Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Ternyata sering sekali menutrisi pikiran dengan hal-hal yang negatif. Seperti dalam status yang aku bagikan beberapa minggu yang lalu ini:

"Kamu mending suka baca." Mmm, bagiku, belum dikatakan suka membaca kalau belum mampu membaca banyak jurnal setiap harinya. Lalu faktanya, membaca sebuah jurnal seringkali membuat mataku mengantuk secara tiba-tiba. Haefhh, memang awalnya perlu dipaksakan. Karena kelak jika sudah terbiasa, rasanya akan lebih mudah dari makan kacang. Hehe, nulis doang sih gampang. Coba lakukan, sayang!😑."

Nah, bagian kalimat yang tebal adalah salah satu cara membentuk akibat negatif dari pikiran-pikiran yang melahirkan mindset dan menentukan tindakan.

Maka jika seseorang menganggap monday adalah monsterday, maka tidak dengan kamu. Kamu harus punya pikiran positif yang akan melahirkan tindakan-tindakan baik. Ubahlah skripshit menjadi skripsweet. Sugestikan demikian. Sebab ia adalah proyek malaikat dann bisa jadi merupakan hajat orang banyak. Iya, rasa malas kerap melumat-lumat ide yang tertimbun hingga akhirnya berkarat. Kumpulan jemari di atas qwerty akhirnya stuck, skakmat. Jadi, mula-mula adalah mengasahnya dengan pikiran-pikiran yang indah. Meski nyatanya memang tidak mudah. Akan selalu ada kerikil-kerikil beragam ukuran yang menguji kesabaran. Oleh karenanya, selalu sugestikan perihal kebaikan sebagai makanan utama sebuah pikiran. Pikiran yang melahirkan tindakan. Konon, pikiran yang baik akan
menciptakan kemudahan-kemudahan.

Selalu ingat bahwa kita perlu ikhtiar membebaskan diri dari belenggu malas, dll---yang kapan saja menghalangi. Perlu perjuangan keras untuk itu. Barulah,  saat kelak indah pada waktunya, kita akan merasakan buah manis. Buah manis yang juga akan dinikmati banyak orang. Karena kita tidak berhenti membebasakan diri kita sendiri, tapi juga belenggu yang ada pada banyak orang.

Bismillah💞

Aku dikejutkan dengan pesan adikku yang ingin pindah kost karena tidak tahan dengan kelakuan pemilik kostan yang teramat genit. Ada saja yang dilakukan lelaki yang juga berstatus sebagai dosen itu. Ada saja kata-kata sampah yang diucapkan. Tanpa permisi, ia tidak sungkan memasuki kawasan kost wanita kemudian basa basi. Kalimat yang sepertinya sudah dia anggap mujarab selalu ia keluarkan pada siapapun, apalagi penghuni kost baru. Dan adikku adalah satu-satunya anak baru yang akhirnya menjadi sasaran untuk menjadi tong sampah bagi ucapannya, seperti, "Kamu ngga usah bayar kost ya, tapi syaratnya jadi selingkuhanku," katanya tanpa mimik berdosa.

Awalnya adikku mengira itu hanyalan bualan dan candaan murahan, tapi ternyata kelakuannya tambah keterlaluan. Masuk kamar tanpa permisi dengan dalih menagih bayaran kost. Pret. Apakah ia tidak tahu apa itu privasi? Saat itu meski juga ada senior yang seorang perempuan, adikku tetap dan malah makin merasa takut apalagi ditambah dengan omongan lelaki yang katanya berilmu itu, yakni, "Duh, kamu gemesin deh. Sini-sini. Pengen nyubit."

Walaupun adikku tidak menghiraukan, ia merasa amat geram. Sudah sering perkataan tidak pantas itu dilontarkan. Bahkan ia menangis tersedu-sedu meski tidak diapa-apakan. Akhirnya, senior yang sekamar dengan adikku menenangkannya. Mengatakan bahwa semua juga pernah mengalami hal yang sama. Meski sudah tahu kalau mereka telah bertunangan atau bahkan mengaku telah bersuami. Mereka tidak menghiraukan, hingga akhirnya ocehan itu menghilang juga, kata para senior itu. Tapi adikku benar-benar adakalanya, sepertiku, menjadi amat perasa. Ia pun melontarkan kekesalannya di grup keluarga. Akhirnya kami kaget dan membalas dengan chatan panjang yang intinya menyuruh ia untuk pindah kost. Apalagi aku. Aku teramat geram! Tak bisa dibiarkan!

----

Bukan tanpa alasan. Pengalaman bertahun-tahun naik angkot dengan karakter penumpang yang berbeda-beda semoga membuat aku makin belajar. Karena aku percaya apa yang diungkapkan dalam kitab Mukasyafatul Qulub bahwa wanita yang keluar rumah akan dihiasi oleh syaitan hingga terlihat menarik. Oleh karenanya, meski tidak secantik dan seelok Claudia Shyntia Bella, aku mengerti jika kalimat itu ada benarnya.

Kembali ke angkot yang silih berganti aku tumpangi.

Saat itu aku dan teman MA hendak pulang. Kami naik angkot. Di depan tempat duduk kami persis duduk seorang lelaki berusia tiga puluhan. Lebih tepatnya, persis di tempat dudukku. Gerak geriknya sedari tadi mencurigakan. Sepertinya temanku tidak merasakannya. Hingga tiba-tiba lelaki itu dengan kurang ajar memegang kakiku, kaos kaki, seolah merogoh. Reflek aku berteriak, meneriaki lelaki itu. Aku akan mafhum jika ini dilakukan guru BP MTs saat memeriksa apakah kita menyembunyikan handphone di dalam sepatu karena saat itu dilarang membawa handphone. Tapi guru BP itu pun seorang wanita. Maka lelaki itu kaget, tidak menyangka aku berani melawan. Sekilas wajahnya ketakutan, karena di belakangku terdapat kursi yang dipenuhi lelaki lain---beretika---yang kapan saja bisa mengeroyokinya. Tapi aku sudah shock. Aku jijik. Aku ingin berhenti. Pindah angkot. Aku tidak peduli jika harus membayar ongkos lagi. Yang jelas aku harus pergi. Menghilangkan trauma. Ingin sekali menonjok mukanya. Tapi aku memutuskan untuk pergi saja! Jangan sampai kejadian seperti ini menimpa keluarga dan orang lain, pikirku. Aku menyetop angkot baru bersama temanku yang masih kaget denganku---yang katanya bisa seberani itu. Tapi aku hanya diam. Perasaan jijik dan bergidik mengingat saat menyaksikan berita-berita di TV perihal pelecehan membuat pitamku makin naik.

Kejadian serupa beberapa bulan selanjutnya terjadi lagi. Dalam mini bus. Untungnya tidak sampai menyentuh kaki, tangan atau apapun. Jangan sampai! Karena kala itu aku telah mengeluarkan kamus besar dan tebal sebagai senjata jika ada apa-apa. Kebetulan saat itu aku hendak berangkat les. Jadi ada kamus.

Untuk itu teruslah waspada. Jangan takut, innallaha ma'ana. Bukankah kita ingin menjelajah dunia?

Mungkin bagi beberapa orang yang membaca cerita ini akan berkata: "Aduhai, sikapmu terlalu berlebihan!" Jika begitu kau harus mencobanya sendiri. Bagaimana rasanya ingin mencakar-cakar lelaki yang berakhlak tercela. Meski aku bahkan tidak memelihara kuku di jari jemariku. Hehe. Aku doakan semoga kau tidak pernah mengalaminya.

Ingat, seperti halnya membully, pelecehan seksual atau kejahatan seksual (sexual harassment) tidak hanya berbentuk tindakan tapi juga perkataan. Membully seseorang tidak selalu berarti mengeroyokinya dengan tangan. Namun, menyakiti hatinya dengan perkataan juga masuk pada kategori membully. Sama halnya dengan pelecehan. Aku sendiri seakan mau muntah kala mendengar: "Heh, kamu. Jangan gitu. Ntar gue cium nih, ya," yang merupakan salah satu bentuk pelecehan lewat perkataan, setelah melihat konteks pembicara dan lawan bicaranya.

Lalu di jaman yang kekinian ini aku melihat jika sexual harassment ternyata tidak hanya bisa dilakukan lelaki, tapi juga wanita. Salah satunya bisa kita lihat di dunia maya. Komentar menjijikkan di akun sosial media idola mereka. Terlepas itu fake account atau tidak, tetap saja semua akan dipertanggung jawabkam dan tidak bisa dibenarkan. Dan lagi, maya atau nyata, yang menulis juga sama-sama manusia. Tak akan bisa lari dari hisab kelak.

----

Adikku memutuskan untuk pindah kost di akhir bulan, di hari-hari terakhirnya itu ia terus waspada dan banyak berdoa. Bahkan jauh dari pemikiranku ia dengan berani membubuhkan kertas di pintu kamarnya dan ditulis besar besar: JANGAN LUPA KETUK PINTU DULU, DI SINI KAWASAN WANITA. TERUTAMA BUAT PAK KOST!

Aku tidak percaya sebelumnya jika adikku bisa seberani itu. Ia juga menceritakan saat akhirnya tulisan itu dibaca, dicabut paksa dari kediamannya, disobek, lantas di buang ke tempat sampah. Mendengar bagian itu, aku reflek merapalkan doa, semoga Allah melindungi adikku, Karena Dialah sebaik-baik pelindung.

Kalo ngaduk semen malem-malem kek gini jadi inget Kak Udin. Ga kenal waktu ngelakuin apa aja. Kek benerin motor, bikin kursi, dan sbgnya. Meskipun pinternya ga mirip, ternyata setelah gue pikir-pikir ada beberapa sifat dan sikap Kak Udin yang mirip kek gue. Keknya sih. Iya, Kak Udin kalo uda sibuk ngerjain sesuatu ampe lupa waktu, lupa makan. Alhasil Ibu manggil-manggil buat nyuruh makan cuma di-iya-iya-in aja. Tapi orangnya tetep belepotan oli benerin motor. Gue inget banget meskipun waktu itu masih kecil, Kak Udin kelar ama motornya jam sepuluan. Pas abis itu mau makan, ke dapur, dan ternyata nasinya uda abis. Hahaha. Gue yang masih kecil ya diem aja, pas ga bisa masak.

Kedua, kalo uda bikin apa-apa maunya cepet selese. Kek pas bikin kursi. Kak Udin ngelarin itu kursi kurang dari sehari. Pokonya bikin apa aja kelarnya kudu pas itu juga. Jadi inget waktu bikin kolam lele yang gedenya ngalain kapal Nabi Nuh. Hehehe. Kelarnya pas hari itu juga! Tiba-tiba ujan, akhirnya kelabakan masangin terpal. Terpalnya kenak ke bagian tembok kolam yang masih lembek dan basah saking anginnya kurang bersaudara. Akhirnya banyak bagian yang ambruk. Kelabakan benerin. Hari itu juga!

Gue tahu, gue emang ga bisa benerin motor apalagi bikin kursi. Tapi pas gue liat awan di atas kepala sebelah kanan, gue liat dua sifat dan sikap itu lumayan ada kemiripan. Disitu gue liat diri gue yang lagi bikin desain baju. Pokonya selesenya harus hati itu. Alhasil muka modelnya rata. Eh, itu sih sengaja! Maksud gue, alhasil kegiatan yang lain keteteran. Terus adegannya ganti, gue lagi jait baju. Kurang dari empat jam kelar itu baju atasan. Ga makan, ga istirahat, sama ga minum dulu. Tapi masih bisa sambil nyanyi, huhu. Tadaaa, hasilnya adalah kalo ga lengannya kekecilan, bagian badannya yang kebesaran. Hadee.

Intinya kalo bikin apa-apa pengennya cepet selese, ga mau dicicil. Meskipun kaga everthing at once juga.
"Akhirnya, moralnya adalah jangan sampe ini juga berlaku ama skripsi. Jangan kek tugas-tugas yang lain, ngerjain pas mau deadline, selese, ga maksimal, yang penting kelar." Nah, bagian bertanda kutip ini ga ada di awan tadi, tapi nurani gue yang lagi berpetuah. Bikin ngilu.
Uda ah, ngilu juga baca note yang full ama kata "gue" hehehe. Karena kebiasaan pake kata ganti itu jadi aneh kalo pake kata ganti "aku" yang sebenernya lebih enak di denger. Rasa apa coba?

Adapun gue sebenernya tiba-tiba kerrong Kak Udin---yang meski nyebelin ternyata bisa ngangenin.

Ini sudah kali kelima Ebok ngingetin buat makan, sejak ba'dha Ashar. Emang kamu itu ya anak macam apa, Lut. Parah. Padahal kata Rosul, kalo Ibu kita manggil pas sholat sunnah, ya dibatalin. Kalo pas sholat wajib, ya dipersingkat. Dipanggil buat apapun, yang penting sesuai syari'at dan buat kebaikan. Apalagi ngingetin makan. Kebaikan siapa coba? Dan kamu emang sering gini, pura-pura lupa meskipun dikit-dikit paham ilmu agama. Hmm.

Yang namanya seorang Ibu ya ga ada kapok-kapoknya sama anak. Tulus banget. Jadi meski gimanapun tetep aja Ebok senantiasa ngingetin buat makan, buat jaga kesehatan. Kalo udah khusyuk ngerjain tugas kampus, akhirnya dengan berat hati bilang, "Iya, nanti." Padahal parah banget itu.

Jadi inget kemaren, dipanggil-panggil buat makan, jawabannya nanti-nanti aja. Pas uda pada bobo semua, mau makan ternyata nasinya abis. Rasaiiiiin. Hehe. Akhirnya bikin mie instan yang ga sama kek gambar dikemasannya.😂
Kalo ngerantau kelak, I will really miss her. Till now, even I always be with her, I still miss her. I'm sorry for everything. Wish me be a person who can implement what she understand (gatau tensesnya bener apa ngga).

Eh, ga cuma Ebok sih. Bapak juga demikian kalo uda ngingetin makan bisa berkali-kali. Pokonya Bapak yang biasanya pendiam banget dan irit ngomong---meski pada beberapa kesempatan banyak kebanyol---menjelma jadi sosok bawel ngangenin, ngingetin buat makan. Kebiasaan ngingetin buat makan kek gitu akhir-akhir ini diteladanin sama Mbak Ais. Semenjak lulus, Mbak Ais tinggal di rumah. Beberapa bulan lagi dia insyaAllah bakal pergi ke rumah (calon) suami. Sejak itu Mbak Ais jadi anak yang tersepuh di rumah dan berangsur sering ngingetin makan. Duh, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

Dulu kecelakaan di semester 5 pas ketika materi kuliah ini itu anget-angetnya (gorengan kali). Akhirnya dua minggu ga masuk bikin pelenga pelongo pas masuk di hari pertama. Ini belajar apaan kok kek susah banget. Dan ga tau kenapa kemarin diminta ganti judul yang persis pake materi kuliah itu. Qadarullah. Jadi, semacam bener-bener belajar lagi, karena dulu pahamnya cuma ampe pertengahan. Gue juga baru inget, dulu pas pertama kali masuk kampus di hari pertama mata kuliah lain di semester satu, kita disuruh buat ngereview skripsi. Akhirnya gue comot secara asal skripsi perihal tembakau, isinya persis perihal materi kuliah yang pas gue kecelakaan. MasyaaAllah. Sungguh ga ada yang kebetulan di dunia ini.

Maka, setiap kata yang diucapkan Pak Andrie itu serupa air zam-zam yang kemudian dimasukkan kedalam cangkir lantas gue pegang dengan hati-hati kala meminumnya, begitu berharga. Kemudian air itu mengalir dalam tubuh, menyegarkan raga juga jiwa. Lalu, titahnya tidak akan gue tawar. Sungguh, beliau telah Allah gariskan untuk membimbing gue. Maka, gue percaya saja akan alurnya, karena pada beberapa hal ia yang lebih mengerti. Semoga Dia selalu merahmati beliau dan memudahkan jalan gue, juga teman-teman gue.

Setelah gue pikir-pikir inilah yang terbaik buat gue. Ini sepertinya lebih mudah dari penelitian dengan judul sebelumnya. Itu sih pendapat gue. Akhirnya gue terus berprasangka baik sama Allah. Ini bener-bener yang terbaik yang Allah beri buat gue. Sampai akhirnya, beberapa temen bilang, justru ini materi yang lebih sulit. Gue kaget. Masak sih? Ngga ah!

Dari situ gue jadi paham, kalau sulit tidaknya itu berasal dari presepsi tiap orang. Dari ucapan dan pola pikir. Jadi, ucapkanlah yang baik-baik dan senantiasa berprasangka baik pada Sang Kholik. Sebab innallahaa'lamumalaata'lamuun. Dia mengetahui apa-apa yang tidak kita ketahui.

Bagi gue, Allah tidak hanya menciptakan air zam-zam berwujud cair dan dapat dinikmati secara lahir. Tapi ia juga bisa berbentuk petuah dan ilmu yang keluar dari lisan seorang guru yang kadangkala dahsyat dan mampu menentramkan batin. Berprasangkalah baik, karena Allah Maha Baik.

Menurut forum terkemuka di Inggris, ada tiga hal yang menjadi kiat sukses untuk menguasai bahasa Inggris. Kiat yang pertama  adalah memahaminya, kemudian menghafalkannya dan mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan tiga kiat yang dilakukan secara terus menerus itu, maka biidhnillah kita akan mampu menguasai bahasa Inggris.

Benar, saya memahami beberapa grammar, menghafal 100 kosa kata per minggu---yang kini banyak mengilang---tapi selalu ragu untuk mempraktekkan. Selalu dihantui perasaan takut salah, malu, takut dianggap sombong, dsbgnya yang pada hakikatnya hanya merugikan diri sendiri. Karena itulah, meski mempelajari bahasa Inggris dalam waktu yang lama (bagi saya), saya belum lancar melafalkan dan menuliskannya. Saya mengabaikan peringatan yang jelas-jelas sudah nampak di depan saya, di atas papan tulis putih kala itu, yang berbunyi: Don't hesitate to speak english!

Kala itu saya tidak pernah berpikir jika saya akan melewatkan kiat ketiga yang justru menjadi salah satu langkah besar untuk menuju perubahan. Saya juga terlalu sibuk memikirkan bagaimana jika tenses yang saya gunakan tidak pada tempatnya? Bagaimana jika begini? Bagaimana jika begitu? Kesibukan itu yang akhirnya membuat keinginan untuk sungguh-sungguh menguasai bahasa Inggris justru perlahan menguap. Yang tertinggal hanya keraguan dan ketakutan yang tidak akan pernah putus jika saya sendiri tidak mau memutusnya.

----

Untuk kiat diatas saya pikir juga berlaku kalau kita ingin menguasai ilmu lain. Sejak SD hingga sekarang kita diajarkan untuk bersabar---meski seringkali tidak tersurat---tapi betapa sulit mengamalkannya, menguasainya, karena kita tidak mau mempraktekkanya. Maka teori sabar, toleran, perhitungan, bisnis, etika, dan lain-lain itu seringkali hanya menjadi seonggok oretan.

Semoga selalu Allah mudahkan🌸

Malam tadi aku mengemas barang yang esok akan ku bawa ke seminar, salah satunya novel milik Mbak Lia. Mau minta TTD-nya Asma Nadia. Beliau sudah menjadi salah satu idolanya sejak lama. Karena itulah, di kesempatan ini barangkali beliau bisa mendapatkannya, TTD itu.

Aku kadang berpikir berkali-kali, kenapa orang bisa mati-matian berebut TTD seseorang (dalam hal ini idola). Setelah ku pikir lagi, ternyata mereka (kebanyakan), memang bukan orang-orang biasa, tidak manja. Mereka menginspirasi dan telah berhasil keluar dari zona sebelumnya. Berjuang untuk impian yang mereka rangkai setelah sekian lama. Tak ayal, TTD mereka pun sangat berharga, spesial. Apalagi ilmunya. Lalu apakah kita sudah menjadi sespesial itu bagi orang lain? Jika belum, setidaknya kita bisa menjadi spesial di hadapan Tuhan. Namun, bukankah ketika kita sudah spesial di langit maka kita secara otomatis juga spesial dibumi berkat-Nya. Itu sudah sunnatullah.

Bagaimana kita seorang manusia yang bisa jadi jiwanya mudah rapuh, namun disanjung begitu hebat dan dispesialkan TTD-nya? Wallahua'lam. Hakikatnya, meski seringkali nampak dari ucapan dan perilaku, kita tidak akan pernah tahu seperti apa dalamnya isi hati seseorang. Hanya bisa merapalkan doa agar diteguhkan untuk bersifat rendah hati.

----

Aku adalah tipikal orang yang entah kenapa tidak suka keributan, meski kecil. Maka, ribut-ribut, antre, berebut TTD, meminta foto bareng, dan lain sebagainya adalah hal yang sangat ku hindari. Lebih-lebih aku pemalu untuk itu. Meski tidak dipungkiri, seorang idola yang kerap ku anggap guru akan menjadi berarti, meski sekadar oretan jari. Tapi lebih dari itu, merindu seorang idola dan guru tidak melulu harus berfoto selfie, dll---karena cukup dengan bertemu saja sudah meluruhkan rasa rindu yang memang telah lama menggebu. Atau sebenarnya, rasa rindu tidak perlu diluapkan dengan adanya sebuah pertemuan, tapi cukup hanya dengan melantunkan doa untuk yang tengah dirindu. Iya, hanya sebegitu.

Namun, lihatlah. Entah Kakak sudah menskenarionya dengan rapih, aku terpaksa berada di antrean panjang para pemburu TTD itu. Membawa sebuah novel kesayangan Mbak Lia, yang kala itu sedang menyusui anaknya. Kondisi ini kualami karena Kakak tiba-tiba mengestafetkan novel itu padaku, meminta untuk antre demi mendapatkan TTD, biar berani katanya. Aku yang sudah ada di depan pintu tidak dapat lagi mengelak. Pada ini bukan soal berani, akan tetapi sering sekali aku tidak suka keramaian, apalagi berdesak-desakan. Dan bagiku malu dalam hal ini bukan berarti tak berani. Lain hal.

Akhirnya, aku berhasil mendapatkan oretan tinta itu. Langsung saja kuberikan pada sang empu. Mbak Lia amat bersyukur dengan apa yang diperolehnya. Ia tak henti-hentinya mengucap syukur. Lalu saat itulah, aku juga merasa lebih bersyukur bisa mendapatkan kesempatan telah sedikit membahagiakan Mbak Lia. Maka aku sama sekali tidak menyesal berebut TTD keramat itu untuknya. Aku bahagia melihat pipinya merona. Namun, tetap pada ulasan awal, aku tidak menyukainya. Aku terlampau malu. Bahkan ketika aku bertemu dengan Ahmad Fuadi, Eka Kurniawan dan lain sebagainya. Aku enggan meminta TTD apalagi berfoto bersama.

Alhamdulillah, akhirnya saya makin menyadari jika hanya dengan daya dan kekuatanNya-lah saya bisa memiliki waktu untuk menceritakan kembali perbincangan dengan Eka Kurniawan (Penulis buku Cantik itu Luka yang terjemahkan ke dalam 55 bahasa di dunia) dan Khoirul Rosyadi (Dosen Universitas Trunojoyo Madura / Pegiat sastra) yang dilaksanakan hari Sabtu, 28 Oktober 2017 lalu. Eh, bukankah kita harusnya masih bisa menulis di tengah rutinitas mencekik sekalipun. Kenapa saya mengatakan "waktu" jika selama ini Allah masih memberikan banyak waktu senggang untuk saya? Ah, mungkin lebih tepatnya menghadirkan kembali semangat untuk bisa menulis ulang dan bermanfaat. Semoga masih banyak yang saya ingat. Karena setelah menengok notebook milik saya, saya pusing, tulisan cepat serupa cacing membuat ide sempat skakmat.

Baik, mari kita mulai...

"Dalam hidup, kita tidak hanya dituntut untuk membaca kemudian tamat. Tapi bagaimana kita mampu menginterpretasi dan pada akhirnya menulis."

Eka Kurniawan sempat berpikir, "Bagaimana saya bisa hidup dengan menjadi seorang penulis?." Karena pikiran itu akhirnya semasa kuliah, ia memperkaya keahliannya dengan belajar desain grafis dan lain-lain. Akhirnya ia pun sempat bekerja menjadi ilustrator, designer, dan sebagainya. Ia juga sempat menulis di berbagai media dan mendapat kesimpulan jika "Menulis tidak memberinya banyak uang." Padahal kebutuhan juga meningkat. Karena dorongan untuk menulis---yang sangat mengganggunya---akhirnya kurang lebih 1 tahun ia menjadi wartawan. Sulitnya mencari narasumber, transportasi dan berbagai alasan lain membuat ia memilih hengkang meski baginya menulis itu menyenangkan. Eka Kurniawan juga pernah bekerja di industri pertelevisian untuk membuat naskah. Tapi ia merasa ia bekerja seperti tukang jahit. Menulis apa yang sesuai dengan keinginan mereka. Kemudian ia juga tidak lama di pekerjaan itu. Itulah sedikit potongan mozaik kehidupan yang dulu pernah dijalani penulis berprestasi itu. Berikut isi talkshow-nya.

Sebenarnya apa sih sastra?

"Bagi saya, sastra adalah menulis. Kita sebagai manusia pada dasarnya memiliki sifat dasar yakni pelupa. Sehingga kita perlu untuk menulisnya agar pengalaman atau ilmu yang kita punya bisa abadi. Dan untuk menulis memerlukan sastra. Maka, daftar belanja juga bisa disebut karya sastra karena kita melibatkan kegiatan menulis. Bedanya daftar belanja itu kemudian hanya dibuang. Iklan-iklan di papan reklame juga sastra karena memerlukan keahlian menulis."

Eka Kurniawan melanjutkan, "Kalau kita bicara sejarah kesusastraaan sama dengan kita bicara sejarah menulis. Yang awalnya "mencatat" gagasan dan pengetahuan. Tidak cukup disitu, ia ingin orang lain mampu menikmatinya sehingga dibagikan kepada orang lain. Hingga timbullah tatabahasa, komunikasi juga undang-undang yang melindungi karya. Disana juga timbul persaingan dan kreativitas yang menghasilkan kesusastraan. Novel, puisi, cerpen, lagu dan lain-lain, adalah bentuk karya sastra konvesional yang paling menonjol.

Lalu bagaimana pendapat anda tentang tugas sekolah yang kebanyakan hanya berkutat pada cipta puisi, sementara saya sendiri tidak menyukai puisi?

"Seperti yang saya sampaikan, bahwa puisi termasuk salah satu karya sastra yang menonjol sehingga barangkali itulah yang membuat sistem mengajar menjadi monoton. Padahal sastra begitu luas. Kalau sistem ini diubah, misal kita dibebaskan untuk bercerita secara mengalir maka saya yakin semua pasti bisa mencintai sastra. Daripada memusingkan dengan memaksa membuat puisi, lebih baik meminta untuk bercerita tentang pergi ke rumah nenek, dan sebagainya dengan bahasa sendiri. Menulis skripsi juga sebenarnya sastra, tapi karena kita hanya menulisnya berdasar teori tanpa analisis yang mengalir maka seringkali terasa berat menyelesaikannya."

Bagaimana menurut anda tentang rendahnya minat baca masyarakat setempat yang sekarang bisa dilihat dari jumlah seminar pada malam hari ini?

"Saya keberatan jika masyarakat kita sering dikatakan memiliki minat baca yang rendah. Pada malam hari ini saya kira hadirinnya cukup banyak, bahkan bisa jadi masih lebih banyak disini kalau kita mengadakan seminar yang sama di universitas X (menyebutkan nama universitas terkemuka), jadi perlu kita apresiasi. Lagi pula, kalaupun ingin memperbaiki, yang diperbaiki bukan minat baca, melainkan infrastruktur yang mendukung meningkatkan minat baca saat ini. Kita akan lebih mudah menemui toko buku di kota besar daripada di pelosok desa. Ditambah dengan harga buku yang kadang tidak pas dikantong. Padahal masa depan sastra terletak pada ilmu yang berasal dari buku. Manfaatkan juga karena pada malam hari ini kalian bertemu dengan teman-teman yang memiliki minat yang sama," jawab Eka Kurniawan.

Meski hanya berniat untuk membaca karyanya, (karena bahkan saya belum membaca sepotong pun karya beliau) saya sangat bersyukur bisa bertemu beliau secara langsung. Belajar banyak hal; salah satunya untuk senantiasa bersifat tawaddhu' yang bisa dilihat dari cara beliau menjawab pertanyaaan demi pertanyaan. Saya jadi paham, orang besar selalu memiliki mental demikian, rendah hati.

Bagaimana menurut anda tentang banyaknya politisi yang tidak menggeluti dunia sastra meski sastra begitu penting untuk semua elemen masyarakat?

  "Saya sendiri tidak paham politisi mana yang anda maksud. Mungkin karena kurang baca. Tapi saya kira banyak juga politisi yang menekuni dunia sastra. Seperti contoh politisi X dan Z (menyebutkan nama tokoh politisi terkini di Indonesia)."

Di kalimat "kurang baca" bisa saya pahami, jika seseorang yang karyanya sudah diterjemah ke 55 bahasa sekalipun tidak sungkan mengakui bahwa dia akan terus selalu kurang membaca. Padahal bisa jadi itu adalah caranya untuk tidak terlalu mudah menghakimi, seperti pada kalimat "banyak juga" beliau tidak mau menggunakan mayoritas (politisi tidak menyukai sastra) sebagai patokan.

"Bahkan tokoh sejarawan kita, Bung Hatta dan Bung Karno juga menulis beberapa buku. Namun tidak pernah mengklaim bahwa dirinya adalah seorang penulis. Tapi karena mereka menulis kita bisa tahu pemikiran mereka."

Saya mau bercerita, salah satu dosen saya meminta kami para mahasiswanya untuk membaca karya anda yang berjudul Lelaki Harimau, padahal beliau berasal dari fakultas dakwah. Setelah saya baca ternyata saya lihat karya tersebut memang recomended dan bahasanya mengalir. Nah, bagaimana strategi agar saya mampu terus mengalir saat menulis cerita dan tidak mengalami stuck?

"Saat menulis, sebenarnya kita hanya menulis ulang sesuatu yang sudah ada dalam diri manusia. Baik itu yang alamiah, maupun berasal dari bacaan. Saya kira keahlian menceritakan ulang sudah dimiliki setiap orang. Apalagi kemampuan berbicara anda pun saya pikir telah mengalir. Anda juga telah memahami strateginya. Sebelum bertanya, anda memberikan pengantar dengan mengatakan "saya mau bercerita" dan disitu ada "padahal" yang semakin membuat orang penasaran dan mau mendengar cerita anda. Sama halnya dengan menulis. Kalau kita ingin bercerita perihal pertanian, mula-mula kita akan mengawali dengan mengenalkan alam, mendeskripsikan dulu siapa itu petani, apa itu sawah, air yang mengalir dan sebaganya. Sehingga pembaca tidak akan merasa bosan dan tegang. Kemudian, menurut beberapa pendapat karya yang bagus adalah karya yang didalamnya tidak ada kata obyek yang dimaksud. Misal anda menulis puisi perihal daun, tapi anda sama sekali tidak menyebutkan kata "daun". Anda membuat novel tentang Madura dan satu kali pun anda tidak menyebutkan kata itu."

"Kita tidak harus memaksa semua orang menyukai sastra. Juga tidak harus menjadi penulis terkenal dan best seller. Tapi setidaknya setiap orang memiliki kemampuan menulis dengan baik," jelas Eka Kurniawan di akhir perbincangan.

Oke, sekian ilmu hari ini. Semoga berguna. Salam literasi!

Oleh: Lutfiyah🎈

Pagi ini gue diminta Ebo' buat pergi ke rumah Umi, adik dari almarhumah Nenek. Di sana ada Aba, kakak dari Umi yang berarti juga kakak dari almarhumah Nenek. Hehe, bingung ya? Udaaaah, ga usah dipikirin. Ga masuk ujian juga. Pokonya gue disuruh nganter makanan buat Aba. Sip, gue emang lagi ada perlu ke beliau.

Tadinya uda beraniin diri gitu. Mau ngomong. Dateng, gitu kan. Pas nyampe langsung urung. Serem. Suaranya melengking. Pake tangga nada yang lumayan tinggi. Watau, ciat ciat. Gitu. Ga jadi ngomong. Aissh kualat loh, ga boleh ngomong gitu. Ups, iya deh lupa. Hehe.

Akhirnya gue mutusin buat langsung pulang aja. Gue ga marah. Beneran biasa aja. Sebab gue udah paham karakter beliau. Emang cara bicaranya kek gitu. Tapi gue percaya hatinya baek kok. Jadi ya, its okay lah. No what what. Eh.

Gue pun tancep gas, cabut, balik ke rumah. Dalam perjalanan gue tiba-tiba kepikiran. Rindu. Gimana sosok Rasul. Pen banget ketemu. Pen tau gimana sosok dengan akhlak yang ga usah dipertanyain lagi itu. Iya sih, kita bisa baca banyak riwayat. Tapi kan bener-bener beda kalo ketemu langsung. Ga perlu selfie deh. Cuma ketemu. Ga perlu foto bareng. Cuma pen ngelepas rindu. Kek pas ketemu Bang Fuadi, ga perlu keduanya, karena udah dapet keduanya. Lebih-lebih dapet ilmu. Lebih-lebih dapet petuah.

---

Muhammad SAW💕;Sosok pemuda yang jadi tauladan dan paling berpengaruh di dunia dikutip dari beberapa majalah internasional ternama, walau dalam al-Qur'an---kitab yang ga diraguin lagi kenamaannya---emang udah jelas beliaulah sang uswatun hasanah.

Allaahumma shalli 'ala sayyidina muhammad!

Kala itu aku pura-pura terseok-seok membawa cobek menuju dapur dari tempat cuci piring yang jauhnya kek dari pertelon kampus ke RKBB. Cobek yang berat membuatku spontan berkata: "Aduh, ini cobek apa Candi Borobudur, huh," dengan nada pura-pura kelelahan, meskipun memang. Sontak, tanpa aba-aba seisi dapur terbahak serempak. Iya seisi dapur (Ebok, Mbak Ais, piring, wajan, gelas, ulekan, dkk). *krik

----

Malam ini untuk kesekian kalinya aku menginap di kost salah satu teman kampusku. Apalagi kalau bukan karena ada kelas yang dilangsungkan di malam hari. Belum genap aku menginap, aku sudah di-WA dan ditanyakan, "Pulang kapan?" Aku balas jika aku insyaAllah pulang esok hari. Lalu pesan itu dibalas dengan balasan yang berbunyi, "Oke, nanti masak-masak besar!"

Aku tersenyum, membayangkan aku, Mbak Ais, dan Ibu yang memasak sambil bercanda dan sesekali terbahak di dapur.


Kalau kita mau berpikir sejenak, kita akan menyadari betapa kita adalah manusia yang beruntung.

Kita mempunyai keluarga hangat saat ada seseorang yang sebatang kara meski hakikatnya memiliki keluarga, juga sebatang kara dalam artian sebenarnya.

Kita mampu menikmati sinar lampu di mana-mana saat beberapa desa di berbagai penjuru negeri belum dialiri listrik meski negara sudah lama merdeka.

Kita memiliki sumber air yang melimpah di sana-sini saat banyak orang mengalami krisis air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Kita bisa menyantap nasi pulen lengkap dengan lauk pauk saat ada sebuah keluarga yang tinggal di hutan dan bertahan hidup dengan memakan dedaunan pahit tanpa bumbu sedikitpun, lebih sengsara dari orang rimba.

Kita dianugerahi nikmatnya bangku pendidikan disaat yang lain bahkan hanya memikirkan bagaimana bisa mendapat makanan demi menyambung kehidupan.

Kita sangat mungkin melesat ke tempat yang kita mau, ke sekolah, kampus, mall, dan sebagainya---saat mereka berjalan kaki berjam-jam menyusuri sungai, hutan, bukit, dan melewati jembatan gantung yang nyaris putus hanya untuk bersekolah, bekerja dan sebagainya.

Kita rela menghabiskan jutaan untuk beberapa porsi makanan, menghabiskan milyaran untuk sepotong meja kantor, menghabiskan triliunan untuk perhiasan pelepas kepuasaan---saat ada orang-orang yang berjuang mengumpulkan recehan.

Kita masih mempunyai banyak waktu, untuk bercengkrama dengan sanak saudara, melakukan banyak hal, bahkan dari hal yang tidak penting sekalipun----membuat status---saat yang lain hampir stres dengan jadwal yang amat padat, beratus-ratus.

Kita berkeinginan untuk memperpanjang paketan, menyelesaikan tugas karena paksaan, mendapat pekerjaan mapan, membeli apapun kelak biar hidup senang----saat banyak bocah-bocah kecil memikul dagangan dengan keinginan yang begitu sederhana: mampu membeli sepasang sepatu, mampu membeli buku tulis, dan mampu memperpanjang usia kepulan di dapur yang seruang dengan kamar tidur.

Kita berdebat seputar anggaran di ruang ber-AC sampai mulut berbusa saat tak terhitung orang terlantar butuh uluran tangan, bukan sekadar perkataan panjang lebar, sebab perut mereka sudah keburu lapar.

Kita diberkahi hidup tenang dan tentram, saat mereka melewati hari-hari dengan keresahan dan kegelisahan akan ledakan yang kapan saja datang.

Kita dengan mudah membuang-buang makanan dan minuman saat yang lain mengais-ngais sisa-sisa makanan di tong-tong sampah pinggir jalan.

Kita hanya bisa terpelongo melihat para koruptor tersenyum melambaikan tangan dengan jam tangan mahal yang sengaja dipamerkan atau make up yang masih saja menor dan tebal----saat di ruangan lain seorang maling ayam kesakitan usai digebuki karena tidak mau mengakui kesalahan.

Kita lancar berdiskusi perihal kesejahteraan petani singkong saat bahkan memakan singkong rebus saja kita enggan.

Kita terus saja mengeluh dengan kehidupan yang nyaris sempurna saat banyak dari mereka terus menebar senyum dengan satu tangan, satu kaki, satu mata, atau tidak satupun.

Kita cukup berpikir keras bagaimana merampungkan keinginan yang lebih persis ambisi untuk melengkapi banyak hal yang telah kita punya saat seseorang cukup berdoa satu hal saja dari apa yang kita punya.

Kalau kita mau berpikir sejenak, akan ada banyak hal yang harusnya membuka mata hati. Bahwa hidup tidak melulu soal memperkaya diri. Tapi saat dalam hidup, kita mau menjadi keluarga hangat bagi siapapun, mau berhemat untuk perubahan, mau membantu sebagai tujuan, mau berbagi kebahagiaan. Sebab tujuan kaya harta karena ingin mudah berbagi dan kaya hati agar senantiasa rendah hati. Sebab pandai usai bersekolah tinggi-tinggi agar jiwa sosial makin peka, bukan malah lihai mengibuli. Sebab segala pencapaian buka hanya untuk berfoya-foya, tapi untuk mereka supaya lebih sejahtera. Sebab hidup adalah tentang kebermanfaatan, tidak hanya berhenti menjadi manusia yang beruntung.

Oleh: Lutfiyah🎈

Materi workshop yang diadakan pada 25 Oktober 2017 di STKIP PGRI Bangkalan, Madura

"Menulis itu berjuang," ucap Asma, "maka harus kita perjuangkan," lanjutnya.

Pernah seseorang bertanya pada Asma Nadia, mengapa ia tidak mencoba menulis dengan genre horror. Akhirnya ia menjawab: "Menulis itu berjuang. Berjuang menebar kebaikan. Dan menulis perihal setan bukan termasuk dari apa yang ingin saya perjuangkan."

Asma Nadia bukan seseorang yang berasal dari keluarga berada. Ia tumbuh dan dibesarkan di keluarga yang begitu sederhana. Inilah yang membuat hobi membacanya sempat terkendala, karena ia tidak mampu membeli buku. Akhirnya setiap hari, Asma dan kakaknya membaca koran yang digunakan sebagai pembungkus cabai. Mereka biasa mengumpulkannya usai Ibu mereka membeli cabai di warung kelontong.

Setiap lewat di toko-toko buku besar, Asma dan kakaknya hanya mampu menelan ludah dari luar gedung. Tidak mungkin dengan keadaan dan penampilan yang begitu kucel mereka akan masuk ke dalam toko, pikir mereka. Lalu Asma berucap pada sang kakak: "Kak, kapan ya kita bisa baca buku-buku bagus itu?" "Semoga suatu saat kita bisa jadi salah satu penulisnya, Dik," jawab kakak Asma tersenyum.

Kini Asma dan kakaknya telah menjadi penulis buku-buku best seller sebab impian yang dulu mereka ukir. Asma juga telah menjelajahi 62 negara dan 360 kota. 

Sejak dulu Asma adalah gadis kecil yang sering sakit-sakitan. Di usia yang masih belia, Asma telah mengalami gagar otak dan mengidap penyakit tumor. Hal itu membuatnya bolak balik pergi ke rumah sakit. Lalu ia berpikir, ia ingin menjadi manusia yang tetap berguna di kondisinya saat itu. Dan jawabannya adalah menjadi seorang penulis. Sejak itu Asma lebih tekun membaca dan menulis. Baginya, menulis adalah profesi yang begitu mudah dan tidak diskriminatif. Seorang yang suaranya tidak bagus berhak menjadi penulis. Menjadi penulis tidak perlu memiliki tubuh layaknya boneka Barbie. Setiap kita bisa menjadi seorang penulis.

Hingga saat ini Asma masih harus sering ke rumah sakit beberapa kali dalam sepekan karena masih ada tumor yang bersarang di tubuhnya. Kala mengungkapkan itu, air mukanya terlihat begitu santai sembari meminta doa kepada audien agar lekas dianugerahi kesembuhan.

Baiklah, itu sekelumit cerita mengenai Asma Nadia. Berikut adalah beberapa tips menulis buku best seller ala Asma Nadia.

Menjadi penulis buku best seller adalah 5% bakat, 5% keberuntungan dan 90% kerjas keras!

Dalam menulis itu...

1. Bukan sekadar ide bagus
2. Berawal dari keresahan. "Saat saya berkunjung ke toko buku dan tidak menemukan buku yang saya inginkan, saat itulah saya bertekad menulisnya sendiri." atau "Saat menemukan permasalahan di mana-mana, saya dirundung keresahan untuk segera menuliskan dan menemukan solusinya."
3. Buku sebagai kebutuhan. Sebab membaca dan menulis adalah hal yang tidak bisa dipisahkan.
4. Memperbaiki moral. "Indonesia adalah negara dengan populasi _jones_ terbanyak (hehehe), oleh karena itulah ini bisa menjadi pasar yang potensial sekaligus memperbaiki moral mereka. Kenapa demikian? Karena banyak dari mereka akan lebih sering membaca meme yang jurtru membuat mereka tambah _ngenes._" Seperti meme yang berbunyi: "Truk aja ada gandengannya, masak kamu ngga? _Ya udah tinggal jawab aja: Alphard sendiri tapi tetep kece tuh_ Lagi: Maling aja di kejar, masak kamu ngga? _Ya elah, masak para jones dianggap lebih hina daripada maling. Kan parah banget itu meme. Belum lagi pas kena ke kata kamu, bikin mereka malah tambah ngenes. Disinilah peran kita supaya bisa berkontribusi membentuk moral dengan menulis buku perihal kebaikan. Pembentuk kepribadian baik para jomblo agar jauh dari kata ngenes, melainkan mandiri, produktif dan lain sebagainya._
5. Memotivasi pembaca.
"Novel terbaru saya yang berjudul Cinta Dua Kodi dan Bidadari untuk Dewa dibuat dengan banyak alasan. Salah satunya, dalam novel Cinta Dua kodi saya ingin mengajak pembaca (khusunya Ibu-ibu) untuk mampu mandiri dan berwirausaha. Kemudian dalam novel Bidadari untuk Dewa saya menyuguhkan cerita menggugah dari tokoh utama yang mampu bangkit dan menjadi pejuang dalam hidupnya.

Dosa penulis pemula:

1. Judul.
Menggunakan judul yang _mainstream_ dan dengan satu kata: kayu, paku, daun. Padahal pembaca dan penerbit akan melihat judul terlebih dahulu untuk karya-karya penulis pemula.
2. _Opening_tidak menarik
3. Fokus cerita.
Kebanyakan cerita tidak fokus ke masalah sebenarnya, malah bercabang-cabang isinya.
4. Bertele-tele.
5. Konflik tidak menarik.
6. Pesan verbal.
Di akhir naskah, mereka membubuhkan doa-doa dan pesan pesan verbal lainnya.
7. Ending tidak menarik.
Di ending cerita penulis membuat tokoh utama meninggal dunia, diikuti yang lain seolah membuat cerita makin dramatis.

Kesempatan yang didapat...

1. Dengan menulis, nama kita akan abadi meskipun kita sudah pasti akan mati.
2. Menulis menjadi kado indah untuk kedua orang tua kita.
3. Dari menulis, kita bisa mengalirkan pahala lewat tulisan sebab yang kita tulis adalah untuk kebaikan.

Tulislah impianmu, sebab ia mudah menguap karena rutinitas keseharian.

Tiga prinsip menulis:
1. Menulis yang baik
2. Jangan menulis sesuatu yang akan kamu sesali
3. Tulisan sebagai bekal di akhirat

Untuk menulis buku best seller harus...

1. Menjadi predator buku. Bukan 'kutu' sebab ia jauh lebih kecil.
2. Merekam pengalaman dengan tulisan mulai sekarang
3. Jujur (antiplagiasi) dan disiplin dalam menulis.
4. Buka mata buka telinga terhadap setiap hal yang terjadi.
5. Menulis setiap hari dan untuk diselesaikan.

"Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kamu ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri."
- JK Rowling

Sekian sedikit ilmu yang masih melekat dipikiran dan coretan kecil saya. Mohon maaf apabila ada kesalahan. Semoga bermanfaat dan kita semua Allah jadikan manusia yang bermanfaat.

Oleh: Lutfiyah🎈

Waktu duduk di bangku SD kelas pertama, saya mendapat rangking 12 di semester ganjil dan rangking 11 di semester genap. Karena kadang pelajar Indonesia didoktrin akan pentingnya rangking, akhirnya saya cukup sedih dengan kenyataan itu. Belum lagi kebanyakan saudara saya selalu mendapat rangking tiga besar di kelas. Meski Ibu tidak pernah mempermasalahkan. Bisa baca-tulis bagi beliau adalah anugerah besar. Seorang Ibu dengan keinginan-keinginan sederhana, tapi pemikiran-pemikiran yang luar biasa.

Saat itu saya merasa tidak punya kelebihan dibanding saudaraku yang lain. Saya merasa saya begitu berbeda, khususnya dibidang akademik. Kala itu saya tidak punya kelebihan selain membuat kapal dari selembar kertas. Saya masih ingat sekali, waktu itu guru kami, Ibu Syamsiyah meminta kami membuat kapal dengan selembar kertas. Jadi semacam pelajaran perihal origami. Seingat saya, saat itu yang bisa membuat kapal-kapalan hanya saya dan teman saya, Zainal Arifin.

Kami pun menyelesaikan tugas dari Bu Syam. Ketika beliau pergi keluar kelas untuk waktu yang begitu lama, teman-teman yang merasa tidak bisa menyelesaikan tugas mereka meminta tolong pada saya. Lebih tepatnya, minta dibuatkan. Awalnya satu orang, dua orang, dan makin banyak. Hampir semua kecuali Zainal (tentu) dan beberapa orang lain. Sembari saya membuat, mereka memperhatikan, tapi tidak ada yang mencoba memperaktikkan atau sekadar bertanya caranya. Ya, saya kala itu belum paham jika mengajarkan lebih mulia daripada membuatkan. Yang saya tahu, saat itu saya benar-benar bisa membantu mereka.

Lucunya, sambil saya membuat kapal, eh kapal-kapalan, mereka mengipasi saya dengan buku sebagai subtitusi kipas. Saya katakan mereka, karena banyak yang melakukannya. Mereka berkata: "Ayo ee, yang bener ngipasnya. Kasian Lut. Keringetan." Saya hanya bisa tersenyum dan tidak habis pikir: "Segitu amet temen-temen ini, wkwk," ngakak dalam hati. Saat itulah saya berpikir, jika saya juga memiliki kelebihan seperti saudara saya yang lain, yakni membuat kapal-kapalan, hahaha. Keahlian ini sangat berguna saat saya membungkus kado untuk keponakan saya, Nuh. Saya bisa membubuhkan kapal di ujung kado. Meski kemampuan membungkus kado saya masih payah dan hasilnya tidak semenggugah kapal Nabi Nuh.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Tomato
  • Yang Ga Diminta Aja Allah Kasih, Apalagi yang Iya
  • Air Zam - zam
  • Oretan Akhir Periode
  • Not Fair
  • Door Duisternis Tot Licht
  • Obsesi?
  • DAY 7 - Bersih-bersih dan Silaturahim
  • Kapan Nikah?
  • Rindu Rasulullah

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates