Bebas Memilih

Kalau aku bilang, aku ini bukan layaknya orang yang mau pergi ke kampus, melainkan ke pengajian, hehe. Karena penampilan yang menipu (wkwk) inilah yang membuat orang sering salah kaprah.
Seperti saat pergi ke pasar, seorang penjual sandal akan bertanya padaku dengan air muka kesungguhan: "Anak pondok ya? Mondok dimana, Nak?" 

Atau saat aku tengah menikmati perjalanan di dalam Bis, seseorang tiba-tiba bertanya senada, " Mondok dimana, Mbak?" 

Kala mencetak skripsi, aku bertanya pada pegawai apakah kertasnya bisa aku ganti. Tidak cukup menjawab dengan "iya", dia malah menimpaliku pertanyaan balik, "Dari Fakultas Keislaman ya, Mbak?"

Waktu masih kecil, aku memang berparadigma jika mahasiswa itu harus necis tampilannya. Adapun penampilan demikian aku definisikan dengan mereka menggunakan celana jeans, coat dan lain-lain. Pokoknya terlihat kece dan modis.
Tapi ternyata tidak selalu begitu waktu mamah tahu sendiri (iklan biskuit, hehe). Kita bebas memilih ingin tampil seperti apa. Bebas. Asal masih bisa ditoleransi. Jangan sampai kita mengenakan baju dengan kain beratus lapis yang bisa menyita banyak tempat di dalam ruangan. Atau baju berbahan kardus dan berbentuk kotak hingga amat susah untuk berjalan. Atau baju tipiiiiiiiis sampai membuat yang melihat saja merasa kedingingan. Hehe, baiklah, kita akhiri imajinasi ini.

Don't judge the book from its cover. Siapa yang menjamin jika yang memakai rok sudah tidak malas mengaji (dalam arti luas). Siapa yang tahu, jika yang begini begitu justeru masih dalam masa pencarian. Tetapi tidak masalah. Setiap orang memiliki jalan hijrahnya sendiri (karena seringkali nyaman itu kita yang merasakan, bukan orang lain. Lagipula kita tidak akan pernah mengetahui kedalaman isi hati, pikiran dan pemahaman seseorang). Pun pemahaman yang berbeda mengenai hijrah itu sendiri. Yang terpenting, kita tidak pernah  bosan untuk selalu meminta pemahaman yang benar dari yang Maha Benar.

0 komentar