Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us



Aku itu orang yang, bagiku, mudah mengapresiasi orang lain. Juga mudah belajar dari siapapun itu, baik dari latar belakang usia, pendidikan dan lain sebagainya yang berbeda. Bahkan dari hewan dan tumbuhan sekalipun. Apalagi saat ku temukan seseorang yang dianugerahi ragam prestasi dan datang dari keluarga yang kurang beruntung dan tidak memiliki banyak akses. Tapi masih terus bekerja keras untuk mendapatkan hal-hal yang tidak mudah diraih oleh rata-rata orang. Nilainya nyaris 100, bernilai sempurna jika menjadi sosok yang dekat dengan Tuhan-nya. Lalu secara 'alamiah' menginspirasi banyak orang untuk mendekat pada-Nya juga.

Namun ketika ternyata seseorang yang dikagumi (banyak orang) itu memiliki etika yang buruk, seperti sombong, angkuh dan tidak mau melihat orang lain bertumbuh, bahkan merasa tersaingi dan takut orang lain akan lebih dari dirinya, bagiku, di mataku dia kembali bernilai nol. Ini hanya ungkapan personal.

Sebab pada akhirnya kita tidak bisa menjadi hakim, karena Allah-lah yang maha membolak-balikkan hati manusia. Setiap manusia punya kecenderungan untuk bersifat dan bersikap sombong, dan yang bersikap sombong juga punya kesempatan untuk berubah dan menjadi pribadi yang jauh di rendah hati.

Sungguh, kita tidak akan pernah tahu hari esok. Bukan, bukan berarti kitalah yang paling suci dari sombong. Tapi yang harus kita pelajari adalah berusaha dan berdoa semoga Allah tetapkan hati kita pada etika yang baik, pada kebaikan, hingga wafat.
Benar. Allah SWT memberikan apa yang kamu butuhkan. Bukan apa yang kamu inginkan. Bahkan seringkali Dia memberikan apa yang tidak pernah kamu langitkan. Juga memberikan semua yang kamu mau di waktu yang tepat dan dari cara yang tak pernah kamu sangka. Sungguh, Dia Maha Mengetahui.
Setiap lembar kehidupan adalah lembar pelajaran yang begitu berarti. Hari ini aku jadi belajar kembali. Ternyata, salah satu sosok hebat adalah mereka yang senang melihat orang lain bertumbuh. Bahkan meski orang-orang itu akan jauh lebih 'hebat' dari dirinya.

Tak mudah memiliki jiwa yang besar seperti itu. Jiwa yang kokoh, tak mudah runtuh. Ada yang dianugerahi kebersihan hati sejak dini. Ada pula yang malah dihantui rasa iri dan dengki. Secara tidak sadar sedang merasa tersaingi saat yang lain bergegas memperbaiki diri.

Tak mengapa. Jika tidak disengaja, barangkali itu adalah perasaan yang manusiawi. Si manusia dengan banyak sisi. Kita hanya perlu selalu dan selalu belajar menata hati. Lalu berusaha memahami bahwa SEGALANYA berasal dari Sang Pemilik Hati. Kecuali hal-hal yang tidak Dia senangi.

_________

Aku seringkali dibuat kagum, oleh mereka yang tanpa tebang pilih mendukung. Sosok-sosok hebat yang seringkali ada di balik layar orang-orang yang katanya hebat. Mereka bisa menjelma teman, keluarga, sahabat, guru, atau bahkan orang yang tak pernah sekalipun mengenalnya.

Sebentar, kenapa aku menyematkan "katanya"? Karena justru barangkali orang-orang itu tak betul-betul hebat kala sudah beranggapan dialah yang paling mumpuni. Jadi tak pernah mau belajar memperbaiki hati lagi. Sebab telah merasa menjadi the one and only. Maksudku, barangkali, tiap kita pernah di posisi orang yang "sok" hebat ini. Setidaknya saat kita sedang sendiri dan tengah merenungi detik demi detik, hari demi hari, tahun demi tahun yang terlewati.

Itulah kenapa aku menulis catatan ini. Agar bisa selalu dibaca oleh diriku selama hidup di bumi. Kemudian menjadi peringatan keras agar selama itu, menjaga jiwa agar tetap waras. Sejatinya, tiap -tiap yang melekat adalah titipan. Bukan karena dirimu. Bukan karena kemampuanmu. Apalagi karena kehebatanmu. Kamu memang punya andil untuk berdoa dan berusaha. Tapi bukan kamu yang mampu menjadikan itu semua.

Maka, jika memang ingin menjadi manusia yang bermanfaat, lakukan step-nya sesuai keinginan yang selama ini kamu catat. Bukankah aneh jika kotor hatimu saat melihat orang lain beraksi dalam kebermanfaatan. Padahal cita-cita luhur membutuhkan kalbu yang 'bersih' dan lapang.

"Hmm, alhamdulillah, laa hawla wa laa quwata illaa billah. Selama hidup rasanya tak pernah iri melihat pencapaian orang lain," katamu. "Justru mereka membuatku terpacu untuk kemudian berlomba-lomba dalam kebaikan," lanjutmu. Eh, itu kan katamu. Ingat, setiap manusia tidak perlu luput dari kesalahan. Semoga Allah SWT senantiasa menetapkan hati kita pada kebaikan. Aamiin allahumma amin.

When I was little and asked what I wanted to be, I answered, that I wanted to be a useful human being. Although I wasn't sure what it means. I just often hear  a lot of people say that, over and over again.

After entering high school, I still didn't change that dream: I wanted to be a useful human being. It souds the same answer. But how I defined the sentence was more complex.

Entering the university, then became a graduate student after four years, who actually have the higher responsibilities, made that desire even more passionate.

But life won't just flat. Yes, we are all facing this moment together. The impact of this pandemic does not only affect our physical health, but also our mental health or even financial. Indeed, that's not the one and only factor. Each of us has our own ups and downs.

For me, "never stop raising our prayers and hopes". God has everything. he has endless spirit, unlimited power and strength, beautiful ways and whatever we dream of. With Him, we will always find a way. We will always find a way. No matter what, where, when, who, why and how.

Pada Desember 2020, aku memutuskan menghapus semua followers dan following-ku di akun ini (Instagram) dan hanya menyisakan lima puluh akun olshop. Entah apa maksudnya. I mean, maksud dari menyisakan akun-akun online shop itu. Sebab aku paham betul mengapa aku kemudian menghapus kebanyakannya.

Sampai hari ini, bagiku, setiap yang bernyawa masih terus berprogres. Ada pasang surut. Ada tanya-jawab. Berdialog dengan diri sendiri. Ini yang juga kerap aku lakukan. Salah satunya seperti, apakah benar aku mengabadikan catatan, momen, dan apapun itu karena Allah? Atau hanya karena egoku sendiri? Aktualisasi yang positif atau justru negatif?

Tentu pertanyaannya tak sesederhana dan sesedikit itu. Banyak sekali dialog yang akhirnya: Baiklah, cobalah mulai dari awal. Cobalah membuat album, diary, atau apapun itu tanpa pernah berharap like, comment, dan tetek bengeknya. Cobalah lagi belajar memurnikan niat, berawal dari hal yang---mungkin bagi banyak orang---begitu sepele ini.

______

Hari ini, aku sungguh tidak menyesali apa yang aku lakukan. Karena cara kecil itu mungkin bisa jadi salah satu jalan yang lapang (lagi dan lagi) agar aku tidak terlalu candu dengan gadget ataupun sosial media di dalamnya. Namun yang perlu aku garis bawahi adalah, networking itu penting, men-follow akun-akun kompeten juga bisa jadi sumber inspirasi. Tidak mungkin rasanya harus mengingat tiap alamat kala ingin menambah insight. Dan akupun telah menimbang itu sebelumnya. Belum lagi, teman-teman lama, teman-teman jauh yang dulu hanya terhubung lewat sosial media, kini cukup menetap dalam doa saja.

Begitu pula dalam kehidupan nyata. Tidak apa-apa jika harus membatasi circle. Tidak harus dipaksakan bila tak cocok. Jika memang tidak bisa membuatmu bertumbuh, kenapa harus tinggal? Maksudku, kitapun harus pandai menggali lagi makna 'bertumbuh'. Jangan malah makin 'berego'. WHAT ARE YOU TALKING ABOUT.

Ini sungguh bukan analogi yang kemudian menyimpulkan bahwa aku tak memiliki pertemanan yang baik dan mendukung di sosial media, maka hapus saja. Bukan. Justru banyak sekali yang (saling) mendukung. Aku hanya ingin belajar lepas dari: bergerak hanya karena sesuatu yang fana. Argh! Sungguh, teramat jauh keinginan itu dengan kondisi diri yang masih alpa. Hei, meski dengan merangkak, aku sungguh tak mengapa.

Jika 'kata' adalah kekuatan, harusnya perkataan memang diarahkan pada kebaikan. Pada perkataan, tindakan, tulisan yang baik-baik juga. Lagi-lagi, itu yang akan menjadi sebuah afirmasi positif, doa yang menjelma kenyataan.

Sungguh, aku kehabisan gagasan tentang kenapa kata-kata  pesimisme senantiasa dilontarkan, dan ditujukan untuk menggambarkan negara yang katanya mereka cinta. Ringan diluapkan begitu saja. Karena 'kata' dianggap sesuatu yang tak begitu bermakna dan memiliki dampak yang luar biasa.

Bukan. Ini bukan tentang satir, sarkas atau semacamnya. Ini perihal kebiasaan buruk yang dengan sengaja terus dipelihara agar negara ini tak jadi melangkah dan menjadi negara yang hebat.

Benar saja, Indonesia, katanya penuh dengan orang-orang yang maunya instan, sesak dengan manusia yang malas berpikir apalagi saat diminta membuka wawasan lewat bacaan. Warga +62 katanya.

Aku pribadi, tak suka negara yang dibela mati-matian oleh para pejuang diludahi sendiri oleh bangsanya. Meski 'hanya' lewat kata-kata. Meski 'cuma' lewat sosial media.

Jangan menyamaratakan segala hal. Apalagi memandang negara Indonesia baik itu masyarakatnya selalu negatif dari segala sudut. Karena pembentuk kepribadiannya adalah diri kita sendiri.

Momen Ramadan memang selalu luar biasa. Dari kecil, Ramadan senantiasa menjadi bulan yang paling dirindukan. Dikenal dengan bulan segudang keutamaan, tidak heran jika ada ungkapan bahwa rugilah orang yang tidak menjadi salah satu yang berlomba, meraih, atau paling tidak mendekatinya.

Pada akhirnya, memang semua terjadi atas kehendak-Nya. Paksaan diawal juga menjadi salah satu cara. Namun, bila kemaksiatan juga mengiringi. Maka beratnya langkah kaki yang tengah menuju pada kebaikan juga tidak bisa dipungkiri.

Itulah kenapa, bagiku, barangkali salah satu cara dahsyat untuk meraih keutamaan di dalamnya adalah terus bermuhasabah. Lagi dan lagi mengingatkan diri untuk menyucikan hati. Meski rasanya amat mustahil. Karena mungkin akan lebih mudah menyuburkan perilaku tak terpuji. Naudzubillah.

Walau begitu, sungguh, jujurlah, jangan mengelak, jika kemaksiatan-kemasiatan itu adalah gumpalan berat nan paling menyiksa. Perasaan bersalah pada orang lain karena menaruh su'udzan, misalnya. Beratnya rasa bersalah pada diri sendiri karena tak berusaha menata hati. Belum lagi, yang paling berat ialah perasaan bersalah dan malu pada Yang Telah Memberi Kehidupan dan Limpahan Rezeki.

Duhai, Ramadan. Jika diibaratkan 'sosok mulia' yang tiada hentinya menuntun pada kebaikan, maka pelukanmu tak hentinya kami tunggu-tunggu. Memeluk jiwa-jiwa yang renta di usia belia ini. Pada sepertiga malam. Pada lembaran ayat-ayat suci al-Qur'an. Pada balutan dzikir-dzikir panjang.

Eh, tunggu dulu. Tak hanya soal itu, dan jangan pura-pura lugu. Pelukan Ramadan juga sangat erat di tiap kita mencoba untuk tak menaruh kebencian pada orang-orang yang tidak sesuai ekspektasi, tak berburuk sangka, tak membicarakan kejelekan mereka sebab paham: bisa jadi kita lebih hina. Pelukan itu juga makin hangat seiring kian hangatnya sikap kita pada orang tua. Seiring usaha kita tak menyematkan iri-dengki pada siapa saja. Seiring uluran tangan kita untuk kaum duafa. Ah, berat bukan main sebab kita juga bisa memilih untuk melakukan kebalikannya.

Hingga kala Ramadan di tahun ini telah berpulang, barulah kita menyadari telah menjadi orang yang merugi karena tak mampu mengendalikan nafsu sendiri. Merugi karena terlalu berharap terhadap sikap dan perilaku orang lain daripada fokus memperbaiki diri. Merugi pada hal-hal yang hanya menguras energi, apalagi pahala. Benar-benar merugi.

Jangan bersedih, sebelum ia benar-benar pergi: kita selalu memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelukannya. Bagian yang tak kalah menggetarkan adalah saat memeluk. Sebab ia akan berulangkali berbisik: "Hati yang bersih adalah cahaya. Lupakan masa lalu dan fokuslah menjaga kebersihannya. Agar terang jalan-jalan yang kamu lalui. Memang tak gampang. Itulah kenapa penting banyak berdoa dengan jiwa yang lapang."

Di keluarga, kami tidak terbiasa merayakan ulang tahun dengan segala pernak-pernik yang biasa kita lihat, atau bahkan sampai mengadakan sebuah pesta. Paling mentok kita hanya mengucapkan selamat dan melantunkan doa-doa terbaik. Begitu saja sudah sangat membahagiakan.

