Pegangan Kita, Kebaikan Kita

Kucing-kucing itu mendekat. Aku masih saja keheranan. Mereka terlihat begitu akrab. Seperti hewan lain yang menjadi piaran di rumah-rumah. Tapi ini bukan rumah, ini tempat umum, dan mereka kini mampu membuatku berhenti sejenak untuk memperhatikan. Sekepal hikmah yang begitu saja menyusup, rasanya tak bisa dinegasikan begitu saja.

Ternyata, selain membekali diri untuk makan siang, seorang wanita parubaya yang ku kenal ramah itu juga membawa sekotak makanan kucing tiap pergi ke kantor. Selesai dari ruang kerjanya untuk pulang, beliau sudah siap dengan kucing-kucing yang berhamburan di luar. Lapar. Ia pun langsung memanggil mereka. Seperti memanggil anak-anak kecil untuk dihadiahi permen satu-satu.

Seringkali pemandangan yang tak sengaja kulihat ini tak menunggu jam pulang. Sebab saat mendengar kucing mengeong kelaparan, beliau langsung sigap dan mencari sumber suara. Seperti biasa, para kucing patuh, bahkan sangat antuasias. Lahap menyantap limpahan rezeki yang terhidang untuk mereka. Berperantara seorang yang peka dengan sekitarnya, dengan hal kecil yang seringkali luput dari perhatian.

___

"Yang bisa kita pegang adalah kebaikan kita sendiri."
"Melakukan kebaikan tidak perlu menunggu hal besar. Kita bahkan bisa melakukannya dari hal-hal kecil yang tidak dihiraukan oleh orang lain."

Begitu kira-kira ungkapan seorang wanita parubaya lain. Ternyata bukan omong kosong. Sebab sering aku dapati beliau dimampukan melakukan kebaikan yang juga kerap luput dari perhatian orang. Seperti meletakkan sabun secara cuma-cuma di beberapa kamar mandi. Me-laundry mukena-mukena hingga semua orang bisa melaksanakan ibadah dengan lebih nyaman dan mungkin lebih khusyuk. Merelakan beberapa koleksi tanaman pribadinya untuk memberikan kesejukan di ruang dan beberapa sudut kantor. Dan sebagainya. Dilakukan tanpa berharap imbalan atau pujian dari manusia. Kebahagiaan yang menenangkan sudah lebih dari cukup.

___

Kebaikan memang banyak sekali bentuknya. Tidak melulu berupa barang. Keramahan juga barangkali setara dengan senyum yang bernilai ibadah. Ramah kepada siapapun tanpa tebang pilih. Pak Satpam itu contohnya. Tak heran bila ini kemudian berbalas hal yang sama dari banyak orang. Walau kadang tak selalu begitu. Karena tanpa ujian, katanya hidup akan terasa datar.

___

Sekelumit kisah tentang kebaikan-kebaikan tadi acapkali membuat aku merenung. Lantas aku kemudian bertanya pada diri: Apa amal kebaikan yang sudah aku lakukan, yang mungkin luput dari penglihatan orang-orang karena anggapan 'remeh'? Atau bahkan apa amal kebaikan yang sudah aku lakukan secara sembunyi-sembunyi? Jangan-jangan semua sudah terpublikasikan. Lalu nilainya sudah tergerus dengan kemurnian jiwa yang kerap terombang ambing tak keruan. *Naudzubillah.

Betul. Aku kadang amat malu. Ingin memberikan dampak kebermanfaatan yang besar, tapi lupa akan kebaikan-kebaikan kecil yang bisa dicicil. Lupa bahwa banyak kebaikan yang bisa dimulai dari lingkungan sekitar. Lingkungan rumah, kampus, kantor, sekolah dan lain-lain.

Padahal benar juga yang beliau sampaikan. "Yang bisa kita pegang adalah kebaikan kita sendiri." Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai. Kita tentu tidak bisa mengandalkan kebaikan orang lain, melainkan fokus kepada sejauh mana kita telah berbuat baik.

Serupa hasil yang takkan menghianati proses, amal juga tidak akan menghianati tuannya. Ia menjelma sebuah akse, yang jadi sebab kita merasakan ridho dan surga-Nya. Maka di tengah pandemi. Semoga dimudahkan untuk menabur kebaikan, sembari belajar menata hati. Dengan harap kemuliaan, bisa menjadi pribadi yang lebih berarti dan manusiawi. Apalagi sedang berlangsung bulan suci, yang kehadirannya selalu dinanti-nanti.

Meski belum seberdaya mereka yang mampu menggerakan jutaan orang untuk bederma. Setidaknya kita bisa menghaturkan doa serta langkah-langkah kecil namun bermakna. Menggerakkan diri untuk membeli kebutuhan pangan di pedagang kecil, menghemat penggunaan energi, #dirumahaja bila tidak teramat perlu, dan lain sebagainya. Aku yakin teman-teman jauh lebih paham akan hal ini. Aku yang masih berusaha mengisi kealpaan. Sampai menyebutkan saja belum diberi cukup kemampuan. Mari saling mendoakan!

"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri." (QS. Al-Isra': 7)

0 komentar