Gue bingung sama status alias story WhatsApp bocah (SMP, SMA dll) jaman sekarang (yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Madura menjadi "Now"). Gimana ngga? Roman-romannya pada berbau romance. Hehe. Salah satu yang bikin gue spechless adalah kala mereka ngomongin jodoh. Tentang bagaimana teman hidup, imam, pendamping, dan istilah berbeda lainnya yang pada akhirnya mengerucut pada satu makna: jodoh.
Sebenarnya ngga ada salahnya juga sih. Daripada berbicara mengenai hal yang lebih tidak-tidak. Toh mereka menulis demikian bukan berarti mereka menginginkannya sekarang. Eh, bahasanya kok gini ya? Haha. Hanya saja sering gue terlempar ke masa-masa gue dan teman-teman gue dulu kala masih seusia mereka. Saat berpikir gimana belajar yang benar meskipun ngga benar-benar (gue doang kali ya), gimana caranya tetap bisa mengelola waktu dengan berbakti pada ortu (siaaah, lu mah mikir doang), gimana caranya mengganti lembaran rupiah ongkos dan bayaran sekolah dengan hadiah sholawat buat ortu agar senantiasa memiliki jiwa yang luas (meskipun ngga seberapa jumlahnya dan ngga sebanding), dan lain-lain yang pada intinya selalu berorientasi pada orang tua demi mengharap ridho-Nya. Yang lebih mulia lagi, para bocah yang menjadikan belajar alias menimba ilmu sebagi jalan untuk kian bertaqwa hingga amat takut akan murka-Nya jika menyiakan-nyiakan kesempatan itu (dan sepertinya kala itu gue belum sampai ke pemahaman yang ini. Hihi. Payah!).
-----
Gue memang seringkali iseng menyimpan banyak kontak siapapun. Kebanyakan memang sudah kenal dari grup menulis, beasiswa, dan sebagainya di WhatsApp yang berasal dari beragam usia. Jika sedang senggang, terkadang gue mengamati story yang bertebaran satu-satu. Sering gue menelan ludah, berdecak kagum, flat, tersenyum, speechless, dan berbagai ekspresi lainnya yang sudah barang tentu akan dialami setiap orang. Atas semua itu gue mencoba untuk mengambil pelajaran, selain ulasan singkat di atas (please, ngga perlu ngeliat ke atas juga, jangan terlalu ekspresif kek gue haha) ada beberapa hal penting yang bisa gue ambil dari bulatan-bulatan story WhatsApp yang jumlahnya bisa lebih dari seratus akun, ialah: betapa banyak waktu yang gue habisin, betapa banyak kuota yang gue habisin, dan betapa pekerjaan rumah ngga bakal selesai dengan gue hanya mantengin story orang-orang. Apalagi saat kalian mendapat soal yang lumayan kalau pekerjaan rumah-nya disingkat: PR. Krik krik.
Well, gue memang ngga berbakat buat ngelawak. Maapkeun!
Belum lagi berjibaku di Instagram, Facebook, Twitter, Youtube, Wattpad, Line, dan segala tetek bengeknya. Betapa semua itu kerap membuat kita kian jauh dari nilai-nilai kebaikan. Ya, jika penggunaannya tepat, maka justeru segala aplikasi baik yang bahkan belum tersebutkan itu akan membawa perubahan yang amat baik dalam hidup kita. Tapi gue pribadi sadar, jika semua kebaikan dari aplikasi-aplikasi bikinan manusia itu tak akan bisa menyala lama jika tidak terpantik oleh akal pikiran yang selalu dipupuk dengan al-Qur'an yang jelas-jelas bukan bikinan manusia. Tentu, sembari memohon agar kita selalu dilimpahi hidayah agar tidak hanya mampu melantunkan melainkan memahami lantas mengamalkan. Maka, kita (terutama gue) tidak akan berhenti menggunakan smartphone dan instrumen lain hanya untuk membuat status menu makan siang, perihal jodoh dan lain-lain (meskipun sesekali menyelipkan hal remeh-temeh menurut gue ngga masalah juga, daripada membagikan masalah rumah tangga, hehe. Tapi dalam konteks kali ini bukan itu yang gue maksud). Dengan begitu, akhirnya gue mulai berpikir berkali-kali buat ngeliat status orang satu-satu. Jika memang senggang dan ada paketan (haha), maka gue lihat beberapa dengan niat barangkali ada pelajaran yang bisa gue dapatkan. Intinya semua yang gue lakukan sebisa mungkin berawal dari niat yang sudah gue tata sebelumnya. Pun saat menulis oretan ini. InsyaAllah ~
Maka duhai adik-adik gue tersayang. Ceilah. Kesempatan menempa diri dengan ilmu adalah hal yang begitu menyenangkan. Kadang akan sangat membosankan hanya karena kita belum menemukan cara yang tepat untuk belajar atau mungkin masih kurang dalam berikhtiar. Tapi percayalah, bagi gue pribadi, kesibukan yang paling gue suka sebagai manusia (meskipun gue sama kek kalian, sering membiarkan setan membelenggu kita dengan sifat malas) adalah belajar. Hingga ajal menjemput. Salah satunya dengan pendidikan formal. Karena meski apa yang kita dapatkan di sekolah tidak "plek" bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi paling tidak kita bisa tersistem untuk memiliki semangat dan effort untuk mendapatkan ilmu. Maka saripati seperti; semangat, effort, tangguh, dan nilai-nilai kebaikan lainnya yang kita dapatkan dari pendidikan formal semoga bisa kita gunakan untuk menghadapi jaman yang memang tidak selalu "Now", tapi juga "future" alias dinamis ini. Jangan melulu bertumpu pada masalah pendidikan di negara kita yang acapkali bikin geleng-geleng kepala, tetapi fokus untuk menjadi bagian dari orang-orang yang membawa perubahan di dunia pendidikan agar menjadi lebih baik. Semoga Allah memudahkan kita. Aamiin ~
0 komentar