Kamu Tidak Sendiri

Mengingat setiap perjuangan dan perjalanan panjang kadang menjadi salah satu cara sederhana supaya semangat lebih tersengat. Lalu, menuliskannya membuat manusia dengan tipikal mudah lupa bisa membacanya kembali kapan saja, baik berupa dokumen pribadi maupun yang bersifat massa. Nilai tambah lainnya, mereka akan lebih bersyukur. Karena telah diberikan kekuatan untuk melampaui tiap perjalanan terjal, berliku bahkan curam dengan langkah-langkah yang kerap rapuh dimakan pemikiran buruk, bermetamorfosa menjadi racun mematikan, meciutkan kepercayaan diri.

Kawan, lihatlah kita sudah sampai pada langkah ini. Kata orang bijak, jangan berhenti jika bukan untuk beristirahat sejenak. Teruslah berjalan menapaki kehidupan yang kian nampak bentuk sesungguhnya. Kian hilang kabut yang menutupinya. Yang membuat ia seringkali menjelma fatamorgana. Teruslah merapalkan doa, semoja senantiasa berada pada jalur terbaik dan alur yang tepat. Bukan demi mengedepankan gengsi atau ambisi pribadi. Melainkan karena tujuan paling suci: untuk beribadah kepada Sang Illahi. Sebab tiap kepayahan di dunia tiadalah berguna, sampai selalu beorientasi pada keabadian, diniatkan untuk-Nya.

___________

Aku kemudian mengingat, betapa banyak orang yang mendapati perjalanan yang lebih tidak mulus, tapi melangkah terus. Meski cobaan itu relatif. Tergantung pribadi, situasi dan kondisi. Jadi tak bisa dibandingkan-dibandingkan. Sama seperti 'keberhasilan'. Hasil dan definisi dari kata itu seringkali tidaklah sama. Ucap satu kalimat kutipan yang bertebaran, bunga tidak selalu mekar bersamaan, melainkan bergantian. Aku sendiri belum mencari tahu, siapa yang menulis itu.

Namun perjalanan menyeramkan dari testimoni banyak orang jangan kemudian menjadi alibi untuk berhenti. Justru itu mampu melecut semangat lebih jauh lagi. Betapa banyak kesulitan yang bergelimang kemudahan hingga bisa hidup sampai hari ini. Inna ma'al usri yusro. Maka, semangat jangan sampai padam. Redup boleh. Tapi jangan melama. Karena kita cuma manusia biasa. La hawla wala quwwata illa billah. Kita hanya mampu berharap dan mengemis APAPUN pada-Nya.

Itulah kenapa, dalam perjalanan menggapai sesuatu, meski aku kerap berbicara pada hati kecil: bagaimana bisa aku menggapainya jika aku bukanlah orang yang teramat rajin belajar-cerdas-pintar dan sebagainya, aku sungguh paham kemampuan diri karena masih kurang tekun menempanya dengan konsistensi, aku juga belum menjadi orang - orang yang berusaha di atas rata-rata mayoritas manusia---hati kecilku menimpali: tenanglah, Allah punya segalanya. Teruslah berdoa agar diberikan daya untuk terus berupaya keras dan mengalirkan doa deras-deras. Niscaya Allah mudahkan. Itu sudah janji-Nya, tak terbantahkan.  Ud'uni astajib lakum.

Karena katanya, hidup (dalam beribadah) bukan perkara se-simple sekolah, kuliah, menikah, memiliki anak lalu mati (Meski menghadapi itu sebenarnya juga tidak simple, ya hehehe). Tiap manusia dianugerahi potensi, yang akan dipertanggung jawabankan pada hari yang sudah ditentukan. Saat dimana sekecil apapun berbuatan diperhitungkan oleh kecanggihan alat yang bahkan tidak pernah bisa kita bayangkan.

Jadi,

Untuk kamu dengan segala impian yang (katanya) mustahil dan seringkali bikin mengigil.

Untuk kamu yang merasa tidak ada satupun yang mendukung dan menjadi orang paling tidak beruntung.

Untuk kamu yang diremehkan hingga jatuh berkali-kali karena prosesnya memang tidak seperti menjentikkan jemari.

Untuk kamu dengan berlapis tekanan keadaan yang mungkin jauh dari perkiraaan orang-orang.

Untuk kamu yang mengarungi jalur penuh cacian dan lara lantaran berbeda dari kebanyakan manusia.

Untuk kamu yang sedang merintis menjadi versi terbaik dirimu meski harus kerapkali meringis.

Jangan bersedih. Jangan takut. Sungguh, di dunia ini kamu tidak sendiri. Ada mereka yang juga tengah berlari menyulam mimpi-mimpi. Ada juga yang tulus  mendoakan di malam-malam sepi.

Tapi, yang terpenting ada Allah, tuhan pemilik alam semesta, yang 'kan menggengam setiap asa. Dia Yang Maha Segala, setia membantumu kala terjatuh untuk kembali berdiri, bahkan berlari. Mengejar kembali mimpi. Dengan niat lurus dan kemuliaan tak terperi.

  اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَـقِيْمَ (٦)
"Tunjukilah kami jalan yang lurus." (QS. Al-Fatihah: 6)

0 komentar