Aku bersyukur memiliki Ibu yang bagiku zuhud pada dunia (Entah apa istilah yang pas, sebab sepertinya kata zuhud terlalu tinggi maknanya). Lihatlah, saat yang lain tengah terkagum dan berkata wow---entah pada Anam yang tiap tahun menggondol piala, atau pada hadiah yang ternyata di luar ekspektasi, Ibu hanya terdiam. Selalu, sikap Ibu bagiku menelurkan banyak makna. Ini memang bukan kali pertama, sebab Ibu memang selalu tidak ingin membangga-banggakan anak-cucunya di depan siapapun apalagi banyak orang, Ibu tidak pernah memuji meski saudara-saudaraku selalu mendapat rangking satu di kelas. Bagi Ibu, kecerdasan yang tampak dari oretan nilai di atas kertas jika tidak disertai kecerdasan spiritual dan emosional (akhlak yang baik, dll) adalah kosong. Ibu selalu bersikap biasa saja, tak mau berlebihan, kalem, jauh dari sosok diriku yang kerapkali heboh.
Pagi ini aku jadi paham apa maksud Ibu. Bahwa menimba ilmu jangan mengharap apa-apa. Bisa membaca dan menulis sudah merupakan anugerah yang luar biasa. Ungkapan keinginan Ibu yang berbunyi: Pokok'eh lâ bisa adhuwâin rebbhâ bik bisa ngajhih (yang penting bisa mendoakan orang yang sudah meninggal dan mengaji, Red)---ternyata menyiratkan banyak makna mendalam. Bahwa jangan muluk terhadap keinginan. Sebab kebahagiaan tidak disertai oleh harta yang menumpuk, tapi kekayaan hati yang kian dipupuk. Karena kalau sudah materi tujuannya, maka kita akan silau kapan dan bagaimana keadaannya. Sekarang aku paham apa maksud Ibu mengatakan padaku, bahwa jangan terlalu bermimpi besar. Sebab impian besar harus dibarengi dengan doa dan usaha yang kian besar. Ibu tak ingin aku terbebani dengan sesuatu yang besar dan menjadi beban. Mengingatkan kembali kepada pesan pertama: bisa membaca dan menulis adalah anugerah yang luar biasa, serta menanamkan nilai dan akhlak luhur dalam diri agar mendarah daging dan tidak silau terhadap dunia.
Betapa banyak kekuasaan dan posisi yang mapan mampu merubah seekor domba menjadi srigala jika tidak dibarengi keteguhan iman. Kala itu aku mengira Ibu tak merestui setiap mimpiku. Tapi aku salah, justeru aku yakin beliaulah yang mengamini setiap mimpiku lebih dari siapapun. Siapa yang tidak ingin anaknya memberikan kebermanfaatan yang besar untuk umat? Yang perlu digarisbawahi adalah soal ketaqwaan, sifat qonaah, niat dan pandai mengendalikan amarah. Seperti apa yang dimaksud ibuku secara tersirat, tentang betapa pentingnya kecerdasan emosinal dan spiritual. Semoga Allah Swt memudahkan kita. Aamiin ~
Allah, terima kasih telah memberiku Ibu seperti Ibu. Aku mencintaiMu dan mencintai Ibuku.
0 komentar