Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Pagi ini rasanya menu sarapan kami lebih berwarna. Atau mungkin tepatnya lebih beraroma. Bagaimana tidak, Pak Machmud tiba-tiba menawarkan petai segar yang masih ada di pohon sebelah tempat duduk kami saat kami hendak membuka bekal. Karena Huda meng-enggeh-kan, dengan cekatan Pak Machmud memetik satu renteng petai besar-besar. Sejak itulah sarapan kami lebih beraroma, meskipun cuma Huda yang mau. Irvi sarapan sambil menutup hidung disampingnya. Sementara aku dan Himma hanya tergelak. Lalu aku memandangi pohon-pohon petai yang ada di sekitar kami.
***
Bapak Machmud adalah sosok yang baik dan rendah hati. Ini bukan karena sate yang beliau berikan pada kami, atau kelapa muda yang lebih besar dari kepala manusia dewasa itu, dan pemberian pangan lainnya. Namun karena beliau tidak pelit memberi ilmunya pada kami. Selain itu waktu kami survey lokasi PKL ini kami berbincang-bincang dengan beliau. Kami sempat menanyakan almamater beliau. Beliau hanya menjawab: "Ah, saya ini cuma lulusan biasa-biasa saja, Dek," ucap pemilik gelar master pertanian itu.
***
Dulu, sebelum beliau mempunyai P4S Persada Nusantara Lumajang, beliau pernah diangkat menjabat camat. Beliau tidak pernah berpikir akan menjadi seorang camat sebelumnya. Lalu, beliau menuturkan jika beliau dan yang lain terpanggil untuk bisa bermanfaat, kemudian mendirikan pusat pelatihan itu.
***
Lahan yang dimiliki beliau saat ini sekitar 12 Ha. Padahal sebelumnya banyak sekali kata beliau. Kata "banyak" tidak beliau konversikan dalam angka. Lalu kenapa sekarang hanya 12 Ha? Karena dulu saat beliau sibuk bekerja di Dinas Pertanian atau bahkan di Badan Ketahanan Pangan beliau meng-estafet-kan P4S ke anak sulungnya. Beliau juga mengungkapkan: "Yah, namanya jiwa muda, suka coba-coba. Tapi ya gitu namanya kita telah memberi kepercayaan pada orang yang harus siap. Harus siap jika ada apa-apa. Kita harus selalu berpikir kalau semua hanya titipan. Bukan milik kita." Aku mengangguk takzim.
***
Shobat, seperti yang telah kuungkapkan di catatan sebelumnya bahwa P4S menganut pertanian terintegrasi. Maka, jadilah lahan yang luas itu oleh Bapak Machmud dan 40 lebih buruhnya disulap sebagai lahan budidaya sayur, palawija, umbi-umbian, buah-buahan dan sengon. Kemudian ternak kambing dan lain-lain.
***
Eh, sampai lupa catatan praktek hari ini. Hari ini Huda melanjutkan persiapan lahan dengan kelima adik SMK. Sementara kami bertiga dan dua adik SMK melanjutkan penanaman dan pemupukan. Spesialnya pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang. Oh My God! Hehehe
***
"Non, besok!" Teriak Pak Machmud mengagetkan. "Iya, Pak?" Kami serempak kebingungan. "Saya tadi sudah hubungi pihak BPP, besok kita kesana, kunjungan. Jarak tempuhnya 15 km dari sini." Jelasnya.
Ah, Pak Machmud menepati janjinya. Ingin membawa kami ke jaringan P4S seperti Koperasi Horti, UPT BPP, dll. Ini mudah bagi Pak Machmud mengingat banyaknya relasi beliau. "Jadi besok tidak usah ke lahan dulu," Pak Machmud menegaskan.
Kami pun bersorak dalam hati. Yeay!
***
Malam harinya kami dan Pak Machmud mengisi diskusi mengenai rancangan kunjungan esok hari. Sekaligus pemahaman mengenai UPT BPP, GAPOKTAN dan KRPL (Kawasan Rumah Pangan Lestari).
.
.
Lumajang, 11 Januari 2017 @23:03 WIB.

Pagi ini tumis terong acakadul dan tempe tepung goreng ala Huda dan Irvi terlihat siap untuk di santap. Iya, hari ini mereka piket masak. Kemarin saya dan Himma, besok Huda dan Himma, besoknya lagi saya dan Irvi. Hehe, opsi di catatan sebelumnya terlaksanakan.
***
Kami sarapan sekitar pukul 08:00 WIB. Nasi putih sebanyak dua bungkus kertas minyak itu tandas dengan lauk pauk tadi. Alhamdulillah, lezat masakan mereka. Menghilangkan lapar dan penat karena sebelumnya melakukan pemupukan cabai. Sementara saya, Himma dan Irvi melakukan pemupukan cabai bersama Ibu-ibu buruh, Huda dan kelima adik SMK melanjutkan persiapan lahan sawi dan bayam.
Sebelumnya kami memperhatikan Bapak Machmud membimbing kami menyiapkan pupuk, mencairkan pupuk dan mencontohkan cara pemberian pupuk dengan benar.
***
Pupuk seberat 2 kg dilarutkan ke dalam 150 air menggunakan tangan di dalam ember untuk kemudian dituangkan ke tiga tong plastik besar berwarna biru. Ini dilakukan agar pupuk mudah menyerap ke akar tanaman cabai. Pemberian pupuk diusahakan tidak mengenai batang agar tidak terkontaminasi. Khawatirnya cabai akan mati. Setelah kami memberi pupuk, dua adik SMK lain praktek memberikan pestisida dengan alat khusus. Pemberian pestisida harus mengenai batang, bagian atas maupun bagian bawah daun. Agar para hama lari kocar kacir. Bapak Machmud mengajari mereka dengan telaten.
***
Kami telah berhasil memupuk sekitar delapan petak lahan cabai. Kami bertiga menyelesaikannya bersama Ibu-ibu buruh yang bejumlah lima orang.
***
Kami bergegas melakukan penanaman kangkung usai istirahat di sebelah aliran air sungai yang jenih mirip dengan air terjun. Hanya saja mini. Setelah membuat lubang dengan alat yang bahasa maduranya adalah jhutajhuh, kami memasukkan benih kangkung sebanyak 5-7 biji ke dalam satu lubang. Jarak antar lubang 25 cm ujar Hilman dan Riko, salah satu siswa SMK PPN yang ahli dalam pembibitan.
***
Btw, P4S itu apa sih?
Kok saya dan teman-teman melakukan berbagai kegiatan dengan tamanan yang beragam? Itu karena di P4S Persada Nusantara Lumajang membudidayakan beragam tanaman. Mulai dari tanaman sayur, ubi, hingga buah-buahan. Tidak hanya itu P4S (Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya) Persada Nusantara juga menganut pertanian terintegrasi. Oleh karenanya ada ternak berupa kambing dan kelinci. Jadi, meskipun kami mengkhususkan dua komoditas untuk laporan PKL nanti, apa salahnya jika kita mempraktekkan semuanya? Karena Bapak Machmud sangat berkenan dengan itu.
***
InshaaAllah, lain waktu akan saya ulas siapa Bapak Machmud (Ketua) dan P4S Persada Nusantara secara lebih detail. See you! {}
***
Oya (wkwk), seperti biasa malam hari diisi dengan diskusi. Ba'da magrib adik-adik telah siap mempresentasikan perihal pembibitan dan penanaman, hasil praktek tadi pagi.
.
.
Lumajang, 10 Januari 2017 @22:00
WIB.

Kita harus tiba di lahan pukul 06:30 WIB. Hari ini agenda dalam rencana kegiatan kita adalah mempelajari sejarah dan gambaran P4S. Namun karena kami mengambil start lebih awal, agenda tersebut telah kami tunaikan sebelum hari H ini. Oleh karenanya, inilah kita sekarang, telah sampai di sebuah lahan yang siap untuk dikelola.
***
Hamparan lahan seluas 350 meter persegi ini akan kami tanami sayur bayam dan sawi. Kami ditemani 5 orang peserta magang dari SMK PPN Bondowoso. Kami sangat beruntung waktu PKL kami bersamaan dengan adik-adik yang gigih ini. Atribut mereka lengkap. Ada topi cowboy, sepatu boot, cangkul, celurit dan setelan training yang seragam. Kesemuanya bernuansa hijau. (Awas ketuker ama ular ijo ya dek, sama imutnya sih. Wkwk).
***
Persiapan lahan dilakukan dengan membalik tanah dan menggemburkan tanah dengan menggunakan cangkul. Keenam adam itu mencangkul dengan cukup gesit. Sementara kira para hawa, hanya bisa ngos-ngosan dan puas dengan hasil yang tak seberapa. Karena itulah, sesekali kami membersihkan/menyiangi rumput yang ada di selokan antar bedengan. Btw, persiapan lahan dengan membalik dan menggemburkan tanah ini untuk mendapatkan tanah yang subur. Karena nantinya, unsur hara yang ada di bawah tanah akan terbawa ke permukaan tanah atau bercampur.
***
Dengan 9 tenaga kerja yang tengah berlatih ini, kecuali Huda yang sudah terbiasa, kami menghasilkan 1/3 bedengan dari lahan seluas 350 m2 tersebut. Huaah! Look! Tiga buah bedegan telah menggunduk di lahan yang tadinya rata.
***
Omong-omong diantara kami berempat yang tidak pernah ke lahan sawah sama sekali adalah Irvi. Aku sendiri lumayan sering ke sawah, meskipun kadang hanya bermain-main. Hehehe.
"Kamu itu jurusan pertanian, Nak. Jadi ya harus paham bertani. Meskipun ga meraktekin yang penting tahu dulu," ujar Bapak yang tengah asyik menyiangi padi. "Hehehe, Iya Pak, saya tahu. Di semester satu sudah dikasih dasarnya kok. Lagipula Agribisnis kan lebih ke bisnisnya. Bukan anak Agroekoteknologi," saya berdalih.
***
Waktu masih kecil kira-kira kelas tiga SD saya malah malu ke sawah. Malu sama teman-teman. Padahal orangtua mereka juga petani. Jangan-jangan mereka juga malu pada saya. Konyol sekali kala itu.
***
Sampai pada sebuah perbincangan dengan teman MAN saat kelas XI. Badi', begitu saya memanggilnya. Ia bercerita kepadaku tentang keluarganya. Tentang ia yang sering membantu di sawah. Tentang ia yang mampu menyiangi padi, menanam bibit, memanen padi dan lain-lain. Tentang baktinya saya hanya mampu terpelongo di sampingnya. Terbayang lelahnya wajah Bapak dan Ibu selepas pulang dari sawah. Terbayang keikhlasan mereka yang tak terperi. Terbayang perilaku mereka yang tidak pernah menyuruh-nyuruh. Alih-alih meminta bantuan di sawah, Ibu malah meminta mengantar makanan ke sawah dengan memohon. Padahal tanpa memohon pun akan saya sanggupkan. Meskipun malas sering mengiba.
***
Air mata saya luruh. Keren sekali anak ini, saya bergumam. Saya akan mencoba sepertinya. Membantu Ibu dan Bapak. Saya bertekad.
***
Saat liburan kelas XII bersamaan dengan masa panen padi. Ini kesempatan berlian saya untuk terjun lapang. Lagi pula sudah bertahun-tahun Bapak dan Ibu bertani hanya dibantu buruh tani yang berasal dari tetangga. Maklum, ketiga kakak lelaki saya telah berada di luar kota untuk kuliah, ada yang telah berumah tangga dan bekerja. Dan si bungsu? Jangankan ke sawah, ngambilin pakan sapi deket rumah saja belum pernah. Tidak seperti Dahlan Iskan kecil.
***
Bapak dan Ibu mengerjap-ngerjap matanya. Masih belum percaya. Mereka juga belum mengetahui siapa motivator di balik semua ini.
***
Awalnya benar-benar sulit. Ternyata kelamaan makin lincah saja saya memanen padi. Hahaha lebay. Saya tidak hanya belajar memanen padi, tapi juga menyiangi, menjemur, mencabut bibit padi dan lain-lain. Saya juga pernah mencangkul bersama Ibu di kebun dekat rumah untuk lahan jagung. Ibu lebih lihai dari saya. Entah darimana beliau mendapatkan keahlian itu, mengingat beliau adalah seorang IRT. Dari semua kegiatan itu saya menyimpulkan: lelahnya jadi petani. Aku tidak mau jadi petani. Capek. Hasil tak seberapa. Akan aku ubah nasib kedua orangtuaku!
****
Lulus dari MAN inginnya kuliah yang bisa jadi wartawan atau guru bahasa inggris dan bisa keliling dunia. Tapi pada akhirnya diarahkan ke jurusan Agribisnis, fakultas Pertanian. Tweweng! Pupus sudah harapan saya. Akan tetapi ternyata saya salah. Pertanian adalah sesuatu yang tidak bisa diremehkan. Tanpa petani kita akan mati. Tak ada sumber makanan. Di berita-berita banyak kita jumpai isu ekonomi yang hampir kesemuanya terkait dengan pertanian.
Agribisnis juga membentangkan wawasan saya mengenai pertanian. Mengenai profesi Bapak, petani.
***
Bapak sendiri mempunyai petak lahan dengan luasan tal seberapa dari kerja kerasnya menjadi tukang servis elektronik (TV, Radio, dispenser, setrika dll *numpang promo ^_^ ). Setelah menikah dengan Ibu beliau hanya punya lahan untuk dibangun rumah. Hanya itu.
***
Teruntuk Bapak dan Ibu yang tanpa lelah memeras keringat kepayahan. Teruntuk salah satu sahabat terbaik saya Badi'ah yang telah menginspirasi. Teruntuk Allah yang selalu memahami saya lebih dari siapapun. Terimakasih. Mator sakalangkong. Matur sembah suwun.Thanks. Saya disini karena mereka. Meski banyak mengeluh tapi saya sangat bersyukur. Urusan kesuksesan biarlah Allah yang mangatur. Disini saya hanya ingin bersyukur, belajar dan belajar. Berdoa dan belajar lebih tekun agar bisa berfaedah. Walaupun kadangkala hanya menjadi oretan diatas kertas. Lantas diatasnya bernama : Schedule!
Wallaahua'lam.
***
Malam ini, ba'da Isyak kami diminta memberikan pemahaman tentang analisis usahatani kepada adik-adik SMK PPN. Bapak Machmud, ketua P4S mempersilahkankan kami. Kami bernapas lega. Materi itu baru di pelajari di semester 5 ini. InshaaAllah masih fresh. Ah, syukurlah.
Diskusi dengan metode presentasi itu berakhir pada jam 22:00 an.
.
.
Lumajang, 09 Januari @ 23:01 WIB

Haaaai, how's life?
May Allah always bless us forever after. Amien.
Ini hari kedua saya berada di P4S Persada Nusantara, Lumajang. Nyampe sini sebenernya pengin berbagi ilmu yang didapet, kalo lagi senggang kek gini. Tapi berhubung tadi malem pas diskusi sama Bapak Machmud sebelum kita perkenalan sama adek-adek SMK Pertanian dan anggota P4S kita lupa bawa catetan. (Akhirnya titik--baca satu tarikan napas satu kalimat tadi. Jangan lupa tahan napas. hehe). Jadi, banyak belum ingetnya deh ilmu yg niatnya mau dibagiin gitu. Hiks (acting sedih)
Sepertinya sudah sebulan ga ngeluangin sedikit waktu buat bikin status panjang?
Well, sekarang saya nyetatus yang ringan-ringan aja dulu yak^^
Besok-besok? Lebih ringan. Hehehe
***
Btw, hari H kita buat PKL (Praktek Kerja Lapang) ini besok. Tapi, inshaaAllah, dua hari disini sudah beberapa ilmu yang kami dapat. Hmm, bismillah.
Oiya, lama PKL yang ditentuin kampus 22 hari dan maksimal sebulan. Tapi rencananya temen-temen mau PKL sebulan (Oh, Tuhan... kenapa saya sekelompok sama orang-orang yang rajiiin?! Padahal saya kan lebih rajin, wkwk). Oops, dari tadi ni jari nyerocos mulu. Ko rada ga nyambung ama judul yah? Hehe, karena belum dimulai sebenarnya.
***
Dua hal. Iya, dua hal yang jadi kebiasaan aneh saya adalah ga bisa tidur kalo ga dirumah sendiri. Pun jika itu dirumah sodara yang deket dari rumah sekalipun.
***
Kebiasaan itu melekat hingga saya MA. Dan agaknya berakhir pas kelas sebelas-an keknya. Soalnya waktu itu eskul ada proyek gitu (lebay bahasanya) dan saya ikut di dalamnya. Akhirnya kami berdelapan orang nempatin (menempati, hehe) sebuah rumah milik guru kami yang sebelumnya ga ditempatin (tidak ditempati) selama 3 tahun. Alasannya karena rumah itu dekat dengan sekolah. Supaya proyek bisa lancar.
Dari situlah kebiasaan saya di tantang untuk berubah!
****
Beberapa hari di awal menginap saya sangat suliiit tidur. Padahal sudah sangat larut malam karena usai ngalor ngidul (italic) sama temen-temen yang ampun kocak banget---ampe sekarang ga nemuin temen-temen yang kocaknya kelewat high kek mereka.
Kembali ke tidur. Iya, saya ga bisa tidur dengan jam normal untuk beberapa hari.
Tapi Alhamdulillah, lama kelamaan jadi semakin bisa dan normal hingga sekarang saya bisa menikmati kasur tambun dengan bantal, guling dan selimut yang saya kemas dengan tas dan ditenteng dari rumah. Saya pulas di balut pertanyaan tentang P4S Persada Nusantara.
*****
Kebiasaan aneh kedua adalah mmm... Bukan aneh sih. Apa ya? Pokoknya saya itu ga biasa (loh, kebisaan kok ga biasa?). Ga biasa dan ga bisa yang akhirnya kebiasaan. Saya paling ga bisa naik kendaraan umum seperti angkot Carry, bis mini, bus pariwisata dan kapal laut. Jika dipaksakan bisa mabuk. Kan emanan nyawamu ojo mbok terus-terus, eh. I mean, mabuk perjalanan. Paling ga bisaaa kalo jarak tempuhnya lebih dari 20 menit. Hingga akhirnya pas sekolah di MAN yang jarak tempuhnya bisa tiga kali lipat dengan sebuah angkot Carry, saya benar-benar mual. Meskipun ga sampe, maaf, muntah. Tapi pas masuk kelas bawaannya pusing dan mual. Bikin ga konsen. Saya menjadikan hal itu alibi ketika saya tidak bisa masuk di sepuluh besar peringkat kelas--yang katanya unggulan itu. Saya tidak ingat kapan pada akhirnya saya mulai terbiasa.
****
Pening dan mual mulai berkurang. Seingat saya pas kelas sebelas saya telah bersahabat dengan angkot Carry menuju rumah saya, Buddan Tanah Merah.
Yeay!
****
Saya bisa dibilang trauma naik kapal laut. Trauma membuat kepala saya pening saat saya nembayangkan kursi kapal yang serupa licin mengilat, berwarna merah atau biru, tangga kapal yang disana kita bisa melihat air laut yang makin keruh dengan jelas. Membayangkan mencium bau bahan bakarnya yang busuk. Dan sebagainya.
****
Sejak kecil saya sering ikut Ibu ke Sidoarjo pergi ke rumah Bibi Ibu. Saat itu tentu belum tergelar jembatan Suramadu. Akhirnya kami naik kapal laut. Kata Ibu, saya selalu ikut bepergian dengan beliau mulai sejak bayi. Waktu bayi sering menangis di kendaran umum dan ketika beranjak dewasa mabuk sering mabuk perjalanan. Tapi hal itu tidak membuat Ibu meninggalkan saya di rumah. Selain karena saya bungsu waktu itu, juga karena Ibu saya sangat sabar.
Lalu, semenjak saya duduk di bangku SD kelas 3, saya jarang dan bahkan tidak pernah naik kapal laut untuk kesana lagi dengan Ibu. Bukan karena telah ada jembatan Suramadu. Namun Bibi Ibu saya telah di panggil Sang Kuasa.
Saya kembali naik kapal laut waktu semester 3 karena keperluan kampus. Untuk pertamakalinya lagi saya melihat dan naik kapal laut lagi. Ternyata tidak seburuk apa yang saya pikirkan. Hanya setengah dari sedikit rasa pening di kepala ketika kami berhasil menyebrangi laut. Saya melihat seorang Ibu membawa anaknya. Saya haru. Rindu Ibu. Padahal baru beberapa jam yang lalu menandaskan nasi goreng buatannya.
*****
Naik mini bis adalah hal yang paling saya hindari sejak MTs. Semua itu karena sopir mini bus selalu identik dengan ngebut, ugal-ugalan. Bus mini bagi sudah sangat bau bahkan sebelum dinyalakan. Bau solar benar-bikin mual ditambah oleng sana oleng sini. Tak bisa dibayangkan jadi apa saya.
Namun semenjak kuliah di UTM, dengan sangat terpaksa saya membuka hati berkenalan dengan bus mini. Awalnya nahan mual setiap hari. Persis saat pertama berangkat ke MAN dengan Carry. Saya hampir muntah. Tapi aduhai, lihatlah sekarang. Saya bahkan telah bersahabat dengan mini bus. Lain waktu akan saya buat catatan tentang sahabat saya itu. Dan terakhir, bus pariwisata yang biasanya di sewa saat MTs, MAN dan kampus saya yang sekarang. Entah untuk studi banding, study tour, tour, studi lapang dan lain sebagainya.
Maka, jika yang lain akan bersorak saat ada kegiatan-kegiatan semacam itu, saya hanya bisa bergidik di pojokan betapa malunya muntah di hadapan teman-teman nanti. Bau AC plus bahan bakar, tubuh yang seperti tergucang, membuat mabuk tak dapat terelakkan. Namun heii, lihatlah. Kemarin saya menaiki bus sejenis dengan biasa-biasa saja. Malah pulas. Hehe, saya bisa mengatasi itu sejak kelas XII. Saat itu hendak tour, saya meminta masukan pada guru Tata Busana yang juga guru Bahasa Indonesia saya. Beliau menjelaskan jika saat satu penyebab mabuk adalah pikiran. Pola pikir kita yang berpendapat bahwa kita akan mengalami mabuk perjalanan. Persis pola pikir saya dulu.
Selain itu, menurut beliau karena gonjangan kendaran membuat asam lambung naik dan bau menyengat membuat orang semacam saya akan muntah. Beliau juga membeberkan solusinya. Saya pun mengingat, mencari banyak artikel terkait, untuk kemudian mengimplementasikan. Dan sejak itulah, saya mulai bisa bersorak ketika ada kegiatan yang bersinggungan dengan bus pariwisata. Yeay! Kecuali saat ternyata saya belum bayar iurannya. Hehe (^.^')
****
Kebiasaan aneh selanjutnya yaitu, lah bukannya cuma dua? Hehe, belum. Ini Dua hal di bidang masak memasak. Kata orang cewe itu kudu bisa masak. Kalo menurut saya cewe cowo harus bisa masak. Biar bisa gantian. Bikin jadwal piket sekalian. Terus ada tatibnya. Wkwk, just a joke yah, meskipun ketawanya maksa.
Eh iya, dulu jadi Cheff adalah salah satu impian saya (ga nanya, ga penting juga. ^_^ ). Yaudah kembali ke dua hal dalam masak memasak. Saya ga terlalu suka atau menghindari dua steps dalam memasak yang bernamakan memarut kelapa dan menghaluskan alias ngulek jagung muda. Saya biasanya lebih suka mem-blender (nge-blend) biar lebih cepet. Tapi karena kata Ibu hasilnya beda, pun rasa. Jadi apa boleh buat, saya harus sabar mengiris jagung untuk kemudian diulek. Hingga tersaji dadar jagung goreng di piring. Atau mengupas kelapa yg keras kayak (kek) kelapanya si Bungsu, lalu memarut dengan tabah diawali dengan rapalan doa-doa (hehe, maksa lagi). Santan yang dihasilkan dipadukan dengan bumbu untuk merperkaya rasa ikan asap. Paling pas keduanya di makan hangat-hangat. Satu menu sarapan satunya lagi menu makan siang. Lalu, siapa yang berani-beraninya menolak titah seorang Ibu?
****
Masakan pertama kami untuk sarapan hari ini telah siap. Ada kuah bayam bening, dadar jagung dan tempe goreng. Niatnya mau buat sambel, eh kehabisan, laku. Niatnya lagi kuah bayamnya pake santen. Tapi Irvi ga suka santan. Omong-omong saya baru tahu ada kuah bayam dengan campuran santan.
Walaaa this is it!
****
Inilah sedikit catatan saya hari ini. Intinya, di setiap hal. Apapun itu kita bisa lebih baik. Asal mau ikhtiar (berdoa dan berusaha. Pun semoga di tempat PKL ini saya, Himma, Irvi dan Huda bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan mampu melakukan perubahan terhadap lingkungan dan masyarakat yang lebih baik nantinya. Aamiin yaa Rabbal 'alamiin.
Lain waktu saya juga akan membuat catatan tentang malu untuk hal yang tidak perlu. Hmm, banyak sekali janjinya. Sudah seperti pejabat saja, ups.
.
.
.
.
.
@12:21 WIB
Lumajang, 08 Januari 2017
Mobil-mobil mewah digarasi, rumah-rumah megah tak terperi, pakaian-pakaian branded di lemari, perhiasan-perhiasan elok di dalam peti, makanan-makanan lezat yang tersaji, gadget-gadget canggih saling menandingi, dan berbagai pernak-pernik kehidupan lain yang menghiasi hari. Usai bersusah payah, berlama-lama mengais rezeki. Menempa potensi diri. Bukankah itu acapkali membuat kita bangga? Perolehan yang membuat banyak dari kita tersenyum bangga.
Baiklah, jangan sampai sejauh itu sampelnya. Kita bisa lihat, saat kita telah mendapat nilai-nilai bagus di kelas, prestasi-prestasi memukau, kegiatan-kegiatan menakjubkan, teman-teman baik, keluarga yang hangat, dan lain sebagainya. Bukankah seringkali terbesit perasaan bangga dengan nilai-nilai itu? Dengan prestasi-prestasi itu? Dengan pemberian-pemberian itu?
Duh, apa sih kita ini? Hanya setitik dari triliunan orang di dunia. Hanya satu dari hamparan pasir di gurun Sahara. Hanya sebutir biji zarrah tak kasat mata. Hanya seorang hamba.
Kalau bukan karena kebaikan Tuhan, tidaklah mampu semuanya terjadi. Berkat daya dan kekuatan-Nya kita mampu meraih mimpi-mimpi. Sesungguhnya, Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billah.
Jangan bangga dengan apapun yang kita peroleh. Kapan saja Tuhan menginginkannya kembali, maka kembalilah titipan-titipan itu pada pemilik sebenarnya. Secepat kilat.
Teori. Ini bukan hanya sebuah teori. Saya pribadi pernah mengalaminya. Waktu itu dengan semangat yang agaknya mengebu-gebu, saya telah siap untuk berangkat kuliah. Tugas-tugas sudah siap dikumpulkan, pakaian telah dirapikan, telah menuntaskan sarapan, dan berbagai deskripsi lain yang intinya saya telah siap belajar, menyongsong masa depan cerah dipagi yang juga cerah, demi menghilangkan kebodohan.
Saya bahkan telah hampir sampai. Hanya beberapa meter dari gerbang kampus. Namun kecelakaan itu telah mengubah segalanya. Kejadian secepat kilat itu mengubah pagi cerah saya menjadi suram. Secepat kilat mengubah segalanya. Yang tadinya akan menghadapi dosen-dosen dengan segala ilmu menakjubkan yang mereka miliki. Kini saya harus menghadapi dokter-dokter dengan segala berdasarkan ilmu yang juga mereka miliki. Duh gusti, betapa cepat kilat itu menyambar. Betapa lekas roda itu berputar. Mengubah hidup saya beberapa bulan kedepan. Mengajari saya bahwa apapun yang kita miliki adalah titipan. Kapan saja Dia mau Dia bisa menguji atau bahkan mengambilnya.
Kala itu, jangankan berpikir tentang presentasi di kelas dan beragam tugas-tugas. Memikirkan kapan bisa mengikat rambut sendiri saja belum menemukan jawabannya.
Saya mengimani bahwa kejadian dan ketentuan terjadi terjadi karena daya dan kekuatan-Nya. Yang mampu mengubah segalanya. Meluruhkan perasaan bangga yang melekat begitu lama. Mengingat kembali bahwa saya hanyalah seorang hamba.
Itulah sedikit pengalaman saya. Semoga bisa menjadi sebuah pelajaran berharga. Ingat, jangan bangga. Semua hanyalah titipan semata.
Bangkalan, 25 Maret 2017 - 15:58 WIB
Berbeda pemahaman kerap membuat timbulnya perpecahan, permusuhan, peperangan dan sebagainya.
Tidak akan ada sebuah persahabatan hangat apabila kita tidak mencintai sebuah perbedaan. Tidak akan terbentuk mahligai rumah yang kokoh saat ego mengagungkan perbedaan. Tidak akan timbul kekompakan dalam teamwork ketika perbedaan tidak dapat dikondisikan.
Bukan karena pemahaman saya berbeda denganmu lantas saya akan mudah menghakimimu. Tidak. Ini soal cara pandang. Saya memandang sosmed yang digunakan kita semua kadang adalah hal yang sia-sia. Tak berguna. Namun ini sebenarnya kembali kepada fungsi yang dirasakan oleh masing-masing pribadi. Saya menggunakan sosmed salah satunya untuk berbagi sedikit pesan moral, si A menggunakan sosmed dan kerap membuat status harian agar kerabat atau ortu yang berada nun jauh darinya mengetahui keadaannya dengan baik dan detail, si B menggunakan sosmed untuk berbisnis, si C menggunakan sosmed untuk mengkaji ilmu, si D menggunakan sosmed untuk membagikan foto temannya agar temannya mengerti bahwa ia amat berarti, si E menggunakan sosmed lalu mengunggah foto liburan supaya ortu-nya  paham bahwa uang yang sebelumnya ia minta tidak dibuat macam-macam, kebetulan tidak serumah dengan ortu (misal), si F menggunakan sosmed untuk menyambung silaturahmi, si G memanfaatkan sosmed untuk mengumpulkan tugas sekolah atau kuliah, dan beragam motif lain sampai Z.
Every body's unique, itu yang sering diungkapkan oleh Bu Ratna. So, lakukanlah. Lakukanlah apa yang mau dan bisa dilakukan. Selama napas masih ada, berkat kemurahan-Nya. Selama masih dalam tatanan nilai dan norma. Karena setiap orang, bagi saya, punya their own way to walk. Their own way to choice. Their own way to think. So, biarlah. Biarlah Tuhan yang menghakimi, mengoreksi kita. Karena Dia adalah Hakim Yang Maha Adil.
Bangkalan, 20 Maret 2017 - 05:46 WIB
Aku dulu merengut saat kenek 'nakal' memberikan kembalian dengan besaran yang tidak semestinya. Secara otomatis aku akan protes, menagih kejujuran. Mengimplementasikan apa yang disebut kritis di atas benda bernamakan bis. Bukankah akan lega dan bangga saat kita telah menang? Seperti saat berdebat di ruang kelas, di warung kopi, kafe-kafe hits, berdebat dengan adik atau saudara, dan sejenisnya. 
Sekarang berbeda. Aku hanya menegur sembari tersenyum. Karena aku tak pernah tahu apa yang telah mereka lewati. Bagaimana hari mereka, anak-anak mereka, saudara mereka, dan sebagainya. Apakah mereka telah melewati hari-hari yang buruk, anak-anak yang meminta dibelikan ini itu, kabar pilu tentang kerabat dan saudara, dll.
Aku tidak pernah mengetahuinya.
Ya-sudah-lah, jika memang uang sakuku (yang menurut beberapa orang sedikit) ini cukup untuk pulang dari dan berangkat ke kampus. Biarlah mereka mengambil lebih. Tak perlu protes jika hanya beberapa lembar.
Aku dulu juga akan merengut jika dioper ke angkot sejenis carry yang ngetemnya bisa mencapai satu jam. Mereka telah membuat aku terlambat dalam berbagai hal. Merusak agenda yang jauh-jauh hari terdaftar. Bagaimana kalau ini terjadi pada pebisnis yang setiap sepersekian detiknya adalah permata? Ah, mereka mana naik angkot. Hehehe, jarang sekali.
Sekarang berbeda. Aku berpikir tentang telah berapa jam yang mereka habiskan untuk mengetem atau menunggu operan. Aku berpikir bahwa itu bisa jadi adalah satu-satunya profesi yang harus ia jalani. Meski jalan sering kali sepi seperti kota mati. Meski rupiah bahkan tak mencukupi untuk membeli sesuap nasi. Lalu siapa yang mesti disalahkan? Pemerintah?
Angkot yang aku naiki hari ini hanya mendapatkan tiga ekor manusia (termasuk aku) dari operan mini bus. Namun ia terpaksa harus berangkat. Meski sopir menjalankannya dengan berat. Terasa, karena jalannya amat lambat.
Selalu begitu, setiap pagi. Selalu begitu, dioper. Selalu begitu, pemandangan yang memilukan. Selalu begitu, uang-uang ribuan. Anehnya baru sekitar semester empat lalu aku menemukan pemikiran-pemikiran ini. Pemikiran yang akhirnya membuatku lebih mudah tersenyum ketimbang merengut. Pemikiran yang membuatku harus berangkat lebih awal lagi. Pemikiran yang membuatku lebih mencintai dan menghargai masa. Pemikiran yang membuatku lebih peduli terhadap sesama. Pemikiran yang membuatku berpikir bahwa setiap pemikiran masih ada celah untuk timbulnya pikiran yang perlu dipikirkan. Dan bermacam pemikiran lain.
Lalu benar perkataan bahwa kita perlu berpikir lebih ketimbang banyak berbicara. Dalam islam juga sangat dianjurkan untuk berpikir, merenung.
Maka, berpikirlah!
Bangkalan, 19 Maret 2017 - 10:03 WIB

Entah ini sudah berapa kali saya salah masuk gang. Padahal sudah berkali-kali ke kost Ulfa yang berada di gang lima. Tapi selalu salah masuk ke gang empat dimana kost lama Elza berdiri. Berapa kali saya ingatkan diri saya untuk mengingat, namun tetap saja tidak ingat. Membuat tawa Ulfa meluap boros. Lantas pipi saya agaknya memerah dengan mimik seperti emoticon ini --- 
Hmm, jangan-jangan saya memang malas berpikir out of the box. Terlalu lurus. Seperti penggaris baru di etalase. Buktinya saya baru paham batas daerah cendana dan telang indah. Buktinya waktu itu saya tidak mengerti mengapa Wi Fi Zone ditutup dalam waktu yang lama. Saya tidak mengetahui berapa unit mini bus yang beroperasi di Sumenep sampai Bangkalan, mengingat saya selalu menaiki bis yang berbeda setiap hari. Jarang jika saya akan menaiki bis yang sama. Saya juga tidak paham bahwa ribuan chatting di WA (misalnya) dapat dijadikan bahan tulisan yang keren. Saya tidak berpikir bahwa ribuan teman di medsos adalah pasar yang begitu potensial. Saya juga baru tau bahwa Bapak-bapak yang menjual es potong kesukaan saya berasal dari Jawa Tengah. Lalu pernahkah saya berpikir bahwa saya akan mampu menjadi petani berdasi nan bijak atau manajer yang berhati mulia.
Apa memang karena terlalu lurus? Jangan-jangan saya tidak memahami kenapa saya di didik untuk berjiwa tani, pebisnis mandiri, atau lain waktu juga dituntut untuk menjadi seorang manajer yang harus ahli menimbang dan memutuskan.
Pernahkah saya berpikir bahwa dunia ilmu saya tidak hanya dibatasi oleh bangku dan meja kuliah, layar proyektor,  buku dan jurnal-jurnal yang bahkan belum saya lampaui batasnya. Pernahkah?
Yang pasti adalah saya tidak begitu paham bagaimana rumitnya menjadi seorang petani, rumitnya mencari pekerjaan, rumitnya merintis sebuah usaha, rumitnya menjadi seorang manajer, dan lain sebagainya. Namun saya akan terus berusaha belajar, belajar berbagai hal. Satu yang pasti harus dipelajari: bahwa saya harus belajar memelihara hati yang bersih. Agar setiap pelajaran meresap hingga ke tulang belulang. Memasuki urat-urat dan mengalir bersama darah. Karena ingat, bahwa Allah alladzii 'allama bil qalam.
Bangkalan, 18 Maret 2017 -  19:31 WIB
Kadang, ada masa dimana aku tidak ingin menjadi diriku sendiri. Aku tidak ingin terlalu mudah mengumbar senyum dan tawa. Juga tidak terlalu panjang lebar bercerita. Aku tidak ingin terlalu detil menggambarkan sesuatu saat orang bertanya. Aku ingin menjadi orang yang cuek. Pikirku, itu akan membuat segalanya lebih mudah.
Belakangan ku mengerti bahwa aku cenderung berkepribadian gabungan sanguinis dan melankolis. Berdasarkan beberapa tes kepribadian online yang aku jalani, dan berbagai kejadian dan pengalaman yang aku alami. Seperti pengolompokkan yang dikemukakan oleh Aristoteles.
Kadang, ada masa dimana aku tidak ingin menjadi diriku sendiri. Aku ingin menjadi orang yang acuh. Orang yang irit bicaranya. Orang yang dingin perilakunya. Ditengah hiruk pikuk manusia yang dengan berupa warna. Ada yang pandai berbahasa kekinian, pandai memuramkan wajah, dan lain-lain.
Keinginan itu kembali muncul saat aku berada ditempat pengambilan e-KTP ini. "Ah, semua layanan masyarakat selalu seperti ini." gumamku.
Namun lihatlah, Wanita parubaya berwajah cantik keibuan ini telah melenyapkan keinginan-keinginan itu. Pikiran-pikiran itu.
Tak perlu diceritakan bagaimana pribadinya. Karena bulir-bulir keringat yang membasahi wajahnya di ruang ber-AC ini telah menceritakan segalanya.
Membungkam setiap jiwa yang hampir hitam. Menyentuh relung kalbu yang kelam. Membuat malu pribadi yang kerap membohongi nurani. Menjadi petuah ampuh bagi yang merenungi.
Percayalah, meski hanya segelintir, tetap ada orang-orang yang mampu memberikan kesejukan. Tidak, aku yang salah. Tidak hanya segelintir. Kita juga akan berusaha menjadi pribadi yang lebih dan lebih baik, kan?
Karena kita akan berpatokan pada ungkapan seorang bijak: Just be your best self! Dimanapun tempat dan bagaimanapun keadaannya. In shaa Allah.
Bangkalan, 17 Maret 2017 - 18:33 WIB
Saya dulu berpikir bahwa betapa bahagianya saya saat punya komputer. Saya bisa belajar komputer tanpa menunggu mata pelajaran ini di sekolah. Menggambar sesuka hati, mengetik sepuas jari jemari, mendengarkan musik-musik asing, menikmati alunan kalamullah, mendesain grafis dengan lihai, mengedit foto, dsbgnya. Mengeksplor komputer itu.
Namun apa yang terjadi?
Setelah saya, maksud saya 'kami' memilikinya, jangankan mengetik sebanyak-banyaknya, belajar mengetik sepuluh jari saja sudah urung. Terlanjur malas. Sibuk tak seberapa saya jadikan alibi. Alhasil harus sadar dengan kemampuan ilmu komputer yang masih belum mumpuni. Padahal kala itu, ini adalah mapel yang sangat saya gandrungi.
Beberapa tahun berlalu. Benda hitam itu termakan usia. Tamat sudah riwayatnya. Dan saya hanya bisa menyesali betapa saya tidak memanfaatkannya dengan sangat baik. Hingga akhirnya semesta membawakan benda serupa untuk kedua kalinya.
Apa yang terjadi?
Nihil.
Apa mungkin memang karena pengertian akan kata 'maksimal' bagi saya terlampau tinggi. Entah, jangan-jangan masih sangat rendah.
Lalu, menapaki dunia perkuliahan membuat saya berpikir lagi. Jika saya mempunyai sebuah laptop bukankah akan lebih menyenangkan?
Saya bisa menulis banyak karya tulis ilmiah.
Saya bisa lebih banyak meraup ilmu dengan mudah.
Saya bisa lebih gampang mengulik bermacam informasi, selebriti *eh.
Saya bisa bersungguh-sungguh belajar ilmu komputer.
Dan yang terpenting, saya tidak akan kelimpungan jika ada tugas kelompok.
Namun, pikiran-pikiran itu seakan lari terbirit-birit menanggung malu.
Bagaimana tidak, sedari tadi laptop yang saya pinjam dari Kakak mendengus sebal. Belum sepersekian menit saya menyentuhnya. Dan sekarang didiamkan begitu saja. Skakmat. Iya, tak ada ide dan malas kadang memang beda tipis. Hanya terpisah dengan sehelai kain yang nerawang. Seperti pakaian-pakaian kekinian *eh.
Sama halnya saat saya berpikir jika saya memiliki kendaraan pribadi. Saya dapat mengikuti beberapa kegiatan diluar kelas. Menggali lebih banyak pelajaran. Menimba lebih banyak ilmu. Memiliki berupa-rupa teman. Namun, hei! Memang benar, betapa saya memang tidak mengamalkan apa yang dimaksud untuk bersyukur. Saya selalu merasa kurang. Tak pernah puas. Inilah kodrat manusia. Namun bukankah masih mampu menepisnya.
Saya benar-benar malu mendengar ceritanya. Kakak yang dengan keterbatasannya bisa mengetik dengan sepuluh jari hanya dalam sehari. Dengan keterbatasannya masih mampu tergabung diberbagai organisasi.
Jadi, bukankah ini hanya soal kesungguhan?
Atau saya memang harus memilih bersyukur. Karena bersyukur adalah jalan yang terbaik.
"Tahukah kita, diri kita dan apapun yang kita miliki adalah yang terbaik untuk kita, bukan untuk orang lain. Apa yang dimiliki orang lain, itulah yang terbaik untuk mereka, bukan untuk kita. Seandainya kita paham konsep kecil ini, kita tidak perlu iri hari. Sayangnya diantara kita, saling membandingkan lalu menyakiti diri sendiri. Tahukah kita, waktu kita tidak banyak. Sayangnya, diantara kita banyak yang lupa waktu. Aku pun--begitu."
- Kurniawan Gunadi
Ah, saya mohon. Jangan menatap saya seperti itu. Iya, saya tahu anda tengah mati suri. Iya, saya tahu tugas EPP belum sama sekali. Iya, saya memang gemar menunda, seakan sibuk kesana kemari. Secepatnya, anda tidak akan lagi seperti ini. Berterima kasihlah pada Kak Yusuf -- yang akan memberi anda kehidupan untuk yang ketiga kali, berterima kasihlah!
*ngomong sama komputer -___-"
Bangkalan, 7 Maret 2017 - 22:04 WIB.
MashaaAllah, apa yang telah teman-teman makan, ya? (original text: Gilaaa, temen-temen pada abis makan apaan yak? Paraah ) Presentasi jadi hidup, karena materi yang mereka bawakan dengan cas-cis-cus. "Berapa jurnal dan buku yang telah mereka bolak-balik?" benakku bergumam.
Ini presentasi awal MK PBI. Pun kelompok yang maju adalah kelompok yang mengacungkan tangan di awal perkuliahan, siap untuk presentasi perdana. Lalu aku? Kenapa tidak mengacung? Hehe, setelah libur panjang rasanya otak masih connecting, belum connected. Jadi aku biarkan yang lain, memberikan kesempatan, wkwk. Jika dipaksakan aku khawatir hasilnya tidak maksimal. Khawatir tidak mampu memahami dan menyajikan materi dengan baik. Ah, tolong jangan ditiru.
Semua kekhawatiran itu kadang bisa menjadi senjata yang akan melukai diri kita sendiri. Pun saat aku mulai khawatir aku tidak mampu menyiapkan presentasi matang layaknya presentasi hari ini. Saat aku khawatir hingga akhirnya tidak mengangkat tangan untuk bertanya. Belum lagi saat ada notice bahwa pernyataan tidak boleh terlalu mendalam karena ini masih pengantar. Aku jadi makin urung bertanya. Jangan-jangan pertanyaanku terlalu mendalam atau bahkan Jaka Sembung makan gulali, tidak nyambung sama sekali. Well, ini sebenarnya sudah terjadi jauh-jauh hari bahkan tahun.
Saat MTs aku sering kali urung bertanya karena menganggap pertanyaanku terlalu remeh temeh. Namun sering juga aku dapat melawan kekhawatiran itu.
Hei, bukankah kita bisa menyentuhkan jari kita di qwerty lantas mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita tanpa harus meredam rasa khawatir atau malu? Menunggu sepersekian detik saja deretan kalimat akan terbit.
Well, tentu. Akan tetapi ini bukan soal 'aktualisasi' diri yang negatif. Namun bagaimana melatih diri menjadi lebih percaya diri dan berani mengungkapkan pendapat. Setidaknya itu pemikiran yang ku dapat saat di MA. Namun hari ini aku tidak menggubrisnya. Aku keburu terpelongo menyaksikan jalannya diskusi. Hanya menyaksikan. Barangkali ada beberapa yang ku pahami. Lalu urungnya pertanyaan ini meluncur karena aku berpikir ini bukan tentang bertanya atau tidak, tetapi paham atau tidak. Duh, selalu mencari alibi. Sekali lagi tolong jangan ditiru. Lagipula aku juga tidak yakin bahwa aku benar-benar paham. 
Kekhawatiran mengingat otak yang sepertinya lowbat karena libur panjang ini sebenarnya karena kurangnya aku men-charge-nya. Atau mungkin tidak pernah. Pun saat bertanya dan khawatir ini itu juga karena aku kurang men-charge pikiran dengan membaca banyak buku ilmiah dan jurnal yang harusnya sudah menjadi menu makan wajib. Duh, Gusti. Aku bahkan telah lama memahami konsep sederhana ini. Namun ternyata memang butuh kesungguhan untuk menerapkannya. Aku jadi teringat ungkapan yang kerap disampaikan Pak Andrie pada kuliahnya: Banyak membaca banyak lupa. Sedikit membaca sedikit lupa. Tidak membaca tidak ada yang lupa. Ungkapan yang bisa jadi sangat sederhana bagi sebagian orang, namun sangat menukik bagiku.
Aku dulu pernah mempunyai seorang teman yang  seakan tidak pernah kehabisan kata saat setiap presentasi. Apapun pelajarannya. Dia juga pandai sekali bertanya atau menjawab. Tidak berdiskusi dalam sebuah presentasi secara membabi buta. Aku kira itu memang kelebihan yang dianugerahkan padanya. Tetapi pada suatu hari saat presentasi ada sebuah kejadian yang membuatku merenung. Ku dapati dia serupa seseorang yang kehilangan ruh, kelabakan menjawab pertanyaan. Pada akhirnya aku tahu alasannya: tidak membaca dan memahami materi. Hmm, ternyata kita memang senantiasa butuh men-charge otak dengan buku-buku. Dengan ilmu. Sebagai makanan otak yang paling dibutuhkan.
Ini juga berlaku pada keimanaan dan ketaqwaan. Keduanya bersifat fluktuatif. Oleh karenanya kita juga butuh 'charger' untuk itu. Agar nantinya tidak sampai lowbat. Nauzubillahimindzalik~
''Setiap orang memiliki potensi untuk baik dan lebih baik. Pun potensi untuk buruk dan lebih buruk."
-Lutfiyah
Bangkalan, 15 Maret 2017 - 21:44 WIB
Cinta. Apa itu cinta? Sejauh pemahamanku, cinta itu fitrah. Cinta adalah perasaan suci yang di anugerahkan Sang Illahi di setiap kalbu manusia. Benih cinta tumbuh di hati yang tulus dan dipelihara oleh kepercayaan dan kesetiaan. Bagi orang yang beriman, tidak ada cinta yang lebih indah dibanding cinta kepada Allah. Dibuktikan dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjahui larangan-Nya dengan ikhlas. Namun bagaimana cinta pada sesosok manusia atau lawan jenis. Seperti apakah cinta yang tulus dan sejati?
Tentunya rasa cinta tidak akan timbul jika seseorang tidak terlebih dahulu jatuh cinta. Pertanyaan lain muncul, jatuh cinta seperti apa yang murni dari hati nurani? Bukan sekedar aplikasi murahan dari hawa nafsu. Apa jatuh cinta itu seperti yang sering orang-orang ceritakan padaku. Bermula saat mereka bertemu, saling memandang, saling bertukar nomor handphone, dan lama kelamaan mereka jatuh cinta, katanya. Kemudian cerita lain yang hampir sama. Awalnya ia mengagumi seseorang karena ketampanannya, bersikeras mendapat pin messenger-nya, kemudian saling berkomunikasi, dan akhirnya saling mencintai. Lalu cerita-cerita lain yang jujur, masih belum dapat menjawab pertanyaanku.
Dari beberapa cerita itu dapat ku pahami bahwa bagi mereka jatuh cinta itu dari mata yang memandang, kemudian hati yang merasakan. Seperti ungkapan yang cukup familiar yaitu; cinta itu dari mata turun ke hati. Dengan kata lain mereka mencintai karena melihat fisik terlebih dahulu. Ini jika kita artikan kata ‘memandang’ dengan melihat ukuran fisik. Lalu, bukankah akan menjadi bias di zaman kekinian ini jika kita hanya melihat dari tampilan luar. Era dimana lebih banyak orang berlomba-lomba mengenakan pakaian bagus, make-up seperti apa yang tengah nge-hits, handphone dengan kamera sekian piksel dan spot foto yang tidak memalukan untuk dipamerkan. Karenanya, timbul pemahaman bahwa isi otak dan hati seseorang tidaklah nampak, yang pertama kali tertangkap pandangan adalah penampilan. Namun jika kita artikan kata itu dengan bagaimana cara kita memandang ketaqwaan seseorang, maka beda lagi pemahamannya. Hal ini mengingatkanku pada kalimat seorang bijak yang berbunyi; nafsu mengatakan perempuan cantik atas dasar rupanya, akal mengatakan perempuan itu cantik atas dasar ilmu atau kepintarannya, dan hati mengatakan perempuan itu cantik atas dasar akhlaknya.  
Jadi, salah satu indikator bahwa cinta datangnya tulus dan murni dari hati karena kita melihat akhlak atau ketaqwaan seseorang. Ya, mungkin itu salah satunya pikirku. Lalu indikator lain ialah tak lain karena cinta yang Allah Azza Wa Jalla berikan dengan cara-Nya sendiri. Cara-cara yang tidak kita pahami namun pada akhirnya membuat rasa cinta tumbuh dalam hati manusia.
Lalu harus bagaimanakah seorang hamba yang baik membawa cintanya? Bila seseorang telah siap di berbagai hal, maka akan terjadi prosesi mengkhitbah lalu menikah, membangun mahligai rumah tangga sesuai syariat-Nya. Namun bagaimana jika hal ini terjadi pada anak remaja yang belum saatnya ber-ta’aruf apalagi menikah. Bagaimana mereka meluapkan rasa cinta masing-masing?
Jawabannya adalah cinta dalam diam. Saat kita mencintai seseorang, hendaknya kita mencintainya dalam diam. Kita hanya mengutarakannya pada cinta sejati kita, Allah SWT. Karena Allah mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Aku jadi teringat kalimat dalam sebuah novel karya Taufiqqurrahman Al Azizy yakni “Diam adalah bahasa cinta yang paling dalam, paling halus, dan paling lembut’’.
Mencintai dalam diam hingga Allah mempertemukan kalian dalam keadaan yang terbaik. Seperti kisah cinta Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra yang begitu populer. Meskipun tidak seperti kisah tersebut dan kelak seseorang yang kita cintai dalam diam tidak berjodoh dengan kita tak mengapa. Itu artinya Allah akan memberikan jodoh yang lebih tepat. Mencintai dalam diam karena sama-sama mencintai Allah, cinta yang paling suci, cinta diatas segalanya.
Allah SWT berfirman dalam Kalam-Nya:
“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Israa’:32)

Itulah alasan mengapa pacaran sebelum menikah tidak diperbolehkan. Islam ingin menaungi pemeluknya dengan kehormatan. Menghindarkan kita dari kejinya suatu perbuatan. Karena mencintai seseorang bukan hanya tentang waktu dan tentang keberanian mengungkapkan. Melainkan tentang seberapa tinggi tingkat keimanan dan ketaqwaan. Karena tidak semua perasaan harus diikuti maupun diungkapkan. Lihatlah, telah banyak manusia yang tak sabaran, terburu-buru mengungkapkan, tak memahami keadaan. Pada akhirnya, mereka jatuh di lembah kehinaan. Na’uzubillahiminzalik.

Pada akhirnya, semua kembali pada prinsip, cara dan jalan hidup masing-masing orang. Wallahua'lam.

’’If you ask me about love, and what I know about it my answer would be. It’s everything about Allah. The pure love to our souls. The creator of you and me…’’

~ Maher Zain-Always be there ~
Modified on 12nd of March 2017
Setiap yang bernyawa pasti akan menghadapi yang namanya kematian. Kematian merupakan hal yang misterius karena tak satupun makhluk mengetahui kapan kematian akan datang pada mereka, kecuali Sang pencipta yakni Allah SWT. Di tengah gemilaunya dunia ini, jarang sekali manusia yang mengingat mati. Padahal, Rasulullah SAW pernah bersabda : ‘’Banyak – banyaklah mengingat sesuatu yang bisa melenyapkan kenikmatan.” Maksudnya kita sebagai manusia harus melihat kenikmatan yang ada di dunia dengan mengingat mati. Dengan demikian keinginan terhadap sesuatu yang nikmat akan hilang dan hanya menghadap Allah Ta’ala. Kita tidak menjadikan kenikmatan dunia sebagai target akhir, namun menjadikannya sebagai target antara untuk mencapai kenikmatan akhirat sebagai target akhir. Begitulah kiranya seperti apa yang di ungkapkan oleh Ahmad Taufik Nasution dalam bukunya ‘’Melejitkan SQ dengan Prisip 99 Asmaul husna.’’ Artinya, kita tidak terlalu mencintai dunia dengan menumpuk harta, namun menjadikan harta sebagai jalan untuk bertaqwa pada Allah. Sehingga tidak akan ada rumah – rumah yang mewah berlebihan, dan lain sebagainya. Pentingnya mengingat mati sudah dijelaskan di banyak bacaan akurat, namun tentunya kita tidak hanya di anjurkan untuk mengingat mati, menangis tersedu sedan tanpa mempersiapkan kematian. Merpersiapkan amal baik sebanyak – banyaknya untuk hidup kelak setelah kematian. Memang tidak mudah. Tapi Allah membuat kita mampu.

Sudah siapkah kita mati? Benar – benar sendiri dalam gelap gulita saat kapanpun Allah mengangkat kita dari alam dunia. Kita hanya kaku, hampa, tak berdaya, dan memilukan. Tangisan riuh terdengar. Lantas jasad kita di mandikan hingga di kuburkan, ditimbun dengan tanah. Memasuki alam baru, barzah. Mereka, tetangga, sahabat, bahkan keluarga kitapun tak mampu menolong kita. Hanya amal baik, syafaat Rasul, dan rahmatNya yang dapat menerangi kita, membawa kita kepada kebahagiaan hakiki, yang sebenarnya. Seperti yang telah termaktub dalam lauhul mahfuz. 

Lalu, sudah siapkah kita mati? Sementara kematian tidak akan pernah menanyakan ‘’Sudah siapkah kamu mati?’’ Kematian bisa menjadi hal yang begitu mengerikan, namun kematian juga dapat menjadi jalan menuju kebahagiaan abadi, yang indahnya tak terperikan. 

Semoga Allah senantisa menjadikan kita manusia yang selalu ingat akan kematian yang bisa datang kapanpun tanpa bertanya, dan senantiasa membimbing kita dari dunia yang penipu ini. Dunia yang penipu ini!
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Tomato
  • Yang Ga Diminta Aja Allah Kasih, Apalagi yang Iya
  • Air Zam - zam
  • Oretan Akhir Periode
  • Not Fair
  • Door Duisternis Tot Licht
  • Obsesi?
  • DAY 7 - Bersih-bersih dan Silaturahim
  • Kapan Nikah?
  • Rindu Rasulullah

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates