfaat. Karena hakikatnya setiap orang dikaruniai kelebihan, lantas kenapa harus tidak PD? Alangkah lebih baiknya jika waktu yang dihabiskan untuk itu justeru digunakan untuk mengasah potensi bukan? Namun kepercayaan diri tidak lalu membawa kita ke akhlak tercela, yakni tinggi hati.
Aku pikir, setelah aku sudah berani begini dan begitu, tingkat rasa malu berada di arena umumnya akan menghilang. Ternyata tidak demikian. Lihat saja, aku deg degan setengah bungkus nasi kala makan bersama di warung Mr. BOB seolah aku tengah mengambil rapot dan menantikan hasilnya. Namun setidaknya, rasa malu di keramaian semacam itu kian berkurang. Entah itu baik atau tidak. Yang pasti setiap manusia perlu yakin dan percaya, bahwa fitrah mereka adalah baik. Mereka memiliki potensi yang besar untuk menjadi orang besar asal tidak melupakan fitrahnya, seperti semangat, sabar, dan lain sebagainya.

Perbincangan Berbobot

Aku sebenarnya tidak telalu mengerti apa yang dimaksud berbobot. Karena mungkin itu terlalu sarkastik. Aku pun adalah orang yang tidak terlalu suka obrolan yang berat. Karena bacaan dan tulisanku saja ringan-ringan saja. Namun sering aku mendapati diriku seolah orang yang amat aneh karena berbincang mengenai hal yang lebih serius atau katakanlah agak dalam. Seperti masa depan, dll. Tentu tidak semua orang yang aku temui begitu. Banyak juga yang sepemahaman. Juga aku tidak mempermasalahkan mereka yang seragam denganku. Karena siapa tahu, orang-orang itu hanya tidak ingin mengungkapkan. Padahal yang mereka pahami jauh lebih mendalam.

Praktik Sendiri

Gimana? Sudah berapa ratus vocab academik yang sudah dihafal dan diamalkan? Pikiranku selalu saja bercabang. Padahal sebenarnya cabangnya bisa dipotong dengan aksi. Hihi.
Kian kemari kian paham, kalau apapun ilmu yang kita dapat jika tidak dipraktikan sendiri maka tidak akan bisa berkembang. Hanya polesan, teori dan apapun namanya kalau kita tidak mau mengulang apa yang sudah kita dapat di kelas maka hasilnya ngga worth it. Ini salah satu cabang pikiran yang kerap menghantui dan masih ku coba sulap menjadi sebuah aksi.

___________

Rasanya campur aduk saat pertama kali diminta menjadi tutor camp. Aku tahu aku tidak sendiri. Tapi bagiku ini akan cukup menantang. Tidak seperti di kelas. Tutor camp artinya kita akan satu bangunan dengan para member dan lebih banyak interaksi. Cukup berat untuk orang yang lebih suka diam sepertiku. Namun bagaimana pun aku harus menghadapinya. Rasa takut itu biasa, karena aku cuma seorang manusia. Beruntunglah aku karena memiliki Allah yang Maha Segala.

Alhamdulillah, selesai belajar bersama teman-teman, ber16 orang. Usai itu, kami melanjutkannya dengan sharing dan hearing. Salah seorang dari mereka kemudian berkata, "Sisssss... jangan banyak diem. Banyak omong dong." Dan guys, aku memang susah bergaul dan ngoceh panjang lebar dengan orang baru, tapi aku akan terus berusaha demi kalian hehe. Meski kadang akan lebih nyaman dengan orang yang menerima kita apa adanya, ngga perlu pura-pura hanya karena ingin diterima. Tapi ngga masalah juga kalau ingin menjadi makhluk sosial yang lebih baik sih. Selama masih dalam porsi dan terus berusaha untuk tulus.

Berusaha tulus tidak mesti kau akan di terima oleh banyak bagian. Kadang masih saja ada orang-orang yang senang berbicara di belakang. Sementara aku adalah orang yang percaya-percaya saja bahwa bagaimana pun tampilan seseorang, mereka pasti dikaruniai hati yang tulus. Meski sudah clear dengan metode muhasabah yang aku buka, bersama pastinya. Setelah itu aku berusaha semampuku. Benarlah, Allah selalu bersama. Jika tidak, mana bisa aku melewati jalan yang amat bersebrangan dengan personality yang ada pada diriku.

Sampai suatu hari, karena terlalu banyak target, aku sampai lupa membuat schedule. Ini yang akhirnya membuat aku lupa bahwa aku harus mengumpulkan hasil kuesioner ke office. Padahal kala itu kelas yang aku ambil cukup menyita waktu. Hingga akhirnya beberapa misscal dari office pun menumpuk di handphone-ku. Akhirnya setelah kelas usai, aku bergegas menuju camp. Aku kemudian mengambil tumpukan kuesioner yang sebelumnya sudah ku minta untuk diisi. Barangkali mereka juga sibuk. Hingga tidak sempat mengisi. Akhirnya dengan berat hati, aku meminta tolong pada beberapa orang yang ada disitu untuk mengisi sisanya. Karena deadline pengumpulan sudah sangat mepet dan rapat akan segera diselenggarakan beberapa menit lagi. Aku kemudian baru menyadari setelah rapat jika beberap orang itu justeru tidak pro dengan ku. Bisa dibilang hanya tersenyum jika didepan. Dan aku paling tidak bisa membohongi nurani seperti itu.  Terseyum manis di depan, tapi memperbincangkan kita di belakang. Namun aku amat menyadari, aku tidak mau menyalahkan orang lain. Aku berusaha menghapus beragam prasangka. Aku harus mengintropeksi diri. Barangkali memang aku yang kurang berikhtiar untuk menjadi "fun" versi beberapa orang itu. Bahkan setelah materi kompleks, santai namun serius, tepat waktu dan lain-lain seolah tiada artinya. Tak menjadi masalah, aku menerima setiap kekurangan dalam diri, kemudian akan aku coba perbaiki. Dan dengan hal aku tidak sedikitpun tidak berhak dan tidak mau membenci.

Human measure the result. Allah measures the effort. Manusia cuma liat hasil. Allah yang ebih paham. Jadi, duhai teman-temanku (pdhl utamanya ke diri sendiri haha), jangan fokus pada result. Tapi effort. Besarnya effort juga tidak bisa diukur oleh orang lain. Jadi suaaantai sajaah. Sersan. Serius tapi santai dalam mengarungi kehidupan, supaya tidak melupakan esensi dan kenikmatan dalam setiap tegukan yang disajikan kehidupan.

Namun banyak sekali dari mereka yang tulus menerimaku apa adanya. Bahkan mendukung setiap perubahan baik yang membuat aku lebih dekat dengan mereka. Ini semakin terlihat saat mereka sedih kala mengetahui aku akan pindah camp. Mereka tak perlu menjelaskan dengan kesedihan dan pemberian itu, karena aku telah merasakannya. Bagaimana mereka berperilaku, nge-treat aku dan lain sebagainya. O iya, selain alasan lain, salah satu alasan yang cukup kuat adalah aku dan Kak Santi yang seperti perangko dengan surat. Nempel. Hehe. Tak masalah, akan aku hadapi apapun itu, insya Allah.

Anyway, teerima kasih banyaaaaak sudah mau menerimaku menjadi bagian hembus napas dari kalian, teman-teman. Aku yang; makan di warung saja malunya setengah mati padahal ngga ada ngeliatin juga, malu saat menghadiri acara ramai apalagi harus duduk di depan, malu begini malu begitu malu begita malu begito. Makasih banyaaaaak sudah banyak memberi pelajaran yang kerap menjadi refleksi bagi kehidupan pribadiku. Apapun background kita, kita adalah sama, keluarga yang saling mensupport untuk meraih nikmatnya ilmu. Love you All.

Aku tidak akan pernah melupaka saat kita nge-game, tutorial hijab, menganalisis makna tulisan dan lain-lain. Aku juga ngga akan lupa ceramah panjang Bu Kost yang sebenarnya bisa diambil poin sehingga lebih efisien dan efektif. Tapi bukankah seseorang seringkali unggul bukan karena dia pembicara yang baik, melainkan pendengar yang baik dan tepat pada saatnya dia harus mendengar san lebih baik diam. Saya ingat betul semua sindiran beliau; Saya selama disini belum pernah denger suara sampean teriak e, Mbak, sampean itu lemah lembut lebih cocok jadi guru TK saja, sampean itu harus mikirin anak orang yang sudah bayar dll. Sampai sebegitunya seolah aku tidak pernah memikirkannya. Hmm, kalau beliau tahu, aku bahkan sudah memikirkannya sebelum didaulat menjadi tutor saat melihat kelas sering sepi karena beberapa alasan yang sepele. Aku jadi ikut memikirkan nasib mereka dan mencoba memikirkan sebuah solusi. Meski aku pun tidak melulu mengungkapkannya. Kalau saja Bu Kost tahu suara melengkingku saat visit camp membangunkan para member cowo agar mau bergabung dan menjadi bermanfaat sorenya. Padahal aku awalnya bingung, bagaimana menghadapi murid dalam satu ruangan yang kesemuanya lelaki. Hmm, semoga Allah menuntun dan membersamai. Aku bisa saja membalas semua ucapan Bu kost, tapi aku memilij diam saja dan mendengarkan. Biarlah. Beberapa tipikal orang kadang hanya perlu didiamkan dan dibalas dengan senyuman.

____________

Kisah di Camp Baru

Mumpung ada ilham, aku memutuskan untuk mengambil buku, alat tulis dan lain-lain pagi menuju siang kala itu. Rasanya sudah seabad tidak membaca novel dan mengulang pelajaran, atau hanya sekedar menulis vocab. Belum genap aku melancarkan kegiatanku, Bu Kost mengetuk pintu. Aku segera menjawab dan membuka pintu saat seorang memberku masih terlelap. Kemudian beliau menyampaikan untuk pindah kamar ke seberang, karena kamar yang kami tempati akan disulap menjadi kostan. Ku urungkan niat untuk mengasah otak dengan ilmu pengetahuan yang saat ini masih amat jarang terjadi. Kemudian aku mulai berkemas, hingga memberku pun terbangun dan mengikuti jejakku.

Bukan hal yang sulit memindahkan semua barangku ke seberang, karena jumlahnya memang tidak seberapa. Namun kami berdua turut memindahkan barang member yang belum tiba di camp.  Sebelumnya aku tinggal di camp Skyforce, disana aku memiliki teman yang lebih aku anggap keluarga. Ada Arista, Calista, Gaby, Syalli, Zahra, Sis Apil (tutor camp terkejte) dan lain-lain. Hehe kalau ingat mereka aku jadi ingat punya banyak kisah dengan mereka. Arista yang menjadi orang pertama yang akhirnya membuat aku membiasakan diri makan di tempat umum (warung), atau Gaby dan kawan lain yang mengajak aku bertandan ke Bromo, namun terpaksa aku tolak. Hehe, ada sih uangnya, tapi budget untuk bertahan hidup. Siapa yang tidak mau menjelajah dengan sahabat-sahabat terbaik? Siapa yang tidak mau meraup pelajaran dari sebuah perjalanan? Namun kadang yang kita mau tidak mesti kita turuti. Terlebih I still can't earn money by my self. Apalagi aku percaya, bahwa setiap orang pasti memiliki kesempatan yang sama. Berbekal doa dan usaha.

Ah, banyak sekali kisah di Camp Skyforce yang tidak aku lupakan. Juga cerita nano nano yang ada di Camp Passionate Dreamers yang satu halaman dengan Wonder Woman. Hmm, sekarang aku tinggal di camp baru yang aku beri nama Butterflies, bergabung dengan Hot Summer, ditutori sahabatku, Sista Isa.
Kepindahan yang awalnya cukup tidak aku inginkan karena meski banyak kejadian rumit di camp lama, aku percaya aku akan bisa melewatinya. Terlebih aku bukan pribadi yang mudah memahami lingkungan baru. Namun beruntung, sepertinya aku pribadi yang selalu siap dengan apapun masalahnya yang menanti di depan.

Lalu, hari pertama aku dan Sista Isa bermalam di camp baru dengan membawa baju ganti dan barang secukupnya untuk kelas besok pagi. Saking tidak terencananya, aku sampai lupa tidak membawa perlengkapan mandi. Kami kemudian memperkenalkan diri, mereka manis-manis, baik-baik sepertinya dan antusiasme. Aku agak terperanjat jika ternyata aku akan memiliki lebih sedikit member alias teman jika hanya menghitung member butterflies. Namun aku salah, mereka ternyata amat sangat saling respect. Baik bukan hanya pada kesan pertama. Bahkan aku dan Sis Isa diperlakukan sama, dua perbedaan nama camp tidak menjadikan sekat diantara kami semua. Mereka amat menyenangkan. Aku juga heran. Hal lain yang awalnya yang juga membuat aku cukup terperanjat adalah saat aku tahu camp ini masih terbilang baru, bagus dan bernuansa putih, warna kesukaanku. Tidak dilengkapi Wi Fi juga salah satu yang cukup menarik perhatian orang yang rantau yang ingin berhemat sepertiku, hahaha. Yang lebih hebat lagi adalah kamarnya banyak. Jadi dalam satu kamar hanya ada dua orang. Neda dengan camp sebelumku, berisi lima orang. Namun ada satu hal yang menguji iman, suasana camp baru ini panasnya minta ampun. Seperti di sauna. Aku sendiri belum pernah ke sauna, itu hanya katanya. Panasnya tidak wajar karena sebuah AC di ruang depan memang belum dinyalakan karena belum ada titah dari manajemen office. Panas yang tidak ketulungan ini sepertinya karena memang rumah tersebut didesain ber-AC, tak ada fentilasi. Yang ada hanya mesin blower bising yang sebenarnya hanya mengalirkan hawa panas tanpa mengurangi. Jadilah kami semua serupa orang yang lari berkilo-kilo meter, keringat mengucur deras, tidur tidak nyenyak. Aku jadi ngeri sendiri membayangkan balasan di yaumul akhir kelak. Terlebih di padang mahsyar yang panasnya seolah tak terdefinisi.

