Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Aku mengawali semester pertama di bangku kuliah dengan perasaan bersalah karena sempat kucing-kucingan dengan para kandidat panitia dies natalis. Begitulah aku. Aku akan lebih mengikuti apa kata Ibu sejak dulu meski menjadi bagian dari mereka juga merupakan tanggung jawab yang harus aku emban. Namun jika Ibu sudah bilang, “Tak perlu ikut-ikut seperti itu, panitia dan lain sebagainya. Langsung pulang saja setelah kelasmu usai, supaya tidak pulang kemalaman.” Begitu kata beliau. Meski semua itu disampaikan dengan lembut, aku mau tidak mau harus menurutinya, itulah kenapa sejak dulu aku tidak pernah terlibat dalam kegiatan kepanitiaan, juga sering aku merelakan beberapa ekstrakurikuler di sekolah demi mematuhi perkataan Ibu. Siapa yang tidak mengerti, jika hal itu justeru akan memperparah sifatku yang amat pemalu berpendapat, pemalu kemana-mana, pemalu dan pemalu lainnya. Namun aku percaya, Allah Swt tidak akan menyia-nyiakan hamba yang ingin berusaha sami’na wa’atha’na kepada orang tua. Aku bisa saja membantah dengan halus dengan cara memberi penjelasan tentang betapa pentingnya kegiatan penunjang luar kelas semacam itu, akan tetapi itu tidak akan mengubah banyak pemikiran seorang Ibu yang khawatir anak perempuan kemalaman di jalanan yang seringkali lebih liar dari binatang hutan. Maka aku sepatutnya bersyukur, kedua orang tua yang bahkan belum pernah mencicipi bangku sekolah itu rela memberikan kesempatan selapang-lapangnya kepada seorang anak perempuan desa untuk mengenyam ilmu pendidikan di kota saat SMA. Kemudian setelah itu berkuliah, masih di tanah kelahirannya.

Tak apa jika semua itu membuat beberapa calon panitia dies natalis periode kala itu melihatku dengan ekor mata kala bertemu. Toh memang aku yang salah dan lari dari tanggung jawab. Pun aku tidak pernah menjelaskan kepada mereka alasannya sebenarnya. Sering aku mendapat ajakan dari beberapa orang, lengkap dengan kalimat-kalimat yang terdengar begitu menyudutkanku dan terkesan menakut-nakuti. Tapi memang dasar, meski aku amat pemalu, aku ternyata memang bebal dan tidak mudah dipengaruhi orang. Aku juga berpikir jika aku sudah terlambat karena hari dilangsungkannya dies natalis akan segera tiba. Maka pastilah sebagian besar jobdist sie PDD telah diselesaikan, pikirku. Walaupun begitu, aku selalu terusik dengan perasaan bersalah. Ingin aku bergabung menjadi bagian dari panitia itu, tapi jangan-jangan memang teramat terlambat. Padahal jika boleh jujur, pekerjaan berbau PDD bisa sangat menyenangkan bagiku. Meski nyatanya aku tidak tahu persis apa yang akan dikerjaan sie PDD.

Dies natalis sudah berakhir, tapi rasa bersalahku tak kunjung berakhir. Beberapa hari kemudian aku mendapakan ide: minta maaf. Tapi aku takut mereka tidak memaafkan kesalahan yang begitu besar itu. Setelah meminta mendapat Himma, akhirnya aku bertekad untuk meminta maaf dengan cara mengirim pesan, hehe. Bahkan Himma juga mengecek pesan yang sudah aku ketik. Aku mengirim dua pesan yang sama dengan sapaan berbeda ke dua nomor: nomor handphone Nunik sebagai Ketupel Dies Natalis dan Toni sebagai ketua Sie PDD. Tak menunggu lama, keduanya membalas pesanku. Betapa terharunya aku dibuat mereka kala mereka ternyata memaafkanku dan meminta agar melupakan semua yang pernah terjadi. Aku cukup lega, walau sebenarnya tidak teramat lega. Karena aku belum meminta maaf ke banyak orang.

Singkat cerita, segala prasangka buruk dan perasaan bersalah perlahan ditelan kesibukan mengerjakan beragam tugas sebagai mahasiswa. Aku mulai merasa benar-benar bisa mencintai teman seangkatan dan menganggap mereka bak keluarga baru disamping bertebarannya kabar miring mengenai angkatan ini. Tapi aku tak peduli, kami adalah kami. Setiap manusia memiliki kekurangan yang bisa saja nampak atau Allah tutupi. Maka aku menjadi salah satu orang yang amat tidak peduli dengan omongan buruk orang luar angkatan, melainkan menjadikannya sebagai bahan evaluasi diri. Sebab kelompok terbentuk dari tiap-tiap pribadi. Bahkan aku sepertinya selalu menjadi orang yang terakhir mendapatkan berita seputar prodi dan angkatan. Belum lagi dari Toni dan Nunik, aku jadi mempelajari untuk mampu memafkan dan menerima setiap kekurangan dengan lapang. Hmm, sebenarnya aku tidak menginginkan dan mengira pembukaannya akan dimulai dengan cerita sepanjang ini karena pastinnya akan membosankan. Intinya aku telah belajar dari orang-orang hebat dalam angkatan ini. Maka biarkan aku membagi sedikit pandanganku terhadap kalian. Jika kurang berkenan, aku mohon maaf. Sengaja aku tidak membubuhkan kekurangan kalian yang sudah barang tentu dimiliki setiap insan, karena aku lebih sibuk memperhatikan dan  berusaha memperbaiki diriku yang penuh dengan kekurangan. Semoga Allah Swt memudahkan kita semua. Selamat men-skip dan mencari nama anda! Hehe.

Rieke Ayu Safitri. Ayu, begitu ia biasa dipanggil. Ayu seperti parasnya. Bagiku ia tak suka banyak bicara. Dia baik. Yang paling aku ingat darinya adalah jika tidak salah di hari pertama kuliah aku duduk di kursi paling depan bagian kanan, tepat disampingnya. Dia rajin mencatat setiap materi perkuliahan. Kulirik, tulisannya bagus bukan main.

Sofiatul Qoni’ah. Sofi. Tak ku sangka ternyata suaranya seindah wajahnya. Citra ini ku dapat kala berada dalam bis yang sama saat pergi Studi Lapang bersama. Orangnya baik dan sepertinya ceria.

Arini Rohmatika. Arini itu care. Meski tidak sedekat seorang teman dekat, dia tidak akan sungkan untuk menanyakan apakah tugasmu sudah selesai. Bahkan jika perlu, ia juga akan member pesan. Arini terkesan begitu rajin. Saat sekelompok bersamaku ia akan menyelesaikan jobdist sebelum tenggang waktu yang disepakati kelompok usai.

Desy Tri Mega. Desy, menurutku dia mudah bergaul dan pandai mencairkan suasana. Gaya biacara yang seringkali ceplas ceplos berupa candaan lucu membuat banyak orang senang berteman dengannya. Dia juga tidak pelit untuk mengaminkan dan mendukung mimpi orang lain. Aku yakin itu semua akan kembali kepadanya.

Uswatun Hasanah. Uus tinggi. Hehe begitu yang seringkali tanpa sengaja aku jadikan perbedaan kala menyebut dirinya pada yang lain. Dan mungkin itu juga sering dilakukan yang lain. Karena ada tiga Uus itulah akhirnya kami harus pandai-pandai membuat label, hehe *bercanda. Uus anaknya baik. Mungkin itu yang mengantarkan dirinya untuk menamai akun IGnya demikian *promo. Orangnya juga menyenangkan. Kalian akan mengetahuinya sendiri kala benar-benar mengenalnya. Bukankah kehidupan sering begitu? Kau kadangkala tak bisa mengukuhkan karakter seseorang hanya dengan satu tegukan kopi. 

Siti Luthfiyah. Evi, ku kenal saat kami belajar bahasa Inggris dengan Sir Wahid. Sebelumnya aku belum pernah berkenalan, meski kita telah bertahun-tahun berada di sekolah yang sama. Selain Evi yang memang tidak terlalu suka bicara dan heboh sepertiku, kami memang baru amat mengenal saat ternyata mengenyam pendidikan di prodi yang sama. Dia kalem, pintar, cantik dan sederhana.

Intan Kusumawati. Intan, si murah senyum. Atau mungkin murah ketawa. Karena ia tidak pernah segan untuk menimpali omongan atau candaan atau apapun yang relevan dengan tertawa-----dengan ketawa khasnya. Selain cantik, kepribadian yang baik membuat ia mampu memilki banyak teman.

Rizki Okvian Sari. Rizki. Dia tekun untuk mencari tahu apa materi perkuliahan yang belum ia pahami. Selain itu Rizki juga rajin mengerjakan tugas. Tidak sepertiku yang seringkali tunduk pada deadline. Ia juga tak segan membagi ilmu yang ia pahami dengan cara yang baik dan terlihat amat sabar, tidak merendahkan.

ST. Robiatul Adawiyah. Dewi orangnya baik. Dia juga seringkali membuat lelucon lucu, dan itu menghibur. Kala mengerjakan tugas kelompok, kesan pertama yang aku dapatkan adalah (kelompok pertama di kelas aku bersama Dewi dan beberapa anggota lain) ia cenderung lebih percaya dan menonjolkan orang lain, padahal sebenarnya dia juga bisa. Karena setiap orang memiliki kelebihan dalam dirinya.

Elza Septia Ayu Lestari. Seperti Evi, Elza juga berasal dari almamater yang sama denganku dan aku baru mengenalnya di kampus. Kami juga sempat menginap di masjid kampus karena kerja kelompok di masa orientasi memakan waktu hingga dini hari. Elza adalah sosok yang rendah hati dan sederhana.

Eva Rusdiana. Eva. Meski ceplas ceplos, Eva sebenarnya sosok yang baik dan peduli. Ia juga handal dan teliti di mata kuliah yang berbau aritmatika. Pertama mengenal dan mengamati sekilas wajahnya, aku mengira Eva adalah anak yang begitu pendiam. Hehe.

Maulinda Agustin. Linda, orang yang peka sekali. Ia baik bukan buatan. Sering menawarkan tebengan, atau bahkan mengajak. Karena ia amat peka dan mengetahui jika sang pemalu tak akan mengangguk jika hanya ditawarkannya, bukan diajak. Lebih daripada itu, kepribadian yang baik lain yang menetap dalam dirinya membuat banyak orang menyayanginya.

Nurul Jannah. Jeje. Aku bahkan baru mengetahui jika kita juga berasal dari almamater yang sama. Kala itu aku dikagetkannya di gerbang MAN. Ia menyapaku dan bertanya sudah keterima di kampus mana. Aku bingung karena sama sekali tidak mengenal Jeje. Siapa wanita cantik ini, pikirku. Akhirnya aku tersenyum, lantas menyengir dan menjawab jika aku belum diterima di kampus manapun, sementara ia sudah tercatat sebagai mahasiswa baru prodi Agribisnis di UTM. Kami pun saling mendoakan. Aku masih belum tahu identitasnya hingga akhirnya kami saling mengenal di kampus. Yang aku bingungkan, dari mana  ia mengenal aku? Hehe. Jeje anak yang pandai bercerita dan mengolah kata, ia juga mudah bergaul. Maka meski baru mengenal, akan selalu ada pembicaraan yang dapat mencairkan suasana. Beda jika denganku, seseorang justeru kadang merasa tidak dihiraukan karena aku terlalu banyak diam. Hehe.

Ria Mega Asri Tri Nalanda. Ria. Kesan yang aku dapatkan pertama kali saat kami   sekelas di mata kuliah PAI. Ia membawakan presentasi dengan amat baik, selain itu ia juga menjawab dengan tanggap. Tidak memilih-milih dalam berteman adalah salah satu sifat yang bisa aku lihat ada dalam diri seorang Ria. Ceileh bahasanya, haha.

Affan Nailurridho. Affan. Baik hati. Ia juga sering melontarkan candaan menjadi ciri khas tersendiri yang melekat dan memudahkan ia bergaul dengan siapa saja. Affan meski handal berpendapat, tak mau terlalu memperlihatkan kehandalannya. hehe.

Mega Sulfia. Mega, juga satu almamater denganku seperti Elza, Evi dan Jeje. Dan sepertinya satu-satunya yang memiliki persentase lebih saling mengenal denganku. Bukan tanpa sebab, karena saat di MA dulu, ia juga berteman baik dengan sahabat-sahabatku, Badi’, Mince, Caca’ dan lain sebagainya. Mega orang yang baik dan friendly.

Bismi Ade Yulia. Bismi. Citra pertama yang aku dapatkan darinya adalah dia menyukai bahasa Inggris. Kala itu ia mempraktikkannya dengan salah seorang panitia ospek. Kebaikan yang tak pernah bisa aku lupakan adalah saat dia membantuku untuk menyelesaikan satu tugas menulis tangan di praktikum Metode Kuantitatif Bisnis karena saat itu tanganku belum bisa menulis. Aku tidak meminta, tapi ia menawarkan. Akhirnya aku mengiyakan karena merasa ada banyak tugas lain yang menunggu. Beruntungnya bisa ku lakukan dengan mengetik menggunakan satu tangan. Selain itu, Bismi juga ku kenal tak sungkan untuk mengungkapkan pendapatnya di khalayak.

Annisatul Qomariyeh. Anis adalah salah seorang yang akan menyelimutiku kala tertidur selain Ulfa. Ini karena tempat kost mereka seatap. Lagi-lagi aku tidak pernah meminta tapi ia lakukan dengan tulus. Anis menyukai prakarya dan seni berpuisi. Sering ia menyulap karton-karton menjadi bintang yang lucu-lucu. Atau menuliskan bait-bait puisi di dinding BBM-nya.

Hendra Hardiyanto. Hendra terlihat santai saat mengerjakan tugas kelompok meski sebenarnya dia juga rajin. Satu sekelompok saat di ospek fakultas membuat aku bisa menyimpulkan beberapa hal mengenai karakter anak yang satu ini. Ia adalah orang yang santun, religious dan teman yang baik.

Risqi Kurnianti. Eqi. Menjadi partner asprak membuat aku merasa selangkah lebih mengenalnya. Dia menyenangkan. Dia kerapkali memberi kesempatan padaku, orang yang baru belajar. Sedang dia sudah lebih awal. Aku sendiri seringkali menyipulkan sesuatu mengenai tabiat orang kala bertemu pertama kali. Itu acapkali aku jadikan acuan. Namun ternyata tak selamanya benar. Kau akan lebih mengenal seseorang dengan baik seiring dengan berjalannya masa. Dan mengenal Eqi seperti mengenal lainnya. Aku jadi banyak belajar. Iya, dia baik dan pengertian. Dan belakangan aku ketahui dia sangat handal ngebut dan beraksi di jalan raya. Terlatih. Ini ku ketahui saat kami bertiga (Aku, Eqi dan Ana) pergi ke pameran beasiswa di Surabaya. Kala itu aku senang sekali mengetahui sisi lain darinya.

Ana Fifit Rotin: Ana. Aku nyaman belajar sama dia. Sama yang lain juga sih. Tapi dia itu salah satu tipikal orang yang tidk mudah mendiskreditkan orang lain. Sebab  aku yang meski bertanya hal remeh-temeh tetap dia anggap pertanyaanku itu keluar dari mulut seorang profesor. Amat berharga. Itu sedikit yang bisa menggambarkan jika dia humble. Aku tidak bisa menghitung kebaikan yang sudah dia lakukan untukku.

Aimatul Azizah. Iim. Begitu kami memanggil. Dia pribadi yang lucu, ceplas ceplos, baik dan cantik. Tak banyak yang bisa ku jelaskan tentang dirinya seperti sahabat dekat yang mengerti baik karakternya. Namun aku belajar banyak dari Iim. Salah satunya untuk selalu bersabar dan tidak menyerah untuk melakukan sebuah hal. Karena ada banyak orang yang menunggu dan mendoakan pastinya.

Sherly Utami Putri. Sherly ini baik dan sangat setia dalam berkawan. Dia juga memiliki selera seni yang menarik. Apalagi di bidang fotografi. Dia juga handal berpose di depan kamera. Terbaca dari karyanya jika ia adalah orang yang rapih dan detil. Tulisan tangannya juga amat unik dan indah. Terlihat sekali goresan seni di setiap huruf yang tertata.

Yulistian Parameswari. Aku bukan ingin mengatakan anak AGB 14 semuanya baik di mataku. Tapi kenyataanya memang begitu. Selain itu Yulis juga cantik. Hehe, ayolah, Lut. Berapa kali kau menilai orang hanya dengan ukuran fisik? Hehe, percayalah, pada faktanya aku bahkan jarang sekali hampir tidak pernah menilai orang pertamakali dari ukuran fisik, melainkan akhlaknya. Yulis juga kerap tidak ketinggalan membawa air minum sendiri dari kostannya. Ini bukan karena dia tidak memiliki cukup uang untuk membeli air minum. Namun lebih kepada dia memang orang yang 'rajin'.

Noer Aliyatin Rahmawati. Ternyata Nora itu anaknya memang kocak dan ceplas ceplos. Kesan itu ku dapat bahkan sebelum seakrab sekarang. Setelah aku dipindahkan untuk bimbingan dengan dosen pembimbing skripsi Nora (karena dosen pembimbingku menunaikan ibadah haji), kesan itu kian kuat dari dirinya. Selain itu dia juga sangat baik. Meski hanya beberapa minggu, aku merasa kami telah berteman akrab sejak lama. Dia rajin dan bukan tipe deadliner sepertiku. *ups.

Suci Indah Sari. Ah, dia juga tipe orang yang mudah membuatku tertawa dengan ceplas ceplosnya. Menyenangkan! Mampu melupakan beban sejenak. Beberapa minggu lalu setelah lulus kuliah melangsungkan pernikahan. Hehe. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah dan mampu menjadi jalannya dakwah, ya!

Siti Kholifatul Solikah. Selain Suci, Siti rupanya juga sudah jauh terlebih dahulu melepas lajang. Hehe. Padahal seolah baru beberapa hari yang lalu kami tertawa cekikikan. Ini tak lain salah satunya karena Mbak Siti melihat aku beraktraksi dengan seutas tali dan seekor kucing dikostannya yang juga kostan Ulfa. Memang. Dia memang murah senyum dan tidak segan untuk terbahak melihat aksinya. Beruntung saat itu tidak ada KK-ku. Kalau tidak dia pasti akan berkata, "Jangan tertawa terbahak. Apalagi muslimah." Hehe, peace! Bercanda. Lagian mana mungkin ada beliau. Ups. Lalu nyatanya, ucapan beliah banyak benarnya sih.

Lisnawati. Lilis baik sekali. Hehe. Aku beberapa kali diijinkan menginap di kostan-nya yang juga merupakan kostan Irvi. Hihi. Sebelum itu dia memang baik. Ah, aku kehabisan kata dan tak tahu lagi bagaimana mendeskripsikannya lagi. Yang jelas, senang sekali mengenalnya dan semoga dia tidak melupakanku sampai kapanpun. *Idih, maksa ya!

Uswatun Jannah. Uus. Ini Uus yang cantiknya seperti artis. *Tuhkan ngukur fisik mulu, Lut. Wkwk, peace. Tapi sungguh, semua yang bernama Uus di dunia adalah orang yang cantik. Selama ia adalah seorang perempuan tulen. Hehe. Uus juga pribadi yang menyenangkan. Dia kerap menggodaku dengan menjadikan beberapa storyku di sosial media sebagai candaan. Aku pun terhibur dengan itu. Senang sekali bertemu dan mengenal orang yang tidak memilih-milih teman sepertinya.

Lia Agustina. Ucapannya kerap terlontar amat fulgar. Hehe. Tapi aku amat paham jika dia orang yang amat baik. Bukan sekedar baik dalam menjalani hidup, Lia juga orang yang apa adanya. Dia juga dikenal sebagai sosok yang tangguh, pekerja keras, patuh aturan dan rajin. Jika tidak salah ingat, dia bahkan bimbingan skripsi 4 kali dalam seminggu. Ini ungkapan dosen pembimbingnya yang geleng-geleng dengan betapa rajin dan antusiasnya ia dengan tugas akhirnya. Beruntung ia dipertemukan dengan orang yang tepat. Eh, maksudku setiap orang akan bertemu dengan beragam hal yang tepat. Hanya saja penyikapannya memang pasti tidaklah selalu sama.

Ulfa Widia Ningrum. Ulfa: Dia itu kian semester kian tekun. Padahal kita sama-sama makan nasi. Itulah yang bikin nilainya kian menjulang. Meski bukan itu tujuan tunggalnya. Aku belajar buat sabaaaaar banget dari dia. Dia bisa pendiem tapi bisa cerewet masya Allah. Dia juga sering memasak untukku di kost. Hehe. Yap, dia salah satu yang menjadi langganan untuk aku menginap kala ada keperluan mendesak di kampus. Seperti, mengajar, buka puasa bersama, kumpulan dan lain-lain. Kata terima kasih dan doa rasanya tidak cukup untuk membalas kebaikannya.

Annisa Aulia Hidayah. Nicun: Masih dengan orang berkarakter sama seperti pertama aku kenal saat berjalan ke pertelon kampus. Tapi makin kenal, ternyata dia kian hebat. Kalo chat sama dia bisa panjaaaaaaaang. Kalo VN bisa lama syekaleeeh. Hehe. Banyak topic yang menarik diperbincangkan dengannya. Dia juga mudah mendoakan dan mendukung yang terbaik untuk orang lain. Termasuk untuk diriku. Itu adalah salah satu pelajaran berharga yang aku dapatkan darinya. Thank you, Nicun.

Hasyim As Arie

Ghonimatun Nafi’ah

Claudia Wahyu Ekalisa

Yeni Eka Setiyowati

Shelly Afini

Bima Kurnia Wijaya

Muhammad Iqbal

Nur Laili Alfianah

Ovi Qurrotus Tsaniya

Larissafitri Anggraini

ST. Laila Zaini

Maulani Yulindasari

Erick Gunawan S.

Muhammad Afifudin

Aldi Wicaksono

Imamatul Ulya

Mega Maulina Ummie

Toni Irawan

Muhammad Taufiqurohman

Indah Tri Sundari

Hafiluddin. Aura kesabaran, kebaikan, dan beragam karakter baik lainnya terpancar jelas bahkan meski baru mengenalnya. Bang Hafil juga tidak memilih-milih dalam berteman. Selain itu ia juga handal membuat lelucon segar. Maka tidak heran jika ia memiliki teman sebanyak air di lautan. Hehe. Selain hal yang sudah aku sebutkan itu, kesan pertama yang aku dapatkan adalah gaya bicaranya yang bagus saat berbicara dalam bahasa Indonesia, seperti intonasi, dan lain sebagainya. Hmm, sukses terus, Bang!

Ahmad Barisi

Ade Irawati

Mohammad Noor Assiqin

Moh Rizal Prasetyo

Ekomatis Solah

Farrasmahdy Julian

Fahmi Zainur Rois

Irviana Nisvi Khoirun Nisa’. Irvi: Aku ngomong sekalimat. Dia ngomong sekalimat. Aku menulis sebaris. Dia pun gitu. Aku lagi cerewet-cerewetnya. Dia juga cerewet. Dia sedang ingin menjadi orang yang pendiam. Aku juga. Dia tidur di bus. Aku juga tertidur. Dia pendengar yang baik. Aku berusaha juga untuk itu. Aku ngakak. Dia ngakak (meskipun tidak dianjurkan dalam Islam hehe). Pokonya banyak yang klop sama dia. Selain klop, dia juga peka kalau aku lagi butuh apa-apa. Misalnya, pinjeman laptop. Hihi. Suwun, Mat!

Riza Ade Prasetya

Moh Nashiruddin Effendi

Febi Rista Nanda

Farida Hanum

M Nur Huda

Dwi Andika

Akhmad Yusup. Yusup orangnya seringkali kocak. Meski juga kerap menghilang kala saatnya bimbingan KRS. Yap, kita mendapat dosen wali yang sama. Dia juga pribadi yang baik dan terbuka.

Fitria Asariani. Kesan pertama: Fitri itu cantik. Hehe. Pertama kali dia menyapaku kala Ospek jurusan. Dia membantuku berwudhu karena kala itu kami berwudhu menggunakan timba dari tempat penampungan air yang terbilang besar. Tanpa aba-aba dia langsung membantuku. Setelah itu kami tentunya banyak dipertemukan di kelas yang sama karena prodi kami memang hanya membuka dua kelas. Jadi kemungkian besar untuk mengenal semua anak angkatan. Selain itu kami juga sering mendapat tugas kelompok bersama. Tak hanya itu, kita juga qadarullah mendapat dosen pembimbing skripsi yang sama. Fitri adalah orang yang tidak takut menghadapi banyak tantangan baru. Ia tergabung di banyak organisasi kampus. Tentu, dia juga pribadi yang baik. Bukan karena dia membuatku haru dengan memberikanku hadiah boneka lengkap dengan headphone, tapi karena banyak kelapangan hati dan kebaikan yang seringkali aku saksikan darinya.

Fatimatus Zahroh. Fatim: Perhatian sekali, apalagi kalai aku memutuskan untuk menginap di kostnya karena ada keperluan. Semuanya perhatian juga sih, hehe. Tapi dia detiiiiil. Dia juga kerap beres-beres dan rela membiarkan aku pulas dengan buku yang tidak jadi aku baca. Haha. Kalau bahas soal ilmuagama (amat seru) sama dia sering bikin aku ingin baca buku agama banyak-banyak, tapi sering terlupa dan malah tidur nyenyak. Hmm, apapun itu, terima kasih atas segalanya rasanya tak cukup!

Himma Hadzani Zulfa. Himma: Dia sering punya pemahaman beda. Terus sering juga pemahaman kita sama. Dia dan Aku kerap menganggap sesuatu lucu, tapi tidak untuk beberapa orang. Kadang bisa bahas berfaedah (dia, Aku mah apa haha) sesuatu panjang lebar sampai lupa tujuan utama: kudu mengerjakan tugas. Kebiasaan itu kerap terjadi, apalagi kala itu aku sering menginap di pondoknya karena kita menyibukkan diri dalam kegiatan bela diri di kampus. Bukannya menyelesaikan tugas karena baru pulang tengah malam, kami justeru memperpanjang percapakan. Momen yang benar-benar tidak akan aku lupakan. Segala kebaikan dan pesan-pesan yang seringkali tersampaikan dengan cara yang terselubung lewat kata-kata sederhananya. Terima kasih!

Nunik Muhayani. Nunik adalah orang dengan jiwa sosial yang begitu tinggi. Dia tidak segan membantu banyak orang. Tidak tebang pilih. Ini bukan karena aku sering 'nebeng' kala pulang kemalaman. Namun jauh sebelum aku kemudian akrab dan berkenalannya dengannya, aku sudah bisa menebak jika ia pribadi yang begitu. Sebuah kejadian yang membuat ia rela naik turun lift untuk membantu seorang temanku kala itu yang akhirnya membuat ia memberi kesan pertama sedemikian rupa padaku. Dan ternyata memang benar adanya. Nunik juga memiliki jiwa kepemimpinan yang baik, dia tidak mudah menjadi egois meski ini memang sifat manusia. Dia seringkali memikirkan banyak orang ketimbang dirinya terlebih dahulu. Sekali lagi, ini bukan karena ia tergabung di beberapa organisasi. Tapi sebelum itu karakter ini sudah terpupuk. Maka aku sungguh setuju jika kemudian dia dinobatkan sebagai peserta ospek jurusan terbaik saat itu.

Hana Safitri: Hana, Aku pertama dekat itu sama anak ini. Dia care orangnya. Ramah bukan main. Seringkali punya jalan sendiri. Apa adanya tapi kece. Dia juga yang membuat aku mampu mengurangi rasa asing yang awalnya melekat saat pertama kali menapaki dunia perkuliahan. Aku juga tidak akan pernah melupakan banyak kebaikannya.

Mauidhotul Hasanah. Mbak Idho. Baik. Hehe. Aku tergelitik karena betapa tidak kreatifnya aku mendeskripsikan orang secara relatif. Baik memang relatif. Dan memang begitu karakter Mbak Idho dan yang lain di mataku. Jadi aku tidak peduli jika orang lain memiliki penilaian yang berbeda. 
Omong-omong begitu murah hatinya Mbak Idho menghadiahiku sebuah buku perihal tips untuk penulis pemula. Hmm. Semoga Allah membalas kebaikanmu, Mbak!

Warbianto. Warbi tidak mudah menyerah dengan penyakitnya. Iya, dia berjuang melawan penyakitnya yang beberapa kali membuat program kuliahnya terbengkalai. Penyakit itu mudah menyapa ia seperti ia yang juga mudah menyapa orang lain terlebih dahulu kala bertemu. Namun tentu, kita semua berdoa semoga kesembuhannya kini adalah utuh dan penyakitnya tidak akan pernah lagi kambuh. Aamiin.

Mohammad Ali Fikri. Ali Fikri juga sosok yang sering membuat kami tertawa karena tingkahnya yang lucu. Tertawanya seorang teman acap kali berarti bukan untuk menghina melainkan mengapresiasi dan berterimakasih karena telah mau menghibur. 
Anyways, hobi Ali Fikri mungkin salah satunya memancing. Ini kami simpulkan karena kami terlalu sering mendapati memancing di kolam ikan yang ada di area kampus. Katanya, ini hobi yang begitu menyenangkan. Mungkin lebih menjadi pelipur ketimbang seonggok gadget belaka.

Ilham Al Isfahani. Kesan pertama yang kudapat darinya adalah orang yang baik, ramah dan tidak memilih-milih teman hanya karena tingkat IQ, kekayaan dan hal-hal semacamnya. Tentu, dia belum ada waktu untuk bertanya hal semacam itu. Hehe, becanda.
BTW, itu hanyalah kesan di awal. Maksudku setelah itu, bagiku dia adalah orang yang sangaaaaaaaat irit bicara apalagi jika tidak teramat perlu. Aku kadang merasa konyol sendiri kalau sapaanku hanya berujung gigitan jemari. Hehe. Tapi dia baik. Kan sudah ku bilang, semua personil Agb baik. 
Ilham sepertinya gemar membuat puisi dan menggambar. Bukan untuk sesumbar, aku juga menyukai dua kegiatan itu. Namun tak perlu dibandingkan, gambarku masih serupa cakar hewan dan puisiku masih mencerminkan proser belajar sang empu. Tak apa, menyukai kan bukan berarti mendewakan hasil yang lebih dari yang lain. Yang terpenting ketulusan dan tidak pernah bosan untuk belajar dan berlatih. *Aih, jadi ceramah buat diri sendiri.

Edi Amrosi. Meski bicaranya irit, Edi orang baik. Bukan cuma itu. Kenampakannya di kelas juga irit. Mungkin karena jarang sekelas. Tapi kita sedosen wali. Dan dia sering juga dicari. 
Aku percaya, setiap orang punya kesibukan yang berbeda dan itu pilihan. Sebagai teman, kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk teman kita. Apalagi sesama muslim. Hehe.

Selket. Nama yang begitu unik. Ia mudah dikenal bukan cuma karena nama itu. Tapi juga karena orangnya yang lucu dan kerap terlibat di berbagai organisasi kampus. Selket juga begitu baik. Ia tidak segan membantuku saat ban motorku pecah. Dengan izin Allah dia amat sangat membantu kala itu. Aku benar-benar tak mampu berkata dan harus berterimakasih macam apa. Karena saat itu aku harus segera mengahadapi tes Toefl. Bersyukur sekali hidupku dipenuhi dengan orang-orang baik.

Eka Via Masluhah. Cantik bukan buatan. Hehe. Aku kira dia bukan anak angkatanku karena tidak pernah ada di Ospek fakultas maupun jurusan. Ternyata memang seangkatan. Benar. Dia layak jadi artis hehe. Bukan hanya karena parasnya. Namun juga lantaran dirinya dan mimiknya yang begitu ekspresif itu. Belum lagi ia juga agaknya jago beracting. Jangan ditanya betapa sering humor Eka membuat kami tertawa serempak.

Nada Nur SBP. Nada memberi kesan pertama padaku bahwa ia adalah wanita cerdas dengan semangat rasa ingin tahu yang amat tinggi. Ini karena ia kerap duduk di bangku terdepan dan acap bertanya, juga menjawab dosen kala kegiatan perkuliahan di kelas tengah berlangsung. Dan sebenarnya memang begitu, meski ia kerap mengungkapkan bahwa ia tidak demikian. Nada juga sepertinya begitu menyukai dunia fashion dan model. Ia seringkali mengikuti perlombaan fashion di kampus. Ia berbakat dan cocok. Atas hobi dan kegemarannya tampil dikhalayak umum, aku kira Nada bukan orang yang pemalu kala harus berhadapan dengan kaum pria. Ternyata ia mengaku justeru masih sangat malu. Hmm, begitulah memang fitrahnya seorang wanita. Kegiatan di dunia tidak lantas mengikis fitrah tersebut. Belakangan ku ketahui jika itu adalah bentuk dari keimanan.

Achmad Naufen. Nopen jago membuat desain dan mengedit foto. Iya, dia juga memintai dunia fotografi. Tak salah jika kemudian ia dan temannya membuka jasa fotografer. Ia juga salah satu pribadi yang terlihat apa adanya. Seolah tidak mau menjaga image. Nampak begitu santai menjalani kehidupan dan menikmati tiap detiknya. Beberapa orang kadang hanya memutuskan untuk tidak mempermasalahkan hidup. Itulah mengapa dalam hidup, banyak orang orang terlihat begitu lapang.

Uswatun Hasanah. Selain baik, Uus juga ku ketahui handal di mata kuliah berhitung. Berbeda denganku yang masih dengan momok memusingkan kala harus dihadapkan dengan mata kuliah sejenis. Padahal hakikatnya segala hal dapat dipelajari dan ditekuni sebab segalanya berawal dari pola pikir kita sendiri. Tidak hanya di bidang ini, karena Uus terlihat begitu antusias hampir di semua mata kuliah saat kelas berlangsung.

Fiqri Romadiansyah. Fiqri terkenal speak up. Mungkin selain itu membuatnya terlihat kritis, itu juga akan membuatnya terlihat ngeyel dengan pendapatnya. Atau mungkin aktualisasi diri. Namun padahal orangnya baik dan menyenangkan. Lagipula, tidak semua aktualisasi diri itu berkonotasi negatif.

Ali Wafa. Ali dari awal ku kenal sebagai sosok yang ramah, karena walau tak akrab ia hobi menyapa saat di jalan. Meski itu artinya, orang yang irit menyapa tidak berarti menjadi orang yang tidak ramah juga. Ali, begitu ia biasa dipanggil adalah sosok yang juga piawai memetik gitar.

Sebenarnya menceritakan mereka tidak akan cukup dua penggal buku. Banyak sekali yang ingin disampaikan.  Sebab kita sudah seperti keluarga yang saling mendoakan. Well, semua temen dari jaman bahulak  sampai sekarang yang tidak disebut sebenarnya juga Aku anggep sama. Dan sebenarnya lagi, tidak baik memuji seseorang didepan mereka. Tapi Aku yakin, insyaAllah mereka menganggap pujian ini ujian untuk tetep istiqomah dan humble. Lalu semua yang kusebut mengenai mereka adalah sisi kebaikan. Sebab aku lebih suka melakukan muhasbah ketimbang mencari kesalahan, kelemahan dan kekurangan orang lain. Kita hanya butuh untuk senantiasa saling mendoakan. Eh iya, sampai lupa. Aku meminta maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang salah dengan tulisan ini. Maklumlah, ini hanya opini berdasarkan kacamata pribadi. Hanya sebagai hiburan dan kenangan. He. OK, baaaaai!


Lakukan yang terbaik! Itu yang seringkali banyak orang dengungkan dengan bahasa asing yang lantas berbunyi: Do the best! Mendengar kalimat itu, banyak pula yang akhirnya tergerak untuk melakukan yang terbaik.

Dalam hidup, aku selalu merasa tidak melakukan yang terbaik. Sebab bagiku, aku barangkali selalu mengerjakan sesuatu dengan tanggung atau mungkin setengah-setengah. Bukan karena perkara hati yang terpaksa untuk kemudian melakukannya dengan setengah hati. Tapi lebih kepada effort yang dilakukan tanggung, tak maksimal. Setidaknya itulah yang selalu aku rasakan.

Kata Andrea Hirata, dalam salah satu novelnya---satu dari beberapa kriteria orang cerdas adalah tidak pernah merasa "wah" dengan hasilnya. Sebab ia akan cenderung memperbaiki lagi dan lagi karena selalu merasa ada yang kurang. Saat mengerjakan tugas misalnya. Jika yang lain hanya cukup berpendapat dalam selembar halaman, ia malah ingin menambah, merombak dan menambah lagi. Bahkan saat telah dikumpulkannya tugas itu, ia belum merasa lega dengan hasilnya. Kira-kira seperti itu apa yang disampaikan penulis novel best seller itu. Itupun jika aku tidak salah memahami. Hehe.

Kala membaca bagian tersebut dalam novel itu, aku cukup kaget. Persis seperti diriku saat mengerjakan tugas. Namun bukannya merasa aku mendapat karakter cerdas versi Bang Andis, aku malah mengintrospeksi diri yang masih bergelimang kekurangan. Seperti mengerjakan tugas mepet deadline, dan lain sebagainya.

Malam ini aku merenung. (Aku tidak tahu, mengapa merenung menjadikan kegiatan yang amat aku gandrungi. Apa karena introvert? Hmm, sudahlah... Bukankah agama memang mengingatkan kita untuk senantiasa berpikir). Aku melihat diriku yang kini telah menunggu diwisuda. Hari yang bahkan belum aku siapkan pernak perniknya sesiap kawanku yang lain. Karena bagiku, lulus sudah sangat aku syukuri. Tanpa harus riweuh ini itu. Tapi tak apa, prosesi wisuda kan bisa menjadi bentuk syukuran bersama juga.

Kembali ke renungan. Ya, aku merenungi diriku yang saat ini masih memiliki beberapa kesibukan. Satu diantaranya ku lakukan di kampus, sebelum akhirnya aku benar-bemar hengkang. Yang mengusik sekaligus aku sesalkan adalah aku yang belum melakukan yang terbaik dan maksimal untuk kesibukan yang satu itu hingga sekarang. Pikirku, betapa aku telah menyia-nyiakan kesempatan yang telah Allah berikan.

Aku tahu, aku masih memiliki waktu untuk merubah perilakuku, memberikan yang terbaik yang aku bisa. Meski dalam hidup, aku tidak pernah melakukan yang terbaik, menurutku. Namun semoga Allah mudahkan. Iyyaa kana'budu wa iyya kanasta'in ~

Karena lumayan lama ga naik bus alias angkutan umum, jadi tadi sore gue pen banget munt*h di dalam bus. Akhirnya gue turun sebelum nyampe daripada gue munt*h ke orang di depan gue. Hehe. Bodo amat kalaupun akhirnya gue harus ngangkot lagi dan bayar lagi selama gue ga mendzolimi orang. Hihi. Jadilah gue turun dulu demi memulihkan sistem metabolisme dalam tubuh gue yang sempat kacau. Sebab yang gue pahami, orang yang mengalami mabuk perjalanan itu tengah ada di masa terjadinya ketidakselarasan sistem di dalam tubuh. Kacau lah pokoknya, wkwk. Kemudian akhirnya gue jalan kaki beberapa lama biar rada seger dan ngangkot lagi. Setelah gue pikir, apa karena sebelum naik bus gue minum susu? Jadinya mual. Hmm..hmm..

Biasanya kalau ada di momen mabuk perjalanan bakal ada pikiran dalam benak gue: GUE GA MAU KEMANA-MANA, APALAGI NAIK KENDARAAN YANG BIKIN MUAL. Pemikiran itu timbul mulai gue orok, sebab sejak itu gue sudah jadi pemabuk, eh maksud gue suka mabuk di perjalanan. Itu sih kata Ibu. Tapi anehnya gue sering di bawa kemana-mana sama beliau. Dan anehnya lagi setelah gue sehat dan bugar kembali, gue semangat lagi buat mewujudkan salah satu mimpi gue: Keliling dunia. Apapun rintangannya. Hade.

- - -

Jadi gue dulu pas didaftarin sekolah di kota yang mengharuskan gue ngangkot,  gue ngerasa pergi sekolah itu kiamat buat gue karena parno banget sama bau-bau kendaran dan jalan yang bikin mual. Akhirnya di semester pertama gue yang emang dari sononya ga jago di kelas tambah dodol karena gue cuma bisa tidur-tidur di tempat duduk dalam posisi duduk. Lemes banget dan ga mau makan apapun kalau pas mual pastinya. Itu. Gue sih.
Kala itu boro-boro mikirin masuk sepuluh besar di kelas unggulan itu, gue bahkan lebih mikirin kapan gue bisa nyampe rumah lagi lantas memulihkan keterombang-ambingan sistem dalam tubuh gue gegara mabuk perjalanan. Tapi apapun itu sudah konsekuensi. Gue berusaha buat menjalaninya.

Alhamdulillah di semester kedua gue mulai bisa beradaptasi sama angkot, wkwk. Gue juga sudah bisa mulai belajar agak normal di kelas. Gue bahkan secara ajaib bisa ada di peringkat delapan. Yah, masih keren yang pertama sih. Tapi bagi gue-------orang yang awalnya lebih banyak tidur-tiduran di kelas karena lemas (bukan tidur beneran)-----itu sudah lumayan mengejutkan beberapa orang, terutama teman dekat gue. Hehehe.

Intinya, yang pen gue sampein dari curhat kali ini adalah jalani aja. Jangan sampe berenti atas rintangan yang menghadang setiap mimpi. Sebab pasti bisa iita lewati. (Enak banget nulisnya, padahal gue belum bisa raih apa-apa ya, hehehe. Tapi keknya teori itu emang ada benernya: bahwa apapun rintangannya, pasti bisa kita hadapi selama yakin dan beriktiar. Gue pun sekarang juga masih mencoba buat ngebuktiinya sekarang sih. He). Btw ini ga konsisten amat. Kadang pake bahasa baku, ada yang ngga. Haefh. Maapkeun.

Setelah gue pikir-pikir ternyata gue emang sering banget malu untuk hal yang sebenernya ga perlu dimaluin. Hehe. Gue malu muntah (maaf) di depan orang banyak, di angkutan umum dll. Padahal ya ngapain gue malu? Toh itu memang diri gue. Gue pun masih belajar beradaptasi dengan kendaraan macam apapun. Well, selama gue ga muntah (maaf lagi) ke orang ngapain gue musti malu? Gue kan ga nyuri (naudzubillah).

Maksud gue, bukan cuma di hal yang satu itu. Tapi banyak banget hal yang bikin gue akhirnya takut melangkah, gue takut begini begunu begana karena malu untuk yang hal-hal yang ga perlu. Padahal malu yang dimaksud sebagian dari iman itu bukan itu.

Intinya, jadilah dirimu sendiri, Tong. Ngapain malu menjadi diri sendiri? Ngapain juga malu untuk banyak hal yang sebenarnya justeru bikin kamu tambah maju. *nunjuk diri sendiri.

[Btw cerita mengenai personil Agb 14 masih dapet setengah. Ga selese selese karena emang ga gue kerjain. Hehe. Oke, oke. Semoga segera gue kerjain dan kelar. Meski cuma deskripsi dan remeh bagi bbrp orang, tapi bagi gue itu perlu sebagai kenang-kenangan buat diri gue sendiri. Gue tulis sendiri. Gue baca sendiri. Hehe. Kelak.]

Memiliki dua adik yang sudah remaja seringkali membuat aku merasa khawatir. Bahkan kadangkala aku berpikir, jika rasa khawatirku lebih besar dari rasa khawatir seorang orang tua kepada anaknya. Bagaimana tidak, kegiatan sekolah kerapkali membuat ia pulang sore. Atau UKM di kampus yang acapkali mengharuskan ia pulang larut malam. Aku bahkan tidak pernah mengkhawatirkan diriku sendiri seperti ini. Maka aku paham, mengapa Ibu dan Bapak sering belum bisa menelan nasi kala kakiku masih belum menapaki tanah di rumah kami. Lihatlah, diriku saja merasa memiliki rasa khawatir yang lebih besar pada adik-adikku daripada orang tua mereka sendiri. Ya, pikiran tidak mengenakan kalbu mudah saja berekelebat. Takut ada orang 'nakal' dan lain sebagainya.

Hmm, namun aku percaya jika shalawat telah mencakup segalanya. Lalu benarlah, Dia adalah sebaik-baik pelindung.

Aku biasanya lebih mengutamakan kualitas pelayanan kala bertransaksi jasa/barang. Tapi kali ini pikirku beda. Ini for business. Jadi aku rela menunggu agak lama demi bisa menekan harga. Lama karena pelayanan yang kurang dimanaj dengan baik. Padahal sebenarnya ia bisa multitasking, tapi memilih untuk menyelesaikan satu-satu. Aku berharap suatu saat tersedia kotak kritik dan saran. Hehe.

Di tengah perjalanan pulang aku bertanya dalam hati, kenapa bagian belakang motor seolah bergoyang? Tak ku dengar lagu dangdut melainkan riuh rendah beragam kendaraan. Aku pun berhenti sejenak. Ku dapati ban belakang kempes sekempes kempesnya. Hmm, alhamdulillah dapat ujian. Barangkali.

Bukan menuntun, aku malah mengendarainya perlahan. Ucap seorang Ibu paruh baya, ada tempat Tambal Ban yang tak jauh dari situ. Aku akhirnya mengendara dengan begitu hati-hati. Tak seperti sebelumnya, yang katanya ugal-ugalan. Padahal bagiku juga hati-hati.

Toleh kanan-toleh kiri. Tak kunjung kutemukan ban bekas yang ditulis dengan cat putih. Hmm, bismillah. Semoga tak jauh dari sini, rapalku. Hingga akhirnya mataku berbinar menyaksikan benda itu, ban yang ku maksud seolah melayang didepan. Namun sayang, ada bacaan: Tutup, di pintu depan.

Aku masih terus berharap dan melanjutkan perjalanan. Kemudian berdoa, semoga langkahku untuk tidak menuntun kuda mesin itu tidak memperburuk keadaan. Lalu beberapa belas meter jalan beraspal kulewati, aku sumringah. Tempat tambal ban yang lumayan besar masih terbuka lebar. Aku berhenti. Tukang tambal ban yang mendadak jadi superhero di penghujung Magrib itu menpersilahkan aku untuk duduk dengan bahasa Madura halus. Sebelumnya ia bertanya ada apa dengan bannya. Aku menjawab bahwa aku tidak mengetahuinya kemudian menambahkan sebuah pendapat jika barangkali bannya bocor dan perlu ditambal, dengan bahasa Madura halus pula, meski masih amburadul.

Beda dengan tukang tambal yang kutemui beberapa bulan lalu, ia justeru sangat ramah. Tanpa babibu ia langsung mencongkel ban dan melakukan operasi. Persis saat itu, pikiranku terseret ke tukang tambal ban yang kutemui dulu: jutek. Mungkin karena sedang ada masalah, tapi aku tentu tak mau mencari tahu. Yang jelas ia membalas keluhanku sebagai pelanggan dengan sinis. Ah, apa cuma perasaanku? Tapi ternyata temanku sependapat denganku. Hmm, memang, setiap manusia seringkali memiki karakter yang tak sama.

Baiklah, kembali ke tukang tambal ramah yang juga lebih mirip malaikat penolong ini. Ia ku sebut demikian karena sikap welcomenya yang juga tidak berlebihan. Jadi, pernahkah kalian pergi ke sebuah toko lalu lama sekali diacuhkan buka malah ditanyakan perihal keperluan. Ya begitu maksudku. Salah satunya.

Aku baru ingat, sebotol air mineral ukuran 600 ml yang kubeli siang tadi masih utuh. Segera ku rogoh tas dan kuhabiskan setengahnya. Sungguh nikmat yang tiada tara.

Alhamdulillah, selesai juga. Setelah selesai membayar dan mengucapkan banyak terimakasih (lebih dari satu), aku akhirnya melanjutkan perjalanan.

Beberapa belas menit kemudian aku tiba di jalan desa menuju rumah. Masih sama. Tiang lampu seolah hanya menjadi pajangan di kanan kiri. Jalannya? Lebih parah dari medan untuk track-track-an. Hmm, entahlah. Kemana saja dana desa sekian milyar yang sudah digelontorkan? Apakah pemimpin era kini memiliki pemahaman yang berbeda mengenai pelayanan?

Aku baru saja duduk dan meletakkan helm. Beberapa saat setelah itu adzan isyak berkumandang. Antara adzan dan iqomah adalah saat yang mustajab. Doa kulantunkan. Salah satunya perihal pelayanan.

Bangkalan, 28 Agustus 2018

Kalau aku bilang, aku ini bukan layaknya orang yang mau pergi ke kampus, melainkan ke pengajian, hehe. Karena penampilan yang menipu (wkwk) inilah yang membuat orang sering salah kaprah.
Seperti saat pergi ke pasar, seorang penjual sandal akan bertanya padaku dengan air muka kesungguhan: "Anak pondok ya? Mondok dimana, Nak?" 

Atau saat aku tengah menikmati perjalanan di dalam Bis, seseorang tiba-tiba bertanya senada, " Mondok dimana, Mbak?" 

Kala mencetak skripsi, aku bertanya pada pegawai apakah kertasnya bisa aku ganti. Tidak cukup menjawab dengan "iya", dia malah menimpaliku pertanyaan balik, "Dari Fakultas Keislaman ya, Mbak?"

Waktu masih kecil, aku memang berparadigma jika mahasiswa itu harus necis tampilannya. Adapun penampilan demikian aku definisikan dengan mereka menggunakan celana jeans, coat dan lain-lain. Pokoknya terlihat kece dan modis.
Tapi ternyata tidak selalu begitu waktu mamah tahu sendiri (iklan biskuit, hehe). Kita bebas memilih ingin tampil seperti apa. Bebas. Asal masih bisa ditoleransi. Jangan sampai kita mengenakan baju dengan kain beratus lapis yang bisa menyita banyak tempat di dalam ruangan. Atau baju berbahan kardus dan berbentuk kotak hingga amat susah untuk berjalan. Atau baju tipiiiiiiiis sampai membuat yang melihat saja merasa kedingingan. Hehe, baiklah, kita akhiri imajinasi ini.

Don't judge the book from its cover. Siapa yang menjamin jika yang memakai rok sudah tidak malas mengaji (dalam arti luas). Siapa yang tahu, jika yang begini begitu justeru masih dalam masa pencarian. Tetapi tidak masalah. Setiap orang memiliki jalan hijrahnya sendiri (karena seringkali nyaman itu kita yang merasakan, bukan orang lain. Lagipula kita tidak akan pernah mengetahui kedalaman isi hati, pikiran dan pemahaman seseorang). Pun pemahaman yang berbeda mengenai hijrah itu sendiri. Yang terpenting, kita tidak pernah  bosan untuk selalu meminta pemahaman yang benar dari yang Maha Benar.

Gue bingung sama status alias story WhatsApp bocah (SMP, SMA dll) jaman sekarang (yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Madura menjadi "Now"). Gimana ngga? Roman-romannya pada berbau romance. Hehe. Salah satu yang bikin gue spechless adalah kala mereka ngomongin jodoh. Tentang bagaimana teman hidup, imam, pendamping, dan istilah berbeda lainnya yang pada akhirnya mengerucut pada satu makna: jodoh.

Sebenarnya ngga ada salahnya juga sih. Daripada berbicara mengenai hal yang lebih tidak-tidak. Toh mereka menulis demikian bukan berarti mereka menginginkannya sekarang. Eh, bahasanya kok gini ya? Haha. Hanya saja sering gue terlempar ke masa-masa gue dan teman-teman gue dulu kala masih seusia mereka. Saat berpikir gimana belajar yang benar meskipun ngga benar-benar (gue doang kali ya), gimana caranya tetap bisa mengelola waktu dengan berbakti pada ortu (siaaah, lu mah mikir doang), gimana caranya mengganti lembaran rupiah ongkos dan bayaran sekolah dengan hadiah sholawat buat ortu agar senantiasa memiliki jiwa yang luas (meskipun ngga seberapa jumlahnya dan ngga sebanding), dan lain-lain yang pada intinya selalu berorientasi pada orang tua demi mengharap ridho-Nya. Yang lebih mulia lagi, para bocah yang menjadikan belajar alias menimba ilmu sebagi jalan untuk kian bertaqwa hingga amat takut akan murka-Nya jika menyiakan-nyiakan kesempatan itu (dan sepertinya kala itu gue belum sampai ke pemahaman yang ini. Hihi. Payah!).

-----

Gue memang seringkali iseng menyimpan banyak kontak siapapun. Kebanyakan memang sudah kenal dari grup menulis, beasiswa, dan sebagainya di WhatsApp yang berasal dari beragam usia. Jika sedang senggang, terkadang gue mengamati story yang bertebaran satu-satu. Sering gue menelan ludah, berdecak kagum, flat, tersenyum, speechless, dan berbagai ekspresi lainnya yang sudah barang tentu akan dialami setiap orang. Atas semua itu gue mencoba untuk mengambil pelajaran, selain ulasan singkat di atas (please, ngga perlu ngeliat ke atas juga, jangan terlalu ekspresif kek gue haha) ada beberapa hal penting yang bisa gue ambil dari bulatan-bulatan story WhatsApp yang jumlahnya bisa lebih dari seratus akun, ialah: betapa banyak waktu yang gue habisin, betapa banyak kuota yang gue habisin, dan betapa pekerjaan rumah ngga bakal selesai dengan gue hanya mantengin story orang-orang.  Apalagi saat kalian mendapat soal yang lumayan kalau pekerjaan rumah-nya disingkat: PR. Krik krik.
Well, gue memang ngga berbakat buat ngelawak. Maapkeun!

Belum lagi berjibaku di Instagram, Facebook, Twitter, Youtube, Wattpad, Line, dan segala tetek bengeknya. Betapa semua itu kerap membuat kita kian jauh dari nilai-nilai kebaikan. Ya, jika penggunaannya tepat, maka justeru segala aplikasi baik yang bahkan belum tersebutkan itu akan membawa perubahan yang amat baik dalam hidup kita. Tapi gue pribadi sadar, jika semua kebaikan dari aplikasi-aplikasi bikinan manusia itu tak akan bisa menyala lama jika tidak terpantik oleh akal pikiran yang selalu dipupuk dengan al-Qur'an yang jelas-jelas bukan bikinan manusia. Tentu, sembari memohon agar kita selalu dilimpahi hidayah agar tidak hanya mampu melantunkan melainkan memahami lantas mengamalkan. Maka, kita (terutama gue) tidak akan berhenti menggunakan smartphone dan instrumen lain hanya untuk membuat status menu makan siang, perihal jodoh dan lain-lain (meskipun sesekali menyelipkan hal remeh-temeh menurut gue ngga masalah juga, daripada membagikan masalah rumah tangga, hehe. Tapi dalam konteks kali ini bukan itu yang gue maksud). Dengan begitu, akhirnya gue mulai berpikir berkali-kali buat ngeliat status orang satu-satu. Jika memang senggang dan ada paketan (haha), maka gue lihat beberapa dengan niat barangkali ada pelajaran yang bisa gue dapatkan. Intinya semua yang gue lakukan sebisa mungkin berawal dari niat yang sudah gue tata sebelumnya. Pun saat menulis oretan ini. InsyaAllah ~

Maka duhai adik-adik gue tersayang. Ceilah. Kesempatan menempa diri dengan ilmu adalah hal yang begitu menyenangkan. Kadang akan sangat membosankan hanya karena kita belum menemukan cara yang tepat untuk belajar atau mungkin masih kurang dalam berikhtiar. Tapi percayalah, bagi gue pribadi, kesibukan yang paling gue suka sebagai manusia (meskipun gue sama kek kalian, sering membiarkan setan membelenggu kita dengan sifat malas) adalah belajar. Hingga ajal menjemput. Salah satunya dengan pendidikan formal. Karena meski apa yang kita dapatkan di sekolah tidak "plek" bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi paling tidak kita bisa tersistem untuk memiliki semangat dan effort untuk mendapatkan ilmu. Maka saripati seperti; semangat, effort, tangguh, dan nilai-nilai kebaikan lainnya yang kita dapatkan dari pendidikan formal semoga bisa kita gunakan untuk menghadapi jaman yang memang tidak selalu "Now", tapi juga "future" alias dinamis ini. Jangan melulu bertumpu pada masalah pendidikan di negara kita yang acapkali bikin geleng-geleng kepala, tetapi fokus untuk menjadi bagian dari orang-orang yang membawa perubahan di dunia pendidikan agar menjadi lebih baik. Semoga Allah memudahkan kita. Aamiin ~

Allah, kadang aku berpikir. Apa sebenarnya yang aku cari? Kenapa dunia begitu mudah membuat aku bersedih.

Aku memang tidak kaget saat mendengar bahwa beliau akan berangkat haji 21 Juli 2018, sebab sebelumnya aku telah menaksirkan jika beliau akan berangkat di 17 Juli 2018. Namun membuat aku pasrah adalah kala mendengar bahwa beliau telah mengatakan ke Kaprodi akan mempending semua bimbingan hingga ia kembali dari tanah suci.

Dalam hidup, aku berusaha untuk tidak menyalahkan orang lain atas apa yang aku alami. Meski kerapkali keceplosan mengarah ke menyalahkan, sebenarnya aku lebih sering menyalahkan diriku sendiri (inipun sebenarnya tak baik. Mungkin tak apa jika tak berlebihan), bertanya pada diri sendiri: apa yang membuat ini begini dan begitu karena perilakuku sendiri.

Bagiku, lulus tidak tepat waktu seperti apa yang kita inginkan bukanlah sebuah petaka melainkan kesempatan untuk mendapatkan rahmat-Nya di jalan yang seringkali tidak mudah. Benar, meski optimisme kerap harus dijaga nyalanya, namun aku kala itu juga mengindahkan saran seorang dosen wali untuk berpikir realistis dan siap-siap membayar UKT (di lain sisi beliau juga sering menyemangati dan tak segan melantunkan doa dan harapan. Bukan untukku saja, tapi untuk semua muridnya). Meski hakikatnya, kuasa Allah Swt. tidak sejalan dengan kerealistisan selama kita ikhtiar (Omong-omong, ini bukan masalah UKT. insyaAllah aku akan berusaha perihal itu. Ini masalahnya hanya pada diriku yang seringkali ingin intropeksi diri yang kian tak jelas arahnya: apakah aku kurang berikhtiar. Padahal aku tak perlu bekerja, tak berorganisasi dll). Kala itu selain  mem-planning biaya untuk membayar UKT, aku juga telah merancang plan A, B, C dst. Seperti belajar, bekerja, membantu orang tua, merealisasikan resolusi yang masih hanya menjadi pajangan dinding dll. Aku sebisa mungkin menguatkan diri, jika yang terjadi nanti adalah yang terbaik. Que sera sera.

Tentu, aku tidak sendiri. Banyak doa yang ku minta dari banyak orang. Karena aku paham, bahwa tak ada yang benar-benar menjamin doa siapa yang paling makbul. Doa seorang pemulung shalih bisa jadi lebih luhur dan mudah terijabah dari seorang imam besar masjid sekalipun. Aku juga banyak mendapat kalimat positif bernada optimisme dari banyak orang; orang terdekat dll. Juga nada menyangsikan dan menyakitkan hati. Namun berusaha aku lupakan, abaikan, tepis, sebab jika dipikirkan pikiran semacam itu akan mudah mengotori hati.
Aku telah amat pasrah hari itu, mungkin jika berkonotasi negative artinya menyerah. Sudahlah pikirku. Toh pemahamanku dari dulu, skripsi ini bukan segalanya. Apalagi sampai harus menggadaikan segalanya. Bukankah dulu tujuanku hanya untuk meraup ilmu bukan gelar? Tapi pikiran bahwa ikhtiarku masih amat kurang juga tidak bisa dipungkiri bergentayangan dalam batok kepalaku. Aku yang hina ini mencoba menepisnya dengan mengucap beberapa istighfar. Selain pemahaman itu, aku juga berpikir ada banyak hal bermanfat lain daripada terus “ngoyo” pada skripsi. Tapi, lagi-lagi pemahaman lain yang menyatakan bahwa menyelesaikan skripsi yang merupakan PR kecil untuk melangkah lebih jauh ini juga tak boleh dianggap main-main.

Sebenarnya aku tidak ingin mengkotakkan catatan ini dengan membahas bahwa ujian terberat (konon seberat apapun beban yang dipikul dalam hidup, akan bisa dilewati jika selalu lillahita’ala. Belum lagi menjalani kehidupan yang sebenarnya kelak) dalam menjalankan studi sebagai mahasiwa hanyalah skripsi. Sebab nyatanya memang bukan itu resolusi sebenarnya. Ada ujian yang lebih mumpuni mendewasakan diri, yakni pengimplentasiankannya.

Jadi, banyak yang ingin aku sampaikan. Namun sepertinya oretan ini akan sangat panjang dan membosankan. Maka biarkan aku sedikit menyimpulkan, bahwa apapun yang kau jalani, jalanilah. Kita hanyalah manusia. Iya, sederhana tapi sering kita melupakannya. Bahwa kita yang manusia yang tak patut mendikte hasil. Hmm, menulis kalimat itu membuat ulu hatiku ngilu. Sebab hamba yang cetek imannya ini sering seolah-olah mendikte hasil. Padahal kewajiban kita hanyalah berusaha dan berdoa. Kemudian selalu percaya, keajaiban yang selalu diharapkan datang dari-Nya setelah berikhtiar yang seringkali tak seberapa-----akan datang tak diduga. Selamat, atas langkah awalmu teman-temanku. Semoga Allah memberkahi hidupmu dengan ilmu, memudahkan untuk mengamalkan dan menguatkan dirimu karena ilmu. Bagi yang belum, tak usah berkecil hati. Aku tahu, kesibukan dan jalan yang dipilih dan diberi tak selalu sama. Terimalah. Pahit memang. Tapi percayalah, akan ada buah manis yang akan kau tuai di masa mendatang. Teruslah memelihara kalbu yang tulus, jiwa yang besar dan menebar kebaikan. See you on top, guys! Top sendiri aku artikan ‘ketaqwaan,’ meski tak mudah untuk orang yang mudah mengeluh seperti kita. Namun apa salahnya berdoa. Kita? Ah, barangkali cuma aku saja.

Kemarin malam aku tidur ba'dha sholat isya' dan ini jarang terjadi mengingat aku masih mengemban tugas sebagai mahasiswi semester akhir. Setelah itu aku terbangun sekitar pukul sembilan. Hingga akhirnya memutuskan untuk mengaji (Bagiku ini bukan hal yang tabu lantas terlihat seperti riya. Sebab tujuan kita memanglah untuk beribadah dan membaca banyak al-Qur'an memanglah hal yang harus dan lumrah. Meski pada faktanya----mungkin karena dosa----aku seringkali malas berlama-lama mengaji). Lalu, sebelum genap pukul setengah sebelas, aku berhenti dan memilih ke dapur karena tiba-tiba keroncongan (Hehe, makan di tengah malam).

Aku kemudian tersentak kala sayup-sayup mendengar orang berteriak minta tolong. Ternyata Matus, adikku---juga demikian. Kami pun saling bertanya. Ada apa?
Pikirku, jangan-jangan orang sedang dibegal. Cepat-cepat aku ingin melihat, menyusul ke jalan untuk memastikan apa yang sedang terjadi. Matus juga terlihat kebingungan dan memanggil Bapak dan Kakak karena menduga terjadi hal yang sama seperti perkiraanku. Namun Kakak menghentikan langkahku. Ia meminta agar tidak meghiraukan panggilan itu. Karena seringkali bocah-bocah tanggung berteriak minta tolong hanya sebagai gurauan. Atau berisik di gardu saat tengah malam  karena asyik dangdutan. Kakak memintaku untuk menutup gerbang. Aku melakukannya sambil mendengarkan kembali teriakan itu lamat-lamat. Ada yang mengganjal. Sepertinya telah terjadi sesuatu. Aku kembali ingin memeriksa ke jalan beraspal. Hingga ku dengar teriakan Kakak yang ternyata sudah siap memacu motornya, "Buka gerbang!"
Aku bak pengawal istana yang sigap dan lekas mendorong gerbang ke samping agar terbuka. Ternyata dia juga merasakan ada hal yang tidak beres. Akhirnya aku berhambur ke jalan itu setelah Kakak pergi dengan motornya.

Yang benar saja. Aku gemetar melihat kobaran api di sebuah rumah yang berjarak sekitar 300 meter dari rumahku. Allah.. Aku seketika menangis lalu berlari ke rumah lagi mencari kerudung untuk kemudian ingin mendatangi si jago merah yang tengah marah itu. Saking paniknya, sampai-sampai aku menjadikan taplak meja sebagai penutup kepala. Tak hanya itu, komplotan gamers juga ikut kalang kabut kala aku berteriak, "ADA KEBAKARAN!!! Ayo bantu padamkan."

Aku tidak paham jika ternyata mereka telah menyusulku dan berada di belakang. Kami berlari. Aku tidak henti-hentinya menyebut nama-Nya dan sesekali reflek menangis. Ternyata sebelum Kakak pergi dengan motornya dan memanggil banyak orang, hanya ada tiga orang yang berusaha memadamkan api. Diduga semua warga tengah tertidur atau bahkan tidak percaya hingga tidak mengindahkan teriakan minta tolong yang berlangsung cukup lama.

Tak berlangsung lama, para warga mulai berdatangan. Ada yang membawa galah, ember, tangga dan apapun untuk membantu memadamkan api. Aku kemudian berlari lagi ke rumah kerabat yang tak jauh dari sana. Ku ambil ember dan menuju lokasi kebakaran. Ku lihat banyak orang hanya menjadi penonton karena tak ada ember tersisa. Langsung saja aku membantu mengambil air dan bergabung dibarisan pengangkut air yang kesemuanya lelaki. Aku baru saja mengangkut satu ember air hingga akhirnya, "Mbak, udah gausah ngangkat!" panggil adikku diantara kumpulan penonton. Aku pun mengiyakan, karena selain takut dengan reruntuhan yang terlalap, sudah banyak lelaki yang kemudian membantu.

"Allahuakbar... Lantas apa yang kita cari di dunia ini? Apa tujuan kita hidup? Apa yang bisa kita sombongkan? Jika Allah berkehendak mengambil titipannya kembali, maka seketika terjadi. Allah... Setiap yang bernyawa akan mengalami kematian, kemudian akan mempertanggung jawabkan waktu yang dihabiskan di dunia sendiri-sendiri. Lantas kenapa membaca pedoman hidup saja malas? Allah... Ampuni kami, bimbing kami."
Pikiranku kemana-mana sambil menyaksikan api yang sudah mulai padam. Ini kali pertama aku menyaksikan kebakaran secara langsung. Sedari awal hingga api mulai menghilang, aku terus saja gemetar memikirkan akhirat ku dan keluargaku. Innalillah.

-----

Api berasal dari perapian yang dibiarkan menyala dalam kandang berisi seekor sapi dan empat ekor kambing. Kandang tersebut terkunci hingga hewan-hewan malang itu menjadi korban. Sementara sang pemilik tidak menyadari hingga api telah meninggi. Beruntungnya, hanya seperempat dari bagian rumah yang ikut terlalap karena warga (qadarullah) berhasil menjinakkan api.

Selalu, sebelum terjadi sesuatu yang menyedihkan seringkali ditandai dua ekor kucing yang bertengkar hebat. Entah apa memang alam ingin mengabarkan sebelumnya. Wallahua'lam.

Tak jadi makan, aku malah seolah meraup banyak pelajaran. Bahwa hidup memang sebentar. Segalanya adalah titipan. Tak patut disombongkan. Kemudian bersabar kala mendapat ujian. Jangan sampai salah tujuan. Mempersiapkan diri untuk bekal kematian. Selalu berdoa agar Allah senantiasa menambah dan menjaga keimanan dan ketaqwaan.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Tomato
  • Yang Ga Diminta Aja Allah Kasih, Apalagi yang Iya
  • Air Zam - zam
  • Oretan Akhir Periode
  • Not Fair
  • Door Duisternis Tot Licht
  • Obsesi?
  • DAY 7 - Bersih-bersih dan Silaturahim
  • Kapan Nikah?
  • Rindu Rasulullah

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates