Lakukan yang Terbaik!

Lakukan yang terbaik! Itu yang seringkali banyak orang dengungkan dengan bahasa asing yang lantas berbunyi: Do the best! Mendengar kalimat itu, banyak pula yang akhirnya tergerak untuk melakukan yang terbaik.

Dalam hidup, aku selalu merasa tidak melakukan yang terbaik. Sebab bagiku, aku barangkali selalu mengerjakan sesuatu dengan tanggung atau mungkin setengah-setengah. Bukan karena perkara hati yang terpaksa untuk kemudian melakukannya dengan setengah hati. Tapi lebih kepada effort yang dilakukan tanggung, tak maksimal. Setidaknya itulah yang selalu aku rasakan.

Kata Andrea Hirata, dalam salah satu novelnya---satu dari beberapa kriteria orang cerdas adalah tidak pernah merasa "wah" dengan hasilnya. Sebab ia akan cenderung memperbaiki lagi dan lagi karena selalu merasa ada yang kurang. Saat mengerjakan tugas misalnya. Jika yang lain hanya cukup berpendapat dalam selembar halaman, ia malah ingin menambah, merombak dan menambah lagi. Bahkan saat telah dikumpulkannya tugas itu, ia belum merasa lega dengan hasilnya. Kira-kira seperti itu apa yang disampaikan penulis novel best seller itu. Itupun jika aku tidak salah memahami. Hehe.

Kala membaca bagian tersebut dalam novel itu, aku cukup kaget. Persis seperti diriku saat mengerjakan tugas. Namun bukannya merasa aku mendapat karakter cerdas versi Bang Andis, aku malah mengintrospeksi diri yang masih bergelimang kekurangan. Seperti mengerjakan tugas mepet deadline, dan lain sebagainya.

Malam ini aku merenung. (Aku tidak tahu, mengapa merenung menjadikan kegiatan yang amat aku gandrungi. Apa karena introvert? Hmm, sudahlah... Bukankah agama memang mengingatkan kita untuk senantiasa berpikir). Aku melihat diriku yang kini telah menunggu diwisuda. Hari yang bahkan belum aku siapkan pernak perniknya sesiap kawanku yang lain. Karena bagiku, lulus sudah sangat aku syukuri. Tanpa harus riweuh ini itu. Tapi tak apa, prosesi wisuda kan bisa menjadi bentuk syukuran bersama juga.

Kembali ke renungan. Ya, aku merenungi diriku yang saat ini masih memiliki beberapa kesibukan. Satu diantaranya ku lakukan di kampus, sebelum akhirnya aku benar-bemar hengkang. Yang mengusik sekaligus aku sesalkan adalah aku yang belum melakukan yang terbaik dan maksimal untuk kesibukan yang satu itu hingga sekarang. Pikirku, betapa aku telah menyia-nyiakan kesempatan yang telah Allah berikan.

Aku tahu, aku masih memiliki waktu untuk merubah perilakuku, memberikan yang terbaik yang aku bisa. Meski dalam hidup, aku tidak pernah melakukan yang terbaik, menurutku. Namun semoga Allah mudahkan. Iyyaa kana'budu wa iyya kanasta'in ~

0 komentar