Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Kami mengajar SD Langsar 1 dari pukul 09:00WIB hingga 10:00 WIB. Sedang nanti pukul 14:50 WIB saatnya mengisi bimbel (bimbingan belajar) di SD Langsar 2.  Siangnya membantu menyelesaikan prakarya. Kemudian usai membimbing anak-anak belajar membaca al-Qur'an di masjid dan sholat Isya' kami menghadiri undangan hadrah dari seorang warga. Akhirnya bisa ku simpulkan, jika kegiatan hari ini lumayan padat. Tidak seperti tahu bulat.

Adapun perkumpulan hadrah ini modelnya seperti sholawatan kemarin. Mereka membaca sholawat, untuk kemudian arisan. Hanya saja anggotanya terdiri dari bapak-bapak, juga laki-laki desa Langsar yang masih remaja. Dan biasanya hadrah ini sering diundang untuk memeriahkan acara khitanan, pernikahan, dan lain-lain.

---

Tumben sekali aku ikut acara seperti ini. Hehe. Kalau di rumah, Mbak pasti akan berkata, "Duh, kamu mesti ga pernah ikut." "hehe," aku cukup membalas dengan cengengesan.

Sebenarnya bukan karena aku tidak suka. Hanya saja kadang kala aku tidak menyukai keramaian. Atau mungkin karena masih banyak urusan. Seperti tugas kampus dan macam-macam. Lalu, jujur saja, dibanding menghadiri acara yang tidak srek dengan hatiku, maka aku akan lebih suka untuk berdiam diri di rumah. Bertapa. Haha.

Eh, bukan berarti aku tidak terlampau senang jika diajak jalan-jalan. Meski terkendala usaha, aku bahkan ingin menjelajah dunia. Aamiin yaa Rabb.

---

Aku tidak mengalami homesickness, tapi tetap saja aku ingin segera pulang. Aku rindu membantu Ibu, aku rindu membuat segelas susu untuk Bapak. Aku rindu memarahi Adik yang sering bermain handphone. Aku rindu membereskan rumah. Aku rindu saat Kakak perempuanku sebal karena tidak mau melihat hadrah dan acara lain. Aku rindu saat Ibu memanggilku berulang-ulang untuk makan, lalu aku masih sibuk menekuri tugas-tugas. Aku rindu saat Bapak menceramahiku karena sering telat makan. Dan lain-lain.

---

Ku lihat rombongan hadrah begitu bersemangat. Usai itu, kepulan asap menyeruak dimana-mana. Entah sudah berapa puntung yang telah tandas. Aku hanya ingin bilang jika tanganku sampai kebas. Tapi bahasan kali ini benar-benar masih tidak jelas.

Ku lihat sampah usai acara hadrah berserakan. Ku harap KKN ini tidak demikan.

Sumenep, 2017

Duh, paya. Anak-anak ini kek anak kecil. Hal kecil bisa dijadiin masalah. Hmm, semoga jodohku kelak tidak kekanak-kanakan, yaa Rabb. Anyway, konon jodoh adalah cerminan dari diri kita sendiri. Dan gue pada beberapa kesempatan juga kerap bersikap seperti anak-anak, hehe. Apa sih, Lut? Kalo kata Mbak Ais, "Tumben banget banget banget lu ngomongin jodoh". Lantas kalo kata Pak Andrie jawabannya, "Sialan", sambil ketawa. Aissh, ngefans ke beliau ga mesti semua kudu ditiru dong, Nak. Duh, paya.

Hari ini hari ke dua belas. Juga hari dimana tulisanku masih seputar curhat dan ga berbobot. Semoga ada pesan moral yang bisa diambil meski setitik. Kegiatan KKN kali ini ialah ngelanjutin pembuatan prakarya buat pameran nanti, 14 Agustus 2017. Kita bikin lukisan timbul gitu, dll pokonya.

Di entri ini gue cuma mau curhat (perasaan semua entri, deh.) pas betapa kagetnya temen KKN gue denger pengakuan kalo gue ga pernah yang namanya pacaran. Orangnya bener-bener ga percaya, katanya. Yah, mau apalagi, memang begitu nyatanya. Sebab, di keluarga, kalo emang komitmen mau pacaran nih ya, mending langsung nikah aja, ga usah sekolah. Nah, gue kan masih pengin sekolah, yak. Meski pada akhirnya, bisa sih kalo backstreet. Haha.

Kagetnya temen gue itu sebenernya ga seberapa dibanding kagetnya gue dulu pas awal tahu kalo hampir kesemua temen kampus itu punya pacar. Well, yah. Emang biasa aja, tapi gue tetep kaget. Berasa masih esde dan tabu dengan hal-hal kek gitu. Makanya kalo ada temen yang curhat tentang cowoknya, gue cuma bisa mende-Mmm dan senyum-senyum ngehargain. Ngedengerin cerita mereka yang menarik ato bahlan bikin bingung. Belum lagi kalo pas minta solusi gitu, nah loh.

Entah kenapa, temen-temen itu banyak yang milih curhat ke gue perihal apa aja. Kendati mereka tahu kalo pas mereka curhat perihal cowok gue lebih banyak diem dan ketawa nanggung dari pada ngomen. Katanya sih gue pendengar yang baik, ga banyak omong. Hade, padahal di rumah kadang bisa cerewet minta ampun.

Eh, balik lagi ke anak-anak alias temen-temen KKN gue (gue juga kali yak) yang kerap bersifat childish dalam artian negatif. Contoh kecil pas ngeributin masalah sepele, entah itu selera makan, lauk apa hari ini, dan lain-lain. Padahal nih ya, kalo mau mikir lagi, masih banyak hal krusial perihal KKN yang perlu diperbincangkan. Kadang, hanya karena aer galon isinya sekarat, mereka bakal ngelaknat siapa aja yang 'nimbun' aer minum ke botol. Akhirnya timbullah kubu di dalam kubu, duhduhduh.  Beli kan beres sih! Ga usah pada ribut. Apalagi cuma urusan perut. Dan gue dimasukin ke grup berdelapan orang. Haha. Ya masak gue mau exit group. Terus nih ya, misalnya piket masak yang udah ditentuin dan disepakati bersama jadi ga jalan cuma karena kasta. Haha. Dan berbagai hal sederhana yang lain yang pada akhirnya dibikin jadi masalah. Gue sebenernya tahu dari ngamatin-ngamatin aja, gimana sifat-sifat mereka. Jadi ga perlu ngomongin di belakang buat tahu karakter seseorang.

Makin kesini, setelah ngelewatin bertahun-tahun menimba ilmu di es-de, em-te-es, man, lalu kuliah (berkelompok, bertemen, pe-ka-el, dan ka-ka-en), gue jadi paham kalo emang karakter tiap orang beda-beda. Perlu dihargain, ato mungkin dilurusin. Sebelum itu ngelurusin diri sendiri dulu kali yak.

Nah, kalo ngomongin jodoh, rasanya kadang mikir sendiri, gimana ketemu seseorang yang bahkan tanpa pacaran tapi ngerasa klop karena mungkin punya banyak kesamaan. Sama-sama mampu berpikir dewasa dan menjadi anak kecil pada beberapa kesempatan. Bisa diajak ngakak bareng, cerita bareng, nonton bareng, belajar bareng, ngejelajah dunia bareng, ngewujudin mimpi gede bareng dll. Eh, kok jadi curhat? Lah, emang dari sononya. Yah, begitulah. Yang berpikir besar dan ga terlalu concern pada hal kecil. Meski kadang beberapa hal kecil perlu untuk dibicarakan. Ngomong apaan sih? Kok jadi geje.
Intinya, tanpa pacaran ya udah dianggep sebagai kebiasaan. Dan memang, bisa itu karena biasa. Bisa jadi biasa karena emang udah jadi kebisaan. Seperti awalnya aku yang kaget ngeliat hal demikian, sekarang jadi biasa aja meskipun tetep teguh pada pendirian. Tentunya ini bukan pendirian keluarga, mengingat usiaku tak lagi muda. Ini pendirianku. Aku yang selalu percaya pada janji-janji Tuhan, pada keajaiban yang telah direncanakanNya untuk hamba yang mau menjaga dirinya dari kemaksiatan yang kerap dijadikan kebiasaan. Aku yakin jika memang jodoh di tangan Tuhan meski kita juga perlu berdoa, sedang kesuksesan perlu diraih dengan doa yang tak pernah putus, harapan yang pantang pupus, usaha yang bertubi, dan rahmat Sang Ilahi.

Jodoh adalah seseorang yang nantinya mampu menuntun kita ke jalan taqwa. Maka ini bukanlah hal yang main-main. Membangun mahligai rumah tangga yang tidak hanya berorientasi dunia tapi juga akhirat. Menjadi, suami, istri, ayah, ibu yang bertanggung jawab. Sungguh, tanggungan yang amat berat dan kelak akan dipertanggung jawabkan. Maka, aku rasanya belum mampu untuk hal semacam itu. Aku masih perlu banyak ilmu. Masih mau bersekolah dulu. Menghilangkan kebodohan agar tak ada sesal dan pilu.

Sekian ngalor ngidul kali ini. Semoga Allah selalu merahmati kita. Aamiin.

Sumenep, 2017

Aku kadang ngeri sendiri membayangkan saat mereka mengepalkan tangan, lantas memekikkan kalimat; hidup mahasiswa! Padahal telat sudah dianggap kebiasaan, tugas kelompok lumrah dilupakan, lembar piket masak sekadar pajangan, apalagi PJ proker--hanya sebatas memenuhi loogbook, tidak dikerjakan dengan sepenuh hati karena hanya ajang penggugur kewajiban. Atau hanya tulisan yang mengalir di sebuah proposal dan tidak lebih penting dari oretan. Tidak perlu dipertanggung jawabkan. Yang lain sibuk, persetan. Aduhai, tidakkah mereka (juga aku) memahami bahwa hal-hal yang merela anggap remeh temeh seperti ini adalah tangga-tangga menuju puncak kesuksesan? Tidakkah mereka mengerti, jika banyak orang-orang yang mendamba perubahan? Tidakkah mereka menyadari bahwa bangsa telah menjadikan mereka sebagai harapan?

Lantas lihatlah, mereka (sekali lagi, juga aku) hanya piawai berbicara. Hanya pandai mengambil foto selfie bersama. Hanya lihai menonton drama korea. Hanya ahli mengolah kata. Sementara aksi tak ada. Ku pikir, kalimat; Tong kosong nyaring bunyinya, di sampul buku SD-ku dulu hanyalah sebuah isapan permen Relaxa. Ternyata,  disini ku lihat sendiri dengan mata kepala. Lalu memaafkan adalah cara untuk mendamaikan pikiran. But, still.. I can't wait "Rapat evaluasi" yang selalu mereka andalkan.

Ibu, I am not afraid to face the world because as you said that Allah will always be with me. Ibu, disini aku mengenal seseorang yang tidak banyak bicara, tapi aksinya benar-benar nyata, tak kenal pamrih bahkan meski hanya sekelumit tutur kata. Menggunjing adalah perilaku sampah baginya. Aku belajar banyak darinya, Bu. Ah, bukankah kita bahkan bisa belajar dari hal buruk sekalipun?

*reminding my own self🎈

Sumenep, 2017

Desa Langsar adalah sebuah desa yang memiliki wilayah paling luas dibanding desa lain yang ada di Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep. Selain fakta tersebut, ada fakta yang membuat pemandangan anak kecil yang masih duduk di bangku SD sudah mengendarai sepeda motor secara mandiri ke sekolah. Ini tak lain terjadi karena jarak dari rumah menuju sekolah yang relatif sangat jauh. Pun jarak antar rumah ke rumah juga tidak dekat. Inilah yang akhirnya membuat hampir seluruh anak kecil desa sudah mahir menyetir "honda".

Kenyataan yang membuat bangga beberapa orang tua. Padahal di balik itu sebenarnya ada pesan moral yang perlu diingat. Ialah hendaknya orang tua mengerti, jika mengendarai kendaraan bermotor bukanlah perkara yang patut diremehkan. Perlu perhatian agar mereka mampu menggunakannya dengan cara yang tepat. Karena sebetulnya, mengemudi seperti itu memerlukan kematangan emosi yang seringkali tidak dimiliki oleh seorang anak yang masih berusia belia. Dengan kata lain, setidaknya izin yang diberikan orang tua kepada anaknya untuk mengendarai sepeda motor adalah ketika mereka telah cukup umur. Sebab ada kewajiban dan tanggung jawab orang tua dan anak yang perlu digarisbawahi.

Aku juga berulang kali tertegun kala melihat banyak sekali anak-anak kecil di desa yang lebih sibuk berkerumul dengan gadget daripada buku. Sebenarnya, secara kurang ajar betul, pemandagan seperti itu telah kita anggap lumrah di lingkungan rumah kita, apalagi lingkungan sekelas kota. Baiklah, memang banyak daerah dengan orang-orang yang masih sangat peduli dengan minat membaca buku.

Lagi-lagi, seperti halnya alasan untuk mengizinkan anak mengendarai motor sangat dini, alasan untuk membelikan mereka gadget juga untuk memudahkan mereka. Tugas-tugas sekolah yang katanya akan lebih mudah dikerjakan dengan menggunakan benda sakti itu. Bagaimana tidak, jika orang tua sampai lalai, benda itu amat sakti mandraguna untuk mengubah watak anak. Anak yang tidak dipantau bagaimana cara menggunakannya bisa berakibat fatal. Segala apa yang ada di gadget yang sudah barang tentu terhubung dengan jaringan interner amat sangat perlu di saring untuk kemudian bisa dikonsumsi seorang anak.

Belum lagi, kemudahan-kemudahan yang bisa dinikmati dengan hidup yang serbak enak, jangan-jangan adalah cara kita untuk membiarkan otak anak berkarat. Malas untuk mengasahnya karena lebih peduli dengan bermain game yang memiliki sifat candu. Beda halnya jika benda itu digunakan sebagai mana mestinya. Hasilnya akan membuat orang dewasa terkagum-kagum. Salah satu contoh, kakak-beradik yang mampu membuat software.

Jangankan anak-anak, sebagai orang dewasa saja kita seringkali kewalahan mengontrol diri sendiri dalam hal penggunaan gadget. Kita juga kerap secara tidak langsung mengajarkan pada anak untuk malas. Seperti aku dan beberapa anggota keluarga yang biasa mengunakan motor saat berbelanja ke warung kelontong meski jaraknya amat dekat. Secara tidak langsung kita tidak mengajarkan untuk selalu berhemat, save energy.

Dulu, gerombolan anak bercanda tawa menyusuri jalan, bercerita riang, bernyanyi-nyanyi sepanjang perjalanan. Tak memikirkan sengat mentari yang membakar kulit dan perut yang terasa melilit. Mereka menikmati kebersamaan meraih ilmu dan

Kini, banyak kita temui kendaraan bermesin yang mampu mengantarkan kita kesana kemari. Tak ada canda tawa yang berlangsung lama. Saatnya pulang ke rumah dan sibuk dengan gadget masing-masing. Buku-buku hanya menjadi seonggok benda mati yang tidak berarti.

Sementara nun jauh disana, segelintir orang bersusah payah bertahan hidup. Jangan sampai pada kendaraan bermotor. Karena nyatanya anak-anak hanya belajar menggunakan lampu minyak. Tak mengerti gadget dan segala aplikasinya. Mata mereka tekun menyapu halaman buku. Tak ingin otak berkarat sewaktu-waktu.

Kaki melepuh, usai berkilo-kilo menempuh perjalanan, tak jadi halangan untuk mereka menjemput impian. Sekolah adalah tempat yang sakral bagi mereka, yang juga anak-anak bangsa.

Sekelumit kisah kehidupan mereka memberikan pesan tersirat pada kita semua. Bahwa jangan sampai hidup serba enak, membuat otak anak (juga kita) berkarat.

Sudah sembilan hari menetap di desa ini. Rasanya makin mengenal orang-orang yang ada disini. Terlepas dari dinamika kelompok yang acapkali bermunculan, perhatianku tertuju pada Mak Titik dan keluarga. Dengan ketulusan mereka pada kami. Ketulusan yang bahkan kami rasakan sejak awal. Terlihat jelas mereka ingin melayani kami para tamu yang lebih dianggap sebagai keluarga dengan sepenuh hati.

Lihatlah, meski kami telah membawa bantal, mereka membawakan pada kami banyak bantal lengkap dengan guling. Akhirnya, ini benar-benar keberuntungan untukku yang lupa bawa bantal dan cukup sulit tidur tanpa guling.

Saat mandi, mereka mempersilahkan kami untuk mandi terlebih dahulu tanpa takut tidak kebagian air. Maklumlah, persediaan air di desa ini amat minim. Air yang dibeli ini hanya bisa diakses dua sampai tiga kali dalam sehari. Namun mereka tidak pernah khawatir kehabisan karena kami. Mereka dengan raut wajah tulus mempersilahkan kami untuk mandi berapa kali saja, asal air masih ada.

Hingga suatu hari, saat rapat evaluasi kami memutuskan untuk mandi satu kali dalam sehari. Terkecuali saat kegiatan begitu padat, kami boleh mandi lebih dari itu. Keputusan ini akhirnya disepakati oleh semua anggota dengan lapang dada. Selain kita belajar menghemat, kita juga belajar untuk lebih menghargai air meski mandi sekali bisa jadi tidak sehat.

---

Mak Itik dan keluarga juga kerap kali menyiapkan hidangan istimewa untuk kami. Misal opor ayam, nasi kuning, kolak, gettas dan lain-lain. Hampir setiap minggu ini dilakukan. Entah karena ada hajatan, selametan atau sekedar kerja bakti membersihkan balai. Walaupun kami tidak ikut andil dalam beberapa acara, Mak Itik dan keluarga tetap berbesar hati mengantarkan hidangan lezat itu ke posko. Kami akhirnya ikut membantu membawa makanan dengan perasaan sungkan saat diminta sebelumnya.

Saat ada keperluan, kami ke rumah Mak Itik untuk bertanya. Seperti saat butuh selang kamar mandi, ember untuk mencuci, alat pel dan lain-lain. Lalu Mak Titik seketika meminjamkannya  pada kami.

Pernah sekali waktu aku meminta maaf padanya karena telah banyak merepotkannya. Beliau hanya berkata, jika kita adalah keluarga maka tak baik jika merasa direpotkan.

Hmm, dari Mak Titik dan keluarga aku belajar arti ketulusan. Arti kekeluargaan. Seperti tulusnya seorang Ibu pada anaknya. Seperti tulusnya Ayah pada putrinya. Seperti tulusnya guru pada muridnya. Seperti tulusnya hamba pada rajanya. Dll.

Apapun itu, semoga Allah membalas berkalilipat kebaikan Mak Titik yang telah mengajariku sifat tulus. Memberikan anugerah kesehatan dan dimudahkan segala urusan. Aamiin.

Saat menjejakkan kaki di tanah SDN Langsar 2 itu, hatiku memunculkan berbagai perasaan yang campur aduk. Entah itu nostalgia saat masih belajar di SD beberapa tahun silam. Atau karena banyaknya kenangan yang mengiris hari maupun mengesankan, menyenangkan. Belum lagi melihat wajah-wajah guru SD khas kebapakan ataupun keibuan. Keikhlasan yang terpancar lewat jari-jemari yang tak henti menggoreskan kapur di permukaan papan berwarna hitam pudar. Duh, disini masih menggunakan kapur? Apapun itu, mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang dengan rela membagi ilmunya. Mereka adalah asa. Oleh karenanya, menjadi seperti mereka bukanlah hal gampang dan patut diremehkan. Sebab mereka tidak hanya bertugas untuk mengajar, tapi juga mendidik.

Pandanganku juga menyapu para wajah siswa-siswa yang polos. Di sini adalah salah satu tempat yang menentukan karakter mereka, bobot mereka nantinya. Tempat dimana mereka harusnya tidak dibatasi untuk berkreasi. Karena mereka melakukan semuanya dengan keinginan dan kemampuan berbeda yang dimiliki setiap manusia. Bukan lantas diseragamkan. Inilah susah-susah gampangnya seni mendidik sebagai seorang guru. Apalagi, ini sekolah dasar, dan mereka adalah penerus bangsa.

---

Aku yang hari ini berkata, "Sudah ga pa-pa, Dek." pada seorang anak kelas 5 yang masih menulis terbata sedang temannya sudah selesai dari tadi. Seorang temannya merasa bosan menunggu, mereka harus membaca bersama. "Duh, ini nih lama banget, Mbak. Dia belum pandai menulis." "Loh, ga boleh bilang gitu. Suatu saat siapa tahu adik ini (aku menyebutkan nama) lebih handal dari kita semua. Kita tidak akan pernah tahu, bukan?" ucapku.

Begitulah, menjadi seorang guru bisa jadi perkara yang amat sulit atau bisa menjadi mudah. Guru perlu memahami karakter dari murid-muridnya. Guru perlu memahami bahwa setiap murid itu memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Guru perlu memahami jika setiap murid itu sama, sama-sama spesial. Guru perlu mengebelakangkan kepentingan dan egoisme pribadi. Guru itu amat luar biasa. Jika ia adalah sebenar-benarnya guru. Terlepas dari ungkapan "Tidak ada manusia yang sempurna".

---

Katanya, akan lebih baik jika potensi diri dikenali sejak dini. Lalu aku jadi teringat aku dulu. Aku tidak mengetahui apa bakatku. Kecenderungan menyukai pelajaran bahasa Indonesia, menggambar, dan bernyanyi belum mampu menyadarkan apa potensi dalam diri. Aku selalu saja berpikir aku tidak memiliki hal yang spesial. Hingga akhirnya saat kelas enam, seorang guru memberi semacam kuis menghafal dan menjawab vocabulary. Bagi yang bisa menjawab, mereka akan mendapatkan beragam hadiah berupa coklat, jelly dan mie instan. Haha. Serius.

Dan secara ajaib, aku mendapatkan ketiganya: coklat, jelly dan mie instan. Itu artinya aku menjawab beberapa kali. Tapi saat itu aku belum menyadari jika aku ternyata juga menyukai bahasa Inggris. Saat di SMP, aku relatif lebih sulit menghafal bahasa Arab ketimbang bahasa Inggris. Saat di MI, aku sampai harus 'kabur' jika diminta hafalan. Beruntunglah, sekali lagi secara ajaib, di MAN aku malah mudah (alhamdulillah) menghafal bahasa Arab.

Sebenarnya tidak ada yang terjadi secara ajaib. Allah telah menggariskan sebuah potensi dan bakat di setiap diri manusia. Hanya saja kadangkala potensi itu tidak digali dengan baik. Malah tertimbun pesimisme, rasa takut, dan lain-lain yang bisa jadi berasal dari lingkungan dalam artian luas.

Disitulah, guru begitu penting perannya. Sebagai pelita yang mampu memahami kegelapan yang ada di setiap kepala murid-muridnya. Entah itu kegelapan yang disebabkan oleh kebodohan, ketakutan, kebingungan dan lain sebagainya.

---

Omong-omong ditengah hiruk pikuk sifat materialisme, menjadi seorang guru sama sekali tidak linier dengan itu. Seorang guru dipenuhi oleh keikhlasan dalam hatinya. Mereka hanya ingin berjasa meski rupiah tak seberapa. Ah, bukankah mereka tidak akan pernah menyinggung perihal rupiah. Mereka hanya ingin berpayah-payah. Tapi kemana kemuliaan untuk mereka? Lantas seperti apa bentuknya? Apa hanya berupa lemabaran uang yang tiada habisnya?

---

Mereka, guru-guru tulus yang amat berjasa. Maka muliakanlah mereka.

Sumenep, 2017

Sekitar pukul 08:00 WIB hingga selesai, kami berpartisipasi dalam kegiatan kerja bhakti membersihkan lapangan voli milik PBV Krisna. Kemudian kami berbincang-bincang dengan tiga tokoh petani muda. Aku dan beberapa teman mengobrol santai dengan seorang sarjana lulusan Sastra Inggris yang kini mengelola petak-petak lahan dengan menanaminya cabai merah besar, cabai rawit, daun bawang, singkong dan sebagainya. Ini merupakan langkah yang amat berani dan patut diacungi dua jempol mengingat Langsar sangat kekurangan air. Juga langkahnya sebagai sarjana yang tidak gengsi untuk berkontribusi dalam dunia pertanian.

Telah banyak aku ketahui di luar sana petani yang sukses mengelola pertanian. Mereka kebanyakan tidak berbasic atau berasal dari program studi Agribisnis, Agroekoteknologi dan sebagainya. Beberapa pengakuan yang pernah aku ketahui adalah karena mereka ingin berkontribusi. Membangun negeri. Tak ayal, kegagalan demi kegagalan adalah hal biasa yang mereka hadapi. Kini mereka memiliki berhektar-hektar tambak, lahan pertanian, dan lain-lain. Semua karena perjuangan, keyakinan dan doa yang tidak pernah pupus.

Aku jadi bergidik sendiri memikirkan apa yang bisa aku lakukan setelah lulus menjadi sarjana nanti. Atau mungkin sebelum! Semakin aku bertanya apa saja pada beliau, aku malah semakin bergidik membayangkan kelak. Tapi tidak. Ku harap Allah akan senantiasa menuntun dan menumbuhkan rasa optimis, pantang menyerah, tekun, ulet dan semangat.
Seperti lulusan Sastra Inggris itu, beliau begitu ulet. Bersama teman-temannya ia menggarap lahan itu sendiri. Tuturnya, saat nanti memiliki banyak pekerja, ia tidak akan sampai dibodoh-bodohi.

Iya, impian beliau adalah memberdayakan masyarakat sekitar. Dengan adanya lahan pekerjaan baru, diharapkan pengangguran semakin berkurang. Beliau hanya ingin berbuat sesuatu untuk masyarakat sekitar. Oleh karenanya, tantangan akan kesulitan air berhasil diatasi dengan melakukan pengeboran. Awalnya mereka bimbang air tidak akan muncul karena berdasarkan pengalaman masyarakat yang telah mengebor dengan kedalaman tertentu tapi air tidak muncul-muncul. Sedang biaya telah banyak yang dikeluarkan.

Akhirnya, memberanikan diri pengeboran pun dilakukan. Dan syukur alhamdulillah kini mereka tidak kebingungan lagi untuk mengairi tanaman-tanaman itu.

---

Siang ini kaum adam mengunjungi tempat mebel untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan untuk membuat plang desa. Itu adalah salah satu proker utama kami. Selain itu mereka juga mencari barang-barang sisa mebel tidak terpakai yang nantinya bisa dibuat beragam prakarya.

---

Sore menjelang malam, kami bergegas ke masjid yang tak jauh dari posko. Seperti biasa, kami membimbing anak-anak kecil yang begitu menggemaskan untuk membaca al-Qur'an. Dan bagiku, ini adalah pengalaman yang menyenangkan. Mendamaikan. Tidak hanya karena membaca al-Qur'an. Tapi juga lebih karena anak-anak yang begitu hangat, riang dan ngalem. Mereka menghafal nama kami satu-satu. Kendati aku hanya hafal beberapa nama saja. Mereka juga begitu cerewet bercerita apa saja. Sampai-sampai aku bingung hendak berkomentar apa. Karena kadangkala aku yang cerewet ini bisa sangat pendiam. Ga percaya? Ya, sudah. Hehe.
Adapun bagian yang cukup menyebalkan adalah saat mereka mencubit kedua pipiku. Hmm, apa ini karma karena aku kerap mencubit pipi Nuh, ya?

Sumenep, 207

Belajar dari KKN, kuliah, masyarakat, tugas-tugas survei, dan Ustazah keren yang ku ceritakan di entri sebelumnya, satu hal yang sebenarnya amat penting: "Belajar Islam dengan lebih sungguh-sungguh." Inilah yang akhirnya membuat aku memberanikan diri untuk belajar mengaji ke Ustazah yang biasa dipanggil Bunda itu. Bayangkan saja, mungkin sudah enam tahun aku tidak belajar mengaji pada seorang guru di dunia nyata. Semenjak lulus SMP alias MTs, aku hanya belajar membaca al-Qur'an secara otodidak dan belajar daru guru maya melalui mp3, ialah Syeikh Misyaari Rasyid, seorang ulama besar.

Aku telah mengajak beberapa teman, tapi mereka enggan. Katanya takut, karena beliau memang terlihat begitu galak pada murid-muridnya. Padahal aku tahu, hatinya begitu lembut. Teriakan dahsyatnya hanya untuk mendidik mereka. Aku sendiri adalah pribadi yang tidak suka disinggung apalagi dibentak, tapi dengn mendengarkan bacaan tajwid beliau beberapa hari yang lalu, membuat aku ingin berguru. Maka akhirnya usai kami membantu beliau mengajari adik-adik mengaji, aku mendekati beliau untuk belajar juga. Bim salabim, air muka beliau seketika berubah begitu manis, setelah berkenalan asal, aku mengungkapkan jika tajwidku payah, lalu beliau bilang itu tidak masalah. Akhirnya aku mulai belajar. Dan.. Alhamdulillah, banyak yang salah. Sekali lagi, bayangkan, sudah enam tahun aku tidak belajar mengaji pada seorang guru di dunia nyata. Lalu aku bertanya apa saja perihal tajwid pada beliau, seseorang yang begitu ramah. Tidak jauh dari kami, seorang wanita cantik sepantar denganku tersenyum. Ia adalah putri Ustazah itu. Hmm, dalam hati aku bergumam, aku telah lama mendambakan seorang guru seperti beliau.

Aku sebenarnya tidak kaget jika bacaanku banyak yang salah, meski beliau bilang "Ngga, kok. Kamu sudah pintar." Ah, aku benar-benar tidak mempan dengan pujian, aku hanya ingin belajar. Barangkali belajar al-Qur'an membuat aku mengamalkan sedikit dari apa yang disebut "Belajar Islam dengan lebih sungguh-sungguh."

Jujur, aku sangat malu karena sebagai orang yang hidup di desa harusnya aku mampu membaca al-Qur'an dengan baik dan benar. Lebih-lebih memahami maknanya. Dan yang terpenting mengamalkan isinya. Tapi aku tidak ingin larut dalam rasa malu. Aku akan terus berdoa, semoga Allah senantiasa mempertemukan aku dengan guru-guru terbaik. Aamiin Allahumma 'Amin.

Terkadang aku menangis sendiri, jika pemahamanku mengenai agama amatlah minim. Aku sempat menyalahkan diri sendiri, kenapa aku dulu tidak mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Tapi sebetulnya tidak demikian. Ilmu bisa kita dapat dari berbagai buku. Guru yang paling sabar. Meski memang, akan selalu berbeda orang yang pernah mengikrarkan diri dan hatinya sebagai seorang santri. Tapi apa guna menangis, jika buku-buku telah menunggu kebodohan perihal agama untuk ditepis. Wallahua'lam.

Sumenep, 2017

Selain saya bersyukur saya belajar di Agribisnis. Saya juga bersyukur karena telah menjalani PKL di P4S Persada Nusantara Lumajang dimana kami benar-benar ditempa. Adapun 'benar-benar' mungkin hanya dalam standar saya, seseorang yang begitu manja. Salah satu hal yang membuat saya bersyukur bisa belajar Agribisnis karena setelah saya melihat beberapa program kerja yang mereka (teman-teman KKN dari kelompok lain) usung berbau pertanian. Pertanian dalam arti luas. Inilah yang akhirnya membuat sedikit ilmu yang saya dapat inshaa Allah bisa bermanfaat. 

Saya hanya ingin mengungkapkan rasa syukur. Rasa syukur yang biasanya hanya saya keluarkan lewat senyuman kala berhenti di sebuah pertanyaan---saat berbincang dengan seorang lelaki parubaya di dalam bus. Begini pertanyaannya: "Loh, kok ngambil Pertanian? Kenapa ga ambil Teknik, Dek. Anak saya ngambil Teknik." Tapi sungguh, saya tidak akan mendikotomikan ilmu pertanian dan ilmu lain. Semua ilmu pada akhirnya akan sama-sama bermanfaat dan diperlukan. Setitik ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan sungguh amat bermakna bila masanya tiba. Contoh kecil seperti pada kegiatan KKN kali ini.
Negara kita adalah negara agraris dan maritim. Oleh karenanya, diperlukan orang-orang yang kompeten dibidang tersebut.

Saya memang tidak seperti teman-teman (sejurusan) saya yang sudah mengamalkan ilmu Agribisnis dengan baik sejak dini. Mereka berjualan, menanam, melakukan pengolahan, melakukan promosi, dsbgnya. Tapi hari ini, saya lagi-lagi bersyukur, karena diminta untuk mewawancarai seorang tokoh masyarakat yang dikenal melakukan pertanian terintegrasi dengan amat baik sore ini. Tak kurang dari puluhan tanaman katanya. Ini karena kebanyakan anggota dari kelompok saya berlatar belakang ekonomi dan komunikasi. Padahal saya sebenarnya tidak terlalu paham mengenai bercocok tanam. Tapi ya bagaimana lagi, saya tidak akan menunggu keajaiban dikirimkan seorang teman berjurusan Agroekoteknologi, kan? Hadapi saja. Bukankah kemarin telah belajar dibuat kikuk di hadapan puluhan hijabers? Sensasinya lebih dari sekadar mengunjungi poktan, hehe.
Karena kegiatan yang ada di Desa Langsar ini cukup padat, semua anggota pasti akan mendapat giliran untuk menjadi delegasi. Ah, sungguh, saya masih saja gamang. Benarkah bisa ber-Kuliah Kerja Nyata? Juga dalam masyarakat sesungguhnya nanti. Khususnya desa saya sendiri. Hmm, bismillah!

"Nyata..nyata..nyata..nyata.." Suara cempreng Spongebob menggema di telinga saya.

Sumenep, 2017

Bu Kades dan keluarganya begitu hangat. Kelak saat meninggalkan mereka, perasaanku seperti ditumpuki berkilo-kilo beban, berat. Mereka amat tulus, tanpa pamrih membantu kami. Memberi apa yang bisa diberi dan kami butuhkan. Kadangkala Ibu dari Bu Kades mengantar makanan ke posko kami, yang tak jauh dari rumah beliau.

Pagi ini, kami para wanita membantu memasak di dapur Bu Kades untuk kemudian nantinya dinikmatin bersama. Para lelaki membantu Bapak-bapak kerja bakti, mengecat dan sebagainya di balai desa.

Magrib ini, kami ikut belajar mengaji di masjid yang tak jauh dari posko. Sistem mendidik yang dilakukan Ustazah ini begitu memesonaku. Seperti halnya tempat belajar lain, sebelum mengaji mereka akan membaca doa terlebih dahulu, kemudian membaca asmaul husna. Uniknya, anak kecil berusia lima tahun pun hafal dengan cepat. Aku saja menghafal asmaul husna dan artinya saat duduk di Madrasah Aliyah. Lalu ada semacam sesi muhasabah. Ini juga bagian favoritku. Mereka akan ditanyai pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari lisan ustazah tersebut.

Pertanyaannya antara lain:
Siapa yang sholatnya masih bolong?
Kenapa?
Siapa yang orang tuanya masih bolong sholatnya?
Siapa yang masih berani melawan pada orang tua?
Siapa yang masih terbiasa bilang "Ah" apalagi membentak?

Pertanyaan itu bertahap. Dengan berani mereka akan mengacungkan tangan, seusia TK hingga SMP sekalipun. Mereka dengan berani mengakui kesalahan. Memnceritakan setiap detail alasan yang kemudian dibalas sang ustazah dengan nasihat yang begitu keramat. Sejak amat dini, mereka telah dididik untuk berani mengakui kesalahan, berani berbicara di depan umum dan berani berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Anak-anak kecil yant imut-imut itu bercerita dengan lucu. Dengan wajah polos yang membuat siapa saja yang berpikir akan terenyuh. Berpikir dan merenungi setiap dosa yang dilakukan diri sendiri. Satu lagi yang membikin aku takjub, saat di pertanyaan, "Siapa yang orang tuanya masih bolong sholatnya?" yang mengangkat tangan justru dua kali lipat lebih banyak. Tak pelak membuat ustazah itu keheranan. Kemudian secara spontan, seorang anak kecil yang imut dan lucu berkata: "Saya sudah meminta orang tua saya untuk melaksanakan sholat, Bunda (panggilan untuk Ustazah). Tapi tetap saja tidak mau." Kemudian meluncurlah nasihat yang begitu bijak. Nasihat apapun, yang menurutku disampaikan dengan baik dan tepat. Pemahaman dan didikan yang mengesankan. Teringat dulu waktu aku masih kecil, aku hanya belajar mengaji tanpa mengetahui maknanya, untuk apa, bagaimana, dana lain-lain.

Yang membuat aku lebih kagum lagi anak seusia PAUD sudah berani adzan dan iqamah. Mereka semua terlihat begitu menggemaskan, lucu dan imut. Yang laki-laki mengenakan baju koko lengkap dengan celananya. Yang perempuan mengenakan mukena warna warni yang menyegarkan mata. Duh, setiap momen ingin rasanya aku abadikan dengan kamera. Sayangnya, cukup tidak mungkin jika aku akhirnya harus membawa hape ke masjid. Akhirnya aku hanya bisa memandangi dan mereka tingkah imut nan polos mereka. Mereka adalah cikal bakal bangsa ini. Adalah penerus agama yang di nanti-nanti. Secara tiba-tiba timbul keinginan untuk menjadi seorang guru ngaji, agar aku bisa memberikan pemahaman yang sama atau mungkin lebih baik dan luas. Khususnya di desaku sendiri.

---

Aku menceritakan kisah indah di atas pada keluargaku. Tentang aku yang iri karena Langsar masih melestarikan budayanya, memiliki banyak kegiatan dan perkumpulan, mempunyai guru ngaji seperti beliau, dan sebagainya. Terang saja, desa sekelas Langsar yang langka air mampu memiiki banyak kesibukan demi melestarikan kebudayaannya dan lain-lain. Mungkin ini salah satu alasan kenapa Sumenep dan Pamekasan selalu lebih dielu-elukan daripadan Sampang dan Bangkalan. Hmm.

Komentar seorang saudara membuat hatiku seketika ngilu: "Ane sudah bikin kegiatan. Ente aja yang ngilang dan lebih memilih pergi ke Surabaya." ujarnya.

Kalau sudah begini, aku lebih suka bercerita pada hamparan padi ketimbang pada langit yang terlampau tinggi. Sebab aku akan selalu terlihat salah karena akan selalu lebih rendah. Sedang dengan padi, aku akan selalu merasa kurang menjadi orang yang baik bersama-sama.

Di hari keenam ini, aku berpikir bahwa belajar dari KKN, kuliah, masyarakat, tugas-tugas survei, dan Ustazah keren tadi, satu hal yang sebenarnya amat penting: "Belajar Islam dengan lebih sungguh-sungguh."

Sumenep, 2017

Alhamdulillah, semua pada suka bukuku. Bukuku? Eh tapi kok kita jadi baca novel berjemaah. Sedang kemarin ga mandi berjemaah *ups. BTW novel yang aku baca kali ini sarat akan dakwah di sepanjang aliran kalimat. Terselubung oleh metafora, jadi tidak terkesan menggurui. Ini novel best seller karya Sibel Serasan yang berjudul Fatimah Az Zahra. Setelah membaca bersama, kami akhirnya ketiduran secara berjamaah. Haefh.

---

Kami mengawali hari ini dengan melakukan percobaan produk lagi setelah sebelumnya melakukan percobaan sebelum masa KKN. Kali ini kami mencoba membuat nugget berbahan baku daging singkong dengan tambahan daun singkong dan rolade berbahan baku tahu juga dengan tambahan daun singkong. Syukurlah, kegiatan ini berjalan dengan lancar. Sekitar seminggu ke depan, sosialisasi akan dilakukan di Langsar tentunya. Sebelumnya kami ingin melakukan pengolahan buah Srikaya sebagai salah satu program kerja utama kami. Mengingat buah Srikaya yang paling unggul adalah dari Langsar ini, se-Indonesia, katanya. Namun karena belum musim buah tersebut akhirnya kami mengolah komoditas lain yang juga potensial karena merupakan komoditas yang mudah ditemui. Begitulah, hidup tidak hanya dipenuhi dengan rencana A, tapi harus ada rencana B dan lain-lain.

Kemudian siang hari aku, Afifa dan Ana didelegasikan oleh Koordinator Desa untuk menghadiri acara sholawatan rutin oleh Ibu-Ibu yang terlihat bak hijabers. Mereka menamai perkumpulan mereka Sholawatan Al-Barokah.
Mereka berhasil membuat kami bertiga kikuk. Afifa dan Ana benar-benar takut diminta membaca sholawat menggunakan microfon.

Setelah sesi membaca sholawat, tiba-tiba kami diminta untuk memberikan sambutan. Hah! Kita mengira hanya untuk memenuhi undangan seperti masyarakat biasa. Duduk manis, sholawatan dan mengikuti rangkaian acara. Dan akhirnya aku dijadikan tumbal oleh Ana dan Afifa. Benar-benar duo A yang amat tega. Aku mulai mengarang kata di kepala. Mengungkapkan apa saja yang kami sebut sebagai program kerja. Permohonan maaf karena hanya perwakilan yang memenuhi undangan. Dan lain-lain.

Sepulangnya dari sana usai berfoto bersama, kami cekikikan dan ngakak (jangan ditiru, muslimah kok ngakak, hihi.) mengenang ke-kikuk-an kami. Aku juga. Aku mengutuki mereka bercanda karena telah menjadikanku tumbal. Lalu mereka ngeles dengan santainya:

"Mending kamu, Lut. Aku ga bisa ngomong. Kamu tadi bagus."

"Dari mananya? Orang muter-muter gitu. Hufft." timpalku.

---

Malam harinya kami menyibukkan diri dengan mengadakan bimbing belajar bersama anak-anak SD dan SMP sekitar langsar. Kemudian beberapa menggarap buku desa sebagai salah satu tugas yang perlu dipenuhi. Akan tetapi alasan yang terpenting adalah sebagai semacam pemberian untuk Langsar. Naskah nantinya juga akan dipublikasikan lewat weblog. Aku membantu mengetik sedikit, hehe.

---

Perkumpulan Sholawatan Al-Barokah di anggotai oleh 40 orang dan didirikan pada tahun 2001. Ibu-ibu anggota tidak hanya berasal dari Langsar, tapi banyak dari desa lain seperti Kebundadap Barat yang akhirnya bergabung. Arisan adalah kesibukan lain yang dilakukan komunitas ini. Di dalamnya terdapat aturan-aturan yang ditegakkan demi keberlangsungan komunitas. Seluk beluk mengenai Sholawatan Al-Barokah bisa anda baca di langsar.blogdesa.net  *soon, hehe😅

Sumenep, 2017

Aku tidak masalah jika mereka menganggapku berbeda karena tidak ikut serta bermain uno, karena memilih sendirian ke kamar mandi, karena diam saat semua terlalu banyak bicara, karena aku tidak mau menggunjing seseorang, karena aku bersikap independen dan berusaha ramah pada setiap orang, karena aku sering kali tidak suka keramaian, kadang kala lebih sering menyendiri, dsb. Aku tidak masalah karena dianggap berbeda, seperti oleh kakak perempuanku hanya karena tidak mau ribut perihal baju lebaran, tidak mau sibuk memikirkan riasan, tidak mau membalas keburukan, dsb. Aku sungguh tidak peduli mereka melihatku seperti apa. Karena hakikatnya, akulah yang lebih tau seperti apa aku. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Pun aku akan menghargai setiap sikap mereka. Namun tenanglah, aku tidak akan pernah menuntut hal yang sama.

Sumenep, 2017

Jadi ceritanya pagi ini usai sarapan gue ngangkatin aer (aslinya sih air, tapi biar sok akrab gitu, hehe) dari tandon ke tempat nyuci baju. Soalnya nunggu aer dateng itu lama banget. Iya, di Langsar ini susah banget aer bersih. Butuh dilakukan pengeboran sedalam 90-100 meter dengn biaya mencapa 30-40 juta rupiah. Akhirnya, masyarakat Desa Langsar memenuhi kebutuhan aer sehari-hari dengan membeli dan menyimpannya di tandon berukuran besar. Menurut perbicangan yang gue lakuin dengan seorang warga, hanya tiga kepala keluarga yang memiliki sumur bor sendiri. Awalnya mereka ragu, Langsar memiliki sumber aer yang bisa dibor. Karena berdasarkan pengalaman, ada seorang warga yang telah melakukan pengeboran dengan kedalaman sekian tapi aer belum memancar juga. Namun pada akhirnya seorang warga berhasil dan diteladani warga lain.

Ini BTW kalo gue tiap ari ngangkat aer kek gini, inshaa Allah pulang KKN gue bakalan berotot yak. Hehe. Ga pa-pa lah, namanya juga KKN. Masak mau yang enak-enak. Eh, pengen gitu ya KKN di Papua, kulit menghitam karena panas (meskipun emang), belajar bahasanya, makan papeda dengan kuah ikan dan sambel khasnya (makanan mulu piliran loe --"). Hihi, semoga disini ga cuma pindah makan sama tidur. Kalo demikian gue mau pulang aja. Makan dan tidur di rumah, hehe. Eh iya, pas awal gue disini lucu aja dengerin aksen bahasa Madura orang sini, mirip dikit ama bahasa Papua. Sebenernya ga kaget juga sih karena di kampus gue sering denger Uus, Bismi, Mega, dan Hendra kalo ngomong. Tapi bagi gue lucu aja dengernya.

---

Dengan begini, gue jadi belajar buat lebih ngehargain. Soalnya biasanya suka boros make aer kalo di rumah, suka males mandi *ups, dan perilaku buruk lainnya. Disini gue bener-bener dilatih untuk pandai bersyukur. Salam save water!

Sumenep, 2017

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Tomato
  • Yang Ga Diminta Aja Allah Kasih, Apalagi yang Iya
  • Air Zam - zam
  • Oretan Akhir Periode
  • Not Fair
  • Door Duisternis Tot Licht
  • Obsesi?
  • DAY 7 - Bersih-bersih dan Silaturahim
  • Kapan Nikah?
  • Rindu Rasulullah

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates