Pelayanan Kekinian

Aku biasanya lebih mengutamakan kualitas pelayanan kala bertransaksi jasa/barang. Tapi kali ini pikirku beda. Ini for business. Jadi aku rela menunggu agak lama demi bisa menekan harga. Lama karena pelayanan yang kurang dimanaj dengan baik. Padahal sebenarnya ia bisa multitasking, tapi memilih untuk menyelesaikan satu-satu. Aku berharap suatu saat tersedia kotak kritik dan saran. Hehe.

Di tengah perjalanan pulang aku bertanya dalam hati, kenapa bagian belakang motor seolah bergoyang? Tak ku dengar lagu dangdut melainkan riuh rendah beragam kendaraan. Aku pun berhenti sejenak. Ku dapati ban belakang kempes sekempes kempesnya. Hmm, alhamdulillah dapat ujian. Barangkali.

Bukan menuntun, aku malah mengendarainya perlahan. Ucap seorang Ibu paruh baya, ada tempat Tambal Ban yang tak jauh dari situ. Aku akhirnya mengendara dengan begitu hati-hati. Tak seperti sebelumnya, yang katanya ugal-ugalan. Padahal bagiku juga hati-hati.

Toleh kanan-toleh kiri. Tak kunjung kutemukan ban bekas yang ditulis dengan cat putih. Hmm, bismillah. Semoga tak jauh dari sini, rapalku. Hingga akhirnya mataku berbinar menyaksikan benda itu, ban yang ku maksud seolah melayang didepan. Namun sayang, ada bacaan: Tutup, di pintu depan.

Aku masih terus berharap dan melanjutkan perjalanan. Kemudian berdoa, semoga langkahku untuk tidak menuntun kuda mesin itu tidak memperburuk keadaan. Lalu beberapa belas meter jalan beraspal kulewati, aku sumringah. Tempat tambal ban yang lumayan besar masih terbuka lebar. Aku berhenti. Tukang tambal ban yang mendadak jadi superhero di penghujung Magrib itu menpersilahkan aku untuk duduk dengan bahasa Madura halus. Sebelumnya ia bertanya ada apa dengan bannya. Aku menjawab bahwa aku tidak mengetahuinya kemudian menambahkan sebuah pendapat jika barangkali bannya bocor dan perlu ditambal, dengan bahasa Madura halus pula, meski masih amburadul.

Beda dengan tukang tambal yang kutemui beberapa bulan lalu, ia justeru sangat ramah. Tanpa babibu ia langsung mencongkel ban dan melakukan operasi. Persis saat itu, pikiranku terseret ke tukang tambal ban yang kutemui dulu: jutek. Mungkin karena sedang ada masalah, tapi aku tentu tak mau mencari tahu. Yang jelas ia membalas keluhanku sebagai pelanggan dengan sinis. Ah, apa cuma perasaanku? Tapi ternyata temanku sependapat denganku. Hmm, memang, setiap manusia seringkali memiki karakter yang tak sama.

Baiklah, kembali ke tukang tambal ramah yang juga lebih mirip malaikat penolong ini. Ia ku sebut demikian karena sikap welcomenya yang juga tidak berlebihan. Jadi, pernahkah kalian pergi ke sebuah toko lalu lama sekali diacuhkan buka malah ditanyakan perihal keperluan. Ya begitu maksudku. Salah satunya.

Aku baru ingat, sebotol air mineral ukuran 600 ml yang kubeli siang tadi masih utuh. Segera ku rogoh tas dan kuhabiskan setengahnya. Sungguh nikmat yang tiada tara.

Alhamdulillah, selesai juga. Setelah selesai membayar dan mengucapkan banyak terimakasih (lebih dari satu), aku akhirnya melanjutkan perjalanan.

Beberapa belas menit kemudian aku tiba di jalan desa menuju rumah. Masih sama. Tiang lampu seolah hanya menjadi pajangan di kanan kiri. Jalannya? Lebih parah dari medan untuk track-track-an. Hmm, entahlah. Kemana saja dana desa sekian milyar yang sudah digelontorkan? Apakah pemimpin era kini memiliki pemahaman yang berbeda mengenai pelayanan?

Aku baru saja duduk dan meletakkan helm. Beberapa saat setelah itu adzan isyak berkumandang. Antara adzan dan iqomah adalah saat yang mustajab. Doa kulantunkan. Salah satunya perihal pelayanan.

Bangkalan, 28 Agustus 2018

0 komentar