Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Jarak tanam kacang panjang 65 cm. Mengatasi perebutan unsur hara antar tanaman merupakan salah satu fungsi dari jarak tanam. Mula-mula proses pelubangan menggunakan alat khusus pembuatan lubang. Kemudian memasukkan benih kacang panjang, masing-masing lubang dua biji benih kacang panjang. Lalu tahap penutupan kembali dengan tanah secukupnya. Jangan terlalu menekan tanah karena dapat menghambat pertumbuhan kacang panjang. Usai kegiatan tersebut tinggal menunggu kacang panjang tumbuh, kira-kira selama dua sampai tiga hari untuk kemudian dipasang ajir. Setelah itu hanya tinggal perawatan seperti memberikan tali untuk rambatan kacang panjang dan pengendalian hama dengan pestisida. Barulah menunggu masa panen dengan controlling dan pengendalian HPT.
***
Diakui Pak Machmud, menanam kacang panjang itu mudah. Perawatannya gampang. Belum lagi penanaman kacang panjang tidak hanya di lahan yang terdapat bedengan. Namun pada pinggiran pematang juga ditananami kacang panjang. Ini adalah contoh pemanfaatan lahan secara optimal. Hasil dari penanaman kacang panjang dapat membantu menambah income petani dalam kurun waktu yang relatif singkat. Dengan pemanfaatan pinggiran pematang, hasil yang diterima petani otomatis akan bertambah.
***
Hari ini peserta magang dari SMK PPN Tegalampel Bondowoso melanjutkan pemasangan ajir pada tanaman cabai merah. Maklumlah, lahan yang ditanami cabai sangatlah luas. Selepas menanam kacang panjang, kami membantu pemasangan ajir.
***
Kata ajir mengingatkan saya pada sebuah umpatan yang sepertinya sedang digandrungi khususnya oleh remaja. Maaf, barangkali dengan mengucapkannya pamor dan gengsi akan naik level. Ini bukan tentang judge the book from its cover. Atau menghakimi orang tanpa mengetahui isi hati dan peliknya hidup yang dilaluinya. Atau ngurusin orang yang belum tentu mau kurus (kata Cak Lontong). Atau mungkin berdalih: "Saya selalu melaksanakan tugas saya sebagai muslim. Saya selalu beribadah siang dan malam. Mengumpat hanyalah gurauan atau sebatas perkataan saja."
Tapi ini tentang saling nasehat menasehati sesama muslim.
Pendapat mengenai seseorang yang sudah sholat namun masih mengumpat pada sesama muslim hampir sama dengan saat seseorang telah ibadah (sholat, ngaji, sedekah dan lain-lain) namun belum menutup aurat. Keduanya menunaikan kewajiban yang hamblumminallah, akan tetapi belum pada hamblumminannas. Lalu bahasan hamblumminannas terkait dengan hamlumminannas.
Ah, nasehat ini saya haturkan pertama kali pada diri saya sendiri.
***
Sedih saat melihat adik-adik kita seiman yang mudah terpengaruh atau ikut-ikutan. Berpose menunjukkan jari tengah meski tidak memahami artinya, merokok dengan seragam yang masih melekat lantas berpose, memenuhi berita tentang video asusila, dsb.
Kita memang tidak bisa langsung menghakimi mereka. Karena sekali lagi, kita tidak pernah tahu peliknya kehidupan yang mereka lalui, pergaulan yang mereka jalani dan pengaruh yang mereka dapatkan.
Maka siapa lagi kalau bukan kita yang akan merangkul mereka?
Mencontohkan, menasehati dan mengingatkan dengan lemah lembut dan mauidhatul hasanah, sesuai dengan titah Rasulullah.
***
Islam itu agama yang detail sekali ajarannya. Sampai-sampai perkataan pun juga sangat diperhatikan dan dipelihara. Bukankah segalanya dari hal yang paling kecil. Berawal dari hal yang sering diabaikan atau diremehkan. Mengumpat kadangkala menjadi hal yang biasa, kadar kesalahannya diremehkan dan cenderung diabaikan. Maka, periliharalah keimanan kita, nilai-nilai islam dalam diri kita dari hal yang paling kecil dan mendetail. Dimulai dari diri kita, lingkungan rumah dst.
InshaaAllah, kita pasti mampu.
***
"Seorang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan pula orang yang keji (buruk akhlaqnya) dan bukan orang yang jorok omongannya."
-HR. Tirmidzi no. 1977, HR. Ahmad no. 3839 dan lain-lain.
.
.
Lumajang, 24 Januari 2017 @23:55 WIB

Adik-adik dari SMK PPN Tegal Ampel Bondowoso melanjutkan pemasangan ajir di hamparan bedengan cabai merah. Sementara kami melanjutkan pemasangan ajir pada tanaman kacang panjang yang tingginya telah mencapai sekitar 5-10 cm. Selain itu Huda, Dek Jokowi dan Dek Riko mengatasi persemaian sawi dan bayam yang terombang ambing tudungnya. Hal itu dikarenakan hujan deras plus angin yang terjadi dua hari terakhir tanpa adanya controlling. Mereka akhirnya menyempurnakan desain tudung agar lebih tahan pada serangan cuaca.Ini salah satu resiko yang dihadapi petani sayur di musim hujan. Menurut Bapak Machmud, keberanian berusahatani diikuti dengan insting akan risiko yang akan dihadapi.
***
Oretan saya kali ini agak berbeda dari oretan-oretan sebelumnya lantaran bersumber dari catatan kecil diskusi tadi malam. Biasanya saya hanya mengandalkan ingatan yang tak seberapa penuh atau sesekali bertanya pada Himma, Irvi, Huda dan Adik-adik jika lupa sebuah istilah, definisi ataupun cara. Materi pada diskusi tersebut meliputi: Perawatan (Pewiwilan dan Pemasangan Ajir) dan Pengendalian HPT. Pak Machmud bagi saya adalah dosen ulung beserta pemahaman prakteknya yang mumpuni. Usai presentasi, barulah bagian beliau memberi materi. Itu adalah saat yang paling mengesankan.
Btw, kali ini saya akan sedikit membagi sedikit pemahaman mengenai pemasangan ajir. Eh iya, agribisnis itu kan dari hulu ke hilir. Mulai dari Pengadaan input (hulu/off farm), budidaya (on farm), pasca panen dan pemasaran (hilir/off farm) dan Bank, Penyuluh, Koperasi, dll (Lembaga penunjang). Lalu kenapa di P4S kelihatannya lebih fokus pada budidaya? Why not? Kapan lagi? Mungkin saat ini adalah kesempatannya. Toh ketiga sub sistem tersebut berikatan. Pengertian sederhanya: akan lebih baik jika seorang pebisnis pertanian memahami proses budidaya suatu komoditas pertanian. Lebih-lebih prakteknya. Ini juga terkait dengan perencaan keuangan yang akan dirancang ataupun dikeluarkan nantinya. Misal, jenis ajir yang digunakan menentukan biaya yang alan dikeluarkan pada proses budidaya suatu komoditas pertanian. Mari kita bahas lebih lanjut.
***
Macam ajir terdiri dari tiga macam, yakni ajir aluminium, ajir bambu wuluh dan ajir dari bilah bambu ori. Ajir dari alumnium harganya berkisar Rp.20.000,- dengan umur ekonomis >10 tahun. Harga tersebut tinggal dikalikan dengan ribuan tanaman cabai merah yang ada di P4S. Di P4S membuat sendiri ajir dari bilah bambu ori yang bisa tahan selama 4 tahun. Panjang ajir bergantung pada tinggi tananam. Untuk cabai merah maks tingginya bisa mencapai 90 cm. Ajir yang biasa dijual di pasaran panjangnya 120 cm. Sedangkan yang dibuat di P4S sepanjang 150-200 cm. Alasannya agar bisa digunakan lagi karena saat digunakan lagi, bagian bawah akan diruncingkan kembali. Ini akan menghemat biaya produksi/budidaya. Penyimpanan ajir sebaiknya dalam gudang tertutup agar lebih tahan lama.
***
Pemasangan ajir agar tanaman tegak, kuat menupang buah dari tanaman, tahan gangguan hewan dan angin, dll.
Cara memasang ajir dengan menancapkan ajir disamping tanaman dengan posisi miring kearah luar bedengan. Semakin panjang ajir maka kemiringan 20-25 derajat sedangkan makin pendek, kemiringannya 30-40 derajat. Ini disesuaikan dengan pertumbuhan tajuk cabai merah. Pemasangan ajir harus memperhatikan bagian dalam dan luar bilah bambu. Bagian dalam berhadapan dengan bagian dalam dan sebaliknya. Pemasangan ajir diawal harus dimulai dengan bilah bambu bagian luar dst. Waktu pemasangan ajir pada saat tanaman belum berkembang. Jarak dari tanaman 5 cm agar tidak mengganggu perakaran dan mudahkan penalian. Karena setelah pemasangan ajir akan ada penalian dan pewiwilan.
***
Sekian sedikit bahasan yang saya bagikan mengenai pemasangan ajir dengan segala keterbatasan pemahaman dan catatan saya. Pun rekaman yang tiba-tiba stuck karena storagenya full. InshaaAllah, akan saya bagikan pemahaman mengenai perawatan (penalian dan pewiwilan) dan pengendalian HPT lain waktu. Karena sekarang waktunya untuk tidur. Wassalam~
.
.
Lumajang, 23 Januari 2017 @ 22:55 WIB

Hari ini adalah hari Minggu kedua. Tinggal menunggu Minggu ketiga, kemudian inshaaAllah di Minggu keempat kami pulang kampung. Aih, tidak semua dari kami tinggal di kampung. Saya ingat, Irvi tinggal di kota Sidoarjo. Hehehe.
***
Usai menonton TV dan menandaskan sarapan sekitar pukul 09:00 WIB kami kembali ke sekotak kamar bercat kuning ini. Saya dan Irvi berbincang-bincang mengenai masa depan. Pikiran kita tentang kedua orang tua kita masing-masing membuat pertanyaan meletup-meletup tak terduga.
Akankah kita membanggakan? Akankah kita bisa membahagiakan?
Akankah kita mempermudah keinginan?
Akankah harapan mereka bisa kita wujudkan?
Akankah peluh mereka bisa kita hapus dengan sapu tangan manis kehidupan?
Akankah kita dapat memberikan kemudahan?
Akankah kita bisa meloloskan mereka dari dunia yang kerap menekan?
Akankah semua cita menjadi kenyataan?
Akankah kita bisa menjadi penyejuk yang selama ini mereka impikan?
Akankah perjuangan besar mereka dapat kita balas meski hanya dengan secuil kebahagiaan?
***
"Tidak, tidak. Saya tidak akan membalas secuil saja. Saya akan memberikan yang terbaik yang saya bisa," pekik batinku.
***
Ah, kedua orang tua tidak pernah berharap ini itu pada anaknya. Mereka cukup bahagia melihat buah hati mereka bahagia. Mereka menyekolahkan, merawat, menyayangi, dan lain-lain tanpa pamrih. Begitulah apa yang pernah diungkapkan Bapak. Lalu juga terungkap lewat senyum manis Ibu.
***
Saya dan Irvi masih berbincang mengenai kita yang masih belum bisa menjadi apa-apa atau memberi apa-apa di usia yang perlahan mulai menua ini. Kita ingin memberi kebahagian tapi sejatinya kita sendiri tidak memahami definisi kebahagiaan. Sungguh tidak pas bila bahagia dikonversikan menjadi sebuah mobil mewah, rumah megah, makanan lezat, perhiasan mahal, dan benda-benda lainnya. Kenyataannya, bertebaran orang yang memiliki macam benda tersebut tapi belum merasa bahagia. Sementara kami ingin memberi sebuah benda hingga kedua orang tu kami bahagia menurut definisi kami. Padahal bukan itu yang mereka mau. Menurut saya materi memang penting buat mereka. Untuk sedikit membantu kehidupan mereka. Akan tetapi ada hal yang lebih utama, yakni kasih sayang. Kasih sayang yang kita salurkan lewat bantuan-bantuan ringan kita setiap hari, seringnya menghubungi mereka lewat telefon, mengunjungi mereka, kepedulian kita pada mereka, pelukan hangat kita untuk mereka, senyum dan tawa kita.
***
Jika berupa sebuah pemberian apa ya yang kira-kira pas untuk kedua orang tua saya?
Hmm, menaikkan haji mereka adalah impian yang sangat pasaran. Tetapi saat membayangkan itu terjadi, tak dapat dipungkuri saya bahagia. Saya membayangkan Bapak yang terkesan dengan perjalanan hajinya. Mengalir air mata haru di pipi sepuhnya.Bapak yang berulangkali mengucap syukur mengingat beliau adalah orang yang sangat pandai bersyukur dengan nikmatNya. Bapak yang mudah haru meski tak beliau tampilkan dengan tangisan melainkan diam seribu bahasa. Bapak yang selalu menghargai pemberian saya walau hanya sebotol minuman kesehatan. Lalu bayangan Ibu juga muncul dalam benak saya. Beliau pasti akan menangis haru kemudian memeluk saya. Ibu adalah sosok yang sangat susah ditanya ingin makan apa, karena jawabannya selalu: tidak ingin apa-apa. Ibu selalu menutupi sakit hati yang timbul karena perkataan ataupun perlakuan anak-anaknya. Ibu yang selalu membalas dengan penuh cinta. Ibu yang selalu ada. Ibu yang rela meyiapkan makanan saat saya pulang larut dari kampus meski saya telah setua ini. Ibu dan Bapak, saya tidak bisa menyebutkan semua kebaikan kalian. Terlalu banyak. Tak terbilang. Tak terhingga. Maka, meng-hajikan mereka adalah mozaik dari utuhnya mimpi saya.
***
Pun Irvi. Ia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Membahagiakan kedua orang tua adalah harga mati baginya. Sama dengan saya, pertanyaan "akankah/bisakah?" seringkali berkerumul dalam pikirannya. Ah, kami hanya wajib berusaha dan berdoa. Biarlah Allah yang mengatur.
Duhai Allah, berikanlah umur yang panjang dan berkah untuk kedua malaikat tak bersayap kami. Aamiin~
***
"Berbakti (kepada orang tua) adalah sebaik-baik pintu surga."
-HR. Ahmad At-Tirmidzi dan Ibnu Majah
***
Keraguan untuk membahagiakan kedua orang tua kerapkali muncul jika mengingat perilaku kita. Perilaku yang kerap mengeluh dengan masalah kecil, hendak menyerah dengan peliknya hidup yang tak seberapa, lelah dengan pahitnya perjuangan, malas belajar dan berdoa, dan yang terpenting makin jauh dari Tuhannya. Hmm, maka mendekatlah padaNya. Niscaya akan dipermudah segala urusan dunia maupun akhirat. Memang tak selalu mudah mendekat padaNya. Namun kita masih bisa berdoa, mengemis bimbingan dariNya. Agar diberikan kemudahan mendekat padaNya.
***
"Ingatlah selalu manisnya ketika sampai ke tujuan, maka pahitnya perjuangan terasa ringan bagimu."
-Ibnul Qayyim
***
Sore ini turun hujan deras disertai petir. Saya ingat, waktu kecil Ibu menyuruh saya membaca doa ketika ada petir. Di MI biasanya diajarkan untuk menghafal bermacam-macam doa pendek untuk berbagai hal. Kala itu juga mati listrik. Bapak tengah keluar rumah. Saat seperti itulah sangat menakutkan bagi saya ketika mati listrik dan tidak ada Bapak. Bapak belum juga pulang tapi petir terus saja menyambar dengan hujan yang makin mengucur deras, seperti sekarang ini. Saya dan adik-adik merasa takut, berselimut dan berkumpul di Musolla yang masih terbuat dari bambu bersama Ibu. Ditemani sebuah lampu minyak tanah buatan tangan. Sementara Ibu kembali menyuruh saya membaca doa itu meski telah berulangkali saya rapalkan. Begini bunyinya: Allaahumma laa taqtulnaa bighadhabika wa laa tukhlikna biadzabika wa aafina qobladzalik. Entah benar atau tidak tulisannya. Tetapi kini saya membacanya begitu di tanah Lumajang ini dengan rasa rindu pada Bapak dan Ibu. Terima kasih telah menyekolahkan saya ke MI (Madrasah Ibtidaiyah) disamping SD (Sekolah Dasar). Terima kasih untuk cinta kalian, Pak, Bu!
***
When I was just a little girl..
I asked my mother what will I be..
Will I be pretty?
Will I be rich?
Here's she said to me..
.
.
"Saya teringat lagu yang saya dengar dan lihat di televisi bertahun-tahun yang lalu, kini mengalun indah di telinga saya."
.
.
Que sera sera..
What ever will be will be..
The future's not mind to see..
Que sera sera..
.
.
Lumajang, 22 Januari 2017 @17:09 WIB.

Kegiatan hari ini dimulai dengan menyiangi pinggiran bedengan persemaian sawi. Hanya bagian pinggir karena untuk menghindari rusaknya bibit sawi yang baru tumbuh itu. Jadi akarnya rentan rusak. Kami takjub melihat bibit sawi yang bermunculan di permukaan tanah. Maha Besar Allah!
***
Setelah itu kami menyiangi kangkung darat yang hampir tiga minggu usianya. Bedengan-bedengan kangkung darat itu telah dipenuhi gulma yang tidak dikehendaki, menutupi tanaman kangkung. Sementara itu yang lain memasang ajir pada tanaman kacang panjang yang mulai tumbuh. Pemasangan ajir pada tanaman kacang panjang dilakukan dengan cara menancapkan sebilah bambu dengan posisi tegak lurus. Berbeda dengan tanaman cabai yang miring ajirnya. Ini disesuaikan dengan pertumbuhan tajuk.
Kemudian menjelang dzuhur, dengan cekatan adik-adik mulai mengambil pakan kambing yang terdapat di sekitar lahan.
***
Begitulah kriteria pertanian terintegrasi. Beragam tanaman ataupun ternak yang diusahakan. Saat konsep ini di aplikasikan oleh petani kecil maka mereka dapat mengambil hasil dari ternak jika tanaman tidak menghasilkan keuntungan, atau sebaliknya. Ini hanya sedikit kriteria dari pertanian terintegrasi. Jika kita ingin mempelajari lebih jauh, maka tidak akan habis-habis bahasannya. Itulah ilmu.
"Siapa yang menyangka bahwa ilmu itu ada akhirnya, maka ia telah salah sangka. Selalu ada ilmu lain di balik setiap ilmu."
-Dr Khalid Al Mushlih
***
Hujan turun makin deras. Kami tidur makin lelap. Hingga akhirnya sebuah suara membangunkan kami: tok tok tok!
Suara itu ditimbulkan oleh tangan Huda yang ia singgungkan dengan pintu. Ia meminta kami mengantarnya ke muka jalan raya. Ia hendak pulang kampung siang ini. Pas dengan hujan yang telah usai. Akhirnya saya dan Irvi mengantarkannya.
***
Kami melewati hamparan kebun Pak Machmud yang lain. Lahannya luas minta ampun. Terdapat tanaman singkong atau padi yang tumbuh subur. Bibit singkong yang ditanam berasal dari Kalimantan. Umbinya besar dan potensial mengingat permintaan singkong yang berkelanjutan. Ini karena selain singkong diolah menjadu pangan oleh parbrik-pabrik, singkong juga diolah menjadi pakan ternak atau pakan ikan berupa pellet yang kemudian di ekspor. Singkong juga dapat dijadikan bahan baku pembuatan bioenergy. Adapula yang mengolah limbah singkong menjadi biogas. Sudah tidak asing juga bagi kalangan inovator pangan tentang kripik yang berbahan dasar kulit singkong. Daun singkong, seperti yang kita ketahui dapat menjadi sayur pelengkap lauk dan nasi. Berbagai penelitian juga telah mengungkapkan beragam manfaat yang ada di setiap bagian tanaman singkong. Maka, karena ilmulah suatu hal bisa terungkap. Untuk kemudian memberikan manfaat yang lebih bahkan dari apa yang kita pikirkan sebelumnya.
***
Ilmu juga telah membuat kami sampai dengan cepat ke muka jalan raya menuju kota yang berjarak sekitar 5 KM dari tempat penginapan P4S Persada Nusantara. Siapa yang dulu menyangka bahwa dua roda yang dipadukan dengan mesin dan berbagai onderdil lain dapat mempermudah perjalananan seseorang. Menjadikan lebih efektif dan efisien. Ah, ilmu.
***
Saya dan Irvi kembali ke P4S setelah memastikan Huda telah menaiki bisnya. Kembali saya memandangi lahan Pak Machmud yang begitu luas. Lalu saya teringat perkataan beliau: "Saya ini dulu orang ga punya. Benar itu. Saya benar-benar ga punya. Tapi saya punya keinginan yang kuat. Saya bekerja keras. Saya lebih gigih apalagi sejak masuk SMK Pertanian. Saya harus bisa meraih cita-cita saya."
Maka, lagi-lagi karena ilmu, Kawan.
.
.
Lumajang, 21 Januari 2017 @12:12 WIB

Pemasangan ajir dilakukan dengan cara menancapkan ajir di samping tanaman cabai dengan posisi miring. Peletakan ajir juga ditentukan dari bagian luar dan dalam bambu. Keduanya belum saya tanyakan mengenai tujuan dan fungsinya. Karena Pak Machmud tengah bepergian mulai kemaren sore dan diperkirakan pulang beberapa hari lagi.
***
Untuk oretan yang saya pulikasikan ini saya ketik menggunakan hape sederhana saya. Pun proses editingnya. Saya biasanya mengetik di pesan dan menjadikannya sebuah draft. Limited kata yang bisa ditulis dalam satu pesan hanya 2 KB. Pernah saya salah memencet tombol kirim. Artinya pesan itu terkirim sebagai MMS. Dan yang paling penting, pulsa saya hangus.
***
Belakangan saya menemukan cara baru. Saya mengetik di via IG untuk kemudian menyimpannya di via WA. Kenapa? Karena mengedit di IG lebih mudah dari pada di WA dan pesan. Mudah menyecroll-nya. Kemudian limited kata yang bisa di tulis di via WA sangat besar.
Kelemahan mengetik di via IG adalah saat saya sedikit saja keliru menyentuhkan jempol saya. Ketika semua tulisan sudah saya block untuk saya satukan dan simpan WA. Saat itu saya salah menyentuh X dan tombol lain. Karena sejatinya hanya dua tombol yang menjadi penyelamat, yakni tombol cut atau tombol copy. Selain itu tulisan saya tidak akan selamat. Seperti saat saya telah mem-block semua lantas salah menyentuh satu huruuuf saja. Maka hilang. Pun kelemahan di WA. Sudah banyak yang saya simpan dari hasil ketikan di IG tapi saya dengan tidak sengaja menghapusnya. Haefh~
***
Tadi kejadian itu terulang. Saya sudah menyelesaikan catatan Day 12 dan terhapus secara tidak sengaja. Ini sudah kesekian kalinya. Biasanya saya menghela napas dan menulis ulang dari awal. Bayangkan jika saya telah menulis panjang selama hampir dua jam dengan proses editing tapi terhapus dan harus menulis ulang. Memang hasilnya tidak persis. Biasanya akan lebih pendek dan lebih tidak keruan. Akan tetapi saya tidak mau menyerah. Meski oretan saya masih ece-ece. Saya hanya ingin belajar menulis. Itu saja.
***
Hal itu tidak berlaku tadi. Saya kebingungan saya hendak menulis ulang. Saya kehabisan ide. Saya lupa apa yang akan saya tulis ulang. Benar-benar buntu.
***
Saya sampai meminjam laptop Himma. Saya memutuskan menulis ulang di laptop saja. Siapa tahu ide saya keluar. Tapi ternyata setelah saya menghidupkan laptop, pikiran saya justru makin buntu. Ditambah merasa mengantuk. Akhirnya saya memutuskan untuk mematikan laptop dan mencoba menulis di HP lagi. Sekarang 21:00 WIB, saya masih menulis ini. Entah apa isinya. Saya terus menulis. Moralnya adalah jangan mudah menyerah. Jangan mudah menyesal. Jangan ceroboh. Jangan berpikir bahwa sesuatu bisa jadi hanya sia-sia. Jangan ragu untuk selalu berhati-hati. Dll.
***
Benar kata seorang penulis ulung. "Kamu tidak bisa menulis? Ya tulis bahwa kamu tidak bisa menulis. Tulis terus, terus tulis."
***
Omong-omong oretan saya sebelumnya mengenai makin jauhnya nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari kita. InshaaAllah, lain waktu jika kata-kata yang tergabung dalam kalimat-kalimat itu muncul lagi akan saya tulis dan bagikan. Meskipun sekali lagi, masih ece-ece. ðŸ˜‚
.
.
Lumajang, 20 Januari 2017 @21:07 WIB.

Adalah pembuatan tudung kegiatan PKL di P4S Persada Nusantara hari ini. Tudung dibuat untuk menaungi bedengan persemaian sayur bayam dan sawi. Tudung terbuat dari plastik khusus dan bilahan bambu. Sebelumnya rangka tudung telah dipasang dengan rapi. Pemberian tudung untuk menghindari curah hujan yang tinggi mengingat sayur bayam dan sawi rentan terhadap penyakit bila kehujanan. Selain itu daun sawi bisa rusak atau robek saat terkena hujan.
Di waktu istirahat saya merogoh HP di kantong training dan menghidupkan mobile data-nya.
***
Tersenyum manakala melihat kiriman-kiriman di grup PKL 2017 via WA. Bagaimana tidak, teman-teman ada yang tengah mengikuti kegiatan transplantasi terumbu karang, diving, mendaki, memotret buah naga jumbo, memanen belimbing-belimbimg segar, mencicipi buah kakao langsung dari pohon, mencangkok pohon cemara, berkerumul dengan ikan hias, menjadi bagian dari pengelolaan agrowisata (petik apel, belimbing, jambu kristal, strawberry dan lain-lain), ngantor, belajar menjadi ahli hidroponik, menikmati hamparan kebun teh, belajar memanen melon, bersinggungan dengan salak pondoh, menyaksikan kopi yang masih di pohon, dan lain sebagainya. Sesekali saya menelan ludah, apalagi saat melihat kiriman mereka tengah menikmati akhir pekan di kota wisata. Duh, senangnyaaaa.
***
Bangkalan, Sidoarjo, Pasuruan, Kediri, Malang, Lumajang, Tulungagung, Jember, Banyuwangi, Yogyakarta dan Bogor. Itu nama-nama daerah yang tengah kami tempati belakangan ini. Kebanyakan dari kami berada di Malang dan Yogtakarta. Itulah sebabnya mereka bisa janjian untuk menikmati wisata bersama-sama selain menjalani rutinitas PKL. Hehe, sebenarnya bukan hanya mereka. Kita semua punya kesempatan yang sama. Di Lumajang sendiri ada banyak tawaran wisata alam yang menarik. Seperti Ranu Klakah, Ranu Pane, dekat dengan Semeru, dll. *Ah, bikin ngiler.* Namun sepertinya kita harus mengulik pelajaran semester satu dulu perihal budget line. Wekwew. Kita lihat setelah pesan-pesan berikut ini-lah! ðŸ˜‚
***
"Nyaman jarèya bâdhâ è orèng"
Maka, bersyukur adalah jalan yang tepat dan benar. Setiap orang akan mengalami suka maupun duka. Hanya saja kita perlu memiliki keinginan. Keinginan yang menjelma mimpi-mimpi. Mimpi yang selalu dibarengi dengan keyakinan. Yakin yang timbul karena usaha dan doa tak berujung. Karena tidak ada yang kebetulan di dunia ini, seperti apa yang diungkapkan Darwis Tere Liye dalam novelnya, Harun Yahya dalam karya agungnya dan Sang Maha Agung dalam firman-Nya.
***
Cukuplah bagi saya hamparan jeruk, hamparan kelapa muda, hamparan kangkung, hamparan sawi, hamparan bayam, hamparan padi, hamparan jagung, hamparan salak, hamparan cabai, hamparan singkong, hamparan sengon dan hamparan pisang menjadi penyejuk hati. Lalu tawa canda kami bersama adik-adik, senyum manis Bapak Machmud dan Istri, kejailan yang meluap-luap dan rasa tolong menolong yang kental menjadi penghangatnya.
Namun, sejatinya tak pernah cukup doa-doa yang kita panjatkan untuk sesuatu yang lebih indah dan luar biasa. Pun usaha-usaha yang kita torehkan demi mimpi mulia.
💪😄Syemangaaat!~
.
.
Lumajang, 19 Januari 2017 @15:05 WIB.

Sekitar delapan belas hari lagi semua ini akan menjadi oretan sejarah.
***
Tentang P4S Persada Nusantara.
Tentang adik-adik SMK PPN Tegal Ampel Bondowoso.
Tentang lahan tempat kami praktek.
Tentang masyarakat Lumajang yang berbahasa Madura.
Tentang terik mentari yang menjunjung nilai keeksotisan permukaan kulit.
Tentang butiran-butiran kecil keringat di dahi.
Tentang lelah yang kami biarkan melengos pergi.
Tentang dinginnya hujan yang menembus tulang.
Tentang gerimis yang memimpikan rindu.
Tentang nyamuk yang mengigiti kulit tanpa ampun.
Tentang tanah di sela-sela jemari kaki.
Tentang keikhlasan tangan yang menjamah obyek apapun.
Tentang lumuran lumpur di sandal jepit.
Tentang lelucon sesegar embun pagi.
Tentang tawa yang keluar boros.
Tentang berbagi hiasan senyum murah.
Tentang nyala semangat yang berkobar.
Tentang ketidakkenalan pada kata pamrih.
Tentang saling tolong menolong dan bekerja sama.
Tentang amarah yang mendengus sebal.
Tentang keluh kesah yang muncul malu-malu.
Tentang indahnya perbedaan karakter.
Tentang break time yang paling di nanti.
Tentang masakan yang dihasilkan dari pajangan lembar piket.
Tentang makanan yang asin atau terlalu manis.
Tentang kepulan asap dari secangkir kopi susu.
Tentang tape Bondowoso yang menjadi pencuci mulut.
Tentang begitu panjangnya sebuah diskusi.
Tentang begitu berkesannya sebuah diskusi.
Tentang kicauan burung yang merdu.
Tentang kekhasan bunyi aliran air.
Tentang kecebong yang berenang dengan riang.
Tentang kupu-kupu yang imut dan lucu.
Tentang musang yang mengendap-endap menggemaskan.
Tentang cacing tanah yang mampu mengeluarkan jeritan.
Tentang gatal tiba-tiba oleh ulat misterius.
Tentang rumput yang tak mau menyerah tumbuh meski disiangi.
Tentang hamparan kebun jeruk yang menggoda iman.
Tentang puluhan pohon degan yang menguji dahaga.
Tentang kangkung yang tumbuh subur.
Tentang cabai yang telah dipasang ajir.
Tentang barisan padi dengan jajar legowo.
Tentang salak yang durinya bisa saja menusuk.
Tentang ber-pickup singkong yang telah dipanen.
Tentang jagung yang menyaksikan langkah kaki kami.
Tentang pematang yang rela kami injak-injak.
Tentang Irvi yang tiba-tiba sakit pagi ini.
Tentang kabar duka bahwa Bibi Ibu telah pulang ke rahmatullah siang ini.
Tentang prensentasi yang sempat ditunda malam ini.
Tentang persemaian bayam dan penanaman kacang panjang sebagai kegiatan di hari kesepuluh ini.
.
.
Lumajang, 18 Januari 2017 @13:18 WIB.

Malam ini suasana Lumajang yang seperti di kampung sendiri dengan kebanyakan orang yang berbahasa Madura tidak membuat saya lolos dari homesickness. Gerimis dan hujan bergantian mulai jam 13:50 an hingga sekarang 18:51 WIB. Duh, gerimis mengundang rindu. Benar, tiba-tiba saja rindu suasana rumah, rindu orang-orang rumah, rindu segalanya tentang rumah. Terutama rindu Ibu dan Bapak. Rindu. Rindu yang hanya bisa saya salurkan lewat doa di hujan gerimis ini. Salah satu waktu terkabulnya segala doa.
***
Siang ini sama seperti siang-siang lalu. Usai makan siang tibalah satu-satunya waktu senggang hingga magrib menjelang. Mencicil bentuk dan isi laporan PKL agaknya menjadi pilihan kegiatan yang pas. Jangan bilang tidur siang terasa lebih pas setelah rutinitas mulai subuh. Lalu kapan kita akan berjibaku dengan laporan, Kawan?
***
Pagi ini rantai gembok masih melingkar di bagian tengah gerbang. Angkuh tidak mau membukakan jalan untuk aku dan Himma yang telah siap memburu tukang sayur keliling. Dek Jokowi telah saya misscall, niat hati meminta kunci gembok yang ada di ketua kelompok. Ini masih pagi agak buta (hehe) dan mereka belum kelihatan batang hidungnya. Hingga akhirnya terbuka juga. Kami bergegas belanja, memasak dan berangkat ke lahan. Di lahan kami melanjutkan kegiatan persemaian sawi. Mulai dari menggemburkan tanah kembali, menebar benih sawi, menabur daun pisang suir kering dan menutupnya dengan daun pisang utuh.
***
Pukul 19:06 masih dengan nada gerimis dan gema adzan nan syahdu. Saat antara adzan dan iqomah juga waktu terkabulnya segala doa.
Kawan, gerimis ini masih mengalunkan rindu. Pada Bapak dan Ibu.
.
.
Lumajang, 17 Januari 2017 @19:09 WIB.

Kegiatan kami (saya, Himma dan Irvi) diawali dengan menyiangi bedengan yang akan digunakan untuk persemaian sawi. Sementara itu Huda, Dek Hilman dan Dek Riko membuat rangka tudung dari bambu. Bambu yang digunakan adalah bambu yang sudah tua. Tudung terbuat dari plastik. Sedangkan fungsi tudung ini untuk menghindari tingginya curah hujan. Selain karena hujan dapat merobek daun sawi, juga karena sawi rentan terkena penyakit bila kehujanan.
***
Usai memasang rangka tudung, kami menyiapkan daun pisang kering yang disuir-suir sebagai pengganti jerami. Kemudian daun pisang yang tua dan masih hijau utuh dengan pelepahnya. Setelah bedengan bersih dari gulma, Huda menebar benih sawi secara merata lalu saya, Himma dan Irvi menabur daun pisang kering secara merata. Ini bertujuan untuk menjaga kelembaban benih agar mudah tumbuh. Setelah itu Dek Riko dan Dek Hilman menutup dengan daun pisang utuh sebagai sentuhan terakhir. Ini juga dilakukan untuk mengatur kelembaban, yang nantinya diambil lagi saat benih sudah mulai berkecambah dan tumbuh.
***
Perjalanan pulang dari lahan selalu lebih cepat daripada saat berangkat. Kita baru saja melewati lahan yang penuh dengan pohon sengon. Tiba-tiba adik-adik berhenti dan menemukan jamur merang tumbuh liar. Siap untuk mereka masak.
***
Piket masak sudah saya tunaikan. Sambil menunggu kamar mandi kosong saya mengisi log book. Saya mende-hmm saat melihat diary tugas Pak Andrie masih kosong. Saya bingung ingin mengisi apa. Yang lain telah memenuhi diary-nya. Tetapi pikiran saya tetap buntu. Tugas mandiri ini mengenai pengamatan pribadi terkait P4S Persada Nusantara dan masyarakat sekitar dari sisi sosial ekonomi dll. Saya tidak punya banyak bahan untuk ditulis. Sebab itulah, hingga hari ke 10 (jika dihitung dengan hari tiba) ini diary saya masih terisi satu lembar saja. Pas.
***
Saya "tidak punya banyak" bahan untuk ditulis. Artinya saya punya bahan namun karena sesuatu tidak saya tulis. Bisa jadi karena saya malas, takut salah dan lain sebagainya. Intinya diary saya itu akan tetap kosong jika saya tetap merasa seperti ini. Pun sama seperti jalannya diskusi malam ini. Pak Machmud kembali mengingatkan adik-adik lantaran diskusi selalu berjalan sama. Yang aktif orang yang sama. Yang ngomong orang yang sama. Yang bertanya orang yang sma. Yang menjawab juga orang yang sama.
Pesan saya untuk adik-adik: "Jangan takut salah. Hal terpenting adalah belajar berbicara, bertanya, berpendapat, menjawab dan lain-lain. Jangan malu. Kapan lagi kalau tidak dimulai. Jangan malas untuk sekadar menbuat pertanyaan. Buatlah target, minim di sebuah diskusi satu kali bertanya atau menjawab. Kalian pasti mampu!"
***
"Aih, pandai betul kau menceramahi orang. Isi diary-mu S E K A R A N G, Mbak!," bayangan Pak Andrie melayang diikuti kalimat di bagian bawah buku tulis keluaran percetakan ternama, yang berbunyi: DON'T PUT OFF WHAT YOU CAN DO TODAY TILL TOMORROW. Kalimat itu pertamakali saya baca saat duduk di bangku SD. Heuffh ~
.
.
Lumajang, 16 Januari 2017 @10:56 WIB.

Bukan karena masih pagi buta, tapi memang tengah mendung. Jam mengatakan angka 08:20 ketika semuanya sudah bersih. Irvi sudah membersihkan kamar mandi. Lantai sudah bersih karena sudah saya sapu dan pel. Peralatan dapur juga sudah bersih usai Himma memasak--hari ini piketnya. Pun kamar mandi cowok sudah Huda kuras sampai bersih. Menjelmalah kegiatan hari ini diawali dengan bersih-bersih sebelum akhirnya menikmati sarapan pagi.
***
Hampir berjenggot kami bertiga menunggu Huda yang belum muncul batang jarinya. Keadaan ini diperparah oleh ributnya cacing yang sedang konser. Ternyata Huda sedang sibuk mencuci baju. Kami curiga, ia mencuci baju adik-adik juga. Lamaaaa.
***
Di luar riuh sekali. Sekitar tiga rombongan keluarga datang menjenguk adik-adik sedari tadi. Minggu lalu ada sekitar dua rombongan. Menyenangkan sekali menyaksikan mereka. Bercerita apa saja. Berbagi rindu. Menguapkan haru.
***
Sekitar pukul 09:30 WIB kami selesai menyantap sarapan hari ini. Kami bertiga kemudian mengisi log book dan bersenda gurau. Hingga akhirnya--gelap.
***
12:04 WIB saya terbangun. Saya lihat Himma dan Irvi masih pulas. Usai mandi plus sholat dzuhur saya membangunkan keduanya. Kita harus memenuhi undangan silaturahim dari Pak RT jam 13:00 WIB nanti. Dek Hilman mengingatkan kami. Adik-adik yang laim juga sibuk bersiap-siap.
***
Jam yang kami gunakan tidak terbuat dari karet karena ada di handphone kami masing-masing. Pun hape baru yang dimiliki Dek Riko. Namun entah kenapa Jam 13:30 kita baru berangkat menuju kediamaman Pak RT. Hadeee ~
***
Fenomena jam karet mudah kita temui di negeri ini. Seperti mudahnya makan martabak telor, kecuali ada yang tidak suka bawangnya. Lantas masih sibuk memunguti potongan-potongan bawang. Atau semudah makan kacang, kecuali kalau mendapatkan kacang yang sulit dikupas. Lebih-lebih isinya zonk. Pahit. Hehehe. Iya, apa yang sebenarnya salah? Padahal kedisiplinan telah ditanamkan sejak kecil. Bahkan sejak lahir. Ibu selalu disiplin akan jam makan bayinya, kalau tidak si bayi pasti menangis. Sejak SD segala macam kedisiplinan juga bertebaran diaplikasikan. Jam masuk, istirahat lalu jam pulang. SMP kita semakin ditajamkan untuk mengimplementasikan apa itu disiplin. Lalu pada usia SMA semakin ketat rasanya aturan yang akhirnya menuntut kita disiplin. Sayangnya kadangkala semua hanya bentuk formalitas. Kita sulit menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Bahkan saat duduk di bangku kuliah, agen-agen yang sesumbar tentang kedisiplinan lewat orientasi mahasiswa dan sebagainya kerap membuat saya bertanya-tanya. Beginikah?
Atau contoh sederhananya, sesuai pengalaman saya saat ada pengajian. Acara selalu molor, entah karena persiapan panitia yang kurang matang atau penceramah yang telat datang. Entah karena jadwal yang padat atau kendala di perjalanan, kadangkala perlu dimaklumi. Tapi inilah nyatanya. Kenyataan yang tetap membuat saya bertanya-tanya.
Maka, bagian terpenting dari ilmu yang kita dapatkan adalah menerapkannya. Lalu bagian terpenting dari ilmu yang kita sampaikan adalah juga menerapkannya. Seperti apa yang sudah saya lakukan ini. Saya menyampaikan. Jadi saya memiliki beban/keharusan yang lebih untuk menerapkan.
***
Kenapa disiplin itu penting?
Singkatnya, seorang pebisnis bisa kehilangan uang dengan angka fantastis hanya karena keterlambatan beberapa menit. Di lain sisi, di era yang sudah seperti sekarang ini banyak kita jumpai pemuda yang rela menghabiskan berjam-jam masanya hanya untuk sekadar main game (italic) atau mengakses internet. Meskipun tidak dapat dipungkiri ada juga pemuda-pemuda yang mengharumkan negeri ini. Mereka kebanyakan adalah orang-orang yang pandai menghargai masanya. Jika berbicara tentang pemuda kadang membuat kita bergidik mengingat akan besarnya pengaruh seorang pemuda.sedangkan terkait dengan masa/waktu sebenarnya telah banyak diingatkan dalam al-Qur'an. Salah satunya dalam surah Al-Ashr.
***
Semua kembali pada kita pribadi. Ingin menjadi orang yang merugi atau menjadi orang yang beruntung.
.
.
Lumajang, 15 Januari 2017 @22:07 WIB.

Proses yang diperlukan untuk persiapan lahan bayam dan sawi cukup panjang. Hari ini tahap finishing. Penggemburan dan pemberian tudung di atas bedengan. Para kaum adam mulai mengambil bambu, lalu membuat rangka tudung.
***
Kami bertiga menyulam cabai bersama Ibu-ibu buruh. Mula-mula kami mengambil bibit cabai yang telah dibuat dengan sistem brownis oleh adik-adik SMK PPN Tegal Ampel Bondowoso. Menurut penuturan Pak Machmud, mereka memang ahli dalam pembibitan. Mereka telah tiga minggu magang saat kami baru tiba di P4S Persada Nusantara Lumajang. Oleh karena itu bibit-bibit brownis ini telah siap ditanam atau sebagai penyulaman.
***
Ibu-ibu buruh kali ini beda dengan pada saat pemupukan cabai kemarin lantaran menggunakan bahasa jawa. Saya jadi tidak leluasa untuk mengorek sisi sosial ekonomi--karena tugas dari Pak Andrie, hehe. Padahal sudah lama saya bertekad untuk bisa lancar berbahasa jawa. Bahasa unik itu bahkan banyak disukai dan dipelajari orang luar negeri.
***
Setelah itu, kami mencari tanaman cabai yang mati atau rusak untuk kemudian diganti dengan bibit yang baru. Teknik penyulamam dicontohkan terlebih dahulu sebelum akhirnya kami praktekkan. Tahap penyulaman dilakukan dengan: menggemburkan tanah pada sekitar lubang tanam cabai dengan menggunakan sabit; menyiram dengan air; mencabut bibit yang mati/rusak; melubangi tanah; memasukkan bibit baru; menimbun dengan tanah: menekan tanah ke arah samping agar akar tidak menggantung dan batang tegak; dan yang terakhir menyiram tanaman cabai kembali. Kriteria bibit juga harus diperhatikan. Pastikan bibit yang digunakan adalah bibit yang sehat dan memiliki kriteria: beruas sama; batang tidak pucat; daun tidak menggulung ke atas ataupun kebawah; dan lain-lain. Penyebab daun yang menggulung ke atas adalah mozaik. Sedangkan thrips membuat daun cabai menggulung ke bawah. Penyulaman ini dilakukan agar cost untuk pemupukan dan pemeliharan nanti tidak terbuang sia-sia karena banyaknya pohon cabai yang mati.
***
Omong-omong soal mati, malam ini tiba-tiba saja mati listrik. Presentasi ditunda kembali. Alasan lain karena Pak Machmud dan keluarga akan pergi kondangan. Jadilah kita di depan dua laptop untuk nobar bernuansa malam minggu. Tak seperti yang lain, saya sendiri biasa-biasa saja saat mendengar kata malam minggu. Namun beda lagi jika mengingat besok adalah hari minggu. Yes!~
.
.
Lumajang, 14 Januari 2017 @07:32 WIB.

Sebuah pesan menyerobot masuk ke handphone Jokowi--panggilan buat Dek Hilman--usai sholat isyak. Pesan itu dari Pak Machmud yang mengabarkan presentasi ditunda esok malam. Fiuuh~
***
Malam kosong hari ini ingin diisi apa. Sebenarnya bisa mencicil laporan. Atau menulis perihal sosial ekonomi di diary sesuai permintaan Pak Andrie--dosen pembimbing PKL kami. Atau mengisi log book (italic) hari ini. Atau mungkin membaca novel bahasa inggris sesuai saran Ana yang belum saya sentuh sama sekali. Eh Irvi mengajak saya nonton TV di aula. Sudah hampir seminggu disini, belum pernah nonton TV. Dan akhirnyaaaa, dari options tersebut saya memilih sebuah kebijaksanaan. Jeng jeng jeeeeng--tidur lebih awal. Hehehe. Jangan lupa baca doa biar bernilai pahala. Cuci tangan, cuci kaki dan gosok gigi juga. Hiaaa.
***
Sebelum ibadah--tidur--saya kembali mengingat kegiatan dan ilmu yang didapat hari ini. Kami membuat lubang, memasukkan benih, lalu menutupnya dengan pupuk kandang. Berbeda dengan cabai kemarin yang menggunakan pupuk kimia. Kegiatan boleh sama, namun ada ilmu baru yang kami ketahui baru-baru ini. Mulsa yang dipasang salah satunya berfungsi untuk menahan tumbuhnya rumput di sekitar tanaman. Kemudian potongan mulsa yang tertinggal pada saat proses pelubangan di buang agar tidak menghambat pertumbuhan kangkung.
***
Jumat barokah, pulang lebih awal dari biasanya. Jam 10:30! Kami sangat bersemangat mengikuti jalan setapak menuju mess. Perjalanan yang pada awalnya bisa mencapai setengah jam kini dipersingkat. Tak apa meski matahari menyengat. Karena semuanya terasa nikmat. Oleh kesejukan semangat.
***
Mari pulang..
Marilah pulang 2x..
Bersama-sama..
.
.
Lumajang, 13 Januari 2017 @19:47 WIB.

Kami telah siap berangkat sejak sejam yang lalu. Apalagi Hilman dan Rangga yang akan menjadi delegasi kelompok, mereka telah siap sejak subuh. Seragam rapi khas anak SMK PPN Bondowoso telah melekat pada tubuh mereka. Namun Pak Machmud belum datang dari lahan.
***
Akhirnya Bapak telah siap saat jam menunjukkan pukul 08:30an. Kami berjalan menuju jalan raya. Ibu, istri Pak Machmud, muncul dengan sebuah mobil avanza. Kami semua akhirnya berangkat dan tiba pada pukul 09:03 WIB.
***
UPT BPP Lumajang menyambut kita dengan baik. Mendiskusikan peran UPT BPP Lumajang dan binaannya. Kemudian kami langsung bergegas menuju ke Kelompok Tani Sido Makmur. Disana petani membudidayakan sayur sawi, kankung, bayam, kemangi, cabai, padi dan ikan lele. Untuk pengembangan selanjutnya kandang bebek potong tengah digarap. Kelompok Tani ini juga tergabung dalam Gapoktan Sari Makmur yang dikenal sebagai salah satu sentra penghasil sayur di Lumajang. Sayur yang dihasilkan dipasarkan ke Probolinggo dan Jember. Sedangkan lele dipasarkan ke daerah sekitar dan Pamekasan. Petani mengaku, kendala yang mereka hadapi adalah masalah yang krusial. Yakni keterbasan modal sehingga sulitnya adopsi teknologi baru. Demi menghemat biaya untuk menanam sayur di musim hujan petani tidak mau mengeluarkan plastik untuk tudung meski sangat di perlukan. Harga sayur sendiri bisa meningkat dua kali lipat saat musim hujan. Bahkan Gapoktan tidak mampu memenuhi permintaan yang meningkat. Oleh karena itu, menurut pengakuan Bapak Rahmat, selaku ketua Poktan Sido Makmur, petani sedang melakukan perluasan lahan tanam sayur.
***
Kami sangat senang melihat Ibu-ibu yang sedang memanen sawi. Kami lantas belajar memanen sawi juga. Riuh para lele saat Pak Rahmat menabur pangan ke arah kolam. Berebut seakan takut keduluan sesama lele. Bersaing mendapat makanan. Berenang dan meliut gesit. Tak peduli jika dibilang rakus atau pelit. Yang penting kenyang. Hati senang. Tidak mati lalu mengambang. Hyaaang! Tong seng!
***
Lamunan saya tentang iklan tong seng buyar saat ternyata kami harus mohon diri ke lokasi selanjutnya. Rasanya masih belum puas menggali ilmu Pak Rahmat dan petani lain. Atau sekadar mendengar keluh kesah mereka yang sesekali timbul meski telah tertutup mulsa kesyukuran.
***
Mata saya takjub melihat pekarangan-pekarangan rumah yang tidak luas namun hijau. Disemua sisi penuh dengan tanaman pangan dan obat. Persis seperti yang pernah saya lihat di TV. Inilah salah satu Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) P2KP Teratai yang ada di Kabupaten Lumajang. Membawa saya pada ingatan rumah dengan lahan tidur disana-sini.
***
Berdirinya KRPL P2KP Teratai karena keinginan Ibu Yuli untuk memanfaatkan lahan sempit, meningkatkan gizi keluarga mengingat semua tanaman yang ditanam organik, berbeda dengan sayur dipasaran yang mayoritas mengandung bahan kimia. Selain itu untuk mengurangi pengeluaran RT, bisa menjadi apotik hidup dan manfaat lainnya. Sebab itulah suami beliau mengajukan semacam bantuan sosial pada Dinas Pertanian pada 2013 dan cair pada 2014.
***
KRPL P2KP Teratai telah menjadi percontohan KRPL dan meraih prestasi seperti Juara 3 Karangitri se Kecamatan, anugerah adipura dll.
***
Seakan berbusa mulut kami berbincang dengan Ibu Yuli, ketua KRPL P2KP Teratai sedari tadi. Beliau paham setiap tanaman beserta manfaatnya. Banyak sekali manfaat yang ada dalam satu tanaman. Seperti banyaknya manfaat yang kami dapatkan dari kunjungan observasi hari ini. Terima kasih kami menjelma menjadi doa-doa yang tujukan untuk Bapak Machmud dan Istri beliau yang telah memfasilitasi dan membimbing kami.
***
Jam di layar HP saya telah menunjukkan angka 23:22 namun kami belum beranjak dari laptop demi menyiapkan presentasi hasil kunjungan. Presentasi di depan adik-adik SMK PPN Bondowoso ini akan dilakukan esok ba'da sholat isyak. Good Luck!
.
.
Lumajang, 12 Januari 2017 @10:19 WIB.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Tomato
  • Yang Ga Diminta Aja Allah Kasih, Apalagi yang Iya
  • Air Zam - zam
  • Oretan Akhir Periode
  • Not Fair
  • Door Duisternis Tot Licht
  • Obsesi?
  • DAY 7 - Bersih-bersih dan Silaturahim
  • Kapan Nikah?
  • Rindu Rasulullah

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates