Banyak banget kejadian yang ingin aku tulis di banyak minggu terakhir ini. Pelajaran yang aku dapat. Mulai dari jangan menilai orang dari cover, aku yang masih pemalu dan ngga PD, perbincangan berbobot yang harusnya jadi ringan buat kita sebagai penerus bangsa, bahasa yang kalo ngga dipraktekin dan dienlarge-in sendiri ngga bakal berkembang, menghargai orang lain, lebih bijak dalam bersikap, berusaha menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya, banyak yang belum dipelajari, banyak orang yang belum dibahagiakan, dan sebagainya.
Mafhum jika semua untaian kalimat itu kemudian hanya mengendap dan menumpuk di batok kepalaku. Karena memang aku tidak berusaha meluangkan waktu barang sebentar untuk menuliskannya seperti biasa. Aku lebih memprioritaskan istirahat sejenak. Lalu memprioritaskan kegiatan lain yang bagiku juga tidak bisa disepelekan. Yaps, setelah menjalani proses KBM selama satu periode yang setara dua pekan di Mr. BOB Kampung Inggris yang merupakan lembaga kursus bahasa Inggris, aku dan empat temanku yang lain diminta untuk menjadi tutor camp. Kami pun sebenarnya sudah memprediksi jika kami bertujuh akan mendapatkan kesempatan untuk menjadi tutor. Namun yang agak membuat kami kaget adalah, kami berlima harus menjadi tutor satu periode lebih awal. Yeaah! Nano-nano rasanya. Namun sebelum menjabarkan bagaimana cerita alias kisah didalamnya. Aku akan menceritakan sekelumit kejadian yang sempat aku ketik sedikit demi sedikit sebelum akhirnya aku dan yang lain sok sibuk (hehe) menjadi tutor camp.
_________
Jangan menilai dari cover
Mungkin hampir semua dari kita sudah ditanami nilai untuk jangan mudah menghakimi orang hanya karena tampilannya. Namun tidak semua mendapatkan tanaman yang sama. Seringkali mereka harus menjemput atau menanamnya sendiri. Tak apa.
Meski dari kecilku bisa dibilang lingkunganku homogen, aku cukup mengerti bagaimana bersikap pada orang-orang yang memiliki perbedaan dengan kita. Selama masih bisa hidup berdampingan kenapa harus rusuh?
Baiklah, jangan sampai sejauh itu bahasannya. Ambil contoh kecil yang juga menjadi salah satu kisah yang menjadi pengingat untuk diriku sendiri. Jadi aku memiliki teman sekelas yang tampilan gaul minta ampun. Namun tak ngobrol maka tak kenal. Inilah yang akhirnya membawa kami ke obrolan yang cukup panjang, kemudian bagaimana ia bersikap kepada orang lain namun tidak juga berlebihan. Ada satu pertanyaan yang kemudian cukup menyambar pola pikir yang memang sebelumnya juga tidak jauh berbeda, yakni: apa hobimu?
"Aku suka mendengarkan lantunan sholawat," katanya. Waah, aku sangat berterima kasih dikenalkan dengan lelaki yang sudah seperti adikku karena mereka seumuran. Pun jika dia kemudian tidak memiliki hobi dan background agama dll yang sama, aku akan tetap bersyukur karena pertemanan bukan hanya karena persamaan. Tapi karena dalam perbedaan akan selalu ada persamaan. Yah, begitulah.
Masih pemalu dan ngga PD
Malu itu sebagian dari iman. Namun bukan malu untuk kemudian menjadi pribadi yang lebih baik, salah satunya dengan berbagi ilmu. Sering, aku merasakan malu untuk maju. Tidak percaya diri dengan kemampuanku dan lain sebagainya yang sebenannya hanyalah alasan klasik yang menghambat kita untuk menjadi manusia bermanfaat. Karena hakikatnya setiap orang dikaruniai kelebihan, lantas kenapa harus tidak PD? Alangkah lebih baiknya jika waktu yang dihabiskan untuk itu justeru digunakan untuk mengasah potensi bukan? Namun kepercayaan diri tidak lalu membawa kita ke akhlak tercela, yakni tinggi hati.
Aku pikir, setelah aku sudah berani begini dan begitu, tingkat rasa malu berada di arena umumnya akan menghilang. Ternyata tidak demikian. Lihat saja, aku deg degan setengah bungkus nasi kala makan bersama di warung Mr. BOB seolah aku tengah mengambil rapot dan menantikan hasilnya. Namun setidaknya, rasa malu di keramaian semacam itu kian berkurang. Entah itu baik atau tidak. Yang pasti setiap manusia perlu yakin dan percaya, bahwa fitrah mereka adalah baik. Mereka memiliki potensi yang besar untuk menjadi orang besar asal tidak melupakan fitrahnya, seperti semangat, sabar, dan lain sebagainya.
Perbincangan Berbobot
Aku sebenarnya tidak telalu mengerti apa yang dimaksud berbobot. Karena mungkin itu terlalu sarkastik. Aku pun adalah orang yang tidak terlalu suka obrolan yang berat. Karena bacaan dan tulisanku saja ringan-ringan saja. Namun sering aku mendapati diriku seolah orang yang amat aneh karena berbincang mengenai hal yang lebih serius atau katakanlah agak dalam. Seperti masa depan, dll. Tentu tidak semua orang yang aku temui begitu. Banyak juga yang sepemahaman. Juga aku tidak mempermasalahkan mereka yang seragam denganku. Karena siapa tahu, orang-orang itu hanya tidak ingin mengungkapkan. Padahal yang mereka pahami jauh lebih mendalam.
Praktik Sendiri
Gimana? Sudah berapa ratus vocab academik yang sudah dihafal dan diamalkan? Pikiranku selalu saja bercabang. Padahal sebenarnya cabangnya bisa dipotong dengan aksi. Hihi.
Kian kemari kian paham, kalau apapun ilmu yang kita dapat jika tidak dipraktikan sendiri maka tidak akan bisa berkembang. Hanya polesan, teori dan apapun namanya kalau kita tidak mau mengulang apa yang sudah kita dapat di kelas maka hasilnya ngga worth it. Ini salah satu cabang pikiran yang kerap menghantui dan masih ku coba sulap menjadi sebuah aksi.
___________
Rasanya campur aduk saat pertama kali diminta menjadi tutor camp. Aku tahu aku tidak sendiri. Tapi bagiku ini akan cukup menantang. Tidak seperti di kelas. Tutor camp artinya kita akan satu bangunan dengan para member dan lebih banyak interaksi. Cukup berat untuk orang yang lebih suka diam sepertiku. Namun bagaimana pun aku harus menghadapinya. Rasa takut itu biasa, karena aku cuma seorang manusia. Beruntunglah aku karena memiliki Allah yang Maha Segala.
Alhamdulillah, selesai belajar bersama teman-teman, ber16 orang. Usai itu, kami melanjutkannya dengan sharing dan hearing. Salah seorang dari mereka kemudian berkata, "Sisssss... jangan banyak diem. Banyak omong dong." Dan guys, aku memang susah bergaul dan ngoceh panjang lebar dengan orang baru, tapi aku akan terus berusaha demi kalian hehe. Meski kadang akan lebih nyaman dengan orang yang menerima kita apa adanya, ngga perlu pura-pura hanya karena ingin diterima. Tapi ngga masalah juga kalau ingin menjadi makhluk sosial yang lebih baik sih. Selama masih dalam porsi dan terus berusaha untuk tulus.
Berusaha tulus tidak mesti kau akan di terima oleh banyak bagian. Kadang masih saja ada orang-orang yang senang berbicara di belakang. Sementara aku adalah orang yang percaya-percaya saja bahwa bagaimana pun tampilan seseorang, mereka pasti dikaruniai hati yang tulus. Meski sudah clear dengan metode muhasabah yang aku buka, bersama pastinya. Setelah itu aku berusaha semampuku. Benarlah, Allah selalu bersama. Jika tidak, mana bisa aku melewati jalan yang amat bersebrangan dengan personality yang ada pada diriku.
Sampai suatu hari, karena terlalu banyak target, aku sampai lupa membuat schedule. Ini yang akhirnya membuat aku lupa bahwa aku harus mengumpulkan hasil kuesioner ke office. Padahal kala itu kelas yang aku ambil cukup menyita waktu. Hingga akhirnya beberapa misscal dari office pun menumpuk di handphone-ku. Akhirnya setelah kelas usai, aku bergegas menuju camp. Aku kemudian mengambil tumpukan kuesioner yang sebelumnya sudah ku minta untuk diisi. Barangkali mereka juga sibuk. Hingga tidak sempat mengisi. Akhirnya dengan berat hati, aku meminta tolong pada beberapa orang yang ada disitu untuk mengisi sisanya. Karena deadline pengumpulan sudah sangat mepet dan rapat akan segera diselenggarakan beberapa menit lagi. Aku kemudian baru menyadari setelah rapat jika beberap orang itu justeru tidak pro dengan ku. Bisa dibilang hanya tersenyum jika didepan. Dan aku paling tidak bisa membohongi nurani seperti itu. Terseyum manis di depan, tapi memperbincangkan kita di belakang. Namun aku amat menyadari, aku tidak mau menyalahkan orang lain. Aku berusaha menghapus beragam prasangka. Aku harus mengintropeksi diri. Barangkali memang aku yang kurang berikhtiar untuk menjadi "fun" versi beberapa orang itu. Bahkan setelah materi kompleks, santai namun serius, tepat waktu dan lain-lain seolah tiada artinya. Tak menjadi masalah, aku menerima setiap kekurangan dalam diri, kemudian akan aku coba perbaiki. Dan dengan hal aku tidak sedikitpun tidak berhak dan tidak mau membenci.
Human measure the result. Allah measures the effort. Manusia cuma liat hasil. Allah yang ebih paham. Jadi, duhai teman-temanku (pdhl utamanya ke diri sendiri haha), jangan fokus pada result. Tapi effort. Besarnya effort juga tidak bisa diukur oleh orang lain. Jadi suaaantai sajaah. Sersan. Serius tapi santai dalam mengarungi kehidupan, supaya tidak melupakan esensi dan kenikmatan dalam setiap tegukan yang disajikan kehidupan.
Namun banyak sekali dari mereka yang tulus menerimaku apa adanya. Bahkan mendukung setiap perubahan baik yang membuat aku lebih dekat dengan mereka. Ini semakin terlihat saat mereka sedih kala mengetahui aku akan pindah camp. Mereka tak perlu menjelaskan dengan kesedihan dan pemberian itu, karena aku telah merasakannya. Bagaimana mereka berperilaku, nge-treat aku dan lain sebagainya. O iya, selain alasan lain, salah satu alasan yang cukup kuat adalah aku dan Kak Santi yang seperti perangko dengan surat. Nempel. Hehe. Tak masalah, akan aku hadapi apapun itu, insya Allah.
Anyway, teerima kasih banyaaaaak sudah mau menerimaku menjadi bagian hembus napas dari kalian, teman-teman. Aku yang; makan di warung saja malunya setengah mati padahal ngga ada ngeliatin juga, malu saat menghadiri acara ramai apalagi harus duduk di depan, malu begini malu begitu malu begita malu begito. Makasih banyaaaaak sudah banyak memberi pelajaran yang kerap menjadi refleksi bagi kehidupan pribadiku. Apapun background kita, kita adalah sama, keluarga yang saling mensupport untuk meraih nikmatnya ilmu. Love you All.
Aku tidak akan pernah melupaka saat kita nge-game, tutorial hijab, menganalisis makna tulisan dan lain-lain. Aku juga ngga akan lupa ceramah panjang Bu Kost yang sebenarnya bisa diambil poin sehingga lebih efisien dan efektif. Tapi bukankah seseorang seringkali unggul bukan karena dia pembicara yang baik, melainkan pendengar yang baik dan tepat pada saatnya dia harus mendengar san lebih baik diam. Saya ingat betul semua sindiran beliau; Saya selama disini belum pernah denger suara sampean teriak e, Mbak, sampean itu lemah lembut lebih cocok jadi guru TK saja, sampean itu harus mikirin anak orang yang sudah bayar dll. Sampai sebegitunya seolah aku tidak pernah memikirkannya. Hmm, kalau beliau tahu, aku bahkan sudah memikirkannya sebelum didaulat menjadi tutor saat melihat kelas sering sepi karena beberapa alasan yang sepele. Aku jadi ikut memikirkan nasib mereka dan mencoba memikirkan sebuah solusi. Meski aku pun tidak melulu mengungkapkannya. Kalau saja Bu Kost tahu suara melengkingku saat visit camp membangunkan para member cowo agar mau bergabung dan menjadi bermanfaat sorenya. Padahal aku awalnya bingung, bagaimana menghadapi murid dalam satu ruangan yang kesemuanya lelaki. Hmm, semoga Allah menuntun dan membersamai. Aku bisa saja membalas semua ucapan Bu kost, tapi aku memilij diam saja dan mendengarkan. Biarlah. Beberapa tipikal orang kadang hanya perlu didiamkan dan dibalas dengan senyuman.
____________
Kisah di Camp Baru
Mumpung ada ilham, aku memutuskan untuk mengambil buku, alat tulis dan lain-lain pagi menuju siang kala itu. Rasanya sudah seabad tidak membaca novel dan mengulang pelajaran, atau hanya sekedar menulis vocab. Belum genap aku melancarkan kegiatanku, Bu Kost mengetuk pintu. Aku segera menjawab dan membuka pintu saat seorang memberku masih terlelap. Kemudian beliau menyampaikan untuk pindah kamar ke seberang, karena kamar yang kami tempati akan disulap menjadi kostan. Ku urungkan niat untuk mengasah otak dengan ilmu pengetahuan yang saat ini masih amat jarang terjadi. Kemudian aku mulai berkemas, hingga memberku pun terbangun dan mengikuti jejakku.
Bukan hal yang sulit memindahkan semua barangku ke seberang, karena jumlahnya memang tidak seberapa. Namun kami berdua turut memindahkan barang member yang belum tiba di camp. Sebelumnya aku tinggal di camp Skyforce, disana aku memiliki teman yang lebih aku anggap keluarga. Ada Arista, Calista, Gaby, Syalli, Zahra, Sis Apil (tutor camp terkejte) dan lain-lain. Hehe kalau ingat mereka aku jadi ingat punya banyak kisah dengan mereka. Arista yang menjadi orang pertama yang akhirnya membuat aku membiasakan diri makan di tempat umum (warung), atau Gaby dan kawan lain yang mengajak aku bertandan ke Bromo, namun terpaksa aku tolak. Hehe, ada sih uangnya, tapi budget untuk bertahan hidup. Siapa yang tidak mau menjelajah dengan sahabat-sahabat terbaik? Siapa yang tidak mau meraup pelajaran dari sebuah perjalanan? Namun kadang yang kita mau tidak mesti kita turuti. Terlebih I still can't earn money by my self. Apalagi aku percaya, bahwa setiap orang pasti memiliki kesempatan yang sama. Berbekal doa dan usaha.
Ah, banyak sekali kisah di Camp Skyforce yang tidak aku lupakan. Juga cerita nano nano yang ada di Camp Passionate Dreamers yang satu halaman dengan Wonder Woman. Hmm, sekarang aku tinggal di camp baru yang aku beri nama Butterflies, bergabung dengan Hot Summer, ditutori sahabatku, Sista Isa.
Kepindahan yang awalnya cukup tidak aku inginkan karena meski banyak kejadian rumit di camp lama, aku percaya aku akan bisa melewatinya. Terlebih aku bukan pribadi yang mudah memahami lingkungan baru. Namun beruntung, sepertinya aku pribadi yang selalu siap dengan apapun masalahnya yang menanti di depan.
Lalu, hari pertama aku dan Sista Isa bermalam di camp baru dengan membawa baju ganti dan barang secukupnya untuk kelas besok pagi. Saking tidak terencananya, aku sampai lupa tidak membawa perlengkapan mandi. Kami kemudian memperkenalkan diri, mereka manis-manis, baik-baik sepertinya dan antusiasme. Aku agak terperanjat jika ternyata aku akan memiliki lebih sedikit member alias teman jika hanya menghitung member butterflies. Namun aku salah, mereka ternyata amat sangat saling respect. Baik bukan hanya pada kesan pertama. Bahkan aku dan Sis Isa diperlakukan sama, dua perbedaan nama camp tidak menjadikan sekat diantara kami semua. Mereka amat menyenangkan. Aku juga heran. Hal lain yang awalnya yang juga membuat aku cukup terperanjat adalah saat aku tahu camp ini masih terbilang baru, bagus dan bernuansa putih, warna kesukaanku. Tidak dilengkapi Wi Fi juga salah satu yang cukup menarik perhatian orang yang rantau yang ingin berhemat sepertiku, hahaha. Yang lebih hebat lagi adalah kamarnya banyak. Jadi dalam satu kamar hanya ada dua orang. Neda dengan camp sebelumku, berisi lima orang. Namun ada satu hal yang menguji iman, suasana camp baru ini panasnya minta ampun. Seperti di sauna. Aku sendiri belum pernah ke sauna, itu hanya katanya. Panasnya tidak wajar karena sebuah AC di ruang depan memang belum dinyalakan karena belum ada titah dari manajemen office. Panas yang tidak ketulungan ini sepertinya karena memang rumah tersebut didesain ber-AC, tak ada fentilasi. Yang ada hanya mesin blower bising yang sebenarnya hanya mengalirkan hawa panas tanpa mengurangi. Jadilah kami semua serupa orang yang lari berkilo-kilo meter, keringat mengucur deras, tidur tidak nyenyak. Aku jadi ngeri sendiri membayangkan balasan di yaumul akhir kelak. Terlebih di padang mahsyar yang panasnya seolah tak terdefinisi.
Namun lihatlah hari ini. Beragam kenikmatan mendekat dan menetap pada kami. Tentu karena Sang Illahi. AC sudah dinyalakan, jadi sudah lumayan dan kami amat bersyukur. Para member juga sangat menyenangkan dan antusias untuk belajar dan menaati aturan. Kami bahkan dengan cepat menyatu menjadi keluarga baru. (Salah satu tutor bahkan berpendapat, "Aku suka members mu. Mereka reactive banget sama english. They take it seriously. I love them." Aku kemudian bergumam, "Alhamdulillah. If they did it, it's because of their own selves. May Allah guides them.") Wi Fi juga kabarnya besok akan dipasang. Alhamdulillah bisa berhemat. Semoga bisa digunakan semestinya, tidak hanya handal membuat status di sosmed, hehe. Banyak sekali kenikmatan yang Allah berikan. Padahal kalau aku ingat lagi, aku tidak pernah complain atas apapun pada Allah perihal apa yang aku hadapi di camp sebelumnya. Kamar yang full, kamar mandi yang terbatas, Bu Kost yang hobi ceramah unfaedah (Oops), beberapa member yang aduhai cukup gimana gitu tapi aku tidak pernah benci apalagi dendam, dan lain sebagainya. Aku tidak mengeluh pada Allah, kebetulan (Haha). Namun Allah kini membalas dengan cara yang amat indah. Aku sampai malu sendiri jika tidak betul-betul belajar berada disini.
Yang menjadi buah pikiranku adalah kadang aku takut tidak bisa memberikan yang terbaik untuk para member. Karena mengajar tanpa inovasi, begitu-begitu saja----bagiku amat flat, tidak menyenangkan. Hmm, dengan mengucap bismillah, aku akan berikhtiar.
Kesan di kelas Periode 1
Di periode pertama pikiranku bercabang kemana-mana. Sebab rumor kita akan didaulat jadi tutor, sebab itu pulalah aku jadi tidak fokus pada konten, melainkan cara mengajar para tutor. "Benarkah aku bisa seperti mereka?", pikirku. Di minggu pertama aku hanya fokus pada cara mengajar, sedang isinya hanya sepersekian persen. Karena aku kira kami akan langsung jadi tutor kelas. Padahal tidak demikian, hahaha. Entahlah, semenjak Skripsi menjadi bagian dari hidupku, aku jadi kerap tidak bisa fokus pada satu hal. Bercabang. Begini. Begitu. Bahkan kalau ada orang bertanya hal remeh sekalipun, aku acapkali masih berpikir dulu sebelum akhirnya mampu melempar jawaban. Hmm, Allah. Mudahkan hamba untuk menjernihkan kembali pikiran. Sebab segalanya adalah jihad, bukan beban.
Periode pertama aku menyukai kelas Speak Up 2 karena mengharuskan kita untuk berbicara. Aku suka. Meski sebenarnya aku amat mendambakan kelas TOEFL. Namun kami kan hanya anak beasiswa, jadi cukup bersyukur saja dengan paket yang sudah ada. Tentu usai itu tak lupa melantunkan doa-doa.
Aku juga menyukai kelas Pronun WOW. Tutor yang menghandle kelas juga begitu talent. Sedang Go Go Talk sering membuat aku mengantuk, ada serpihan kecil yang membuat aku bertanya, tapi lekas tertepis dengan pernyataan: Tidak ada salahnya mengulang. Ingat, kita bisa belajar dari banyak hal. Yang terakhir kelas Tik Talk. Disana aku mendapat beberap kosa kata baru. Semoga tidak hilang dan tertiup laksana debu.
Kesan di kelas Periode 2
Aku senang bisa bergabung di kelas Quicky Speak. Menantang. Kelas yang paling aku suka. Kelas yang paling aku tunggu. Tidak ada bedak bayi, cekikikan dan game. Meski kadang tertawa juga amat penting, biar tidak terlampau serius. Nanti cepat kurus. Eh.
Write Up juga kelas yang aku gandrungi. Meski kerap bersalah karena tidak meluangkan waktu untuk melatih menulis dan berbicara topik berfaedah dan berbobot sendiri di Camp karena terlalu banyak excuse.
3 GP 1 harusnya ada di periode pertama, namun aku juga bersyukur, kelas ini bisa jadi jalan untuk mengingat kembali apa yang mungkin dulu sudah dipelajari tapi terlupakan karena tidak pernah diamalkan. Aku juga dijadwalkan mendapatkan kelas I - Club, kelas untuk belajar mengajar. Dari keempat kelas bisa aku simpulkan aku tidak berikhtiar maksimal, selalu. Di Quicky Speak aku ga belajar dan mempersiapkan materi dengan matang melainkan dadakan, di 3 GP 1 aku tidak sempat membaca lagi di Camp (cuma sedikit sih), di Write Up dan I Club juga begitu. Hmm, bismillah semoga setelah ini Allah mudahkan untuk melakukan yang terbaik. Dari sini aku jadi paham, bahwa sesuatu memang harus dipersiapkan, dilatih dan dipelajari lebih dulu. Menanam, kemudian menuainya kelak. Aku sempat berbincang lama dengan Bro Chan dan Sis Umami. Dari keduanya aku jadi ingin belajar lagi, sendiri jika memang belum ada tutor. Berdoa, belajar dan berlatih. Lebih mengarahkan diri untuk bercakap topik berfaedah dan menulis tulisan ilmiah dan akademik, terlebih katanya aku ingin sekali melanjutkan studi bukan. Wallahua'lam.
Kesan di Kelas Periode 3
Periode juga banyak sekali menumbuhkan banyak anak cabang pikiran. Bagaimana bisa mengantuk di kelas favorit yang mendapatkannya pun tidak pernah terduga sebelumnya. Ya, jadi kita bisa memilih paket sendiri di periode ini. Aku dan beberapa dari kami memilihi kelas TOEFL. Sulit dipercaya. Laa hawla wa laa quwata illaa billah.
Hehe, di awal pertemuan entah setan apa yang mendiami pelupuk mataku. Ngantuk minta ampun. Scoring aku lewati dengan menahan kantuk yang amat dalam. Padahal aku adalah tipe orang yang tidak pernah mengantuk separah itu di kelas. Karena aku bukan anak organisasi saat di kampus. Maka akan sangat aneh jika aku mengantuk di kelas. Sebab meski aku lemot, aku sangat menghargai kelas karena itu merupakan anugerah berupa pendidikan yang tidak bisa aku sia-siakan. Dulu waktu kelas 12 SMA aku pernah dua kali didapati tidur pulas di tempat dudukku saat KBM berlangsung. Itu karena aku baru tidur usai sholat Subuh dini hari karena harus menyelasaikan proyek sekolah, menjahit baju seragam sekolah. Beruntung guruku saat itu pengertian. Padahal beliau terkenal tidak ramah pada murid. Tapi aku yakin, hatinya baik bukan main. Maka saat itu perdana aku merasakan bagaimana secara tidak sadar mengantuk dan tertidur saat pelajaran berlangsung. Sungguh memalukan. Hehe.
Sudah seminggu kelas TOEFL berlalu. Sudah berapa lembar buku relevan yang aku baca? Sudah berapa kosa kata akademik yang aku amalkan? Dan beragam pertanyaan lainnya. Besok kami akan menghadapi scoring kedua. Semoga aku tidak mengantuk. Karena ini adalah kelas yang sudah lama aku dambakan. Jika ada kesempatan, aku akan belajar kelas serupa di lembaga lain juga. Atau mungkin belajar sendiri mengingat sedikit banyak aku memperhatikam bagaimana metodenya selama ini. Hmm, entahlah. Que sera sera.
Adapun dari kelas ini aku jadi diingatkan dari oleh tutor-tutor kelas dengan segudang prestasi namun tetap rendah hati. Bahwa jangan lupa untuk menginvestasikan waktu untuk membaca dan menulis yang lebih ilmiah. Lalu ingat, bahwa menguasai TOEFL itu bukan perihal score yang didapat, tapi skill yang melekat.
Don't waste your time, girl!
Tambahan
Banyaaaaak bangeeeeet rasanya perubahan dalam diri sampai hari ini. Hehe. Lebih peka terhadap orang lain. Lebih percaya diri untuk mengungkapkan pendapat ataupun pertanyaan, meski masih lebih suka mendengarkan sebenarnya (kecuali ada yang kurang srek maka saatnya angkat bicara, walau kadang diam saja). Lebih hati-hati dalam bersikap. Lebih berusaha lagi memanaj waktu. So forth.
Yang jelas aku jadi sering berlatih untuk menemukan topik pembiacaran, haha. Misal: satu member tadi malam melangsungkan fashion show. Akhirnya esok harinya saat berpapasan aku akan membahas topik itu, memperpanjang, mengulas dan apapun itu. Memutar otak untuk orang sepertiku, yang awalnya lebih suka diam jika tidak ada yang mengawali pembicaraan dulu. Yah, tidak sesempurna orang yang memang handal berbincang panjang lebar. Namun at least aku berusaha memberikan yang terbaik. Berusaha untuk tidak membuat batinku tertekan dengan kegiatan baru yang harus aku jalani, melainkan bersyukur dan meyakinkan diri bahwa memperluas relasi dan menumbuhkan keeratan silaturahmi adalah salah satu cara untuk memperbaiki kualitas diri.
Yang cukup berubah lagi adalah aku yang sudah mulai bisa menerima kenyataan untuk bisa makan di warung atau tempat umum meski sebenarnya masih malu minta ampun. Entah ini perubahan yang baik atau tidak. Yang terang adalah aku yang awalnya paling tidak bisa makan di depat lelaki asing kini mulai terbiasa, anggap teman dan mereka manusia biasa. Hehe.
Apalagi yang berubah dan kesan menjadi tutor ya? Lupa. Aku pun sudah mengantuk. Baiklah. Aku akhiri dulu. Wassalam~
_____________
Sekian dulu curhatnya, jika ada waktu senggang dan ada yang terlupa, postingan ini akan segera diperbaharui. Thanks!
Ngomong sendiri: Lama ga nulis, tulisannya jadi kacau. Tar aku edit lagi dah.
0 komentar