Ngomongin tahun baru dan resolusi tahun lalu yang SEABREK tapi yang kecentang baru beberapa, pasti bikin kepala puyeng. Hmm. Bener. Berasa ga maksimal mulu usaha sama doanya.
Tapi setelah pake salah satu teknik yang banyak dilakuin sama orang-orang "besar" yakni intinya bersyukur----peningnya jadi hilang ga bersisa. Teknik yang aku singkat bersyukur ini ditulis ulang dan dikembangkan oleh seorang praktisi pengembangan diri.
Tulis apa-apa yang sudah anda capai. Rasakan kebahagiannya mengalir. Rasakan energi positifnya. Ingat terus. Lantas bersyukur.
Dan setelah aku tulis. Wih! Aku bahkan baru menyadari, ternyata meski banyak yang belum tercentang, banyak juga yang sudah tercapai. Atau mungkin mendekati, hehe. Yap! Karena meski hanya bantuin beres-beres, kata beliau (penulis) itu adalah pencapaian.
Meski merasa ga ambisius, aku memang cenderung tidak pernah menganggap apa yang aku capai adalah wah, melainkan bonus dari ikhtiar dan cenderung biasa saja. Seperti halnya saat mendapat pujian (padahal ga ada yang muji wkwk), aku lebih menganggap seperti angin lalu, doa-doa (karena memang diri kita yang lebih tahu kalau kita ga sekeren itu), ucapan pelecut semangat atau ujian.
Maka, setelah aku pikir, menjadikan semua hal sama rata dan biasa-biasa saja ternyata ga baik juga buat pikiran. Semacam menutrisi diri buat ga "lebih" bersyukur dan mengapresiasi setiap anugerah alias rejeki.
Bukankah bersyukur tidak melulu menunggu kita memperoleh sebuah nobel? (Kita? Wkwk)
Allah, terima kasih atas segala nikmat-Mu di tahun lalu dan nikmat karena memberikan kesempatan lagi di tahun baru (ini). Disaat nikmat yang Engkau beri sejatinya tak pernah bisa aku tulis dan hitung, disaat itulah kudapati dosaku yang kian tak terhitung.
Bangkalan, 1 Januari 2019
0 komentar