Namun lihatlah hari ini. Beragam kenikmatan mendekat dan menetap pada kami. Tentu karena Sang Illahi. AC sudah dinyalakan, jadi sudah lumayan dan kami amat bersyukur. Para member juga sangat menyenangkan dan antusias untuk belajar dan menaati aturan. Kami bahkan dengan cepat menyatu menjadi keluarga baru. (Salah satu tutor bahkan berpendapat, "Aku suka members mu. Mereka reactive banget sama english. They take it seriously. I love them." Aku kemudian bergumam, "Alhamdulillah. If they did it, it's because of their own selves. May Allah guides them.") Wi Fi juga kabarnya besok akan dipasang. Alhamdulillah bisa berhemat. Semoga bisa digunakan semestinya, tidak hanya handal membuat status di sosmed, hehe. Banyak sekali kenikmatan yang Allah berikan. Padahal kalau aku ingat lagi, aku tidak pernah complain atas apapun pada Allah perihal apa yang aku hadapi di camp sebelumnya. Kamar yang full, kamar mandi yang terbatas, Bu Kost yang hobi ceramah unfaedah (Oops), beberapa member yang aduhai cukup gimana gitu tapi aku tidak pernah benci apalagi dendam, dan lain sebagainya. Aku tidak mengeluh pada Allah, kebetulan (Haha). Namun Allah kini membalas dengan cara yang amat indah. Aku sampai malu sendiri jika tidak betul-betul belajar berada disini.
Yang menjadi buah pikiranku adalah kadang aku takut tidak bisa memberikan yang terbaik untuk para member. Karena mengajar tanpa inovasi, begitu-begitu saja----bagiku amat flat, tidak menyenangkan. Hmm, dengan mengucap bismillah, aku akan berikhtiar.

Kesan di kelas Periode 1

Di periode pertama pikiranku bercabang kemana-mana. Sebab rumor kita akan didaulat jadi tutor, sebab itu pulalah aku jadi tidak fokus pada konten, melainkan cara mengajar para tutor. "Benarkah aku bisa seperti mereka?", pikirku. Di minggu pertama aku hanya fokus pada cara mengajar, sedang isinya hanya sepersekian persen. Karena aku kira kami akan langsung jadi tutor kelas. Padahal tidak demikian, hahaha. Entahlah, semenjak Skripsi menjadi bagian dari hidupku, aku jadi kerap tidak bisa fokus pada satu hal. Bercabang. Begini. Begitu. Bahkan kalau ada orang bertanya hal remeh sekalipun, aku acapkali masih berpikir dulu sebelum akhirnya mampu melempar jawaban. Hmm, Allah. Mudahkan hamba untuk menjernihkan kembali pikiran. Sebab segalanya adalah jihad, bukan beban.

Periode pertama aku menyukai kelas Speak Up 2 karena mengharuskan kita untuk berbicara. Aku suka. Meski sebenarnya aku amat mendambakan kelas TOEFL. Namun kami kan hanya anak beasiswa, jadi cukup bersyukur saja dengan paket yang sudah ada. Tentu usai itu tak lupa melantunkan doa-doa.
Aku juga menyukai kelas Pronun WOW. Tutor yang menghandle kelas juga begitu talent. Sedang Go Go Talk sering membuat aku mengantuk, ada serpihan kecil yang membuat aku bertanya, tapi lekas tertepis dengan pernyataan: Tidak ada salahnya mengulang. Ingat, kita bisa belajar dari banyak hal. Yang terakhir kelas Tik Talk. Disana aku mendapat beberap kosa kata baru. Semoga tidak hilang dan tertiup laksana debu.

