Semenjak duduk di bangku MA, aku kerapkali berpikir idealis. Segalanya bagiku mudah saja. Ini bukan berarti setiap yang kita inginkan bisa diperoleh tanpa perjuangan dan tetes keringat, tapi lebih kepada karena setiap orang memiliki kesempatan yang sama. Kemudian pola pikir yang tepatlah yang akan membuat segala yang berat akan seringkali mudah dijalani. Belum lagi kala itu aku banyak bertemu guru-guru yang acapkali memberi motivasi menggetarkan. Jadilah aku mudah berpikir idealis, dalam hal ini impian. Aku percaya, jika impian bahkan tidak selaras dengan kenyataan; seperti keadaan kita dan lain sebagainya. Ia adalah keajaiban.
Dalam hidup, aku merasa seperti anak kecil karena kadangkala menganggap banyak hal itu mudah dan tidak perlu dipermasalahkan. Take them all easy. Jangan diperumit, karena pasti ada penyelesaian. Itulah kenapa aku seringkali bingung kala melihat orang dewasa yang kian memperumit keadaan. Masalah yang pada mulanya begitu sederhana, malah makin melebar dan kemana-mana. Lalu beberapa bersuara, jika ini karena aku belum benar-benar menapaki jalan hidup orang dewasa. Oleh karenanya aku berpandangan demikian. Entahlah, yang kutahu sejak dulu aku berusaha menghadapi apapun dengan tetap menjaga pikiran selalu dalam keadaan positif. Kata-kata seperti, “Ok, ini gampang, tak apa, ini mudah, iya, kamu bisa,” dan lain sebagainya meski mungkin hanya terlintas di dalam hati. Walau pada akhirnya semua tidak selalu sejalan dengan apa yang kita pikirkan.
Atas pemikiran itulah yang kadang membuat aku mudah membuat target-target kehidupan. Beberapa suara memberi saran agar jangan terlalu berpikir idealis. Sebab hidup itu amatlah rumit. Mendengar itu, aku kemudian terseret kepada ingatan-ingatan masa lalu. Beberapa keinginan yang sudah aku peroleh di masa sekarang, karena mungkin cara berpikir masa lalu yang kemudian dibubuhi keajaiban, kehendak Tuhan. Aku tidak pernah berharap hasil seperti itu sebelumnya, aku hanya melewati prosesnya dan aku bersyukur akan itu. Karena Tuhan memampukan aku.
Memang, ada benarnya. Sebab kadangkala kita juga harus berpikir realistis, pada bagian tertentu. Hanya karena kita berpikir impian harus tidak sejalan dengan kenyataan dan besar, tidak berarti kita hanya tinggal diam dan berharap impian itu terwujud dengan sendirinya karena keajaiban dari Tuhan. Atau karena terlampaui realistis, akhirnya memutuskan untuk terpaksa menguburnya dalam-dalam karena telah lebih dahulu membayangkan betapa banyaknya kesulitan yang akan dihadapi. Sungguh, tidak demikian. Iya, memang pada beberapa kasus, ada orang yang dikaruniai keajaiban tanpa diduga-duga. Namun itu tidak menjadi alasan untuk kita berleha-leha. Tuhan melihat usaha dan doa yang dilakukan manusia, setelahnya, perkara hasil adalah kehendaknya.
Tetaplah memiliki impian yang besar. Berpikir idealis pada banyak momen yang kamu rasa perlu. Namun tetap jangan menutup diri dengan adanya kemungkinan kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi. Kalau boleh dikatakan, berpikir realistis pada beberapa momen tertentu guna menggapai impian itu dan menerjang kesulitannya. Lalu, pada akhirnya apapun hasilnya itulah yang terbaik untuk kita. Yang terpenting adalah selalu mempertahankan pikiran untuk senantiasa berprasangka baik pada Tuhan. Sekian.
*Dari Lufiyah, teruntuk dirinya.
0 komentar