Aku selalu berusaha menjaga perasaan orang lain. Bukan lantaran aku paham jika iman seseorang bisa dilihat dari bagaimana ia memperlakukan orang lain. Namun lebih karena sejak kecil secara tersirat maupun tersurat, itu adalah sikap yang diajarkan Ibu padaku. Maka aku amat tidak habis pikir ketika ada beberapa orang yang seenaknya mengeluarkan kata-kata menyakitkan, mengiris hati. Seolah ialah paling benar terhadap apa yang mungkin sedang dinilainya. Seolah apa yang dikeluarkan dari lisannya tak bisa menjadi bumerang baginya. Seolah tidak ada yang tak terlihat sedang mengawasi apapun yang ia lakukan selama ia masih bernyawa.
Aku begitu perasa. Karakter yang bagiku bisa menjadi sebuah kelebihan atau kekurangan dalam diri. Aku seringkali tidak ambil pusinh dengan ucapan seseorang. Namun adakalanya ucapan-ucapan itu melekat, ku ingat. Atau ku cerna, padahal ia bisa menjelma racun yang mematikan. Mematikan semangat untuk maju, untuk lebih baik dan lain sebagainya. Karena ucapan yang membangun dan menjatuhkan sudah barang tentu berbeda. Aku bahkan mengingat tiap-tiap empu mulut yang sudah sedemikian lancarnya mengeluarkan kata saat bahkan tidak ada satupun yang meminta. Jika sedari awal sebelum ucapan-ucapan itu keluar aku telah mengetahuinya lebih dulu. Maka telingaku sepakat denganku: tak sudi mendengarnya.
Namun tenanglah. Meski mengingat, aku tidak pernah menaruh dendam. Lebih tepatnya tidak bisa. Kadang aku sebal sendiri mengapa aku tidak bisa? Atau paling tidak, membalas yang sepadan! Tapi mungkin lagi-lagi Ibuku. Beliau yang mematrikan karakter ini bertahun-tahun padaku. Bahwa menjadi pendendam adalah asing bagi kami. Karena kami tak ingin menjadi asing bagi Tuhan kami.
0 komentar