Kesan di kelas Periode 2

Aku senang bisa bergabung di kelas Quicky Speak. Menantang. Kelas yang paling aku suka. Kelas yang paling aku tunggu. Tidak ada bedak bayi, cekikikan dan game. Meski kadang tertawa juga amat penting, biar tidak terlampau serius. Nanti cepat kurus. Eh.
Write Up juga kelas yang aku gandrungi. Meski kerap bersalah karena tidak meluangkan waktu untuk melatih menulis dan berbicara topik berfaedah dan berbobot sendiri di Camp karena terlalu banyak excuse.
3 GP 1 harusnya ada di periode pertama, namun aku juga bersyukur, kelas ini bisa jadi jalan untuk mengingat kembali apa yang mungkin dulu sudah dipelajari tapi terlupakan karena tidak pernah diamalkan. Aku juga dijadwalkan mendapatkan kelas I - Club, kelas untuk belajar mengajar. Dari keempat kelas bisa aku simpulkan aku tidak berikhtiar maksimal, selalu. Di Quicky Speak aku ga belajar dan mempersiapkan materi dengan matang melainkan dadakan, di 3 GP 1 aku tidak sempat membaca lagi di Camp (cuma sedikit sih), di Write Up dan I Club juga begitu. Hmm, bismillah semoga setelah ini Allah mudahkan untuk melakukan yang terbaik. Dari sini aku jadi paham, bahwa sesuatu memang harus dipersiapkan, dilatih dan dipelajari lebih dulu. Menanam, kemudian menuainya kelak. Aku sempat berbincang lama dengan Bro Chan dan Sis Umami. Dari keduanya aku jadi ingin belajar lagi, sendiri jika memang belum ada tutor. Berdoa, belajar dan berlatih. Lebih mengarahkan diri untuk bercakap topik berfaedah dan menulis tulisan ilmiah dan akademik, terlebih katanya aku ingin sekali melanjutkan studi bukan. Wallahua'lam.

Kesan di Kelas Periode 3

Periode juga banyak sekali menumbuhkan banyak anak cabang pikiran. Bagaimana bisa mengantuk di kelas favorit yang mendapatkannya pun tidak pernah terduga sebelumnya. Ya, jadi kita bisa memilih paket sendiri di periode ini. Aku dan beberapa dari kami memilihi kelas TOEFL. Sulit dipercaya. Laa hawla wa laa quwata illaa billah.
Hehe, di awal pertemuan entah setan apa yang mendiami pelupuk mataku. Ngantuk minta ampun. Scoring aku lewati dengan menahan kantuk yang amat dalam. Padahal aku adalah tipe orang yang tidak pernah mengantuk separah itu di kelas. Karena aku bukan anak organisasi saat di kampus. Maka akan sangat aneh jika aku mengantuk di kelas. Sebab meski aku lemot, aku sangat menghargai kelas karena itu merupakan anugerah berupa pendidikan yang tidak bisa aku sia-siakan. Dulu waktu kelas 12 SMA aku pernah dua kali didapati tidur pulas di tempat dudukku saat KBM berlangsung. Itu karena aku baru tidur usai sholat Subuh dini hari karena harus menyelasaikan proyek sekolah, menjahit baju seragam sekolah. Beruntung guruku saat itu pengertian. Padahal beliau terkenal tidak ramah pada murid. Tapi aku yakin, hatinya baik bukan main. Maka saat itu perdana aku merasakan bagaimana secara tidak sadar mengantuk dan tertidur saat pelajaran berlangsung. Sungguh memalukan. Hehe.

Sudah seminggu kelas TOEFL berlalu. Sudah berapa lembar buku relevan yang aku baca? Sudah berapa kosa kata akademik yang aku amalkan? Dan beragam pertanyaan lainnya. Besok kami akan menghadapi scoring kedua. Semoga aku tidak mengantuk. Karena ini adalah kelas yang sudah lama aku dambakan. Jika ada kesempatan, aku akan belajar kelas serupa di lembaga lain juga. Atau mungkin belajar sendiri mengingat sedikit banyak aku memperhatikam bagaimana metodenya selama ini. Hmm, entahlah. Que sera sera.

Adapun dari kelas ini aku jadi diingatkan dari oleh tutor-tutor kelas dengan segudang prestasi namun tetap rendah hati. Bahwa jangan lupa untuk menginvestasikan waktu untuk membaca dan menulis yang lebih ilmiah. Lalu ingat, bahwa menguasai TOEFL itu bukan perihal score yang didapat, tapi skill yang melekat.

Don't waste your time, girl!

Tambahan

Banyaaaaak bangeeeeet rasanya perubahan dalam diri sampai hari ini. Hehe. Lebih peka terhadap orang lain. Lebih percaya diri untuk mengungkapkan pendapat ataupun pertanyaan, meski masih lebih suka mendengarkan sebenarnya (kecuali ada yang kurang srek maka saatnya angkat bicara, walau kadang diam saja). Lebih hati-hati dalam bersikap. Lebih berusaha lagi memanaj waktu. So forth.
Yang jelas aku jadi sering berlatih untuk menemukan topik pembiacaran, haha. Misal: satu member tadi malam melangsungkan fashion show. Akhirnya esok harinya saat berpapasan aku akan membahas topik itu, memperpanjang, mengulas dan apapun itu. Memutar otak untuk orang sepertiku, yang awalnya lebih suka diam jika tidak ada yang mengawali pembicaraan dulu. Yah, tidak sesempurna orang yang memang handal berbincang panjang lebar. Namun at least aku berusaha memberikan yang terbaik. Berusaha untuk tidak membuat batinku tertekan dengan kegiatan baru yang harus aku jalani, melainkan bersyukur dan meyakinkan diri bahwa memperluas relasi dan menumbuhkan keeratan silaturahmi adalah salah satu cara untuk memperbaiki kualitas diri.
Yang cukup berubah lagi adalah aku yang sudah mulai bisa menerima kenyataan untuk bisa makan di warung atau tempat umum meski sebenarnya masih malu minta ampun. Entah ini perubahan yang baik atau tidak. Yang terang adalah aku yang awalnya paling tidak bisa makan di depat lelaki asing kini mulai terbiasa, anggap teman dan mereka manusia biasa. Hehe.
Apalagi yang berubah dan kesan menjadi tutor ya? Lupa. Aku pun sudah mengantuk. Baiklah. Aku akhiri dulu. Wassalam~

_____________

Sekian dulu curhatnya, jika ada waktu senggang dan ada yang terlupa, postingan ini akan segera diperbaharui. Thanks!

Ngomong sendiri: Lama ga nulis, tulisannya jadi kacau. Tar aku edit lagi dah.

Today is our last day of the period and I hate to say farewell, because some of members are going to back to their home. I will miss them a lot. For me, I still have about one month and two weeks to finish this program. Hopefully I will be more diligent to memorize a lot of vocabularies and practice it more. Because mastering English is not just because of we would like to pass the examination, but also to master it forever.

I had been studying in Mr. BOB Kampung Inggris for about two weeks which means  one period. I realize, I got progression in my self, especially in English. For instance, I used to hesitate to practice and speak English when I was in my home town. Then, when I decided to come to Mr. BOB Kampung Inggris I got used to speaking English almost everywhere, everytime, etc. Now, I am used to speaking English eventhough it has not been fluent yet. But I remembered  that practice makes perfect. I also believed, as time goes by everything will be better as long as I would like to learn and never give up.

Here, I also met many friends. They're not only my friends, but also my family. I was also grateful for having great tutors like Sista Dita, Rahma, Uci, Apil, and Bro Hadi. They're more than a tutor, they're motivator. They're like my brother and sister who were not be stingy to share their knowledge. It's not only about English, but also the others.

I'm very grateful to be here. Although sometimes I got headache because I felt that I still could not do all of lists in my schedule. It looks like I just wrote that schedule and had not attempt to make it happens. Anyway, it's just about priority. May Du'a will make it easier. And the important thing is don't forget to enjoy life and be happy. The last, thanks to all of you who had chosen me to become a part of you.

Best Regards,
Lutfiyah

Pare, 7th of Nov 18

________________

[Sebenernya ga terlalu yakin ama tenses yang aku pake, silahkan yang mau koreksi di kolom komentar 😄]

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Tomato
  • Yang Ga Diminta Aja Allah Kasih, Apalagi yang Iya
  • Air Zam - zam
  • Oretan Akhir Periode
  • Not Fair
  • Door Duisternis Tot Licht
  • Obsesi?
  • DAY 7 - Bersih-bersih dan Silaturahim
  • Kapan Nikah?
  • Rindu Rasulullah

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates