Pasangan yang Ideal?

"Dek, aku liat kamu kok beda, ya? Ga histeris atau ngomen apa gitu kek yang lain kalo lihat cowok ganteng. Kenapa, Dek? Hehehe, saya sempat berpikir jangan-jangan kamu ga menyukai pria. Hehehe. Bercanda, Dek." Belum sempat aku berkata, beliau melanjutkan apa yang hendak diungkapkannya: "Oh, ya. Gimana, apa belum ada yang cocok?"

Dan atas pertanyaan-pertanyaan  menukik dan menggelitik dari  Mbak Iparku itu, aku hanya mampu nyengir: "hehehe," tak ada balasan lain. Dia bingung dibuatku.

----

Jadi gini. Aku sebenarnya sama seperti kebanyakan orang. Aku akan sedikit histeris atau paling tidak antusias saat melihat para kaum adam yang diberi anugerah lebih dari segi tampilan. Tapi itu dulu. Saat masih SMP. Seingatku hanya pada masa itu. Pemahaman cetek (sekarang juga tidak menutup kemungkinan masih cetek juga) yang membuat aku berpikir jika seseorang yang tampan, tinggi, putih, manis, dll-lah yang merupakan sosok pasangan yang ideal.

Mmm... tentu, pemikiran semacam itu tak lain juga menjadi salah satu buah dari pengaruh lingkungan luar, seperti tontonan televisi, teman-teman yang mencontohkan hal yang sama, grup boy band yang marak kala itu dan lain sebagainya.

Qadarullah, sejak memasuki bangku sekolah yang lebih tinggi aku menjadi lupa dengan pemahamanku yang dulu. Mungkin karena sibuk mengerjakan tugas SMA yang lumayan juga. Dan lain-lain. Tapi yang jelas, boleh percaya atau tidak: aku sejak saat itu biasa-biasa saja melihat orang yang tampan dan beragam ciri lain yang mendorong kaum hawa untuk tersenyum-senyum lantas histeris dengan teman-temannya, mengagumi. Aku justeru secara ajaib (bagiku, karena awalnya aku juga sama) merasa biasa saja, paling-paling jika ada yang bertanya apa komentarku, aku akan menjawab seadanya untuk menghargai, seperti: oh iya, hehe iya, dan lain-lain. Maksudku, dan lain-lain. Bukan aku menjawab dengan kalimat itu, melainkan bermaksud menjelaskan bahwa ada jawaban lain. Iya, iya, pembaca sudah tahu juga kali. Kamu saja yang ingin memperbanyak paragraf. Hehe, bercanda. Eh, pembaca? Pede sekali dirimu. Haha. Payah.

Oke, kembali ke konten awal.

Aku akan menjawab seadanya untuk menghargai bukan berarti sebenarnya aku tidak menghargai. Tapi lebih karena aku memang merasa biasa-biasa saja dan sama dengan apa yang ingin aku ungkapkan: biasa. Seperti saat mengomentari sesuatu saja, tanpa menaruh kecenderungan yang berlebihan apalagi sampai histeris. Bahkan hampir selalu lidahku kelu dan tabu untuk berkomentar secara gamblang bahwa dia, doi, dodol itu tampan. Well, ya. Setiap orang punya alasan dan pilihan, histeris tak selalu buruk, karena bisa menunjukkan sebuah sikap yang ekspresif. Hmm, hanya soal alasan, perasaan, batasan dan pilihan. Kecuali mengomentari orang yang mengagumkan akhlaknya, prestasinya, dedikasinya, dll maka akan berbeda penekanannya. Aku juga akan secara reflek berdecak untuk itu, lalu kemudian mengingat kembali bahwa laa hawla wa laa quwata illaa billah.

---

Lantas bagaimana pemahamanku yang sekarang? Seperti apa pasangan yang ideal?

Wallahua'lam. Itu yang menjadi jawabanku. Artinya, hanya Allah yang megetahui seperti apa pasangan yang ideal. Sudah, selesai urusan. Selesai tulisan! Sekian dan terima kasih sudah membaca sampai di kalimat ini. Wassalam. Hehe.

[Paan sih, Ndro.]

Eiiits, orang ngambekan tidak disayang Tuhan. Ayo, ayo balik lanjut baca lagi. Haha, maksa!

Jadi begini Roma, Roma Irama, Roma Kelapa, Roma Italia, Roma tempat menghilangkan duka lara. [Itu sih rumah!] Eh, maaf maaf. Baiklah, serius sekarang. Siaaah. Daritadi apa berarti?

Bagiku, pasangan yang ideal adalah dia yang memiliki akhlak yang baik. Titik. Akhlak ini penjabarannya luas dan bermacam-macam. Jalurnya juga demikian. Seperti akhlak kepada Tuhan, akhlak kepada sesama Makhluk dan sebagainya. Itulah kenapa akhlak menurutku menjadi indikator yang paling penting. Meskipun perilaku dan perkataan mampu berdusta, seolah kita ini berakhlak mulia dan hanya Tuhan yang mengetahui isi hati manusia (padahal dia yang menutupi setiap aib manusia)----tetap saja, cerminan akhlak yang baik kadangkala memancar begitu saja dari seseorang. Padahal sedikit pun tidak berusaha seseorang itu tunjukkan. Hmm, siapa "dia" yang aku maksud, ya? Laaah, itu hanya gambaran. Bukan sedang menceritakan seseorang. Tapi kalau orang yang mencerminkan akhlak semacam itu kalian pastinya sudah tahu siapa role modelnya? Yaps! Rasulullah. Pastilah. Tapi apalah daya kita (manusia bergelimang dosa ini) mengharap pasangan seperti beliau. Karena selain tidak ada yang sekelas beliau, juga karena siapalah kita? Orang yang fakir ilmu pengetahuan dan penerapan akhlak mulia. Kita? [Kok ngajak-ngajak sih, Ndro]. Hehehe.

Macam mana pula kita ini? Mengharap pasangan dengan banyak kriteria mulia tapi diri malas mengejar kemuliaan dengan memperbaiki akhlak (taqwa dan lain-lain). Wallahua'lam. Selesai urusan. Eh, maksud saya semoga Allah membimbing kita untuk senantiasa memperkaya pemahaman yang baik lantas dimudahkan dalam pengamalan dan memelihara akhlak yang baik. Memahami hakikat kehidupan. Sebab yang baik untuk yang baik. Yang keji untuk yang keji. Itu sudah janji Allah. Tak bisa ditawar lagi. Barang selapis saja, tak bisa!

Lalu kenapa kita perlu mengutamakan akhlak?

Seperti yang sudah aku sampaikan. Bahwa akhlak itu luaaaaaaas penjelasannya. Saking luasnya aku belum mampu menjelaskan semuanya. Baiklah, akan aku umpamakan beberapa.

Begini, hidup itu kata orang bijak bukan melulu tentang keindahan, tapi bagaimana mengubah kepahitan menjadi indah. Menjalani hidup yang naik turun tantangannya haruslah dengan sosok yang tepat. Jangan sampai saat kita tengah rempong membutuhkan bantuan untuk menenangkan anak yang tengah menangis, si dia justeru asyik bermain gadget. Itu cuma contoh kecil. Contohnya besarnya bisa dipahami dari ungkapan Tere Liye ini: "Jangan mau jika orang lain menyukai kita karena fisik, wajah, harta benda, wah, ini bahaya sekali. Melainkan menyukai kita karena cara berpikir, kemandirian, pemahaman, rasa nyaman, karakter dan hal-hal lain yang menetap di diri kita----walaupun fisik dan harta telah jauh pergi."

Kenapa aku bilang besar? Karena bagiku orang-orang demikian adalah orang-orang yang memiliki hati yang besar. Itu yang membuat kita sering terperangah dan terharu dengan tingkah-tingkah mereka. Seperti yang belum lama ini menjadi viral di sosial media. Seorang pria dari luar negeri yang menunggu tunangannya yang mengalami koma selama bertahun-tahun meski telah diijikan untuk mecari pasangan lain. Perjuangan pria itu kemudian dihadiahi sembuhnya sang kekasih. Mereka pun akhirnya menikah. Atau kisah yang baru-baru ini aku simak, tentang seorang wanita muda yang setia pada suaminya. Awal mulanya keduanya tidak kurang sesuatu apapun dalam artian sehat wal afiat meski tidak kaya raya. Karena sehat itu tak ternilai harganya. Sampai suatu ketita sang suami divonis menderita kanker lidah. Lidahnya harus diamputasi. Tubuhnya yang dulu berisi, kini (maaf) qadarullah hanya tinggal tulang dan kulit yang menutupi. Di saat ekonomi keluarga yang kian memburuk, dan suami yang secara ekonomi tidak atau mungkin bahasa tepatnya belum bisa diharapkan untuk sekarang----wanita muda yang tak lain istrinya itu tetap setia menemani, mengurus setiap kebutuhan, mendukung, meski tak ada tanda-tanda untuk sembuh. Ah, bukankah Allah kadang kala tak perlu memberi tanda dulu untuk memberi sesuatu?

Itulah kenapa aku bilang besar. Laa haw la wa laa quwata illa billah, kisah mereka memang mengharukan dan membanggakan. Banyak sekali kisah tauladan semacam itu. Yang mengingatkan kita kembali bahwa hidup bukan soal berbagi suka namun juga duka. Maksudku, soal dia yang berbesar hati merawat dan menemani kita kala sakit (Karena yang kita tahu, kita ini bukan Fir'aun bengis yang Allah jadikan tidak pernah sakit selama hidupnya). Memiliki kepekaan yang luar biasa. Memiliki akhlak yang mulia. Terlepas dari konon yang memang seharusnya kita perlu menerima setiap kekurangan dari pasangan, kita juga perlu ingat bahwa setiap hal bisa dipelajari dan dibiasakan. Termasuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Lantas apa yang bisa kita lakukan agar memperoleh pasangan yang ideal sesuai definisi kita----berlandaskan agama?

Bagiku, jodoh itu di tangan Tuhan. Bukan kita harus memiliki jodoh yang mempunyai nama tengah "Johan," bukan. Tidak demikian. [Krik, ngga lucu.] Tetapi yang bisa kita lakukan hanyalah berserah diri sembari memperbaiki kualitas diri. Kian menjadi pribadi dengan artian akhlak baik yang sebenarnya. Soal ikhtiar (usaha dan doa) adalah hal yang tidak usah diungkapkan. Karena itu sebuah keharusan. Keharusan selanjutnya adalah terus berprasangka baik pada Allah dan menerima segala ketetapan-Nya.

Konon, mendapat jodoh yang tepat itu bukan lomba lari maraton----harus cepat, bukan juga soal umur, bukan soal keinginan, bukan soal matematika, eh, dan sebagainya. Dia adalah soal ketetapan dan ketepatan. Innallaha a'lamu ma laa ta'lamun.

Ada ungkapan Tere Liye yang lagi-lagi aku suka. Perihal cinta. Ini dia: "Cinta itu tidak selalu melekat pada kebersamaan, tapi pada doa-doa yang disebutkan dalam senyap. Itulah kenapa seorang Ibu bisa terus mendoakan anak-anaknya  meski terpisah samudera dan benua. Pun seorang istri dan suami  bisa terus membisikkan doa-doa terbaik  bagi pasangannya, meski telah terpisah oleh kematian. Tidak bersama secara fisik tapi bersama dalam doa-doa terbaik."

Aku jadi ingat cerita guru SMA-ku yang berpisah jarak dengan suami karena pekerjaan. Saking sibuknya mereka hanya bisa bertemu sehari saja setelah berbulan-bulan tidak bersama. Kemudian kembali kekesibukan masing-masing lagi. Namun mereka menikmati itu. Sebab mereka mengerti bahwa banyak hal memang butuh pengorbanan dan harus dihadapi dengan hati yang lapang. Juga mereka paham, bahwa waktu bersama-sama bukan tentang kuantitas tapi kualitas. Satu hari tapi kualitasnya seolah berpuluh-puluh tahun.

Omong-omong sebenarnya pernah aku curhat, bahwa aku tidak terlalu suka tulisan romance. Pun tulisan Tere Liye aku lebih menyukai bagian tulisannya yang lain ketimbang yang berbau cinta. Hehe. Jujur. Tapi itu dulu, sekarang beberapa tulisan beliau perihal itu ada yang aku suka. Salah duanya yang aku share ini. Maknanya mendidik. Itu alasannya.

Juga aku biasanya paling ogah kalau diminta berbincang perihal jodoh. Kakak perempuanku mungkin akan terheran kala membaca tulisan ini dan seperti biasa berkata: "Tumben!"

Tetapi aku tidak mempermasalahkan itu semua. Aku hanya ingin saja menulis sedikiiiiiiiiiiiiiiiiiiit sekali pemahaman mengenai  pasangan ideal kali ini. Barangkali bisa berguna. Karena tidak bisa dipungkiri, bahwa kerapkali aku berpikir bahwa ini adalah bahasan yang tidak lebih penting dari ujian praktikum atau bahkan bagiku ini perbincangan yang terlalu dewasa dan belum waktunya. Hehe, di umur dua puluh dua [Ups] aku masih merasa seperti bocah SD saja. Intinya aku hanya ingin menulis tentang ini [Hade, diomongin lagi] dan bukan berarti aku berpikir untuk...

Baiklah, semoga bermanfaat. Bye!

0 komentar