Memberi Gelar, Sekadar Gelar

Ingin sekali menulis catatan yang menggetarkan jiwa  tapi rasanya hatiku belakangan ini kian dikotori, jadi bagaimana pantas menjadi perantara untuk menggetarkan kalbu banyak orang. Ingin pula menulis catatan yang bercakrawala, tapi akhir-akhir ini aku jarang membaca. Akibatnya wawasanku masih sesempit pakaian kekecilan. Jadilah aku kini, meski biasanya juga demikian, menuliskan catatan harian yang bisa jadi tidak begitu penting. Namun, akhirnya ditulis juga, dengan harapan ada secuil kebaikan, dan semoga bisa menjadi penghapus bagian hati yang tidak glowing ini, kusam oleh amal buruk. Hmm, semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita.

_______

Sering dikira ingin jadi ini - itu lantaran kerap merapalkan doa untuk bisa memiliki kesempatan bersekolah lagi membuat senyum tak kuasa ditahan lagi. Padahal, kalau diuraikan kembali, dingat, dipikir, dan berdialog dengan diri sendiri sebenarnya tidak pernah menargetkan untuk memiliki 'posisi' atau jabatan apapun. Kadang memang acapkali terbawa oleh masa-masa kecil, dan perjalanan mengarungi hidup hingga kini---entah berkeinginan menjadi jurnalis, guru bahasa Inggris, menteri pertanian, agripreneur, fotografer, designer, traveler, chef atau apapun itu. Lantaran mungkin akan lebih mudah membantu banyak orang, dengan beragam cara di masing-masing peran.

Aneh mungkin, kian menua justru kian tidak mengerti ingin jadi apa. Seolah tak memiliki tujuan hidup. Mungkin lebih tepatnya tuntutan hidup. Namun sungguh, ini hanya opini pribadi. Sebab aku juga masih sangat mendukung perihal memiliki cita besar di masa depan. Karena katanya itu salah satu yang memacu diri kita untuk menjadi lebih baik lagi. Lagi pula, faktanya tidak mesti seperti yang kita lihat. Misalnya saja, kerap ku dengar orang-orang yang sebetulnya tidak mendamba apa-apa, katakanlah jabatan (di dunia) tapi malah diamanahi tanggung jawab yang besar. Serupa ada invisible hand.

Ya, ternyata memang nyata, tentu dan aku mengimani itu. Bahwa seberapa rinci rencana kita, pasti ada yang Maha Baik, yang mampu merevisi perencanaan kita menjadi yang terbaik. Maha Mengetahui perkara yang tidak kita ketahui akan ketetapan-ketetapan yang paling baik bagi kita. Dari cerita-cerita itu aku jadi makin belajar bahwa (lagi-lagi) tidak bisa kita mendikte hasil akhir, meski wajar merencanakan, mendoakan dan mengusahakan hidup seperti apa yang kita idamkan di masa mendatang.

Sampai sekarang pun, aku masih memiliki impian yang besar. Hanya saja definisi 'besar' tak sesempit dulu, tidak juga seperti pakaian tadi. Yang jelas, semoga selalu berpegang pada satu kata: bermanfaat. Lalu muaranya selalu satu: meraih ridlo-Nya. Ah, gampang sekali menuliskannya. Semoga menjadi doa untuk kita semua. Agar tidak melupa akan tujuan eksistensi kita di dunia. Karena hakikatnya, menjadi bermanfaat tak melulu dari hal besar. Kadang untuk memulai yang kecil saja sulitnya minta ampun. Maka aku salut dengan mereka yang tak banyak babibu tapi bergerak, baik secara diam-diam maupun terang-terangan.

Aku jadi belajar untuk tidak menyamaratakan: bahwa tiap orang yang memilih bersekolah hanyalah karena sekadar gelar dan gengsi. Supaya kemudian tidak kaget saat menemui seseorang yang berpendidikan dan memilih menjadi ibu rumah tangga sebab memiliki makna dan pemahaman tersendiri tentang pencapaian hidup. Bahkan jika mengerti, itulah karir terbaik seorang wanita di mata Allah.
Selain kaget, dewasa ini kisah seseorang yang memiliki 'gelar' dan memilih berwirausaha malah jadi viral di kalangan warga net. Seolah berpendidikan tinggi tak boleh menjadi seorang pengusaha. Eh, mungkin hanya anggapanku saja. Karena statement itu bisa juga membawa pesan baik lain.

________

Menimba ilmu, seperti aktivitas lainnya (bekerja, dan lain-lain) bisa menjadi ajang untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Memohon agar Allah pertemukan dengan orang-orang yang bertujuan sama. Memang tidak melulu melalui jalur formal untuk menggapainya. Namun siapa yang bisa menjamin kadar keimanan dan ketaqwaan seseorang. Pun bagaimana jalan untuk memperolehnya, bukan. Kita masih sama-sama berusaha. Meng-upgrade niat, agar paling tidak, bisa lebih baru dan lebih baik.

Selain itu, sebaiknya buanglah anggapan jika yang memilih untuk sembari meniti karir, hanyalah sebab mereka terlampau ambisius terhadap materi. Boleh jadi ada banyak hal sebagai prioritas, karena hidup bukan tentang diri sendiri. Kita seringkali tidak bisa menyimpulkan apa yang kita lihat. Siapa sangka kalau ternyata kita belum mendapat gambar yang utuh, lalu dengan mudahnya mendistraksi dan menyampaikan pemikiran sebelum melihat kebenaran. Belum lagi, jawaban dari barisan pertanyaan kita tidak bisa diketahui sekali waktu, atau bahkan menjadi misteri sampai kapanpun selayaknya takaran-takaran pahala. Maka (nasihat untuk diriku) jangalah mudah memberi gelar pada orang lain seolah kitalah Tuhan.

0 komentar