Kenapa Aku Tidak Bisa Berhenti?


Aku kerap mendapat pertanyaan yang bernada sama seperti: “Buat apa sih, Lut kamu seringkali share kata-kata atau cerita yang menginspirasi dan memotivasi? Toh kamu belum bisa meraih apa-apa.” Untuk kalimat terakhir hanya asumsiku. Hehe, tidak untuk ditiru. Aku sendiri sudah mencoba untuk berhenti karena merasa lebih baik fokus pada diriku yang masih sangat dipenuhi kekurangan dalam menjalani kehidupan yang benar. Namun ternyata itu tak bertahan lama. Aku benar-benar tidak bisa berhenti.

Jawabannya sebenarnya sederhana. Beberapa orang akan merasa sangat berapi-api untuk membagikan apa yang telah dia dapat. Baik itu ilmu, harta dan lain sebagainya. Seperti saat mereka usai mendapat khazanah ilmu dari pengalaman menjelajah dunia, menonton film, membaca buku, dan macam-macam. Mungkin aku salah satu diantaranya. Aku belum memiliki banyak harta yang bisa dibagi, untuk itulah barangkali sembari memperbaiki diri sendiri, aku mau membagikan semangat optimisme memperbaiki kualitas diri pada orang lain. Karena yang aku tahu, banyak sekali pelajaran yang bisa aku dapatkan dengan melihat kehidupan orang lain.

Selalu saja. Keinginan yang menggebu dan terlintasnya pikiran: “Duh! Jangan sampai hanya aku yang mengetahui dan merasakan ilmu dan semangat ini. Harus ada banyak orang yang mengetahuinya.” Walau pada akhirnya akan selalu ada langit di atas langit. Bisa jadi orang yang mendapat apa yang kita bagikan justeru lebih handal dan ahli di bidangnya. Namun alasan semacam itu tidak mampu menghentikan niat baik. Toh dunia ini amat luas dan ilmu lebih luas dari pada itu. Maka akan ada banyak hal yang mesti dipelajari, tak terhitung. Itulah mengapa manusia tidak bisa angkuh dengan apa yang sudah dipahaminya, karena mereka terbatas. Terlebih jika kita (setiap manusia) bisa saling melengkapi, saling memberi arti, saling berbagi dan saling menasehati.

Aku yakin, fitrah ini dimiliki banyak orang di muka bumi. Semacam konsep “Wa ta waa shaubil haq” dalam Islam. Meski memang, bagiku menasehati yang paling benar adalah dengan memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Lagi-lagi, itu tidak bisa jadi alasan. Sebab yang perlu dilakukan adalah bukan lantas memilih berhenti dan pandai mencari alasan, melainkan terus bergerak mengaplikasikan. Kemudian terus giat berdoa kepada Tuhan, semoga niat kita selalu tulus dan diluruskan.

Pertanyaan lain juga pernah hinggap di hadapan dari beberapa orang. Mereka bilang: “Untuk apa nyanyi-nyanyi di social media?”. Mungkin jika diterjemahkan dalam konotasi negatif, kegiatan semacam itu yang bagi beberapa orang tidak berfaedah adalah bentuk aktualisasi diri yang negatif. Padahal, bagiku pribadi, itu adalah bentuk untuk meningkatkan percaya diri. Karena jujur, aku masih berusaha meningkatkan kepercayaan diri karena sebenarnya aku tipikal manusia yang amat pemalu. Terkadang tidak semua alasan bisa dibagikan atau bahkan dimengerti oleh semua orang. Tak apa, teruslah memperbaiki kualitas selama itu jalan yang benar dan jangan lupa berdoa pada Yang Maha Mengetahui untuk senatiasa ditunjukkan jalan yang benar untuk belajar.

Sama halnya saat kita mencoba membagikan pesan moral. Boleh jadi kita telah berapi-api saat menyampaikannya. Namun setelah sampai di orang lain, alih-alih mendapat pencerahan, mereka malah merasa kosong tidak memperoleh apa-apa. Ini bisa jadi karena mereka memiliki pandangan yang berbeda, momen yang berbeda dan lain sebagainya. Tak apa, yang terpenting adalah terus memelihara niat yang tulus nan lurus. Kita sama-sama manusia, makhluk mulia. Pun artinya kita memiliki kesempatan yang sama. Yang membedakan adalah mau atau tidaknya kita mengambil kesempatan itu. Kalau bukan kita, lantas siapa lagi yang akan melakukannya?

0 komentar