Ibu: “Kenapa ga sekalian di ratakan saja. Bangun pondasi dari awal. Buat semuanya dari bawah, yang baru.”
Bapak: “Ga usah. Perbaiki saja yang rusak. Kita kan sudah tua. Sudah saatnya memikirkan bekal yang akan kita bawa kelak. Sudah tidak lama lagi kita disini. Maka biarlah anak-anak kita yang nantinya membangun yang baru jika mereka mau.”
Begitu potongan perbincangan menggentarkan kedua orang tuaku pagi itu. Banyak bagian yang akhirnya banyak membuat aku merenung. Betapa aku yang masih belum berbakti apa-apa di usia mereka yang kian senja. Aku yang juga belum memiliki bekal yang cukup, karena sejatinya maut tidak pernah mengenal usia. Dan beragam pikiran lainnya.
Aku sendiri memang tidak berkeinginan di masa depan untuk memiliki rumah yang megah, melainkan rumah yang nyaman. Adapun nyaman bisa datang dari suasana, design dan interior rumah yang tidak mesti mahal. Nuansa rumah berwarna putih dengan interior hijau mungkin akan menjadi pilihan utamaku. Sedang suasana yang nyaman dan mendamaikan hati juga tumbuh dari para penghuni rumah yang dipenuhi dengan cahaya taqwa. Rumah yang selalu bercahaya Karena dibacakan kalamullah setiap hari. Rumah yang penuh dengan keberkahan karena acapkali digunakan untuk menggali ilmu, nilai-nilai kebaikan dan tempat untuk kian menundukkan diri kepada Sang Khalik.
Jadi kamu tidak ingin diamanahkan harta berlimpah?
Jika memang itu yang terbaik, maka siapa yang bisa menolak. Boleh jadi arta yang berlimpah justru akan menjadi salah satu jalan yang memudahkan untuk mewujudkan impian-impian luhur. Seperti membangun sekolah gratis, perpustakaan gratis, dan lain sebagainya ketimbang hanya sebagai pelepas nafsu dan memperkaya diri. Memenuhi laci dengan tumpukan perhiasan warna-warni, memenuhi garasi dengan koleksi mobil pribadi, memenuhi lemari dengan tumpukan baju yang selalu baru dan tidak sempat dikenakan sama sekali, atau barisan tas bermerk agar bisa ditampilkan di TV, dan beragam pola konsumtif yang hanya mementingkan diri sendiri. Naudzubillahimindzalik.
Aku percaya bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Membolak-balikkan Hati. Jadi siapalah aku yang berani-beraninya menjamin bahwa aku akan selalu memiliki prinsip dan jalan hidup yang sama dari waktu ke waktu. Namun aku selalu berdoa, semoga Allah teguhkan pemahamanku, jika dunia hanyalah sementara. Supaya aku tidak akan pernah lalai dan berbelok arah. Juga, dimudahkan untuk menyiapkan amal baik yang suatu saat bisa ditukarkan dengan rumah yang nyaman di akhirat, yang kekal, abadi, hakiki. Aamiin.
0 komentar