See You On Top!

Allah, kadang aku berpikir. Apa sebenarnya yang aku cari? Kenapa dunia begitu mudah membuat aku bersedih.

Aku memang tidak kaget saat mendengar bahwa beliau akan berangkat haji 21 Juli 2018, sebab sebelumnya aku telah menaksirkan jika beliau akan berangkat di 17 Juli 2018. Namun membuat aku pasrah adalah kala mendengar bahwa beliau telah mengatakan ke Kaprodi akan mempending semua bimbingan hingga ia kembali dari tanah suci.

Dalam hidup, aku berusaha untuk tidak menyalahkan orang lain atas apa yang aku alami. Meski kerapkali keceplosan mengarah ke menyalahkan, sebenarnya aku lebih sering menyalahkan diriku sendiri (inipun sebenarnya tak baik. Mungkin tak apa jika tak berlebihan), bertanya pada diri sendiri: apa yang membuat ini begini dan begitu karena perilakuku sendiri.

Bagiku, lulus tidak tepat waktu seperti apa yang kita inginkan bukanlah sebuah petaka melainkan kesempatan untuk mendapatkan rahmat-Nya di jalan yang seringkali tidak mudah. Benar, meski optimisme kerap harus dijaga nyalanya, namun aku kala itu juga mengindahkan saran seorang dosen wali untuk berpikir realistis dan siap-siap membayar UKT (di lain sisi beliau juga sering menyemangati dan tak segan melantunkan doa dan harapan. Bukan untukku saja, tapi untuk semua muridnya). Meski hakikatnya, kuasa Allah Swt. tidak sejalan dengan kerealistisan selama kita ikhtiar (Omong-omong, ini bukan masalah UKT. insyaAllah aku akan berusaha perihal itu. Ini masalahnya hanya pada diriku yang seringkali ingin intropeksi diri yang kian tak jelas arahnya: apakah aku kurang berikhtiar. Padahal aku tak perlu bekerja, tak berorganisasi dll). Kala itu selain  mem-planning biaya untuk membayar UKT, aku juga telah merancang plan A, B, C dst. Seperti belajar, bekerja, membantu orang tua, merealisasikan resolusi yang masih hanya menjadi pajangan dinding dll. Aku sebisa mungkin menguatkan diri, jika yang terjadi nanti adalah yang terbaik. Que sera sera.

Tentu, aku tidak sendiri. Banyak doa yang ku minta dari banyak orang. Karena aku paham, bahwa tak ada yang benar-benar menjamin doa siapa yang paling makbul. Doa seorang pemulung shalih bisa jadi lebih luhur dan mudah terijabah dari seorang imam besar masjid sekalipun. Aku juga banyak mendapat kalimat positif bernada optimisme dari banyak orang; orang terdekat dll. Juga nada menyangsikan dan menyakitkan hati. Namun berusaha aku lupakan, abaikan, tepis, sebab jika dipikirkan pikiran semacam itu akan mudah mengotori hati.
Aku telah amat pasrah hari itu, mungkin jika berkonotasi negative artinya menyerah. Sudahlah pikirku. Toh pemahamanku dari dulu, skripsi ini bukan segalanya. Apalagi sampai harus menggadaikan segalanya. Bukankah dulu tujuanku hanya untuk meraup ilmu bukan gelar? Tapi pikiran bahwa ikhtiarku masih amat kurang juga tidak bisa dipungkiri bergentayangan dalam batok kepalaku. Aku yang hina ini mencoba menepisnya dengan mengucap beberapa istighfar. Selain pemahaman itu, aku juga berpikir ada banyak hal bermanfat lain daripada terus “ngoyo” pada skripsi. Tapi, lagi-lagi pemahaman lain yang menyatakan bahwa menyelesaikan skripsi yang merupakan PR kecil untuk melangkah lebih jauh ini juga tak boleh dianggap main-main.

Sebenarnya aku tidak ingin mengkotakkan catatan ini dengan membahas bahwa ujian terberat (konon seberat apapun beban yang dipikul dalam hidup, akan bisa dilewati jika selalu lillahita’ala. Belum lagi menjalani kehidupan yang sebenarnya kelak) dalam menjalankan studi sebagai mahasiwa hanyalah skripsi. Sebab nyatanya memang bukan itu resolusi sebenarnya. Ada ujian yang lebih mumpuni mendewasakan diri, yakni pengimplentasiankannya.

Jadi, banyak yang ingin aku sampaikan. Namun sepertinya oretan ini akan sangat panjang dan membosankan. Maka biarkan aku sedikit menyimpulkan, bahwa apapun yang kau jalani, jalanilah. Kita hanyalah manusia. Iya, sederhana tapi sering kita melupakannya. Bahwa kita yang manusia yang tak patut mendikte hasil. Hmm, menulis kalimat itu membuat ulu hatiku ngilu. Sebab hamba yang cetek imannya ini sering seolah-olah mendikte hasil. Padahal kewajiban kita hanyalah berusaha dan berdoa. Kemudian selalu percaya, keajaiban yang selalu diharapkan datang dari-Nya setelah berikhtiar yang seringkali tak seberapa-----akan datang tak diduga. Selamat, atas langkah awalmu teman-temanku. Semoga Allah memberkahi hidupmu dengan ilmu, memudahkan untuk mengamalkan dan menguatkan dirimu karena ilmu. Bagi yang belum, tak usah berkecil hati. Aku tahu, kesibukan dan jalan yang dipilih dan diberi tak selalu sama. Terimalah. Pahit memang. Tapi percayalah, akan ada buah manis yang akan kau tuai di masa mendatang. Teruslah memelihara kalbu yang tulus, jiwa yang besar dan menebar kebaikan. See you on top, guys! Top sendiri aku artikan ‘ketaqwaan,’ meski tak mudah untuk orang yang mudah mengeluh seperti kita. Namun apa salahnya berdoa. Kita? Ah, barangkali cuma aku saja.

0 komentar