Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Beberapa tahun silam kuungkapkan keinginanku untuk menetap di kost. Aku ingin tahu seperti apa organisasi di kampus. Tapi keinginan ini langsung ditolak secara halus; Kau sudah berorganisasi disini, tugasmu hanyalah fokus kuliah. Ungkap seorang anggota keluarga padaku.

Kala itu aku mengerti, dari nadanya, beliau takut aku terpengaruh (padahal aslinya mempengaruhi, hehe *jk). Maka aku menurut saja. Kendati demikian aku akan selalu ingat perkataan Murti; bahwa ia ingin menjadi orang yang terbuka dan berteman dengan siapa saja. Meski memang, aku juga ingat sabda Rasul; jika kita ingin melihat karakter seseorang tengoklah siapa temannya. Seorang bisa wangi karena berteman dengan penjual minyak wangi, dst.

Apapun itu, in shaa Allah, aku bukan tipikal orang yang mudah percaya dengan hasutan, tidak mudah memihak dan sebagainya. Alladzii 'allama bil qalam (eh, ini bener ga sih tulisannya). Allah yang akan selalu menunjukkan jalan yang baik selama kita terus berusaha mendekat padaNya. Karena tidak ada guru yang terbaik ketimbang Dia, dzat Yang Maha Segalanya.

****

Malam ini. Tomato---panggilan untuk adik perempuanku---pulang larut malam usai mengikuti kegiatan organisasi kampus. Seketika hatiku takut. Mungkin perasaan yang sama dan menjadi alasan kenapa dulu aku dilarang. Tapi jika hanya diam, kapan akan berkembang?
Aku merapalkan doa, sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik penjaga. Semoga Ia terus membimbing adikku di jalan kebaikan.

Apa yang kau pikirkan jika listrik padam? Apa kau akan sedih jika mendapati desamu belum terjamah aliran listrik? Benarkah kegelapan mengingatkan kita pada kematian?

Waktu kecil aku amat penakut. Bagiku listrik padam adalah sebuah mimpi buruk. Karena tentu semua akan berubah menjadi hitam, gelap. Lampu minyak sederhana buatan tangan yang bisa diandalkan sebagai penerangan.

Belum lagi jika saat itu Bapak sedang tidak berada di rumah. Hanya aku, Ibu dan adik-adik. Kami seolah anak-anak itik yang ikut kemanapun induknya pergi kala mati listrik. Kalau sudah begitu, Ibu akan gemas pada kami. Meminta kami untuk lebih sedikit berani.

Kala itu aku tidak pernah berpikir, jika justeru di berbagai belahan di Indonesia, masih banyak desa yang belum terjamah listrik. Mereka biasa belajar hanya ditemani lampu minyak. Tidak merasakan dampak kemerdekaan yang ternayata telah lama ditegakkan. Mereka pasrah dan menerima keadaan yang demikian.

Namun nyatanya ada juga desa yang memang tidak mau terjamah listrik dan terangnya sinar lampu sama sekali. Demi tetap terjaganya adat istiadat di desa itu. Hmm, fakta yang unik. Ketika melihat pemborosan energi dimana-mana.

---

Sejak menginjak bangku perkulianan, kejadian yang aku rasakan justeru berbalik. Aku malah senang kala listrik padam. Karena menyiratkan ketenangan. Meski kadang sebal saat ternyata aku tengah mengerjakan tugas kuliah dengan komputer. Tapi ternyata aku merasa nyaman dengan kegelapan saat listrik padam. Apalagi saat itu bulan dan bintang sedang memancarkan sinarnya. Aku terpana.

Selain itu, saat listrik mati dan tak ada penerangan, aku merasakan kedamaian. Aku seperti beristirahat sebentar, menenangkan pikiran dari kesibukan, merenungi setiap hikmah dari kegelapan dan kesunyian. Dunia dan segala hingar bingarnya seringkali membuat kita lupa bahwa kita kelak, cepat atau lambat akan kembali. Ke alam yang bisa jadi amat gelap tanpa penerangan dari amal yang kita lakukan selama hidup di dunia. Mengingat itu, aku jadi bergidik. Innalillahi wa inna ilaihi raaji'un. Semoga setiap kejadian mampu membuat kita mengambil hikmah dan pelajaran.

Karena hidup sudah kepalang nyaman, jadi berasa lupa kejadian menakjubkan dan susah di masa lalu, masa MTs, MA. Masa-masa sekolah yang dulunya pahit dirasakan, justeru kini membuat tersenyum saat diingat.

Kapan-kapan saya ingin menulisnya, meski tentu kisah saya tidak semenakjubkan kisah Andrea Hirata, Dahlan Iskan, Andy F Noya, Ahmad Fuadi yang sampai tidur di ujung kasur teman kostnya, dll.

Setidaknya bisa saya membacanya sendiri kelak. Agar tidak mudah mengeluh dengan hal kecil dan menyerah pada keadaan. Belum lagi, berada di zona nyaman acapkali membuat saya lupa saat berada di masa-masa kesusahan.

Hihi, nganterin Muna yang hendak belajar Penjas pagi buta ini membuat pikiran seperti ini keluar menari-nari. Mengenang setiap kejadian yang seolah baru terjadi kemarin. Kala saya harus pergi pagi buta dan menunggu angkutan yang tidak tentu kapan datang. Berangkat menjelang subuh, hingga mengharuskan saya berhenti sejenak di sebuah masjid untuk menunaikan kewajiban. Berjalan kaki usai menaiki bus sebab tak ada bus yang berhenti di depan gerbang sekolah. Dan kenangan lainnya.

Memang, sekali lagi, bisa jadi masa seperti itu adalah pengalaman biasa bagi setiap orang. Namun tetap bagi saya pribadi, mengenang kepahitan dengan senyuman adalah cara untuk kembali membangkitkan semangat yang jauh dari keabadian.

Bener kata Pak Novianto, bahwa kita belum komitmen berjualan karena hidup masih di zona nyaman. Makan masih minta ke orang tua, dll. Belum merasa kepepet. Belum merasa benar-benar sendiri untuk berusaha memenuhi dan mencari penghidupan.

Aku juga demikian, jualan kalo lagi mood lagi bagus. Saat mendapatkan untung juga biasa-biasa aja. Biasa dalam artian senang barangnya laku, tapi aku tidam memperhatikan profit, keberlanjutan usaha, dsbgnya. Karena mungkin belum benar-benar mebutuhkan uang.

Sama seperti saat mendapatkan honor menulis sebesar Rp.150.000,_ kala itu. Biasa-biasa aja. Biasa aja dalam artian senang naskah lolos tapi tidak terlalu memperihatikan jika ternyata bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah dengan tulisan. Waktu mengirim juga coba-coba karena saran teman. Barangkali tulisannya bisa bermanfaat. Tapi waktu lagi kepepet  butuh uang akhirnya mikir buat segera ngirim naskah, lebih banyak. Dan belum ada yang lolos. Bahkan bisa terbilang lumayan sulit. Hehe bisa jadi karena salah niat. Padahal tulisan bisa membikin perubahan.

Well, uang emang bukan tujuan akhir, melainkan cuma bonus atau bahkan tujuan antara yang mendukung kita untuk melakukan kebaikan sebagai tujuan akhir. Yang perlu digarisbawahi adalah mandiri. Berusaha agar tidak membebani negara, minimal keluarga. Lebih luasnya lagi akan membantu mereka mendapat lapangan kerja, dan atau membantu mereka menjalankan usahanya.

Setelah sedikit berpikir, ternyata kita cuma mau berjualan dan menulis kalau sedang kepepet butuh uang. Jadi mungkin sangat perlu membetulkan niat, agar bisa menjalankan sesuatu dengan tujuan yang lebih besar, yakni kebermanfaatan. Bukan hanya melulu uang dan terjebak dalam zona nyaman.

Dikutip dari buku Terapi Berpikir Postif karya Dr. Ibrahim Elfiky, “layar setan” adalah sebutan untuk televisi yang ia dengar dari seorang khatib saat shalat Jumat di Montreal. Sebutan itu disematkan karena melihat fenomena tentang banyaknya waktu yang kita habiskan sia-sia karena menatap layar televisi begitu lama dengan tayangan yang juga sia-sia. Beliau juga menyatakan jika kegiatan itu tidak bermanfaat dan justeru membahayakan. Sebab lanjut sang khatib usai ditanya lagi oleh Dr. Ibrahim, “Allah memberi kita akal agar digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat. Dengan akal kita diperintahkan banyak berpikir tentang penciptaan langit dan bumi. Dengan akal pula kita diharapkan dapat semakin dekat kepada-Nya. Tetapi, ternyata ada orang yang menjadikan akal yang luar biasa ini untuk kejahatan. Kita lihat televisi yang menayangkan para artis yang erotis. Tujuannya tentu mengumbar syahwat, menjadikan masyarakat, terutama kaum remaja, terjerumus ke lembah perzinaan.” Masih dari buku tesebut, sang khatib melanjutkan, “Kalau pun ada berita, bahasa yang digunakan bersifat negative dan membuat orang yang menyaksikan merasa pesimis. Selain itu, televisi mempengaruhi dan menakut-nakuti masyarakat dan mendatangkan kehidupan yang ironis. Bahasa kita menjadi negative dan menyedihkan gara-gara layar laknat itu. selaku dai, aku berkewajiban mengingatkan masyarakat akan bahayanya.

Dari kutipan itu kita bisa belajar dari contoh yang begitu sederhana namun amat bermakna, bahwasannya media informasi mempunyai kekuatan besar untuk mempengaruhi pemirsanya. Seperti halnya perubahan zaman yang kian tidak jelas bentuknya, seperti itu pula program-program yang disajikan dalam televisi semakin tidak beretika dan sama sekali tidak membantu kita mendekatkan diri pada Allah. Bagaimana tidak negri mendengar bahsa yang digunakan dalam berita-berita kriminal. Keterangan yang seringkali disampaikan secara terang benderang kadang menyalahi kode etik dunia pers. Belum lagi bertopeng kepedulian palsu  pemaksaan mewawancarai pada momen yang tidak pas acap kali menggelembungkan beberapa pertanyaan. Acara anak-anak dengan konten tak patut seolah lumrah ditemui. Memang, tidak semua stasiun televisi menghadirkan acara bobrok. Masih ada stasiun televisi yang mampu menambah ilmu dengan mendatangkan orang-orang arif yang ahli di bidangnya. Akan tetapi pada kenyataannya, program-program yang lebih diminati banyak elemen masyarakat adalah program yang cepat atau lambat hanya mendatangkan kerusakan, sia-sia dan menumbuhkan pikiran-pikiran negatif. Sebab kebanyakan program bagus di tayangkan pada jam-jam yang tidak lagi ada minat untuk menyaksikannya. Sedangkan program tidak mendidik, justeru dihadirkan pada jam yang seolah selalu tepat sasaran untuk meninabobokan masyarakat agar amnesia terhadap masalah-masalah krusial. Belum lagi, stasiun-stasiun yang berkompeten menebar manfaat, biasanya sepi akan sponsor. Lalu bandingkan dengan stasiun televisi yang kerjaannya promosi diri dan unjuk gigi meski belum masa pemilu, maka iklan yang ditayangkan akan lama, beruntun seperti tabrakan.

Media informasi berupa televisi seolah nyata dikuasai oleh kaum berduit dan pandai mengelabui para pemirsanya dengan suguhan yang dianggap menarik. Penikmat, yakni masyarakat awam tetaplah menjadi penikmat tontonan kala penat, tanpa mengetahui dampak dari apa yang ditontonnya. Tanpa menyadari bahwa opini mereka sedang digiring untuk senantiasa berpikir negatif, mudah melontarkan perkataan kotor, bergaya hidup konsumtif, dan lain sebagainya. Sekali lagi memang, masih ada program yang mencerdaskan bangsa, tapi jumlahnya hanya beberapa. Yah, daripada tidak sama sekali. Pun ada program perihal ilmu agama, meski durasinya kerap kali dipotong-potong dan terasa tampil seperti kaset rusak. Ah, sungguh masih banyak channel yang menyuguhkan tayangan dengan khazanah ilmu yang berkesan asal kita pandai-pandai memilah dan memilih. Banyak berarti jamak atau lebih dari satu.

Layar setan dewasa ini tentu bukan melulu berupa televisi. Tengoklah kanan kiri kita, beberapa langkah dari kita, atau bahkan dalam gengaman kita sendiri. Ada seonggok benda yang jauh lebih fleksibel saat dibawa kemana-mana. Di dalamnya kita bahkan bisa mendapat informasi yang belum benar keberadaanya. Sebab benda itu bisa dikatakan sebagai media informasi yang super ajaib. Berita bohong, ujaran kebencian, game tidak tahu sopan santun, gambar-gambar atau video yang aduhai cemewew, bisa diakses siapa saja dengan hanya menyentuhkan jemari bagi anak dibawah umur sekalipun. Jangan tanya tentang pola hidup konsumtif, setiap hari kita akan dijejalkan dengan informasi mengenai pola itu secara gratis karena akses internet tersedia dimana-mana. Siapa yang tidak tahu benda itu. benda yang katanya bernama smartphone dengan panjang sekian inci itu mampu menjadi penentu pola pikir dan hajat hidup orang banyak. Lagi-lagi memang, tidak semua orang yang terjerambab dalam jurang yang dipenuhi dengan kenegatifan karena benda tersebut. Segelintir, eh maksud saya, banyak yang justeru dengan nyaman berenang dalam kolam bergelimang dengan pola pikir yang kemudian melahirkan perilaku-perilaku positif. Kumpulan orang-orang yang tidak hanya berpikir menjadi penikmat, tapi pembuat, tak mau kalah karena ingin menebar manfaat. Kolam itu terletak persis di samping jurang. Terpeleset sedikit, tamatlah riwayat hidup banyak orang. Pertanyaannya, berada disisi manakah kita? Apakah di bagian mereka yang hidupya kian mudharat karena sebuah benda atau di bagian mereka yang hidupnya kian mampu membagi manfaat? Atau jangan-jangan hanya berkedot dan terlihat member manfaat saja? Yang jelas, semoga kita terus berada di jalan kebaikan, jika hendak atau telah berbelok semoga selalu diluruskan kembali.

Pada hakikatnya semua kembali kepada pilihan masing-masing orang. Ingin memilih menutup diri dengan mencari jalan sendiri untuk terus mendapatkan ilmu dan informasi tanpa harus bersinggungan dengan hal yang sia-sia. Atau tetap membuka diri dengan tetap berusaha membentengi diri. Bagi saya, tak apa bermain game, tapi apa jadinya jika bermainnya di depan pasien yang sedang sekarat? Tak apa mendengarkan musik, tapi tegakah melakukannya disamping orang yang tengah sakit gigi. Tak apa  mengamati sinetron sejenak, asal berpikir kemudian bergerak untuk menciptakan sinetron yang baik dan mendidik. Dan sebagainya, dan sebagainya. Jadilah bijak terhadap diri kita, anak-anak kita, saudara-saudara kita dan orang lain di sekitar kita. Jadilah bijak dengan cara yang bijak, bukan memaksakan kebijakan diri sendiri agar terlihat bijak dan bersahaja. Tetaplah berhati-hati menjaga hati, karena layar setan dan jurangnya ada dimana-mana dan mampu menjerumuskan hati. Akhir kalimat, semoga Allah senantiasa menguatkan langkah kita. Aamiin.

"Jadi wanita karir aja! Jangan jadi IRT!" Kira-kira begitu kalimat yang sering saya dengar. Seolah menjadi IRT adalah profesi yang sama sekali tidak perlu dipandang. Kesuksesan wanita hanya dilihat karena dia mampu berdasi dan menyamai pria. Juga dilihat dari berapa banyak rupiah yang berhasil ia hasilkan. Padahal sejatinya, bukan itu tujuannya. Wanita hanya ingin sama bermanfaatnya dengan seorang lelaki. Hanya itu.

"Sudah sekolah tinggi-tinggi cuma jadi IRT?" Hmm, mereka kira gampang mengurus keluarga? Mereka kira didikan siapa yang melahirkan banyak anak bangsa mengagumkan di luar sana? Mereka kira sebuah negara yang berhasil tidak disumbang sama sekali oleh kehadiran IRT? Mereka kira dibalik kesuksesan seorang pria itu ada siapa? *Hehe, etdah kek nyolot amat ya kalimatnya, aslinya ngga kok.*

Menjadi IRT bukan perihal menyiapkan sarapan, pakaian, dll. Tapi juga tentang menyiapkan anak-anak berakhlaqul karimah, memiliki etika yang baik dan menjadi pribadi yang arif nan santun. Mengajarkan hakikat kehidupan, dunia, kesuksesan dan banyak hal lain yang seringkali banyak orang salah mengartikan.

Kalau boleh memilih justeru lebih indah menjadi IRT. Fokus mengurus keluarga dengan semaksimal yang bisa dilakukan. Tapi keingingan untuk terus berkarya dan berbuat lebih tentu tak dapat dibendung. Selama terus menancapkan komitmen untuk melakukannya beringingan, kenapa tidak? Dewi Nur Aisyah adalah salah satu potret IRT yang pandai menyeimbangkannya dengan membuahkan banyak karya bermanfaat. Memang berat. Tidak akan pernah semudah yang dibayangkan. Namun, kalau semua dilakukan karena lillahita'ala pasti akan ada saja cara Allah untuk memudahkan langkah kita. Tidak hanya bermanfaat untuk keluarga tapi juga umat. Seperti IRT yang juga berprofesi sebagai guru, designer, petugas bank, penulis, pengusaha, dll. Mereka tidak hany berguna karena mengabdi pada keluarga, tapi juga negara. Karena mereka mampu mencerdaskan bangsa, membuka lapangan kerja, menebarkan ilmu, dll. Pun walaupun kamu adalah seorang pure IRT, itu tentu tidak akan membatasi kamu untuk berkarya. Akan selalu ada jalan untukmu mewujudkan cita-cita luhur bangsa.

Mungkin kamu seorang IRT yang dulunya memiliki cita-cita yang hebat. Seperti menjadi dokter, menteri, penghafal al-Qur'an dan lain sebagainya. Tak apa, kamu bisa menjadi IRT hebat yang memiliki anak yang menjadi dokter, menteri, dan lain-lain.

Fenomena perihal hanya menjadi seorang IRT ini sudah menjadi paradigma yang salah dan lumrah. Akan sering telinga kita diperdengarkan dengan kalimat, "dia itu loh cuma jadi IRT. Pdahal sering juara kelas." dan kalimat lain yang bernada nyinyir dan sinis.

Dengan tulisan ini saya mengajak kepada kita semua untuk tidak ikut serta menyirami paradigma itu lantas kian subur adanya. Semoga kita menjadi orang yang tidak mudah mendiskreditkan sesuatu. Terus berkarya bukan berarti meludahi orang yang belum berkarya. Kehidupan tidak statis, melainkan dinamis. Ada kalanya kita berada di bawah dan ada kalanya Allah gariskan kita berada di atas. Tetaplah rendah hati dan berpikir lantas bergerak membangun negeri.

Ah, akan menjadi amat mudah menuliskan tanpa mempratekkan. Apalagi tulisan ini hasil dari ketikan seseorang yang bahkan masih belum menikah dan merasakan bagaimana mengurus rumah tangga. Hmm, bukankah belajar sesuatu tidak mesti mengalaminya sendiri. Dengan melihat mozaik kehidupan seseorang juga bisa tengah belajar. Barangkali dengan tulisan yang sejatinya tujuan pertamanya mengingatkan diri sendiri ini mampu menjadi pengingat lagi kala dibaca di kemudian hari. Sebab yang seringkali terjadi memang begitu. Kala salah dan hilaf mulai menguasai diri, akhirnya membaca beberapa oretan yang telah ataupun belum dipublikasikan. Alhasil, acapkali tertampar dengan tulisan sendiri. Baiklah, semoga kita bisa menjadi manusia mushlih yang terus saling menasehati dengan hikmah dan diberi kemampuan untuk senantisa mempertanggung jawabakan setiap kata yang pernah kita tulisakan. Aamiin.

----

[Pesan-pesan berikut ini] "Mbak, mbak. Apa?  Topiku ketinggalan." "Hade, cape de." || Akhirnya balik NGANTERIN topi dan ketemu temen yang NGANTERIN anaknya yang berusia 4,5 tahun lalu aku lupa pas  SALAMAN sama temenku pake gaya SALAMAN ala anak gahol. (Baca satu kali tarikan napas ya!) *krik.

Grup WhatsApp teranyaaaar!~ kalo ga ngomongin pasangan, ya momongan, dan -ngan lain. Dagangan kale -___-
Akhirnya aku kaboooor, hehe.

Btw, jadi inget beberapa tahun lalu, pas Pak Ali ngeliat telapak tangan kami satu-persatu. Beliau memang punya kemampuan lebih. Tapi sebelumnya beliau mewanti-wanti kami, jangan sampai ini kami anggap sebagai ramalan, apalagi sampai amat dipercaya. Anggalah ini cuma sebagai permainan, ujar beliau. Kami setuju. Lagipula, kami tidak ingin 40 hari sholat kami hangus hanya karena meramal masa depan. Beliau pun memulai aksinya. Ia melihat telapak tangan Luluk Ita. Beliau tersenyum. Kami penasaran.

"Luluk ini akan jadi orang pertama disini yang menikah," kata beliau lancar. Kami pun ramai. Dan benar, qadarullah, Luluk Italah yang menjadi orang pertama yang menikah di kelas. Tentunya usai lulus. Kemudian beliau melihat telapak tangan Hulwanur Rosida. Beliau tersenyum, kali ini ia bubuhi dengan tertawa.
Hulwanur, yang kala itu kurus dan tinggi cenderung begitu langsing---pun penasaran. "Kamu dulu waktu bayi gendut ya, Hul?," beliau melanjutkan, "pipimu juga begitu cabi."
"Hehe, iya, Pak. Fotonya juga masih ada," timpal Hul.

Pak Ali akhirnya meneruskan perjalanannya, secara acak, ada yang terlewatkan, ada juga yang tidak beliau sampaikan. Sampai akhirnya heliau tiba di samping mejaku. Beliau terperanjat, kaget melihat telapak tanganku.
"Wah, Lutfia ini! Wah," kata beliau. Lalu beliau seolah menutupi kekagetannya dengan tersenyum. Aku pun bertanya, "Kenapa dengan saya, Pak. Apa yang Bapak lihat?"
Beliau tidak menjawab pertanyaanku melainkan hanya dengan kalimat, "Hehe, ngga. Ga pa pa." Kemudian beliau beranjak ke yang lain dan menyudahi aksinya. Ada banyak yang belum beliau lihat telapak tangannya. Aku lupa kelanjutan kisah ini. Sebab fokus perhatianku tertuju kepada pertanyaan yang berputar-putar di dalam benakku.

"Ah, bukankah beliau sudah berpesan untuk menjadikan ini permainan agar fun. Lantas untuk apa dipikirkan?"

Dulu, kelas X MA alias SMA, aku ingin sekali kuliah. Beberapa orang bilang padaku, "Ga bakal bisa. Ga ada uang." Tapi saat itu aku yakin, jika Allah Maha Kaya. Allah yang bayarin.. Allah yang bayarin..

Sekarang, di penghujung semester 7, masih dengan satu mozaik mimpi yang sama, ingin sekali sekolah di luar negeri. Beberapa kalimat muncul dalam benak, "Prestasi nihil, belum lulus TOEFL, ga punya duit buat tes IELTS, dsbgnya." Tapi aku yakin, Allah bakal menggenggam mimpi kita. Allah yang tunjukin... Allah yang tunjukin...

Kita ga bakal berhenti bermimpi hanya karena hari ini ga punya uang buat makan. Kita ga bakal berhenti bermimpi hanya karena sampai hari ini belum sempro. Kita ga bakal berhenti bermimpi hanya karena belum pernah jadi juara lomba. Just because we are nothing, doesn't mean we will stop dreaming. Keep trying and believing. Because Allah has everything. And He will guide us to be something.

Semoga Allah mengampuni setiap kesalahan. Dan belajar dadakan kala ujian adalah satu dari banyak kesalahan yang seringkali aku lakukan dalam hidup. Menyusul kesalahan lain; buang-buang waktu dll. Semoga Allah tunjukkan jalan dan memudahkan lisan kita untuk memohon ampunan, serta meringankan langkah kita agar tidak mengulangi setiap kesalahan.

Aku dulu juga begitu. Ada masa dimana aku malas sekali pergi sekolah. Entah, malas sekali rasanya. Mungkin karena nilai juga pas-pasan, sering dibully orang yang sama, atau memang karena malas saja.

Jadi begini, aku duduk di bangku pertama SD pada usia 6 tahun. Karena sakit, beberapa hari aku absen di kelas. Sampai seminggu, sebulan dan seterusnya meski aku sudah lama sembuh. Pagi itu, aku diberi tahu teman, jika namaku sudah dicoret dari absensi. Aku pun bilang, "Ya sudah coret saja."
Beruntungnya aku punya Ibu yang benar-benar pengertian, tidak mau memaksakan kehendak. Katanya dengan sabar, "Kalau memang belum mau sekolah lagi, ya sudah masuk tahun depan saja."

Anak kecil tidak butuh paksaan, tapi kasih sayang dan sentuhan pelan-pelan. Aku bersyukur mendapat itu dari Ibuku. Anak kecil juga tidak perlu dibentak dan dikatai kasar. Itu justeru makin membuatnya tidak memiliki siapapun untuk berteduh. Aku pun bersyukur, Ibu selalu memayungiku dengan perkataan baik.

Jangankan anak kecil. Hingga kini pun aku masih amat membenci perkataan-perkataan kasar dan hardikan.

Bukan perkara mudah untuk membiarkan anak memilih apa yang ia mau, yakni tidak bersekolah. Tapi Ibu melakukannya untukku. Ia rela. Ia tidak khawatir akan jadi apa aku nanti. _Que sera sera._ Ia dengan sabar mengikuti jalanku. Sesekali ia memintaku belajar sendiri. Aku akhirnya setiap hari belajar membaca dan menulis dari sebuah acara di kotak televisi.

Tahun berikutnya. Pagi. Dingin. Menusuk tulang. Aku dibangunkan Ibu untuk mandi. Kemudian Ibu memakaikanku seragam merah putih. Aku ingat sekali saat itu. Entah dari mana semangat tiba-tiba meluap-luap dalam diriku. Barangkali dari benih kesabaran yang selama ini Ibuku tabur.

Aku berangkat sekolah tanpa ada paksaan. Bahkan meski seseorang yang membully itu masih ada dan masih membullyku aku tidak peduli! Setiap malam aku belajar tanpa disuruh. Tidak merasa terbebani. Apalagi pelajaran membaca, menulis dan menggambar. Jika sudah sampai di pelajaran menghitung, secara alamiah aku akan mengerutkan kening.

Mengingat hampir semua saudaraku mendapat peringkat satu, Ibu tidak mempermasalahkan peringkatku yang bernominal belasan. Barangkali, kata Ibu, semua insan selalu dikaruniai dengan kelebihan dan kekurangan yang acap kali berbeda-beda. Ibu memang tidak pernah mengungkapkan itu padaku. Tapi aku memahaminya. Pun sebenarnya, apa tujuan kita untuk bersekolah? Untuk menghilangkan kebodohan? Untuk mengoleksi banyak tropi? Untuk meraih juara kelas? Untuk mendapat nilai-nilai bagus? Untuk menerima banyak pujian?

Aduhai, apalah arti tropi, juara dan pujian jika pada hakikatnya kebahagiaan tidak kita dapatkan dari situ. Melainkan kasih sayang Allah yang Dia titipkan pada ibu kita, ayah kita, nenek kita, saudara kita, keluarga kita, dsbgnya. Apalagi kalau kompilasi dari keduanya; kasih sayang dan prestasi. Prestasi dalam arti luas. WOW!

Lihatlah, Ilul (nama panggilan) telah beranjak dari tempat tidurnya. Akhirnya mau bersekolah setelah dibujuk pelan-pelan. Aku percaya, kejadian traumatis dan lain sebagainya itulah yang membuat Ia agak bebal jika diberitahu. Maka sebenarnya Ia hanya butuh kasih sayang, bukan hardikan atau cacian.
Ah, lagakku pagi ini sudah seperti Emak-emak kepagian. 

Beberapa bulan yang lalu gue berusaha sungguh-sungguh supaya ga terlalu kecanduan sosmed (FB, IG, dll) dan menurut gue berhasil. Salah satu triknya adalah ga terlalu banyak beli paketan data sama nguatin tekad. Soalnya gue tipikal orang yang mudah kecanduan hal yang berbau teknologi. Pas SMP, maksud gue pas MTs, gue kecanduan dengerin lagu barat, nonton film sampe larut, maen banyak game, dll. Gue akhirnya mikir, emang sih ada manfaat meski secuil, tapi kapan gue mau ngelakuin hal yang manfaatnya jelas-jelas lebih besar?
Pun sama sosmed-sosmed itu.

Nah, mulai beberapa minggu lalu gue ngelakuin pengamatan mini. Pemaparan yang gue dapetin adalah sosmed sudah menjadi makanan wajib di era digital seperti sekarang.
Para pebisnis, penulis dll harus sedia aktif di sosmed. Beberapa penerbit bahkan mempertimbangkan jumlah followers penulis sebagai penentu keputusan untuk menerbitkan bukunya. Maka selebgram akan mudah dilirik karya tulisnya. Lebih-lebih memang inspiratif. Pun pebisnis. Mereka juga perlu aktif di sosmed, follower kadang kala menjadi acuan pasar yang akan membeli produk atau meski hanya sekedar membantu membagikan info produk.
Dari pengamatan yang gue lakuin, kegiatan di sosmed memang kudu dilakuin (mulai dari update status remeh, berat, promo jualan, promo buku, dll). Seolah sudah menjadi kebutuhan, biar tidak tergerus zaman.

Dari situ gue jadi paham, bahwa sosmed tidak selalu berimage buruk. Disana kita bisa jualan, menebar kebaikan, dll dengan porsi yang pas. Tapi tetap, tidak ada yang lebih mendamaikan serupa isi al-Qur'an. Demi Allah, Tuhan yang jiwa gue ada dalam genggaman-Nya, al-Qur'an adalah pedoman yang tak lekang oleh zaman.

Gue jadi salut banget, sama pebisnis, penulis, yang benar-benar tulus berbagi kebaikan. Misalnya, Darwis Tere Liye. Beliau tidak mau memajang selembar fotopun di karya-karyanya. Ini bukan berarti yang menampilkan foto dan identitas tidak tulus. Tidak, sungguh tidak seperti itu. Gue cuma salut, beliau tidak perlu membuat status alay seperti gue. Hehe. Dengan sedikit memahami bahwa sosmed penting untuk beberapa hal, gue jadi tergoda lagi buat kembali aktif di sosmed. Entah seperti apa polanya. Sebab di saat yang sama gue juga sedikit memahami bahwa al-Qur'an juga tiada duanya.


Mbak Ais. Dia kakak perempuan yang begitu luar biasa di mata kanak-kanakku puluhan tahun silam. Kami seperti bumi dan langit. Dia multitalent. Sejak kecil sering didelegasikan ikut lomba. Sejak duduk di bangku sekolah dasar. Bagiku megagumkan saja melihatnya mendapat banyak hadiah dari guru-guru kala mampu menyabet juara. Di madrasah juga demikian. Saat lomba setahuku dia yang pertama berpidato dan membikin penonton tidak mengantuk. Akhirnya, caranya berpidato menjadil viral, meski saat itu istilah itu belum gandrung. Di mataku, dulu Mbak Ais tidak mudah marah. Itulah mengapa kami jarang bertengkar.

Mbak Ais bagiku makin terlihat luar biasa, ketika lulus SMA diberi pilihan; mengabdi atau menghafal al-Qur'an. Dan dia memilih pilihan kedua. Allah, semoga engkau membimbingnya untuk menjaga hafalannya, juga ia bisa diberi daya agar mampu meneruskan. Aamiin.
Tapi yang lebih membuat ia terlihat sangat luar biasa di mataku adalah saat ia membelaku waktu kecil dulu. Aku yang biasa diganggu Mashudi (kini berteman baik) setiap hari membuatnya geram seketika waktu. Bagaimana tidak, Udi (panggilan akrabnya. Benci aja masih punya panggilan akrab😂) seakan tidak kehabisan ide untuk menggangguku. Saban hari tiada hari tanpa menggangguku. Mencoret bukuku, dsbgnya. Aku lebih sering tidak meladeni, tapi juga lebih sering menangis (dulu aku bukan kriteria orang yang pemberani. Sekarang? Masih😂 Ngga napa😏 Ngga salah😂). Lalu suatu ketika di puncak kegeramannya, saat aku dan Mbak Ais hendak pulang dari sekolah SD (seingatku aku masih duduk di kelas 2) ada Udi yang lagi-lagi menggangguku dengan ocehannya. Mbak Ais sudah sering mendengar aku diganggu makhluk yang satu itu. Haha. Akhirnya kali ini Mbak Ais naik pitam. Ia pun menghampiri Udi dan menarik kerah bajunya kemudian berteriak keras ke mukanya persis di teve-teve, "JANGAN GANGGU ADIKKU LAGI!!!"
Kejadian itu sungguh membuat aku terpana.

Karena ingin sekali merasakan bangku kuliah, dia dengan semangat kuliah sambil bekerja. Kenapa tidak kuliah sambil berjualan saja? Barangkali sekarang dia sudah punya banyak outlet! Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri, hah? Hehe.

Kalau aku nonton teve dengan Mbak Ais, sepertinya justeru tevenya yang akan balik menyaksikan kami mengisi suara pemain yang padahal sudah ada suaranya. Kami seolah menjadi dubber tak diundang. Mbak Ais selalu pandai memilik kata-kata yang membuatku mudah ngakak. Ups.

Aku seringkali meminta diajari ini itu padanya, namun seringkali dia menjawab, "Aku ngga bisa." Pikirku, itu mungkin caranya untuk merendah (Tapi ya ga gitu-gitu juga kale😴) .

Yang paling menyebalkan adalah saat dia bilang "Kamu berbeda," dengan nada khas darinya. Menurutnya, dia sering mengatakan begitu karena aku seringkali berbeda di rumah. Kala yang lain makan malam bersama melingkar di tengah teras, aku justeru makan cemilan di pinggir teras, dan beragam perilaku lain yang menurutnya berbeda dan bisa memancingnya untuk berkata begitu. Alhasil, besok harinya aku tidak ingin berbeda, aku juga ikut makan bersama. Namun yang kudapati adalah ungkapan yang sama dari nya. Serba salah, kan?

Saat aku tengah mengetik, dia akan bilang "Kamu punya dunia sendiri, ya. Enak. Diem." Lah, memangnya aku harus ngetik sambil joget? Hadeeee.

Kalau dia bertingkah seperti anak kecil, aku menjulukinya serupa dengan iklan yang lagunya, "Dodo.. dodo.. Ku hanya mau dodo.. Ku suka dodo.."
Hahaha, maaf ya, aku ulangi deh.

Hmm, banyak sekali kenangan bersama Mbak Ais. Esok, 31 Des 17, InsyaAllah dia akan memulai hidup yang baru. Semoga Allah senantiasa memberkahi hidupmu. Tetap menjadi partner 'gila'ku ya😭😘

[ Jangan sampe kalo nikah nanti, nikahnya sama manusia hape. Kan bakal ga nyambung tuh. Kita ngomong apa yang didengerin apa. Dan pagi ini aku bener-bener paham, kalo ngomong sama manusia hape bisa amat menyakitkan. ]

"Nam, turunin motor, Nam. Anterin," pintaku pada Anam yang tengah fokus pada layar hape smart itu. Aku pada saat itu masih sibuk mengenakan kaos kaki. Aku pikir dengan meminta tolong, aku akan lebih menghemat waktuku. Mengingat kelas di mulai pukul setengah enam. Tapi yang ku dapati adalah jawaban yang sama, yakni "hah?," dari tiga pertanyaan yang juga sama karena memang sampai harus aku ulang dengan jarak durasi waktu sepersekian detik.

Akhirnya, aku ingat apa yang disampaikan Bapak pekan lalu:
"Orang tua itu ga butuh dunia. Saya, meskipun orang bodoh sekalipun, lebih memilih akhlak ketimbang harta berlimpah ruah. Kita lebih perlu disumbang tingkah laku yang baik daripada disumbang materi, tapi akhlak dinomorsekiankan," begitu kira-kira menurut beliau.

Aku pun memutuskan untuk berjalan kaki karena aku merasa tidak butuh materi (dalam hal ini jasa antar menggunakan motor). Aku hanya butuh didengarkan kala itu. Keputusan ini justeru membuat Anam yang tadinya sibuk bermain hape kini bangun. Tapi aku sudah berjalan cukup jauh, aku tidak mau diantar oleh siapapun. Termasuk Muna yabg sedari tadi juga enggan kala aku berbincang pada Anam. Sekali lagi aku tidak perlu diantar, aku bisa berjalan kaki. Aku hanya butuh didengar. Itu saja.

Akhirnya mereka, juga Ibu seperti menyesali apa yang aku lakukan. Aku pun demikian. Karena meski tujuanku untuk memberi pelajaran, tapi aku lupa untuk menjaga perasaan Ibu. Pastilah Ibu menyesali kejadian pagi itu. Maaf, Bu. Aku hanya ingin mereka mengerti, bahwa hidup ini bukan hanya tentang 'aku', tapi tentang 'keluarga' dan banyak orang.

---

Omong-omong tentang Anam yang jadi manusia hape, sebenernya aku jadi inget kalo ternyata aku juga sering jadi manusia hape. Parahnya lagi aku melakukannya pada Ibu!
Kemarin sore Ibu bertanya padaku yang memang tidak sedang memegang hape, tapi pikiran masih fokus pada apa yang ada di dalam hape, laporan. Begini pertanyaannya, "Sudah Ashar, Lut?"
“Belum,” jawabku.
“Sudah jam segini kok kamu bilang belum ashar. Kenapa kamu jadi telmi ya akhir-akhir ini,” Ibu heran.
“Eh, iya bu, hehe."

Aku akhirnya langsung kaget dengan sikapku dan meminta maaf pada Ibu, tertawa kemudian mengenang betapa memang akhir-akhir ini aku seringkali telmi. “Kenapa hape tidak lantas menjadikan aku makin smart, ya?” Tanyaku dalam hati. “Ah, penggunaan yang tidak semestinya inilah yang menjadi akar masalahnya.”

Aku seringkali berpikir jika aku tidak ingin memiliki pasangan hidup yang terlalu sering update status di media sosial, apalagi hanya sekedar sepiring makanan. Tapi setelah ku pikir lagi, aku adalah orang yang masih dan aktif membagikan status, termasuk makanan. Padahal orang-orang di sekitar kita, keluarga, sahabat, pasangan hidup dan lain sebagainya  bisa jadi adalah cerminan diri kita sendiri. Maka mulailah dengan mengevaluasi dan memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu.

“Anam, ternyata Tantemu ini juga manusia hape. Ayo bareng-bareng memperbaiki diri. Supaya kita tidak menjadi budak teknologi.”

[ Yuk, sebelum sibuk lagi sama hape, tugas, kerjaan, dll. Sudah ngga ngasih senyum dan bilang sayang ama anggota keluarga, nelfon ortu, dll? Sebab kita seringkali punya senyum buat orang lain, tapi tidak untuk keluarga sendiri. Dan bilang sayang tidak selalu berarti lewat ucapan. ]

Sepatu yang lebih kuanggap sebagai sendal kemarin kehujanan dan lupa aku cuci. Sementara sepatu yang juga lebih kuanggap sebagai sendal minggu lalu kehujanan dan juga lupa aku cuci. Haha, serius. Akhirnya pagi ini aku meminjam sepatu milik Muna, kemenakan yang lebih ku anggap adik sendiri.

Anyway, pagi ini petugas telat mengembalikan kunci laboratorium. Akhirnya aku kelimpungan mencari kunci. Naik-turun lantai tiga sampai  tiga kali. Mondar-mandir melebihi setrika.

Beberapa saat kemudian Dek Irul datang. Dia akhirnya membantuku untuk mencari kunci, atau lebih tepatnya mencari petugas yang membawa kunci.

Dia juga bingung. Sebab kelasnya harus menggunakan komputer di laboratorium. Nah, kalau aku sendiri berniat untuk belajar di luar ruangan sebagai plan B, karena kali ini tidak memerlukan layar proyektor dll.

Jam di layar handphone-ku telah menunjukkan pukul 07:30 WIB. Saat itu pula ada yang mengembalikan kunci. Padahal sebenarnya kelas dimulai jam 07:00 WIB. Ibarat kata nih ya, 30 menit itu bisa digunakan untuk mencuci piring, baju dll. Hehe.

Ternyata usut punya usut, petugas memang datang telat bukan sebab lupa mengembalikan kunci. Omong-omong pegel juga karena aku memakai sepatu pinjeman berhak tinggi. Meski amat tinggi, aku amat berharap bisa memenuhi haknya, eh. 

Pada saat mencari kunci kesana kemari, saya menemukam sebuah kursi. Lantas ia berkata, "Rugi, kan? Dampak telat memang dahsyat. Yang telat satu, yang rugi banyak orang. Padahal dari rumah sudah berangkat lebih dari sekedar tepat. Nah, gimana rasanya? Itu yang dirasakan dosenmu. Lihat, mereka juga telah datang tepat waktu. Dan berhak atas itu, memulai kelas dan pelajaran tepat waktu."

Pada akhirnya, kita juga harus pandai memaklumi. Sebab tidak ada yang menjamin jika suatu saat justeru kita yang berada di posisi demikian. Manusia hanyalah manusia yang kadang kala urusannya susah untuk ditebak. Hanya saja jangan lupa dan malas untuk senantiasa menegakkan kedisiplinan.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Tomato
  • Yang Ga Diminta Aja Allah Kasih, Apalagi yang Iya
  • Air Zam - zam
  • Oretan Akhir Periode
  • Not Fair
  • Door Duisternis Tot Licht
  • Obsesi?
  • DAY 7 - Bersih-bersih dan Silaturahim
  • Kapan Nikah?
  • Rindu Rasulullah

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates