Aku mengawali semester pertama di bangku kuliah
dengan perasaan bersalah karena sempat kucing-kucingan dengan para kandidat
panitia dies natalis. Begitulah aku. Aku akan lebih mengikuti apa kata Ibu
sejak dulu meski menjadi bagian dari mereka juga merupakan tanggung jawab yang
harus aku emban. Namun jika Ibu sudah bilang, “Tak perlu ikut-ikut seperti
itu, panitia dan lain sebagainya. Langsung pulang saja setelah kelasmu usai,
supaya tidak pulang kemalaman.” Begitu kata beliau. Meski semua itu
disampaikan dengan lembut, aku mau tidak mau harus menurutinya, itulah kenapa
sejak dulu aku tidak pernah terlibat dalam kegiatan kepanitiaan, juga sering
aku merelakan beberapa ekstrakurikuler di sekolah demi mematuhi perkataan Ibu.
Siapa yang tidak mengerti, jika hal itu justeru akan memperparah sifatku yang
amat pemalu berpendapat, pemalu kemana-mana, pemalu dan pemalu lainnya. Namun
aku percaya, Allah Swt tidak akan menyia-nyiakan hamba yang ingin berusaha
sami’na wa’atha’na kepada orang tua. Aku bisa saja membantah dengan halus
dengan cara memberi penjelasan tentang betapa pentingnya kegiatan penunjang
luar kelas semacam itu, akan tetapi itu tidak akan mengubah banyak pemikiran
seorang Ibu yang khawatir anak perempuan kemalaman di jalanan yang seringkali
lebih liar dari binatang hutan. Maka aku sepatutnya bersyukur, kedua orang tua
yang bahkan belum pernah mencicipi bangku sekolah itu rela memberikan kesempatan
selapang-lapangnya kepada seorang anak perempuan desa untuk mengenyam ilmu
pendidikan di kota saat SMA. Kemudian setelah itu berkuliah, masih di tanah kelahirannya.
Tak apa jika semua itu membuat beberapa calon
panitia dies natalis periode kala itu melihatku dengan ekor mata kala bertemu. Toh
memang aku yang salah dan lari dari tanggung jawab. Pun aku tidak pernah
menjelaskan kepada mereka alasannya sebenarnya. Sering aku mendapat ajakan dari
beberapa orang, lengkap dengan kalimat-kalimat yang terdengar begitu
menyudutkanku dan terkesan menakut-nakuti. Tapi memang dasar, meski aku amat
pemalu, aku ternyata memang bebal dan tidak mudah dipengaruhi orang. Aku juga
berpikir jika aku sudah terlambat karena hari dilangsungkannya dies natalis
akan segera tiba. Maka pastilah sebagian besar jobdist sie PDD telah
diselesaikan, pikirku. Walaupun begitu, aku selalu terusik dengan perasaan
bersalah. Ingin aku bergabung menjadi bagian dari panitia itu, tapi
jangan-jangan memang teramat terlambat. Padahal jika boleh jujur, pekerjaan
berbau PDD bisa sangat menyenangkan bagiku. Meski nyatanya aku tidak tahu
persis apa yang akan dikerjaan sie PDD.
Dies natalis sudah berakhir, tapi rasa
bersalahku tak kunjung berakhir. Beberapa hari kemudian aku mendapakan ide:
minta maaf. Tapi aku takut mereka tidak memaafkan kesalahan yang begitu besar
itu. Setelah meminta mendapat Himma, akhirnya aku bertekad untuk meminta maaf
dengan cara mengirim pesan, hehe. Bahkan Himma juga mengecek pesan yang sudah
aku ketik. Aku mengirim dua pesan yang sama dengan sapaan berbeda ke dua nomor:
nomor handphone Nunik sebagai Ketupel Dies Natalis dan Toni sebagai ketua Sie
PDD. Tak menunggu lama, keduanya membalas pesanku. Betapa terharunya aku dibuat
mereka kala mereka ternyata memaafkanku dan meminta agar melupakan semua yang
pernah terjadi. Aku cukup lega, walau sebenarnya tidak teramat lega. Karena aku
belum meminta maaf ke banyak orang.
Singkat cerita, segala prasangka buruk dan
perasaan bersalah perlahan ditelan kesibukan mengerjakan beragam tugas sebagai
mahasiswa. Aku mulai merasa benar-benar bisa mencintai teman seangkatan dan
menganggap mereka bak keluarga baru disamping bertebarannya kabar miring
mengenai angkatan ini. Tapi aku tak peduli, kami adalah kami. Setiap manusia
memiliki kekurangan yang bisa saja nampak atau Allah tutupi. Maka aku menjadi
salah satu orang yang amat tidak peduli dengan omongan buruk orang luar
angkatan, melainkan menjadikannya sebagai bahan evaluasi diri. Sebab kelompok
terbentuk dari tiap-tiap pribadi. Bahkan aku sepertinya selalu menjadi orang
yang terakhir mendapatkan berita seputar prodi dan angkatan. Belum lagi dari
Toni dan Nunik, aku jadi mempelajari untuk mampu memafkan dan menerima setiap
kekurangan dengan lapang. Hmm, sebenarnya aku tidak menginginkan dan mengira
pembukaannya akan dimulai dengan cerita sepanjang ini karena pastinnya akan
membosankan. Intinya aku telah belajar dari orang-orang hebat dalam angkatan
ini. Maka biarkan aku membagi sedikit pandanganku terhadap kalian. Jika kurang
berkenan, aku mohon maaf. Sengaja aku tidak membubuhkan kekurangan kalian yang
sudah barang tentu dimiliki setiap insan, karena aku lebih sibuk memperhatikan
dan berusaha memperbaiki diriku yang
penuh dengan kekurangan. Semoga Allah Swt memudahkan kita semua. Selamat men-skip
dan mencari nama anda! Hehe.
Rieke Ayu Safitri. Ayu, begitu ia biasa dipanggil. Ayu seperti parasnya. Bagiku ia
tak suka banyak bicara. Dia baik. Yang paling aku ingat darinya adalah jika
tidak salah di hari pertama kuliah aku duduk di kursi paling depan bagian
kanan, tepat disampingnya. Dia rajin mencatat setiap materi perkuliahan. Kulirik,
tulisannya bagus bukan main.
Sofiatul Qoni’ah. Sofi. Tak ku sangka ternyata suaranya
seindah wajahnya. Citra ini ku dapat kala berada dalam bis yang sama saat pergi
Studi Lapang bersama. Orangnya baik dan sepertinya ceria.
Arini Rohmatika. Arini itu care. Meski
tidak sedekat seorang teman dekat, dia tidak akan sungkan untuk menanyakan
apakah tugasmu sudah selesai. Bahkan jika perlu, ia juga akan member pesan.
Arini terkesan begitu rajin. Saat sekelompok bersamaku ia akan menyelesaikan
jobdist sebelum tenggang waktu yang disepakati kelompok usai.
Desy Tri Mega. Desy, menurutku
dia mudah bergaul dan pandai mencairkan suasana. Gaya biacara yang seringkali
ceplas ceplos berupa candaan lucu membuat banyak orang senang berteman
dengannya. Dia juga tidak pelit untuk mengaminkan dan mendukung mimpi orang
lain. Aku yakin itu semua akan kembali kepadanya.
Uswatun Hasanah. Uus tinggi. Hehe begitu
yang seringkali tanpa sengaja aku jadikan perbedaan kala menyebut dirinya pada
yang lain. Dan mungkin itu juga sering dilakukan yang lain. Karena ada tiga Uus
itulah akhirnya kami harus pandai-pandai membuat label, hehe *bercanda. Uus
anaknya baik. Mungkin itu yang mengantarkan dirinya untuk menamai akun IGnya
demikian *promo. Orangnya juga menyenangkan. Kalian akan mengetahuinya sendiri
kala benar-benar mengenalnya. Bukankah kehidupan sering begitu? Kau kadangkala
tak bisa mengukuhkan karakter seseorang hanya dengan satu tegukan kopi.
Siti Luthfiyah. Evi, ku kenal saat
kami belajar bahasa Inggris dengan Sir Wahid. Sebelumnya aku belum pernah
berkenalan, meski kita telah bertahun-tahun berada di sekolah yang sama. Selain
Evi yang memang tidak terlalu suka bicara dan heboh sepertiku, kami memang baru
amat mengenal saat ternyata mengenyam pendidikan di prodi yang sama. Dia kalem,
pintar, cantik dan sederhana.
Intan Kusumawati. Intan, si murah
senyum. Atau mungkin murah ketawa. Karena ia tidak pernah segan untuk menimpali
omongan atau candaan atau apapun yang relevan dengan tertawa-----dengan ketawa
khasnya. Selain cantik, kepribadian yang baik membuat ia mampu memilki banyak
teman.
Rizki Okvian Sari. Rizki. Dia
tekun untuk mencari tahu apa materi perkuliahan yang belum ia pahami. Selain
itu Rizki juga rajin mengerjakan tugas. Tidak sepertiku yang seringkali tunduk
pada deadline. Ia juga tak segan membagi ilmu yang ia pahami dengan cara yang
baik dan terlihat amat sabar, tidak merendahkan.
ST. Robiatul Adawiyah. Dewi
orangnya baik. Dia juga seringkali membuat lelucon lucu, dan itu menghibur. Kala
mengerjakan tugas kelompok, kesan pertama yang aku dapatkan adalah (kelompok
pertama di kelas aku bersama Dewi dan beberapa anggota lain) ia cenderung lebih
percaya dan menonjolkan orang lain, padahal sebenarnya dia juga bisa. Karena
setiap orang memiliki kelebihan dalam dirinya.
Elza Septia Ayu Lestari. Seperti Evi, Elza juga berasal dari
almamater yang sama denganku dan aku baru mengenalnya di kampus. Kami juga
sempat menginap di masjid kampus karena kerja kelompok di masa orientasi
memakan waktu hingga dini hari. Elza adalah sosok yang rendah hati dan
sederhana.
Eva Rusdiana. Eva. Meski ceplas ceplos, Eva sebenarnya
sosok yang baik dan peduli. Ia juga handal dan teliti di mata kuliah yang
berbau aritmatika. Pertama mengenal dan mengamati sekilas wajahnya, aku mengira
Eva adalah anak yang begitu pendiam. Hehe.
Maulinda Agustin. Linda, orang yang peka
sekali. Ia baik bukan buatan. Sering menawarkan tebengan, atau bahkan mengajak.
Karena ia amat peka dan mengetahui jika sang pemalu tak akan mengangguk jika
hanya ditawarkannya, bukan diajak. Lebih daripada itu, kepribadian yang baik
lain yang menetap dalam dirinya membuat banyak orang menyayanginya.
Nurul Jannah. Jeje. Aku bahkan baru
mengetahui jika kita juga berasal dari almamater yang sama. Kala itu aku
dikagetkannya di gerbang MAN. Ia menyapaku dan bertanya sudah keterima di
kampus mana. Aku bingung karena sama sekali tidak mengenal Jeje. Siapa wanita
cantik ini, pikirku. Akhirnya aku tersenyum, lantas menyengir dan menjawab jika
aku belum diterima di kampus manapun, sementara ia sudah tercatat sebagai
mahasiswa baru prodi Agribisnis di UTM. Kami pun saling mendoakan. Aku masih
belum tahu identitasnya hingga akhirnya kami saling mengenal di kampus. Yang
aku bingungkan, dari mana ia mengenal
aku? Hehe. Jeje anak yang pandai bercerita dan mengolah kata, ia juga mudah
bergaul. Maka meski baru mengenal, akan selalu ada pembicaraan yang dapat
mencairkan suasana. Beda jika denganku, seseorang justeru kadang merasa tidak
dihiraukan karena aku terlalu banyak diam. Hehe.
Ria Mega Asri Tri Nalanda. Ria. Kesan yang aku
dapatkan pertama kali saat kami sekelas
di mata kuliah PAI. Ia membawakan presentasi dengan amat baik, selain itu ia
juga menjawab dengan tanggap. Tidak memilih-milih dalam berteman adalah salah
satu sifat yang bisa aku lihat ada dalam diri seorang Ria. Ceileh bahasanya,
haha.
Affan Nailurridho. Affan. Baik hati. Ia
juga sering melontarkan candaan menjadi ciri khas tersendiri yang melekat dan
memudahkan ia bergaul dengan siapa saja. Affan meski handal berpendapat, tak
mau terlalu memperlihatkan kehandalannya. hehe.
Mega Sulfia. Mega, juga satu almamater
denganku seperti Elza, Evi dan Jeje. Dan sepertinya satu-satunya yang memiliki
persentase lebih saling mengenal denganku. Bukan tanpa sebab, karena saat di MA
dulu, ia juga berteman baik dengan sahabat-sahabatku, Badi’, Mince, Caca’ dan
lain sebagainya. Mega orang yang baik dan friendly.
Bismi Ade Yulia. Bismi. Citra pertama yang aku dapatkan
darinya adalah dia menyukai bahasa Inggris. Kala itu ia mempraktikkannya dengan
salah seorang panitia ospek. Kebaikan yang tak pernah bisa aku lupakan adalah
saat dia membantuku untuk menyelesaikan satu tugas menulis tangan di praktikum
Metode Kuantitatif Bisnis karena saat itu tanganku belum bisa menulis. Aku
tidak meminta, tapi ia menawarkan. Akhirnya aku mengiyakan karena merasa ada
banyak tugas lain yang menunggu. Beruntungnya bisa ku lakukan dengan mengetik
menggunakan satu tangan. Selain itu, Bismi juga ku kenal tak sungkan untuk
mengungkapkan pendapatnya di khalayak.
Annisatul Qomariyeh. Anis adalah salah
seorang yang akan menyelimutiku kala tertidur selain Ulfa. Ini karena tempat
kost mereka seatap. Lagi-lagi aku tidak pernah meminta tapi ia lakukan dengan
tulus. Anis menyukai prakarya dan seni berpuisi. Sering ia menyulap
karton-karton menjadi bintang yang lucu-lucu. Atau menuliskan bait-bait puisi
di dinding BBM-nya.
Hendra Hardiyanto. Hendra terlihat
santai saat mengerjakan tugas kelompok meski sebenarnya dia juga rajin. Satu
sekelompok saat di ospek fakultas membuat aku bisa menyimpulkan beberapa hal
mengenai karakter anak yang satu ini. Ia adalah orang yang santun, religious
dan teman yang baik.
Risqi Kurnianti. Eqi. Menjadi partner asprak membuat aku
merasa selangkah lebih mengenalnya. Dia menyenangkan. Dia kerapkali memberi kesempatan padaku, orang yang baru belajar. Sedang dia sudah lebih awal. Aku
sendiri seringkali menyipulkan sesuatu mengenai tabiat orang kala bertemu
pertama kali. Itu acapkali aku jadikan acuan. Namun ternyata tak selamanya
benar. Kau akan lebih mengenal seseorang dengan baik seiring dengan berjalannya
masa. Dan mengenal Eqi seperti mengenal lainnya. Aku jadi banyak belajar. Iya, dia baik dan pengertian. Dan belakangan aku ketahui dia sangat handal ngebut dan beraksi di jalan raya. Terlatih. Ini ku ketahui saat kami bertiga (Aku, Eqi dan Ana) pergi ke pameran beasiswa di Surabaya. Kala itu aku senang sekali mengetahui sisi lain darinya.
Ana Fifit Rotin: Ana. Aku nyaman belajar sama dia. Sama
yang lain juga sih. Tapi dia itu salah satu tipikal orang yang tidk mudah mendiskreditkan
orang lain. Sebab aku yang meski
bertanya hal remeh-temeh tetap dia anggap pertanyaanku itu keluar dari mulut seorang
profesor. Amat berharga. Itu sedikit yang bisa menggambarkan jika dia humble.
Aku tidak bisa menghitung kebaikan yang sudah dia lakukan untukku.
Aimatul Azizah. Iim. Begitu kami memanggil. Dia pribadi yang lucu, ceplas ceplos, baik dan cantik. Tak banyak yang bisa ku jelaskan tentang dirinya seperti sahabat dekat yang mengerti baik karakternya. Namun aku belajar banyak dari Iim. Salah satunya untuk selalu bersabar dan tidak menyerah untuk melakukan sebuah hal. Karena ada banyak orang yang menunggu dan mendoakan pastinya.
Sherly Utami Putri. Sherly ini baik dan sangat setia dalam berkawan. Dia juga memiliki selera seni yang menarik. Apalagi di bidang fotografi. Dia juga handal berpose di depan kamera. Terbaca dari karyanya jika ia adalah orang yang rapih dan detil. Tulisan tangannya juga amat unik dan indah. Terlihat sekali goresan seni di setiap huruf yang tertata.
Yulistian Parameswari. Aku bukan ingin mengatakan anak AGB 14 semuanya baik di mataku. Tapi kenyataanya memang begitu. Selain itu Yulis juga cantik. Hehe, ayolah, Lut. Berapa kali kau menilai orang hanya dengan ukuran fisik? Hehe, percayalah, pada faktanya aku bahkan jarang sekali hampir tidak pernah menilai orang pertamakali dari ukuran fisik, melainkan akhlaknya. Yulis juga kerap tidak ketinggalan membawa air minum sendiri dari kostannya. Ini bukan karena dia tidak memiliki cukup uang untuk membeli air minum. Namun lebih kepada dia memang orang yang 'rajin'.
Noer Aliyatin Rahmawati. Ternyata Nora itu anaknya memang kocak dan ceplas ceplos. Kesan itu ku dapat bahkan sebelum seakrab sekarang. Setelah aku dipindahkan untuk bimbingan dengan dosen pembimbing skripsi Nora (karena dosen pembimbingku menunaikan ibadah haji), kesan itu kian kuat dari dirinya. Selain itu dia juga sangat baik. Meski hanya beberapa minggu, aku merasa kami telah berteman akrab sejak lama. Dia rajin dan bukan tipe deadliner sepertiku. *ups.
Suci Indah Sari. Ah, dia juga tipe orang yang mudah membuatku tertawa dengan ceplas ceplosnya. Menyenangkan! Mampu melupakan beban sejenak. Beberapa minggu lalu setelah lulus kuliah melangsungkan pernikahan. Hehe. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah dan mampu menjadi jalannya dakwah, ya!
Siti Kholifatul Solikah. Selain Suci, Siti rupanya juga sudah jauh terlebih dahulu melepas lajang. Hehe. Padahal seolah baru beberapa hari yang lalu kami tertawa cekikikan. Ini tak lain salah satunya karena Mbak Siti melihat aku beraktraksi dengan seutas tali dan seekor kucing dikostannya yang juga kostan Ulfa. Memang. Dia memang murah senyum dan tidak segan untuk terbahak melihat aksinya. Beruntung saat itu tidak ada KK-ku. Kalau tidak dia pasti akan berkata, "Jangan tertawa terbahak. Apalagi muslimah." Hehe, peace! Bercanda. Lagian mana mungkin ada beliau. Ups. Lalu nyatanya, ucapan beliah banyak benarnya sih.
Lisnawati. Lilis baik sekali. Hehe. Aku beberapa kali diijinkan menginap di kostan-nya yang juga merupakan kostan Irvi. Hihi. Sebelum itu dia memang baik. Ah, aku kehabisan kata dan tak tahu lagi bagaimana mendeskripsikannya lagi. Yang jelas, senang sekali mengenalnya dan semoga dia tidak melupakanku sampai kapanpun. *Idih, maksa ya!
Uswatun Jannah. Uus. Ini Uus yang cantiknya seperti artis. *Tuhkan ngukur fisik mulu, Lut. Wkwk, peace. Tapi sungguh, semua yang bernama Uus di dunia adalah orang yang cantik. Selama ia adalah seorang perempuan tulen. Hehe. Uus juga pribadi yang menyenangkan. Dia kerap menggodaku dengan menjadikan beberapa storyku di sosial media sebagai candaan. Aku pun terhibur dengan itu. Senang sekali bertemu dan mengenal orang yang tidak memilih-milih teman sepertinya.
Lia Agustina. Ucapannya kerap terlontar amat fulgar. Hehe. Tapi aku amat paham jika dia orang yang amat baik. Bukan sekedar baik dalam menjalani hidup, Lia juga orang yang apa adanya. Dia juga dikenal sebagai sosok yang tangguh, pekerja keras, patuh aturan dan rajin. Jika tidak salah ingat, dia bahkan bimbingan skripsi 4 kali dalam seminggu. Ini ungkapan dosen pembimbingnya yang geleng-geleng dengan betapa rajin dan antusiasnya ia dengan tugas akhirnya. Beruntung ia dipertemukan dengan orang yang tepat. Eh, maksudku setiap orang akan bertemu dengan beragam hal yang tepat. Hanya saja penyikapannya memang pasti tidaklah selalu sama.
Ulfa Widia Ningrum. Ulfa: Dia itu kian semester kian tekun.
Padahal kita sama-sama makan nasi. Itulah yang bikin nilainya kian menjulang.
Meski bukan itu tujuan tunggalnya. Aku belajar buat sabaaaaar banget dari dia.
Dia bisa pendiem tapi bisa cerewet masya Allah. Dia juga sering memasak untukku
di kost. Hehe. Yap, dia salah satu yang menjadi langganan untuk aku menginap
kala ada keperluan mendesak di kampus. Seperti, mengajar, buka puasa bersama,
kumpulan dan lain-lain. Kata terima kasih dan doa rasanya tidak cukup untuk
membalas kebaikannya.
Annisa Aulia Hidayah. Nicun: Masih dengan orang berkarakter
sama seperti pertama aku kenal saat berjalan ke pertelon kampus. Tapi makin
kenal, ternyata dia kian hebat. Kalo chat sama dia bisa panjaaaaaaaang. Kalo VN
bisa lama syekaleeeh. Hehe. Banyak topic yang menarik diperbincangkan
dengannya. Dia juga mudah mendoakan dan mendukung yang terbaik untuk orang
lain. Termasuk untuk diriku. Itu adalah salah satu pelajaran berharga yang aku
dapatkan darinya. Thank you, Nicun.
Hasyim As Arie
Ghonimatun Nafi’ah
Claudia Wahyu Ekalisa
Yeni Eka Setiyowati
Shelly Afini
Bima Kurnia Wijaya
Muhammad Iqbal
Nur Laili Alfianah
Ovi Qurrotus Tsaniya
Larissafitri Anggraini
ST. Laila Zaini
Maulani Yulindasari
Erick Gunawan S.
Muhammad Afifudin
Aldi Wicaksono
Imamatul Ulya
Mega Maulina Ummie
Toni Irawan
Muhammad Taufiqurohman
Indah Tri Sundari
Hafiluddin. Aura kesabaran, kebaikan, dan beragam
karakter baik lainnya terpancar jelas bahkan meski baru mengenalnya. Bang Hafil
juga tidak memilih-milih dalam berteman. Selain itu ia juga handal membuat
lelucon segar. Maka tidak heran jika ia memiliki teman sebanyak air di lautan.
Hehe. Selain hal yang sudah aku sebutkan itu, kesan pertama yang aku dapatkan
adalah gaya bicaranya yang bagus saat berbicara dalam bahasa Indonesia, seperti
intonasi, dan lain sebagainya. Hmm, sukses terus, Bang!
Ahmad Barisi
Ade Irawati
Mohammad Noor Assiqin
Moh Rizal Prasetyo
Ekomatis Solah
Farrasmahdy Julian
Fahmi Zainur Rois
Irviana Nisvi Khoirun Nisa’. Irvi: Aku ngomong
sekalimat. Dia ngomong sekalimat. Aku menulis sebaris. Dia pun gitu. Aku lagi
cerewet-cerewetnya. Dia juga cerewet. Dia sedang ingin menjadi orang yang
pendiam. Aku juga. Dia tidur di bus. Aku juga tertidur. Dia pendengar yang
baik. Aku berusaha juga untuk itu. Aku ngakak. Dia ngakak (meskipun tidak
dianjurkan dalam Islam hehe). Pokonya banyak yang klop sama dia. Selain klop,
dia juga peka kalau aku lagi butuh apa-apa. Misalnya, pinjeman laptop. Hihi.
Suwun, Mat!
Riza Ade Prasetya
Moh Nashiruddin Effendi
Febi Rista Nanda
Farida Hanum
M Nur Huda
Dwi Andika
Akhmad Yusup. Yusup orangnya seringkali kocak. Meski juga kerap menghilang kala saatnya bimbingan KRS. Yap, kita mendapat dosen wali yang sama. Dia juga pribadi yang baik dan terbuka.
Fitria Asariani. Kesan pertama: Fitri itu cantik. Hehe. Pertama kali dia menyapaku kala Ospek jurusan. Dia membantuku berwudhu karena kala itu kami berwudhu menggunakan timba dari tempat penampungan air yang terbilang besar. Tanpa aba-aba dia langsung membantuku. Setelah itu kami tentunya banyak dipertemukan di kelas yang sama karena prodi kami memang hanya membuka dua kelas. Jadi kemungkian besar untuk mengenal semua anak angkatan. Selain itu kami juga sering mendapat tugas kelompok bersama. Tak hanya itu, kita juga qadarullah mendapat dosen pembimbing skripsi yang sama. Fitri adalah orang yang tidak takut menghadapi banyak tantangan baru. Ia tergabung di banyak organisasi kampus. Tentu, dia juga pribadi yang baik. Bukan karena dia membuatku haru dengan memberikanku hadiah boneka lengkap dengan headphone, tapi karena banyak kelapangan hati dan kebaikan yang seringkali aku saksikan darinya.
Fatimatus Zahroh. Fatim: Perhatian sekali, apalagi kalai aku
memutuskan untuk menginap di kostnya karena ada keperluan. Semuanya perhatian juga
sih, hehe. Tapi dia detiiiiil. Dia juga kerap beres-beres dan rela membiarkan aku
pulas dengan buku yang tidak jadi aku baca. Haha. Kalau bahas soal ilmuagama
(amat seru) sama dia sering bikin aku ingin baca buku agama banyak-banyak, tapi
sering terlupa dan malah tidur nyenyak. Hmm, apapun itu, terima kasih atas
segalanya rasanya tak cukup!
Himma Hadzani Zulfa. Himma: Dia sering punya pemahaman beda.
Terus sering juga pemahaman kita sama. Dia dan Aku kerap menganggap sesuatu
lucu, tapi tidak untuk beberapa orang. Kadang bisa bahas berfaedah (dia, Aku
mah apa haha) sesuatu panjang lebar sampai lupa tujuan utama: kudu mengerjakan
tugas. Kebiasaan itu kerap terjadi, apalagi kala itu aku sering menginap di
pondoknya karena kita menyibukkan diri dalam kegiatan bela diri di kampus.
Bukannya menyelesaikan tugas karena baru pulang tengah malam, kami justeru
memperpanjang percapakan. Momen yang benar-benar tidak akan aku lupakan. Segala
kebaikan dan pesan-pesan yang seringkali tersampaikan dengan cara yang
terselubung lewat kata-kata sederhananya. Terima kasih!
Nunik Muhayani. Nunik adalah orang dengan jiwa sosial yang begitu tinggi. Dia tidak segan membantu banyak orang. Tidak tebang pilih. Ini bukan karena aku sering 'nebeng' kala pulang kemalaman. Namun jauh sebelum aku kemudian akrab dan berkenalannya dengannya, aku sudah bisa menebak jika ia pribadi yang begitu. Sebuah kejadian yang membuat ia rela naik turun lift untuk membantu seorang temanku kala itu yang akhirnya membuat ia memberi kesan pertama sedemikian rupa padaku. Dan ternyata memang benar adanya. Nunik juga memiliki jiwa kepemimpinan yang baik, dia tidak mudah menjadi egois meski ini memang sifat manusia. Dia seringkali memikirkan banyak orang ketimbang dirinya terlebih dahulu. Sekali lagi, ini bukan karena ia tergabung di beberapa organisasi. Tapi sebelum itu karakter ini sudah terpupuk. Maka aku sungguh setuju jika kemudian dia dinobatkan sebagai peserta ospek jurusan terbaik saat itu.
Hana Safitri: Hana, Aku pertama dekat itu sama anak ini. Dia care orangnya. Ramah bukan main. Seringkali punya jalan sendiri. Apa adanya tapi kece. Dia juga yang membuat aku mampu mengurangi rasa asing yang awalnya melekat saat pertama kali menapaki dunia perkuliahan. Aku juga tidak akan pernah melupakan banyak kebaikannya.
Mauidhotul Hasanah. Mbak Idho. Baik. Hehe. Aku tergelitik karena betapa tidak kreatifnya aku mendeskripsikan orang secara relatif. Baik memang relatif. Dan memang begitu karakter Mbak Idho dan yang lain di mataku. Jadi aku tidak peduli jika orang lain memiliki penilaian yang berbeda.
Omong-omong begitu murah hatinya Mbak Idho menghadiahiku sebuah buku perihal tips untuk penulis pemula. Hmm. Semoga Allah membalas kebaikanmu, Mbak!
Warbianto. Warbi tidak mudah menyerah dengan penyakitnya. Iya, dia berjuang melawan penyakitnya yang beberapa kali membuat program kuliahnya terbengkalai. Penyakit itu mudah menyapa ia seperti ia yang juga mudah menyapa orang lain terlebih dahulu kala bertemu. Namun tentu, kita semua berdoa semoga kesembuhannya kini adalah utuh dan penyakitnya tidak akan pernah lagi kambuh. Aamiin.
Mohammad Ali Fikri. Ali Fikri juga sosok yang sering membuat kami tertawa karena tingkahnya yang lucu. Tertawanya seorang teman acap kali berarti bukan untuk menghina melainkan mengapresiasi dan berterimakasih karena telah mau menghibur.
Anyways, hobi Ali Fikri mungkin salah satunya memancing. Ini kami simpulkan karena kami terlalu sering mendapati memancing di kolam ikan yang ada di area kampus. Katanya, ini hobi yang begitu menyenangkan. Mungkin lebih menjadi pelipur ketimbang seonggok gadget belaka.
Ilham Al Isfahani. Kesan pertama yang kudapat darinya adalah orang yang baik, ramah dan tidak memilih-milih teman hanya karena tingkat IQ, kekayaan dan hal-hal semacamnya. Tentu, dia belum ada waktu untuk bertanya hal semacam itu. Hehe, becanda.
BTW, itu hanyalah kesan di awal. Maksudku setelah itu, bagiku dia adalah orang yang sangaaaaaaaat irit bicara apalagi jika tidak teramat perlu. Aku kadang merasa konyol sendiri kalau sapaanku hanya berujung gigitan jemari. Hehe. Tapi dia baik. Kan sudah ku bilang, semua personil Agb baik.
Ilham sepertinya gemar membuat puisi dan menggambar. Bukan untuk sesumbar, aku juga menyukai dua kegiatan itu. Namun tak perlu dibandingkan, gambarku masih serupa cakar hewan dan puisiku masih mencerminkan proser belajar sang empu. Tak apa, menyukai kan bukan berarti mendewakan hasil yang lebih dari yang lain. Yang terpenting ketulusan dan tidak pernah bosan untuk belajar dan berlatih. *Aih, jadi ceramah buat diri sendiri.
Edi Amrosi. Meski bicaranya irit, Edi orang baik. Bukan cuma itu. Kenampakannya di kelas juga irit. Mungkin karena jarang sekelas. Tapi kita sedosen wali. Dan dia sering juga dicari.
Aku percaya, setiap orang punya kesibukan yang berbeda dan itu pilihan. Sebagai teman, kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk teman kita. Apalagi sesama muslim. Hehe.
Selket. Nama yang begitu unik. Ia mudah dikenal bukan cuma karena nama itu. Tapi juga karena orangnya yang lucu dan kerap terlibat di berbagai organisasi kampus. Selket juga begitu baik. Ia tidak segan membantuku saat ban motorku pecah. Dengan izin Allah dia amat sangat membantu kala itu. Aku benar-benar tak mampu berkata dan harus berterimakasih macam apa. Karena saat itu aku harus segera mengahadapi tes Toefl. Bersyukur sekali hidupku dipenuhi dengan orang-orang baik.
Eka Via Masluhah. Cantik bukan buatan. Hehe. Aku kira dia bukan anak angkatanku karena tidak pernah ada di Ospek fakultas maupun jurusan. Ternyata memang seangkatan. Benar. Dia layak jadi artis hehe. Bukan hanya karena parasnya. Namun juga lantaran dirinya dan mimiknya yang begitu ekspresif itu. Belum lagi ia juga agaknya jago beracting. Jangan ditanya betapa sering humor Eka membuat kami tertawa serempak.
Nada Nur SBP. Nada memberi kesan pertama padaku bahwa ia adalah wanita cerdas dengan semangat rasa ingin tahu yang amat tinggi. Ini karena ia kerap duduk di bangku terdepan dan acap bertanya, juga menjawab dosen kala kegiatan perkuliahan di kelas tengah berlangsung. Dan sebenarnya memang begitu, meski ia kerap mengungkapkan bahwa ia tidak demikian. Nada juga sepertinya begitu menyukai dunia fashion dan model. Ia seringkali mengikuti perlombaan fashion di kampus. Ia berbakat dan cocok. Atas hobi dan kegemarannya tampil dikhalayak umum, aku kira Nada bukan orang yang pemalu kala harus berhadapan dengan kaum pria. Ternyata ia mengaku justeru masih sangat malu. Hmm, begitulah memang fitrahnya seorang wanita. Kegiatan di dunia tidak lantas mengikis fitrah tersebut. Belakangan ku ketahui jika itu adalah bentuk dari keimanan.
Achmad Naufen. Nopen jago membuat desain dan mengedit foto. Iya, dia juga memintai dunia fotografi. Tak salah jika kemudian ia dan temannya membuka jasa fotografer. Ia juga salah satu pribadi yang terlihat apa adanya. Seolah tidak mau menjaga image. Nampak begitu santai menjalani kehidupan dan menikmati tiap detiknya. Beberapa orang kadang hanya memutuskan untuk tidak mempermasalahkan hidup. Itulah mengapa dalam hidup, banyak orang orang terlihat begitu lapang.
Uswatun Hasanah. Selain baik, Uus juga ku ketahui handal di mata kuliah berhitung. Berbeda denganku yang masih dengan momok memusingkan kala harus dihadapkan dengan mata kuliah sejenis. Padahal hakikatnya segala hal dapat dipelajari dan ditekuni sebab segalanya berawal dari pola pikir kita sendiri. Tidak hanya di bidang ini, karena Uus terlihat begitu antusias hampir di semua mata kuliah saat kelas berlangsung.
Fiqri Romadiansyah. Fiqri terkenal speak up. Mungkin selain
itu membuatnya terlihat kritis, itu juga akan membuatnya terlihat ngeyel dengan
pendapatnya. Atau mungkin aktualisasi diri. Namun padahal orangnya baik dan
menyenangkan. Lagipula, tidak semua aktualisasi diri itu berkonotasi negatif.
Ali Wafa. Ali dari awal ku kenal sebagai sosok yang
ramah, karena walau tak akrab ia hobi menyapa saat di jalan. Meski itu artinya,
orang yang irit menyapa tidak berarti menjadi orang yang tidak ramah juga. Ali,
begitu ia biasa dipanggil adalah sosok yang juga piawai memetik gitar.
Sebenarnya menceritakan mereka tidak akan cukup dua penggal buku.
Banyak sekali yang ingin disampaikan.
Sebab kita sudah seperti keluarga yang saling mendoakan. Well, semua
temen dari jaman bahulak sampai sekarang
yang tidak disebut sebenarnya juga Aku anggep sama. Dan sebenarnya lagi, tidak
baik memuji seseorang didepan mereka. Tapi Aku yakin, insyaAllah mereka
menganggap pujian ini ujian untuk tetep istiqomah dan humble. Lalu semua yang
kusebut mengenai mereka adalah sisi kebaikan. Sebab aku lebih suka melakukan
muhasbah ketimbang mencari kesalahan, kelemahan dan kekurangan orang lain. Kita
hanya butuh untuk senantiasa saling mendoakan. Eh iya, sampai lupa. Aku meminta maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang salah dengan tulisan ini. Maklumlah, ini hanya opini berdasarkan kacamata pribadi. Hanya sebagai hiburan dan kenangan. He. OK, baaaaai!
0 komentar