Siapa Kita? Abdi Negara!

Aku selalu percaya. Setiap apapun bisa dipelajari. Termasuk membuat puisi. Ingin rasanya mengawali oretan ini dengan puisi. Agar lebih indah. Tapi aku belum belajar. Lagi pula sebenarnya aku tidak ingin mengawali, maksudku memberi awalan. Sebab itu artinya aku harus mengakhiri. Dan aku tidak mau!

Tapi memang benarlah ungkapan: setiap ada pertemuan pasti akan ada perpisahan. Maka aku harus menerima segalanya dengan lapang. Apapun yang menjadi garis hidupku sekarang.

Tujuan awal pergi ke Pare untuk mengasah kemampuan berbahasa Inggris. Namun pada faktanya, aku diberikan lebih dari itu. Keluarga, kawan, sahabat, teman, kolega atau apapun sebutannya.

Thus, untuk mengabadikan mereka semua biasanya aku akan membuat oretan semacam ini. Meski sederhana, sedikit dan tidak pernah cukup untuk mengungkapkan banyaknya kata yang menumpuk dalam batok kelapaku, paling tidak ini bisa menjadi sesuatu yang kelak bisa aku baca kembali.

Siapa kita? Abdi negara!

Hehe, well. Selamat membaca. Maaf jika kurang berkenan 😅

___________

Ghani Rahmat Kurniawan

Ghani. To be honest, awal bertemu di ruang interview hari itu aku kira Ghani sudah seusia anak lulus kuliah. Hehe. Tapi ternyata justeru ia yang paling muda diantara kita. Curang!
Saat kutanya nama dan asal, irit sekali bicaranya. Bahkan tidak dibubuhi air muka bermanis-manis ria. Namun aku bukan orang yang percaya 100% jika karakter orang bisa dibaca pada kesan pertama bertemu. Karena yang ada, sifat "gila" nya mulai tercium di kelas Tick Talk. Ceria sekali rupanya.

Ghani. Orang yang awalnya protes karena aku panggil: Adek. Sebab aku dulu terbiasa memanggil yang lebih muda dengan panggilan serupa saat di kampus. Padahal aku memanggil adikku sendiri hanya dengan nama. Hihi. Namun setelah kujelaskan alasannya, ia kemudian sesekali memanggil aku: Mbak. Akupun tergelak.

Ghani biasanya jadi tempat rentetan pertanyaan-pertanyaanku bersarang. Karena meski remeh-temeh, dia akan menjawab dengan sabar dan tidak sedikitpun menghakimi. Selain itu, fast respond. Ini yang akhirnya membuat aku sering bertanya pada anak yang satu itu.

Meski masih terbilang muda. Ghani dianugerahi dengan beragam potensi. Ia juga rendah hati dan baik sekali. Tak hanya itu. Ia juga sosok yang tangguh. Sekelumit karakter ini bisa dibaca saat ia menyampaikan kisahnya di kelas I-Club.

Ghani pernah mengomentari cara berpakaian Kak Santi, aku turut ikut tersudut (konotasi positif) didalamnya. "Nah, gitu dong. Santi jadi terlihat lebih fresh. Casual. Ga kek biasanya. Kek Ibu-ibu. Lut juga tuh. Kapan-kapan pake kaos aja," katanya dengan santai. Sementara itu Bro Rambo menjelaskan materi di kelas 3 GP 1 dengan santai, bukan Santi. *paan sih, garing mulu, Lut.

Ahahaha, saat kita tanya apa ia ingin menjadi seperti Ivan Gunawan. Ia menjawab dengan jawaban yang membuat kami menelan ludah. Haus kali. Iyuuh.
Katanya, Ghani ingin lebih dari designer Indonesia yang terkenal di media itu.
Belakangan aku ketahui bahwa ia hanya bercanda soal itu. Dan aku adalah orang yang mudah percaya pada banyak momen tertentu.

Hmm, semoga Allah kuatkan dan mudahkan kamu untuk mewujudkan cita-cita luhurmu, Ghan. Study abroad, membahagiakan orang terkasih, so forth. Dianugerahi kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Haikhal Febria

Isa. Aku kebingungan saat Bro Ai memanggil nama lengkapnya untuk mengecek kehadiran member kelas. Siapakah gerangan? Pikirku. Haha. Unik. Nama panggilan tak sesuai bacaan nama asli. Sama seperti kakak perempuanku yang dipanggil demikian. Nama lengkapnya Siti Aisyah. Cukup mendekati. Namun apapun itu, aku mengimani jika setiap nama adalah berharga. Karena merupakan doa yang melekat hingga akhir hayat.

Isa. Kesan pertama kenal karena dia terlebih dulu akrab dengan Kak Santi. Bahkan dia sering menjadi peta dan teman kami saat hendak kemana-mana karena sudah lebih dulu memahami kawasan Pare. Aku awalnya agak heran, gregetan. Karena meski aku dan Kak Santi bersusah payah merangkai dan meluncurkan kata berbentuk bahasa Inggris, Isa akan lebih kerap menjawab dengan bahasa Indonesia. Sebenarnya, pada awal mempratikkan ngomong Inggris, lidahku pegal. Aku juga merasa lebih cepat lapar. Mungkin karena berpikir. Karena pada kenyataannya, aku adalah orang yang acapkali lupa makan kala di rumah. Eh, kembali ke Isa.
Iya, begitu. Tapi ternyata, beberapa hari kemudian, ia selalu berbicara English. Aku dibuat terpesona karena dia berbicara secara gramatikal. Pembendaharaan kata yang ia miliki juga aku taksir tidaklah sedikit. Terlihat ia tidak menghadapi kesulitan yang berarti saat berbicara.

Kian mengenal, aku baru mengetahui bahwa Isa juga kandidat YCTs. Info itu kudapat dari Ibu karena rajin membantu. Eh, maksudku dari Kak Santi. Isa juga sudah belajar bahasa di beberapa kursusan di Pare.

Meski kadang bawel. Ia adalah sosok yang baik bukan buatan, memiliki jiwa sosial yang tinggi dan peka. Sering juga ia melihat sesuatu begitu detil. Isa kerap mengkhawatirkan sesuatu yang menurutku sebaiknya diabaikan saja. Tapi perspektif orang tidaklah sama. Jika tidak demikian, maka tidak akan ada ragam warna.

Ia juga terlalu mengkhawatirkan aku yang begini dan begitu. Misal, Isa akan rela mengorder jasa ojek online hanya supaya aku bisa visit camp dengan sepedanya. Padahal berjalan kaki bukan kegiatan yang asing bagiku. Konon, bisa mengasah kecerdasan. Namun bukan berarti bisa mengerjakan ujian tanpa belajar dan malas-malasan. Hehe.

Meski begitu, ia adalah pribadi yang talent mengatur member, camp dan segala tetek bengek didalamnya. Aku hanya diam tak berkomentar. Selalu. Tapi diam-diam aku belajar.

Yup, banyak sekali kebaikan yang tidak bisa aku ungkapkan satu-satu. Biarlah menjadi amal untuk kebahagiannya di dunia akhirat. Terkabul segala impian mulianya.

Good luck, Isa! Semangat ke Jerman-nya. Kamu bisa! Karena kamu Isa! Yeay!!! Hehe.

Rayhan Muhammad Al Fatih

Ray. Karena tidak ada jawaban saat menanyakan kejelasan waktu interview, aku akhirnya men-DM Ray. Aku ingat, ia bertanya apakah aku peserta yang juga lolos ke tahap selanjutnya atau tidak. Istilah itu ia singkat menjadi: pemenang.
Sebelumnya, aku juga men-DM Kak Santi. Karena aku hanya mengetahui dua kontak mereka.

Ray begitu ramah. Ku lihat foto profilnya, kukira dia seusia orang yang baru lulus SMA. Hehe. Setelah bertemu langsung ternyata lebih ramah. Murah sekali senyumnya.
Ia terlihat mudah sekali beradaptasi dan bergaul dengan orang baru. Lihat saja, aku yang baru saja sampai di depan office Mr. Bob langsung dicerca beragam pertanyaan. Ia juga tidak segan bercerita kisah perjalanan untuk kemudian tiba di Pare. Terbaca sekali, jika ia orang yang terbuka dan tidak memilih-milih untuk kenal dengan siapa.
Aku sesekali mengusap dan melihat layar hape. Ku balas beberapa yang urgent sembari menjawab pertanyaan Ray dan Kak Santi yang juga ada disitu----satu-satu. Sebenarnya tidak sopan. Tapi beberapa pesan memang harus fast respond. Beruntung keduanya memang pribadi yang baik hati.

Ray pun adalah sosok dewasa dengan segudang ide segar. Ini yang membuat aku tidak sungkan untuk meminta pendapat atau nasihat padanya. Lihat dan pahami apa yang dibicarakan, bukan siapa yang berbicara. Itu yang masih menjadi salah satu alasan mengapa aku mudah untuk mendengar dan menerima, jika memang itu tentang kebaikan dan kebenaran.

Seorang tutor pernah bertanya padaku, "Ray terlihat jauh lebih dewasa saat tidak menggunakan kacamata, ya?". Aku sendiri tidak pernah memperhatikan penampilan seseorang sedetil itu. Namun karena kala itu ia meminta pendapatku, akhirnya aku benarkan. Hehe.

Ray, Ghani dan Julio adalah orang-orang dengan selera humor yang seringkali ditunggu-tunggu. Eh, siapa Julio?
Baiklah, setelah ini akan aku bagikan pandanganku tentang Julio dengan sedikit lebih rinci.

Hmm, semoga dilancarkan segala urusannya-----Lancar bukan berarti jalannya terasa selalu mudah. Tapi bagaimana tetap istiqomah untuk teguh dan tidak menyerah atas apapun yang menghadang jalan-----hingga tercapai semua impian-impian besarnya; tempat kursus, study abroad, dan sebagainya. Dilimpahi kebahagiaan dunia akhirat.

Ahmad Julio Rumangu

Julio. Awalnya aku mengetahui Julio saat Kak Santi menanyakan keberadaan sebuah camp guna visit Evening class. Julio menjawab dengan ramah dan antusias. Ia tidak segan menunjuk-nunjuk ke arah jalan agar kami lebih mengerti dengan sebatang rokok mengepul yang masih di tangannya. Dilihat dari bagaimana dia nge-treat orang lain, pastilah dia pribadi yang baik.

Aku sendiri kemudian baru mengetahui, jika Julio juga peserta YCTs angkatan pertama saat kami menghadiri panggilan Bro Kris untuk menghandle camp lebih awal. Hehe. Julio terlihat tidak terlalu banyak bicara.

Tapi ternyataaa, ia gemar bertanya. Berkata. Berbicara. Berbincang. Atau apapun. Tidak bosan jika berbincang dengannya karena ia selalu mempunyai bahan dan pertanyaan. Disamping itu ia juga meng''anda"kan setiap orang.

Aku melihat aura kepolosan dan ketulusan dalam diri Julio. Siah. Aku sendiri cuma manusia, yang tidak bisa menjamin kebenaran penilaianku terhadap orang lain. Yang jelas, itu mungkin salah satu yang membawanya kesini di tengah banyaknya tawaran menggiurkan. Sebab banyak orang tulus yang berorientasi pada kebahagiaan, bukan kekayaan.

Meski seringkali memuji orang lain. Sebenarnya Julio juga patut dipuji karena dia juga sosok yang menginspirasi: pantang menyerah. Memang, dampak buruk pujian jika tidak pada orang yang tepat memang amat dahsyat. Bahkan Rasul mengumpakan seperti memenggal kepala saudara yang dipuji. Namun semoga Dia senantiasa menuntun kita agar tidak berlebihan. Niatkan untuk kebaikan, bukan memperburuk keadaan.

Seorang member Passionate Dreamers Camp mengaku bahwa Julio memiliki cara tertawa yang unik dan lucu. Aku sendiri akhirnya baru ngeh saat mereka menyampaikan itu padaku. Dan aku pun setuju.

O ya, walaupun Julio mengaku dia bukanlah seorang pemimpi. Aku percaya, dia memiliki harapan-harapan yang indah di masa depan. Maka semoga semua itu bisa ia dapatkan. Sukses di dunia dan akhirat.

Hermita Santi Simanjuntak

Kak Santi. Sudah kusampaikan di awal. Aku tidak percaya 100% jika kesan pertama saat bertemu seseorang menunjukkan karakternya sepenuhnya. Meski tentu kita harus berhusnudzan. Seperti saat aku bertemu Kak Santi yang sebelumnya sudah aku hubungi lewat WhatsApp. Seperti Ray, dia ramah di dunia maya dan dunia nyata. Aku kira ini hanya kesan pertama. Sebab ada beberapa orang yang silih berganti dalam hidupku biasanya akan demikian. Tapi tidak dengan Kak Santi. Kian lama, aku seolah menemukan sahabat yang telah lama aku impikan. Ya, mulai dari SD hingga sekarang aku memang memiliki banyak sahabat. Dan memang, tidak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan adalah sebuah ilusi. Namun dengan Kak santi, aku menemukan kasus yang berbeda. Dia sempurna. Berlebihan mungkin jika aku berkata begitu. Tapi itulah yang aku rasakan.

Aku tidak tega melihatnya mengidap sakit mata. Aku ingin menggantikan posisinya. Biar. Tak apa. Lalu beberapa hari kemudian doa itu terkabul. Hahaha. Eh, emang saatnya giliranku sih sebenarnya.

Cara berpikir, tutur katanya, jiwanya, dan caranya memandang dunia yang kerap membuatku aku tidak mau berpisah. Ungkapan ringan seolah menjadi nasihat terselubung yang seringkali aku terima. Aku kemudian amat bersyukur. Belajar dengan orang yang tidak terlalu banyak beretorika, melainkan aksi.

Seperti dengan yang lain. Aku punya banyak cerita yang mungkin tidak akan aku lupakan. Salah satunya saat kita seperti orang kerasukan bernyanyi diiringi genjrengan gitar di Warung Mr. Bob. Hehe, asal muasal rumor yang melekatkan stigma bahwa kita tidak mau membaur dan bergaullah yang kemudian membuat kita memberanikan diri unjuk gigi. Beruntung sebelumnya sudah sikat gigi. Aku sendiri benar-benar tidak hafal dengan semua lagunya. Hehe payah sekali. Semua lirik aku dapatkan dari hasil ketikan secara cepat di search engine. Hahaha. Meski bingung. Sebenarnya aku bahagia karena sudah lama tidak menyanyi diiringi gitar. Yang lebih membuatku bahagia, mereka semua amat ramah dan baik walau telah lebih dulu menapaki daratan Mr. Bob English Course. Bro Ikham, Bro Arul, Bro Ai dan Sis Laili.

Mmm, semoga Allah mudahkan segala impian luhurmu, Kak. Dilancarkan pekerjaannya, studinya ke Taipei, bisnis dan lain-lain. Bahagia dunia akhirat.

Eka Francisca Fitri Agustin

Kak Icha. Mandiri. Mungkin kata itu yang menggambarkan dirinya. Dia banyak bercerita tentang pengalamannya hingga sampai di Pare. Yaps! Kak Icha suka bercerita. Seolah tak pernah surut dan habis. Lancar. Hehe. Pun saat ia bercerita dalam bahasa Inggris. Aku ingat sekali saat pertama bertemu di office, Kak Icha menceritakan bagaimana kurang tidurnya ia hingga menyebabkan matanya seperti mata panda. Padahal panda mungkin tidak sependapat dengan istilah bikinan manusia ini. Hehe.

Di camp dulu, Kak Icha jadi pegiat untuk selalu berbicara menggunakan bahasa Inggris bahkan meski sedang tidak di camp. Aku biasanya yang suka tidak mengindahkannya. Hehe, pegel, Cin. Kak Icha bahkan mempunyai aturan untuk tidak menggunakan "How to say....." agar kita mau berpikir keras terlebih dulu. Tak usah ditanya, aku juga yang kerap melanggar. Hahaha.

Seperti Kak Santi, Kak Icha juga tidak pelit memberi motivasi padaku. Dari apa yang pernah ia sampaikan, bisa aku simpulkan bahwa kesempatan bisa dimiliki setiap orang. Siapapun. Jangan pesimis dan mempersempit pemahaman akan kenyataan itu.

Kak Icha itu baik dan strong. Kelelahan usai perjalanan panjang dari Bandung ke Pare tidak membuat ia kemudian memiliki alasan untuk men-skip kelas. Walau masih linglung, ia menghadiri semua kelas perdananya dengan antusias. Bahkan ia berkali-kali mengungkapkan ingin meminjam catatanku----yang tulisannya serupa cakar ayam----karena merasa telag banyak ketinggalan pelajaran.

Semangat ngerjain Thesisnya,  Kak! Semoga dilancarkan segenap rencananya. Mengajar, study abroad, dan lain sebagainya. Sejahtera dunia akhirat.

__________

Dua bulan yang terasa dua minggu. Hehe. Cepat, melesat bak meteor. Berlalu, layaknya awan di langit biru. Terdengar berlebihan. Tapi memang itu yang aku rasakan. Hahaha.
Mungkin karena betapa banyak pelajaran, tantangan, dan kehangatan yang aku peroleh dari waktu ke waktu saat disana. Meski kadang membuat aku terlena. Tapi aku amat menyadari, aku mendapat lebih dari sekedar belajar bahasa Inggris. Kalian, segenap keluarga Mr. Bob, Pak De---Bu De, dan semuanya tanpa terkecuali adalah bagian dalam hidup yang tidak akan aku lupakan. Aku memohon maaf lahir dan batin. Thanks for being such a great part of my life! Break a leg! Never give up!

Best Regards,

Lutfiyah🍃

2 komentar