Buah Jerih Payah

Eyang Habibie. Seseorang yang menginspirasi dengan segudang prestasi (makna 'prestasi' disini lapang sekali). Sosok ini tepat tiga hari lalu pergi dari bumi menuju tempat yang abadi. Meski begitu, sejatinya karya-karyanya menjadi saksi. Dan kebaikan-kebaikan yang beliau tularkan masih bisa kita nikmati dimana-mana. Di dunia nyata, bahkan---karena zaman melesat begitu cepat perubahannya---kita bisa mendapatinya di dunia maya.

Itulah yang membuat aku, alih-alih melihat pemberitaan kepergian salah satu panutan bangsa itu, aku malah menyaksikan yang lain, konten-konten menginspirasi yang telah lebih dulu dipublikasi. Karena meski aku adalah salah satu pemuda yang amat biasa dan mengagumi tanpa pernah bertatap muka, entah mengapa aku tidak bisa menyaksikan pemberitaan itu lama-lama, sedih dan perih, meski hakikatnya setiap kita akan mengalaminya juga. Dan duka ini aku yakin banyak dirasakan oleh banyak anak bangsa. Seperti saat tokoh-tokoh alim lain tengah berpulang ke kepangkuan Yang Maha Kuasa.

Omong-omong tentang pencapaian beliau, sebenarnya itu semua tidak lepas dari jerih payah panjang yang akhirnya berbuah manis. Konsistensi usaha dan doa-doa yang mengalir membersamai keimanan dan ketaqwaan membawa Eyang Habibie ke perjalanan-perjalanan dan pelajaran yang menakjubkan. Kisah-kisahnya juga menggetarkan. Salah satunya seperti kala mengharumkan negeri di kancah internasional.

Bagiku, momen perjuangan menimba ilmu dan berbesar hati meninggalkan kewemahan di Jerman untuk berkontribusi di Bumi Pertiwi juga tidak kalah mencengangkan. Menggambarkan, betapa tujuan untuk menghilangkan kebodohan bukan lantaran ingin memperkaya diri, melainkan untuk ikut membangun 'rumah' sendiri---walau aku tidak bilang, tinggal di luar negeri artinya tidak bisa berkontribusi secara nyata. Karena nyatanya, banyak diaspora yang ikut andil mendorong kemajuan bangsa.

Maka petuah yang keluar dari lisannya bukanlah bualan semata, karena beliau pernah di masa-masa sulit dan masa-masa perjuangan itu. Saat beliau diminta untuk memberikan pesan pada para penerus bangsa pada satu momen, ungkapnya: mereka harus unggul pada bidangnya masing-masing dan bisa bekerja sama dalam tim, alias memiliki kemampuan teamwork yang baik. Sebagai sebuah team, mereka harus unggul dalam segala bidang memperjuangkan kepentingan bersama, adanya transparansi dan berbudaya.

Saat ditanyai tentang apa yang membuat Eyang Habibie marah dengan cucunya, beliau menjawab: Di waktu mereka menggunakan teknologi (dalam hal ini gadget) hanya untuk game (mungkin dalam porsi yang berlebihan, sampai lupa waktu dan banyak menyebabkan kemudharatan, jadi aku kemudian menyimpulkan bahwa kata 'game' hanyalah istilah, karena apapun itu jika berlebihan, membutakan dan melalaikan kewajiban yang sebenarnya harus kita kerjakan sebagai hamba, maka sama saja konteksnya). Tambahnya, anak muda (yang lebih familiar disebut sebagai Kids Zaman Now) harus mengerti, jika hidup adalah kerja keras bukan gambling atau perjudian.

Masih berhubungan dengan pesannya untuk menjadi 'unggul', beliau menyarankan anak muda untuk menyibukkan diri membaca buku dengan tema-tema yang disukai dan ditekuni (dalam bidang itu).
Sehingga goal-nya adalah, menimba ilmu tidak untuk menjadi lulus, melainkan untuk mencari tahu jawaban atas ketidaktahuan yang pada akhirnya bisa diaplikasikan untuk kebermanfaatan. Pada bagian ini aku seolah diminta untuk menancapkan lagi apa-apa yang ingin aku tekuni, aku suka dan apa tujuan akhirnya. Begitulah, banyak sekali cara memaknai hidup versi beliau bertebaran, aku mencoba menyampaikan kembali (beberapa) yang paling berkesan.

Aku juga jadi diingatkan lagi tentang gumaman nuraniku beberapa hari yang lalu: "Setiap sentuhan di layar HP pintarmu ini akan dipertanggung jawabkan. Maka gunakanlah untuk perkara yang berfaedah saja. Supaya jerih payah atas benda ini bisa membuahkan amal kebaikan yang mengalir dan dicatat juga. Sepatu, baju, dan beragam hal yang ada pada dirimu juga gunakanlah untuk kebaikan. Agar buah yang kelak dipetik bisa sepadan dengan pengorbanan-pengorbanan yang telah dilakukan. Belum lagi jika berbicara perihal badan yang juga merupakan titipan. Pada masanya, tiap organ akan dimintai kejelasan, oleh yang Maha Memiliki Kehidupan.

Entah sudah berapa kali aku diperingatkan tentang hal ini. Juga entah sudah berapa catatan yang menyinggung perihal ini. Seperti aku yang entah sudah berapa kali diberikan nikmat untuk menikmati buah jeruk keprok yang rasanya nikmat. Manis, diselipi asam-asam segar seolah menggambarkan manisnya buah tidak terlepas dari asamnya jerih payah  yang menyegarkan. Membuat hidup terasa lebih bervariasi. Seperti apa yang dijalani dan dicurahkan Eyang Habibie.

Terima kasih, Eyang. Kisahmu akan dikenang. Semoga tenang. Di sisi terindah oleh Yang Maha Penyayang. Tak kalah penting, doa untuk kita yang tengah berjuang. Supaya Allah berkenan menjadikan kita semua sebagai 'pemenang'.

0 komentar