Sedang menurutku, sebenarnya yang paling perlu diapresiasi adalah ibu yang telah melahirkan dan seringkali disusahkan oleh kita sebagai anaknya. Meski beliau tidak merasa dibuat susah. Apalagi tepat di hari lahir kita, beliau tengah bertaruh nyawa.
_______

Dulu saat masih kecil, aku, kakak perempuan dan adikku terbiasa saling membuatkan 'pesta' yang begitu sederhana saat tiba hari ulang tahun kita masing-masing. Kita akan riweuh menghias dinding, membuat kue ultah dari roti-roti kecil, menyiapkan penutup mata sebagai cara untuk memberikan kejutan, yang padahal sudah diketahui sebelumnya. Tak lupa kado-kado mungil yang terbungkus rapi berisi chiki-chiki berharga ratusan perak saja.

Adalah Mbak Aisyah, kakak perempuanku yang saat itu masih SD, mungkin kelas 2 atau 3, aku lupa tepatnya. Yang ku ingat, ia memang selalu punya cara-cara unik bahkan nyeleneh untuk bermain bersama adik-adiknya. Dia mampu membuat permainan yang seru walau hanya bermain di rumah. Permainan yang paling kusuka adalah "Tresure Hunt" yang entah ditirunya darimana. Ia mulai membuat peta dengan selembar kertas dan sebuah pena. Lalu kami begitu antusias mencari harta karun dan menyusuri tiap sudut rumah dengan interuksi dari peta itu.

Bahkan aku ingat, kami pernah begitu senang membuat dan menghias 'pohon natal'. Aku dan Mbak memotong sendiri bagian ranting tanaman di halaman rumah, yang memang kerucut bentuknya. Lalu kita mulai menghias dengan tali-tali ber-glitter sisa hajatan saat kakak pertamaku menikah. Sambil menghias, kita menyanyikan lagu jingle bells bersama-sama. Ampun, deh! Ada apa sih dengan anak-anak ini? 😆

________

Minggu lalu, aku bersyukur sekali menyaksikan adikku, Matus dan keponakanku, Muna mencuci piring dan masak-masak bersama. "Ciee, alhamdulillah, anak kembar kompak," kataku mengomentari mereka yang sibuk membuat kue. Awalnya ku pikir karena ada Rohman dan Anam. Ternyata tiba-tiba  saat kita berkumpul di Mushola, lampu dimatikan dan mereka menyanyikan lagu ulang tahun. Ibu spontan nyeletuk, "Kok malah nyanyi, bukan sholawat". Haha.

Mereka kemudian menyodorkan kue brownis buatan sendiri lengkap dengan tiga buah lilin berjejer rapi. Seketika aku terharu, dan ingin menangis. Namun urung karena direkam, suasana malah jadi mencekam. Hehe *canda. Diminta untuk meniup lilin, akhirnya ku tiup begitu saja---lucunya---tanpa berdoa karena aku bingung. Hehe. Kejutan tambah meriah diiringi teriakan merdu oleh keponakanku, Nuh dan tingkah gemas Daud.

Aku pikir hal-hal seperti ini tidak penting (maksudku hal-hal untuk saling memberikan sedikit perhatian, yang bentuknya tidak mesti berupa sepotong kue). Namun ternyata memang membikin haru. Aku sangat mengapresiasi niat baik mereka, waktu luang yang sudah dihabiskan untuk mempersiapkan, dan doa-doa yang dengan tulus dipanjatkan.

Namun hakikatnya, bagaimana pun cara kita memperingati hari kelahiran, semoga tidak lupa merenungi usia yang kian berkurang. Juga mulai melihat kembali, bahwa ada banyak hal yang perlu satu-satu kita syukuri. Termasuk saat Allah SWT anugerahkan adik-adik dan keponaankan yang baik dan tidak neko-neko, insya Allah.

_________

Setelah terharu, doa-doa dilantunkan, aamiin-aamiin diucapkan. Kita mengobrol ceplas-ceplos:

"Eh, iya. Ultahku kan besok," kataku bingung.

"Kan pake kalender Hijriyah," kata Matus menjelaskan.

"Hahaha, bagooos!!! Tradisi yang ngga islami, bisa ditutupi dengan ini, ya." Kami pun tertawa.

Di nyaris paling akhir obrolan, Matus tiba-tiba nyeletuk: "Jadi udah umur berapa, nih?"

"Kurang ajaaar!," ku jawab sambil melemparinya sebuah bantal.

_________

Anyway, perayaan tidak selalu berarti buruk. Sebab bisa saja menjadi sebuah jalan untuk bersedekah. Hanya saja, semoga kita tidak menjadi hamba-hamba yang melampaui batas dan masih berada pada jalur-jalur yang tepat. Aamiin. "Teruslah belajar, Nak."

Ironinya orang-orang yang seringkali menjadi orang-orang terdekat dan paling cepat membantu kita untuk bangkit lagi adalah orang-orang yang kerapkali mudah kita sakiti. Seperti kedua orang tua dan saudara.

Kalau sudah begini, kita harus memahami kembali apa arti hidup di bumi. Bagaimana cara untuk memperoleh mimpi (baca: surga) tanpa harus menyakiti.

Ini kemudian membawa kita pada ingatan betapa Allah SWT menjadi Dzat Yang Paling Dekat dan selalu ada untuk kita. Saat banyak yang meremehkan, Allah hadirkan kepercayaan. Saat banyak yang menjatuhkan, Allah menguatkan.

Padahal sudah berapa kali kita menyakiti Allah dengan segala perbuatan tercela rasanya tidak terhitung adanya. Meski itu tidak akan mengurangi sedikitpun keagungan-Nya. Karena sejatinya kita yang selalu membutuhkan-Nya.

Subhanallahiwabihamdihi agaknya tidak cukup untuk kita lantunkan 100 kali. Karena sepertinya dosa kita lebih dari jumlah buih di lautan, terlampau banyak sekali.

Kata Napoleon Hill, tubuh bisa mencapai apapun yang dipercayai dan dipikirkan oleh benak. Itulah kenapa banyak 'orang besar' yang mengawali langkahnya dengan mengubah cara berpikir menjadi lebih positif untuk kemudian dimampukan berkonsisten dalam berupaya. Lalu setelah sampai di 'puncak', mereka seolah tak percaya efek dahsyat dari kekuatan berpikir dan berucap.

Memang tak mudah, Nak. Tak mudah membiasakan diri untuk selalu mengatakan yang baik-baik. Apalagi saat ombak di lingkunganmu tak mendukung. Meski kerapkali kuat, kadang hatimu juga tergerus, atau malah mengikuti arus.

Benar, ini bukan soal kawasan elite atau kumuh, kalangan atas atau bawah.  Sebab seringkali kita dapat menemukan hangatnya optimisme dari sosok-sosok 'kecil' di luaran sana. Lalu tercengang kala lontaran-lontaran pesimis justru meletus dari beberapa orang yang katanya berpendidikan. *hanya permisalan.

Maka, seperti apapun kenyataan yang kini sedang kamu jalani. Teruslah mengatakan yang baik-baik pada diri. Hal-hal yang baik berawal dari kebaikan. Baik itu pikiran, perkataan maupun perbuatan yang kamu tanam. Seperti kata Allah SWT, bahwa Ia tergantung prasangka hamba-hambaNya.

Malam itu aku iseng mencari, barangkali ada acara yang bisa ditonton di TV yang nyaris tak pernah ku nyalakan lagi. Saat berhenti di acara berita aku langsung berpindah ke channel lain karena tak ingin pusing yang menderaku kian berpilin. Hingga akhirnya berhenti di sebuah film lama tahun 80-an. Film ini sangat populer dan fenomenal pada masanya. Pun tokoh-tokoh di dalamnya begitu lekat dalam ingatan masyarakat.

Seolah diri yang sudah terbiasa mengkritik dan mungkin setelah ditelaah barangkali bergeser menjadi nyinyir. Aku bertanya dalam hati "Ah, apalagi sih ini. Apa ada manfaatnya? Jangan-jangan hanya penuh dengan adengan yang mengedepankan aspek sensualitas sebagai bumbu." Begitu komentar dari seorang yang bahkan belum berbuat apa-apa untuk negeri, apalagi membuat film atau serial di televisi---spontan. Padahal itu bukan acara yang dibawakan oleh Komeng. *krik.

Aku jadi ingat potongan materi dari salah satu Komedian yang aku lupa namanya. Katanya, seringkali kita mencela sinetron tapi akhirnya ditonton juga. Hingga sinetron usai, sampai itu pula kita akan terus mencerca. Hahaha. Dan agaknya saat itu aku juga terjebak dalam potongan materi itu. Karena ingin lebih dalam mengkritik aku memutuskan untuk menonton hingga segmen awal usai. Tapi rasa penasaran ternyata membuatku menamatkannya. Bagaimana tidak, ternyata aku telah salah sangka. Untuk yang ini, bisa dibilang pesannya begitu menggugah dan related dengan apa yang aku alami. Setidaknya itu pendapatku.

Singkat cerita (versi lengkapnya bisa ditonton sendiri. Sebab sesuatu yang ditonton bolehlah sama, tapi perspektif kadangkala sangat berbeda. Ini hanya sudut pandang asal ala aku saja.) isi film berkisah perihal sebuah desa yang seolah diberikan kutukan dengan makin merajalelanya teluh. Awalnya santet dialami putri kepala desa yang belum lama dilantik. Seperti telah terskenario rapi oleh dukun yang sebenarnya dulu merupakan lawannya saat menjabat sebagai kepala desa. Di lain sisi, seorang gadis desa difitnah sebagai pelakunya, dia pemeran utamanya.

Cerita bergulir, sang gadis diangkat menjadi murid si Dukun, dengan dalih untuk membalaskan dendamnya---atas tindakan warga yang anarkis setelah termakan fitnah---yang sebenarnya adalah dendam dukun itu pada masyarakat desa dan lurah terpilih. Desa itupun kian semwarut seiring makin jauhnya masyarakat dengan amalan-amalan agama. Lihatlah, masjid berbahan kayu saja sudah rapuh dimakan rayap, berdebu dan nyaris ambruk karena tak ditempati apalagi dirawat. Sholat saja tidak, apalagi mengaji.

Sampai akhirnya datang seorang pemuda taat beragama dari kota yang heran dengan keadaan desa itu. Pemuda itu perlahan mengajak warga desa untuk kembali dekat dengan Allah SWT. Mengetahui hal tersebut si dukun tak ingin tinggal diam. Ia menghasutnya untuk kembali ke kota. Sang pemuda menimpali bijak, "Bagaimana aku bisa kembali ke kota. Disinilah aku dilahirkan." begitu kira-kira. Ternyata dia adalah seorang anak laki-laki yang hijrah ke kota dengan pamannya untuk menimba ilmu di sebuah pesantren. Lalu kembali ke desa untuk mencari adiknya, pemeran utama yang diperankan oleh Suzzana. Gadis baik nan jujur, keturunan baik-baik, namun harus sesat karena ilmu hitam dan guru yang salah. Ringkasnya, pemuda inilah yang menjadi perantara untuk memperbaiki kekacauan di desa.

Dari situ aku jadi merinding sendiri mengingat ternyata memang banyak benarnya. Tentang peran pemuda begitu besar sebagai agen perubahan. Kalau di dunia kampus, salah satu peran mahasiswa dalam masyarakat memanglah agen of change. Menimba ilmu hingga ke negeri orang, lalu kembali ke tanah kelahiran untuk memberikan perubahan ke arah yang lebih baik. Walau pada beberapa konteks, berbuat sesuatu juga bisa dari tempat yang jauh.

Seputar peran pemuda inilah yang membuat aku dan ibu kadangkala berbeda pengertian. Normal, karena zaman kita pun tidak sama. Kata ibu, belajar ilmu umum sekedarnya saja. Tapi tidak dengan ilmu agama. Benar-benar harus dikejar, di-upgrade selalu. Salah satunya dengan belajar di pesantren.

Walau begitu, beliau tetap tidak memaksakan kehendak. Contoh kecil, tidak memaksakan anak-anaknya mendapat nilai yang bagus di kelas, juara, atau bisa terlibat dalam ragam kompetisi. Mungkin karena memang tidak begitu sesuai dengan prinsipnya. Sebab sering sekali beliau bilang, "Yang penting sudah bisa adhuwâaghi rebbâ (Rebbâ dalam bahasa Madura adalah tradisi bersedekah makanan disertai dengan doa-doa, yang pahalanya diniatkan bagi orang yang telah meninggal dunia. Wallahua'lam), aku sudah bahagia." Inilah yang menurutku membuat kami tidak ambisius mengejar sesuatu. Meski ambisius memiliki banyak sisi.

Sedang aku berpendapat jika ilmu umum juga sangat penting. Sebab orang-orang amanah yang kelak diberi amanah akan membawa kehidupan yang lebih baik. Jujur, aku memang terkesan lebih mendukung untuk kuliah daripada di pesantren. Namun aku juga tidak menegasikan jika banyak yang dimampukan oleh Allah SWT untuk menjalani keduanya bersamaan. Tetap saja, ibu memiliki pendapat yang berbeda. Fokus (mondok) insya Allah akan mengantarkan pada sesuatu yang jauh lebih baik. Aku lagi-lagi tak begitu setuju walau telah mengetahui jika banyak lulusan pesantren yang dengan izin-Nya menjadi 'orang-orang hebat'.

Setelah menonton film itu, aku jadi berpikir lagi. Sangat betul ilmu umum itu penting, tapi ternyata ilmu agama juga utama. Lingkungan, guru, doa dan seterusnya adalah faktor-faktor penting pembentuk sebuah generasi. Pemahaman yang benar, akan melahirkan para agen perubahan yang arif dan bijaksana. Ngeri saat membayangkan generasi penerus nantinya makin anti ke masjid, misalnya. Tak seperti dalam film, masjid-masjid yang ada di desa-desa akan mentereng dan bagus-bagus, namun sayangnya S-E-P-I. Naudzubillah. Maka boleh jadi, mimpi ibuku yang sesederhana adhuwâaghi rebbâ adalah bentuk untuk tidak memberikan pressure, melainkan menuntut ilmu dengan hati yang lapang. Tapi siapa sangka, barangkali di balik itu ada doa-doa yang beliau panjatkan. Seperti lahirnya agen-agen perubahan sebuah peradaban.

Motor yang kupacu 'otomatis' berhenti saat lampu merah jalan raya menyala. Kulirik halus dan diam-diam seorang adik yang terdiam di trotoar. Membawa kemucing sebagai senjata ampuhnya untuk mengisi hari-hari. Aku tidak tahu banyak, jika mungkin saja aktivitas itu juga satu-satunya cara agar bisa membeli sepiring nasi. Yang aku tahu dia hanya terpaku disitu. Mungkin karena tidak ada mobil mewah yang bisa dilap. Berbeda dengan teman-temannya yang lain, yang terus mengamen dengan alat musik seadanya.

"Ah, betapa masih belia anak-anak itu. Wajah-wajah polos yang harusnya mengisi ruang-ruang kelas untuk berdiskusi, pusing dengan soal-soal, atau melayangkan pertanyaan-pertanyaan menakjubkan," ucapku lirih dalam kalbu. Hmm, lagi-lagi aku juga tidak mengerti. Apakah ini lebih karena ekonomi yang pas-pasan, atau memang sebuah pilihan. Sebab sebenarnya pilihan-pilihan berat memang selalu ada. Sama sepertiku, waktu itu. Mungkin. Sedikit.

Kala itu aku benar-benar tidak berniat untuk kuliah. Betul, mungkin aku lebih beruntung dari mereka yang sudah sejak dini putus sekolah. Namun yang ku maksud adalah aku yang tidak pernah berpikir bahwa pendidikan adalah hak setiap anak manusia, hingga patut diperjuangkan. Selain karena orang-orang di lingkungan desaku belum begitu familiar dengan berkuliah kala itu, aku memang berpikir ulang mengenai kemampuan orang tua untuk membayar.

Hingga guruku menyertai dengan pemahaman bahwa ada beasiswa, salah satunya dari pemerintah. Dan salah satu sarat untuk bisa lolos adalah dengan nilai yang stabil dan senantiasa meningkat per tiap semester. Itulah satu alasan kenapa aku berusaha sedikit demi sedikit memperbaiki pola belajar saat di MA. Karena aku paham, aku bukan sosok jenius dengan nilai yang gemilang.

Ku pelajari bagaimana teman-temanku mendapat peringkat. Bagaimana mereka bisa jadi 'pintar' di kelas. Mungkin aku juga sudah pernah bercerita. Jika bisa jadi aku adalah satu-satunya anak Bapak dan Ibu yang tidak pernah mendapat peringkat 3 besar di kelas di SD. Tapi ortu tak pernah mempermasalahkan. Lagipula, peringkat dan nilai itu adakala tidak penting. Namun kali itu, aku berpikir salah satu indikator untuk melihat progres belajarku adalah lewat tingkatan rangking.

Aku yang tidak terbiasa naik angkutan terlalu jauh sering mengalami mabuk kendaraan membuat sesampainya di kelas tidak fokus mendengarkan dan menyerap pelajaran. Saat guru tak begitu memperhatikan aku tidur-tiduran karena masih lemas. Tak heran kalau di semester pertama aku berada di peringkat ke-20. Karena terngiang syarat beasiswa, aku tertatih memperbaiki cara belajarku. Mulai dari mengisi berlembar soal si LKS meski tak ada yang meminta---yang aku pelajari dari Aisyah, teman sebangku-ku yang begitu rajin. Kita bagai langit dan bumi.

Aku juga belajar untuk jujur dan tidak mencontek dari Azizah, teman yang tempat duduknya pas di depanku. Atau belajar dari yang lain untuk berusaha aktif di kelas, meski lidahku begitu kelu. Saban hari minimal satu pertanyaan ku lempar pada guru-guru. Meskipun tak selalu berhasil karena seringkali merasa pertanyaan-pertanyaanku tak bermutu. Sungguh, yang ini jangan ditiru.

Di semester berikutnya, meski bukan perkara wow bagi orang lain, aku kaget bukan main saat ternyata masuk ke 10 besar. Hehe. Qadarullah. Aku jadi semakin bersemangat 'mempersiapkan' beasiswa mulai dari tahun pertama di sekolah itu. Singkat cerita, alhamdulillah, bisa lolos dan menjadi mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri di Madura.

Aku ingat sekali, di semester-semester awal perkuliahan seorang dosen mengisi sebuah mata kuliah dengan begitu apik. Cara mengajarnya membuat kuliah itu lumayan ditunggu-tunggu. Ku tulis "lumayan" karena tidak dengan tugasnya. Haha. Saat itu beliau menjelaskan rantai kemiskinan. Betapa salah satu cara untuk memutus mata rantai kemiskinan adalah pendidikan. Beliau menjelaskan dengan begitu rinci sebelum sampai pada kesimpulan itu.

Maka pendapat mengenai pendidikan yang tak penting menurutku kurang tepat. Pendidikan hanya melahirkan robot-robot dengan cara berpikir yang sama. Menjadikan manusia-manusia terdidik yang semata haus nilai yang tertera, lalu lupa nilai yang sebenarnya. Bahwa tugas (yang masih wajar sekalipun) di sekolah maupun dunia perkuliahan sama sekali tak ada faedahnya.

Justru dengan pendidikan, pola pikir kita lebih terbuka. Jadi kian paham bahwa belajar tak hanya dari buku, ruang kelas dan tugas-tugas di dalamnya saja. Namun tambahan-tambahan dari luar yang timbul dari keinginan sendiri tak kalah penting. Sistem pendidikan tak membuat rasa keingintahuan kita terbatas. Effort kita saat mengerjakan tugas dan menyelesaikan ragam persoalan saat masih berstatus seorang penimba ilmu adalah bekal mahal menghadapi tantangan baru di medan yang lebih luas.

Jangan berdalih: tingkat pendidikan tak jadi jaminan dapat pekerjaan, hingga tak mau menimba ilmu. Banyak yang berpendidikan tapi pengangguran. Hei! Harusnya pendidikan tidak hadir dengan tujuan yang sesempit itu, bukan. Bahkan katanya, tingkat pendidikan adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan. Maka maknanya agaknya tak terbatas.

Kita tahu bahwa pendidikan formal tak menentukan nasib seseorang. Masih banyak jalan lain untuk meraih 'kesuksesan' yang definisinya pun tak sama. Lebih-lebih lewat pendidikan dalam arti luas. Jadi, doaku untukmu duhai adik-adik di jalanan: "Bersabarlah, semoga Allah berikan padamu kehidupan yang lebih baik. Sebab kesempatan yang lebih baik dihaturkan untuk semua orang. Dan semoga lebih banyak dermawan yang peduli dengan masa depan anak bangsanya. Aamiin."

Aku berharap, mereka tak pernah berhenti berdoa dan berharap. Sama sepertiku dulu. Selalu berharap dan berdoa dibukakan jalan-jalan yang lebih baik. Tidak lagi berpikir orang tua yang akan membayar, tapi berganti "Allah yang akan bayar." Salah satunya lewat beasiswa. Juga bisa lewat beragam cara. Putus sekolah bukan berarti putusnya harapan. Justru akan ada lebih banyak waktu untuk belajar lebih banyak hal yang juga membuka pintu-pintu kesempatan.

Bagaimana kita mendefinisikan awet muda?
Apakah muda hanya terbatas pada penampilan, bagaimana cara kita berjalan, cara kita berbusana, bentuk tubuh yang masih sama atau bahkan keadaan kulit yang belum mengeriput?

Maka sungguh dewasa ini banyak sekali produk-produk dengan dalih segudang manfaat. Ada yang memang benar-benar memberikan perawatan lahiriah, namun banyak pula yang bodong dan aji mumpung.

Lantas, sebatas demikiankah kita mendifinisikan muda?

Atau justru muda sangat terkait dengan jiwa. Tentang kita yang tetap semangat dalam kebaikan meski jatah usia kian berkurang. Kian memiliki hati yang luas. Kian bersikap dengan cara yang bijak.

Maka, jika kata "muda" selalu identik dengan "segar", harusnya awet muda adalah tentang kesegaran ide dan semangat yang selalu terjaga karena senantiasa diperbaharui.

Maka semoga kita tak jadi budak standar- standar yang seolah telah begitu lama mengakar. Atau akhir-akhir ini begitu erat digandrungi. Karena sungguh, kita punya standar kita sendiri. Standar untuk mendefinisikan banyak hal dengan lebih baik.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Tomato
  • Yang Ga Diminta Aja Allah Kasih, Apalagi yang Iya
  • Air Zam - zam
  • Oretan Akhir Periode
  • Not Fair
  • Door Duisternis Tot Licht
  • Obsesi?
  • DAY 7 - Bersih-bersih dan Silaturahim
  • Kapan Nikah?
  • Rindu Rasulullah

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates