Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Innamal a'malu binniyat adalah hadits yang pertama kali aku pelajari saat duduk di bangku MTs. Namun siapa sangka bahwa bagiku hingga kini pengamalannya ternyata sulit. Artinya kurang lebih adalah amal itu tergantung dari niatnya.

Seorang pemuda mudah saja berkata: "Ayolah, Men! Ga masalah-lah bilang mery christmas hanya untuk toleran. Kan innamal a'malu binniyat."

Atau

"Foto dengan pose mata satu? Sungguh, innamal a'malu binniyat, Kawan!"

Dan lain-lain.

Aku pun dulu mengira begitu (untuk contoh kedua). Namun ternyata, seperti apa yang diungkapkan oleh KH. Bachtiar Nasir bahwa Qul, innal huda hudallah. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah". Jadi, no excuse!

***

Ngomong-ngomong soal niat, aku akhir-akhir ini dibingungkan dengan bagaimana memelihara niat yang benar nan lurus. Aku bergabung dengan sebuah organisasi yang sejauh pengetahuanku ini adalah organisasi yang komplit. Bergerak di dakwah, sosial dan bisnis. Meski begitu, tetap tidak ada manusia yang sempurna. Pun organisasi ini. Ada titik dimana tidak ku sukai. Yang terkait dengan niat. Membuat aku jadi bimbang.

Keputusan itu dikritisi oleh beberapa anggota keluarga. Sebaiknya aku keluar dari komunitas itu. Lebih baik fokus kuliah dan ibadah. Mereka pada muasalnya memang tidak pernah setuju aku ikut sebuah organisasi. Meski telah aku jelaskan secara amat detail organisasi apa yang aku ikuti. Ini juga lebih membuatku bimbang.

Keduanya sama-sama membuatku berpikir: "Jangan-jangan niatku tidak dibenarkan Allah. Jangan-jangan orientasiku hanyalah gelar, pekerjaan, kemampuan, dan beasiswa magister. Jangan-jangan orientasiku hanyalah dunia dan dunia." Aku tergugu.

Untuk itu begini logikanya: "Aku hanya mencari seseorang yang tampan, pintar, cerdas dan kaya raya untuk menjadi pendamping hidupku tanpa memikirkan bagaimana akhlak dan ibadahnya.

Aku makin tergugu kala mengetahui pengakuan jika larangan itu karena mereka terlalu menyayangiku--orang yang bagi mereka terlalu polos. Padahal ini bukan organisasi yang terkait dengan sindikat bom bunuh diri dan lain sebagainya. Hehe.

Pikiran yang lain berkata: "Luruskan niatmu, Nak. Niatkan untuk benar-benar beribadah. Karena apa yang kamu dapat berasal dari apa niatmu. Bukankah komunitas ini dipenuhi dengan kegiatan beribadah? Meski berseliweran iming-iming duniawi. Maka jernihkan hatimu. Tata lagi niat yang lurus. Jadikan lelah menjadi lillah." Aku tertunduk.

***

Sungguh, terlepas dari innamal a'malu binniyat, kini aku hanya butuh hudallah. Petunjuk dari Allah. Sebenar-benar petunjuk yang harus diikuti.

Bangkalan, 18 April 2017 - 03:59 WIB

Kapal berlabuh saat adzan ashar berkumandang indah. Masjid Jamik Baitul Amal Kamal berada tak jauh dari pelabuhan. Akhirnya sembari menunggu Fatim--yang berbaik hati, bersikeras ingin menjemputku--aku menuju masjid itu. Dan ini kali pertamaku menginjakkan kaki disana. Aku kemudian duduk sebentar membalas beberapa pesan via whatsapp di hapeku. Salah satu pesan berisi sebuah alamat laman artikel menarik terkait fitnah dan smartphone di jaman internet ini.

Selang beberapa menit, dua orang anak kecil yang cantik dan lucu menghampiriku. Yang satu agak berisi, sedang satunya cenderung langsing. Keduanya sama-sama membawa mukenah yang telah terlipat dan seakan dibungkus dengan sajadah seperti saat aku pulang mengaji dulu. Mereka berdua tiba-tiba berbicara padaku.

"Mbak, Mbak namanya siapa? Mbak, minta pin-nya." Kata si berisi, yang belakangan ku ketahui namanya Yuli, kelas 4 SD.

"Iya, Mbak. Minta pinnya." si lansing dan cantik ikut menimpali. Dia Warda kelas 1 SD. Sekilas mereka terlihat sepantaran.

"Ayo, Mbak. Minta pinnya." keduanya pura-pura memohon.

"Hah?," aku masih tidak percaya pada permintaan keduanya. Yang lebih membuatku heran, bagaimana bisa mereka berdua mendekatiku. Padahal sepanjang perjalanan aku berusaha menutupi mata yang sembab. Takut kalau-kalau berjumpa anak kecil, mereka akan berlarian, ketakutan.

"Ayo, Mbak." masih memohon.

"Pin apa?" aku pura-pura bertanya. Ya masak mereka mau minta pin kartu ATM.

"Pin BBM, Mbak." keduanya bergantian melafalkan kalimat yang sama.

"Pin BBM milik Mbak?" aku berlagak dodol.

"Iya, Mbak, Iya."

"Memangnya buat apa, Dek? Tersenyum. Ah, ini senyum pertamaku hari ini.

"Ga buat apa-apa, Mbak."

"Iya, Ga buat apa-apa."

"Lah terus kenapa minta? Kalian punya BBM?"

"Iya, Mbak. Punya. Di rumah hapenya."

"Rumahnya dimana?"

"Deket sini, Mbak."

"Rumah Mbak dimana?"

"Di Tanah Merah. Tahu?"

"Iya tahu, Mbak."

"Kalo Mbak boleh tahu, memangnya buat apa?" Aku merogoh tas mengambil sebuah buku.

"Ya cuma buat ngeping-ngeping aja, Mbak. Biar rame." tersenyum polos.

Duh, Allah. Aku ingin tertawa mendengar jawaban itu. Sambil menulis pin di sebuah kertas dan kembali tersenyum menahan tawa aku melanjutkan perbincangan.

"Buat apa BBM, mending hapenya buat belajar. Mbak aja sebenernya pengin ngapus BBM Mbak. Tapi..."

"Duh, jangan Mbak. Jangan!" ucap mereka kompak dengan sedikit berteriak.

"Tapi apa, Mbak?" penasaran.

"Tapi Kakak Mbak di Arab. Jadi kalo nelfon pake BBM?"

"Video call?" heran.

"Iya," aku tersenyum lagi.

"Ya udah ya, Mbak mau sholat dulu."

"Iya, Mbak. Makasih yaa.."

Keduanya berjalan lucu sambil membawa yang lebih mirip memeluk mukena. Di tangan, mereka telah memegang satu-satu kertas yang aku sobek dari bukuku. Berisi nama dan pin BBM-ku. "Mbak, satu-satu ya bikinnya." pinta mereka.

***

Selamat datang di dunia dewasa ini. Masa dimana kau akan lebih banyak menemukan di lingkunganmu anak-anak kecil berkerumul dengan hape daripada buku-buku. Maka bagus sekali terobosan disana sini yang dilakukan untuk meningkatkan minat baca anak, mengajak mereka membaca. Sungguh mulia. Seorang penjual cilok di daerah Jawa Barat rela menyesaki gerobaknya dengan buku-buku. Saat anak-anak atau pelanggannya mengantri cilok. Mereka bisa sambil membaca. Itu hanya secuplikan contoh.

Aku sendiri sering sedih melihat adikku yang masih SMP kelas 7 namun tidak bisa terpisahkan dengan hape. Sering aku menasehati. Sering pula tidak didengar sama sekali. Saat istirahat sekolah ia menggunakan Wi Fi sekolah yang tersedia bebas. Di rumah ia menggunakan data pribadi. Lalu kapan membacanya? Saya tahu, tidak seperti saya yang meski berusaha keras meraih peringkat satu dengan belajar--ia bisa mendapatkannya hanya dengan belaiar semalam. Namun buku adalah jendela dunia. Bukan hanya sekadar bahan mengisi lembar jawaban.

Aku sering merasa sedih dengan diri sendiri yang kerap menggunakan smartphone dengan cara yang stupid. Memotret sana sini lantas kububuhi tulisan. Touch send. Terupdatelah status intagram milikku. Aku telah membuang waktu sepersekian menit atau bahkan jam. Padahal Allah telah bersumpah dalam surah Al-Ashr.

Aku juga kerap shock dengan aplikasi pengolah data yang tiba-tiba muncul iklan-iklan berbau porno. Hal seperti itu juga acapkali tersebar di internet. Fitnah bertebaran dimana-mana. Maka, peran keluarga, guru dkk sangatlah penting disini. Mengawasi, menjaga, menasehati dll.

Yang menjadi pertanyaaku, akankah semua orang yang menurut mereka bisa berbagi pin akan mereka tanyai satu persatu. Akankah kita membiarkan wajah-wajah bibit Indonesia seperti ini? Sepertiku?

***

Sebenarnya smartphone itu untuk siapa? Jangankan anak kecil, orang dewasa saja tidak mampu menggunakannya dengan bijak. Smartphone kerap merenggut waktu bercengkrama bersama keluarga. Merenggut waktu belajar dan bermain, kecuali main game. Smartphone membuat kita mengurangi durasi membaca al-Qur'an. Smartphone membuat yang dekat terasa jauh. Dan yang jauh dan maya terasa begitu dekat lagi akrab. Dan berbagai fenomena lain.

***

Sejam kemudian sebuah invite datang dari Yuli. Aku confirm. Ia langsung mengirim pesan berupa voicenote. Aku play it.

"Mbak, invitannya Warda nyampe?"

"Haha, belum."

"Ooo, oke. Udah dulu ya, Mbak. Hape saya lobet (bukan lobat)."

"Oke, Dek."

"Oke, Mbak." (Original text: Oke bk)

Bangkalan, 16 April 2017 - 17:20 WIB

Belajar dari presentasi kemarin, aku yang di malam sebelumnya belum membaca materi sama sekali. Entah karena malas atau jadwal rutinitas yang lumayan mencekik. Beruntungnya seminggu yang lalu aku telah sedikit membaca dan memahaminya. Secara otomatis memoriku memanggil kembali ingatan-ingatan mengenai materi itu. Ini yang ku maksud bahwa apa yang aku baca seminggu yang lalu berdampak pada hari kemarin, seminggu setelahnya.

Seorang pencari ilmu menempa diri mereka bertahun-tahun lamanya. Saban hari melatih dan menguji kemampuan memahami, menghafal, menghitung, menganalisa, dan lain sebagainya. Apa mereka langsung bisa menikmati hasilnya saat itu juga? Tidak. Mereka akan menuainya beberapa tahun kedepan. Apa yang seorang pencari ilmu latih sekian lama akan berdampak beberapa tahun lagi.

Seorang manusia juga akan merasakan dampak dari apa yang dilakukannya selama di dunia. Semua yang dilakukan selama hidupnya bertahun-tahun akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.

Ini nasihat yang selalu ku ingatkan pada diri sendiri; untuk selalu ingat bahwa apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Puluhan tahun di dunia yang di jika dikonversikan dalam waktu di akhirat hanyalah beberapa jam saja. Sebentar memang. Itu karena Allah sayang. Dia tidak ingin kita terlalu lama menumpuk dosa. Dia ingin waktu yang singkat ini digunakan untuk memupuk kebaikan yang kita tanam dan kita nikmati buahnya di tempat yang abadi.

Konsep yang saya sederhanakan ini seringkali kita lupakan. Bahwa hidup di dunia hanyalah sementara. Sangat sebentar lagi fana. Sering kita tertipu oleh sosok bernama dunia.

***

Hari ini umurku di dunia genap sudah berkurang 21 tahun. Juga hari dimana Ibuku berada diambang kematian. Sedang Bapak tiada berhenti merapalkan doa. Hari yang begitu sakral. Hari yang mengingatkanku betapa beberapa jam di duniaku semakin terkurangi. Semoga diiringi dengan pribadi yang lebih baik kian hari.

Bangkalan, 11April 2017 - 11:04 WIB

Sikap ambisius orang tua kerap terbungkus rapi oleh cinta dan kasih sayang. Berlandaskan kedua alasan itulah kedua orang tua bisa sampai hati memberikan banyak didikan tambahan berupa les/kursus. Beragam les seperti les Matematika, les bela diri, les bahasa asing, les musik, les tari dan sebagainya. Seorang anak bisa jadi menjalani lebih dari tiga les setiap harinya. Ini semua demi 'kebaikan' sang anak, kata orang tua mereka.

Les memang penting, agar anak mampu membayar ketertinggalan pelajaran saat di sekolah. Atau untuk orang tua yang super sibuk dan tidak ada waktu untuk mendampingi anak belajar, les menjadi teramat penting. Les juga dapat dijadikan ajang latihan, menemukan atau pun mengasah bakat, dan tujuan-tujuan tertentu lainnya. Namun yang perlu diperhatikan adalah anak-anak juga membutuhkan waktu bermain.

Masa kanak-kanak adalah masa yang menyenangkan untuk dikenang nantinya. Jangan sampai karena rentetan les yang harus mereka lakukan akan menjadi sejumlah beban tak tertangguhkan. Oleh karenanya orang tua harus bijak pada anak-anak mereka. Jangan biarkan apa yang kita lakukan dengan cinta dan kasih sayang membuat anak malah stress. Bisa jadi pahit yang didapat, bukan buah manis .

Lalu bagaimana dengan anak-anak yang menghafal al-Qur'an sejak kecil? Tidakkah mereka stress?
Yang ada mereka malah ketagihan dengan kegiatan itu. MasyaaAllah. Sebut saja Musa dan Wirda Mansur. Mereka mengaku tidak tertekan dengan apa yang mereka jalani. Itu semua salah satunya karena orang tua yang paham akan porsi bermain mereka sebagai anak-anak.

Bagaimana juga dengan anak-anak yang sudah membanting tulang, memeras keringat, mencari nafkah sendiri sedari kecil?
Mereka adalah anak-anak yang 'berbeda' dari anak kebanyakan. Mereka telah didewasakan oleh peliknya kehidupan. Mereka anak-anak yang bijak, bersyukur dan tahan banting, tidak seperti hape dari Tiongkok. Mereka lebih kuat dari apa yang kita kira. Mereka lebih dewasa dari usia yang mereka punya. Mereka mampu menjadi pelajaran bagi yang mau melihat dan mendengarkan. Melihat dan mendengarkan televisi dalam acara Orang Pinggiran, Bocah Pejuang (hehe, jadi promo) dan lain-lain.

***

Sebuah pengakuan lucu dari seorang dosen tentang anaknya yang tidak pernah dipaksa untuk les bahasa Inggris namun memiliki nilai Toefl yang mengagumkan untuk anak seusianya. Itu adalah hasil dari belajar secara intensif yang timbul dari keinginan sendiri. Berawal saat ditertawakan teman-teman kelas kala hendak ijin ke kamar mandi dengan menggunakan bahasa Inggris. Alhasil, ia yang tidak mampu berbahasa asing tersebut menjadi bahan tertawaan. Kabar baiknya, ia menjadikan itu sebuah motivasi.

Pernah juga seorang dosen yang IPK-nya empat bahkan tidak mendaftarkan anak les ini dan itu. Anaknya belajar dan bermain sewajarnya.

Kedua cerita itu juga hampir serupa dengan adikku yang selalu mendapat peringkat satu di kelas meski tidak pernah belajar secara berlebihan. Aku seringkali jengkel, kenapa aku yang dulu belajar dengan keras malah tidak mampu mencicipi peringkat pertama sama sekali.

***

Akhir oretan: adapun beberapa cerita di atas tidak bermaksud untuk mengajak para orang tua tidak mengkursuskan anak mereka. Atau mengajak anak-anak untuk tidak perlu belajar. Bukan. Percayalah, bahwa mereka akan mempunyai jalan hidup yang berbeda-beda. Meski begitu memang, apa yang dijalani dengan tekun akan membuahkan hasil yang indah. Seperti prestasi Musa, Rio Haryanto dan masih banyak lagi. Sekali lagi, yang perlu diperhatikan adalah kenyamanan sang anak dengan porsi belajar dan bermain yang sesuai dengan kebutuhan. Aku bukan orang tua. Aku hanya menulis dari sedikit apa yang aku pahami. Aku pribadi tidak menjamin jika kelak aku membaca lagi oretan ini, aku akan mampu mendidik anakku dengan baik. Sungguh, aku tidak dapat menjamin. Aku hanya ingin berbagi atas apa yang Ibu dan Bapakku bagi kepadaku, meski hanya dalam diam mereka. Semoga bermanfaat!

Bangkalan, 9 April 2017 - 18:30 WIB


Aku seringkali penasaran dengan cara orang pintar dan cerdas mengerjakan tugas sekolah atau kuliah. Berapa buku yang telah mereka telan? Berapa jurnal yang telah mereka tandaskan? Atau mungkin berapa situs web yang telah mereka buat menjadi sebuah rujukan?

Aku seringkali mengevaluasi caraku berpresentasi. Membuatku tertawa sendiri. Melihat omonganku yang kerap tidak jelas, konyol, belibet, dan mutar-mutar. Tak apalah. Lain waktu akan aku perbaiki. Dan kenyataannya, begitu lagi, ku ulangi, dan payah sekali.

Aku seringkali membuat target-target, lantas ku tulis besar-besar di sebuah kertas. Sering juga sedih karena banyaknya tulisan itu hanya menjadi bangkai target. Hanya ku tulis dan tidak ku upayakan apa yang pada awalnya harus ku lakukan.

Dua bangkai target dari sekian banyak target itu adalah Soft Skill dan Writing Essay. Ku harap mereka hanya mati suri. Tidak sampai menjadi bangkai.

***

Right, aku telah sedikit memahami apa itu essay. Namun membuat sebuah essay ternyata lebih sulit dari membuat dodol. Kekeringan ide adalah alibiku. Ah, barangkali aku hanya sulit untuk memulai. Memangnya sudah berapa buku, jurnal dll yang telah aku lahap? Lantas mengapa kurang ajar betul mengatakan kekeringan ide?

Lalu aku melirik target yang juga tergeletak membuat pilu. Soft Skill, yang artinya upaya-upayaku untuk melatih soft skill di semester sepuh ini. Tidak ada kata terlambat. Jangan sampai  begitu lagi,  ku ulangi dan payah sekali.

Hope Allah tidak bosan memberi bimbingan pada hamba yang acapkali lupa ini. Juga mengantarkan teman-teman terbaik yang tidak sukar berbagi. Seperti segelas susu coklat hangat yang rela berbagi nikmat dan kehangatan kala pagi. 

Bangkalan, 14 April 2017 - 07:59 WIB

[Obrolan santai || 😔: Lut, kamu kok ga pernah ngelike postinganku? 😅: Hehe, maap, aku jarang nyecroll newsfeed ampe bawah. Paling-paling cuma yg top. Ato cuma ngupdate status dan liat notif. Maklumlah, biar ga terlalu kecanduan kek dulu (ngeles, padahal biar hemat data), sampe paham amat seluk beluk facebook. Sorry ya, hehe. 😒: Nyesel aku nanya. 😂: Duh, cerewet suka kambuh. 😴: Hzz~]

***

Cacian dan pujian adalah sama. Keduanya sama-sama mampu mengantarkan kita kepada kesuksesan ataupun kepada lembah kehancuran. Bergantung pada bagaimana kita menyikapi cacian dan pujian.

Pujian bisa jadi membuat kita tersenyum, namun jangan sampai kita terlena dan terjebak didalamnya. Rasul pernah bersabda tentang peringatan bahwa kita harus mewaspadai perbuatan yang satu ini. Beliau mengibaratkan orang yang memuji orang (saudara seiman) lain seperti memenggal kepala orang itu. Itu adalah sebagai bentuk bahwa pujian mampu memberikan kemudharatan pada yang menerimanya. Untuk itulah rasul berpesan agar kita senantiasa memohon ampun atas diri kita dan diri orang lain yang memuji kita. Beliau sendiri jika memuji para sahabat tidak langsung di depan mereka, akan tetapi saat sahabat yang dipuji tidak ada. Ini bertujuan agar menjadi motivasi untuk yang lain. Namun tidak menjerumuskan yang dipuji.

Mengapa memuji disebut sebagai salah satu cara untuk menjerumuskan? Karena kadangkala pujian yang berlebihan, setinggi langit cenderung membuat yang dipuji terjerumus ke sifat tercela, yakni ujub dan sombong. Dalam keseharian, kita tidak mampu mengelak jika kita memang sudah tidak asing lagi dengan pujian dan memuji. Maka dari itu, kita perlu untuk memahami bagaimana cara untuk meyikapinya.

Saat menerima pujian hendaknya kita menghargai dan mengapresiasi orang yang telah memuji kita. Lebih-lebih pujian yang mereka lontarkan dengan tulus. Jadikanlah pujian sebagai pemantik semangat. Pemacu agar kita mampu lebih baik dan lebih baik lagi. Jangan cepat puas diri. Namun bukan juga terlalu ambisius berburu duniawi. Karena bahasannya disini sangatlah luas.

Selalu bersikap rendah hati. Karena semua terjadi hanya berkat daya dan kekuatan-Nya. Selalu berpikir bahwa masih banyak orang yang lebih baik dan lebih hebat daripada kita. Ini membuat kita tidak akan sampai hati untuk meremehkan orang lain. Pun selalu ingat jika ada Yang Maha Baik dan Maha Hebat.

Saat menerima pujian, kita hendaknya juga mengingat jika Allah hanya sedang memperlihatkan kebaikan-kebaikan dan menutupi aib-aib yang kita miliki.

Kemudian jangan lupa bersyukur saat menerima pujian. Semua hanyalah sebuah titipan. Meski hanya seuntai pujian.

***

Lalu bagaimana menyikapi cacian yang kerap begitu menyakitkan?

Sama, jadikanlah cacian sebagai pemantik semangat. Pemacu agar kita mampu lebih baik dan lebih baik lagi. 

Selain itu jadikan cacian sebagai pengingat untuk muhasabah diri, intropeksi.

Cacian tidak lantas membuat kita lemah dan keok menjalani kehidupan. Tapi cacian adalah sesuatu yang mampu membuat kita melesat ke depan.

Kita hendaknya mengingat Allah di setiap waktu. Pun saat menerima cacian. Berdoa, memohon padanya supaya selalu diberikan kekuatan dan kesabaran. Karena hakikatnya, cacian adalah sebuah ujian.

Bersyukur, karena Allah mau mengingatkan kita lewat cacian yang dilontarkan oleh orang lain. Bersyukur, karena itu artinya Allah masih mau menganggap kita sebagai hamba-Nya.

***

Ingat, cacian dan pujian adalah sama-sama sebuah ujian untuk kita. Keduanya sama-sama mampu mengantarkan kita kepada kesuksesan ataupun kepada lembah kehancuran.

***

[Nyanyi lagunya Smash 🎤 : "Cacian loe gue cuci dengan senyuman prestasi."]

Bangkalan, 23 April 2017 - 05:46 WIB

Door Duisternis Tot Licht adalah judul buku berisi kumpulan surat-surat yang konon ditulis oleh R.A Kartini. Dalam bahasa Indonesia dapat berarti; Habis gelap terbitlah terang, yang begitu familiar di telinga kita. Jika tidak salah istilah tersebut terinspirasi dari penggalan ayat al-Qur'an yang berbunyi; Minadzulumaati ilan nur dalam QS. Al-Baqarah. Adapun surat-surat yang ditulis beliau berisi dobrakan pemikiran-pemikiran yang dampaknya bisa kita rasakan hingga kini.

***

Aku tidak ingin membahas mengenai isi buku itu, karena aku bahkan belum pernah memegangnya. Aku juga tidak ingin bercerita mengenai sejarah beliau. Karena memang, meski aku menyukai sejarah, aku lebih suka orang lain yang menceritakannya untukku. Maka, pembendaharaan cerita mengenai sosok RA. Kartini dalam benakku sangatlah terbatas. Hanya sekelumit perjuangan yang ia tuliskan lewat surat-surat mendobraknya. Yang kemudian ia kirim ke korespondensinya di Eropa. Tentang beliau yang berjuang agar wanita pribumi dapat mengenyam pendidikan, hingga akhirnya ia mampu mendirikan sekolah wanita. Tentang emansipasi yang selalu dijunjungnya tinggi-tinggi. Hanya itu. Duh, malu juga rasanya di umur yang sama dengan tanggal kelahiran beliau ini aku hanya mengenal beliau sebatas itu.

Karena itu, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih, telah menjadi salah satu wanita yang dapat menikmati buah manis atas perjuangan yang berhasil beliau lewati. Meski aku bukan Dwi Handayani Syah Putri dan Kartika Jahja yang baru-baru ini masuk di daftar 100 wanita berpengaruh di dunia---dirilis sebuah media ternama, BBC.  Aku juga belum mampu mengharumkan nama Indonesia seperti Alexandra Asmasoebrata dengan kemampuan balapnya. Seperti Rini Sugianto sebagai animator di Film The Hobbit 3, Iron Man 3 dan lain-lain (lupa, hehe). Seperti Irma Hardjakusumah, Anggun Cipta Sasmi, Christine Hakim, Sri Mulyani Indrawati dan masih banyak lagi. Banyak banget. Iya, aku belum seperti mereka. Namun itu tidak membuatku urung berterimakasih pada R.A Kartini--sekali lagi--yang membuatku dapat menikmati buah manis atas perjuangan yang berhasil beliau lewati.

***

[Di balik beragam kontroversi mengenai ke-akurat-an isi buku tersebut. Aku hanya ingin bilang satu hal pada kalian: "Kalo kalian punya bukunya, aku minjem yak!" hehe]

***

Selamat Hari Kartini! Buatlah beliau tersenyum bangga terhadap kita, wanita-wanita Indonesia!

Bangkalan, 21 April 2017 - 19:05 WIB


Pun aku juga beberapa kali (mungkin cuma tiga kali) menjumpai teman yang tiba-tiba bertanya padaku. Aku kaget, ternyata mereka memperhatikanku. Begini pertanyaannya: "Kenapa kamu ga pernah pake celana jeans ke kampus?"
Lalu dengan kalimat awalan yang agak terbata-bata akhirnya aku menceritakannya. Sepotong demi sepotong.
Kedua orang tuaku adalah sosok yang sederhana. Pun keluarga. Mereka tidak pernah memaksa ini itu. Hingga akhirnya saat adikku menggunakan celana jeans, hendak tour bersama teman sekelas di SD-nya. Lalu seorang anggota keluarga, Kakak---yang kala itu ku anggap bawel, berkata: "Doh, mau kemana? Ayo ganti-ganti. Ganti rok atau celana biasa (seperti training, dll), mulai sekarang jangan pakai celana jeans lagi."
Kejadian itu terlintas di depan mataku. Membuatku hanya bisa bertanya dalam keterperangahan. Ini artinya himbauan itu juga berlaku padaku, pikirku. Atas hal ini Ibu bahkan sudah agak menghimbau sejak lama, begini kalimatnya: "Ga papa pake celana jeans, tapi di dalem rok, ya."
Himbauan itu membuatku tertawa, aku belum juga paham.
Sejak kejadian itu aku pernah satu kali, pas SMA, melanggar aturan itu. Saat tour ke Jember, aku memakai celana jeans. Tanpa merasa terpaksa. Tanpa merasa berdosa. Biasa saja. Aku tidak mendengarkan siapapun. Ini hidupku. Privasiku!
Lambat laun aku akhirnya mulai paham berkat-Nya. Ternyata memang lebih baik seperti ini. Berbagai celana jeans baru dengan beragam warna yang baru saja dibelikan Mbak sulung-ku kala itu tidak mampu menggeser pemahamanku dan kedua adikku (kemenakan yang lebih ku anggap adik). Sekarang, malah merasa aneh, malu dan kurang nyaman jika harus demikian, seperti saat ke Jember dulu. Adapun aku juga banyak belajar dari diamnya Mbak Lia.
Aku juga banyak belajar dari Mbak Ais. Saat SMP aku bilang padanya: "Mbak, aku mau ngupload foto ini, ya," kataku sambil menyodorkan hape, terpampang fotoku yang tanpa kerudung. "Hah? Itu kan ga pake kerudung!" Ia agaknya kaget. "memangnya kenapa? Kan cuma foto, Mbak," tanyaku polos dan tidak tahu. " Akhirnya Mbak Ais mulai menjelaskannya.
Islam adalah agama yang detail. Agama yang sangat menjaga kehormatan para pemeluknya. Islam juga tidak mempersulit. Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.
Pada akhirnya semua kembali pada cara, prinsip, pandangan dan jalan hidup masing-masing orang. Sungguh, Allah Maha Memahami kita semua.
Bangkalan, 31 Maret 2017 - 22: 00 WIB
Pernah seorang teman mengagetkanku. Ia bertanya padaku: "Kamu keturunan Kiyai, ya?" aku tidak paham dengan arah pembicaraannya, namun langsung saja ku jawab dengan santai: "Hehe, bukan."
Dia hanya meng-oh-kan. Kami pun terdiam menunggu antrian, latarnya saat diklat jurusan.
Pernah juga seorang teman yang berbeda nyinyir padaku. Menyindir yang lebih mirip bercerita secara blak-blakan dengan kalimat: "Ya ampun, rok uda kayak bendera berkibar." atau "Jilbab culun amat. Dilipat doang gini," katanya sambil mempraktekkan melipat sedikit jilbabnya di bagian kening."
Lalu aku, sayangnya aku seringkali tidak peduli dengan omongan yang lebih mirip sampah. Lebih baik memikirkan kalimat-kalimat sastrawan yang indah.
Alih-alih sakit hati, aku hanya mampu tersenyum. Refleks. Adapun latarnya didepan kelas, saat semester satu.
Pernah juga seorang teman yang berbeda (2) menanyakan hal yang membuatku tertawa. Dia bertanya: "Kamu itu anak pondok, ya?" kali ini aku penasaran. Aku balik bertanya: "Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Dia jadi ikut tersenyum: "Karena kamu selalu memakai rok saat ke kampus."
Aku ikut memberi jawaban, meski tidak ada hubungan dengan pertanyaannya: "Haha, aku pernah kok pake celana. Celana training."
Akhirnya tawa kami kembali pecah. Seperti panasnya mentari yang seakan membuat kepala kami pecah kala itu. Di jalan menuju halte yang kami tuju.
Mereka harusnya tahu, bahwa ketaqwaan bukan soal siapa kakek nenek kita. Mereka harusnya tahu, bahwa masih ada seseorang yang tuli saat dicaci atau dibully. Perkataannya tidak akan membuatku tiba-tiba berkerudung seperti anak-anak yang mau fashion saat di TB dulu. Karena memang aku hanya mampu mendadani orang lain. Mereka juga harusnya tahu, bahwa tidak semua orang yang tidak pernah makan bangku pesantren (rayap kali) akan rela melingkarkan kedua belah tangannya dipinggang seseorang yang hanya berlabel kekasih, saat dibonceng.
Kita begini dan begitu karena kita sama-sama orang muslim. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Lalu karena kita umat Nabi Muhammad SAW. A simple man who changed the darkness to the lightness life. A patient man who could spread Islamic law that contain with love in the whole word. Lebih - lebih karena kita tidak ingin dosa kita mengalir pada Ayah Ibu kita. Pada almarhum Ayah dan almarhumah Ibu kita. Kita tidak menginginkan itu.
Memang benar, kulit kacang yang bagus kadang tidak ada korelasinya dengan biji kacang berkualitas baik. Kadang kulit kacang yang kuat dan bagus ternyata isinya sudah menghitam. Iya, benar. Namun semoga seiring berputarnya masa semua akan menjadi semakin lebih baik. Karena doa dan kebaikan Tuhan-lah kita mampu memiliki niat yang lurus.
Aku acapkali memiliki kesimpulan yang lucu. Aku kira semua mahasiwi harus memakai jelana jeans dan necis. Itu pemikiranku saat masih kecil. Aku kira semua muslimah di Arab itu akan mengenakan jilbab. Aku mengira jika seorang alim akan memiliki anak-anak perempuan yang memakai jilbab. Pada kenyataannya, kita bisa menjumpai hal yang sebaliknya. Seorang jurnalis kondang itu anak seorang alim ulama, tapi. Dan lain-lain. Pada kasus itu, mungkin masih jauh dari pemahamanku. Aku tidak bisa membandingkan pemahamanku yang sempit dengan mereka. Tentang ajaran Islam rahmatan lil 'alamin dan sebagainya. Maka aku tidak akan banyak berkomentar pasal itu. Boleh jadi beberapa tahun ke depan pemahamanku akan jauh lebih berkembang. Wallahua'lam.
Pada akhirnya, semua kembali pada cara, prinsip, pandangan dan jalan hidup masing-masing orang yang perlu kita hargai. Pun aku.
Bangkalan, 31 Maret 2017 - 19:22 WIB


"You are what you think" jika kita artikan lurus maka memiliki arti "Kamu adalah apa yang kamu pikirkan". Namun artinya lebih luas daripada itu. Aku mengartikannya lurus karena meski sudah duduk di bangku kuliah semester kritis ini bahasa Inggrisku masih sangat payah. Jika tidak salah mengingat, aku membaca kalimat itu dari T-shirt AFR saat semester empat. Kala itu kalimat singkat itu membuatku merenung untuk beberapa waktu.

****

"Pi, aku ga bisa ngomong, Pi," ucap teman berinisial INK itu.
"Lah, itu bisa ngomong!" aku menyengir.
"Aku ga bisa lancar, Pi. Aku ga tahu," lanjutnya.
"Jangan gitu. Inget, setiap orang punya kelebihan maupun kelemahan."
"Tapi, Pi. Aku tidak bisa mengatasi kelemahan ini."
"Kamu bisa. Kamu mampu. Semua bisa dipelajari. Inget juga, kamu punya passion dalam mata kuliah berhitung. Kemampuan berhitung yang lebih baik dariku. Jangan selalu meratapi kekurangan. Selalu berpikir akan kelebihanmu. Belum lagi, jangan-jangan yang kamu anggap kekurangan itu tidak ada. Karena hakikatnya, semua bisa dipelajari," jawabanku yang satu ini cukup membuatnya terdiam beberapa saat. Pun cukup membuat hatiku teriris. Bagaimana tidak, aku bahkan belum mengubah mindsetku tentang ketakutanku pada mata kuliah atau pelajaran berhitung, tapi sudah berani 'menceramahi' orang. Padahal memang, semua hanya berasal dari apa yang kita pikirkan. You are what you think.

****

Sebelum membagikan sebuah oretan atau apapun, aku selalu bertanya terlebih dulu pada diriku apakah aku sudah mengamalkannya. Atau apakah aku---minimal---sudah memiliki niat untuk melakukannya. Maka, keputusan untuk membagikan oretan akhirnya terputuskan, dimulai dengan menulis kontennya, meski dengan terputus-putus.

Aku kadang sedih sendiri, saat apa yang aku bagikan ternyata bahkan belum mampu menggerakkan hatiku. Seperti sampai saat ini, saat aku belum bisa menghapuskan ke-parno-an kala bertemu dengan mata kuliah yang berbau hitung menghitung dengan berupa-rupa rumus, atau sekadar di curahkan dalam bentuk kurva-kurva---yang memang sudah menjadi menu wajib prodi yang aku geluti. Padahal, aku pernah membuktikannya sendiri jika ini hanya soal 'think'.

Baik, lepas dari anggapan bahwa setiap orang memiliki passion yang berbeda, aku akan menceritakan pengalamanku tentang pembuktian sederhana namun bermakna dari "you are what you think".
Jadi dulu, aku merasa lemah di pelajaran Matematika saat masih SD. Ini terbawa hingga SMA. Singkat cerita, aku belajar sedikit lebih intensif untuk pelajaran Kimia saat duduk di bangku kelas sebelas. Hingga ulangan digelar. Materinya kala itu penuh dengan berhitung, namun ada hal yang mengejutkan. Aku termasuk dari tiga orang siswa dalam kelas yang tidak perlu remidial untuk pelajaran itu. Betapa sederhana. Namun sangat mengejutkanku. Benar, kita adalah apa yang kita pikirkan. Aku mampu mematahkan kekurangan dengan latihan/belajar yang lebih intensif. Orang lain boleh jadi diberkahi kemampuan menghafal yang cepat. Akan tetapi kita juga mampu menghafal meski harus lebih intensif dari mereka. Pun pada kasus lainnya. Seperti adikku yang selalu bilang: "Tapi aku tidak bisa menulis, Mbak." dan lain sebagainya.

Itu adalah contoh sederhana yang sebenarnya sangat luas pengertiannya. Tentang aku yang acapakali takut bergerak, ragu keluar dari zona nyaman, selalu kurang percaya diri dalam melakukan sebuah langkah perubahan hidup. Meski begitu kita juga tidak diperkenankan untuk over percaya diri. Berpikir bahwa kitaselalu yang terbaik dibanding yang lain. Berpikir selalu mampu melakukan semuanya sendiri. Jika sudah begitu, maka lain lagi bahasannya.

****

Ini pesan yang pertama aku berikan untuk diriku sendiri; Selalu ingat tentang perkataan: you are what you think. Meski tidak mudah, tapi semoga kita selalu  diberikan kemampuan untuk selalu 'think' bahwa itu adalah hal yang mudah. Sadarkah kalian, pada kalimat yang aku tulisankan di paragraf pertama? Kalimat ini: " Aku mengartikannya lurus karena meski sudah duduk di bangku kuliah semester kritis ini bahasa Inggrisku masih sangat payah." adalah salah satu kalimat menurut apa yang aku pikirkan, berdasarkan mindsetku. Pikiran seperti ini pada kenyataannya tidak berdampak baik pada kita, meski mudah mengucapkannya. Harusnya aku berpikir untuk bergerak menempa diri daripada selalu berpikir seperti itu, bukan? Sulit mengamalkan, meski mudah mengucapkannya.

Akhirul kalimat: "Semoga Allah senantiasa memudahkan jalan kita semua. Aamiin."

Bangkalan, 5 April 2017 - 11:35 WIB

[Iklan] "Tulisan gue akhirnya masuk di majalah terkenal!" "Weiih, keren loe! Rubrik apa?" "Rubrik itu looh, tapi cuma titik sama komanya doang." "hzZz--" *Krik [End]

Hubungan iklan dengan tulisan ini? Hehe, sepertinya tidak ada. Baik, mari kita mulai membuat kontennya.. Jreeeeng!

"Kamu sudah siap?" salah seorang anggota kelompok bertanya padaku. "hmm, belum," balasku.

Kurang lebih selalu seperti itu perbincangan yang terjadi kala hendak maju ke depan kelas guna presentasi. Selalu merasa tidak siap. Pun saat ujian. Entah ujian tengah semester, ujian akhir, dan sejenisnya. Selalu.

Aku selalu mendambakan masa dimana aku hanya tinggal duduk manis di bangku sambil menunggu pengawas datang membawa soal ujian. Iya, hanya tinggal duduk dan menunggu. Tanpa harus membolak balik buku lagi. Tanpa harus bergulat dengan pertanyaan yang berkerumul di kepala seukuran batok kelapa ini. Tanpa tanpa. Dan tanpa. Apa sih, Dek? Mulai geje, hehehe.

Pada kenyataannya aku selalu tidak siap kala ujian. Berlagak seperti orang yang teramat pintar---kutu buku mungkin, aku masih menenteng buku menuju ruang ujian. Lantas aku mulai membolak baliknya lagi. Selalu tidak siap pikirku. Selalu begitu.

Sama halnya saat hendak presentasi, apapun. Selalu merasa tidak siap dan cukup. Semakin aku pelajari, semakin timbul banyak pertanyaan. Semakin beranak pinak. Meski sudah bertanya sana sini. Meski sudah meluangkan 'sedikit' waktu membaca materi. Meski sudah mengggenggam beberapa rujukan yang keren-nya tak terperi. Tapi selalu merasa tidak siap dan cukup.

Itu adalah pengalaman pribadi setelah sekian tahun hidup di muka bumi. Maka, aku simpulkan, jika pada hakikatnya kita tidak akan pernah siap dan cukup. Itulah ilmu.

"Siapa yang menyangka bahwa ilmu itu ada akhirnya, maka dia telah salah sangka. Selalu ada ilmu di balik setiap ilmu lain."
- Dr. Khalid Al Mushlih

Hanya saja yang membedakan adalah persentasenya. Kadarnya. Misal, hari ini aku tidak siap menghadapi ujian (sebesar 30%). Esok hari aku juga tidak siap menghadapi ujian (sebesar 25%). Angka-angka itu pun juga bisa jadi hanya bersifat spekulatif.

Teori "tidak pernah siap dan cukup" ini juga berlaku pada amal shalih. Bukankah kita harus selalu berpikir fakir amal? Kita perlu berpikir bahwa kita ini masih berlumur dosa. Jika ditanya apakah kita siap mati, maka bagi saya, tidak akan pernah siap. Tidak akan pernah merasa siap dan cukup dengan amal baik yang kita lakukan di dunia. Lebih-lebih, bisa jadi kita hanya 'merasa' bahwa kita kerap beramal shalih. Padahal (nauzubillah) amal-amal itu terhapus oleh riya, ujub, dan dosa-dosa yang lain.

Namun lain halnya saat konsep "tidak pernah siap dan cukup" ini soal hal yang berbau duniawi. Manusia tidak akan pernah merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Entah itu harta dan lainnya.

"Ada dua jenis manusia yang tidak akan pernah merasa cukup; pemburu ilmu dan pemburu harta."
- Imam Ali Ra

Bangkalan, 04-04-2017 - 19:51 WIB

Seingatku berdasarkan apa yang aku pelajari saat di MTs dulu ialah orang yang mengajarkan sebuah ilmu walau seayat bisa dianggap sebagai guru. Guru yang wajib kita hormati dan doakan.

Dalam postinganku beberapa bulan lalu telah sedikit ku ulas mengenai pentingnya memelihara budi pekerti terhadap seorang guru. Ini bukan hanya karena mereka telah ikhlas membagi ilmunya, namun karena doa mereka yang begitu dahsyat.

Bagaimana tidak, seorang guru adalah orang yang ber'puasa' dalam hidupnya. Sebelum mereka mengajar, mereka telah terlebih dahulu menempa diri, berjuang mati-matian demi mendapatkan ilmu. Menimba ilmu bisa berarti sebuah puasa.

****

"Fia, nanti mau dibuat apa uangnya?" tanya Bu Nurul---guru Bahasa Indonesia yang juga mengajar Tata Busana. "He, buat daftar jalur mandiri, Bu. Kalo semisal tidak diterima di jalur SBMPTN". "Keterima, kok, Fi." "Hehe, iya, Bu. Aamiin."

Lalu siapa yang menyangka jika perbincangan itu adalah salah satu doa yang dikabulkan oleh Allah. Benar, perkataan adalah doa. Apalagi kata-kata yang keluar dari lisan seorang guru. Sekali lagi, mereka orang-orang yang telah berpuasa bertahun-tahun lamanya. Maka, berhati-hatilah dengan mereka. Jangan lupakan tata krama terhadap seorang guru. Mulailah berhenti, meski hanya sekadar menjadikan nama mereka bahan candaan. Muliakanlah mereka.

***

Aku mulai memiliki akun FB sejak MTs. Sejak itu pula aku tidak pernah menambahkan akun guru sebagai teman di FB-ku. Bagiku, itu adalah hal yang tidak sopan. Karena akun medsos semacam itu informal dan hanya sebagai hiburan. Saat di MAN prinsip itu tetap ku pegang. Hingga akhirnya aku mulai menambahkan akun Bu Nurul dan Sir Wahid. Keduanya adalah guru yang amat bijaksana dan menyenangkan. Kini, pemahamanku berbeda, FB bisa menjadi ruang untuk mengirim tugas atau mendiskusikan sesuatu yang serius dengan santai. Asal tetap menjaga tata krama terhadap guru-guru.

***

Guru juga merupakan orang yang diangkat derajatnya karena ilmu yang ia miliki. Bukankah sudah ku bilang jika guru juga berarti orang yang membagikan ilmunya meski seayat. Inilah yang membuat aku sangat menghormati Mbak Puput----mentor mata kuliah PAI---meski kita seumuran dan seangkatan.

Kemarin, saat duduk di halte menunggu bus sembari membalas pesan dengan posisi menunduk ke HP, suara seorang wanita yang terlihat sedikit lebih berusia dariku membuat aku mengangkat kepala melihat asal suara. Ia bertanya apakah aku tengah menunggu bus. Aku mengiyakan dan balik bertanya. Kami tersenyum serempak. Kemudian aku mulai sibuk kembali dengan pesan-pesan di HP. Dengan posisi duduk yang terkesan /nyantai/.
Lalu seorang mahasiswi bersepeda motor menghapiri kami.
"Ibu mau pulang?" "Iya" "Mari ikut saya, Bu." "Oh, Baiklah."
Aku refleks membenarkan posisi duduk kala mendengar pertanyaan pertama meluncur dari mulut mahasiswi itu. "Duh, seorang guru," batinku.
"Duluan, ya, Mbak." Kata dosen muda itu. "Eh, iya, Bu." aku masih sibuk membenarkan posisi duduk.
"Betul, ilmu mampu mengangkat derajat seseorang," aku membatin lagi.

***

Doa seorang guru bisa menjadi doa yang dahsyat saat mereka ridlo pada kita, murid-muridnya. Bahkan meski hanya sebuah kata-kata. Jadi, berhati-hatilah bersikap pada seorang guru. Karena kita bisa seperti sekarang ini berkat guru-guru terbaik dalam hidup kita selama ini. Berkat dahsyatnya doa seorang guru.

Bangkalan, 07 April 2017 - 22:36 WIB

Menurut Schiffman dan Kanuk (2007) pengambilan keputusan dapat dipandang sebagai suatu sistem yang terdiri dari input, proses dan output. Dalam proses pengambilan keputusan konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor yang meliputi; motivasi, kepribadian, pembelajaran, persepsi dan sikap.
(Behind the scene: "Siah, loe hapal ya?" "Ya, kagak lah. Ini gue nyontek dari buku. *krik😂)

Persepsi oleh Shiffman dan Kanuk (2004) didefinisikan sebagai proses dimana dalam proses tersebut individu memilih, mengorganisasikan dan mengintepretasikan stimuli menjadi sesuatu yang bermakna. Namun yang ingin saya bahas kali ini bukan mengenai seluk-beluk persepsi, seperti proses persepsi, aplikasinya dalam strategi pemasaran dan lain-lain. Saya hanya tertarik untuk sedikit mengulik  perihal iklan sebagai salah satu bentuk stimulus yang mempengaruhi persepsi konsumen. Karena di akun ini akan lebih baik jika membahas hal yang ringan-ringan saja dulu. Biarlah ROE, ROA, kurva-kurva dkk berada di dalam ruang kelas dulu, alih-alih dalam status. Hehehe.

Siapa sih yang tidak tahu iklan? Iklan atau pariwara atau yang biasa kita sebut sponsor adalah semua hal  berbentuk pesan promosi barang dan jasa. Iklan tersebut tentunya ditujukan kepada masyarakat dengan tujuan menjadi konsumen dari barang atau jasa yang ditawarkan. Iklan biasanya di sampaikan melalu media (seperti Tv, dll) dengan biaya yang ditetapkan.

Pernahkah kalian memperhatikan iklan di televisi?
Ada iklan yang disampaikan dengan orang yang bernyanyi sumbang dan terdengar menyebalkan. Ada iklan yang disampaikan dengan tarian-tarian erotis penyanyi dangdut. Ada juga iklan yang disampaikan dengan nada bicara yang aneh atau bagi kita tidak lazim. Itu semua adalah cara untuk menciptakan daya tarik dalam iklan itu sendiri. Agar memancing perhatian, hingga akhirnya memutuskan untuk membeli.

Dalam iklan kadang kita bisa melihat, bahwa pemasar kerap membumbuhi iklannya dengan hal yang negatif. Sebut saja iklan margarin: dalam iklan itu terdapat seorang anak yang hendak berangkat sekolah usai sarapan. Saat di bis ia menyadari bahwa bekal yang ia bawa tertinggal di rumah. Akhirnya dengan baik hati temannya menawarkan untuk berbagi bekal. Lalu apa yang terjadi? Yang ditawari malah berkata: "Tapi nasi gorengku kan nasi goreng 'band blue'," katanya.
Jadi secara tidak langsung iklan itu memberikan pesan yang kurang pas. Saya yakin kalian bisa menyimpulkannya sendiri.

Saya seringkali memperhatikan iklan, ada banyak juga iklan-iklan yang bermanfaat karena memberikan pesan yang baik. Itu salah satu kriteria iklan yang saya suka. Saya juga sangat menyukai sebuah iklan pewangi pakaian yang dibintangi seorang bocah yang gendut, gempil pipinya dan lucu seperti pemain kartun Up. Saat mengetahui akan kedatangan tamu yakni teman-teman Mamanya, ia segera berlari-lari agar baju yang ia pakai tidak wangi lagi akibat buliran keringatnya. Sayangnya ini tidak berhasil karena  sebuah pewangi pakaian.
Namun belakangan ku ketahui edisi kedua iklan ini, dan aku kecewa. Si bocah lucu bermain dengan teman perempuannya, kemudian ada momen freeze, berpelukan, lantas gelembung-gelembung berbentuk love beterbangan yang disinyalir datang dari cucian. Selalu ada bumbu dalam iklan yang kerap meracuni pikiran. Okelah, jika iklan tersebut ditonton oleh yang dewasa dan paham memilah. Namun bagaimana jika yang melihat anak-anak kecil? Dimana mereka memiliki kecenderungan untuk meniru, merekam, dll.

Ada juga iklan yang lebih menekankan erotisme sebagai daya tarik. Bagaimana tidak, kita bisa amati bagaimana cara pengambilan enggel sebuah iklan dengan wanita sebagai objek putri iklannya. Pun bagaimana mereka berpakaian, berbicara dsbgnya.

Unsur erotisme tidak hanya di iklan, namun juga terdapat di shitnetron *eh maksud saya sinetron. Ya, kemajuan dunia pertelevisian membuat channel tv juga beranak pinak. Pun acara sinetronnya. Ada banyak alasan mengapa kita harusnya menghindari tayangan sinetron, khususnya anak-anak hingga remaja. Karena berlomba mendapatkan rating teratas, sinetron makin tidak layak tonton. Beda dengan jamn dulu, saat masih ada beberapa sinetron yang mengedepankan pesan moral.

Alasan mengapa kita sepatutnya menjauhkan anak-anak, adik-adik kita dari sinetron adalah karena sinetron membuat kita lalai. Yang tadinya waktu belajar, waktu memasak dan lain sebagainya harus ditukarkan dengan menonton sinetron yang durasinya mampu berjam-jam. Sinetron memiliki jalan cerita yang mainstream dan mudah ditebak sehingga tidak mampu merangsang anak untuk berpikir kritis. Berapa kali kita melihat adegan di meja makan dalam sinetron? Selain itu cerita yang ditawarkan kebanyakan hanyalah kisah cinta remaja atau masalah rumah tangga. Ini kerap membuat remaja hanyut dalam cerita. Bisa jadi mereka lebih mendambakan mendapat seorang pacar layaknya sinetron yang ia tonton daripada mendapat nilai Matematika yang sempurna. Pun saat sinetron menawarkan cerita dengan bermewah-mewahan, modis, make-up tebal dan banyak lagi.
Belum lagi, wajah-wajah yang berseliweran dilayar kaca adalah remaja dan memiliki wajah yang dianggap tampan atau cantik. Ini kadangkala membuat kita berpikir untuk mampu memiliki hal yang sama. Kemewahan yang sama. Make up yang sama. Bahkan tuntutan untuk operasi plastik agar memiliki wajah yang 'sama'.

Meski sinetron sudah saya tinggalkan sejak lama. Saya sesekali mengamati beberapa cuplikan sinetron terbaru baru-baru ini. Cuplikan tersebut hadir didepan mata saya karena kemenakan---kelas VI SMP---yang tidak menggubris nasihat yang saya sampaikan dengan amat hati-hati. Jadilah saya mengamati beberapa waktu.

Disana saya melihat sinetron yang sarat dengan kekerasan, pornografi, permusuhan dll. Selain adegan pacaran dini disana sini, saya melihat bagaimana mereka berkelahi---memamerkan seni bela diri yang dikuasai, kebut-kebutan, meski dibungkus rapi dengan sedikit bubuhan ibadah dan belajar. Atau mungkin dengan wanita-wanita berjilbab. Ada sinetron yang secara tidak langsung mengajarkan untuk memiliki sebuah geng lantas saling membela mati-matian. Kemudian sinetron perihal putri duyung yang bajunya kurang bahan. Dan sebagainya. Dan sebagainya.

Saya selalu bilang, bahwa sinetron adalah salah satu cara untuk meninabobokan kita semua. Memang, sinetron bisa jadi menjadi sebuah hiburan usai berlelah-lelah beraktivitas seharian. Atau menjadi teman bagi anak-anak yang kesepian di rumah. Namun setelah membaca alasan-alasan diatas masihkah kita tidak mau menjahui sinetron? Mungkin akan sulit bagi yang telah amat menggandrunginya, tapi  step by step inshaaAllah bisa.

Akhir paragraf, kita memang tidak bisa benar-benar menghapuskan iklan dan sinetron yang tidak mendidik dalam hidup kita. Akan tetapi kita masih bisa bergerak. Bergerak untuk mengawasi anak-anak kita, saudara-saudara kita, dan lain sebagainya. Menasehati dengan hikmah dan mauidhatul hasanah. Demi menghasilkan pemuda-pemudi yang berkualitas. Tidak dijajah sinetron, apalagi sinetron dari luar negeri. Well, untuk hiburan memang tidak ada salahnya. Hanya saja harus paham porsinya. Jangan sampai kita hanya dijadikan sasaran empuk untuk memperoleh rating dan memasarkan produk. Membuat mereka sejahtera. Sedang kita?

Bangkalan, 2 April 2017 - 17:03 WIB

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Tomato
  • Yang Ga Diminta Aja Allah Kasih, Apalagi yang Iya
  • Air Zam - zam
  • Oretan Akhir Periode
  • Not Fair
  • Door Duisternis Tot Licht
  • Obsesi?
  • DAY 7 - Bersih-bersih dan Silaturahim
  • Kapan Nikah?
  • Rindu Rasulullah

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates