Bukan. Bukan sayang jika gerombolan pandemi #corona ----yang mungkin saja sedang menertawakan kita saat ini----dibuang. Tapi yang ku maksud adalah pelajaran yang terkandung di dalam setiap kejadian yang makhluk bumi alami akhir-akhir ini. Rasanya amat sayang kalau dibiarkan menguap begitu saja tanpa diabadikan lewat catatan. Belum lagi pesan itu disampaikan bukan oleh iklan layanan masyarakat. Karena meski itu yang ditunggu-tunggu lantaran muak dengan tontonan yang ada, ini adalah hal yang berbeda. Salah satu influencer di dunia nyata yang belum lama ini hadir di list sumber inspirasi harianku-lah yang menyampaikannya.
Aku tadi bilang: menertawakan. Lihat saja, beragam rencana yang sudah disusun sedemikian rupa kini harus diatur ulang dengan sistem yang tak lagi sama. Benda yang tidak terlihat oleh mata telanjang itu benar-benar mengajarkan kita, ungkap beliau, bahwa kita seringkali merasa menjadi seorang penentu masa depan, lanjutnya. Seolah kita sudah pasti tahu apa makanan yang besok bisa kita nikmati karena telah memenuhi isi kulkas saban hari.
Kita seperti begitu yakin akan mampu menatap hari esok. Menggenggam pencapaian demi pencapaian, mendapat beasiswa luar negeri, mencetak murid-murid mumpuni, memiliki segudang prestasi, memberi nafkah anak-istri, melambungkan pergerakan ekonomi, merasa menjadi sosok yang paling kuat di bumi. Sombong. Sungguh terlampau sombong tanpa pernah melibatkan Allah SWT di setiap lini.
Maka benar, ikhtiar memang sebuah keharusan, tapi hasil pada akhirnya selalu Allah-lah yang menentukan. Sama seperti saat ini, ikhtiar sangat perlu dilakukan demi jalan yang terbaik untuk semua. Semoga. Hanya saja yang sangat disayangkan adalah upaya-upaya kebaikan yang justru dinodai dengan oknum-oknum yang kian memperkeruh suana. Semoga lekas terbuka hatinya.
Saat jawaban seringkali menjadi misteri. Kita hendaknya tak saling tunjuk jari. Karena bisa jadi setiap kita juga berkontribusi di tengah 'kekalutan' ini. Dengan menyadari itu, kita kemudian tidak akan mudah menuduh malah rajin mengintropeksi diri. Mengistighfari kesombongan yang mungkin memang sudah sangat melampaui besarnya biji sawi, bahkan Fuji. Setelah itu, semoga menjadi kian peduli dan bersinergi. Bahwa kita tak hidup sendiri dan hidup bukan untuk diri sendiri.
Salam hangat untuk kawan-kawan semua. Semoga diberkahi kesehatan dengan produktivitas yang berkualitas selalu. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua yang telah berjasa di tengah situasi tak terduga. Semoga badai sangat cepat berlalu. Dan kita diberikan kemudahan untuk menyerap tiap hikmahnya.
#ncbn #nggacumabelajarnulis #pesan #lawancorona #dirumahaja #belajarnulis #writingiscaring
0 komentar