Ada Kebakaran!

Kemarin malam aku tidur ba'dha sholat isya' dan ini jarang terjadi mengingat aku masih mengemban tugas sebagai mahasiswi semester akhir. Setelah itu aku terbangun sekitar pukul sembilan. Hingga akhirnya memutuskan untuk mengaji (Bagiku ini bukan hal yang tabu lantas terlihat seperti riya. Sebab tujuan kita memanglah untuk beribadah dan membaca banyak al-Qur'an memanglah hal yang harus dan lumrah. Meski pada faktanya----mungkin karena dosa----aku seringkali malas berlama-lama mengaji). Lalu, sebelum genap pukul setengah sebelas, aku berhenti dan memilih ke dapur karena tiba-tiba keroncongan (Hehe, makan di tengah malam).

Aku kemudian tersentak kala sayup-sayup mendengar orang berteriak minta tolong. Ternyata Matus, adikku---juga demikian. Kami pun saling bertanya. Ada apa?
Pikirku, jangan-jangan orang sedang dibegal. Cepat-cepat aku ingin melihat, menyusul ke jalan untuk memastikan apa yang sedang terjadi. Matus juga terlihat kebingungan dan memanggil Bapak dan Kakak karena menduga terjadi hal yang sama seperti perkiraanku. Namun Kakak menghentikan langkahku. Ia meminta agar tidak meghiraukan panggilan itu. Karena seringkali bocah-bocah tanggung berteriak minta tolong hanya sebagai gurauan. Atau berisik di gardu saat tengah malam  karena asyik dangdutan. Kakak memintaku untuk menutup gerbang. Aku melakukannya sambil mendengarkan kembali teriakan itu lamat-lamat. Ada yang mengganjal. Sepertinya telah terjadi sesuatu. Aku kembali ingin memeriksa ke jalan beraspal. Hingga ku dengar teriakan Kakak yang ternyata sudah siap memacu motornya, "Buka gerbang!"
Aku bak pengawal istana yang sigap dan lekas mendorong gerbang ke samping agar terbuka. Ternyata dia juga merasakan ada hal yang tidak beres. Akhirnya aku berhambur ke jalan itu setelah Kakak pergi dengan motornya.

Yang benar saja. Aku gemetar melihat kobaran api di sebuah rumah yang berjarak sekitar 300 meter dari rumahku. Allah.. Aku seketika menangis lalu berlari ke rumah lagi mencari kerudung untuk kemudian ingin mendatangi si jago merah yang tengah marah itu. Saking paniknya, sampai-sampai aku menjadikan taplak meja sebagai penutup kepala. Tak hanya itu, komplotan gamers juga ikut kalang kabut kala aku berteriak, "ADA KEBAKARAN!!! Ayo bantu padamkan."

Aku tidak paham jika ternyata mereka telah menyusulku dan berada di belakang. Kami berlari. Aku tidak henti-hentinya menyebut nama-Nya dan sesekali reflek menangis. Ternyata sebelum Kakak pergi dengan motornya dan memanggil banyak orang, hanya ada tiga orang yang berusaha memadamkan api. Diduga semua warga tengah tertidur atau bahkan tidak percaya hingga tidak mengindahkan teriakan minta tolong yang berlangsung cukup lama.

Tak berlangsung lama, para warga mulai berdatangan. Ada yang membawa galah, ember, tangga dan apapun untuk membantu memadamkan api. Aku kemudian berlari lagi ke rumah kerabat yang tak jauh dari sana. Ku ambil ember dan menuju lokasi kebakaran. Ku lihat banyak orang hanya menjadi penonton karena tak ada ember tersisa. Langsung saja aku membantu mengambil air dan bergabung dibarisan pengangkut air yang kesemuanya lelaki. Aku baru saja mengangkut satu ember air hingga akhirnya, "Mbak, udah gausah ngangkat!" panggil adikku diantara kumpulan penonton. Aku pun mengiyakan, karena selain takut dengan reruntuhan yang terlalap, sudah banyak lelaki yang kemudian membantu.

"Allahuakbar... Lantas apa yang kita cari di dunia ini? Apa tujuan kita hidup? Apa yang bisa kita sombongkan? Jika Allah berkehendak mengambil titipannya kembali, maka seketika terjadi. Allah... Setiap yang bernyawa akan mengalami kematian, kemudian akan mempertanggung jawabkan waktu yang dihabiskan di dunia sendiri-sendiri. Lantas kenapa membaca pedoman hidup saja malas? Allah... Ampuni kami, bimbing kami."
Pikiranku kemana-mana sambil menyaksikan api yang sudah mulai padam. Ini kali pertama aku menyaksikan kebakaran secara langsung. Sedari awal hingga api mulai menghilang, aku terus saja gemetar memikirkan akhirat ku dan keluargaku. Innalillah.

-----

Api berasal dari perapian yang dibiarkan menyala dalam kandang berisi seekor sapi dan empat ekor kambing. Kandang tersebut terkunci hingga hewan-hewan malang itu menjadi korban. Sementara sang pemilik tidak menyadari hingga api telah meninggi. Beruntungnya, hanya seperempat dari bagian rumah yang ikut terlalap karena warga (qadarullah) berhasil menjinakkan api.

Selalu, sebelum terjadi sesuatu yang menyedihkan seringkali ditandai dua ekor kucing yang bertengkar hebat. Entah apa memang alam ingin mengabarkan sebelumnya. Wallahua'lam.

Tak jadi makan, aku malah seolah meraup banyak pelajaran. Bahwa hidup memang sebentar. Segalanya adalah titipan. Tak patut disombongkan. Kemudian bersabar kala mendapat ujian. Jangan sampai salah tujuan. Mempersiapkan diri untuk bekal kematian. Selalu berdoa agar Allah senantiasa menambah dan menjaga keimanan dan ketaqwaan.

0 komentar