Alhamdulillah, berkat hape dan tab baru akhirnya dua anak itu bisa menggeluti game lagi. Persetan budaya literasi dan berbakti. Itu tak membuat segar dan senang hati. Seolah asing jika mesti berkunjung ke konten, aplikasi, dan segala tetek bengek yang bercokol di smartphone yang bermanfaat, tak sudi. Semoga bisa menjadi gamer profesional. Dan aku sendiri tidak pernah menyemogakannya. Entah, apa ini beriorientasi akhirat? Oh, barangkali keluh mereka saat kalah tanding dengan menyebut nama Tuhan bisa jadi bahan pertimbangan! Haram menghakimi tanpa tahu isi hati. Bukankah hidayah tidak berada di tangan manusia? Bisa jadi, mereka telah menyiapkan amunisi amal sholih tanpa ada satu pun manusia yang berhak mengetahui. Pun tak ada yang menjamin bagaimana Dia membolak-balikkan hati. Lagi pula, kegiatan yang lillahita'ala tidak selalu terlihat oleh mata. Tak ada yang tahu mana kegiatan baik dengan niat yang benar-benar suci. Tapi yang ku tahu, betapa mengiris hati melihat mereka membiarkan banyak masa terbuang sia-sia. Meski tak sama, aku juga merasa sering melakukan hal yang sama.
Beda dengan satu anak lagi. Ia adalah adikku. Hapenya masih diservis. Katanya stress lama ga maen ini. Bodo amat pikirku. Tapi pas mikir lagi, nanti dia stress beneran. Akhirnya aku pinjemin hape dengan dua syarat; 1. Sholat Dhuha, 2. Ngarè' râbbhâ alias ngarit rumput alias mengambil rumput dengan arit untuk pakan ternak. Dan diluar dugaan, ia menyanggupinya! Hmm, ini sebagai langkah agar dia jadi cowo beneran pikirku. Sebab Bapak dan Ibu memang tidak pernah menyuruh-nyuruh. Itulah kenapa kita harus menjemput softskill kita sendiri. Beda dengan jaman kakak dulu. Mereka memang proaktif sendiri. Kak Wahed yang biasa membantu Bapak di sawah, Kak Udin yang jualan sejak kecil, Kak Ucup yang mandiri sejak lulus SMP, dll. Hmm, kini ortu memang seolah begitu memanjakan kami. Kami pun harus sadar diri, memiliki keinginan sendiri untuk menempa diri. Anyway, ini gimana maennya ya? Kapan-kapan nyoba ah. Kalo toeflku udah 670. Laah, maen game bisa bikin score toefl melambung loh. Iya, sama belajar dan praktik tapi, bukan cuma maen. *krik.
Beda lagi dengan satu anak lainnya. Namanya Ilul. Bocah kecil itu bukan adik atau keponakanku, tapi karena dia tinggal bersamaku, aku telah merasa memiliki dan sedih jika ternyata dia juga kecanduan dengan game. Aku tidak habis pikir, kenapa di desa yang nyaman seperti ini tega dibubuhi tempat atau warung PS? Iya, benar. Aku tidak boleh menghakimi. Setiap orang memiliki pilihan dan prinsip hidup yang berbeda. Tapi hari ini aku benar-benar dibikin geleng-geleng kepala. Ilul tak mau makan, tak mau sekolah, tak mau ke madrasah dan mengaji hanya karena sibuk meramaikan warung game yang meracuni otak itu.
Aku pun akhirnya menghubungi pemilik warung. Jahat banget aku ya? membatasi bermain anak, membatasi lahan rejeki orang, dst. Hehe. Abisnya ini sudah kesekian kalinya. Padahal sudah ada waktunya, pun di rumah, gratis tidak.l perlu keluar duit. Bisa dipilih juga gamenya, bukan game yang aduhai cewewew gambarnya, bukan juga game sadis nembak sana sini, dll. Aksi penembakan di LN pas di berita juga bisa jadi sepersekian persen pengaruh game tidak mendidik seperti itu.
- - - -
Melihat keempat anak yang amat aku sayangi itu candu dengan gadget, benar-benar membuat hatiku pilu. Aku seperti melihat diriku beberapa tahun yang lalu. Saat tengah duduk di bangku SMP, setiap usai pulang sekolah aku berada di depan komputer memainkan beraneka ragam permainan baru. Hingga lupa waktu. Hingga lupa bahwa jika itu dilakukan tidak sesuai porsi akan mengarah pada hal yang benar-benar tidak perlu. Duh Gusti, hanya pada-Mu lah hamba berserah diri.
0 komentar