Beberapa minggu lalu aku mendapat informasi mengenai beberapa beasiswa dari salah seorang sahabat. Beasiswa belajar bahasa Inggris di Pare, Kediri yang terkenal itu. Sudah lama aku ingin belajar disana, bahkan aku juga bermimpi belajar di negara asal bahasa asing itu. Namun aku tidak pernah membayangkan salah satu dari mimpi itu kemudian menjadi nyata. Karena aku tidak tahu bagaimana caranya. Namun aku tak berhenti bermimpi hanya karena bingung bagaimana caranya. Sebab cara Allah Swt. selalu tidak dapat diduga.
Hingga pada akhirnya aku mempersiapkan persyaratan. Saat hari H hendak mendaftar, ternyata ada kesalahan, info beasiswa di salah satu course tersebut belum diperbaharui. Admin menyatakan jika pihaknya belum membuka beasiswa untuk angkatan selanjutnya. Alhasil aku harus menerima kenyataan yang pahit itu. Sebab aku percaya, akan ada kesempatan lain. Sekali lagi, tak pernah kita duga sebelumnya.
Suatu hari sahabatku mengirimkan link mengenai informasi beasiswa di tempat kursus berbeda. Aku kemudian melihat persyaratan dan menelan ludah kala mengetahui kita diharuskan membuat video dengan durasi 1 menit. Dan aku adalah orang yang tidak terlalu suka diekspose dalam video. Percaya atau tidak, meski aku amat mensyukuri setiap apa yang Allah berikan, aku dulu masih sering berpikir bahwa orang-orang yang tampil dalam sebuah video adalah mereka yang good looking. Maka bagiku, biarlah mereka yang pegang andil. Hehe.
Tapi aku harus berusaha atas mimpiku. Itu sudah konsekuensi. Karena Allah Maha Adil untuk menakar usaha makhluknya. Maka aku menyanggupi syarat itu.
Dalam rutinitas siaran dan mengedit video di studio ATM Radio, aku menyempatkan diri sebentar untuk menulis oretan naskah yang akan aku sampaikan dalam video Challenge 1. Ya, masih ada tantangan selanjutnya. Sebelumnya, saat mencuci piring, menyapu lantai, sampai dalam perjalanan ke radio aku sudah menerka-nerka bagaimana isinya nanti. Aku bahkan memperagakan gerakan yang agaknya cukup heboh, kepribadianku yang lain. Namun nyatanya saat di video malah garing. Haha.
Aku kemudian meluangkan beberapa waktu membaca naskah dan mengulang-ulangnya agar paham dan hafal sembari menunggu editing video untuk radio yang sedang diproses untuk publish. Sedang khusus untuk syarat beasiswa, 41 video rekaman berdurasi 7 detik - 1 menit berhasil bersarang di galeri HP putih itu. Dan satu video pilihan akhirnya aku unggah sepulang dari studio. Bermodal tethering dari kemenakanku, video itu akhirnya terunggah juga. Aku menyelesaikan tantangan pertama. Lantas aku berdoa, sesungguhnya usahaku amatlah tidak seberapa, maka jika aku lolos nantinya, itu bukan karena aku bisa, tapi karena Allah Swt. yang menghendakinya.
_______
Pengumuman peserta yang lolos Challenge 1 tertera di akun resmi Mr. BOB. Yap! Aku mendaftar beasiswa yang dibuka Mr. BOB english course. Mataku kemudian mendapati namaku ada disana, di paling akhir rentetan 10 peserta yang lolos. Allah, alhamdulillah, seperti yang aku tanamkan dalam hati, jika memang lolos, itu semua karena kehendak-Nya. Aku tidak berpuas diri setelah itu. Sebab aku yakin tidak hanya aku, banyak orang akan melakukan hal yang sama: lebih giat lagi berdoa. Semoga jika ini memang jalanku, aku bisa lolos hingga tahap akhir. Eaaak, eh, aamiin dong ya.
Setelah dilakukan interview melalui WhatsApp, beberapa hari kemudian qadarullah aku lolos ke tahap wawancara langsung pada 23 Oktober 2018. Kami berlima akhirnya mempersiapkan diri untuk datang ke Mr. BOB Office guna menyelesaikan tahap terakhir.
Kami tidak diberitahu perihal jam interview, untuk itulah aku khawatir datang terlambat. Berbekal pengetahuan tentang jadwal bus dari Sumenep, aku berangkat jam 03:11 dini hari. Sekitar satu jam kemudian bus yang aku tunggu tidak juga lewat. Akhirnya aku memutuskan untuk naik mini bus hingga ke Tangkel, Burneh. Lagi, sekitar satu jam berlalu belum ada bus yang akan mengantarkanku ke terminal Purabaya. Aku mulai gelisah. Karena setelah mencoba mengalkulasi waktu secara sederhana, aku akan telat tiba di Pare. Pagi. Hanya kata itu yang menjadi patokan. Karena admin tidak membalas pesanku yang bertanya kepastian jam interview.
Ditengah kegelisahan aku bergumam, "Beneeeeeer! Ga ada yang bisa bantu aku. Kecuali Allah Swt. Ga ada yang bisa nolong. Kecuali atas izinnya. Bener. Tiap manusia sendiri. Mati pun sendiri. Meski makhluk sosial, Allahlah yang menggerakkan hati mereka untuk saling tolong menolong. Maka Rabb.. tolong hambamu, jika ini memang baik maka mudahkan. Jika tidak, hamba akan pulang"
Hehehe. Betapa mental tempenya aku. Belum berjuang sudah mau pulang. Beruntung ada keluarga dan Allah yang menguatkan untuk tidak menyerah. Hingga akhirnya sebuah mobil sedan berhenti di depanku. Sang pemilik (mungkin) menjadikan mobil pribadinya sebagai angkot. Aku sendiri belum melihat warna plat nomornya. Apakah Bapak ini bayar pajak atau tidak. Yang jelas, ia mematok tarif sedikit lebih mahal dari bus ekonomi.
Setelah menimbang dan melihat semua penumpang naik dari lokasi yang sama denganku (meski ini juga tidak bisa menjadi patokan aman tidaknya), dua penumpang wanita, dan beberapa pertimbangan yang lain----akhirnya aku memutuskan untuk naik mobil itu. Sembari merapalkan doa, aku teringat pesan Ibuku: "Jangan melihat orang hanya dari luar. Orang yang bersorban bisa jadi adalah tukang tipu. Berhati-hatilah."
Aku yakin, tiada yang lain selain pada Allah untuk menggantungkan segala harapan, salah satunya perlindungan.
Alhamdulillah tiba di terminal Parubaya. Aku lalu menaiki bus Patas yang bisa mengantarkanku ke Pare. Kondisinya masih sepi, jadi aku harus menunggu berpuluh menit sampai akhirnya bus itu berangkat juga. Bersyukur rasanya meski aku belum tahu apakah aku akan tiba tepat waktu. Ah, apa yang aku risaukan? Bukankah semuanya sudah digariskan?
Di dalam bus aku mengontak salah satu teman yang lolos lewat Instagran. Ray rupanya telah tiba kemarin. Ia juga mengungkapkan jika interview akan dilangsungkan pukul 10:00 WIB setelah bertanya langsung pada PJ. Karena sama sepertiku, saat bertanya jam lewat WhatsApp tidak dibalas. Hehe. Aku pun bernapas lega. Insya Allah aku tidak akan terlambat. Mungkin jam 9 sampai di lokasi.
Lanjut cerita, setelah untuk pertama kalinya aku menggunakan jasa Go-Jek aku sampai di kantor Mr. BOB pukul 09:52 WIB. Masya Allah. Beberapa menit kemudian interview berlangsung. Kami berlima dinyatakan lolos. Jika tidak, kami berempat sudah siap pulang kampung. Karena hanya Ghani yang akan tetap kursus tanpa beasiswa, katanya.
Ya, jadi kami berlima. Pertama Kak Icha asal Balik Papan, Kalimantan, dia sedang dalam proses pengerjaan Tesis pada salah satu kampus di Jogja. Kedua, Kak Santi yang berasal dari Sumatera Utara. Dia sarjana Ahli Gizi lulusan salah satu perguruan tinggi di Jogja dan sempat tinggal di Jakarta untuk bekerja. Yang ketiga Ray, anak Serang, Banten yang sedang mengambil cuti kuliah. Sedang Ghani dari Pandegelang, Banten yang masih dalam gap year usai lulus SMA. Lalu aku.
Hmm, mereka berempat, bagiku adalah pribadi yang menyenangkan.
_________
Keluar dari zona nyaman memang tidak enak pada awalnya. Tapi akan manis pada akhirnya. Tentu tidak gampang, apalagi bagiku yang sudah biasa hidup serba gampang. Maksudku hanya tinggal bersekolah tanpa bekerja. Meski aku dan saudara bukan tipe anak yang minta dibelikan ini itu, karena memang kami terlampau mengerti keadaan perekonomian keluarga. Mungkin bagi sebagian orang keputusan untuk kursus ke Pare adalah hal yang biasa saja. Kecil. Tapi bagiku ini adalah langkah yang besar dan cukup berat. Aku harus meninggalkan orang tua dan berbakti dengan cara yang berbeda dengan yang biasanya bisa aku lakukan saat ada di rumah, meski tak seberapa.
Benar, Allah Maha Mendengar. Satu yang selalu aku ingat meski diriku masih bergelimang kekurangan yakni, andalkan Allah di setiap sendi impian. Jika memang yang terbaik untuk kita, maka Allah wujudkan.
Akhir kalimat, semoga Allah tanamkan keteguhan dalam hati kita untuk senantiasa bertaqwa dan merajut mimpi demi kebermanfaatan, serta memanfaatkan sebaik mungkin kesempatan yang telah diberikan. Aamiin.
0 komentar